- Beranda
- Stories from the Heart
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)
...
TS
juraganpengki
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)

Cool Cover By Agan Linbara (Thanks, Bree)..
Prolog
Setelah bangun dari ‘Mati Suri’ karena memutuskan untuk mencoba membunuh diri sendiri untuk melindungi Kitab Langit dan melenyapkan Bayu Ambar, gw kembali ke dunia nyata.. Kehidupan gw sedikit jauh berbeda, karena pengalaman ‘Mati Suri’ itu berefek langsung pada kelebihan yang gw miliki.. Gw masih sama Anggie, meski ujian atas cinta kami masih saja mendera.. Ada musuh baru, tentu saja.. Tapi ada juga sahabat baru yang muncul.. Karena ini akhir dari cerita kami berempat..
Kembalinya Anak Ibu...
Pengorbanan Pedang Jagat Samudera...
Cintai Aku Sewajarnya, Yank...
Matinya Seorang Saudara (Versi Gw/Bimo)
Berkumpul Kembali...
Keanehan Yang Mulai Muncul...
Sambutan Ketiga Saudara Ke Reinata...
Sabar???
Cukup! Tinggalin Aku Sendiri!!!
Siapa Kau???
Aku Ikutin Kemauan Kamu...
Keputusan Sepihak Yang Pahit...
Semua Beban Menjadi satu
Semua Beban Menjadi Satu (2)...
Serangkum Rindu Untuk Ayah...
Munculnya Penguasa Laut Utara...
Bertemunya Dua Penguasa...
Sebuah Kesepakatan...
Ibu Kenapa Yah???
Lu Kenapa, Ka???
Wanted Dead Or Alive.. ANTON!!!
Mo 'Perabotan' Lu Hancur Apa Tanggung Jawab???
It's The End Of Us...
Di Kerjain Ibu...
Ridho!!!
Kelewatan!!!
Munculnya Dua Penjaga Gerbang Kerajaan Laut...
Dewi Arum Kesuma VS Dewi Ayu Anjani
Datangnya Sosok Seorang Pemisah Dan Shock Therapy Buat Gw...
Kerajaan Jin...
Terkuaknya Semua Jawaban...
Maafin Gw, Bree...
Pengakuan Suluh...
Akhirnya Boleh Gondrong...
Pernikahan Kak Silvi Yang Seharusnya Membuat Gw Bahagia...
Pernikahan Kak Silvi Yang seharusnya Membuat Gw Bahagia (2)...
Tunggu Pembalasan Gw!!!...
Ni Mas Linduri dan Banas Ireng...
Dua Sosok Penyelamat Misterius...
Ada Apa Sama Ridho?...
Kesalahan Fatal...
Kembalinya Jin Penjaga Ridho dan Suluh...
Akibat Terlalu Ikut Campur...
Setiap Perbuatan Akan Mendapat Balasan...
Munculnya Viny Dan Sebuah Tantangan Bertarung...
Manusia Cabul...
Suara Penolong Misterius...
Bertemunya Kembali Sepasang Kekasih...
Terkuaknya Kebenaran...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar (2)...
Jaket Dan Celana Jeans Robek Serta Sweater Hitam Kumal...
She's My True Love...
Dilema...
Pertengkaran Dengan Ibu...
Rambe Lantak...
Gendewa Panah Pramesti...
Akan Ku Balaskan Dendam Mu, Arum Kesuma!!!
Yang Hilang dan Yang Kembali...
Jawaban Ayu...
Mati Gw!!!
Aku Makin Sayang...
Nasihat Om Hendra...
Jera Mencuri...
Ajian Segoro Geni...
Pilihan Sulit...
Keputusasaan Anggie...
Kabar Baik dari Ridho dan Suluh...
Perjalanan Menuju Pembalasan Dendam...
Rawa Rontek...
Rawa Rontek 2 (Terbayarnya Dendam)...
Kedatangan Pak Sugi...
Orang Titipan...
Hukuman Paling Berat...
Tidurlah Di Pangkuan Ku...
Menjajal Kesaktian...
Menjajal Kesaktian (2)...
Pengakuan Mengejutkan Babeh Misar...
Pengajaran Ilmu Silat Betawi...
Di Kepret Babeh Misar Lagi...
Tasya...
Naga Caglak dan Bajing Item...
Misteri Sebuah Dendam...
Kekuatan Sejati Kitab Langit Bagian Matahari...
Perpisahan...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera (2)...
Kembalinya Ibu...
Empat Bayangan Hitam...
Siapa Ni Mas Laras Rangkuti???
Dendam Seorang Sahabat...
Ini Keputusan Yang Harus Gw Ambil...
Semua Pengorbanan Ini Demi Ibu...
Rapuh...
Kabar Mengejutkan Sekar dan Sebuah Restu...
Siasat Braja Krama...
Munculnya Kitab Langit...
Si Pembuka Kitab langit dan Sosok Asli Pak Sugi...
Rencana Yang Matang...
Lamaran Pribadi...
Keingintahuan Anggie...
Perubahan Rencana...
Hampir Terjebak...
Kekecewaan Sekar...
Dua Syarat Reinata...
Aku Harap Kamu dan Anggie Bahagia, Mam...
Rahasia Sepasang Suami Isteri...
Menitipkan Amanah...
Berkumpulnya Para Pembela Kitab Langit...
Siasat Ki Purwagalih...
Raja Jin Raja Muslihat (Nyesek, Bree)...
Pertukaran Tawanan...
Perang Gaib PunTak Terelakkan...
Sang Penyelamat Dari Utara...
Pertempuran Awal Dua Penguasa Kerajaan Gaib...
Bertekuk Lututnya Sekutu Braja Krama...
Pertarungan Dua Putera (Gugurnya Satu Sahabat Gaib)...
Krama Raja...
Braja Krama Versus Krama Raja...
Raja Licik...
Aku Lah Sang Pembuka...
Siasat Krama Raja dan Bayu Ambar...
Terbukanya Semua Ilmu Terlarang...
Sebuah Pengecualian...
Sri Baduga Maharaja...
Hilangnya Sebuah Pengecualian...
Hilangnya Sebuah Pengecualian (2)...
Sebuah Pengorbanan...
Pahlawan...
Sumpah...
Ilmu Pamungkas yang Terlarang...
Kabar Yang Mengejutkan...
Pulang...
Pulang (2)...
Sedikit Kisah Rio Sebelum Kisah Ini Tamat...
Terhalang Sumpah...
Bantuan Sahabat Baik...
Bachelor Party...
Keturunan Lain Sang Prabu...
Pembalasan Dendam Singgih...
Sepenggal Kisah Nyi Mas Roro Suwastri...
Tawaran Yang Mengejutkan...
Lawan Atau Kawan???
Terkuaknya Silsilah...
Sebuah Kebenaran...
Sebuah Kebenaran (2)...
Bertemunya Dua Keturunan Sang Prabu...
Pertempuran Dua Hati...
Cinta Pertama VS Cinta Terakhir Jagat Tirta...
Pengakuan Bayu Barata...
Ki Larang dan Nyi Mas Galuh Pandita???
Prana Kusuma...
Kau Benar Keturunan Kami, Ngger...
Our Big Day...
Insiden...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga (2)...
Dua Tamu Istimewa...
Semua Karena Cinta...
Keputusan Sekar Kencana...
Kena Gampar...
Bonyok!!!
RIBET!!!
Berdamai...
Keponakan Baru...
Malam Pertama dan Tiga Keanehan...
Ajian Warisan Para Leluhur (The Last Part/End Of All Chapters)
SIDE STORIES
Keturunan Yang Tersesat...
Keturunan Yang Tersesat (2)...

Cool Cover By Agan Linbara (Thanks, Bree)..
Prolog
Setelah bangun dari ‘Mati Suri’ karena memutuskan untuk mencoba membunuh diri sendiri untuk melindungi Kitab Langit dan melenyapkan Bayu Ambar, gw kembali ke dunia nyata.. Kehidupan gw sedikit jauh berbeda, karena pengalaman ‘Mati Suri’ itu berefek langsung pada kelebihan yang gw miliki.. Gw masih sama Anggie, meski ujian atas cinta kami masih saja mendera.. Ada musuh baru, tentu saja.. Tapi ada juga sahabat baru yang muncul.. Karena ini akhir dari cerita kami berempat..
Kembalinya Anak Ibu...
Pengorbanan Pedang Jagat Samudera...
Cintai Aku Sewajarnya, Yank...
Matinya Seorang Saudara (Versi Gw/Bimo)
Berkumpul Kembali...
Keanehan Yang Mulai Muncul...
Sambutan Ketiga Saudara Ke Reinata...
Sabar???
Cukup! Tinggalin Aku Sendiri!!!
Siapa Kau???
Aku Ikutin Kemauan Kamu...
Keputusan Sepihak Yang Pahit...
Semua Beban Menjadi satu
Semua Beban Menjadi Satu (2)...
Serangkum Rindu Untuk Ayah...
Munculnya Penguasa Laut Utara...
Bertemunya Dua Penguasa...
Sebuah Kesepakatan...
Ibu Kenapa Yah???
Lu Kenapa, Ka???
Wanted Dead Or Alive.. ANTON!!!
Mo 'Perabotan' Lu Hancur Apa Tanggung Jawab???
It's The End Of Us...
Di Kerjain Ibu...
Ridho!!!
Kelewatan!!!
Munculnya Dua Penjaga Gerbang Kerajaan Laut...
Dewi Arum Kesuma VS Dewi Ayu Anjani
Datangnya Sosok Seorang Pemisah Dan Shock Therapy Buat Gw...
Kerajaan Jin...
Terkuaknya Semua Jawaban...
Maafin Gw, Bree...
Pengakuan Suluh...
Akhirnya Boleh Gondrong...
Pernikahan Kak Silvi Yang Seharusnya Membuat Gw Bahagia...
Pernikahan Kak Silvi Yang seharusnya Membuat Gw Bahagia (2)...
Tunggu Pembalasan Gw!!!...
Ni Mas Linduri dan Banas Ireng...
Dua Sosok Penyelamat Misterius...
Ada Apa Sama Ridho?...
Kesalahan Fatal...
Kembalinya Jin Penjaga Ridho dan Suluh...
Akibat Terlalu Ikut Campur...
Setiap Perbuatan Akan Mendapat Balasan...
Munculnya Viny Dan Sebuah Tantangan Bertarung...
Manusia Cabul...
Suara Penolong Misterius...
Bertemunya Kembali Sepasang Kekasih...
Terkuaknya Kebenaran...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar (2)...
Jaket Dan Celana Jeans Robek Serta Sweater Hitam Kumal...
She's My True Love...
Dilema...
Pertengkaran Dengan Ibu...
Rambe Lantak...
Gendewa Panah Pramesti...
Akan Ku Balaskan Dendam Mu, Arum Kesuma!!!
Yang Hilang dan Yang Kembali...
Jawaban Ayu...
Mati Gw!!!
Aku Makin Sayang...
Nasihat Om Hendra...
Jera Mencuri...
Ajian Segoro Geni...
Pilihan Sulit...
Keputusasaan Anggie...
Kabar Baik dari Ridho dan Suluh...
Perjalanan Menuju Pembalasan Dendam...
Rawa Rontek...
Rawa Rontek 2 (Terbayarnya Dendam)...
Kedatangan Pak Sugi...
Orang Titipan...
Hukuman Paling Berat...
Tidurlah Di Pangkuan Ku...
Menjajal Kesaktian...
Menjajal Kesaktian (2)...
Pengakuan Mengejutkan Babeh Misar...
Pengajaran Ilmu Silat Betawi...
Di Kepret Babeh Misar Lagi...
Tasya...
Naga Caglak dan Bajing Item...
Misteri Sebuah Dendam...
Kekuatan Sejati Kitab Langit Bagian Matahari...
Perpisahan...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera (2)...
Kembalinya Ibu...
Empat Bayangan Hitam...
Siapa Ni Mas Laras Rangkuti???
Dendam Seorang Sahabat...
Ini Keputusan Yang Harus Gw Ambil...
Semua Pengorbanan Ini Demi Ibu...
Rapuh...
Kabar Mengejutkan Sekar dan Sebuah Restu...
Siasat Braja Krama...
Munculnya Kitab Langit...
Si Pembuka Kitab langit dan Sosok Asli Pak Sugi...
Rencana Yang Matang...
Lamaran Pribadi...
Keingintahuan Anggie...
Perubahan Rencana...
Hampir Terjebak...
Kekecewaan Sekar...
Dua Syarat Reinata...
Aku Harap Kamu dan Anggie Bahagia, Mam...
Rahasia Sepasang Suami Isteri...
Menitipkan Amanah...
Berkumpulnya Para Pembela Kitab Langit...
Siasat Ki Purwagalih...
Raja Jin Raja Muslihat (Nyesek, Bree)...
Pertukaran Tawanan...
Perang Gaib PunTak Terelakkan...
Sang Penyelamat Dari Utara...
Pertempuran Awal Dua Penguasa Kerajaan Gaib...
Bertekuk Lututnya Sekutu Braja Krama...
Pertarungan Dua Putera (Gugurnya Satu Sahabat Gaib)...
Krama Raja...
Braja Krama Versus Krama Raja...
Raja Licik...
Aku Lah Sang Pembuka...
Siasat Krama Raja dan Bayu Ambar...
Terbukanya Semua Ilmu Terlarang...
Sebuah Pengecualian...
Sri Baduga Maharaja...
Hilangnya Sebuah Pengecualian...
Hilangnya Sebuah Pengecualian (2)...
Sebuah Pengorbanan...
Pahlawan...
Sumpah...
Ilmu Pamungkas yang Terlarang...
Kabar Yang Mengejutkan...
Pulang...
Pulang (2)...
Sedikit Kisah Rio Sebelum Kisah Ini Tamat...
Terhalang Sumpah...
Bantuan Sahabat Baik...
Bachelor Party...
Keturunan Lain Sang Prabu...
Pembalasan Dendam Singgih...
Sepenggal Kisah Nyi Mas Roro Suwastri...
Tawaran Yang Mengejutkan...
Lawan Atau Kawan???
Terkuaknya Silsilah...
Sebuah Kebenaran...
Sebuah Kebenaran (2)...
Bertemunya Dua Keturunan Sang Prabu...
Pertempuran Dua Hati...
Cinta Pertama VS Cinta Terakhir Jagat Tirta...
Pengakuan Bayu Barata...
Ki Larang dan Nyi Mas Galuh Pandita???
Prana Kusuma...
Kau Benar Keturunan Kami, Ngger...
Our Big Day...
Insiden...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga (2)...
Dua Tamu Istimewa...
Semua Karena Cinta...
Keputusan Sekar Kencana...
Kena Gampar...
Bonyok!!!
RIBET!!!
Berdamai...
Keponakan Baru...
Malam Pertama dan Tiga Keanehan...
Ajian Warisan Para Leluhur (The Last Part/End Of All Chapters)
SIDE STORIES
Keturunan Yang Tersesat...
Keturunan Yang Tersesat (2)...
Diubah oleh juraganpengki 15-07-2018 20:23
adriantz dan 133 lainnya memberi reputasi
128
2.1M
8K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
juraganpengki
#7053
Our Big Day...
“Jangan bersikap kaku pada Kakek dan Nenek Moyang mu sendiri, Ngger.. Tajamnya pandangan ku tadi hanya sebuah candaan ringan saja..” Ucap Nyi Mas Roro Suwastri yang masih memegangi bahu gw..
“Maafkan aku, Nyi.. Jika aku sempat bersikap tidak sopan terhadap kalian”
Baik Nyi Mas Roro Suwastri dan Jagat Tirta nampak sama-sama tersenyum mendengar pengakuan gw..
“Aku akan segera pamit untuk menemui Sekar Kencana, Bayu Barata dan Ibunda ku, Ngger.. Aku rasa, saat ini Ki Larang sedang memutar balikkan Ajian Puter Angen pada Sekar Kencana dan Bayu Barata, seperti yang telah ia lakukan kepada ku.. Kau, Roro Suwastri tolong antarkan keturunan kita ke kediamannya setelah aku pergi nanti” Ucap Jagat Tirta yang diakhiri dengan sebuah permintaan ke Nyi Mas Roro Suwastri..
Setelah mendapat jawaban berupa anggukan kepala dari Nyi Mas Roro Suwastri, sosok Jagat Tirta pun lenyap dari pandangan mata.. Gw yang sedang memikirkan sesuatu dalam benak, sempat terdiam dan menatap kosong ke arah lenyapnya sosok Jagat Tirta..
“Apa yang sedang kau pikirkan, Keturunan ku?” Tanya Nyi Mas Roro Suwastri sambil merapikan sejumput rambut yang menutupi kening gw..
Untuk sesaat, gw tertegun merasakan bentuk kasih sayang sosok seorang Nyi Mas Roro Suwastri terhadap gw yang merupakan keturunan langsungnya..
“Kau panggil aku, Eyang Puteri saja seperti kau memanggil buyut mu, Nyi Mas Galuh Pandita.. Dan aku akan memanggil mu dengan sebutan Ngger atau mungkin kau lebih suka jika aku panggil cucu?” Tanya Nyi Mas Roro Suwastri yang nampak sangat antusias menatap wajah gw..
“Panggil aku Ngger saja, Nyi.. Eeh, Eyang Puteri.. Itu terasa jauh lebih enak di dengar karena wajah mu masih terlalu cantik untuk memanggil ku dengan sebutan cucu” Pinta gw yang membuat Nyi Mas Roro Suwastri tertawa namun langsung menjewer daun telinga kanan..
“Gombal mu itu pasti menurun dari Kakek Moyang mu, Jagat Tirta, Ngger.. Awas saja jika kau gunakan rayuan maut dan ketampanan wajah mu untuk merayu para gadis” Kata Nyi Mas Roro Suwastri yang gw balas dengan suara ringisan bercampur sedikit tawa..
Untuk sesaat, kami berdua tertawa lepas bersama-sama.. Tapi, mendadak Nyi Mas Roro Suwastri terdiam dengan wajah kembali murung.. Dari tatapan kosongnya yang terpusat di rimbunnya pohon, gw merasa ia kembali sedih karena teringat mendiang Prana Kusuma.. Lalu, dengan lembut gw tarik tangan kanan beliau dan menempatkan telapaknya di pipi..
“Jika kau tidak keberatan, anggaplah aku sebagai pengganti Prana Kusuma, Eyang Puteri.. Setidaknya kau tidak perlu sedih saat mengingatnya” Ucap gw dengan suara lirih..
Nyi Mas Roro Suwastri memutar tubuh dan kembali menghadap gw sambil menyunggingkan senyuman teduh yang menenangkan hati.. Kemudian, satu telapak tangannya yang lain ikut memegangi pipi kiri gw..
“Kau memang benar keturunan kami, Ngger.. Untuk itu, aku akan selalu menganggapmu sebagai jelmaan Prana Kusuma.. Agar aku bisa mencurahkan segala kasih sayang yang tak pernah ku berikan pada nya” Jawab Nyi Mas Roro Suwastri yang diakhiri dengan sebuah kecupan lembut di kening gw..
Gw mengulum senyuman manis menerima perlakuan penuh kasih sayang dari sosok yang merupakan Nenek Moyang gw itu.. Namun, Nyi Mas Roro Suwastri kembali merubah raut wajahnya menjadi menatap gw dengan sangat serius, sambil melepaskan pegangan dua telapak tangan dari pipi ini.. Gw yang merasa tidak enak ditatap seperti itu, sempat mengedipkan mata beberapa kali agar Nyi Mas Roro Suwastri kembali bersikap seperti biasa.. Akan tetapi, ia malah terlihat kian aneh karena memandang gw sambil mengerutkan dahi.. Seolah ada sesuatu yang sedang bergelayut dalam benaknya..
“Eyang Puteri, mengapa kau menatap ku seperti itu? Apakah ada hal yang membuat mu berfikir keras?” Tanya gw yang membuat Nyi Mas Roro Suwastri melempar pandangan kembali menatap diri ini..
“Singgih, gadis yang ku jaga itu sedang menemui calon isteri mu yang merupakan sama-sama keturunan Sri Baduga Maharaja, seperti dirinya” Ucap Nyi Mas Roro Suwastri dengan pandangan mata berubah menatap gw dalam-dalam dan sedikit berkaca-kaca..
Gw yang awalnya biasa saja, tiba-tiba mulai dilanda rasa khawatir melihat dan mendengar reaksi serta ucapan Nyi Mas Roro Suwastri..
“Apa ada yang salah jika Singgih bertemu calon isteri ku, Eyang Puteri? Jika Singgih berniat tidak baik, aku mohon halangi gadis itu, Eyang” Pinta gw dengan nada suara menyiratkan kecemasan..
Nyi Mas Roro Suwastri langsung tersenyum mendengar pertanyaan gw.. Lalu, ia memegangi kedua lengan ini sambil berucap..
“Tidak, Ngger.. Singgih tidak memiliki niat jahat sama sekali dengan calon isteri mu.. Ia hanya ingin menemui sesama keturunan Sang Prabu.. Aku tadi sempat menatap mu dalam-dalam karena terharu, sebab kau yang merupakan keturunan ku akan menikahi seorang gadis dari garis keturunan Sang Prabu.. Hal itu sangat membuat ku bangga” Ucap Nyi Mas Roro Suwastri sambil memindahkan telapak tangan kanannya membelai pipi ini..
Gw yang mendengar jawaban sosok Nenek Moyang, menyunggingkan senyuman karena merasa lega.. Sesuai harapan, Singgih sama sekali tidak berniat buruk pada Anggie.. Mungkin gadis itu hanya ingin tahu saja, seperti apa rupa sosok yang berasal dari keturunan sama dengannya..
“Eyang Puteri, jika Eyang tidak keberatan aku ingin Eyang datang menyaksikan pernikahan ku esok hari.. Apakah Eyang mau?” Tanya gw, yang langsung mencium punggung tangan nya selesai berucap..
Nyi Mas Roro Suwastri seketika tersenyum dan memeluk gw dengan sangat erat..
“Tentu saja aku mau, Ngger.. Aku berjanji tidak akan melewatkan pernikahan mu dengan gadis keturunan Sang Prabu.. Aku sebagai Nenek Moyang mu akan sangat bahagia sekali saat melihat mu bersanding bersama gadis pilihan hati dipelaminan” Jawab Nyi Mas Roro Suwastri sambil membelai kepala gw yang sedang bersandar di atas dadanya..
Keesokan harinya..
“Bree, gw deg-deg an banget nih” Bisik gw ke Ridho saat diantarnya melangkah menuju hamparan karpet merah hati, yang sudah siap menjadi saksi akan ucapan suci gw untuk meminta Anggie sebagai seorang isteri yang sah..
“Udah lu tenang aja, pas ijab qobul nanti ada kertas contekannya koq di atas meja.. Lu bisa baca itu nanti, Bree” Jawab Ridho..
“Sssttts.. Jangan bisik-bisik, Bang.. Ga enak sama tamu yang lietin tuh” Kata Ibu di sebelah Om Rudi yang mengapit gw dari arah samping kanan, yang membuat gw kembali fokus memandang ke depan..
Yup! Hari ini adalah salah satu hari terbesar dalam sejarah hidup gw sebagai seorang laki-laki dewasa.. Hari ini, gw akan melangsungkan akad nikah di sebuah gedung serba guna di sebuah Hotel di jalan Margonda Raya Kota Depok.. Gw yang sudah memakai setelan jas pengantin pria dengan rompi dan celana bernuansa warna gold dengan rompi sama dan kemeja katun putih serta dasi gold, sedang berjalan menuju tempat akad nikah akan digelar..
Disebelah kiri dan kanan ada Ridho serta Om Rudi yang gw pilih sebagai dua orang saksi untuk pernikahan nanti.. Disamping Om Rudi ada Ibu dan Tante Septi.. Sementara di belakang, berjalan Suluh, Bimo dan Binar serta Rio yang sedang memasang wajah masam sambil menggandeng tangan adik gw, Ayu.. Kenapa Rio menekuk wajahnya? Itu karena ia kesal tidak dipilih oleh gw sebagai saksi.. Gw memang menuruti ucapan Ibu untuk memilih saksi pernikahan sebaiknya laki-laki yang sudah menikah.. Nah, si item kan setau gw masih jadi anggota setia Jomblo Fans Club.. Maka nya nama dia langsung tercoret dari daftar calon saksi pilihan.. Akhirnya, Ridho dan Om Rudi yang gw pilih..
Aula yang kami gunakan sudah sangat indah dihiasi segala macam ornamen khas Sunda dan Betawi.. Awalnya, pihak keluarga Anggie sempat meminta keluarga gw untuk mengikuti segala macam prosesi yang harus dilakukan sebelum hari H.. Tapi gw menolak dengan halus karena ingin yang simple saja.. Anggie sempat merajuk waktu itu, dan akhirnya gw mengalah dan mau menuruti nya dengan satu catatan bahwa prosesi adat Sunda yang gw ikuti hanya pada saat hari H nya saja..
Prosesi pernikahan Adat Sunda yang pertama adalah Ngabageakeun.. Gw yang tidak begitu mengerti istilah Sunda, sempat dijelaskan oleh Mamahnya Anggie yang ternyata berdarah asli Sunda.. Kek nya dari garis keturunan Mamahnya, Anggie menjadi salah satu keturunan Sang Prabu deh.. Nah, kata Mamahnya Anggie a.k.a calon mertua gw, arti istilah Ngabageakeun adalah prosesi penjemputan calon pengantin pria oleh keluarga calon pengantin wanita..
Seperti saat ini, gw bersama rombongan berhenti sekitar tiga meter dari hamparan karpet merah hati tempat akan dilaksanakan akad nikah, saat seorang wanita yang bertindak menjadi Wedding MC menyuruh kami untuk berhenti.. Persis di depan karpet, Mamahnya Anggie sudah berdiri bersama Papahnya dan beberapa orang kerabat.. Lalu, kedua orang tuanya Anggie berjalan menghampiri dan langsung mengalungkan bunga yang dibawa Mamahnya ke leher gw..
Selanjutnya, sang MC menyuruh Ridho dan Om Rudi yang akan menjadi saksi untuk berjalan lebih dahulu menuju karpet merah, dimana seorang petugas dari KUA sudah duduk menunggu sambil bersila.. Lalu, kedua orang tua nya Anggie menggantikan Ibu untuk mengapit gw dan mengajak melangkah memasuki pelaminan.. Kemudian, Papah dan Mamahnya Anggie pergi untuk menjemput anak gadis nya agar ikut memasuki pelaminan..
Gw sempat terpana melihat Anggie yang muncul dari balik panggung resepsi.. Gadis yang nampak sangat cantik dan anggun memakai gaun pengantin berwarna senada dengan jas pengantin gw itu, melemparkan senyuman sangat manis ketika menatap diri ini..
Gw juga sempat terpana selama beberapa saat menyaksikan kehadiran Anggie yang datang sambil diapit oleh Mamah dan Papahnya.. Ada satu hal yang membuat gw sampai speechless, gadis itu menggunakan hijab gold dengan beberapa accesories cantik sebagai pelengkap.. Setahu gw, Anggie memilih gaun pengantin bergaya modern tanpa embel-embel hijab saat kami berdua melakukan fitting di boutique salah satu designer ternama..
Namun, yang terlihat kali ini malah berbeda.. Anggie nampak semakin bertambah sempurna dibawah naungan hijabnya..
Ketertegunan gw lenyap begitu suara Ridho yang berdehem menyadarkan diri ini.. Petugas dari KUA sempat mengulum senyuman ke Papahnya Anggie yang perlahan duduk di sebelahnya, bersamaan dengan Anggie yang bersimpuh disebelah kiri gw.. Setelah itu pak Penghulu mengarahkan Anggie untuk meminta izin ke Papahnya sebelum prosesi ijab qabul di laksanakan dibawah naungan tiung atau selendang putih diatas kepala kami berdua..
Suara Anggie yang terdengar terbata-bata dalam isak tangis nya saat meminta izin kepada sang Papah, membuat beberapa orang terharu.. Gw sempat melihat Ibu dan Mamahnya Anggie sama-sama menitikkan air mata mendengar kalimat demi kalimat yang dilisankan Anggie ke Papahnya..
Selepas acara permintaan izin tadi, Pak Penghulu nampak membuka dua lembar kertas yang diluarnya tertulis identitas diri gw serta nama Almarhum Ayah dan identitas Ibu.. Ada pula photo gw dan Anggie yang tertempel di luar kertas tadi..
Perlahan Pak Penghulu membacakan seluruh identitas gw dari nama sampai status sebelum menikah.. Setelah selesai, Pak Penghulu terlihat membuka dua lembar kertas tadi dan didalamnya gw bisa melihat segala berkas persyaratan untuk menikah tersimpan rapi..
Kemudian, Pak Penghulu terdengar mengulangi hal sama ke Anggie.. Yakni menyebutkan segala identitas lengkap gadis itu, beserta identitas kedua orang tuanya.. Begitu tiba dibagian data wali nikah, Pak Penghulu nampak menegaskan pertanyaan terkait identitas Papahnya.. Dan dengan sangat bersungguh-sungguh, laki-laki yang dahulu pernah mempermalukan keluarga gw itu menjawab tiap pertanyaan dari Pak Penghulu..
“Baiklah, sekarang saya akan menyebutkan mas kimpoi yang nanti diberikan oleh saudara Imam Al Fattah selaku calon suami, kepada saudari Anggie Angelita Hapsari selaku calon isteri” Kata Pak Penghulu sambil sesekali memandangi kertas yang ada diatas meja..
Namun mendadak, petugas dari KUA setempat itu membesar kan pandangannya sambil menatap heran ke arah gw..
“Mohon maaf, saudara Imam.. Apa benar mas kimpoi yang tertulis di berkas ini, berupa sebuah sweater hitam kumal dan satu cincin berlian 1 ct serta seperangkat alat Shalat?” Tanya Pak Penghulu sambil mengerutkan dahi nya..
Gw sempat tersenyum seraya melirik ke arah Anggie yang juga menyunggingkan senyuman sama..
“Benar, Pak.. Saya dan calon isteri saya sepakat menjadikan sweater hitam sebagai salah satu mas kimpoi.. Bukan karena mencari sensasi, hanya saja benda itu sangat bernilai dalam hubungan kami berdua” Jawab gw dengan tenang dan cukup tegas..
Sembari manggut-manggut, Pak Penghulu nampak meneruskan membaca berkas pernikahan gw sekali lagi.. Lalu memangku kedua tangan diatas lembaran kertas yang sudah tergeletak di atas meja..
“Setelah ini, prosesi Ijab dan Qabul akan kita laksanakan.. Suadara Imam Al Fattah sebagai calon pengantin pria, apakah sudah siap dan hafal akan kalimat Ijab dan Qabul?” Tanya pak Penghulu yang gw jawab dengan anggukan kepala dan pandangan sedikit ragu..
“Hanya untuk berjaga-jaga saja yah.. Ini ada salinan kalimat Ijab dan Qabul yang bisa kamu baca jika memang diperlukan” Tambah Pak Penghulu sambil menyodorkan secarik kertas yang sudah dilaminating dan bertuliskan beberapa kalimat Ijab dan Qabul, diatas meja di hadapan gw..
Melihat kertas yang berisi sederet kalimat Ijab dan Qabul itu, membuat perasaan gw sedikit lebih tenang.. Selanjutnya prosesi paling penting dalam sebuah pernikahan pun segera dimulai..
Pak Penghulu terdengar membacakan Khotbah Nikah dan Ijab Qabul begitu tangan gw sudah berjabatan dengan tangan Om Andy a.k.a Papahnya Anggie.. Saat itu, jantung gw terasa sangat cepat berdetak menunggu kalimat Ijab dari Papahnya Anggie, yang terdengar mengikuti ucapan Pak Penghulu.. Dan begitu genggaman tangan Papahnya Anggie terasa sedikit terhentak, gw pun langsung mengucap..
“Saya terima nikahnya dan kimpoinya Anggie Angelita Hapsari Binti Andy Hardimantyo dengan mas kimpoi yang tersebut tunai”
“Bagaimana Saudara saksi, apakah sah?” Tanya Pak Penghulu yang disambut jawaban serta anggukan kepala Om Rudy dan Ridho..
“Alhamdulillah..” Ucap hampir semua orang yang hadir dan menyaksikan sah nya prosesi Ijab Qabul, yang dilanjutkan dengan pembacaan do’a dari pak Penghulu..
Gw sempat melirik sambil tersenyum ke arah Anggie yang wajahnya nampak merah merona meski kedua mata sedikit basah..
“Silahkan ditandatangani dua buku Nikah kalian dan selamat, kalian berdua sudah sah menjadi sepasang suami dan isteri.. Semoga pernikahan kalian berdua selalu mendapatkan limpahan rahmat dan lindungan Allah SWT, dan keluarga kalian dijadikan keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah serta diberikan keturunan yang soleh dan solehah.. aaminn” Ucap Pak Penghulu sambil menyodorkan dua buah buku nikah dan menjabat tangan gw serta Anggie secara bergantian..
Kamudian, sang MC wanita menyuruh gw untuk memakaikan cincin berlian sebagai mas kimpoi ke jari manis Anggie dan mencium kening isteri gw itu.. Lalu, Ibu yang berada di dekat gw langsung memeluk diri ini..
“Selamat ya sayang, Ibu bahagia sekali hari ini” Bisik Ibu yang disusul oleh kecupan lembutnya di kening..
Gw mengangguk pelan meski sempat menyeka air mata yang tanpa sadar mengalir, sambil menatap wajah Ibu yang tengah menyimpulkan senyuman sumringah.. Kemudian, bergantian gw diberi ucapan selamat oleh Papah dan Mamahnya Anggie serta ketiga saudara dan sahabat-sahabat kental gw saat SMA..
“Akhirnya jadi juga lu nikah sama Anggie, Bree” Kata Joni sambil memeluk gw dengan erat..
“Berarti sekarang tinggal Rio yang harus mikir keras buat masa depannya yak” Timpal Mail..
“Bentar lagi juga temen kita yang tentara ini bakal kimpoi, Bree.. Tapi sama senapan” Sambar Rendy dengan berseloroh dan disambut tawa kami semua..
“Alaaah.. Lagu nya kek udah punya cewe aja lu pada, Nyet!” Kata Rio yang menjadi bahan tertawaan sambil berniat menoyor kepala Rendy dari belakang, namun dengan cepat Rendy menghindar hingga kepala nya terselamatkan..
Tak lama berselang, wanita berhijab yang didaulat sebagai MC mengarahkan kepada gw dan Anggie untuk melanjutkan prosesi adat selanjutnya yaitu Sungkeman.. Gw dan Anggie diminta untuk berjalan di depan sambil dipayungi dua buah payung emas.. Sementara beberapa orang penari wanita nampak mulai berlenggak-lenggok didepan kami, mengikuti irama degung dan semua anggota keluarga gw dan Anggie mengikuti dari belakang..
Sambil terus berjalan bersama Anggie menuju pelaminan, gw sempat mengedarkan pandangan ke sekitar untuk melihat sosok sahabat-sahabat gaib.. Senyuman ini langsung terkembang begitu pandangan gw bertemu dengan sosok Nyi Mas Roro Suwastri yang sedang berdiri disebelah Singgih sambil melambaikan tangan dan melempar senyuman sangat manis.. Di dekatnya, nampak Sekar Kencana dan Bayu Barata juga sama menyunggingkan senyuman ke arah gw.. Gw sempat mencari-cari sosok Jagat Tirta di dekat Sekar Kencana dan Bayu Barata.. Namun sama sekali sosok Kakek Moyang gw itu tidak nampak batang hidungnya.. Mungkin hubungan Jagat Tirta dengan Sekar masih runyam..
Saat tiba di pelaminan, Ibu dan Mamah serta Papahnya Anggie langsung duduk di sebelah kiri dan kanan kursi khusus orangtua pengantin.. Kemudian, gw dan Anggie meminta ampunan Ibu sekaligus restunya untuk membina biduk rumah tangga.. Selepas itu, kami juga melakukan hal sama ke kedua orang tua nya Anggie..
Sebenarnya masih ada lima prosesi lagi yang harus gw dan Anggie jalani sebagai sepasang pengantin.. Seperti prosesi wejangan, saweran serta meuleum harupat.. Namun gw tidak akan membahas segala prosesi itu disini, karena akan memakan banyak alinea nantinya.. Dan akhirnya, gw dan Anggie pun sudah bisa duduk beristirahat berdampingan diatas pelaminan.. Gw sempat melirik ke arah Anggie dengan senyuman yang terus terkembang..
“Kamu kenapa sih, Beb? Senyum-senyum terus” Tanya Anggie yang nampak merona..
“This is it, Yank.. Today is our biggest day.. Kita bisa kan lewatin semua ujian and finally sit in front of all people as husband and wife?” Jawab gw yang membuat Anggie menyunggingkan senyuman sambil meraih telapak tangan gw dan diciumnya dengan sangat mesra..
“Makasih yah, Beb.. Kamu akhirnya bisa nepatin janji ke aku.. Aku janji, I will be your wife for the entire of time.. Till the death do us apart” Ucap Anggie yang setelahnya menyeka airmata di pipi..
Gw segera meraih kepala isteri gw itu dan mengecup keningnya cukup lama, hingga ada suara MC yang terdengar memberitahukan para tamu undangan untuk satu persatu naik ke pelaminan guna memberi ucapan selamat pada kami berdua..
“Yank, kamu cantik banget pake hijab.. Koq bisa dadakan gitu, setau aku kan kamu pilih gaun yang tanpa hijab?” Tanya gw ke Anggie..
“Aku udah mutusin, mulai hari ini aku akan pake jilbab setelah aku resmi jadi isteri kamu.. Gimana, kamu setuju kan, Beb?” Tanya Anggie, sambil mengerlingkan kedua matanya..
Gw sempat terkejut mendengar ungkapan isteri gw itu, lalu kembali mengecup keningnya untuk kesekian kali..
“This is the second happiest things happen to me today, Yank.. Aku bahagia banget.. Aku bakal support kamu terus biar bisa istiqomah pakai jilbab nya”
Anggie nampak tersenyum sangat manis sambil menganggukkan kepala.. Lalu mengajak gw berdiri saat beberapa orang tamu mulai naik ke pelaminan.. Dengan terus tersenyum bahagia, gw dan Anggie mulai menyalami para tamu yang berniat memberi ucapan selamat atas pernikahan kami berdua.. Saat sibuk menyalami tamu, tiba-tiba Anggie nampak lemas dan jatuh terduduk di atas kursi pelaminan.. Sontak, gw dan kedua orang tua Anggie serta Ibu langsung mengerubunginya..
“Yank, kamu kenapa?” Tanya gw dengan nada panik..
Anggie nampak meringis sambil terus memegangi dadanya.. Disebelah isteri gw itu, Mamahnya dan Ibu terlihat cemas memegangi lengan Anggie..
“Nafas aku tiba-tiba sesak” Jawab Anggie dengan suara terdengar lirih..
Tiba-tiba, Ki Larang muncul di sebelah Anggie dengan wajah memerah seperti sedang menahan amarah..
“Jangan bersikap kaku pada Kakek dan Nenek Moyang mu sendiri, Ngger.. Tajamnya pandangan ku tadi hanya sebuah candaan ringan saja..” Ucap Nyi Mas Roro Suwastri yang masih memegangi bahu gw..
“Maafkan aku, Nyi.. Jika aku sempat bersikap tidak sopan terhadap kalian”
Baik Nyi Mas Roro Suwastri dan Jagat Tirta nampak sama-sama tersenyum mendengar pengakuan gw..
“Aku akan segera pamit untuk menemui Sekar Kencana, Bayu Barata dan Ibunda ku, Ngger.. Aku rasa, saat ini Ki Larang sedang memutar balikkan Ajian Puter Angen pada Sekar Kencana dan Bayu Barata, seperti yang telah ia lakukan kepada ku.. Kau, Roro Suwastri tolong antarkan keturunan kita ke kediamannya setelah aku pergi nanti” Ucap Jagat Tirta yang diakhiri dengan sebuah permintaan ke Nyi Mas Roro Suwastri..
Setelah mendapat jawaban berupa anggukan kepala dari Nyi Mas Roro Suwastri, sosok Jagat Tirta pun lenyap dari pandangan mata.. Gw yang sedang memikirkan sesuatu dalam benak, sempat terdiam dan menatap kosong ke arah lenyapnya sosok Jagat Tirta..
“Apa yang sedang kau pikirkan, Keturunan ku?” Tanya Nyi Mas Roro Suwastri sambil merapikan sejumput rambut yang menutupi kening gw..
Untuk sesaat, gw tertegun merasakan bentuk kasih sayang sosok seorang Nyi Mas Roro Suwastri terhadap gw yang merupakan keturunan langsungnya..
“Kau panggil aku, Eyang Puteri saja seperti kau memanggil buyut mu, Nyi Mas Galuh Pandita.. Dan aku akan memanggil mu dengan sebutan Ngger atau mungkin kau lebih suka jika aku panggil cucu?” Tanya Nyi Mas Roro Suwastri yang nampak sangat antusias menatap wajah gw..
“Panggil aku Ngger saja, Nyi.. Eeh, Eyang Puteri.. Itu terasa jauh lebih enak di dengar karena wajah mu masih terlalu cantik untuk memanggil ku dengan sebutan cucu” Pinta gw yang membuat Nyi Mas Roro Suwastri tertawa namun langsung menjewer daun telinga kanan..
“Gombal mu itu pasti menurun dari Kakek Moyang mu, Jagat Tirta, Ngger.. Awas saja jika kau gunakan rayuan maut dan ketampanan wajah mu untuk merayu para gadis” Kata Nyi Mas Roro Suwastri yang gw balas dengan suara ringisan bercampur sedikit tawa..
Untuk sesaat, kami berdua tertawa lepas bersama-sama.. Tapi, mendadak Nyi Mas Roro Suwastri terdiam dengan wajah kembali murung.. Dari tatapan kosongnya yang terpusat di rimbunnya pohon, gw merasa ia kembali sedih karena teringat mendiang Prana Kusuma.. Lalu, dengan lembut gw tarik tangan kanan beliau dan menempatkan telapaknya di pipi..
“Jika kau tidak keberatan, anggaplah aku sebagai pengganti Prana Kusuma, Eyang Puteri.. Setidaknya kau tidak perlu sedih saat mengingatnya” Ucap gw dengan suara lirih..
Nyi Mas Roro Suwastri memutar tubuh dan kembali menghadap gw sambil menyunggingkan senyuman teduh yang menenangkan hati.. Kemudian, satu telapak tangannya yang lain ikut memegangi pipi kiri gw..
“Kau memang benar keturunan kami, Ngger.. Untuk itu, aku akan selalu menganggapmu sebagai jelmaan Prana Kusuma.. Agar aku bisa mencurahkan segala kasih sayang yang tak pernah ku berikan pada nya” Jawab Nyi Mas Roro Suwastri yang diakhiri dengan sebuah kecupan lembut di kening gw..
Gw mengulum senyuman manis menerima perlakuan penuh kasih sayang dari sosok yang merupakan Nenek Moyang gw itu.. Namun, Nyi Mas Roro Suwastri kembali merubah raut wajahnya menjadi menatap gw dengan sangat serius, sambil melepaskan pegangan dua telapak tangan dari pipi ini.. Gw yang merasa tidak enak ditatap seperti itu, sempat mengedipkan mata beberapa kali agar Nyi Mas Roro Suwastri kembali bersikap seperti biasa.. Akan tetapi, ia malah terlihat kian aneh karena memandang gw sambil mengerutkan dahi.. Seolah ada sesuatu yang sedang bergelayut dalam benaknya..
“Eyang Puteri, mengapa kau menatap ku seperti itu? Apakah ada hal yang membuat mu berfikir keras?” Tanya gw yang membuat Nyi Mas Roro Suwastri melempar pandangan kembali menatap diri ini..
“Singgih, gadis yang ku jaga itu sedang menemui calon isteri mu yang merupakan sama-sama keturunan Sri Baduga Maharaja, seperti dirinya” Ucap Nyi Mas Roro Suwastri dengan pandangan mata berubah menatap gw dalam-dalam dan sedikit berkaca-kaca..
Gw yang awalnya biasa saja, tiba-tiba mulai dilanda rasa khawatir melihat dan mendengar reaksi serta ucapan Nyi Mas Roro Suwastri..
“Apa ada yang salah jika Singgih bertemu calon isteri ku, Eyang Puteri? Jika Singgih berniat tidak baik, aku mohon halangi gadis itu, Eyang” Pinta gw dengan nada suara menyiratkan kecemasan..
Nyi Mas Roro Suwastri langsung tersenyum mendengar pertanyaan gw.. Lalu, ia memegangi kedua lengan ini sambil berucap..
“Tidak, Ngger.. Singgih tidak memiliki niat jahat sama sekali dengan calon isteri mu.. Ia hanya ingin menemui sesama keturunan Sang Prabu.. Aku tadi sempat menatap mu dalam-dalam karena terharu, sebab kau yang merupakan keturunan ku akan menikahi seorang gadis dari garis keturunan Sang Prabu.. Hal itu sangat membuat ku bangga” Ucap Nyi Mas Roro Suwastri sambil memindahkan telapak tangan kanannya membelai pipi ini..
Gw yang mendengar jawaban sosok Nenek Moyang, menyunggingkan senyuman karena merasa lega.. Sesuai harapan, Singgih sama sekali tidak berniat buruk pada Anggie.. Mungkin gadis itu hanya ingin tahu saja, seperti apa rupa sosok yang berasal dari keturunan sama dengannya..
“Eyang Puteri, jika Eyang tidak keberatan aku ingin Eyang datang menyaksikan pernikahan ku esok hari.. Apakah Eyang mau?” Tanya gw, yang langsung mencium punggung tangan nya selesai berucap..
Nyi Mas Roro Suwastri seketika tersenyum dan memeluk gw dengan sangat erat..
“Tentu saja aku mau, Ngger.. Aku berjanji tidak akan melewatkan pernikahan mu dengan gadis keturunan Sang Prabu.. Aku sebagai Nenek Moyang mu akan sangat bahagia sekali saat melihat mu bersanding bersama gadis pilihan hati dipelaminan” Jawab Nyi Mas Roro Suwastri sambil membelai kepala gw yang sedang bersandar di atas dadanya..
Keesokan harinya..
“Bree, gw deg-deg an banget nih” Bisik gw ke Ridho saat diantarnya melangkah menuju hamparan karpet merah hati, yang sudah siap menjadi saksi akan ucapan suci gw untuk meminta Anggie sebagai seorang isteri yang sah..
“Udah lu tenang aja, pas ijab qobul nanti ada kertas contekannya koq di atas meja.. Lu bisa baca itu nanti, Bree” Jawab Ridho..
“Sssttts.. Jangan bisik-bisik, Bang.. Ga enak sama tamu yang lietin tuh” Kata Ibu di sebelah Om Rudi yang mengapit gw dari arah samping kanan, yang membuat gw kembali fokus memandang ke depan..
Yup! Hari ini adalah salah satu hari terbesar dalam sejarah hidup gw sebagai seorang laki-laki dewasa.. Hari ini, gw akan melangsungkan akad nikah di sebuah gedung serba guna di sebuah Hotel di jalan Margonda Raya Kota Depok.. Gw yang sudah memakai setelan jas pengantin pria dengan rompi dan celana bernuansa warna gold dengan rompi sama dan kemeja katun putih serta dasi gold, sedang berjalan menuju tempat akad nikah akan digelar..
Disebelah kiri dan kanan ada Ridho serta Om Rudi yang gw pilih sebagai dua orang saksi untuk pernikahan nanti.. Disamping Om Rudi ada Ibu dan Tante Septi.. Sementara di belakang, berjalan Suluh, Bimo dan Binar serta Rio yang sedang memasang wajah masam sambil menggandeng tangan adik gw, Ayu.. Kenapa Rio menekuk wajahnya? Itu karena ia kesal tidak dipilih oleh gw sebagai saksi.. Gw memang menuruti ucapan Ibu untuk memilih saksi pernikahan sebaiknya laki-laki yang sudah menikah.. Nah, si item kan setau gw masih jadi anggota setia Jomblo Fans Club.. Maka nya nama dia langsung tercoret dari daftar calon saksi pilihan.. Akhirnya, Ridho dan Om Rudi yang gw pilih..
Aula yang kami gunakan sudah sangat indah dihiasi segala macam ornamen khas Sunda dan Betawi.. Awalnya, pihak keluarga Anggie sempat meminta keluarga gw untuk mengikuti segala macam prosesi yang harus dilakukan sebelum hari H.. Tapi gw menolak dengan halus karena ingin yang simple saja.. Anggie sempat merajuk waktu itu, dan akhirnya gw mengalah dan mau menuruti nya dengan satu catatan bahwa prosesi adat Sunda yang gw ikuti hanya pada saat hari H nya saja..
Prosesi pernikahan Adat Sunda yang pertama adalah Ngabageakeun.. Gw yang tidak begitu mengerti istilah Sunda, sempat dijelaskan oleh Mamahnya Anggie yang ternyata berdarah asli Sunda.. Kek nya dari garis keturunan Mamahnya, Anggie menjadi salah satu keturunan Sang Prabu deh.. Nah, kata Mamahnya Anggie a.k.a calon mertua gw, arti istilah Ngabageakeun adalah prosesi penjemputan calon pengantin pria oleh keluarga calon pengantin wanita..
Seperti saat ini, gw bersama rombongan berhenti sekitar tiga meter dari hamparan karpet merah hati tempat akan dilaksanakan akad nikah, saat seorang wanita yang bertindak menjadi Wedding MC menyuruh kami untuk berhenti.. Persis di depan karpet, Mamahnya Anggie sudah berdiri bersama Papahnya dan beberapa orang kerabat.. Lalu, kedua orang tuanya Anggie berjalan menghampiri dan langsung mengalungkan bunga yang dibawa Mamahnya ke leher gw..
Selanjutnya, sang MC menyuruh Ridho dan Om Rudi yang akan menjadi saksi untuk berjalan lebih dahulu menuju karpet merah, dimana seorang petugas dari KUA sudah duduk menunggu sambil bersila.. Lalu, kedua orang tua nya Anggie menggantikan Ibu untuk mengapit gw dan mengajak melangkah memasuki pelaminan.. Kemudian, Papah dan Mamahnya Anggie pergi untuk menjemput anak gadis nya agar ikut memasuki pelaminan..
Gw sempat terpana melihat Anggie yang muncul dari balik panggung resepsi.. Gadis yang nampak sangat cantik dan anggun memakai gaun pengantin berwarna senada dengan jas pengantin gw itu, melemparkan senyuman sangat manis ketika menatap diri ini..
Gw juga sempat terpana selama beberapa saat menyaksikan kehadiran Anggie yang datang sambil diapit oleh Mamah dan Papahnya.. Ada satu hal yang membuat gw sampai speechless, gadis itu menggunakan hijab gold dengan beberapa accesories cantik sebagai pelengkap.. Setahu gw, Anggie memilih gaun pengantin bergaya modern tanpa embel-embel hijab saat kami berdua melakukan fitting di boutique salah satu designer ternama..
Namun, yang terlihat kali ini malah berbeda.. Anggie nampak semakin bertambah sempurna dibawah naungan hijabnya..
Ketertegunan gw lenyap begitu suara Ridho yang berdehem menyadarkan diri ini.. Petugas dari KUA sempat mengulum senyuman ke Papahnya Anggie yang perlahan duduk di sebelahnya, bersamaan dengan Anggie yang bersimpuh disebelah kiri gw.. Setelah itu pak Penghulu mengarahkan Anggie untuk meminta izin ke Papahnya sebelum prosesi ijab qabul di laksanakan dibawah naungan tiung atau selendang putih diatas kepala kami berdua..
Suara Anggie yang terdengar terbata-bata dalam isak tangis nya saat meminta izin kepada sang Papah, membuat beberapa orang terharu.. Gw sempat melihat Ibu dan Mamahnya Anggie sama-sama menitikkan air mata mendengar kalimat demi kalimat yang dilisankan Anggie ke Papahnya..
Selepas acara permintaan izin tadi, Pak Penghulu nampak membuka dua lembar kertas yang diluarnya tertulis identitas diri gw serta nama Almarhum Ayah dan identitas Ibu.. Ada pula photo gw dan Anggie yang tertempel di luar kertas tadi..
Perlahan Pak Penghulu membacakan seluruh identitas gw dari nama sampai status sebelum menikah.. Setelah selesai, Pak Penghulu terlihat membuka dua lembar kertas tadi dan didalamnya gw bisa melihat segala berkas persyaratan untuk menikah tersimpan rapi..
Kemudian, Pak Penghulu terdengar mengulangi hal sama ke Anggie.. Yakni menyebutkan segala identitas lengkap gadis itu, beserta identitas kedua orang tuanya.. Begitu tiba dibagian data wali nikah, Pak Penghulu nampak menegaskan pertanyaan terkait identitas Papahnya.. Dan dengan sangat bersungguh-sungguh, laki-laki yang dahulu pernah mempermalukan keluarga gw itu menjawab tiap pertanyaan dari Pak Penghulu..
“Baiklah, sekarang saya akan menyebutkan mas kimpoi yang nanti diberikan oleh saudara Imam Al Fattah selaku calon suami, kepada saudari Anggie Angelita Hapsari selaku calon isteri” Kata Pak Penghulu sambil sesekali memandangi kertas yang ada diatas meja..
Namun mendadak, petugas dari KUA setempat itu membesar kan pandangannya sambil menatap heran ke arah gw..
“Mohon maaf, saudara Imam.. Apa benar mas kimpoi yang tertulis di berkas ini, berupa sebuah sweater hitam kumal dan satu cincin berlian 1 ct serta seperangkat alat Shalat?” Tanya Pak Penghulu sambil mengerutkan dahi nya..
Gw sempat tersenyum seraya melirik ke arah Anggie yang juga menyunggingkan senyuman sama..
“Benar, Pak.. Saya dan calon isteri saya sepakat menjadikan sweater hitam sebagai salah satu mas kimpoi.. Bukan karena mencari sensasi, hanya saja benda itu sangat bernilai dalam hubungan kami berdua” Jawab gw dengan tenang dan cukup tegas..
Sembari manggut-manggut, Pak Penghulu nampak meneruskan membaca berkas pernikahan gw sekali lagi.. Lalu memangku kedua tangan diatas lembaran kertas yang sudah tergeletak di atas meja..
“Setelah ini, prosesi Ijab dan Qabul akan kita laksanakan.. Suadara Imam Al Fattah sebagai calon pengantin pria, apakah sudah siap dan hafal akan kalimat Ijab dan Qabul?” Tanya pak Penghulu yang gw jawab dengan anggukan kepala dan pandangan sedikit ragu..
“Hanya untuk berjaga-jaga saja yah.. Ini ada salinan kalimat Ijab dan Qabul yang bisa kamu baca jika memang diperlukan” Tambah Pak Penghulu sambil menyodorkan secarik kertas yang sudah dilaminating dan bertuliskan beberapa kalimat Ijab dan Qabul, diatas meja di hadapan gw..
Melihat kertas yang berisi sederet kalimat Ijab dan Qabul itu, membuat perasaan gw sedikit lebih tenang.. Selanjutnya prosesi paling penting dalam sebuah pernikahan pun segera dimulai..
Pak Penghulu terdengar membacakan Khotbah Nikah dan Ijab Qabul begitu tangan gw sudah berjabatan dengan tangan Om Andy a.k.a Papahnya Anggie.. Saat itu, jantung gw terasa sangat cepat berdetak menunggu kalimat Ijab dari Papahnya Anggie, yang terdengar mengikuti ucapan Pak Penghulu.. Dan begitu genggaman tangan Papahnya Anggie terasa sedikit terhentak, gw pun langsung mengucap..
“Saya terima nikahnya dan kimpoinya Anggie Angelita Hapsari Binti Andy Hardimantyo dengan mas kimpoi yang tersebut tunai”
“Bagaimana Saudara saksi, apakah sah?” Tanya Pak Penghulu yang disambut jawaban serta anggukan kepala Om Rudy dan Ridho..
“Alhamdulillah..” Ucap hampir semua orang yang hadir dan menyaksikan sah nya prosesi Ijab Qabul, yang dilanjutkan dengan pembacaan do’a dari pak Penghulu..
Gw sempat melirik sambil tersenyum ke arah Anggie yang wajahnya nampak merah merona meski kedua mata sedikit basah..
“Silahkan ditandatangani dua buku Nikah kalian dan selamat, kalian berdua sudah sah menjadi sepasang suami dan isteri.. Semoga pernikahan kalian berdua selalu mendapatkan limpahan rahmat dan lindungan Allah SWT, dan keluarga kalian dijadikan keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah serta diberikan keturunan yang soleh dan solehah.. aaminn” Ucap Pak Penghulu sambil menyodorkan dua buah buku nikah dan menjabat tangan gw serta Anggie secara bergantian..
Kamudian, sang MC wanita menyuruh gw untuk memakaikan cincin berlian sebagai mas kimpoi ke jari manis Anggie dan mencium kening isteri gw itu.. Lalu, Ibu yang berada di dekat gw langsung memeluk diri ini..
“Selamat ya sayang, Ibu bahagia sekali hari ini” Bisik Ibu yang disusul oleh kecupan lembutnya di kening..
Gw mengangguk pelan meski sempat menyeka air mata yang tanpa sadar mengalir, sambil menatap wajah Ibu yang tengah menyimpulkan senyuman sumringah.. Kemudian, bergantian gw diberi ucapan selamat oleh Papah dan Mamahnya Anggie serta ketiga saudara dan sahabat-sahabat kental gw saat SMA..
“Akhirnya jadi juga lu nikah sama Anggie, Bree” Kata Joni sambil memeluk gw dengan erat..
“Berarti sekarang tinggal Rio yang harus mikir keras buat masa depannya yak” Timpal Mail..
“Bentar lagi juga temen kita yang tentara ini bakal kimpoi, Bree.. Tapi sama senapan” Sambar Rendy dengan berseloroh dan disambut tawa kami semua..
“Alaaah.. Lagu nya kek udah punya cewe aja lu pada, Nyet!” Kata Rio yang menjadi bahan tertawaan sambil berniat menoyor kepala Rendy dari belakang, namun dengan cepat Rendy menghindar hingga kepala nya terselamatkan..
Tak lama berselang, wanita berhijab yang didaulat sebagai MC mengarahkan kepada gw dan Anggie untuk melanjutkan prosesi adat selanjutnya yaitu Sungkeman.. Gw dan Anggie diminta untuk berjalan di depan sambil dipayungi dua buah payung emas.. Sementara beberapa orang penari wanita nampak mulai berlenggak-lenggok didepan kami, mengikuti irama degung dan semua anggota keluarga gw dan Anggie mengikuti dari belakang..
Sambil terus berjalan bersama Anggie menuju pelaminan, gw sempat mengedarkan pandangan ke sekitar untuk melihat sosok sahabat-sahabat gaib.. Senyuman ini langsung terkembang begitu pandangan gw bertemu dengan sosok Nyi Mas Roro Suwastri yang sedang berdiri disebelah Singgih sambil melambaikan tangan dan melempar senyuman sangat manis.. Di dekatnya, nampak Sekar Kencana dan Bayu Barata juga sama menyunggingkan senyuman ke arah gw.. Gw sempat mencari-cari sosok Jagat Tirta di dekat Sekar Kencana dan Bayu Barata.. Namun sama sekali sosok Kakek Moyang gw itu tidak nampak batang hidungnya.. Mungkin hubungan Jagat Tirta dengan Sekar masih runyam..
Saat tiba di pelaminan, Ibu dan Mamah serta Papahnya Anggie langsung duduk di sebelah kiri dan kanan kursi khusus orangtua pengantin.. Kemudian, gw dan Anggie meminta ampunan Ibu sekaligus restunya untuk membina biduk rumah tangga.. Selepas itu, kami juga melakukan hal sama ke kedua orang tua nya Anggie..
Sebenarnya masih ada lima prosesi lagi yang harus gw dan Anggie jalani sebagai sepasang pengantin.. Seperti prosesi wejangan, saweran serta meuleum harupat.. Namun gw tidak akan membahas segala prosesi itu disini, karena akan memakan banyak alinea nantinya.. Dan akhirnya, gw dan Anggie pun sudah bisa duduk beristirahat berdampingan diatas pelaminan.. Gw sempat melirik ke arah Anggie dengan senyuman yang terus terkembang..
“Kamu kenapa sih, Beb? Senyum-senyum terus” Tanya Anggie yang nampak merona..
“This is it, Yank.. Today is our biggest day.. Kita bisa kan lewatin semua ujian and finally sit in front of all people as husband and wife?” Jawab gw yang membuat Anggie menyunggingkan senyuman sambil meraih telapak tangan gw dan diciumnya dengan sangat mesra..
“Makasih yah, Beb.. Kamu akhirnya bisa nepatin janji ke aku.. Aku janji, I will be your wife for the entire of time.. Till the death do us apart” Ucap Anggie yang setelahnya menyeka airmata di pipi..
Gw segera meraih kepala isteri gw itu dan mengecup keningnya cukup lama, hingga ada suara MC yang terdengar memberitahukan para tamu undangan untuk satu persatu naik ke pelaminan guna memberi ucapan selamat pada kami berdua..
“Yank, kamu cantik banget pake hijab.. Koq bisa dadakan gitu, setau aku kan kamu pilih gaun yang tanpa hijab?” Tanya gw ke Anggie..
“Aku udah mutusin, mulai hari ini aku akan pake jilbab setelah aku resmi jadi isteri kamu.. Gimana, kamu setuju kan, Beb?” Tanya Anggie, sambil mengerlingkan kedua matanya..
Gw sempat terkejut mendengar ungkapan isteri gw itu, lalu kembali mengecup keningnya untuk kesekian kali..
“This is the second happiest things happen to me today, Yank.. Aku bahagia banget.. Aku bakal support kamu terus biar bisa istiqomah pakai jilbab nya”
Anggie nampak tersenyum sangat manis sambil menganggukkan kepala.. Lalu mengajak gw berdiri saat beberapa orang tamu mulai naik ke pelaminan.. Dengan terus tersenyum bahagia, gw dan Anggie mulai menyalami para tamu yang berniat memberi ucapan selamat atas pernikahan kami berdua.. Saat sibuk menyalami tamu, tiba-tiba Anggie nampak lemas dan jatuh terduduk di atas kursi pelaminan.. Sontak, gw dan kedua orang tua Anggie serta Ibu langsung mengerubunginya..
“Yank, kamu kenapa?” Tanya gw dengan nada panik..
Anggie nampak meringis sambil terus memegangi dadanya.. Disebelah isteri gw itu, Mamahnya dan Ibu terlihat cemas memegangi lengan Anggie..
“Nafas aku tiba-tiba sesak” Jawab Anggie dengan suara terdengar lirih..
Tiba-tiba, Ki Larang muncul di sebelah Anggie dengan wajah memerah seperti sedang menahan amarah..
Diubah oleh juraganpengki 18-06-2018 22:43
leobersamage107 dan 16 lainnya memberi reputasi
17