- Beranda
- Stories from the Heart
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)
...
TS
juraganpengki
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)

Cool Cover By Agan Linbara (Thanks, Bree)..
Prolog
Setelah bangun dari ‘Mati Suri’ karena memutuskan untuk mencoba membunuh diri sendiri untuk melindungi Kitab Langit dan melenyapkan Bayu Ambar, gw kembali ke dunia nyata.. Kehidupan gw sedikit jauh berbeda, karena pengalaman ‘Mati Suri’ itu berefek langsung pada kelebihan yang gw miliki.. Gw masih sama Anggie, meski ujian atas cinta kami masih saja mendera.. Ada musuh baru, tentu saja.. Tapi ada juga sahabat baru yang muncul.. Karena ini akhir dari cerita kami berempat..
Kembalinya Anak Ibu...
Pengorbanan Pedang Jagat Samudera...
Cintai Aku Sewajarnya, Yank...
Matinya Seorang Saudara (Versi Gw/Bimo)
Berkumpul Kembali...
Keanehan Yang Mulai Muncul...
Sambutan Ketiga Saudara Ke Reinata...
Sabar???
Cukup! Tinggalin Aku Sendiri!!!
Siapa Kau???
Aku Ikutin Kemauan Kamu...
Keputusan Sepihak Yang Pahit...
Semua Beban Menjadi satu
Semua Beban Menjadi Satu (2)...
Serangkum Rindu Untuk Ayah...
Munculnya Penguasa Laut Utara...
Bertemunya Dua Penguasa...
Sebuah Kesepakatan...
Ibu Kenapa Yah???
Lu Kenapa, Ka???
Wanted Dead Or Alive.. ANTON!!!
Mo 'Perabotan' Lu Hancur Apa Tanggung Jawab???
It's The End Of Us...
Di Kerjain Ibu...
Ridho!!!
Kelewatan!!!
Munculnya Dua Penjaga Gerbang Kerajaan Laut...
Dewi Arum Kesuma VS Dewi Ayu Anjani
Datangnya Sosok Seorang Pemisah Dan Shock Therapy Buat Gw...
Kerajaan Jin...
Terkuaknya Semua Jawaban...
Maafin Gw, Bree...
Pengakuan Suluh...
Akhirnya Boleh Gondrong...
Pernikahan Kak Silvi Yang Seharusnya Membuat Gw Bahagia...
Pernikahan Kak Silvi Yang seharusnya Membuat Gw Bahagia (2)...
Tunggu Pembalasan Gw!!!...
Ni Mas Linduri dan Banas Ireng...
Dua Sosok Penyelamat Misterius...
Ada Apa Sama Ridho?...
Kesalahan Fatal...
Kembalinya Jin Penjaga Ridho dan Suluh...
Akibat Terlalu Ikut Campur...
Setiap Perbuatan Akan Mendapat Balasan...
Munculnya Viny Dan Sebuah Tantangan Bertarung...
Manusia Cabul...
Suara Penolong Misterius...
Bertemunya Kembali Sepasang Kekasih...
Terkuaknya Kebenaran...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar (2)...
Jaket Dan Celana Jeans Robek Serta Sweater Hitam Kumal...
She's My True Love...
Dilema...
Pertengkaran Dengan Ibu...
Rambe Lantak...
Gendewa Panah Pramesti...
Akan Ku Balaskan Dendam Mu, Arum Kesuma!!!
Yang Hilang dan Yang Kembali...
Jawaban Ayu...
Mati Gw!!!
Aku Makin Sayang...
Nasihat Om Hendra...
Jera Mencuri...
Ajian Segoro Geni...
Pilihan Sulit...
Keputusasaan Anggie...
Kabar Baik dari Ridho dan Suluh...
Perjalanan Menuju Pembalasan Dendam...
Rawa Rontek...
Rawa Rontek 2 (Terbayarnya Dendam)...
Kedatangan Pak Sugi...
Orang Titipan...
Hukuman Paling Berat...
Tidurlah Di Pangkuan Ku...
Menjajal Kesaktian...
Menjajal Kesaktian (2)...
Pengakuan Mengejutkan Babeh Misar...
Pengajaran Ilmu Silat Betawi...
Di Kepret Babeh Misar Lagi...
Tasya...
Naga Caglak dan Bajing Item...
Misteri Sebuah Dendam...
Kekuatan Sejati Kitab Langit Bagian Matahari...
Perpisahan...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera (2)...
Kembalinya Ibu...
Empat Bayangan Hitam...
Siapa Ni Mas Laras Rangkuti???
Dendam Seorang Sahabat...
Ini Keputusan Yang Harus Gw Ambil...
Semua Pengorbanan Ini Demi Ibu...
Rapuh...
Kabar Mengejutkan Sekar dan Sebuah Restu...
Siasat Braja Krama...
Munculnya Kitab Langit...
Si Pembuka Kitab langit dan Sosok Asli Pak Sugi...
Rencana Yang Matang...
Lamaran Pribadi...
Keingintahuan Anggie...
Perubahan Rencana...
Hampir Terjebak...
Kekecewaan Sekar...
Dua Syarat Reinata...
Aku Harap Kamu dan Anggie Bahagia, Mam...
Rahasia Sepasang Suami Isteri...
Menitipkan Amanah...
Berkumpulnya Para Pembela Kitab Langit...
Siasat Ki Purwagalih...
Raja Jin Raja Muslihat (Nyesek, Bree)...
Pertukaran Tawanan...
Perang Gaib PunTak Terelakkan...
Sang Penyelamat Dari Utara...
Pertempuran Awal Dua Penguasa Kerajaan Gaib...
Bertekuk Lututnya Sekutu Braja Krama...
Pertarungan Dua Putera (Gugurnya Satu Sahabat Gaib)...
Krama Raja...
Braja Krama Versus Krama Raja...
Raja Licik...
Aku Lah Sang Pembuka...
Siasat Krama Raja dan Bayu Ambar...
Terbukanya Semua Ilmu Terlarang...
Sebuah Pengecualian...
Sri Baduga Maharaja...
Hilangnya Sebuah Pengecualian...
Hilangnya Sebuah Pengecualian (2)...
Sebuah Pengorbanan...
Pahlawan...
Sumpah...
Ilmu Pamungkas yang Terlarang...
Kabar Yang Mengejutkan...
Pulang...
Pulang (2)...
Sedikit Kisah Rio Sebelum Kisah Ini Tamat...
Terhalang Sumpah...
Bantuan Sahabat Baik...
Bachelor Party...
Keturunan Lain Sang Prabu...
Pembalasan Dendam Singgih...
Sepenggal Kisah Nyi Mas Roro Suwastri...
Tawaran Yang Mengejutkan...
Lawan Atau Kawan???
Terkuaknya Silsilah...
Sebuah Kebenaran...
Sebuah Kebenaran (2)...
Bertemunya Dua Keturunan Sang Prabu...
Pertempuran Dua Hati...
Cinta Pertama VS Cinta Terakhir Jagat Tirta...
Pengakuan Bayu Barata...
Ki Larang dan Nyi Mas Galuh Pandita???
Prana Kusuma...
Kau Benar Keturunan Kami, Ngger...
Our Big Day...
Insiden...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga (2)...
Dua Tamu Istimewa...
Semua Karena Cinta...
Keputusan Sekar Kencana...
Kena Gampar...
Bonyok!!!
RIBET!!!
Berdamai...
Keponakan Baru...
Malam Pertama dan Tiga Keanehan...
Ajian Warisan Para Leluhur (The Last Part/End Of All Chapters)
SIDE STORIES
Keturunan Yang Tersesat...
Keturunan Yang Tersesat (2)...

Cool Cover By Agan Linbara (Thanks, Bree)..
Prolog
Setelah bangun dari ‘Mati Suri’ karena memutuskan untuk mencoba membunuh diri sendiri untuk melindungi Kitab Langit dan melenyapkan Bayu Ambar, gw kembali ke dunia nyata.. Kehidupan gw sedikit jauh berbeda, karena pengalaman ‘Mati Suri’ itu berefek langsung pada kelebihan yang gw miliki.. Gw masih sama Anggie, meski ujian atas cinta kami masih saja mendera.. Ada musuh baru, tentu saja.. Tapi ada juga sahabat baru yang muncul.. Karena ini akhir dari cerita kami berempat..
Kembalinya Anak Ibu...
Pengorbanan Pedang Jagat Samudera...
Cintai Aku Sewajarnya, Yank...
Matinya Seorang Saudara (Versi Gw/Bimo)
Berkumpul Kembali...
Keanehan Yang Mulai Muncul...
Sambutan Ketiga Saudara Ke Reinata...
Sabar???
Cukup! Tinggalin Aku Sendiri!!!
Siapa Kau???
Aku Ikutin Kemauan Kamu...
Keputusan Sepihak Yang Pahit...
Semua Beban Menjadi satu
Semua Beban Menjadi Satu (2)...
Serangkum Rindu Untuk Ayah...
Munculnya Penguasa Laut Utara...
Bertemunya Dua Penguasa...
Sebuah Kesepakatan...
Ibu Kenapa Yah???
Lu Kenapa, Ka???
Wanted Dead Or Alive.. ANTON!!!
Mo 'Perabotan' Lu Hancur Apa Tanggung Jawab???
It's The End Of Us...
Di Kerjain Ibu...
Ridho!!!
Kelewatan!!!
Munculnya Dua Penjaga Gerbang Kerajaan Laut...
Dewi Arum Kesuma VS Dewi Ayu Anjani
Datangnya Sosok Seorang Pemisah Dan Shock Therapy Buat Gw...
Kerajaan Jin...
Terkuaknya Semua Jawaban...
Maafin Gw, Bree...
Pengakuan Suluh...
Akhirnya Boleh Gondrong...
Pernikahan Kak Silvi Yang Seharusnya Membuat Gw Bahagia...
Pernikahan Kak Silvi Yang seharusnya Membuat Gw Bahagia (2)...
Tunggu Pembalasan Gw!!!...
Ni Mas Linduri dan Banas Ireng...
Dua Sosok Penyelamat Misterius...
Ada Apa Sama Ridho?...
Kesalahan Fatal...
Kembalinya Jin Penjaga Ridho dan Suluh...
Akibat Terlalu Ikut Campur...
Setiap Perbuatan Akan Mendapat Balasan...
Munculnya Viny Dan Sebuah Tantangan Bertarung...
Manusia Cabul...
Suara Penolong Misterius...
Bertemunya Kembali Sepasang Kekasih...
Terkuaknya Kebenaran...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar (2)...
Jaket Dan Celana Jeans Robek Serta Sweater Hitam Kumal...
She's My True Love...
Dilema...
Pertengkaran Dengan Ibu...
Rambe Lantak...
Gendewa Panah Pramesti...
Akan Ku Balaskan Dendam Mu, Arum Kesuma!!!
Yang Hilang dan Yang Kembali...
Jawaban Ayu...
Mati Gw!!!
Aku Makin Sayang...
Nasihat Om Hendra...
Jera Mencuri...
Ajian Segoro Geni...
Pilihan Sulit...
Keputusasaan Anggie...
Kabar Baik dari Ridho dan Suluh...
Perjalanan Menuju Pembalasan Dendam...
Rawa Rontek...
Rawa Rontek 2 (Terbayarnya Dendam)...
Kedatangan Pak Sugi...
Orang Titipan...
Hukuman Paling Berat...
Tidurlah Di Pangkuan Ku...
Menjajal Kesaktian...
Menjajal Kesaktian (2)...
Pengakuan Mengejutkan Babeh Misar...
Pengajaran Ilmu Silat Betawi...
Di Kepret Babeh Misar Lagi...
Tasya...
Naga Caglak dan Bajing Item...
Misteri Sebuah Dendam...
Kekuatan Sejati Kitab Langit Bagian Matahari...
Perpisahan...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera (2)...
Kembalinya Ibu...
Empat Bayangan Hitam...
Siapa Ni Mas Laras Rangkuti???
Dendam Seorang Sahabat...
Ini Keputusan Yang Harus Gw Ambil...
Semua Pengorbanan Ini Demi Ibu...
Rapuh...
Kabar Mengejutkan Sekar dan Sebuah Restu...
Siasat Braja Krama...
Munculnya Kitab Langit...
Si Pembuka Kitab langit dan Sosok Asli Pak Sugi...
Rencana Yang Matang...
Lamaran Pribadi...
Keingintahuan Anggie...
Perubahan Rencana...
Hampir Terjebak...
Kekecewaan Sekar...
Dua Syarat Reinata...
Aku Harap Kamu dan Anggie Bahagia, Mam...
Rahasia Sepasang Suami Isteri...
Menitipkan Amanah...
Berkumpulnya Para Pembela Kitab Langit...
Siasat Ki Purwagalih...
Raja Jin Raja Muslihat (Nyesek, Bree)...
Pertukaran Tawanan...
Perang Gaib PunTak Terelakkan...
Sang Penyelamat Dari Utara...
Pertempuran Awal Dua Penguasa Kerajaan Gaib...
Bertekuk Lututnya Sekutu Braja Krama...
Pertarungan Dua Putera (Gugurnya Satu Sahabat Gaib)...
Krama Raja...
Braja Krama Versus Krama Raja...
Raja Licik...
Aku Lah Sang Pembuka...
Siasat Krama Raja dan Bayu Ambar...
Terbukanya Semua Ilmu Terlarang...
Sebuah Pengecualian...
Sri Baduga Maharaja...
Hilangnya Sebuah Pengecualian...
Hilangnya Sebuah Pengecualian (2)...
Sebuah Pengorbanan...
Pahlawan...
Sumpah...
Ilmu Pamungkas yang Terlarang...
Kabar Yang Mengejutkan...
Pulang...
Pulang (2)...
Sedikit Kisah Rio Sebelum Kisah Ini Tamat...
Terhalang Sumpah...
Bantuan Sahabat Baik...
Bachelor Party...
Keturunan Lain Sang Prabu...
Pembalasan Dendam Singgih...
Sepenggal Kisah Nyi Mas Roro Suwastri...
Tawaran Yang Mengejutkan...
Lawan Atau Kawan???
Terkuaknya Silsilah...
Sebuah Kebenaran...
Sebuah Kebenaran (2)...
Bertemunya Dua Keturunan Sang Prabu...
Pertempuran Dua Hati...
Cinta Pertama VS Cinta Terakhir Jagat Tirta...
Pengakuan Bayu Barata...
Ki Larang dan Nyi Mas Galuh Pandita???
Prana Kusuma...
Kau Benar Keturunan Kami, Ngger...
Our Big Day...
Insiden...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga (2)...
Dua Tamu Istimewa...
Semua Karena Cinta...
Keputusan Sekar Kencana...
Kena Gampar...
Bonyok!!!
RIBET!!!
Berdamai...
Keponakan Baru...
Malam Pertama dan Tiga Keanehan...
Ajian Warisan Para Leluhur (The Last Part/End Of All Chapters)
SIDE STORIES
Keturunan Yang Tersesat...
Keturunan Yang Tersesat (2)...
Diubah oleh juraganpengki 15-07-2018 20:23
adriantz dan 133 lainnya memberi reputasi
128
2.1M
8K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
juraganpengki
#7008
..
Prana Kusuma..
Sosok pemuda tampan jelmaan Ki Larang hanya membalas ejekan Nyi Mas Galuh Pandita dengan senyuman ringan.. Lalu merentangkan kedua tangannya ke samping kiri dan kanan.. Gw yang melihat sosok Macan Kumbang dan Kakek Tua bertubuh kurus kering yang mengapit posisi Ki Larang perlahan melayang masuk dan menghilang ke dalam tubuh utamanya, hanya bisa menelan ludah setelah menyaksikan kembali salah satu kesaktian Panglima Kerajaan Padjadjaran..
Namun berbeda dengan Nyi Mas Galuh Pandita yang nampak mengulum senyuman meremehkan, setelah kedua tubuh jelmaan sempurna bersatu dengan tubuh Pemuda gagah yang dipanggilknya dengan nama Wishnu Karma..
“Kau tidak perlu memamerkan kesaktian mu, Wishnu Karma.. Kami semua tidak membutuhkannya.. Satu hal yang kami ingin tahu adalah alasan dibalik kemunculan dirimu disini?”
Sekali lagi pemuda bernama Wishnu Karma menyunggingkan senyuman ramah mendengar kalimat mengintimidasi dari Nyi Mas Galuh Pandita.. Lalu, ia nampak menghela nafas panjang sambil merapihkan pakaian khas petinggi keraton dan kembali menatap sosok Jin cantik berselendang biru setelahnya..
“Ternyata amarah mu masih saja bergelora meski ratusan tahun telah berlalu, Galuh Pandita” Ucap Ki Larang yang membuat gw mengerutkan dahi..
Dari awal kemunculannya dan sambutan Nyi Mas Galuh Pandita yang terkesan mengejek, gw menduga pasti ada suatu hal yang pernah terjadi diantara kedua sosok gaib itu.. Terlebih saat mendengar Ki Larang menyebut tentang amarah Nyi Mas Galuh Pandita barusan.. Banyak sekali pertanyaan yang mulai timbul dalam benak gw terkait dengan permasalahan yang ada antara puteri Braja Krama dan Panglima Kerajaan Padjadjaran.. Namun, gw sadar.. Bahwa diri ini hanya bisa bertanya-tanya saja dalam hati tanpa berani menunjukkan tingkat kekepoan gw yang mulai memuncak..
“Jangan kau coba ungkit luka ratusan tahun yang lalu, Wishnu Karma.. Kau jawab saja pertanyaan ku tadi.. Untuk apa kau datang kesini?” Balas Nyi Mas Galuh Pandita dengan wajah mulai memerah menahan amarah..
Gw sempat melirik Sekar Kencana dan Jagat Tirta yang nampak heran melihat reaksi sosok yang sangat mereka hormati terhadap Ki Larang.. Namun, seperti hal nya gw, kedua sosok gaib yang merupakan putera serta menantu Nyi Mas Galuh Pandita hanya bisa terdiam.. Gw yakin, semua yang hadir ditempat ini pasti terserang rasa kepo, terkecuali Ki Larang dan Nyi Mas Galuh Psndita sendiri..
Perlahan, pandangan mata Ki Larang beredar memandangi kami satu persatu.. Seolah sengaja mengulur waktu sebelum menjawab pertanyaan Nyi Mas Galuh Pandita.. Bayu Barata dan Sekar Kencana serta Nyi Mas Roro Suwastri nampak menundukkan wajah pertanda hormat.. Namun tidak dengan Jagat Tirta dan gw.. Jagat Tirta terlihat menatap Ki Larang dengan pandangan tajam.. Sementara, gw hanya menyimpulkan senyuman kecil untuk membalas lirikan mata Ki Larang yang terhenti menatap wajah ini..
“Hadirnya aku disini adalah atas perintah Sang Prabu, yakni untuk menguak kebenaran pada Nyi Mas Roro Suwastri, Sekar Kencana dan Bayu Barata.. Seperti yang sudah ku lakukan pada pemuda itu, yang dalam darahnya mengalir darah Jagat Tirta” Ucap Ki Larang dengan wajah masih terpaku menatap gw..
“Apa maksud mu tuan Panglima? Bukan kah kau yang telah membawa putera ku Prana Kusuma? Mengapa kau malah mengalihkan pembicaraan dengan membawa-bawa pemuda itu?” Tanya Jagat Tirta dengan sengaja meninggikan suara ..
Sosok pemuda tampan jelmaan Ki Larang membalas pertanyaan Jagat Tirta dengan senyuman, lalu mengulurkan tangan ke arah gw..
“Maju dan mendekatlah ke samping kiri ku, Ngger” Panggil Ki Larang masih dengan senyumannya yang sedari tadi selalu terkembang..
Gw yang sempat terkejut mendengar permintaan Jin utusan Sri Baduga Maharaja guna menjaga Anggie, untuk sesaat hanya bisa tertegun.. Namun, melihat Ki Larang sekali lagi melambaikan tangan, membuat gw memutuskn untuk menuruti permintaan Beliau.. Perlahan, gw berjalan mendekati Ki Larang dan berdiri persis di sebelah kiri nya..
“Memang benar aku yang membawa pergi Prana Kusuma atas perintah Sang Paduka.. Karena dosa yang telah dilakukan kedua orang tua nya, sosok bayi tak bersalah itu harus terpisahkan dari sang Ibu.. Aku memberikannya pada seorang adipati di tanah Saunggalah (Kuningan)”
Nyi Mas Roro Suwastri yang sedari tadi terdiam, mendadak langsung melangkah satu tombak ke depan dan duduk bersimpuh dengan kedua lutut menyatu di tanah sambil mengusung dua telapak tangan di depan dada..
“Mohon ampun, Ki Larang.. Jika kau berkenan, aku mohon tunjukkan dimana putera ku Prana Kusuma sekarang berada” Pinta Nyi Mas Roro Suwastri dengan suara berat karena berusaha menahan tangis..
Untuk sesaat, Ki Larang tertegun menatap Nyi Mas Roro Suwastri.. Tak cukup sampai disitu, kedua mata Ki Larang langsung membesar manakala sosok Jagat Tirta mengikuti apa yang dilakukan Nyi Mas Roro Suwastri dan duduk bersimpuh setelah memasukkan kembali Pedang Jagat Samudera ke dalam sarung dipunggung..
“Aku mohon kepada mu Tuan Panglima, tunjukkan dimana putera kami selama ini berada.. Maafkan aku yang tadi sempat tidak sopan dengan meninggikan suara saat bertanya kepada mu” Sambung Jagat Tirta yang berbicara sambil menundukkan kepala..
Ki Larang nampak menghela nafas panjang melihat dua sosok Jin sedang berlutut memohon di hadapannya.. Kemudian, ia melangkah maju ke depan dan memegang lengan Jagat Tirta untuk membantunya bangkit berdiri..
“Bangun lah, putera Suta Dewa.. Kau juga Roro Suwastri.. Sungguh tak elok kalian menyembah ku untuk memohonkan sesuatu yang akan segera ku ungkapkan” Ucap Ki Larang sambil menatap wajah Jagat Tirta dan Nyi Mas Roro Suwastri secara bergantian.. Lalu beliau melangkah lagi ke belakang dan kembali berdiri disebelah kanan gw..
“Jangan kau ulur lagi permintaan putera ku, Wishnu Karma.. Ungkap lah apa yang seharusnya kami semua ketahui saat ini juga” Kata Nyi Mas Galuh Pandita dengan nada suara tak lagi mengintimidasi..
Awalnya, Ki Larang nampak sedikit ragu untuk mengatakan sesuatu.. Namun, melihat Nyi Mas Galuh Pandita dan hampir semua sosok yang ada disini terus menetapnya seolah sedang menunggu jawaban, Ki Larang akhirnya menghela nafas panjang.. Lalu, pandangannya nampak sayu menatap Jagat Tirta dan Nyi Mas Roro Suwastri..
“Ketahuilah, putera kalian Prana Kusuma telah wafat ratusan tahun yang lalu” Ucapan Ki Larang yang terdengar lirih, namun sontak membuat semua sosok membelalakkan mata masing-masing..
Terutama Jagat Tirta dan Nyi Mas Roro Suwastri.. Kedua nya sempat saling berpandangan masih dengan mata melotot tak percaya..
“Ka..kau.. Pasti berdusta, Tuan Panglima.. Putera ku tidak mungkin wafat tanpa mengenal ku lebih dulu” Ucap Jagat Tirta dengan suara bergetar dan terdengar tersendat..
Belum sempat Ki Larang menimpali sebuah bentuk penolakan akan kenyataan dari Jagat Tirta, tiba-tiba Nyi Mas Roro Suwastri jatuh kembali berlutut sambil menangis meratap menyebut-nyebut nama Prana Kusuma.. Sekar Kencana yang ada tidak jauh di belakang Nyi Mas Roro Suwastri langsung mendekat dan mencoba menghiburnya kembali..
“Putera ku, Sekar.. Putera ku Prana Kusuma telah tiada.. Putera yang hanya satu kali aku sempat memeluknya, telah pergi meninggalkan ku untuk selama-lamanya.. Ya Rabb! Betapa pahit kenyataan yang kau berikan pada hamba” Ratap Nyi Mas Roro Suwastri sambil meronta dari pelukan Sekar Kencana..
Ki Larang yang melihat reaksi Nyi Mas Roro Suwastri teramat menyayat hati, hanya bisa tertegun.. Sesekali ia melemparkan pandangan ke arah Nyi Mas Galuh Pandita yang juga sudah nampak berkaca-kaca..
“Maaf kan aku, Jagat Tirta.. Itu lah kenyataan pahit yang bagaimana pun harus kalian terima terkait putera kalian Prana Kusuma”
Jagat Tirta yang nampak tak bergeming menatap tajam ke arah Ki Larang, terlihat mulai bergetar tubuhnya karena amarah.. Melihat hal tersebut, Nyi Mas Galuh Pandita segera mendekat dan mencoba memeluknya..
“Ananda, garis usia, rizki dan jodoh tiap insan tidak ada satu pun mahluk yang bisa mengetahuinya.. Jangan salahkan Ki Larang.. Ia hanya menjalani tugas dari Junjungan kita Sang Prabu.. Lebih baik, kau hibur Roro Suwastri.. Karena aku pernah merasakan rasa kehilangan yang sama seperti yang ia alami saat ini" Ucap Nyi Mas Galuh Pandita sambil mengusap-usap bahu puteranya..
Jagat Tirta yang masih nampak kesulitan untuk menguasai emosi, hanya bisa menghela nafas panjang.. Lalu, ia melepaskan diri dari pelukan Nyi Mas Galuh Pandita setelah sempat menyeka genangan air bening di pelupuk mata.. Kemudian, Jagat Tirta nampak melangkah perlahan mendekati dua sosok wanita yang sama-sama ia cintai..
“Sudahlah, Roro Suwastri.. Tentang kenyataan putera kita Prana Kusuma yang telah tiada, harus kita terima hal itu dengan lapang dada.. Aku sebagai ayahandanya pun sangat kehilangan putera yang sama sekali belum aku lihat seperti apa paras wajahnya” Ucap Jagat Tirta sambil memegangi bahu Nyi Mas Roro Suwastri..
Jin Penjaga nya Singgih untuk sesaat mengangkat wajahnya yang terbenam dalam pelukan Sekar Kencana.. Lalu, memegangi tangan laki-laki itu dan melepaskannya dengan lembut.. Sekar Kencana yang tak mau mengganggu dua sosok yang ada di hadapannya, perlahan berdiri dan melayang mundur ke belakang..
“Aku bisa menunjukkan kepada kalian, kilasan masa lalu Prana Kusuma semasa hidup.. Itu pun jika kalian menghendaki nya” Kata Ki Larang menawarkan sesuatu yang langsung membuat Nyi Mas Roro Suwastri menatapnya penuh arti dengan wajah dibasahi air mata..
“Lakukanlah, Ki Larang.. Aku mohon tunjukkan kepada ku sosok buah hati yang seumur hidup sangat ku rindukan kehadirannya” Pinta Nyi Mas Roro Suwastri masih dengan meratap..
Ki Larang untuk sesaat melempar pandangan ke arah Nyi Mas Galuh Pandita yang nampak sedang menganggukkan kepala tanda setuju.. Kemudian, ia mengulurkan telapak tangan kanan ke depan dan membuka nya lebar-lebar menghadap langit.. Untuk sejenak, kedua mata Panglima Kerajaan Padjadjaran itu terpejam seraya menggerakkan bibir seperti sedang merapalkan sesuatu..
Mendadak, dari pusat telapak tangan Ki Larang muncul sinar putih terang laksana sinar proyektor film yang langsung menampilkan sosok dirinya bersama seorang wanita bertubuh tambun yang sedang menggendong seorang bayi mungil tepat didepan pintu sebuah bangunan rumah megah..
“Itu putera kita Prana Kusuma, Kakang.. Aku ingat betul kain panjang pembalut tubuh mungilnya” Seru Nyi Mas Roro Suwastri sambil menunjuk ke arah gambar sosok bayi dalam gendongan wanita tambun, dengan kedua mata masih dibasahi air mata karena sedih..
Jagat Tirta yang mendengar seruan Nyi Mas Roro Suwastri, bergegas hendak melangkah mendekati Ki Larang.. Namun langkah kaki Jagat Tirta langsung terhenti begitu Ki Larang mengangkat tangan kiri sebagai tanda ia tidak boleh meneruskan niat..
“Cukuplah kalian berada disitu dan jangan alihkan pandangan dari kisah hidup putera kalian, Prana Kusuma” Ucap Ki Larang seraya melirik ke arah potongan-potongan gambar yang nampak hidup diatas telapak tangan kanannya..
Jagat Tirta terlihat menganggukkan kepala meski nampak terpaksa.. Namun, ia menyadari bahwa tiada pilihan lain baginya selain menuruti kehendak Ki Larang.. Lalu, semua pandangan sosok yang ada ditempat itu mulai terpusat pada apa yang sedang ditampilkan oleh Panglima Kerajaan Padjadjaran..
“Seperti kataku, aku menyerahkan Prana Kusuma ke seorang adipati di Saunggalah yang memang tidak mempunyai keturunan dari rahim isteri dan ketiga selirnya.. Kalian tidak perlu tahu siapa nama adipati itu.. Yang harus kalian tahu adalah bahwa sang adipati sangat-sangat mencintai Prana Kusuma seperti putera kandung nya sendiri” Terang Ki Larang, sambil melirik ke arah potongan gambar diatas telapak tangan kanan yang kali ini menampilkan seorang anak balita bertubuh gemuk dan tampan, sedang tertawa sembari menarik-narik janggut panjang seorang laki-laki berwajah samar..
Nyi Mas Roro Suwastri yang melihat putera nya tumbuh menjadi anak yang sehat, perlahan mengulurkan tangan kanan seolah ingin menggapai gambaran sang buah hati.. Namun, Jagat Tirta langsung menangkap tangan nya sambil mengingatkan bahwa apa yang sedang mereka lihat hanya potongan gambaran kisah hidup sang putera..
“Meski Prana Kusuma tidak mewarisi ketampanan Jagat Tirta, namun ia tumbuh menjadi pemuda gagah yang mewarisi kecerdasan dan sikap lembut mu Roro Suwastri.. Hal itu pula yang menjadikannya dipuja rakyat sekaligus digandrungi banyak gadis puteri saudagar atau puteri bangsawan.. Saat sang Adipati hampir mangkat, ia menjelaskan semua tentang asal usul Prana Kusuma dan meminta putera angkat nya itu untuk menjadi adipati pengganti dirinya.. Namun, Prana Kusuma menolak dengan halus karena memutuskan untuk mencari keberadaan kalian berdua sebagai orang tua nya.. Lalu, ia pun meninggalkan Saunggalah secara diam-diam untuk menemukan dua sosok yang sangat ia rindukan..
Nyi Mas Roro Suwastri nampak menyeka kembali airmata untuk kesekian kalinya, sambil memandangi gambar yang menampilkan seorang pemuda gagah berambut panjang dengan sehelai kain hitam yang terikat di kening dan berpakaian rompi hitam serta celana panjang tertutupi kain batik coklat di batas paha, sedang berjalan seorang diri dalam hutan.. Gw yang juga melihat sosok Prana Kusuma terus bejalan tanpa lelah menerobos hutan rimba demi untuk mencari tahu keberadaan kedua orang tua, harus bersimpati akan kegigihan sosok pertama dari garis keturunan gw itu..
Akan tetapi, tiba-tiba pandangan kami semua terbelalak begitu melihat seekor Harimau Sumatera nampak sedang mengintai sosok Prana Kusuma yang sedang beristirahat, dari balik rimbunnya pohon dan semak belukar.. Dari reaksi tenang yang diperlihatkan oleh Prana Kusuma, jelas pemuda itu sama sekali tidak menyadari bahwa nyawa nya sedang terancam.. Hingga dua detik pun berselang dan sosok Harimau Sumatera melompat ke arah Prana Kusuma dengan mulut terbuka lebar memperlihatkan deretan taring, serta kuku panjang nan runcing yang siap mencabik tubuh calon mangsa..
Tak disangka, Prana Kusuma ternyata bukan pemuda sembarangan.. Ia dengan cepat mencabut pedang panjang dari sarung yang terikat dipunggung.. Sebuah pedang yang setia menemaninya dalam perjalanan untuk menguak jati diri.. Sambil melompat ke samping kiri guna menghindari terkaman hewan pemangsa, Prana Kusuma langsung menyabetkan pedang nya tepat ke arah kepala sang Harimau..
TRANGGG!!!!
Suara seperti benturan dua buah besi beradu, terdengar keras dan membuat sejumlah burung yang sedang hinggap beristurahat di atas pohon-pohon besar terkejut, lalu secepat mungkin mengepakkan sayap dan terbang menghindar.. Prana Kusuma terkesiap begitu melihat ujung pedangnya sudah berada dalam mulut Harimau dengan posisi dikunci oleh deretan taring nya yang tajam..
Menyadari bahwa lawanhya bukan harimau biasa namun hewan jadi-jadian, Prana Kusuma langsung melepaskan pedangnya dan melompat dua tombak ke belakang, lalu kembali memasang kuda-kuda.. Sementara, sosok Harimau kuning bergaris hitam terlihat menjatuhkan pedang milik Prana Kusuma dari dalam mulutnya dan mulai berjalan mendekat..
Suasana terasa begitu mencekam bagi kami semua yang sedang menyaksikan penggalan kisah hidup Prana Kusuma dibagian kritis ini.. Gw sempat melirik ke arah Nyi Mas Roro Suwastri yang terlihat sangat tegang sambil sesekali menggigit bibir.. Sementara, kedua telapak tangan Jagat Tirta yang sudah terkepal, menyiratkan rasa cemas teramat sangat terkait keselamatan putera nya..
“Apa putera ku akan selamat melawan harimau itu, Tuan Panglima?” Tanya Jagat Tirta yang tak sanggup lagi menahan mulutnya untuk bertanya..
“Lihat lah dulu apa yang akan terjadi, putera Suta Dewa” Jawab Ki Larang disusul senyumannya yang penuh arti..
Kembali ke potongan gambar yang nampak hidup diatas telapak tangan Ki Larang, sosok Prana Kusuma terlihat mengambil sebuah ranting kering cukup besar disampingnya.. Lalu..
KRAKKK!!!
Dengan sangat mudah ia mematahkan ranting kering itu menggunakan tangan kosong, menjadi dua potong kayu berpola patahan cukup runcing.
“Maju lah, siluman!.. Aku siap menjadikan kulit mu sebagai pelindung dari udara dingin malam nanti” Tantang Prana Kusuma dengan kedua mata menatap tajam, siap menancapkan dua kayu runcing di tubuh musuh..
Sosok Harimau yang masih terus berjalan perlahan, mendadak menghentikan langkah dan mengaum satu kali dengan suara menggetarkan tanah seantero hutan.. Aneh, gw sedari tadi memang sempat melihat jika sorot mata Harimau tersebut sama sekali tidak menyiratkan nafsu membunuh.. Sorot mata dari hewan jadi-jadian itu lebih cenderung ke tatapan tenang tanpa adanya niat mencelakai Prana Kusuma.. Pandangan gw sempat melirik ke arah Ki Larang yang nampak sedang senyum-senyum sendiri memandangi sosok Harimau kuning bergaris hitam.dalam gambar hidup diatas telapak tangannya..
“Masa iya, Harimau itu salah satu jelmaan Ki Larang? Ahh! Kek nya ga mungkin” Tanya dan jawab gw sendiri dalam hati sambil melempar pandangan ke arah potongan gambar kisah masa lalu Prana Kusuma..
Menduga akan kembali terjadi pertarungan antara Prana Kusuma melawan Harimau jadi-jadian, tak satu pun dari semua mata kami ada yang berkedip.. Seolah tidak ingin melewatkan adegan penyelamatan diri Prana Kusuma..
“Ayo! Majulah Siluman! Daging mu pun akan berguna untuk menghilangkan rasa lapar ku” Tantang Prana Kusuma lagi dengan suara lebih lantang dan sambil memutar satu patahan kayu runcing di atas kepala dan mengulurkan patahan kayu yang tersisa di depan..
Prana Kusuma..
Sosok pemuda tampan jelmaan Ki Larang hanya membalas ejekan Nyi Mas Galuh Pandita dengan senyuman ringan.. Lalu merentangkan kedua tangannya ke samping kiri dan kanan.. Gw yang melihat sosok Macan Kumbang dan Kakek Tua bertubuh kurus kering yang mengapit posisi Ki Larang perlahan melayang masuk dan menghilang ke dalam tubuh utamanya, hanya bisa menelan ludah setelah menyaksikan kembali salah satu kesaktian Panglima Kerajaan Padjadjaran..
Namun berbeda dengan Nyi Mas Galuh Pandita yang nampak mengulum senyuman meremehkan, setelah kedua tubuh jelmaan sempurna bersatu dengan tubuh Pemuda gagah yang dipanggilknya dengan nama Wishnu Karma..
“Kau tidak perlu memamerkan kesaktian mu, Wishnu Karma.. Kami semua tidak membutuhkannya.. Satu hal yang kami ingin tahu adalah alasan dibalik kemunculan dirimu disini?”
Sekali lagi pemuda bernama Wishnu Karma menyunggingkan senyuman ramah mendengar kalimat mengintimidasi dari Nyi Mas Galuh Pandita.. Lalu, ia nampak menghela nafas panjang sambil merapihkan pakaian khas petinggi keraton dan kembali menatap sosok Jin cantik berselendang biru setelahnya..
“Ternyata amarah mu masih saja bergelora meski ratusan tahun telah berlalu, Galuh Pandita” Ucap Ki Larang yang membuat gw mengerutkan dahi..
Dari awal kemunculannya dan sambutan Nyi Mas Galuh Pandita yang terkesan mengejek, gw menduga pasti ada suatu hal yang pernah terjadi diantara kedua sosok gaib itu.. Terlebih saat mendengar Ki Larang menyebut tentang amarah Nyi Mas Galuh Pandita barusan.. Banyak sekali pertanyaan yang mulai timbul dalam benak gw terkait dengan permasalahan yang ada antara puteri Braja Krama dan Panglima Kerajaan Padjadjaran.. Namun, gw sadar.. Bahwa diri ini hanya bisa bertanya-tanya saja dalam hati tanpa berani menunjukkan tingkat kekepoan gw yang mulai memuncak..
“Jangan kau coba ungkit luka ratusan tahun yang lalu, Wishnu Karma.. Kau jawab saja pertanyaan ku tadi.. Untuk apa kau datang kesini?” Balas Nyi Mas Galuh Pandita dengan wajah mulai memerah menahan amarah..
Gw sempat melirik Sekar Kencana dan Jagat Tirta yang nampak heran melihat reaksi sosok yang sangat mereka hormati terhadap Ki Larang.. Namun, seperti hal nya gw, kedua sosok gaib yang merupakan putera serta menantu Nyi Mas Galuh Pandita hanya bisa terdiam.. Gw yakin, semua yang hadir ditempat ini pasti terserang rasa kepo, terkecuali Ki Larang dan Nyi Mas Galuh Psndita sendiri..
Perlahan, pandangan mata Ki Larang beredar memandangi kami satu persatu.. Seolah sengaja mengulur waktu sebelum menjawab pertanyaan Nyi Mas Galuh Pandita.. Bayu Barata dan Sekar Kencana serta Nyi Mas Roro Suwastri nampak menundukkan wajah pertanda hormat.. Namun tidak dengan Jagat Tirta dan gw.. Jagat Tirta terlihat menatap Ki Larang dengan pandangan tajam.. Sementara, gw hanya menyimpulkan senyuman kecil untuk membalas lirikan mata Ki Larang yang terhenti menatap wajah ini..
“Hadirnya aku disini adalah atas perintah Sang Prabu, yakni untuk menguak kebenaran pada Nyi Mas Roro Suwastri, Sekar Kencana dan Bayu Barata.. Seperti yang sudah ku lakukan pada pemuda itu, yang dalam darahnya mengalir darah Jagat Tirta” Ucap Ki Larang dengan wajah masih terpaku menatap gw..
“Apa maksud mu tuan Panglima? Bukan kah kau yang telah membawa putera ku Prana Kusuma? Mengapa kau malah mengalihkan pembicaraan dengan membawa-bawa pemuda itu?” Tanya Jagat Tirta dengan sengaja meninggikan suara ..
Sosok pemuda tampan jelmaan Ki Larang membalas pertanyaan Jagat Tirta dengan senyuman, lalu mengulurkan tangan ke arah gw..
“Maju dan mendekatlah ke samping kiri ku, Ngger” Panggil Ki Larang masih dengan senyumannya yang sedari tadi selalu terkembang..
Gw yang sempat terkejut mendengar permintaan Jin utusan Sri Baduga Maharaja guna menjaga Anggie, untuk sesaat hanya bisa tertegun.. Namun, melihat Ki Larang sekali lagi melambaikan tangan, membuat gw memutuskn untuk menuruti permintaan Beliau.. Perlahan, gw berjalan mendekati Ki Larang dan berdiri persis di sebelah kiri nya..
“Memang benar aku yang membawa pergi Prana Kusuma atas perintah Sang Paduka.. Karena dosa yang telah dilakukan kedua orang tua nya, sosok bayi tak bersalah itu harus terpisahkan dari sang Ibu.. Aku memberikannya pada seorang adipati di tanah Saunggalah (Kuningan)”
Nyi Mas Roro Suwastri yang sedari tadi terdiam, mendadak langsung melangkah satu tombak ke depan dan duduk bersimpuh dengan kedua lutut menyatu di tanah sambil mengusung dua telapak tangan di depan dada..
“Mohon ampun, Ki Larang.. Jika kau berkenan, aku mohon tunjukkan dimana putera ku Prana Kusuma sekarang berada” Pinta Nyi Mas Roro Suwastri dengan suara berat karena berusaha menahan tangis..
Untuk sesaat, Ki Larang tertegun menatap Nyi Mas Roro Suwastri.. Tak cukup sampai disitu, kedua mata Ki Larang langsung membesar manakala sosok Jagat Tirta mengikuti apa yang dilakukan Nyi Mas Roro Suwastri dan duduk bersimpuh setelah memasukkan kembali Pedang Jagat Samudera ke dalam sarung dipunggung..
“Aku mohon kepada mu Tuan Panglima, tunjukkan dimana putera kami selama ini berada.. Maafkan aku yang tadi sempat tidak sopan dengan meninggikan suara saat bertanya kepada mu” Sambung Jagat Tirta yang berbicara sambil menundukkan kepala..
Ki Larang nampak menghela nafas panjang melihat dua sosok Jin sedang berlutut memohon di hadapannya.. Kemudian, ia melangkah maju ke depan dan memegang lengan Jagat Tirta untuk membantunya bangkit berdiri..
“Bangun lah, putera Suta Dewa.. Kau juga Roro Suwastri.. Sungguh tak elok kalian menyembah ku untuk memohonkan sesuatu yang akan segera ku ungkapkan” Ucap Ki Larang sambil menatap wajah Jagat Tirta dan Nyi Mas Roro Suwastri secara bergantian.. Lalu beliau melangkah lagi ke belakang dan kembali berdiri disebelah kanan gw..
“Jangan kau ulur lagi permintaan putera ku, Wishnu Karma.. Ungkap lah apa yang seharusnya kami semua ketahui saat ini juga” Kata Nyi Mas Galuh Pandita dengan nada suara tak lagi mengintimidasi..
Awalnya, Ki Larang nampak sedikit ragu untuk mengatakan sesuatu.. Namun, melihat Nyi Mas Galuh Pandita dan hampir semua sosok yang ada disini terus menetapnya seolah sedang menunggu jawaban, Ki Larang akhirnya menghela nafas panjang.. Lalu, pandangannya nampak sayu menatap Jagat Tirta dan Nyi Mas Roro Suwastri..
“Ketahuilah, putera kalian Prana Kusuma telah wafat ratusan tahun yang lalu” Ucapan Ki Larang yang terdengar lirih, namun sontak membuat semua sosok membelalakkan mata masing-masing..
Terutama Jagat Tirta dan Nyi Mas Roro Suwastri.. Kedua nya sempat saling berpandangan masih dengan mata melotot tak percaya..
“Ka..kau.. Pasti berdusta, Tuan Panglima.. Putera ku tidak mungkin wafat tanpa mengenal ku lebih dulu” Ucap Jagat Tirta dengan suara bergetar dan terdengar tersendat..
Belum sempat Ki Larang menimpali sebuah bentuk penolakan akan kenyataan dari Jagat Tirta, tiba-tiba Nyi Mas Roro Suwastri jatuh kembali berlutut sambil menangis meratap menyebut-nyebut nama Prana Kusuma.. Sekar Kencana yang ada tidak jauh di belakang Nyi Mas Roro Suwastri langsung mendekat dan mencoba menghiburnya kembali..
“Putera ku, Sekar.. Putera ku Prana Kusuma telah tiada.. Putera yang hanya satu kali aku sempat memeluknya, telah pergi meninggalkan ku untuk selama-lamanya.. Ya Rabb! Betapa pahit kenyataan yang kau berikan pada hamba” Ratap Nyi Mas Roro Suwastri sambil meronta dari pelukan Sekar Kencana..
Ki Larang yang melihat reaksi Nyi Mas Roro Suwastri teramat menyayat hati, hanya bisa tertegun.. Sesekali ia melemparkan pandangan ke arah Nyi Mas Galuh Pandita yang juga sudah nampak berkaca-kaca..
“Maaf kan aku, Jagat Tirta.. Itu lah kenyataan pahit yang bagaimana pun harus kalian terima terkait putera kalian Prana Kusuma”
Jagat Tirta yang nampak tak bergeming menatap tajam ke arah Ki Larang, terlihat mulai bergetar tubuhnya karena amarah.. Melihat hal tersebut, Nyi Mas Galuh Pandita segera mendekat dan mencoba memeluknya..
“Ananda, garis usia, rizki dan jodoh tiap insan tidak ada satu pun mahluk yang bisa mengetahuinya.. Jangan salahkan Ki Larang.. Ia hanya menjalani tugas dari Junjungan kita Sang Prabu.. Lebih baik, kau hibur Roro Suwastri.. Karena aku pernah merasakan rasa kehilangan yang sama seperti yang ia alami saat ini" Ucap Nyi Mas Galuh Pandita sambil mengusap-usap bahu puteranya..
Jagat Tirta yang masih nampak kesulitan untuk menguasai emosi, hanya bisa menghela nafas panjang.. Lalu, ia melepaskan diri dari pelukan Nyi Mas Galuh Pandita setelah sempat menyeka genangan air bening di pelupuk mata.. Kemudian, Jagat Tirta nampak melangkah perlahan mendekati dua sosok wanita yang sama-sama ia cintai..
“Sudahlah, Roro Suwastri.. Tentang kenyataan putera kita Prana Kusuma yang telah tiada, harus kita terima hal itu dengan lapang dada.. Aku sebagai ayahandanya pun sangat kehilangan putera yang sama sekali belum aku lihat seperti apa paras wajahnya” Ucap Jagat Tirta sambil memegangi bahu Nyi Mas Roro Suwastri..
Jin Penjaga nya Singgih untuk sesaat mengangkat wajahnya yang terbenam dalam pelukan Sekar Kencana.. Lalu, memegangi tangan laki-laki itu dan melepaskannya dengan lembut.. Sekar Kencana yang tak mau mengganggu dua sosok yang ada di hadapannya, perlahan berdiri dan melayang mundur ke belakang..
“Aku bisa menunjukkan kepada kalian, kilasan masa lalu Prana Kusuma semasa hidup.. Itu pun jika kalian menghendaki nya” Kata Ki Larang menawarkan sesuatu yang langsung membuat Nyi Mas Roro Suwastri menatapnya penuh arti dengan wajah dibasahi air mata..
“Lakukanlah, Ki Larang.. Aku mohon tunjukkan kepada ku sosok buah hati yang seumur hidup sangat ku rindukan kehadirannya” Pinta Nyi Mas Roro Suwastri masih dengan meratap..
Ki Larang untuk sesaat melempar pandangan ke arah Nyi Mas Galuh Pandita yang nampak sedang menganggukkan kepala tanda setuju.. Kemudian, ia mengulurkan telapak tangan kanan ke depan dan membuka nya lebar-lebar menghadap langit.. Untuk sejenak, kedua mata Panglima Kerajaan Padjadjaran itu terpejam seraya menggerakkan bibir seperti sedang merapalkan sesuatu..
Mendadak, dari pusat telapak tangan Ki Larang muncul sinar putih terang laksana sinar proyektor film yang langsung menampilkan sosok dirinya bersama seorang wanita bertubuh tambun yang sedang menggendong seorang bayi mungil tepat didepan pintu sebuah bangunan rumah megah..
“Itu putera kita Prana Kusuma, Kakang.. Aku ingat betul kain panjang pembalut tubuh mungilnya” Seru Nyi Mas Roro Suwastri sambil menunjuk ke arah gambar sosok bayi dalam gendongan wanita tambun, dengan kedua mata masih dibasahi air mata karena sedih..
Jagat Tirta yang mendengar seruan Nyi Mas Roro Suwastri, bergegas hendak melangkah mendekati Ki Larang.. Namun langkah kaki Jagat Tirta langsung terhenti begitu Ki Larang mengangkat tangan kiri sebagai tanda ia tidak boleh meneruskan niat..
“Cukuplah kalian berada disitu dan jangan alihkan pandangan dari kisah hidup putera kalian, Prana Kusuma” Ucap Ki Larang seraya melirik ke arah potongan-potongan gambar yang nampak hidup diatas telapak tangan kanannya..
Jagat Tirta terlihat menganggukkan kepala meski nampak terpaksa.. Namun, ia menyadari bahwa tiada pilihan lain baginya selain menuruti kehendak Ki Larang.. Lalu, semua pandangan sosok yang ada ditempat itu mulai terpusat pada apa yang sedang ditampilkan oleh Panglima Kerajaan Padjadjaran..
“Seperti kataku, aku menyerahkan Prana Kusuma ke seorang adipati di Saunggalah yang memang tidak mempunyai keturunan dari rahim isteri dan ketiga selirnya.. Kalian tidak perlu tahu siapa nama adipati itu.. Yang harus kalian tahu adalah bahwa sang adipati sangat-sangat mencintai Prana Kusuma seperti putera kandung nya sendiri” Terang Ki Larang, sambil melirik ke arah potongan gambar diatas telapak tangan kanan yang kali ini menampilkan seorang anak balita bertubuh gemuk dan tampan, sedang tertawa sembari menarik-narik janggut panjang seorang laki-laki berwajah samar..
Nyi Mas Roro Suwastri yang melihat putera nya tumbuh menjadi anak yang sehat, perlahan mengulurkan tangan kanan seolah ingin menggapai gambaran sang buah hati.. Namun, Jagat Tirta langsung menangkap tangan nya sambil mengingatkan bahwa apa yang sedang mereka lihat hanya potongan gambaran kisah hidup sang putera..
“Meski Prana Kusuma tidak mewarisi ketampanan Jagat Tirta, namun ia tumbuh menjadi pemuda gagah yang mewarisi kecerdasan dan sikap lembut mu Roro Suwastri.. Hal itu pula yang menjadikannya dipuja rakyat sekaligus digandrungi banyak gadis puteri saudagar atau puteri bangsawan.. Saat sang Adipati hampir mangkat, ia menjelaskan semua tentang asal usul Prana Kusuma dan meminta putera angkat nya itu untuk menjadi adipati pengganti dirinya.. Namun, Prana Kusuma menolak dengan halus karena memutuskan untuk mencari keberadaan kalian berdua sebagai orang tua nya.. Lalu, ia pun meninggalkan Saunggalah secara diam-diam untuk menemukan dua sosok yang sangat ia rindukan..
Nyi Mas Roro Suwastri nampak menyeka kembali airmata untuk kesekian kalinya, sambil memandangi gambar yang menampilkan seorang pemuda gagah berambut panjang dengan sehelai kain hitam yang terikat di kening dan berpakaian rompi hitam serta celana panjang tertutupi kain batik coklat di batas paha, sedang berjalan seorang diri dalam hutan.. Gw yang juga melihat sosok Prana Kusuma terus bejalan tanpa lelah menerobos hutan rimba demi untuk mencari tahu keberadaan kedua orang tua, harus bersimpati akan kegigihan sosok pertama dari garis keturunan gw itu..
Akan tetapi, tiba-tiba pandangan kami semua terbelalak begitu melihat seekor Harimau Sumatera nampak sedang mengintai sosok Prana Kusuma yang sedang beristirahat, dari balik rimbunnya pohon dan semak belukar.. Dari reaksi tenang yang diperlihatkan oleh Prana Kusuma, jelas pemuda itu sama sekali tidak menyadari bahwa nyawa nya sedang terancam.. Hingga dua detik pun berselang dan sosok Harimau Sumatera melompat ke arah Prana Kusuma dengan mulut terbuka lebar memperlihatkan deretan taring, serta kuku panjang nan runcing yang siap mencabik tubuh calon mangsa..
Tak disangka, Prana Kusuma ternyata bukan pemuda sembarangan.. Ia dengan cepat mencabut pedang panjang dari sarung yang terikat dipunggung.. Sebuah pedang yang setia menemaninya dalam perjalanan untuk menguak jati diri.. Sambil melompat ke samping kiri guna menghindari terkaman hewan pemangsa, Prana Kusuma langsung menyabetkan pedang nya tepat ke arah kepala sang Harimau..
TRANGGG!!!!
Suara seperti benturan dua buah besi beradu, terdengar keras dan membuat sejumlah burung yang sedang hinggap beristurahat di atas pohon-pohon besar terkejut, lalu secepat mungkin mengepakkan sayap dan terbang menghindar.. Prana Kusuma terkesiap begitu melihat ujung pedangnya sudah berada dalam mulut Harimau dengan posisi dikunci oleh deretan taring nya yang tajam..
Menyadari bahwa lawanhya bukan harimau biasa namun hewan jadi-jadian, Prana Kusuma langsung melepaskan pedangnya dan melompat dua tombak ke belakang, lalu kembali memasang kuda-kuda.. Sementara, sosok Harimau kuning bergaris hitam terlihat menjatuhkan pedang milik Prana Kusuma dari dalam mulutnya dan mulai berjalan mendekat..
Suasana terasa begitu mencekam bagi kami semua yang sedang menyaksikan penggalan kisah hidup Prana Kusuma dibagian kritis ini.. Gw sempat melirik ke arah Nyi Mas Roro Suwastri yang terlihat sangat tegang sambil sesekali menggigit bibir.. Sementara, kedua telapak tangan Jagat Tirta yang sudah terkepal, menyiratkan rasa cemas teramat sangat terkait keselamatan putera nya..
“Apa putera ku akan selamat melawan harimau itu, Tuan Panglima?” Tanya Jagat Tirta yang tak sanggup lagi menahan mulutnya untuk bertanya..
“Lihat lah dulu apa yang akan terjadi, putera Suta Dewa” Jawab Ki Larang disusul senyumannya yang penuh arti..
Kembali ke potongan gambar yang nampak hidup diatas telapak tangan Ki Larang, sosok Prana Kusuma terlihat mengambil sebuah ranting kering cukup besar disampingnya.. Lalu..
KRAKKK!!!
Dengan sangat mudah ia mematahkan ranting kering itu menggunakan tangan kosong, menjadi dua potong kayu berpola patahan cukup runcing.
“Maju lah, siluman!.. Aku siap menjadikan kulit mu sebagai pelindung dari udara dingin malam nanti” Tantang Prana Kusuma dengan kedua mata menatap tajam, siap menancapkan dua kayu runcing di tubuh musuh..
Sosok Harimau yang masih terus berjalan perlahan, mendadak menghentikan langkah dan mengaum satu kali dengan suara menggetarkan tanah seantero hutan.. Aneh, gw sedari tadi memang sempat melihat jika sorot mata Harimau tersebut sama sekali tidak menyiratkan nafsu membunuh.. Sorot mata dari hewan jadi-jadian itu lebih cenderung ke tatapan tenang tanpa adanya niat mencelakai Prana Kusuma.. Pandangan gw sempat melirik ke arah Ki Larang yang nampak sedang senyum-senyum sendiri memandangi sosok Harimau kuning bergaris hitam.dalam gambar hidup diatas telapak tangannya..
“Masa iya, Harimau itu salah satu jelmaan Ki Larang? Ahh! Kek nya ga mungkin” Tanya dan jawab gw sendiri dalam hati sambil melempar pandangan ke arah potongan gambar kisah masa lalu Prana Kusuma..
Menduga akan kembali terjadi pertarungan antara Prana Kusuma melawan Harimau jadi-jadian, tak satu pun dari semua mata kami ada yang berkedip.. Seolah tidak ingin melewatkan adegan penyelamatan diri Prana Kusuma..
“Ayo! Majulah Siluman! Daging mu pun akan berguna untuk menghilangkan rasa lapar ku” Tantang Prana Kusuma lagi dengan suara lebih lantang dan sambil memutar satu patahan kayu runcing di atas kepala dan mengulurkan patahan kayu yang tersisa di depan..
leobersamage107 dan 13 lainnya memberi reputasi
14