- Beranda
- Stories from the Heart
Dia Untukku
...
TS
nasihiber
Dia Untukku


Hidup itu keras. Hidup itu penuh dengan ketenangan. Hidup itu penuh dengan kegelisahan. Hidup itu penuh dengan tawa. Hidup itu penuh dengan air mata. Hidup adalah sebuah jalan yang kita tempuh. Dan kita harus siap menghadapi semua itu dengan lapang dada. Perjalanan hidup tidak hanya sekedar bangun tidur, melaksanakan kegiatan, dan tidur kembali. Setiap harinya, pasti ada sesuatu yang bisa kita ambil sebagai pelajaran. Terkadang kita dihadapkan dalam sebuah keadaan dimana kita harus memilih salah satu dari beberapa pilihan. Namun disitulah kita akan belajar menjadi dewasa.
Kita tak akan pernah benar-benar tahu apakah keputusan yang kita ambil berada pada posisi benar atau salah, sampai kita benar-benar telah memutuskan. Yang perlu kita yakini, saat kita memutuskan sesuatu, terlepas keputusan itu benar atau salah, berarti kita telah sukses melewati satu tahap kehidupan.
Aku bukanlah lelaki yang berasal dari keluarga berada. Aku juga tidak berasal dari keluarga yang mengenal agama. Bahkan ilmu agamakupun mungkin tergolong kategori rendah. Disini aku hanya ingin bercerita. Bukan berarti aku orang pintar, bukan. Melainkan aku orang yang penuh dengan kegelisahan. Aku bukanlah manusia yang hebat, yang dikagumi oleh banyak orang. Aku hanyalah seorang lelaki yang terlalu menikmati dosa-dosa. Aku hanya lelaki yang sedang berusaha untuk berubah ke arah yang lebih baik lagi. Jadikan kisah ini sebagai pengisi waktu kekosongan saja. Aku tidak memaksakan kalian untuk membaca kisah ini. Namun yang pasti, buang negatifnya, ambil positifnya.
Spoiler for F.A.Q:
Index
SEASON 1
BAB 1
BAB 2
BAB 3
BAB 4
BAB 5
BAB 6
BAB 7
BAB 8
BAB 9
BAB 10
BAB 11
BAB 12
BAB 13
BAB 14
BAB 15
BAB 16
BAB 17
BAB 18
BAB 19
BAB 20
BAB 21
BAB 22
BAB 23
BAB 24
BAB 25
BAB 26
BAB 27
BAB 28
BAB 29
BAB 30
BAB 31
BAB 32
BAB 33
BAB 34
BAB 35
BAB 36
BAB 37
BAB 38
BAB 39
BAB 40
BAB 41
BAB 42
BAB 43
BAB 44
BAB 45
BAB 46
BAB 47
SEASON 2
Part 2.1 - Kehidupan
Part 2.2 - Camping
(Behind the Scene)Isi Hatiku - Istrimu
Part 2.3 - Fernita Widyaningsih
Part 2.4 - Teman Lama
Part 2.5 - Fernita Dilamar?
Part 2.6 - Dapat Restu
Part 2.7 - Keputusan
Part 2.8 - Menjelang Pernikahan
Part 2.9 - Masa Lalu
Part 2.10 - Hati yang Hilang
Part 2.11 - Persiapan
Part 2.12 - Hijrah
Part 2.13 - Cahaya Cinta
Part 2.14 - Mblenjani Janji
Part 2.15 - Serendipity
Part 2.16 - Pertemuan
Part 2.17 - Kesempatan Kedua
Part 2.18 - Harapan dan Cinta
Part 2.19 - Cahaya Cinta 2
Part 2.20 - Liburan
Part 2.21 - Mekarnya sang Melati
Part 2.22 - Cinta dan Sahabat
Part 2.23 - Mella Agustina
Part 2.24 - Penenang Hati
Part 2.25 - Ikatan Suci
Ending 1 - Cinta Suci
Ending 2 - Dia Untukku
Dibalik Hati
NB: Terima kasih buat yang sudah memberi komentar.
Yang berkomentar, page terakhir dan 2-3 page kebelakang mungkin akan ada pemberitahuan update melalui "Quote"
Yang berkomentar, page terakhir dan 2-3 page kebelakang mungkin akan ada pemberitahuan update melalui "Quote"

Polling
0 suara
Siapakah yang menikah dengan Fatir?
Diubah oleh dipretelin 27-06-2018 10:21
junti27 dan 5 lainnya memberi reputasi
6
248K
1.4K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
nasihiber
#1174
Part 2.25 - Ikatan Suci
"Kalian disini juga?" tanya Nada
"Iya kak" jawab Fernita
Aku hanya terdiam saat itu. Aku tak ingin mengeluarkan sepatah katapun dari mulutku. Meski hati ini memaksa menyuruhku untuk menyapa mereka, tetapi aku menahannya.. Kalaupun mereka bertanya, aku jawab seadanya saja.
"Boleh gabung?" tanya Nada
Fernita melihatku seperti meminta persetujuan. Jika aku menolak, aku tak ingin Nada berfikir aku sombong. Jadi aku anggukkan saja kepalaku menyetujui permintaan mereka. Sudah aku duga bahwa Tirta tak akan mengucap apapun padaku, walau hanya sekedar menyapa. Bahkan ia membuang muka. Nada dengan Fernita asik mengobrol sambil menikmati makanan yang sudah kami pesan. Aku terjebak dalam situasi seperti ini. Aku memutuskan untuk ke kamar mandi, menghindari sejenak situasi tak mengenakkan ini. Namun, tak lama setelah aku pamit, Tirta datang juga.
Aku hanya tetap fokus pada makananku. Lalu Nada memesan lagi makanan untuk kami. Ingin aku menolaknya, tapi aku tak enak. Tak enak karena aku ga mau dianggap menghindar. Meski secara tak langsung aku menghindar, jika aku tak bisa memiliki Nada, aku ingin berteman dengan dia. Dan aku juga ga mau persahabatanku dengan Tirta hancur karena sesuatu yang ga perlu. Apalagi bertengkar karena wanita, sangat tidak diperlukan sama sekali.
"Fatir" panggil Nada
"Eh iya Nad, kenapa?"
"Kamu kenapa ngelamun aja?" tanyanya
"Eh, engga ko, kalian darimana?"
"Abis dari toko baju, kalian?" tanyanya balik
"Kita cuma buka puasa disini kak" jawab Fernita
"Ooh gitu, gimana skripsinya?"
"Alhamdulillah lancar ka, aku mau daftar sidang bulan depan. Doain yah"
"Aamiin, pasti kita doain"
Aku dan Tirta tak saling mengobrol. Tirta sepertinya memang masih kesal denganku. Aku berusaha untuk tetap tenang, tak menunjukkan pada Nada kalau aku dan Tirta sedang ada konflik kecil. Tak lama kemudian, Nada mendapat telefon,
"Tir, kayanya kita ga jadi makan"
"Kenapa?" tanya Tirta
"Ayah nyuruh pulang, katanya ada yang mau dibicarakan" kata Nada
"Oh, yaudah, buat mereka aja" kata Tirta cuek
"Fatir, Ferni, kayanya kita duluan deh, nanti makanannya kalian bawa pulang aja, aku bayar di kasir"
"Eh jangan lah, kita bayar sendiri aja" ucapku
"Udah gapapa, aku duluan yah, ayah udah nunggu" kata Nada
"Iya, makasih, hati-hati"
Sambil berjalan menjauh, disana Nada membalikkan badannya dan melambaikan tangannya padaku. Kenapa hatiku teriris ketika melihatnya. Biasanya senyum Nada membawa kebahagiaan untukku, tapi sekarang semakin aku melihatnya, semakin tak rela aku melepasnya
"Kakak yang kuat" kata Ferni
"Gapapa kok dek, udah selesai?"
"Udah kak, nunggu pesanan punya kak Nada aja"
Setelah pesanan Nada datang, kami langsung pulang, namun mampir dulu ke masjid terdekat untuk shalat magrib. Sekitar jam 7, kami tiba dirumah. Aku lihat ada seorang gadis menunggu teras rumah. Ia sedang duduk sambil membaca sesuatu. Saat aku mendengar lebih jelas, ternyata ia sedang mengaji.
"Assalamualaikum" ucapku dan Fernita
"Waalaikumsalam" jawab Fitria
"Tumben kesini, ada apa?" ucap Ferni sambil menghampirinya
"Iya, aku baru pulang, kemarin aku ke Jakarta untuk ikut beasiswa"
"Oh ya? Beasiswa apa?"
"Ada deh, nanti aku ceritain"
"Masuk yu" ajakku pada Fitria
Kamipun masuk kedalam. Aku langsung membuatkan minum untuk Fitria. Tak lama kemudian Ibrahim datang.
"Assalamualaikum" ucap Ibrahim
"Waalaikumsalam" jawab kami semua
"Eh udah pulang, gimana kerjanya?" Fernita salim pada Ibrahim
Sesaat setelah itu, aku duduk di ruang tamu sambil menikmati secangkir kopi. Sekitar 15 menit kemudian Ibrahim datang dan bergabung bersamaku
"Mikirin apa ka?"
"Ah? Engga hehe"
"Bilang aja lagi, siapa tau bisa bantu"
"Ferni ga cerita emang?"
"Soal kak Nada ya?" tanyanya
"Iya"
"Lalu rencananya gimana?"
"Yaah, tetep jalani hari seperti biasa. Mungkin tanpa perasaan itu lagi ke Nada"
"Maaf ka, sebelumnya, bukan mau menggurui. Kalau memang kaka sayang sama dia, ga ada salahnya mencoba kan? Dulu awalnya aku juga takut ditolak saat lamar Fernita, karena aku tahu Fernita cuma punya kakak, dan pasti kakak bakal selektif untuk memilih calon suami untuk Ferni kan? Dan disitu, aku berdoa, dan mencoba untuk datang langsung. Allah mempermudah"
"Iya sih"
"Lebih baik gagal setelah mencoba kak, daripada gagal mencoba, dalam arti ga dicoba tapi udah mundur duluan"
"Iya saya ngerti, tapi . . "
"Kalau kalian berjodoh, pasti Allah akan permudah kak" ucap Ibrahim
"Iya . . "
Aku tak merasa digurui, atau ilmuku lebih rendah, tapi tugas manusia saling mengingatkan. Jika memiliki ilmu yang tinggi malah akan membuatku merendahkan orang, lebih baik aku diam. Aku tak ingin dikuasai kesombongan yang membuatku terjerumus pada hal yang tidak baik juga.
"Ga salah"
"Ga salah apa kak?"
"Ga salah, saya memilih kamu jadi suami Ferni"
"Hehe alhamdulillah"
Aku dan Ibrahim kembali masuk kedalam dan bergabung bersama Ferni dan Fitria. Selama kami berkumpul, aku tak banyak mengobrol dengan Fitria ataupun Ferni. Aku hanya menonton TV bersama Ibrahim, meski pembicaraan Ferni bisa kudengar. Tak lama kemudian Fitria berpamitan untuk pulang.
"Loh mau pulang?"
"Iya kak, udah malem hehe"
"Yaudah, biar aku antar aja ya"
"Eh, jangan kak, aku pakai umum aja" kata Fitria
"Jam segini mana ada angkot hehe, lagian motor juga masih diluar"
"Udah sama kak Fatir aja, kan cuma nganter" kata Fernita
"Emm . . yaudah, kalau ga ngerepotin"
"Udah nyantai aja, ga repot"
Aku mengenakan jaket hitamku dan syal yang aku ikat di leher, kemudian aku memberikan helm ke Fitria. Akupun mengantarkannya pulang. Selama perjalanan, aku tak banyak mengobrol dengan Fitria. Kulihat waktu menunjukkan jam 8 malam.
"Kak"
"Iya?"
"Kakak udah makan?"
"Udah tadi pas buka puasa" jawabku
"Oh, nanti mampir dulu ya kak" kata Fitria
"Eh, emang ada apa?"
"Ada yang mau ketemu kakak" kata Fitria
"Emm, malu hehe"
"Eeh jangan malu-malu, kakak itu udah kaya keluarga kita" katanya
"Ia deh, tapi sebentar aja ya"
"Iya kaak"
Tibalah kami di rumah Fitria. Yap, rumah. Keluarganya sudah pindah kesini. Akupun menyetandarkan motorku. Kulihat didepan rumahnya ada ayah dan ibunya yang sedang duduk di teras dengan secangkir kopi di mejanya. Fitriapun salim pada mereka.
"Assalamualaikum" ucapku sambil salim pada mereka
"Waalaikumus salam, gimana kabarnya nak Fatir" tanya ayah Fitria
"Alhamdulillah pak, gimana sekeluarga?" tanyaku
"Alhamdulillah, sehat semua. Duduk, duduk" ucap beliau
Disana, ternyata orang tuanyalah yang ingin bertemu denganku. Mereka hanya berkata, bahwa mereka rindu dengan aku dan Fernita. Sudah lama ga mampir. Semenjak SMA dulu, Fernita sudah dekat dengan Fitria seperti layaknya adik kakak. Jadi wajar kalau keluarganya dengan keluargaku cukup dekat.
Beberapa hari kemudian, aku sudah bersiap dengan pakaianku yang sederhana. Aku berjalan memantapkan hati dengan segala persiapan mental dalam diriku.
"Apa tujuan kamu datang kesini?" tanya ayah Nada
"Saya mau melamar Nada menjadi istri saya om"
"Kamu benar-benar serius dengan anak saya?" tanyanya
"Iya om saya serius"
"Bagaimana saya bisa percaya kamu?"
"Jika saya sampai mengecewakan Nada, om silahkan lakukan apapun terhadap saya. Saya akan menyayangi dia dengan sepenuh hati saya, mencintainya, semua kekurangannya, membimbingnya, menjaganya"
"Kamu kerja apa?"
"Saya ga kerja om, saya bisnis sendiri dirumah" ucapku
"Oh, bisnis apa?"
"Bisnis di bidang kuliner om, kebetulan saya yang menciptakannya"
"Ya ya ya, tapi ingat, uang juga bukan segalanya. Sekali saja kamu mengecewakan anak saya, saya akan bisa lebih menyakiti kamu"
"Baik om, saya serius sayang sama Nada, ga mungkin saya akan menyakitinya" ucapku dengan tenang tanpa takut ancaman apapun
"Saya panggil Nada dulu sebentar" ucap beliau
Tak lama kemudian Nada muncul dari balik pembatas ruangan ini. Ia duduk disamping ayahnya, didampingi oleh ibunya juga.
"Nih, temanmu, katanya mau lamar kamu"
"Kamu serius?" tanya Nada padaku
"Iya Nad, serius" ucapku tegas
"Tapi . . . "
"Kamu mau atau tidak?" tanya ayahnya pada Nada
"Em . . i . . iya ayah" jawab Nada sedikit terbata-bata
"Baik, karena anak saya sudah setuju, saya tunggu kehadi5ran kamu dengan keluargamu"
Aku tersenyum sambil melihat Nada. Nada sedikit tersenyum namun ia tertunduk, dan Nada kali ini terlihat berbeda. Nada berhijab. Ia benar-benar sudah berubah. Dan aku, bersyukur untuk semua ini.
"Iya kak" jawab Fernita
Aku hanya terdiam saat itu. Aku tak ingin mengeluarkan sepatah katapun dari mulutku. Meski hati ini memaksa menyuruhku untuk menyapa mereka, tetapi aku menahannya.. Kalaupun mereka bertanya, aku jawab seadanya saja.
"Boleh gabung?" tanya Nada
Fernita melihatku seperti meminta persetujuan. Jika aku menolak, aku tak ingin Nada berfikir aku sombong. Jadi aku anggukkan saja kepalaku menyetujui permintaan mereka. Sudah aku duga bahwa Tirta tak akan mengucap apapun padaku, walau hanya sekedar menyapa. Bahkan ia membuang muka. Nada dengan Fernita asik mengobrol sambil menikmati makanan yang sudah kami pesan. Aku terjebak dalam situasi seperti ini. Aku memutuskan untuk ke kamar mandi, menghindari sejenak situasi tak mengenakkan ini. Namun, tak lama setelah aku pamit, Tirta datang juga.
Aku hanya tetap fokus pada makananku. Lalu Nada memesan lagi makanan untuk kami. Ingin aku menolaknya, tapi aku tak enak. Tak enak karena aku ga mau dianggap menghindar. Meski secara tak langsung aku menghindar, jika aku tak bisa memiliki Nada, aku ingin berteman dengan dia. Dan aku juga ga mau persahabatanku dengan Tirta hancur karena sesuatu yang ga perlu. Apalagi bertengkar karena wanita, sangat tidak diperlukan sama sekali.
"Fatir" panggil Nada
"Eh iya Nad, kenapa?"
"Kamu kenapa ngelamun aja?" tanyanya
"Eh, engga ko, kalian darimana?"
"Abis dari toko baju, kalian?" tanyanya balik
"Kita cuma buka puasa disini kak" jawab Fernita
"Ooh gitu, gimana skripsinya?"
"Alhamdulillah lancar ka, aku mau daftar sidang bulan depan. Doain yah"
"Aamiin, pasti kita doain"
Aku dan Tirta tak saling mengobrol. Tirta sepertinya memang masih kesal denganku. Aku berusaha untuk tetap tenang, tak menunjukkan pada Nada kalau aku dan Tirta sedang ada konflik kecil. Tak lama kemudian, Nada mendapat telefon,
"Tir, kayanya kita ga jadi makan"
"Kenapa?" tanya Tirta
"Ayah nyuruh pulang, katanya ada yang mau dibicarakan" kata Nada
"Oh, yaudah, buat mereka aja" kata Tirta cuek
"Fatir, Ferni, kayanya kita duluan deh, nanti makanannya kalian bawa pulang aja, aku bayar di kasir"
"Eh jangan lah, kita bayar sendiri aja" ucapku
"Udah gapapa, aku duluan yah, ayah udah nunggu" kata Nada
"Iya, makasih, hati-hati"
Sambil berjalan menjauh, disana Nada membalikkan badannya dan melambaikan tangannya padaku. Kenapa hatiku teriris ketika melihatnya. Biasanya senyum Nada membawa kebahagiaan untukku, tapi sekarang semakin aku melihatnya, semakin tak rela aku melepasnya
"Kakak yang kuat" kata Ferni
"Gapapa kok dek, udah selesai?"
"Udah kak, nunggu pesanan punya kak Nada aja"
Setelah pesanan Nada datang, kami langsung pulang, namun mampir dulu ke masjid terdekat untuk shalat magrib. Sekitar jam 7, kami tiba dirumah. Aku lihat ada seorang gadis menunggu teras rumah. Ia sedang duduk sambil membaca sesuatu. Saat aku mendengar lebih jelas, ternyata ia sedang mengaji.
"Assalamualaikum" ucapku dan Fernita
"Waalaikumsalam" jawab Fitria
"Tumben kesini, ada apa?" ucap Ferni sambil menghampirinya
"Iya, aku baru pulang, kemarin aku ke Jakarta untuk ikut beasiswa"
"Oh ya? Beasiswa apa?"
"Ada deh, nanti aku ceritain"
"Masuk yu" ajakku pada Fitria
Kamipun masuk kedalam. Aku langsung membuatkan minum untuk Fitria. Tak lama kemudian Ibrahim datang.
"Assalamualaikum" ucap Ibrahim
"Waalaikumsalam" jawab kami semua
"Eh udah pulang, gimana kerjanya?" Fernita salim pada Ibrahim
Sesaat setelah itu, aku duduk di ruang tamu sambil menikmati secangkir kopi. Sekitar 15 menit kemudian Ibrahim datang dan bergabung bersamaku
"Mikirin apa ka?"
"Ah? Engga hehe"
"Bilang aja lagi, siapa tau bisa bantu"
"Ferni ga cerita emang?"
"Soal kak Nada ya?" tanyanya
"Iya"
"Lalu rencananya gimana?"
"Yaah, tetep jalani hari seperti biasa. Mungkin tanpa perasaan itu lagi ke Nada"
"Maaf ka, sebelumnya, bukan mau menggurui. Kalau memang kaka sayang sama dia, ga ada salahnya mencoba kan? Dulu awalnya aku juga takut ditolak saat lamar Fernita, karena aku tahu Fernita cuma punya kakak, dan pasti kakak bakal selektif untuk memilih calon suami untuk Ferni kan? Dan disitu, aku berdoa, dan mencoba untuk datang langsung. Allah mempermudah"
"Iya sih"
"Lebih baik gagal setelah mencoba kak, daripada gagal mencoba, dalam arti ga dicoba tapi udah mundur duluan"
"Iya saya ngerti, tapi . . "
"Kalau kalian berjodoh, pasti Allah akan permudah kak" ucap Ibrahim
"Iya . . "
Aku tak merasa digurui, atau ilmuku lebih rendah, tapi tugas manusia saling mengingatkan. Jika memiliki ilmu yang tinggi malah akan membuatku merendahkan orang, lebih baik aku diam. Aku tak ingin dikuasai kesombongan yang membuatku terjerumus pada hal yang tidak baik juga.
"Ga salah"
"Ga salah apa kak?"
"Ga salah, saya memilih kamu jadi suami Ferni"
"Hehe alhamdulillah"
Aku dan Ibrahim kembali masuk kedalam dan bergabung bersama Ferni dan Fitria. Selama kami berkumpul, aku tak banyak mengobrol dengan Fitria ataupun Ferni. Aku hanya menonton TV bersama Ibrahim, meski pembicaraan Ferni bisa kudengar. Tak lama kemudian Fitria berpamitan untuk pulang.
"Loh mau pulang?"
"Iya kak, udah malem hehe"
"Yaudah, biar aku antar aja ya"
"Eh, jangan kak, aku pakai umum aja" kata Fitria
"Jam segini mana ada angkot hehe, lagian motor juga masih diluar"
"Udah sama kak Fatir aja, kan cuma nganter" kata Fernita
"Emm . . yaudah, kalau ga ngerepotin"
"Udah nyantai aja, ga repot"
Aku mengenakan jaket hitamku dan syal yang aku ikat di leher, kemudian aku memberikan helm ke Fitria. Akupun mengantarkannya pulang. Selama perjalanan, aku tak banyak mengobrol dengan Fitria. Kulihat waktu menunjukkan jam 8 malam.
"Kak"
"Iya?"
"Kakak udah makan?"
"Udah tadi pas buka puasa" jawabku
"Oh, nanti mampir dulu ya kak" kata Fitria
"Eh, emang ada apa?"
"Ada yang mau ketemu kakak" kata Fitria
"Emm, malu hehe"
"Eeh jangan malu-malu, kakak itu udah kaya keluarga kita" katanya
"Ia deh, tapi sebentar aja ya"
"Iya kaak"
Tibalah kami di rumah Fitria. Yap, rumah. Keluarganya sudah pindah kesini. Akupun menyetandarkan motorku. Kulihat didepan rumahnya ada ayah dan ibunya yang sedang duduk di teras dengan secangkir kopi di mejanya. Fitriapun salim pada mereka.
"Assalamualaikum" ucapku sambil salim pada mereka
"Waalaikumus salam, gimana kabarnya nak Fatir" tanya ayah Fitria
"Alhamdulillah pak, gimana sekeluarga?" tanyaku
"Alhamdulillah, sehat semua. Duduk, duduk" ucap beliau
Disana, ternyata orang tuanyalah yang ingin bertemu denganku. Mereka hanya berkata, bahwa mereka rindu dengan aku dan Fernita. Sudah lama ga mampir. Semenjak SMA dulu, Fernita sudah dekat dengan Fitria seperti layaknya adik kakak. Jadi wajar kalau keluarganya dengan keluargaku cukup dekat.
Beberapa hari kemudian, aku sudah bersiap dengan pakaianku yang sederhana. Aku berjalan memantapkan hati dengan segala persiapan mental dalam diriku.
oooo
"Apa tujuan kamu datang kesini?" tanya ayah Nada
"Saya mau melamar Nada menjadi istri saya om"
"Kamu benar-benar serius dengan anak saya?" tanyanya
"Iya om saya serius"
"Bagaimana saya bisa percaya kamu?"
"Jika saya sampai mengecewakan Nada, om silahkan lakukan apapun terhadap saya. Saya akan menyayangi dia dengan sepenuh hati saya, mencintainya, semua kekurangannya, membimbingnya, menjaganya"
"Kamu kerja apa?"
"Saya ga kerja om, saya bisnis sendiri dirumah" ucapku
"Oh, bisnis apa?"
"Bisnis di bidang kuliner om, kebetulan saya yang menciptakannya"
"Ya ya ya, tapi ingat, uang juga bukan segalanya. Sekali saja kamu mengecewakan anak saya, saya akan bisa lebih menyakiti kamu"
"Baik om, saya serius sayang sama Nada, ga mungkin saya akan menyakitinya" ucapku dengan tenang tanpa takut ancaman apapun
"Saya panggil Nada dulu sebentar" ucap beliau
Tak lama kemudian Nada muncul dari balik pembatas ruangan ini. Ia duduk disamping ayahnya, didampingi oleh ibunya juga.
"Nih, temanmu, katanya mau lamar kamu"
"Kamu serius?" tanya Nada padaku
"Iya Nad, serius" ucapku tegas
"Tapi . . . "
"Kamu mau atau tidak?" tanya ayahnya pada Nada
"Em . . i . . iya ayah" jawab Nada sedikit terbata-bata
"Baik, karena anak saya sudah setuju, saya tunggu kehadi5ran kamu dengan keluargamu"
Aku tersenyum sambil melihat Nada. Nada sedikit tersenyum namun ia tertunduk, dan Nada kali ini terlihat berbeda. Nada berhijab. Ia benar-benar sudah berubah. Dan aku, bersyukur untuk semua ini.
Diubah oleh nasihiber 13-06-2018 23:12
JabLai cOY dan 4 lainnya memberi reputasi
5