- Beranda
- Stories from the Heart
Criminal Puzzle : Murder on Hotel
...
TS
claymite
Criminal Puzzle : Murder on Hotel

HOLLA

Crime-Mystery-Thriller

Quote:

Quote:

Quote:

Quote:

Quote:

Quote:
Diubah oleh claymite 18-06-2018 12:43
anasabila memberi reputasi
1
42K
325
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•54.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
claymite
#154
Part 15
Ben menatap ke arah Marlo dan menanyakan letak kamar Franco saat ia menginap.
"Marlo, di kamar berapa Franco menginap?" Kata Ben
Marlo pun bergegas ke meja resepsionis dan mengambil buku resepsionis.
"Kamar 87, lantai 5." Kata Marlo
"Baiklah, maka kita akan menyelidiki kamar itu dulu" kata Ben sambil menepuk pundak Marlo
"Oh ya bagaimana dengan Franco, kita tidak langsung menyelidikinya?" Kata Anna
"Jika kutahu alamatnya aku akan menyelidiknya sekarang Anna." Kata Ben
"Baiklah, apa yang kita tunggu, kita selidiki dulu kamarnya" kata Tommy
"Oh yaa, suruh deputi mencari tahu tentang orang ini, Fasser, Franco dan Patricia, kau menyimpan nomornya kan?" Kata Ben kepada Tommy
"Yaa, akan kuhubungi sekarang"
Tommy mengeluarkan handphonenya dan mengetik sebuah pesan kepada deputi, kami pun langsung berjalan menuju arah lift.
"Bagaimana pembagiannya?" Kata Ronald sambil terus berjalan
"Maksudmu?" Tanya Ben
"Kita berpencar bukan? Pembagiannya bagaimana?"
"Tidak. Kita tidak berpencar" jawab Ben tegas
"Why?" Tanya Ronald
"Untuk memastikan salah satu dari dari kita agar tidak berkhianat dan menyembunyikan sesuatu" jawab Ben
Ronald mengangguk, kami sampai di depan lift dan memencet tombolnya. Lift terbuka, kami masuk kedalamnya, dan memencet angka tombol lantai 5.
"Edward Fasser.....akan selalu terngiang di otakku" kata Tommy saat didalam lift
"Apakah kau punya firasat bahwa Edward Fasser merupakan sang pembunuhnya?" Tanya Ben kepada Tommy
"Ya, firasatku seperti itu" jawab Tommy singkat tanpa melakukan kontak mata dengan Ben.
Sampai kita di lantai 5, lift terbuka, kami bergegas keluar dari lift. Suasana nampak normal, tidak terlalu ramai dan tidak juga sepi.
Kami kemudian mencari ruang 87 di lantai 5 tersebut yang merupakan tempat persinggahan Franco saat menginap disini.
"Ruang 87, dimanakah engkau.." gumam Ben
Akhirnya, ruangan tersebut ditemukan, ternyata letaknya hampir di pojok lantai 5, kedua dari pojok.
"Wah ini dia kamarnya" kata Ronald
"Kuncinya Marlo?" Kata Ben
Marlo kemudian mengeluarkan kunci kamar no 87 tersebut, kemudian membukanya"
Saat kita masuk, ruangannya nampak sangat bau sekali, bau seperti apanya tidak bisa didefinisikan, intinya ruangannya sangat bau sekali.
"Hmm...sudah berapa lama tidak dibersihkan ini ruangan" kata Ronald
"Aku tidak tahu, mengapa bisa sebau ini" kata Marlo
Ruangannya, terlihat sama seperti kamarku, ranjang di dekat jendela dengan view langsung ke kolam renang tersebut, sofa, dan sebuah tv. Tapi ada hal yang aneh di ruangan ini.
"Hei, ini seperti ruanganmu Anna, ranjang, jendelanya, tvnya, dan sofanya, tapi ada satu hal yang membuatku aneh" kata Ben sambil menatap benda disekitar ruangan tersebut
"Apa itu Ben?" Kata Anna
"Sofanya..." Kata Ben sambil berjalan ke arah sofa.
"Berikan aku pisau, sebuah pisau" kata Ben
"Pisau? Aku tidak membawanya bung" kata Tommy sambil berlagak kebingungan melihat Ben
"Silet! Atau apalah benda tajam lainnya" kata Ben dengan sedikit berteriak
"Hey, ini, silet, aku membawanya." Kata Marlo sambil memberikannya kepada Ben
Ben pun langsung mengambil silet tersebut dengan gesit, lalu merobek bagian sofa yang ada di ruangan tersebut.
"Ben apa yang kaulakukan?" Kata Ronald dengan kebingungan
Ben tidak menjawab pertanyaan tersebut dan mengacuhkannya, ia tetap merobek bagian sofa tersebut, dan ternyata....ada sebuah bangkai mayat.
"Damn!" Teriak Tommy
"Apa-apaan ini" teriak Ronald
Kami yang berada di ruangan tersebut syok dan kaget melihat apa yang ada disofa tersebut. Ditemukan mayat laki-laki dengan kumis tebal terkurung didalam kain sofa.
"Ben bagaimana kau bisa..."
"Bagian dudukan sofanya Tom" kata Ben memotong kata-kata Tommy
"Bagian dudukan sofanya terlihat ngejiplak dan mengambang, seolah-olah ada seseorang didalamnya" lanjutnya
"Lalu..lalu bagaimana ia bisa memasukannya kedalam situ? Maksudku, itu hal yang mustahil bukan?" Tanya Marlo
"Dia ahli Marlo, dia ahli.." kata Ben singkat
Ronald pun memutuskan untuk memanggil ambulance dan ahli forensik.
"Jangan harap kita menemukan sidik jari di tempat ini, dia benar-benar pembunuh sejati, tidak mungkin kita menemukannya di tempat ini, coba saja" kata Ben
"Hey Ben, tapi...apakah dia adalah Edward Fasser?" Tanya Anna
"Firasatku, yap. Tapi, kita butuh kabar dari deputi yang sedang menyelidiki nama Edward Fasser" kata Ben
Para ahli forensik dan ambulance pun berdatangan.
"Kira-kira sudah berapa lama mayat tersebut mati?" Tanya Ben kepada salah satu ahli medis.
"Dari kondisi dan baunya, kemungkinan 2 hari". Katanya
"2 hari...." Tampak Ben sedang merenung
Telepon Tommy berdering menandakan panggilan telepon.
"Halo"
"Halo Tom, ini aku deputi"
Tom langsung menyalakan speaker
"Oh yaa, ada kabar baru deputi?"
"Aku punya kabar baik, setelah aku mencari dokumen riwayat kartu nama, nama Edward Fasser di New York City ada banyak, cuma yang berprofesi menjadi detektif hanya ada dua di New York ini, satunya sudah wafat 4 tahun silam, dan satunya lagi masih hidup dan tinggal di St. Claive, komplek perumahan yang berjarak sekitar 3km dari hotel" kata deputi.
Kata-kata 'hanya ada dua' semakin meyakinkan kita bahwa mayat yang ada didepan kita yang beberapa saat lalu ditemukan Ben merupakan Edward Fasser.
"Terimakasih deputi atas infonya, tapi aku punya kabar buruk, karena menurutku Edward Fasser yang kedua juga sudah ditemukan wafat di hotel ini dan mayatnya disembunyikan di sofa" kata Tommy
"Astaga, apa kau yakin itu Edward Fasser?" Tanya deputi
"Aku tidak yakin, tapi, sepertinya dia orangnya"
"Biarkan aku yang berbicara" kata Ben
"Deputi, aku berterimakasih sekali atas bantuanmu mencarikan identitas sang Edward Fasser, tapi aku butuh bantuan lagi" kata Ben
"Apa itu Ben?" Tanya deputi
"Bisakah kau mencarikan identitas tentang Franco, dia warga sipil, mempunyai mobil camry hitam" kata Ben
"Dengan senang hati, akan kulaksanakan"
"Dan jika kau menemukannya, aku memintamu untuk menahannya terlebih dahulu, selalu awasi gerak-geriknya" kata Ben
"Baiklah Ben". Telepon ditutup.
"Bagaimana?" Kata Ronald menatap Ben
"Siapa disini yang ingin menginterogasi? Tom? Maukah kau ke St. Claive?" Kata Ben
"Yap, dengan senang hati"
"Aku ingin Anna ikut denganmu Tom" kata Ben
"Baiklah" kata Tommy
Ronald menghampiri Ben dan berbisik
"Apakah ini jadi tanda bahwa ada yang lebih besar daripada pembunuhan pertama?" Tanya Ronald
"Maksudmu?" Ben bingung
"Pembunuhan ini awalnya nampak seperti pembunuhan tunggal, tapi ternyata pembunuhan ini lebih besar daripada yang kita kira, dan hanya dalam beberapa hari ternyata sudah ditemukan 3 korban dengan benang merah yang menunjukan bahwa pelakunya adalah pelaku yang sama" kata Ronald
Ben mengangguk kemudian berkata
"Pertama-tama, nama Edward Fasser tidak ada di daftar buku resepsionis yang artinya dia bukan tamu disini, artinya dia 'mungkin' datang berdua dengan temannya dan mereka menginap di hotel tersebut dengan menggunakan identitas temannya" kata Ben
"Ya, kau benar!" Kata Ronald dengan antusias
"Tapi kenapa jika ia datang bersama temannya, tidak ada temannya yang menyadari bahwa Fasser dibunuh?" Tanya Ronald dengan heran
"Karena kemungkinan dialah pembunuhnya, sang temannya itulah pembunuhnya" kata Ben
"Itu sebabnya aku menyuruh Tom untuk segera menyelidiki rumah Edward dan menginterogasi keluarganya, 'siapa teman yang datang dengan Fasser', itu dia kuncinya" lanjut Ben
"Tapi kita juga belum yakin bahwa korban ini adalah Edward bukan?" Kata Ronald
"Ya, kita belum yakin, makanya kita harus menyelidiki dan mempertimbangkan semua kemungkinan, kita tidak bisa langsung mengambil keputusan secara dini" kata Ben
"Tapi, bagaimana dengan Darwin?" Kata Ronald
"Ah, sudahlah, kita urusin urusan ini terlebih dahulu" jawab Ben singkat
"Kasus ini kasus teraneh dalam hidupku, dimana kita saja bahkan tidak mengetahui identitas sang korban" kata Ronald
"Ya, biasanya metode detektif untuk menyelesaikan masalah seperti ini adalah mengetahui identitas, mengetahui motif, mengambil kesimpulan dan menuntaskannya, tapi metode ini tidak berguna di kasus ini" kata Ben dengan kecewa.
"Ada satu orang yang harus kita selidiki" kata Ben.
"Siapa itu?"
"Petugas kebersihan....".
Diubah oleh claymite 07-06-2018 09:44
0







