- Beranda
- Stories from the Heart
T University 2 (Season 2)
...
TS
anism
T University 2 (Season 2)

Cover Super Keren by Awayaye <Ane minta
> Terima banyak untuk respon positif agan dan aganwati di thread sebelumnya. T University.
Bagi yang belum membacanya. Bisa mengklik judul dibawah ini.
T University
Spoiler for Daftar Isi/Case 1 : Lost Son:
Case 1 Finish
Spoiler for Case 2 : Lativa's Twins Terror:
Case 2 Finish
Spoiler for Case 3 : Arelia And Edward:
Case 3 Finish
Spoiler for Samantha And Mom:
Finish
Spoiler for Case 4 : Johnny Comes Back To China or England:
Case 4 Finish
Spoiler for Case 5 : King Killer's Son:
Case 5 Finish
Spoiler for Case 6 : Losing In A Plane:
Diubah oleh anism 30-05-2019 17:56
anasabila memberi reputasi
1
21.8K
198
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
anism
#195
Kembali Pada Asumsi
Burung berkicau dengan merdunya, menghantar mereka keluar dari liang mimpi yang indah. Reynard dengan kepulan asap cappucinonya di ruang tamu dan James yang sedang mencoba memperbaiki posisi duduknya agar luka jahitannya tidak bersentuhan dengan apapun. Emmy sedang sibuk dengan pemanas air. Membuatkan teh Inggris untuk dia dan James.
“Kita sudah terlalu lama di sini. Aku sepertinya agak kehilangan kesabaran. Aku mau kasus ini tuntas secepatnya.”, ujar Reynard. Emmy dan James menganggukkan kepala tanda mengerti. Di dalam mata mereka terpancar semangat yang membara.
“Packing barang kalian, kita sudah dapat izin bersama tim SARS melakukan penyelidikan.”, ujar Reynard. Tanpa perlu bicara panjang lebar, mereka bertiga segera menuju tempat tersebut. Tempat ditemukannya bangkai pesawat.
Dengan segera, Emmy bertemu dengan kepala tim SARS. Reynard menepati janjinya. Dia tidak ingin mengintervensi kasus tersebut. Pria itu hanya mengikuti mereka dari belakang.
Emmy berbicara hampir 50 menit bersama kepala tim SARS yang bernama Billy Red. Mereka telah menemukan bangkai pesawat. Namun, ada satu hal aneh yang membuat para tim SARS bingung. Hanya ada dua jasad yang ditemukan dari total 113 penumpang.
“Jadi apa ini artinya seratus sebelas penumpang lainnya selamat?”, ujar James. “Tidak masuk akal.”, tegas Emmy. Reynard juga tampak menimbang apa yang bisa membuat kasus ini semakin rumit dan tidak masuk di logika.
“Kurangi asumsi. Sekarang yang kita butuhkan adalah data.”, ujar Reynard. “Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang, Sir?”, tanya Emmy. Reynard mengerlingkan mata. “Dengan kondisi sudah ditemukannya dua orang korban. Apa yang akan kamu lakukan?”
“Aku paham.”, jawab James. “Aku rasa aku juga berpikiran sama dengan James.”, ujar Emmy.
“Bagus. Aku tidak perlu susah-susah menjelaskannya. Ayo.”, tukas Reynard.
*Emmy, James dan Reynard bergabung dengan tim otopsi.*
“Ada banyak luka di tubuh mereka. Ini sangat lumrah untuk korban kecelakaan, apalagi kecelakaan pesawat.”, ujar Billy.
“Bolehkah kami mendapat izin melihat mayat korban?”, tanya Emmy seraya menunjukkan kartu pengenal detektifnya.
“Oh, tentu saja. Maaf tidak bisa menemani. Aku masih harus mengecek korban lain.”, Billy mengangguk dan meninggalkan mereka bersama dengan anak buahnya di bagian tim forensik.
Emmy dan James yang tadinya bersemangat segera mundur dan bergidik saat kantong mayat dibuka. Emmy bahkan menjauh untuk menelan sebutir permen mint. Reynard tersenyum melihat tingkah mereka. Wajar. Selama ini mereka bertemu dengan mayat segar. Tidak dengan yang sudah berhari-hari.
Reynard yang sudah menggunakan masker berjongkok di sekitar mayat dan memperhatikan dengan seksama. “Coba perhatikan. Mayat ini memang sudah mengeras. Tapi kalian bisa melihat dan menemukan beberapa hal jika kalian fokus.”, ujar Reynard sambil menggunakan sarung tangannya.
James dan Emmy hanya memperhatikan dari posisi sekitar tiga langkah di belakang Reynard. “Apa yang Anda lihat, Sir?”, tanya James.
“Hmm.. Aku belum bisa memastikan.”, Reynard mencoba membalikkan badan korban dan melihat-lihat bagian tubuh korban. Emmy menjauh karena dia merasa mual. James hanya bisa berdiri mematung di sana. Mematung memikirkan bagaimana seorang Reynard bisa memegang mayat itu dengan biasa,
Burung berkicau dengan merdunya, menghantar mereka keluar dari liang mimpi yang indah. Reynard dengan kepulan asap cappucinonya di ruang tamu dan James yang sedang mencoba memperbaiki posisi duduknya agar luka jahitannya tidak bersentuhan dengan apapun. Emmy sedang sibuk dengan pemanas air. Membuatkan teh Inggris untuk dia dan James.
“Kita sudah terlalu lama di sini. Aku sepertinya agak kehilangan kesabaran. Aku mau kasus ini tuntas secepatnya.”, ujar Reynard. Emmy dan James menganggukkan kepala tanda mengerti. Di dalam mata mereka terpancar semangat yang membara.
“Packing barang kalian, kita sudah dapat izin bersama tim SARS melakukan penyelidikan.”, ujar Reynard. Tanpa perlu bicara panjang lebar, mereka bertiga segera menuju tempat tersebut. Tempat ditemukannya bangkai pesawat.
Dengan segera, Emmy bertemu dengan kepala tim SARS. Reynard menepati janjinya. Dia tidak ingin mengintervensi kasus tersebut. Pria itu hanya mengikuti mereka dari belakang.
Emmy berbicara hampir 50 menit bersama kepala tim SARS yang bernama Billy Red. Mereka telah menemukan bangkai pesawat. Namun, ada satu hal aneh yang membuat para tim SARS bingung. Hanya ada dua jasad yang ditemukan dari total 113 penumpang.
“Jadi apa ini artinya seratus sebelas penumpang lainnya selamat?”, ujar James. “Tidak masuk akal.”, tegas Emmy. Reynard juga tampak menimbang apa yang bisa membuat kasus ini semakin rumit dan tidak masuk di logika.
“Kurangi asumsi. Sekarang yang kita butuhkan adalah data.”, ujar Reynard. “Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang, Sir?”, tanya Emmy. Reynard mengerlingkan mata. “Dengan kondisi sudah ditemukannya dua orang korban. Apa yang akan kamu lakukan?”
“Aku paham.”, jawab James. “Aku rasa aku juga berpikiran sama dengan James.”, ujar Emmy.
“Bagus. Aku tidak perlu susah-susah menjelaskannya. Ayo.”, tukas Reynard.
*Emmy, James dan Reynard bergabung dengan tim otopsi.*
“Ada banyak luka di tubuh mereka. Ini sangat lumrah untuk korban kecelakaan, apalagi kecelakaan pesawat.”, ujar Billy.
“Bolehkah kami mendapat izin melihat mayat korban?”, tanya Emmy seraya menunjukkan kartu pengenal detektifnya.
“Oh, tentu saja. Maaf tidak bisa menemani. Aku masih harus mengecek korban lain.”, Billy mengangguk dan meninggalkan mereka bersama dengan anak buahnya di bagian tim forensik.
Emmy dan James yang tadinya bersemangat segera mundur dan bergidik saat kantong mayat dibuka. Emmy bahkan menjauh untuk menelan sebutir permen mint. Reynard tersenyum melihat tingkah mereka. Wajar. Selama ini mereka bertemu dengan mayat segar. Tidak dengan yang sudah berhari-hari.
Reynard yang sudah menggunakan masker berjongkok di sekitar mayat dan memperhatikan dengan seksama. “Coba perhatikan. Mayat ini memang sudah mengeras. Tapi kalian bisa melihat dan menemukan beberapa hal jika kalian fokus.”, ujar Reynard sambil menggunakan sarung tangannya.
James dan Emmy hanya memperhatikan dari posisi sekitar tiga langkah di belakang Reynard. “Apa yang Anda lihat, Sir?”, tanya James.
“Hmm.. Aku belum bisa memastikan.”, Reynard mencoba membalikkan badan korban dan melihat-lihat bagian tubuh korban. Emmy menjauh karena dia merasa mual. James hanya bisa berdiri mematung di sana. Mematung memikirkan bagaimana seorang Reynard bisa memegang mayat itu dengan biasa,
Diubah oleh anism 06-06-2018 10:17
0