Kaskus

Story

juraganpengkiAvatar border
TS
juraganpengki
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)

GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)
Cool Cover By Agan Linbara (Thanks, Bree)..

Prolog

Setelah bangun dari ‘Mati Suri’ karena memutuskan untuk mencoba membunuh diri sendiri untuk melindungi Kitab Langit dan melenyapkan Bayu Ambar, gw kembali ke dunia nyata.. Kehidupan gw sedikit jauh berbeda, karena pengalaman ‘Mati Suri’ itu berefek langsung pada kelebihan yang gw miliki.. Gw masih sama Anggie, meski ujian atas cinta kami masih saja mendera.. Ada musuh baru, tentu saja.. Tapi ada juga sahabat baru yang muncul.. Karena ini akhir dari cerita kami berempat..

Kembalinya Anak Ibu...
Pengorbanan Pedang Jagat Samudera...
Cintai Aku Sewajarnya, Yank...
Matinya Seorang Saudara (Versi Gw/Bimo)
Berkumpul Kembali...
Keanehan Yang Mulai Muncul...
Sambutan Ketiga Saudara Ke Reinata...
Sabar???
Cukup! Tinggalin Aku Sendiri!!!
Siapa Kau???
Aku Ikutin Kemauan Kamu...
Keputusan Sepihak Yang Pahit...
Semua Beban Menjadi satu
Semua Beban Menjadi Satu (2)...
Serangkum Rindu Untuk Ayah...
Munculnya Penguasa Laut Utara...
Bertemunya Dua Penguasa...
Sebuah Kesepakatan...
Ibu Kenapa Yah???
Lu Kenapa, Ka???
Wanted Dead Or Alive.. ANTON!!!
Mo 'Perabotan' Lu Hancur Apa Tanggung Jawab???
It's The End Of Us...
Di Kerjain Ibu...
Ridho!!!
Kelewatan!!!
Munculnya Dua Penjaga Gerbang Kerajaan Laut...
Dewi Arum Kesuma VS Dewi Ayu Anjani
Datangnya Sosok Seorang Pemisah Dan Shock Therapy Buat Gw...
Kerajaan Jin...
Terkuaknya Semua Jawaban...
Maafin Gw, Bree...
Pengakuan Suluh...
Akhirnya Boleh Gondrong...
Pernikahan Kak Silvi Yang Seharusnya Membuat Gw Bahagia...
Pernikahan Kak Silvi Yang seharusnya Membuat Gw Bahagia (2)...
Tunggu Pembalasan Gw!!!...
Ni Mas Linduri dan Banas Ireng...
Dua Sosok Penyelamat Misterius...
Ada Apa Sama Ridho?...
Kesalahan Fatal...
Kembalinya Jin Penjaga Ridho dan Suluh...
Akibat Terlalu Ikut Campur...
Setiap Perbuatan Akan Mendapat Balasan...
Munculnya Viny Dan Sebuah Tantangan Bertarung...
Manusia Cabul...
Suara Penolong Misterius...
Bertemunya Kembali Sepasang Kekasih...
Terkuaknya Kebenaran...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar (2)...
Jaket Dan Celana Jeans Robek Serta Sweater Hitam Kumal...
She's My True Love...
Dilema...
Pertengkaran Dengan Ibu...
Rambe Lantak...
Gendewa Panah Pramesti...
Akan Ku Balaskan Dendam Mu, Arum Kesuma!!!
Yang Hilang dan Yang Kembali...
Jawaban Ayu...
Mati Gw!!!
Aku Makin Sayang...
Nasihat Om Hendra...
Jera Mencuri...
Ajian Segoro Geni...
Pilihan Sulit...
Keputusasaan Anggie...
Kabar Baik dari Ridho dan Suluh...
Perjalanan Menuju Pembalasan Dendam...
Rawa Rontek...
Rawa Rontek 2 (Terbayarnya Dendam)...
Kedatangan Pak Sugi...
Orang Titipan...
Hukuman Paling Berat...
Tidurlah Di Pangkuan Ku...
Menjajal Kesaktian...
Menjajal Kesaktian (2)...
Pengakuan Mengejutkan Babeh Misar...
Pengajaran Ilmu Silat Betawi...
Di Kepret Babeh Misar Lagi...
Tasya...
Naga Caglak dan Bajing Item...
Misteri Sebuah Dendam...
Kekuatan Sejati Kitab Langit Bagian Matahari...
Perpisahan...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera (2)...
Kembalinya Ibu...
Empat Bayangan Hitam...
Siapa Ni Mas Laras Rangkuti???
Dendam Seorang Sahabat...
Ini Keputusan Yang Harus Gw Ambil...
Semua Pengorbanan Ini Demi Ibu...
Rapuh...
Kabar Mengejutkan Sekar dan Sebuah Restu...
Siasat Braja Krama...
Munculnya Kitab Langit...
Si Pembuka Kitab langit dan Sosok Asli Pak Sugi...
Rencana Yang Matang...
Lamaran Pribadi...
Keingintahuan Anggie...
Perubahan Rencana...
Hampir Terjebak...
Kekecewaan Sekar...
Dua Syarat Reinata...
Aku Harap Kamu dan Anggie Bahagia, Mam...
Rahasia Sepasang Suami Isteri...
Menitipkan Amanah...
Berkumpulnya Para Pembela Kitab Langit...
Siasat Ki Purwagalih...
Raja Jin Raja Muslihat (Nyesek, Bree)...
Pertukaran Tawanan...
Perang Gaib PunTak Terelakkan...
Sang Penyelamat Dari Utara...
Pertempuran Awal Dua Penguasa Kerajaan Gaib...
Bertekuk Lututnya Sekutu Braja Krama...
Pertarungan Dua Putera (Gugurnya Satu Sahabat Gaib)...
Krama Raja...
Braja Krama Versus Krama Raja...
Raja Licik...
Aku Lah Sang Pembuka...
Siasat Krama Raja dan Bayu Ambar...
Terbukanya Semua Ilmu Terlarang...
Sebuah Pengecualian...
Sri Baduga Maharaja...
Hilangnya Sebuah Pengecualian...
Hilangnya Sebuah Pengecualian (2)...
Sebuah Pengorbanan...
Pahlawan...
Sumpah...
Ilmu Pamungkas yang Terlarang...
Kabar Yang Mengejutkan...
Pulang...
Pulang (2)...
Sedikit Kisah Rio Sebelum Kisah Ini Tamat...
Terhalang Sumpah...
Bantuan Sahabat Baik...
Bachelor Party...
Keturunan Lain Sang Prabu...
Pembalasan Dendam Singgih...
Sepenggal Kisah Nyi Mas Roro Suwastri...
Tawaran Yang Mengejutkan...
Lawan Atau Kawan???
Terkuaknya Silsilah...
Sebuah Kebenaran...
Sebuah Kebenaran (2)...
Bertemunya Dua Keturunan Sang Prabu...
Pertempuran Dua Hati...
Cinta Pertama VS Cinta Terakhir Jagat Tirta...
Pengakuan Bayu Barata...
Ki Larang dan Nyi Mas Galuh Pandita???
Prana Kusuma...
Kau Benar Keturunan Kami, Ngger...
Our Big Day...
Insiden...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga (2)...
Dua Tamu Istimewa...
Semua Karena Cinta...
Keputusan Sekar Kencana...
Kena Gampar...
Bonyok!!!
RIBET!!!
Berdamai...
Keponakan Baru...
Malam Pertama dan Tiga Keanehan...
Ajian Warisan Para Leluhur (The Last Part/End Of All Chapters)

SIDE STORIES

Keturunan Yang Tersesat...
Keturunan Yang Tersesat (2)...

Diubah oleh juraganpengki 15-07-2018 20:23
uang500ratusAvatar border
devanpancaAvatar border
iskrimAvatar border
iskrim dan 132 lainnya memberi reputasi
127
2.1M
8K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.9KAnggota
Tampilkan semua post
juraganpengkiAvatar border
TS
juraganpengki
#6838
Bertemunya Dua Keturunan Sang Prabu...

Gw cukup terkejut mendengar ucapan Bayu Barata.. Aaakh, mengapa Sekar bisa berniat sejauh itu? Apa mungkin kemunculan Nyi Mas Roro Suwastri telah mengusik harga diri nya sebagai isteri Jagat Tirta yang sah?

“Apakah kau bisa melacak dimana mereka akan bertemu, Bayu?” Tanya gw, yang khawatir akan ada pertempuran diantara dua Jin cantik yang sama-sama mencintai Jagat Tirta..

Bayu Barata langsung menganggukkan kepala nya..

“Aku bisa dengan mudah mengetahui keberadaan Sekar Kencana.. Apa kau mau aku membawa mu sekarang juga untuk menemuinya, Raden?”

Untuk sesaat gw terdiam memikirkan tawaran Bayu Barata hingga akhirnya sebuah keputusan gw ambil, setelah menimbang-nimbang beberapa hal dalam benak..

“Tidak, Bayu.. Sebaiknya kita tunggu saja sampai Sekar Kencana dan Nyi Mas Roro Suwastri bertemu.. Lagipula, ada beberapa hal yang memang ingin ku utarakan ke Jin Penjaga nya gadis yang bernama Singgih” Jawab gw sambil duduk di atas bangku yang ada di teras..

“Baiklah.. Aku mohon pamit, Raden.. Aku akan mencoba mengawasi gerak-gerik Sekar Kencana secara sembunyi-sembunyi.. Sekedar untuk memastikan bahwa ia tidak akan membuat perhitungan dengan utusan Sang Prabu”

Gw berganti menganggukkan kepala pertanda menyetujui tindakan yang akan dilakukan Bayu Barata.. Setelah mengacungkan kedua tangan di depan dada, Bayu Barata pun menghilang tanpa bekas dari hadapan gw..

Perlahan, gw menghela nafas panjang sambil memikirkan apa yang ada dalam benak Sekar Kencana, hingga berencana menemui langsung Nyi Mas Roro Suwastri.. Jika sampai mereka berdua terlibat dalam pertarungan, maka gw sendiri yang akan berada dalam dilema untuk membela siapa.. Satu sisi, Sekar Kencana adalah Jin Penjaga yang hubungannya sudah sangat dekat dengan gw.. Sedangkan disisi lain, Nyi Mas Roro Suwastri merupakan Nenek Moyang gw yang mempunyai hubungan darah langsung dengan diri ini..

“Semoga mereka berdua hanya bicara baik-baik nantinya, Ya Allah” Do’a gw dalam hati, berharap Sang Maha Kuasa akan mengabulkannya..

Sekitar lima belas menit lebih, gw duduk sendiri di depan teras.. Sampai akhirnya gw beranjak ke kamar untuk mengganti baju koko dan kain sarung dengan pakaian yang jauh lebih santai.. Kening gw sempat berkerut begitu melihat sosok Rio sudah tidak ada lagi di atas tempat tidur.. Namun, rasa heran dalam hati bertambah saat pandangan gw tertuju pada bercak air yang membasahi seprai serta beberapa bagian lantai kamar..

“Masa iya si Item ngompol? Kalo sampe bener, bakalan gw bully abis-abisan si kambing” Tanya gw sambil mencolek ceceran air diatas lantai, menggunakan ujung telunjuk dan mencoba mengendus aroma nya..

“Bau nya ga pesing? Berarti si Item ga ngompol.. Tapi, kenapa bisa ada air disini? Mana seprai gw basah lagi” Keluh gw seraya mencoba berdiri..

Baru saja gw beranjak, tiba-tiba pintu kamar dibuka seseorang dari luar.. Gw langsung membalikkan badan dan memicingkan kedua mata begitu melihat Rio sedang mengelap kepala dan lehernya menggunakan handuk milik gw..

“Kenapa lu, Bree? Kek orang habis kecebur” Tanya gw sembari melangkah mendekati lemari, lalu membuka pakaian bekas Shalat Subuh dan menggantinya dengan kaus singlet hitam..

Pandangan gw sempat menoleh ke arah Rio yang nampak BT, dan berjalan menuju jendela kamar gw.. Lalu membuka lebar sumber ventilasi utama tersebut, kemudian duduk di atas meja belajar tanpa sedikit pun berniat untuk menoleh ke arah gw..

Kain sarung yang masih gw lepit, segera gw letakkan di atas tempat tidur.. Sedangkan baju koko hanya gw gantung saja, karena berniat akan menggunakannya kembali untuk Shalat Juhur nanti.. Karena melihat tingkah Rio yang masih saja terdiam sambil terus memandang ke luar dari jendela, gw beranjak pergi meninggalkannya menuju dapur..

Ibu yang nampak sedang sibuk mempersiapkan bahan makanan untuk sarapan, menoleh ke arah gw saat mengambil dua buah gelas dan dua sachet kopi susu dari rak piring.. Gw fikir, dua cangkir kopi panas di pagi hari akan membuat si Item sedikit melupakan kegundahan hatinya, yang entah disebabkan karena apa..

“Rio masih ada, Bang?” Tanya Ibu seraya menghentikan sejenak kegiatannya mengocok-kocok telur diatas mangkuk..

“Ada dikamar, Bu.. Ini abang lagi mo bikinin dia kopi susu buat ngilangin muka BT nya” Jawab gw seraya menuang satu sachet terakhir ke gelas kedua..

Ibu nampak sedikit aneh dengan terus senyum-senyum sendiri.. Gw yang melihat Ibu, menjadi heran saat sedang menuangkan air super panas dari dishpenser..

“Rio ga cerita apa-apa, Bang?” Tanya Ibu sambil sesekali menahan tawanya..

“Enggak, Bu.. Emang ada apaan sih, Bu? Rio di kamar mukanya lagi BT banget, tapi disini Ibu malah senyum-senyum terus” Tanya gw sembari mengaduk-aduk dua gelas secara bergantian..

Untuk beberapa saat, Ibu tertawa lepas.. Gw memutuskan untuk menunda membawakan kopi susu ke kamar.. Dari reaksi Ibu barusan, pasti ada sesuatu yang telah terjadi antara beliau dengan keponakannya a.k.a sepupu gw, Rio..

“Bu, ada apaan sih sebenernya? Ibu tahu kenapa Rio muka nya kek orang lagi ngambek?”

Ibu sontak kembali tertawa seiring kepala nya yang dianggukkan beberapa kali.. Tak mau dibuat penasaran, gw langsung meminta Ibu untuk menceritakan segalanya.. Perlahan, Ibu menghela nafas dan mencoba mengeluarkannya sedikit demi sedikit.. Sesekali, beliau masih mancoba menahan tawa..

“Jadi, tadi Ibu bangunin Rio buat Shalat Subuh, Bang.. Tapi, memang benar kata tante kamu kalo Rio tuh susah banget dibanguninnya.. Makanya Ibu inget saran Tante Septi yang selalu mencipratkan air sedikit ke muka Rio, kalo mau bangunin dia.. Ibu langsung ambil air satu gayung dari kamar mandi dan balik lagi ke kamar kamu.. Nah, pas Ibu udah di deket Rio dan siap-siap mau cipratin air ke muka nya.. Tiba-tiba, Ibu kepeleset hampir jatuh karena nginjek kain mukena bawah.. Terus, air yang di gayung tumpah pas banget kena muka nya Rio”

Bukannya prihatin, gw malah langsung tertawa terbahak-bahak.. Bahkan jauh lebih keras dari suara tawa Ibu tadi.. Sampai-sampai, akhirnya Ibu menepuk lengan gw agar berhenti tertawa karena tidak enak jika terdengar oleh Rio di dalam kamar..

“Ya Allah, apes amat tuh bocah” Ucap gw sambil menahan tawa yang sesekali masih ingin tergelak keluar..

“Udah, udah.. Ibu bener-bener ga sengaja tadi.. Ibu juga udah minta maaf ke Rio.. Kamu langsung bawa aja kopi nya gih.. Inget, Bang.. Jangan dikatain lagi Rio nya.. Dia keponakan Ibu.. Sepupu kamu juga loh” Nasihat Ibu yang membuat gw mengangguk meski dalam hati sudah punya rencana untuk membully si Item..

Dengan sedikit cepat, gw membawa dua buah gelas berisi kopi susu panas tanpa menggunakan nampan.. Lalu, langsung mendorong pintu yang tidak tertutup dengan punggung.. Namun, gerakan gw terhenti begitu punggung ini ditahan seseorang dari belakang..

“Lu mo kemana, Bree? Baru gw bikinin kopi susu nih” Tanya gw ke arah Rio yang sudah mengganti pakaiannya dengan kaus milik gw..

“Gw mo pulang.. Males gw lama-lama disini” Jawab Rio dengan wajah masih tertekuk, seraya menyandarkan diri di balik pintu..

Tanpa banyak bicara, gw langsung meletakkan dua gelas berisi kopi susu panas diatas meja belajar.. Dan kembali menghampiri sepupu gw itu..

“Lu kenapa sih? Bangun tidur udah BT aja ke gw” Tanya gw berpura-pura tidak tahu..

Rio tidak menjawab pertanyaan gw lewat lisan.. Namun ia malah memadangi wajah ini dengan tatapan menyelidik..

“Barusan gw dengar lu ketawa kenceng banget di dapur.. Lu ngetawain gw kan?” Tanya Rio masih dengan tatapan menyelidik..

“Dih! PD mamp*s lu, Bree.. Gw tadi ngetawain Ayu yang ketakutan liet tikus di dapur” Sanggah gw sembari menarik lengan Rio..

“Udah lah, jangan balik dulu.. Kita kan jarang banget bisa ngopi bareng, Bree.. Itu udah gw bikinin.. Pamali kalo ga di minum”

Rio nampak tertegun untuk sesaat dengan wajah yang terlihat seperti sedang menimbang-nimbang tawaran gw..

“Ayo lah, Bosskuh.. Ngupi dulu bareng sepupu mu yang ganteng ini” Bujuk gw lagi sembari menyelipkan sedikit guyonan, agar kecurigaan Rio tidak bertambah..

Dengan sedikit malas-malasan, Rio akhirnya mau juga gw ajak kembali mendekati meja belajar.. Gw sendiri memilih untuk duduk di atas bangku belajar.. Sementara, Rio yang sempat masih berdiri bersandar di tepi meja, perlahan mulai mendudukkan bokong nya di atas..

“Minum nih, Bree.. Kopi susu buatan sepupu tercintah la’u” Ucap gw sambil menggeser segelas kopi, dan mengambil gelas lainnya..

Rio menerima uluran kopi dan meneguk minuman itu hampir bersamaan dengan gw..

“Gimana, enak kan kopi susu bikinan gw?”

“Mayan” Jawab Rio sangat singkat..

Dalam hati, sebenarnya gw sangat mencoba menahan tawa jika melihat tingkah Rio yang kalo lagi ngambek, ga sesuai sama badan.. Tapi, semua gelak tawa terpaksa gw tahan.. Karena merasa ini belum waktu nya gw membully si item..

“Oh iya, Bree.. Si Joni kemaren WA gw.. Dia bilang Teh Yuyun sempet nangis pas dapet undangan kimpoian lu”

Gw yang sedang menyeruput kopi nan panas, hampir saja tersedak begitu Rio menyebut nama Teh Yuyun..

“Njiir! Siapa yang nyuruh ngundang Teh Yuyun, Bree?” Tanya gw dengan nada sedikit tinggi..

Rio sempat terdiam menatap ke arah gw.. Lalu, kembali meneguk kopi dari gelas yang ada di tangan..

“Tau dah.. Gw juga sempet nanya ke Joni.. Setahu gw, lu ga niat buat ngundang Teh Yuyun.. Tapi, si Joni bilang undangan lu masih sisa dua lagi yang belom ada namanya.. Dari pada mubazir, Joni langsung aja nulis nama Teh Yuyun dan ngasihin undangan lu ke tuh janda semok.. Kalo gw pikir-pikir sih, ga ada salah nya Teh Yuyun di undang, Bree.. Kita kan waktu SMA hampir tiap hari nongkrong di warung pengkolannya”

Gantian gw yang kali ini terdiam mendengar jawaban Rio.. Memang terdengar tidak adil jika gw tidak mengundang Teh Yuyun yang mana sangat mengenal kami semua..

“Iya juga sih.. Tapi kan, lu tau sendiri reaksi dia kek gimana ke gw, Bree.. Masa iya pas gw lagi jadi pengantin, terus Teh Yuyun dateng dan tau-tau langsung meluk gw sambil nangis bombay.. Gimana coba kalo kek gitu?”

Rio yang nampak serius mendengar ucapan gw, sepertinya mencoba membayangkan apa yang barusan gw lisankan.. Kemudian, ia menyeruput habis kopi susu yang memang tinggal sedikit tersisa..

“Gini aja deh.. Bentar lagi gw balik pake motor CB* lu.. Nanti, gw coba mampir ke warungnya Teh Yuyun.. Biar nanti gw omongin ke dia, supaya ga usah macem-macem kalo mo dateng ke pesta pernikahan lu besok”

Gw menganggukkan kepala dan meneguk sisa kopi susu dalam gelas.. Kemudian, meletakkan benda yang mudah pecah itu di atas meja belajar di sebelah Rio.. Perlahan, gw beranjak dari bangku belajar dan berjalan pelan menuju pintu..

“Lu mo kemana?” Tanya Rio, sambil turun dari atas meja belajar..

“Kata nya lu mo make motor gw.. Belom di keluarin dari garasi soalnya tuh motor” Jawab gw, yang membuat Rio merubah posisi kembali bersandar di pinggir meja..

Sambil terus berjalan, gw sedang menimbang-nimbang mencari saat yang tepat untuk menjahili si item.. Dan gw rasa sekarang adalah saat yang pas.. Gw segera menghentikan langkah dan membalikkan badan ke arah Rio persis di depan pintu yang masih terbuka..

“Bree” Panggil gw, yang membuat Rio langsung menoleh dengan kening berkerut..

“Napa? Lu mo gw yang keluarin motor dari garasi?” Tanya Rio..

Gw terdiam dan bersikap seolah sedang memikirkan sesuatu..

“Ga jadi dah” Jawab gw sengaja membuat Rio semakin penasaran..

“Deh, bocah! Ga jelas banget lu, Bree” Gerutu Rio dengan wajah mulai nampak kesal..

“Anu..” Kata gw, kembali memutus kalimat agar amarah Rio kian terpancing..

“Apaan si lu, Bree? Kalo mo ngomong, ngomong aja.. Ga usah pake ga jadi lah, anu lah” Maki Rio yang sudah tersulut emosi nya..

“Itu, Bree.. Nyokap gw bilang, tadi ada kambing lagi tidur yang ga sengaja dia siram pake aer segayung”

“ANJI*******G!!!” Teriak Rio, sambil berlari ke arah gw yang langsung kabur di iringi suara tawa terbahak-bahak..

Setelah sempat meladeni Rio bercanda dengan saling memukul dan menendang, Ibu segera menghentikan kami berdua.. Gw yang masih sesekali tertawa, langsung mengeluarkan motor CB* pemberian Anggie dari dalam garasi.. Sementara, Rio nampak memandang kesal di sebelah Ibu yang hendak kembali ke dapur.. Untuk beberapa saat, gw menyalakan mesin motor untuk memanaskannya.. Lalu kembali mematikan mesin, dan berjalan menghampiri Rio..

“Tuh motor gw.. Pake aja.. Mumpung bensin nya full tank” Ucap gw ke Rio sambil menyenggol lengannya..

Sambil mencibir, sepupu gw yang paling kocak itu langsung berjalan ke arah motor..

“Bree, jangan lupa mampir ke warung Teh Yuyun yak.. Bilangin dia supaya ga macem-macem kalo mo dateng ke resepsi gw besok” Teriak gw, ke arah Ridho yang sudah naik di atas motor CB* merah pemberian Anggie..

“Tenang aja, Bree” Jawab Rio, setelah menghidupkan kembali motor dengan cara menstarter..

Gw tersenyum mendengar jawaban Rio.. Sambil bertolak pinggang memperhatikan ia hendak menjalankan kendaraan, gw mengulum senyuman..

“Gw bakal bilang ke Teh Yuyun kalo lu sebenernya demen sama dia.. Biar besok dia bikin heboh di nikahan lu” Ucap Rio, yang setelahnya langsung melajukan motor CB* secepat mungkin keluar dari pekarangan rumah..

Gw yang terbelalak karena terkejut mendengar ucapan si Item, berusaha mengejarnya.. Namun, Rio malah menjulurkan lidah tepat sebelum ia menghilang di balik pagar rumah..

“Kamvret!! Awas aja kalo si item berani bilang begitu ke Teh Yuyun” Maki gw dengan nafas sedikit memburu..

Cukup lama gw berdiam diri di dalam kamar sambil mendengarkan beberapa MP3 lagu-lagu cadas.. Ibu dan Ayu sudah pergi dari jam delapan pagi untuk bertemu dengan Tante Septi dan Mamahnya Anggie.. Sementara gw, hanya berleha-leha menikmati lagu, meski kerap berkirim pesan WA ke Anggie dan Rio..

Kenapa gw menyempatkan diri berkali-kali mengirim pesan ke si Item, itu karena gw sedikit merasa cemas jikalau ia akan benar-benar melakukan ancamannya tadi pagi.. Asli! Kalo Rio nekat bilang ke Teh Yuyun soal ancamannya, gw bakal bikin perhitungan sama dia.. Tapi, sialnya.. Si Item cuma membaca pesan WA gw saja tanpa membalas.. Melihat hal tersebut, gw berasa kian gerah melihat tingkah lakunya.. Baru saja gw ingin mem’video call ke nomor Rio, tiba-tiba panggilan video call via WA dari Anggie terpampang dilayar HP..

Dengan cepat, gw angkat panggilan video itu meski posisi masih rebah diatas tempat tidur.. Untuk beberapa saat, wajah Anggie nampak tidak jelas karena bergoyang-goyang..

“Halo! Yank..” Ucap gw sambil terus menatap ke arah Hp yang belum fokus benar gambarnya..

“Eeh, salam nya mana, Beb?” Sahut Anggie yang wajahnya nampak dilapisi bedak kuning..

“Loh, kan kamu yang VC aku ga pake salam, Yank?”

“Iiih, kan kamu yang angkat duluan.. Harus nya kamu yang ucapin salam, Beb” Sanggah Anggie tak mau mengalah..

“Iya, iya.. Assalammualaikum, Sayank” Jawab gw dengan sengaja mendekatkan layar Hp ke mulut..

Bukannya menjawab, suara Anggie dan beberapa cewe lain malah terdengar tertawa dari HP yang gambarnya terus bergoyang.. Namun gw sempat mengerutkan dahi, begitu gambar di layar Hp Anggie terhenti di wajah seseorang dibelakangnya yang nampak tak asing..

“Itu Singgih..” Ucap gw dalam hati, sambil berusaha bangkit untuk duduk bersandar di sandaran tempat tidur..

“Waalaikumsalam, Bebeb ku yang ganteng” Jawab Anggie sambil sesekali tertawa..

“Yank, kamu lagi ngapain sih? Itu di belakang kamu siapa?” Tanya gw karena penasaran dan takut salah lihat akan munculnya wajah Singgih..

“Itu Singgih, Beb.. Aku lagi luluran di temenin dia.. Kamu tahu, dia salah satu keturunan Prabu Siliwangi kek aku” Jawab Anggie yang membuat gw tertegun..

"Damn! Kenapa Singgih nemuin Anggie sih? Apa ini ada hubungannya sama rencana Sekar yang mo selesain masalahnya dengan Nyi Mas Roro Suwastri?" Tanya gw dalam hati dengan diiringi rasa was-was..
Diubah oleh juraganpengki 05-06-2018 01:00
jenggalasunyi
sampeuk
dodolgarut134
dodolgarut134 dan 12 lainnya memberi reputasi
13
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.