Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
195
Lapor Hansip
02-06-2018 23:01

SULAKSMI

SULAKSMI



PROLOG




“ semoga ini awal yang baik untuk karir gw dalam berwiraswasta...”
yaa...itulah sepenggal kalimat kebahagian yang terucap dari mulut bagus disaat sebuah berita baik terucap dari mulut bapak dan mamah, keinginan bagus untuk mempunyai sebuah usaha sendiri selepas masa perkuliahannya, kini mulai terwujud seiring dengan keinginan mamah yang menginginkan bagus untuk mengelola sebuah rumah yang merupakan rumah peninggalan dari orang tua mamah dan telah lama terbengkalai
kini bersama ketiga sahabat baiknya, bagus berusaha mewujudkan mimpinya itu menjadi sebuah kenyataan, seiring dengan berjalannnya waktu, akan kah semua usaha bagus itu akan membuahkan hasil yang memuaskan, atau kah ada sisi lain dari rumah tersebut yang bagus tidak ketahui dan akan menjadi penghambat usaha bagus untuk mewujudkan mimpinya tersebut....

Note :

* dilarang copy paste tanpa seizin penulis
* apa yang ane tuliskan hanyalah sebuah bentuk karya seni tanpa memperdebatkan nyata/fiksi
* update disesuaikan dengan RL penulis


terima kasih & selamat membaca emoticon-coffee
@meta.morfosis

Chapter demi chapter :
Chapter 1
Chapter 2
Chapter 3
Chapter 4
Chapter 5
Chapter 6
Chapter 7
Chapter 8
Chapter 9
Chapter 10
Chapter 11
Chapter 12
Chapter 13
Chapter 14
Chapter 15
Chapter 16
Chapter 17
Chapter 18
EPILOG


Diubah oleh meta.morfosis
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bukhorigan dan 34 lainnya memberi reputasi
35
Masuk untuk memberikan balasan
SULAKSMI
04-06-2018 12:40
Chapter 3




tepat tiga bulan setelah kunjungan gw ke rumah peninggalan orang tua mamah yang akan menjadi modal awal gw untuk merintis sebuah cita cita berwiraswasta, gw pun menghubungi iyan, doni dan sella untuk memberitahukan rencana gw untuk membuka sebuah usaha penginapan, dan sepertinya mereka menyambut gembira kabar baik yang gw berikan ini
“ itu baru berita baik gus....” ujar doni sambil menghisap rokok putihnya, terlihat sella menepiskan asap yang bermain main di wajahnya dengan telapak tangan
“ iya gus, sebulan ini gw udah nyaris putus asa...karena belum ada satu pun perusahaan yang memanggil gw, sedangkan surat lamaran yang gw kirimkan sudah cukup banyak....” seloroh iyan yang berbalas tawa doni dan sella
“ kalau gw sih kemarin mendapatkan panggilan kerja, tapi panggilan kerja tipu tipu.....!” wajah sella terlihat kesal ketika mengatakan kalimat itu
“ tipu tipu bagaimana sel...?” tanya iyan mencoba menahan tawanya
“ ya tipu tipu gitu deh, masa iya gw lulusan sarjana disuruh para penipu itu untuk jualan panci sayur plus membayarkan biaya tetek bengek enggak jelas kepada mereka....” mendengar perkataan vina, keinginan untuk tertawa yang semenjak tadi telah gw tahan kini tidak bisa lagi untuk gw tahan, tampak iyan dan doni pun tertawa lepas diatas penderitaan yang telah sella alami
“ lahhh terus bagaimana sel...lu jadi jualan panci dong...” canda doni yang berbalas cemberut di wajah sella
“ ihhh brengsek....lu kira gw bodoh ya don...” ucap sella sambil melempar sandal yang dikenakannya ke arah doni
“ sudah...sudah....jadi bagaimana dengan rencana gw itu, kalian tertarik apa enggak....” tanya gw mencoba mencari kepastian jawaban dari doni, iyan dan sella, tampak iyan, doni dan sella saling bertukar pandang
“ kalau gw sih gus...seratus persen jawaban gw pasti tertarik, gw ikut gabung sama lu...” jawab doni dengan yakinnya
“ gw juga gus....” ucap iyan, kini tinggalah sella yang belum menentukan arah langkah hidupnya
“ lu bagaimana sel....?” tanya gw begitu melihat sella yang masih terdiam berpikir
“ ya udah deh, gw ikut gabung juga....” jawab sella setelah beberapa saat terdiam, tampak doni dan iyan tersenyum dan saling mencuri pandang
“ pilihan yang bijak sel, memang enggak mudah menentukan pilihan menjadi penjual panci dengan menjadi pengusaha...” gurau iyan yang memancing tawa gw dan doni, tampak sella terlihat begitu kesal
“ ahhh...dasar brengsek lu yan....” sungut sella seraya mengembangkan senyumnya
“ jadi gus, kapan rencananya lu mau mengajak kita kita ini ke rumah lu itu...?” tanya doni dengan penuh semangat
“ sebenarnya kalau gw sih sudah tiga kali kesana, mengecek apa apa yang harus di renovasi sekaligus mengantarkan bapak mengurus surat izin....”
“ wahhh sial lu gus....jadi selama ini lu punya proyek bagus tapi enggak ngajak ngajak kita....” sungut iyan dalam canda
“ dan mudah mudahan, akhir bulan ini gw akan mulai untuk merenovasi rumah itu, disaat itulah gw akan mulai menetap disana....jadi bagaimana, kalian mau ikut apa enggak....”
“ siap gus...siap....” ucap iyan dan doni hampir serempak, terlihat sella terdiam beberapa saat, sepertinya ada sesuatu yang tengah dipikirkannya
“ gimana sel.....?” tanya gw seraya menatap sella
“ oke, gw juga siap....tapi gw harus minta izin orang tua gw dulu, karena orang tua gw pasti enggak akan melepaskan gw begitu aja ke sarang penyamun.....” canda sella yang berbalas gelak tawa kami
tepat satu bulan berlalu dari perbincangan itu, hari yang dinanti nantikan itupun akhirnya tiba, dengan berbekal dua buah tas yang cukup besar, doni dan iyan tiba di rumah gw dengan wajah yang ceria
“ koq sella belum muncul juga ya gus....?” tanya iyan sambil melihat jam tangannya yang sudah menunjukan pukul sembilan pagi
“ tenang, sella pasti ikut....tadi dia udah menghubungi gw, katanya sih datang agak telat....” jawab gw mencoba menghilangkan kekhawatiran iyan, terlihat doni menghirup segelas kopi hitam yang telah disediakan oleh mbok ida
“ sebenarnya nanti apa yang mau di renovasi dulu gus....?” tanya doni penuh keingintahuan
“ enggak banyak don, hanya mengecet ulang rumah, mengganti langit langit rumah yang rusak....intinya semuanya itu hanya pembetulan yang enggak memerlukan waktu yang lama, mungkin seminggu sudah selesai...” terang gw yang berbalas anggukan kepala doni dan iyan
“ lalu tugas kita selama mereka merenov itu apa gus, masa cuma jadi mandor aja....” tanya doni kembali
“ ya enggaklah don...nanti lu bisa lihat sendiri deh apa yang harus lu lakukan disana.....” seiring jawaban yang terucap dari mulut gw, terlihat mamah keluar dari dalam rumah berserta vina
“ ehh tante...vina.....” sapa doni dan iyan, mendapati sapaan dari iyan tampak mamah dan vina mengembangkan senyumnya, tatapan mata mamah terlihat menatap dua buah tas besar milik doni dan iyan yang berada di lantai
“ wahhh...sepertinya kalian udah siap nih....” ujar mamah yang berbalas tawa kecil vina
“ sangat siap tante....ya siapa tahu kami bisa membantu bagus jadi pengusaha sukses....” canda iyan seraya memamerkan senyum manisnya ke arah vina
“ amin...tante doakan usaha yang akan kalian rintis itu sukses, yang penting kalian harus mau kerja keras....” ucapan mamah yang terkesan ringan itu sepertinya sarat dengan petuah bijak, memang benar apa yang telah dikatakan mamah itu, tanpa bekerja keras, jangan pernah bermimpi kami bisa merubah nasib kami ini menjadi lebih baik
“ ohh iya gus, pukul berapa rencananya kalian akan berangkat....?” tanya mamah seraya melihat mang rohim yang tengah memanaskan mobil yang akan gw gunakan
“ sebentar lagi mah, ini bagus masih menunggu sella dulu.....”
“ ya udah...kalau begitu mamah ke dalam dulu.....” seiring mamah dan vina yang berjalan memasuki rumah, terlihat iyan kembali memberikan senyumnya kepada vina dan berbalas dengan cibiran vina, mendapati hal tersebut tampak doni melepaskan tawa lepasnya
“ sok kegantengan lu yan....sadar yan...itu adik calon bos kita....” canda doni sambil mengeluarkan sebungkus rokok dari saku celananya, kini sebatang rokok mulai tersulutkan di bibirnya
“ gw bingung gus....” ucap iyan dengan menunjukan ekspresi rasa heran
“ bingung kenapa...?”
“ nyokap sama adik lu itu seperti adik kakak, memangnya umur nyokap lu berapa tahun sih...?” seiring perkataan iyan yang telah berakhir, terlihat doni memberikan isyarat kepada iyan agar memelankan suaranya
“ kalau enggak salah, nyumur nyokap gw itu hanya beda setahun dengan bokap gw.....” jawab gw yang berbalas rasa kagum di wajah doni dan iyan
“ waduhh...berarti nyokap lu awet muda gus, boleh bagi bagi tuh resepnya...” ujar iyan
“ iya gus, nyokap lu awet muda....jangan jangan beberapa tahun ke depan, wajah lu itu bisa lebih tua dibandingkan dengan nyokap lu....” canda doni yang berbalas gelak tawa, seiring candaan doni tersebut, kini terlihat sella telah hadir di rumah, sebuah tas besar yang ada di genggaman tangannya seperti memberikan isyarat bahwa dia sudah siap untuk merantau beberapa hari lamanya demi sesuap nasi
sesuai dengan waktu yang telah direncanakan walaupun itu meleset beberapa menit, gw dan kawan kawan akhirnya berpamitan kepada mamah dan vina, beberapa wejangan yang menjadi bekal kami untuk berwiraswasta terucap dari mulut mamah
“ mah...salam untuk bapak, tadi sih bagus sudah menelpon bapak....”
“ iya gus....hati hati kalian di jalan....” ucap mamah sebelum mobil yang doni kendarai mulai beranjak keluar dari halaman rumah
kondisi jalan yang tidak terlalu ramai serta kecakapan doni dalam mengendarai laju mobil, kini telah mengantarkan kami tiba satu jam lebih awal dari yang telah direncanakan, sebelum mencapai rumah, kami terlebih dahulu mampir ke sebuah warung yang menjual barang barang keperluan rumah tangga
“ ini rumahnya gus....?” tanya doni dengan rasa kagum, ekspresi kagum juga terlihat jelas di wajah iyan dan sella
“ wahhh...berarti nyokap lu itu berasal dari keluarga kaya gus....” ujar iyan dengan tatapan yang tidak lepas dari memandang rumah beserta halamannya yang luas
“ sepertinya nyokap gw memang orang kaya, gw juga enggak begitu tau sih....” ucap gw sambil menuruni mobil, seiring dengan tangan gw yang mulai membuka gembok pagar rumah, terlihat sebuah sepeda motor berjalan menghampiri kami, seorang lelaki dengan perawakan tubuhnya yang gemuk melepaskan helm yang dikenakannya
“ ahhh kang bagus, saya panggil panggil di persimpangan jalan sana tapi enggak dengar...” ucap lelaki tersebut seraya berjalan menghampiri
“ waduhh maaf mang edo, saya benar benar enggak dengar...” seiring percakapan gw dengan mang edo, tampak doni, iyan dan sella memperhatikannya dari dalam mobil
“ heehh...koq bukannya pada keluar....!” yang berbalas doni, iyan dan sella keluar dari dalam mobil
“ kenalkan ini mang edo....dia yang akan membantu kita mengelola penginapan ini....” ucap gw mengenalkan mang edo, seorang lelaki berusia empat puluh lima tahun yang gw temukan sewaktu gw menemani bapak mengurus perizinan, tampak iyan, doni dan sella menyalami mang edo
“ mang edo ini warga asli kampung ini, jadi kalau ada yang mau bertanya tanya tentang kampung ini, nanti bisa menanyakannya ke mang edo....” tampak doni, iyan dan sella menganggukan kepalanya, kini kunci rumah yang sedari tadi gw pegang telah berpindah tangan ke tangan mang edo, terlihat mang edo membuka pintu gerbang pagar
“ kang doni, biar saya saja yang memasukan mobilnya...” ucap mang edo begitu melihat doni hendak menaiki mobil, dengan menganggukan kepala, kini doni menyerahkan kunci mobil kepada mang edo
hampir setengah jam lamanya gw bersama dengan doni, iyan dan seala menjelajahi setiap sudut rumah, halaman hingga bekas kebun yang terbengkalai, sesekali nampak sella mencatatkan sesuatu di buku kecilnya dan sepertinya itu adalah catatan sella mengenai target apa saja yang harus dikerjakan setelah proses renovasi rumah ini selesai
“ bagaimana sel...?” tanya gw begitu melihat sella kembali menuliskan sesuatu di buku kecilnya, hamparan ilalang yang telah nampak merimbun di berbagai tempat sudut kebun serta tanaman rambat liar yang menutupi pagar kebun sepertinya telah menjadi catatan tersendiri bagi sella, tampak kini iyan memperhatikan beberapa batang anyaman bambu yang kini telah termakan oleh usia
“ sepertinya kita harus merapihkan dan membersihkan kebun ini gus.....” ujar sella seraya menunjukan beberapa titik di sudut kebun dengan tanaman liar yang nampak merimbun dan meninggi
“ iya gus, ditambah lagi kita harus mengganti bambu bambu ini, sepertinya dulu bambu bambu ini digunakan sebagai penunjang tanaman di kebun ini....” ucap iyan menimpali perkataan sella
“ nahh itu maksud gw...sekarang udah tahu kan tugas yang harus kita lakukan disaat para tukang itu merenovasi rumah ini.....” mendengar perkataan gw terlihat doni menggeleng gelengkan kepalanya
“ belum jadi pengusaha sukses aja otak lu udah cerdas gus....sepertinya bakal susah buat menipu lu kalau nanti lu beneran udah jadi pengusaha.....” kelakar doni yang berbalas gelak tawa, untuk sejenak gw kembali mengamati keadaan kebun, berbagai rencana yang akan gw kerjakan kini telah tertanam di otak ini
“ jadi kapan rencananya para tukang tukang itu akan mulai bekerja gus.....?” tanya iyan sambil mematahkan sebuah bambu yang telah rusak
“ besok...” jawab gw singkat
“ lahhh...terus mulai malam ini kita akan tidur dimana....?” tanya sella penuh kebingungan
“ itulah gunanya sapu, tikar dan kain sarung yang gw beli.....” ujar gw yang berbalas kebingungan di wajah sella, doni dan iyan
“ maksud lu apaan gus...?” tanya sella kembali
“ ya mikirlah sel, masa kita harus cari hotel....untuk malam ini dan selanjutnya sampai dengan renovasi ini selesai, kita tidur bersama sama di ruangan yang ada di lantai utama....”
“ waduhh...maksud lu, gw harus tidur bercampur dengan lu semua....?” protes sella dengan penuh kekesalan
“ ya itu sih terserah lu sel....atau lu mau pilih tidur di kamar sendiri, silahkan di pikir pikir dulu deh, lagian siapa juga sih yang mau berbuat jahat sama lu.....” ucap gw sambil mengembangkan senyum, ayunan langkah kaki gw yang memasuki rumah kini mengiringi cahaya senja yang mulai datang

profile-picture
profile-picture
profile-picture
indrag057 dan 13 lainnya memberi reputasi
14 0
14
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
denting-waktu-dalam-ruang-sepi
Stories from the Heart
tenung-based-on-true-story
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Heart to Heart
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia