Kaskus

Story

juraganpengkiAvatar border
TS
juraganpengki
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)

GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)
Cool Cover By Agan Linbara (Thanks, Bree)..

Prolog

Setelah bangun dari ‘Mati Suri’ karena memutuskan untuk mencoba membunuh diri sendiri untuk melindungi Kitab Langit dan melenyapkan Bayu Ambar, gw kembali ke dunia nyata.. Kehidupan gw sedikit jauh berbeda, karena pengalaman ‘Mati Suri’ itu berefek langsung pada kelebihan yang gw miliki.. Gw masih sama Anggie, meski ujian atas cinta kami masih saja mendera.. Ada musuh baru, tentu saja.. Tapi ada juga sahabat baru yang muncul.. Karena ini akhir dari cerita kami berempat..

Kembalinya Anak Ibu...
Pengorbanan Pedang Jagat Samudera...
Cintai Aku Sewajarnya, Yank...
Matinya Seorang Saudara (Versi Gw/Bimo)
Berkumpul Kembali...
Keanehan Yang Mulai Muncul...
Sambutan Ketiga Saudara Ke Reinata...
Sabar???
Cukup! Tinggalin Aku Sendiri!!!
Siapa Kau???
Aku Ikutin Kemauan Kamu...
Keputusan Sepihak Yang Pahit...
Semua Beban Menjadi satu
Semua Beban Menjadi Satu (2)...
Serangkum Rindu Untuk Ayah...
Munculnya Penguasa Laut Utara...
Bertemunya Dua Penguasa...
Sebuah Kesepakatan...
Ibu Kenapa Yah???
Lu Kenapa, Ka???
Wanted Dead Or Alive.. ANTON!!!
Mo 'Perabotan' Lu Hancur Apa Tanggung Jawab???
It's The End Of Us...
Di Kerjain Ibu...
Ridho!!!
Kelewatan!!!
Munculnya Dua Penjaga Gerbang Kerajaan Laut...
Dewi Arum Kesuma VS Dewi Ayu Anjani
Datangnya Sosok Seorang Pemisah Dan Shock Therapy Buat Gw...
Kerajaan Jin...
Terkuaknya Semua Jawaban...
Maafin Gw, Bree...
Pengakuan Suluh...
Akhirnya Boleh Gondrong...
Pernikahan Kak Silvi Yang Seharusnya Membuat Gw Bahagia...
Pernikahan Kak Silvi Yang seharusnya Membuat Gw Bahagia (2)...
Tunggu Pembalasan Gw!!!...
Ni Mas Linduri dan Banas Ireng...
Dua Sosok Penyelamat Misterius...
Ada Apa Sama Ridho?...
Kesalahan Fatal...
Kembalinya Jin Penjaga Ridho dan Suluh...
Akibat Terlalu Ikut Campur...
Setiap Perbuatan Akan Mendapat Balasan...
Munculnya Viny Dan Sebuah Tantangan Bertarung...
Manusia Cabul...
Suara Penolong Misterius...
Bertemunya Kembali Sepasang Kekasih...
Terkuaknya Kebenaran...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar (2)...
Jaket Dan Celana Jeans Robek Serta Sweater Hitam Kumal...
She's My True Love...
Dilema...
Pertengkaran Dengan Ibu...
Rambe Lantak...
Gendewa Panah Pramesti...
Akan Ku Balaskan Dendam Mu, Arum Kesuma!!!
Yang Hilang dan Yang Kembali...
Jawaban Ayu...
Mati Gw!!!
Aku Makin Sayang...
Nasihat Om Hendra...
Jera Mencuri...
Ajian Segoro Geni...
Pilihan Sulit...
Keputusasaan Anggie...
Kabar Baik dari Ridho dan Suluh...
Perjalanan Menuju Pembalasan Dendam...
Rawa Rontek...
Rawa Rontek 2 (Terbayarnya Dendam)...
Kedatangan Pak Sugi...
Orang Titipan...
Hukuman Paling Berat...
Tidurlah Di Pangkuan Ku...
Menjajal Kesaktian...
Menjajal Kesaktian (2)...
Pengakuan Mengejutkan Babeh Misar...
Pengajaran Ilmu Silat Betawi...
Di Kepret Babeh Misar Lagi...
Tasya...
Naga Caglak dan Bajing Item...
Misteri Sebuah Dendam...
Kekuatan Sejati Kitab Langit Bagian Matahari...
Perpisahan...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera (2)...
Kembalinya Ibu...
Empat Bayangan Hitam...
Siapa Ni Mas Laras Rangkuti???
Dendam Seorang Sahabat...
Ini Keputusan Yang Harus Gw Ambil...
Semua Pengorbanan Ini Demi Ibu...
Rapuh...
Kabar Mengejutkan Sekar dan Sebuah Restu...
Siasat Braja Krama...
Munculnya Kitab Langit...
Si Pembuka Kitab langit dan Sosok Asli Pak Sugi...
Rencana Yang Matang...
Lamaran Pribadi...
Keingintahuan Anggie...
Perubahan Rencana...
Hampir Terjebak...
Kekecewaan Sekar...
Dua Syarat Reinata...
Aku Harap Kamu dan Anggie Bahagia, Mam...
Rahasia Sepasang Suami Isteri...
Menitipkan Amanah...
Berkumpulnya Para Pembela Kitab Langit...
Siasat Ki Purwagalih...
Raja Jin Raja Muslihat (Nyesek, Bree)...
Pertukaran Tawanan...
Perang Gaib PunTak Terelakkan...
Sang Penyelamat Dari Utara...
Pertempuran Awal Dua Penguasa Kerajaan Gaib...
Bertekuk Lututnya Sekutu Braja Krama...
Pertarungan Dua Putera (Gugurnya Satu Sahabat Gaib)...
Krama Raja...
Braja Krama Versus Krama Raja...
Raja Licik...
Aku Lah Sang Pembuka...
Siasat Krama Raja dan Bayu Ambar...
Terbukanya Semua Ilmu Terlarang...
Sebuah Pengecualian...
Sri Baduga Maharaja...
Hilangnya Sebuah Pengecualian...
Hilangnya Sebuah Pengecualian (2)...
Sebuah Pengorbanan...
Pahlawan...
Sumpah...
Ilmu Pamungkas yang Terlarang...
Kabar Yang Mengejutkan...
Pulang...
Pulang (2)...
Sedikit Kisah Rio Sebelum Kisah Ini Tamat...
Terhalang Sumpah...
Bantuan Sahabat Baik...
Bachelor Party...
Keturunan Lain Sang Prabu...
Pembalasan Dendam Singgih...
Sepenggal Kisah Nyi Mas Roro Suwastri...
Tawaran Yang Mengejutkan...
Lawan Atau Kawan???
Terkuaknya Silsilah...
Sebuah Kebenaran...
Sebuah Kebenaran (2)...
Bertemunya Dua Keturunan Sang Prabu...
Pertempuran Dua Hati...
Cinta Pertama VS Cinta Terakhir Jagat Tirta...
Pengakuan Bayu Barata...
Ki Larang dan Nyi Mas Galuh Pandita???
Prana Kusuma...
Kau Benar Keturunan Kami, Ngger...
Our Big Day...
Insiden...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga (2)...
Dua Tamu Istimewa...
Semua Karena Cinta...
Keputusan Sekar Kencana...
Kena Gampar...
Bonyok!!!
RIBET!!!
Berdamai...
Keponakan Baru...
Malam Pertama dan Tiga Keanehan...
Ajian Warisan Para Leluhur (The Last Part/End Of All Chapters)

SIDE STORIES

Keturunan Yang Tersesat...
Keturunan Yang Tersesat (2)...

Diubah oleh juraganpengki 15-07-2018 20:23
devanpancaAvatar border
iskrimAvatar border
adriantzAvatar border
adriantz dan 133 lainnya memberi reputasi
128
2.1M
8K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread53.7KAnggota
Tampilkan semua post
juraganpengkiAvatar border
TS
juraganpengki
#6813
Sebuah Kebenaran (2)

“Kau boleh membuka mulut jika memang ingin bertanya, Ngger” Kata sosok Kakek Tua misterius yang membuat gw merasa jauh lebih lega..

Akhirnya kesempatan untuk mengutarakan segala beban tanya dalam benak, gw dapatkan juga.. Setelah selama ini diri terasa tidak bebas dan terkungkung dalam ancaman Kakek Tua tersebut..

“Mengapa semua yang terjadi pada Sekar Kencana, Jagat Tirta dan Bayu Barata sama sekali tidak sesuai dengan kenyataan yang selama ini aku ketahui, Eyang? Dan jika memang benar, mereka bertiga selamat dari kematian, siapa sosok yang menyelamatkan?” Kata gw yang langsung mengajukan dua pertanyaan sekaligus..

Sosok Kakek Tua yang masih belum menyebutkan namanya itu, mengulum senyuman untuk sesaat.. Lalu menggerakkan kembali dua tangannya dengan pola berputar berlawanan arah.. Seketika, tiga gambar hidup yang terasa sangat nyata di hadapan kami, berubah gelap dan hilang tak lama kemudian..

“Yang menyelamatkan mereka dari kematian, tak lain adalah aku sendiri yaitu Ki Larang”

Sontak kedua mata gw terbelalak mendengar pengakuan sosok Kakek Tua asing yang menyebut dirinya sebagai Ki Larang..

“Tapi?” Tanya gw tertahan sambil terus mengamati secara seksama wujud sosok renta yang sedang melayang berdiri di samping..

“Tidak perlu heran.. Aku mampu merubah wujud menjadi apapun atau siapapun sekehendak hati, kecuali meniru sosok-sosok manusia suci utusan Illahi ataupun Waliyullah.. Tapi, dari sekian banyak wujud yang bisa ku tiru, kesukaan ku hanya sosok Kakek Tua dan Macan Kumbang.. Sedangkan sosok tampan yang kau lihat membawa pergi Prana Kusuma, putera Roro Suwastri, itu adalah wujud asli ku” Terang Ki Larang dengan selalu di iringi senyuman ramah dari wajah nya yang di penuhi keriput..

Gw tertegun mendengar penjelasan sosok Gaib yang akan menjadi Jin Penjaga Calon putera gw nantinya.. Tak disangka sama sekali, jika Kakek Tua renta yang tadi sempat memukul kepala gw dari belakang adalah wujud lain dari Ki Larang..

“Aku mendapatkan perintah dari Sang Baginda untuk menyelamatkan nyawa Sekar Kencana, Jagat Tirta dan Bayu Barata di waktu dan tempat berbeda.. Semua harus ku lakukan, karena Sang Baginda mendapat wangsit bahwa tiga sosok yang harus aku selamatkan nyawa nya itu, akan membawa peran penting dari sebuah peristiwa besar di masa ratusan tahun yang akan datang.. Sementara Sang Baginda menemui Ki Suta Dewa untuk membicarakan hal tersebut, aku menyuruh Sekar Kencana, Jagat Tirta dan Bayu Barata untuk melakukan tapa brata agar moksa menjadi bangsa Jin”

“Tapi, mengapa mereka semua sama sekali tidak mengetahui akan hal itu, Ki? Bahkan tiap sosok gaib yang aku kenal, meyakini bahwa Sekar Kencana, Jagat Tirta dan Bayu Barata memang telah tewas.. Termasuk Ki Suta juga mengakui hal sama”

Sosok Ki Larang sempat tertawa kecil melihat gurat penasaran yang nampak jelas terpancar dari wajah gw..

“Apakah selama ini kau mengira bahwa ketiga sosok yang kau kenal itu adalah arwah penasaran yang menjelma menjadi Jin, lalu kembali ke alam kasar?”

Mendengar pertanyaan Ki Larang, gw hanya bisa terdiam.. Gw sempat teringat beberapa pertanyaan reader, tentang asal mula Sekar Kencana dan Bayu Barata menjadi Jin dan munculnya kembali Jagat Tirta untuk menyelamatkan isterinya.. Jujur untuk menjawab pertanyaan itu, gw memang tak mampu.. Karena di cerita awal, sesuai yang selama ini gw ketahui, baik Sekar Kencana, Jagat Tirta dan Bayu Barata memang telah tewas terbunuh walau dengan cara, waktu serta tempat berbeda..

“Sudahlah, aku tidak membutuhkan jawaban mu.. Sekarang, dengarkan baik-baik penuturan ku selanjutnya” Kata Ki Larang..

Gw melempar pandangan menatap wajah tua sosok kurus bertelanjang dada yang masih melayang berdiri..

“Setelah ketiga anak manusia yang seharusnya terbunuh dengan cara keji itu menyelesaikan laku tapa moksa dan menjelma menjadi Jin seutuhnya, aku menggunakan Ajian Puter Angen pada mereka di tingkat yang tidak akan mampu dilakukan mahluk lain, selain aku dan Sang Baginda sendiri.. Aku memilih-milih ingatan apa saja yang harus dihilangkan dari benak Sekar Kencana, Jagat Tirta dan Bayu Barata.. Sesuai perintah Sang Prabu, aku menghapus ingatan tentang penyelamatan diri mereka dan bagaimana ketiga anak manusia itu bisa menjelma menjadi Jin.. Aku juga memasukkan beberapa ingatan tiruan ke dalam isi kepala kedua Jin Penjaga mu dan Jagat Tirta.. Bahkan, Sang Baginda juga melakukan hal sama ke Almarhum Ki Sabdo dan Ki Suta Dewa yang waktu itu sudah moksa pula bersama keempat tokoh yang nantinya akan menjaga Empat Penjaga Gerbang Gaib”

Gw tertegun mendengar penuturan panjang Ki Larang.. Sama sekali tidak gw sangka sebelumnya, ternyata sosok Sri Baduga Maharaja dan Ki Larang ada dibalik semua ini.. Pantas saja Sekar Kencana, Jagat Tirta dan Bayu Barata tidak mengingat bagaimana sebenarnya mereka bisa menjelma menjadi Jin.. Semua itu terjadi karena Ajian Puter Angen milik Ki Larang..

“Tapi, Ki.. Mengapa diawal kemunculan Sekar Kencana dalam hidupku, aura nya terasa gelap dan jahat? Bahkan ia sempat bertarung bersama Ki Suta pula waktu itu” Tanya gw saat ingatan ini kembali ke masa di awal kemunculan Sekar Kencana..

“Sesakti apapun Sang Baginda junjungan ku dan diriku sendiri, tetap saja kami adalah mahluk lemah ciptaan Illahi.. Bahkan Ajian Puter Angen yang kumiliki pun mempunyai kelemahan.. Jadi, selepas Sekar Kencana, Jagat Tirta dan Bayu Barata telah menjelma menjadi Jin, aku memisahkan mereka di tiga tempat berbeda.. Aku membawa Sekar Kencana dan Jagat Tirta ke dua gunung berbeda, Ngger.. Sementara, Bayu Barata ku titipkan ke Ki Sabdo guna menimba ilmu kanuragan lebih dalam.. Mengapa Sekar Kencana sempat terkenal sebagai salah satu golongan jin hitam yang beraura gelap dan jahat yang kalian sebut Kolong Wewe atau Wewe Gombel? Semua itu karena dendam kesumat Sekar kencana ke Nilam Segara, sebab aku tidak menghilangkan ingatan tentang kematian anaknya.. Selanjutnya, Sekar Kencana melarikan diri dari pengawasan ku untuk membalaskan dendam ke Nilam Segara.. Sesungguhnya, aku bisa saja dengan mudah menemukan Sekar Kencana, namun Sang Baginda melarang.. Sebab, Beliau mengatakan bahwa pergi nya Sekar Kencana terkait dengan kemunculan empat pemuda keturunan Ki Suta Dewa, yang suatu hari nanti akan mengalahkan angkara murka”

Gw menundukkan kepala mendengar perkataan Ki Larang yang masih menjelma menjadi sosok Kakek Tua bertubuh kurus kering.. Yang Beliau maksud akan empat pemuda keturunan Ki Suta, tentu lah gw bersama ketiga saudara.. Masih ada dua hal sebenarnya yang mengganjal dalam batin, yakni tentang keberadaan Jagat Tirta selama ini dan alasan di balik tindakan Ki Larang yang telah menguak semua kebenaran ke gw.. Melihat sosok Ki Larang mengulum senyuman, gw berasumsi bahwa Kakek Tua itu sudah mengetahui dua pertanyaan yang mengisi kepala ini..

“Sebenarnya, Jagat Tirta sudah mengetahui akan Ajian Puter Angen yang telah ku gunakan sebagai penghapus sebagian ingatannya, Ngger.. Pada mulanya, Jagat Tirta hendak pergi dari tempat yang dipilihkan Sang Prabu untuknya menutup diri dari dunia luar.. Namun, Jagat Tirta tetap bersikeras.. Terlebih saat mengetahui kau dan Sekar Kencana sedang dalam keadaan terancam.. Akhirnya, dengan sangat bijaksana Sang Baginda memberikan sedikit kelonggaran untuk Jagat Tirta.. Beliau mengizinkan ia untuk pergi ke alam kasar, jika keadaan kalian sedang membutuhkan pertolongan” Ucap Ki Larang yang telah menjawab pertanyaan pertama gw, meski belum terlisankan..

“Maaf, Eyang..”

“Jangan panggil aku Eyang, Ngger.. Aku lebih berkenan mendengar mu memanggilku dengan sebutan Ki saja” Potong Ki Larang yang membuat gw menganggukkan kepala..

“Baik Ki.. Tapi maaf, terus terang, ada satu lagi pertanyaan yang masih bergelayut dalam benakku ini” Ucap gw dengan menatap segan ke wajah sosok Kakek Tua tersebut..

“Aku sudah mengetahuinya, Ngger.. Sebenarnya, aku tidak memiliki jawaban atas pertanyaan mu itu.. Aku hanya menjalan kan tugas yang diberikan Junjungan ku.. Beliau yang memberikan ku perintah untuk membuka semua kebenaran sebelum dirimu dan gadis keturunan nya terikat oleh tali suci pernikahan.. Jadi, alasan yang ada dibalik semua ini, hanya Sang Baginda saja yang mengetahuinya”

Gw menghela nafas mendengar jawaban Ki Larang.. Meski sedikit ada rasa kecewa, namun terpaksa gw pendam.. Karena memang gw menyadari bahwa tidak akan mungkin gw menanyakan hal tersebut ke salah satu sosok paling disegani di seantero Tanah Pasundan.. Gw malah merasa sangat beruntung, karena segala pertanyaan yang selama ini selalu muncul dalam benak, pada akhirnya telah terjawab juga..

“Ada satu lagi amanat yang harus kusampaikan dari Sang Prabu terkait tawaran Krama Raja, Ngger”

Gw yang sedang tertegun sambil mencoba menerka-nerka alasan apa yang membuat Sri Baduga Maharaja memerintahkan Ki Larang untuk membuka semua tabir, langsung mengerutkan dahi seraya melempar pandangan lagi ke sosok Kakek Tua..

“Sang Prabu sudah mengetahui bahwa Pamanda mu itu akan menggelar resepsi pernikahan mu dengan gadis keturunannya di istana nya sendiri.. Beliau melarang mu untuk menerima tawaran Krama Raja.. Karena sebagai manusia, tak patut pernikahan kalian nanti di rayakan pula di alam gaib.. Setelah mengembalikan mu ke tenpat semula, tugas ku selanjutnya adalah menyampaikan kabar ini langsung ke Krama Raja” Terang Ki Larang yang membuat gw sedikit bisa bernafas lega..

Jujur, gw memang tidak berniat untuk menerima tawaran Penguasa Gaib Tanah Pasundan, Pamanda Krama Raja.. Dan, mengetahui Sri Baduga Maharaja tidak mengizinkan, itu merupakan sebuah kabar yang cukup menggembirakan bagi gw..

“Baiklah.. Jika memang tidak ada lagi pertanyaan lain, aku akan segera membawa mu kembali sekarang juga” Kata Ki Larang, sambil menepuk bahu gw satu kali..

Sontak, gw langsung merasa kehilangan tenaga kembali dan hampir jatuh terjerembab di atas tanah yang dipenuhi daun-daun kering.. Tapi, dengan cepat tubuh gw ditangkap oleh Ki Larang.. Lalu, beliau terasa mengusap wajah gw satu kali.. Saat itu juga, seluruh kesadaran gw hilang..

“Raden.. Bangunlah, adzan Subuh sudah berkumandang” Ucap suara Bayu Barata yang terdengar sayup di telinga..

Gw membuka kedua mata dengan perlahan sekali, dan kembali menarik selimut saat melihat wajah samar Bayu Barata ada di samping..

“Raden, apakah kau mau Ibu mu yang datang kesini untuk membangunkan?” Tanya Bayu Barata yang membuat kedua mata gw terpaksa terbuka lebar..

Gw perlahan bangkit dari atas kasur lantai dan duduk bersila sambil mengucek-kucek kedua mata yang masih terasa lengket.. Bayu Barata nampak tersenyum melihat wajah gw yang sedikit kusut..

“Nampaknya kau bermimpi bertemu Ki Larang semalam, Raden? Aku sempat mendengar mu mengigau menyebut-nyebut nama Tuan Panglima dan Ajian Puter Angen”

Untuk sesaat, gw tertegun mendengar pertanyaan Bayu Barata..

“Kau mendengar ku mengigau, Bayu?” Kata gw balas bertanya..

Bayu Barata menganggukkan kepalanya sebagai jawaban..

“Aneh.. Bukannya semalam Ki Larang membawa raga kasar gw pergi dari sini? Terus, mengapa Bayu bisa mendengar gw mengigau? Apa iya, gw tetap tertidur dan Ki Larang datang lewat mimpi?”

Semua pertanyaan yang muncul dalam benak ini langsung lenyap, begitu mendengar suara kunyahan Rio yang masih nampak nyeyak menguasai tempat tidur..

“Apakah kau mau aku yang membangunkan saudara mu, Raden?” Tanya Bayu Barata sambil melirik ke arah Rio..

“Tidak usah, Bayu.. Biar Ibu saja yang membangunkan dia.. Ya sudah, aku mau ambil Wudhu.. Takut nanti Ibu keburu gedor-gedor pintu” Jawab gw yang langsung bangkit berdiri dan berjalan menuju pintu kamar..

Baru saja gw membuka pintu, wajah Ibu yang telah memakai mukena, menyambut diri ini dibaliknya..

“Tumben, Bang.. Ga perlu Ibu gedor-gedor pintu, kamu udah bangun duluan.. Kamu ga ngelakuin macem-macem kan semalem?” Tanya Ibu, dengan tatapan sedikit menyelidik..

“Ya enggak lah, Bu.. Abang cuma karaokean aja semalem.. Sumpah! Abang ga macem-macem”

“Ya sudah.. Ambil Wudhu dulu sana.. Kita Shalat Subuh jamaah aja dirumah.. Udah lama kamu ga imamin Ibu” Ucap wanita yang paling gw cintai di seantero jagat raya, sambil melempar pandangan ke belakang..

Gw tersenyum dan langsung pergi ke kamar mandi.. Setelah mengambil wudhu, gw segera mengganti pakaian dengan baju koko bersih dan kain sarung.. Gw selalu teringat pesan Almarhum Ayah..

“Bang, kalo mau Shalat, usahakan pakaian yang kamu pakai harus yang paling bersih.. Inget loh, Shalat itu kewajiban kita.. Itu bentuk laporan harian kita sebagai umat muslim ke Sang Maha Pencipta langsung.. Kalo mau ketemu cewe, kamu bisa bela-belain serapih mungkin.. Giliran mau ketemu Sang Khaliq, masa baju kamu malah masih bau iler sih, Bang?”

Yup! Begitulah Ayah.. Meski dengan kalimat yang disisipi candaan, namun isi dari tiap nasihat beliau selalu penuh makna.. Jadi kangen Ayah.. #Mewek

“Assalammualaikum Warrahmatullaahi Wabaraqaatuh” Ucap gw memberi salam begitu telah selesai Tasyahud akhir, sambil menengok ke arah kiri dan kanan..

Adik gw Ayu, yang duduk disebelah Ibu, langsung menyambar tangan kanan gw dan mencium punggungnya.. Lalu, dengan cepat, gadis kecil yang sedang beranjak remaja itu segera berdiri dan sedikit berlari menuju kamar, setelah mendengar Hp nya berbunyi..

Gw hanya bisa tersenyum kecil melihat Ibu yang sedang menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Ayu.. Kemudian, dengan sopan gw meraih tangan kanan Ibu dan melakukan hal sama seperti yang dilakukan Ayu barusan..

Ibu sendiri nampak tersenyum sambil memandangi wajah gw.. Lalu, dengan perlahan, beliau menarik kepala gw dan mengecup lembut kening ini.. Kemudian, merebahkan kepala gw dalam pelukannya.. Untuk beberapa saat, gw merasa sangat tenang sekali berada dalam pelukan Ibu.. Hingga, setetes air mata bening jatuh persis di pipi ini..

Gw langsung mengangkat kepala dan memandangi Ibu yang nampak sedang menyeka kedua mata basahnya..

“Ibu kenapa nangis? Abang punya salah yah? Abang bikin Ibu kesel yah?” Tanya gw dengan hati yang mulai diliputi rasa gundah..

Sambil tersenyum, Ibu menggelengkan kepalanya beberapa kali.. Lalu membuka mukena atas dan membiarkan rambut sebahunya tergerai di atas bahu..

“Enggak, sayang.. Kamu ga bikin salah apa-apa koq.. Ibu tadi sempet keingetan Ayah aja.. Beliau pasti bahagia banget kalo bisa lihat kamu nikah, Bang?”

Gw tersenyum mendengar kalimat yang terlontar dari lisan Ibu barusan.. Lalu, dengan lembut gw menyeka air mata Ibu yang kembali mengalir dan merebahkan diri di atas pangkuan beliau

“Abang juga kangen Ayah” Ucap gw sambil memejamkan kedua mata, dan mencoba membayangkan wajah sosok laki-laki yang paling gw kagumi, diatas pangkuan Ibu..

Sejenak, gw dan Ibu sama-sama tenggelam dalam diam.. Dengan sangat lembut, Ibu terus membelai rambut gw diatas pangkuannya..

“Oh iya, Bang.. Hari ini, Ibu, Tante Septi sama calon mamah mertua kamu ada janji ketemuan buat ambil baju kebaya.. Kamu tahu, kebaya kita bertiga samaan loh.. Ibu suka banget warna nya.. Ukurannya pas lagi di badan Ibu” Ucap Ibu, yang nampak sedang mencoba mengusir kesedihan dengan membicarakan hal berbeda..

Gw mengangkat kepala dan kembali duduk bersila dihadapan beliau..

“Masa sih, Bu? Emang warna apa kebaya nya?” Jawab gw, mencoba memancing Ibu agar kembali berbicara dan melupakan kesedihan akan kerinduannya pada Ayah..

Sambil mengulum senyuman manis, gw mendengarkan Ibu yang mulai terpancing dan menceritakan dengan sangat detail tentang seragam kebayanya..

“Yaa Rabb.. Jika hamba bisa memohon, jangan lah kau padamkan salah satu cahaya kehidupan hamba yang saat ini nampak sedang sangat bahagia” Do’a gw dalam hati, melihat Ibu yang sedang bercerita dengan kedua mata berbinar..

Tapi sayang, hal tersebut tak berlangsung lama.. Karena sosok Bayu Barata tiba-tiba muncul dan langsung duduk bersimpuh persis di sebelah..

“Raden, ada hal penting yang aku ingin bicarakan terkait Sekar Kencana dan Roro Suwastri.. Lagipula, jangan lupa, Raden.. Sepupu mu masih tertidur dan belum menunaikan Shalat Subuh” Kata Bayu Barata, yang membuat gw mengerutkan dahi karena heran..

Sempat gw melirik ke arah Bayu Barata yang wajahnya nampak tak sabar untuk menceritakan suatu hal penting.. Namun, fikiran gw terasa bercabang karena Ibu masih saja bercerita panjang lebar.. Dengan berat hati, gw terpaksa mencari jalan agar Ibu bisa teralihkan perhatiannya..

“ASTAGHFIRULLAH!!” Pekik gw yang membuat Ibu tersentak kaget..

‘Kenapa, Bang?” Tanya Ibu, dengan kedua tangan memegangi lengan gw karena saking terkejutnya..

“Rio, Bu.. Abang lupa kalo Rio nginep.. Dia masih tidur dikamar”

“Yaa Allah, Ibu kira ada apaan? Ya udah, Ibu aja yang bangunin” Kata Ibu, sambil bangkit berdiri dan mengangkat kain mukena bagian bawah untuk berjalan..

Bayu Barata yang masih duduk bersimpuh, langsung ikut berdiri bersamaan dengan gw.. Sambil menoleh ke arah Ibu yang sedang berjalan ke kamar, gw bergegas menuju teras guna mendengarkan pembicaraan Bayu Barata..

“Apa yang kau ingin bicarakan, Bayu? ” Tanya gw, yang membuat Bayu Barata langsung menatap dengan wajah sedikit cemas..

“Sekar Kencana baru saja menemui ku di dalam kamar mu, Raden.. Dia berkata, hari ini akan mencari keberadaan sosok Roro Suwastri dan menyelesaikan segala permasalahan mereka berdua.. Aku khawatir, mereka akan terlibat dalam pertarungan”
Diubah oleh juraganpengki 04-06-2018 20:56
jenggalasunyi
sampeuk
dodolgarut134
dodolgarut134 dan 13 lainnya memberi reputasi
14
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.