- Beranda
- Stories from the Heart
Become True (Kakak)
...
TS
riani14
Become True (Kakak)
Quote:
WARNING!!!
DILARANG KERAS!!! MENGCOPY / AKSI PLAGIAT/ SHARE TANPA SEIZIN PENULIS.
JIKA TERJADI, SAYA AKAN MENINDAK TEGAS, TERKAIT DENGAN HAK CIPTA PENULIS.
DILARANG KERAS!!! MENGCOPY / AKSI PLAGIAT/ SHARE TANPA SEIZIN PENULIS.
JIKA TERJADI, SAYA AKAN MENINDAK TEGAS, TERKAIT DENGAN HAK CIPTA PENULIS.
Quote:
Jangan Lupa...tinggalkan jejak berupa KRITIK/ SARAN agan2 dan Sista2.



Dan Jangan Lupa






Dan Jangan Lupa



Quote:
Genre:FIKSI

Quote:

Quote:
INDEX
Part 1
Part 2
Part 3
PART 4
PART 5
PART 6
PART 7
PART 8
PART 9
PART 10
PART 11
PART 12
PART 13
PART 14
PART 15
PART 16
PART 17
PART 18
PART 19
PART 20
PART 21
PART 22
PART 23
PART 24
PART 25
PART 26
PART 27
PART 28
PART 29
PART 30
PART 31
PART 32
PART 33
PART 34
PART 35
PART 36
PART 37
PART 38
PART 39
PART 40 ( revisi )
PART 41
PART 42
PART 43
PART 44
PART 45
PART 46
PART 47
PART 48
PART 49
PART 50
PART 51
PART 52
PART 53
PART 54
PART 55
PART 56
PART 57
PART 58
PART 59
PART 60
PART 61
PART 62
PART 63
PART 64
PART 65
PART 66
PART 67
PART 68
PART 69
PART 70 + extra part
PART 71
PART 72
PART 73
PART 74
PART 75
EPILOG
ADAM MOMENT
Prolog
Barisan antrian mengular mengisi salah satu sisi toko buku besar yang ada di kawasan mall ibu kota. Antrian terjadi bukan tanpa alasan, kehadiran penulis novel bestseller dengan judul fenomenal 'BECOME TRUE' menjadi pemyebabnya.
Penulis berjilbab itu tampak ramah menyapa para pembacanya sambil membubuhkan tanda tangan di novel karyanya yang selalu ludes di buru penggemar. Berbagai komentar manis dan menyenangkan terlontar dari para pembaca setianya yang berasal dari berbagai kalangan dan usia itu.
Ya ampun kak Medina, aslinya cantik banget.
Iya. Ramah banget lagi.
Nggak heran sih dia bisa sesukses sekarang, orangnya baik gitu
Berbagai celotehan itu samar – samar melewati indra pendengarannya, ia tersenyum sekaligus bersyukur atas apa yaang ia raih saat ini.
Tapi...kebahagiaan yang ia dapatkan sekarang terasa kurang lengkap oleh satu hal. Hal paling penting dalam hidupnya, yang pernah ia tinggalkan.Dan saat ia ingin semuanya kembali, ia malah kehilangan segalanya. Ia kehilangan kepercayaan dan senyuman itu. Bahkan ia kehilangan kesempatan untuk sekedar menyampaikan permintaan maaf.
Lamunan tentang masa lalu, tanpa sadar membuatnya menitikkan air mata. Membuat heran para penggemarnya. Sadar jadi pusat perhatian, lekas ia mengusap air mata yang turut jatuh membasahi buku yang seharusnya ia tanda tangani itu.
" Jangan sedih. Dia nggak pernah ninggalin kamu."
Suara berat seseorang yang sudah lama tidak pernah menyapanya, sontak membuat gadis berlesung pipi ini mengangkat wajah. Air mata yang tadi mulai berhenti mengalir kini kembali tumpah kian deras namun di sertai senyum bahagia mendapati siapa yang berdiri di hadapannya kini.
Dia kembali.
Quote:
PART 1
Derap langkah kaki jenjang seorang gadis terlihat lincah menapaki setiap anak tangga yang berjejer rapi. Bulir keringat terlihat kian membasahi dahi mulusnya. Rambut panjang yang di kuncir ekor kuda kini tampak lepek, tak ada indah – indahnya sama sekali. Ingin sekali rasanya dia memaki orang yang memintanya mendatangi rooftop rumah susun berlantai 15 ini.
Bukan masalah berapa lantai yang harus ia tempuh, melainkan tidak ada akses alternatif menuju rooftop selain melewati tangga. Belum lagi ramainya kawasan rumah susun yang membuat langkahnya semakin tak leluasa. Mata hitamnya sesekali melihat kearah arloji yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 16.29, itu artinya satu menit lagi ia akan terlambat dari waktu yang di janjikan.
Gadis berlesung pipi ini kian mempercepat langkahnya, ia tidak boleh terlambat ini kesempatan bagus demi mewujudkan mimpinya selama ini. Mimpi yang selama ini hanya jadi bahan lelucon teman – teman satu kampusnya.
Dengan nafas nyaris terputus akhirnya ia tiba di puncak gedung. Naamun apa yang ia temui ternyata sangat jauh dari ekspektasinya. Tak ada siapa – siapa di sana, hanya ada deretan jemuran yang berbaris dan melambai – lambai di hembus angin pengantar senja. Sepasang matanya terlihat sayu memandangi naskah cerita yang sudah di jilid rapi, yang sejak tadi ada dalam genggaman.
Kemana orang yang meneleponnya tadi? Kemana pimpinan penerbitan yang harus ia temui sore ini? Kemana orang yang bisa memberikannya jalan untuk mewujudkan mimpinya menjadi seorang penulis terkenal? Kemana-.
Lamunan itu pecah saat gelak tawa seseorang membentur gendang telinganya, ia menoleh cepat ke sumber suara dengan tangan terkepal. Ia kenal suara itu, seorang bocah yang senang melihatnya seperti ini. Melihatnya jatuh dan kehilangan semangat untuk mimpi – mimpinya. Bukan bocah dalam arti sesungguhnya, melainkan dalam artian sifat laki – laki itu yang menurutnya sangat kekanak – kanakan. Laki – laki jangkung berkacamata yang kini berdiri tepat dihadapannya ini, selalu jadi tersangka utama untuk setiap moment menyebalkan dalam kehidupannya sejak satu tahun terakhir.
“ Jadi ini kerjaan lo?” hardiknya yang di sambut dengan senyum meledek dari laki – laki itu. Ia semakin kesal, bolehkah ia memaki orang yang akan ia temui sekarang?
“ Lo bisa nggak sih, nggak ngusilin gue sehari aja?” kesalnya dengan tatapan marah.
“ Bisa. Asal lo mau jadi pacar gue?”
Lagi. Kata – kata yang sama yang selalu ia dengar sepanjang tahun ini. Membosankan.
“ Jadi pacar lo? Nggak akan pernah, bahkan dalam mimpi lo sekalipun.”
Hening kemudian menguasai keduanya, tak ada yang membuka suara terkecuali tatapan saling mengintimidasi satu sama lain yang mereka layangkan saat ini. Hingga beberapa saat kemudian suara berat seseorang menghentikan kegiatan keduanya.
“ Pada ngapain?” tanya cowok yang punya sorot mata teduh itu, yang kini berdiri tegak persis di antara keduanya. Tumpukan pakaian kering ada dalam dekapan tubuh tegapnya. Iris mata hitam pekatnya melirik ke kiri dan kekanan, menanti jawaban dari dua orang ini.
“ Kak Adam,” seru keduanya kompak dengan mata membelalak kaget. Entah malu atau kesal karena kehadiran Adam yang tiba – tiba, keduanya saling membuang pandangan ke sembarang arah.
Gadis berlesung pipi itu yang terlihat sangat gusar dengan kehadiran Adam, ia memilih berdiri memunggungi Adam daripada harus bertemu tatap dengannya. Terlalu mengerikan dan membuat lidahnya kelu. Kakaknya itu pasti akan sangat, sangat, sangat marah melihat kelakuannya hari ini. Belum lagi apa yaang ia kenakan saat ini, kaos hitam rangkap kemeja kebesaran, topi baseball buluk dikepala serta celana jeans sobek yang membungkus kaki jenjangnya, membuatnya terlihat seperti preman jalanan ketimbang adik satu – satunya seorang Adam Vegar Raditya, yang terkenal cerdas dan berperangai baik bak malaikat. Apa yang ia kenakan saat ini, sudah cukup menjadi alasan untuk Adam mengomelinya habis – habisan.
“ Medina. Pulang,” Itu bukan ajakan, itu perintah.
Medina reflek memutar badannya,” ta-tapi kak, urusan aku sama dia belum kelar,” sela Medina sambil mengarahkan telunjuk dan tatapan melototnya pada cowok berkacamata yang sejak tadi hanya diam memperhatikan. “ Dia tu...,” Medina menjeda ucapannya, lirikan tajam Adam dan hentakan nafasnya sukses membungkam mulutnya. Jika Adam sudah seperti itu, artinya dia tak ingin di bantah.
“ Iya...iya...aku pulang.”
Dengan kepala tertunduk dan bibir mengerucut, Medina menyusul langkah Adam yang telah berada didepannya. Ia kembali menghentikan langkahnya ketika mendengar cekikikan dari arah belakang. Medina menoleh dan memandangi cowok berkacamata tadi dengan tatapan membunuh, darahnya serasa mendidih, melihat cowok tadi tampak puas menertawainya. Ia kembali ingin mendekat dan memberi pelajaran pada musuh bebuyutannya itu, tapi apa mau di kata, langkahnya tertahan karena Adam telah lebih dulu menarik kerah kemejanya dan menyeretnya persis anak kucing.
“ Ah...kak Adam, aku harus beri dia pelajaran dulu,” rengek Medina.
“ Pelajaran apa? Kamu sendiri masih butuh di ajari.”
“ Kak...,”
“ Diam.”
Medina tahu betul kakaknya itu tidak suka di bantah, tapi entah mengapa ia justru jadi orang yang paling sering membantah perkataan kakaknya. Walau ia bandel dan kakaknya cukup tegas serta over protective terhadap dirinya, ia tetap menyayangi kakak semata wayangnya itu. Bagaimanapun, Adam adalah satu – satunya keluarga yang ia miliki setelah kepergian kedua orang tuanya.
“ Kak, dia itu udah ngebohongin aku, dia harus dapat balasannya.”
“ Salah kamu, kenapa gampang banget di bohongin,” tuding Adam sambil menggedor salah satu pintu rumah yang berada di lantai 10.
“ Bukannya gitu, aku cuma-,” ucapan Medina tertahan saat si empunya rumah keluar dan menerima pakaian kering yang sedari tadi di bawa Adam.
Wanita paruh baya itu juga tampak memberikan beberapa lembar uang lima ribuan pada Adam. Adam menerimanya seraya mengucapkan terima kasih.
“ Kak, Nando itu emang rese’. Aku selalu jadi bahan lelucon dia di kampus. Kakak tahu itu kan? Jadi...apa salahnya aku kasih dia pukulan sedikit biar jera,” Medina kembali buka suara saat ibu berambut sebahu tadi masuk ke rumah dan menutup pintu.
“ Kamu itu cewek. Nggak pantes kayak gitu.”
“ Kakak...cewek itu juga perlu pertahanan diri.”
“ Pertahanan diri buat hal yang penting, bukan buat ngeladenin orang rese’.”
“ Tapi, Kak-,”
“ Kakak nggak pernah ngajarin kamu berkelakuan kayak preman begitu.”
Mereka terus saja berdebat sambil menapaki satu persatu anak tangga menuju ke lantai dasar. Keduanya saling tidak mau mengalah. Keduanya keukeuh mempertahankan argumen masing – masing.
Yang mereka ributkan tentu saja bukan hanya soal kelakuan Medina yang sebelas dua belas sama preman pasar, tapi juga cara berpakaian Medina yang sangat di tentang oleh sang kakak. Adam sudah berulang kali menasehati Medina untuk berpakaian lebih santun dan feminim, tapinpercuma nasehat itu mental duluan sebelum masuk ke telinga adiknya. Medina terlalu keras kepala.
“ Pokoknya mulai besok kakak nggak mau liat kamu berpenampilan kayak gini lagi,” tegas Adam dengan tatapan dingin.
“ Tapi...kak, aku nyaman dengan penampilan aku yang sekarang.”
Adam memijat pelipisnya, ia seperti kehabisan kata – kata untuk menasehati adiknya itu. Terlalu keras di beritahu, Medina akan semakin melawan. Tapi jika bersikap lembut, Medina malah ngelunjak.
Adam menghela nafas kasar, akan lebih baik ia menyudahi perdebatan ini sebelum Medina ngambek dan kabur dari rumah seperti kebiasaannya yang sudah – sudah.
“ Kakak berangkat kerja dulu. Kamu langsung pulang,” titah Adam dan kemudian berlalu pergi meninggalkan pelataran parkir rumah susun serta Medina yang terlihat semringah karena kakaknya tidak lagi berkomentar soal apa yang ia kenakan. Atau...lebih tepatnya belum berkomentar. Entahlah...apapun itu yang penting sekarang Medina tidak harus menuruti kemauan kakaknya untuk mengubah penampilan tomboynya itu.
“ Baru tahu gue, kalau ‘macan kampus’ punya pawang.”
Kalimat bernada meledek itu, menyentil emosi Medina yang kian menggunung. Nando kini berdiri di sisinya dengan melayangkan senyum yang dibuat semanis – manisnya, tapi entah kenapa terlihat begitu menyebalkan bagi Medina.
“ Oh...mulut lo itu kayaknya butuh belaian langsung dari bogem mentah gue ya?” tanya Medina sambil menyingsingkan lengan kemejanya, menantang.
“ Ya elah Na, jangankan bogem mentah. Di cium mesra sama lo aja, gue pasrah,” Nando semakin semringah. Tak gentar menghadapi kemarahan Medina yang sudah sangat sering ia lihat.
Tapi...tingkahnya justru semakin menaikkan kadar kemarahan Medina,” Nando!!”
Medina siap melayangkan tinjunya, Nando reflek menghindar melarikan diri.
Aksi saling kejar – kejaran layaknya Tom and Jerry mengisi pelataran parkir rumah susun yang terlihat sepi. Medina dan Nando sebenarnya telah saling mengenal sejak masih ingusan, tapi karena keusilan Nando, keduanya malah tidak pernah akur.
Walau takdir terus – terusan mempertemukan mereka di tempat yang sama. Sekolah yang sama dari jaman Tk hingga SMA, bahkan kampus yang sama, itu tak membuat keduanya bisa menjalin pertemanan yang baik, apalagi sejak Nando menyatakan cintanya pada Medina satu tahun lalu. Gadis bermata hitam pekat itu seakan kian antipati kepadanya.
Apa sikap antipati itu untuk menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya pada Nando? Atau memang ia ingin membuat Nando menjauh? Entahlah, apapun itu toh usahanya untuk membuat Nando menjauh tak pernah berhasil. Cowok manis berkacamata itu justru kian sering muncul mengisi kehidupannya.
Terkadang, cinta itu keras kepala.
●●●
Diubah oleh riani14 07-10-2023 17:38
efti108 dan tien212700 memberi reputasi
5
76.5K
Kutip
1K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
riani14
#346
Quote:
PART 29
Adzan subuh berkumandang memecah kesunyian setiap penjuru kota. Orang – orang tampak berbondong menuju ke masjid untuk shalat berjamaah. Berbeda dengan Medina yang justru baru saja membuka mata. Ia tengah melemaskan otot – otot tubuhnya yang terasa agak sakit karena tanpa sengaja tertidur di kursi tamu. Bukan tanpa alasan hingga ia bisa tertidur di sana, ia menunggu Adam pulang. Tapi tampaknya hingga subuhpun Adam belum menunjukkan batang hidungnya.
“ Kak Adam kemana ya? Apa mungkin dia udah pulang terus langsung ke masjid?” Medina berusaha untuk tetap berpikiran positif. Sejujurnya ia begitu cemas karena kakaknya belum juga ada di sini. Tak biasanya Adam tidak pulang.Sesibuk apapun Adam di luar rumah, ia akan selalu menyempatkan pulang. Tapi hari ini???
“ Assalammualaikum,” Suara seseorang yang terdengar parau membuat Medina cepat menoleh ke arah pintu.
“ Waalaikumsalam,” Medina berjalan menuju pintu dan berniat membuka pintu.
Darah Medina berdesir hebat, mendapati siapa yang ada di balik pintu.
“ Kak Adam, kakak kenapa?” panik Medina.
Medina meringis kecil, wajah kakaknya terlihat sangat babak belur, darah segar masih mengalir deras dari sudut bibirnya, tubuhnya lunglai, bajunya tampak sedikit sobek di bagian kerah. Jelas sekali Adam baru saja habis di keroyok.
“ Medina...maafin kakak,” ucap Adam pelan dengan tatapan sayu, hingga kemudian tubuhnya tumbang dalam dekapan sang adik, membuat tubuh mungil Medina sedikit terhuyung.
Adam pingsan.
***
Medina memutuskan untuk tidak ke kampus hari ini, kondisi Adam tak memungkinkan untuk ia tinggal sendirian di rumah.
Luka – luka sudah tuntas ia bersihkan. Darah yang tadi menghiasi wajah itu, kini tak lagi tampak, kecuali luka lebam yang memang tidak bisa hilang dalam waktu sekali kompres. Medina juga bisa merasakan kalau suhu tubuh Adam naik tidak normal. Adam demam tinggi, bahkan ia belum siuman juga sejak tadi.
“ Sebenarnya kak Adam lagi ada masalah apa sih??” tanya Medina yang sibuk mengompres luka – luka lebam di wajah kakaknya. Pertanyaan yang tentu tidak akan mendapat jawaban dari Adam.
“ Harusnya kakak cerita sama aku, kalau kakak lagi ada masalah. Bukannya diem aja dan tiba – tiba ngebuat aku shock kayak gini. Emang kakak nggak percaya sama aku? Aku bisa jaga rahasia kok.” Medina terus saja mengoceh seakan berharap ada ucapannya yang akan di tanggapi oleh Adam. Ia ingin kakaknya segera siuman, lalu menceritakan apa yang telah terjadi.
Assalammualaikum...!!!
Seruan seseorang dari luar mengalihkan perhatian Medina. Ia bergegas keluar dari kamar Adam, “Waalaikumsalam.”
Langkah cepat Medina berubah pelan mendapati seorang wanita tengah berdiri di ambang pintu rumahnya sambil terisak. Medina semakin berada dekat dengan wanita itu, dan ia semakin merasa familiar dengan wajah keibuan itu. Ia berusaha mengingat dimana mereka pernah bertemu, tapi percuma sepertinya sudah terlalu lama.
“ Maaf, tante siapa ya?” tanya Medina dengan dahi berkedut bingung.
“ Medina? Ini benar kamu?”
Medina sedikit terkejut, suara yang sama dan ucapan yang sama yang ia dengar lewat ponsel Adam tadi malam. Jika saja telepon tadi malam tidak terputus dan ponsel Adam tidak mati, Medina pasti sudah bertanya ini dan itu pada wanita yang meneleponnya. Tapi apa mungkin wanita ini yang menelepon kakaknya? Tapi siapa dia? Hingga dia juga bisa mengenal Medina? Sepertinya rasa penasaran Medina sejak tadi malam akan terjawab hari ini.
“ Tante yang telepon kak Adam tadi malam?” tanya Medina terdengar ragu. Ia tak yakin.
“ Jadi benar kamu Medina?”
Bukannya menjawab wanita itu justru melempar pertanyaan lain dan kemudian menarik tubuh Medina dalam pelukannya. Medina semakin heran, tapi...jika boleh jujur ia merasa nyaman dengan pelukan itu. Entah karena apa. Ia hanya merasa seakan menemukan sesuatu yang sempat hilang dari hidupnya. Tapi apa?
“ Dimana kakak kamu?” tanyanya sambil melepas pelukannya dari Medina.
“ Di-di kamar,” gugup Medina, sumpah demi apapun ia masih belum bisa membaca situasi yang ada di hadapannya sekarang. Pertanyaan yang masih saja sama terus menggema di pikirannya. Siapa wanita itu?
Tanpa banyak basa basi lagi, wanita asing ini berlari masuk ke dalam rumah mencari keberadaan Adam. Setelah berhasil menemukan Adam, langkahnya semakin buru – buru mendekati pemuda yang masih tergeletak tak berdaya itu.
Medina semakin berkali – kali lipat heran, saat melihat wanita itu menangis kian deras mendapati kakaknya sedang dalam kondisi yang tidak bisa dibilang baik – baik saja.
“ Maafin mama Adam. Harusnya mama bisa cegah mereka. Maafin mama Adam, mama nggak punya pilihan.”
Mama.
Apa Medina tidak salah dengar? Atau perempuan ini sudah sakit jiwa. Apa maksudnya menyebut dirinya Mama di hadapan Adam. Siapapun tahu kedua orang tua mereka sudah meninggal beberapa tahun lalu. Dan sekarang kenapa tiba – tiba ada perempuan yang mengaku sebagai ibunya. Atau...apa dugaan Medina selama ini benar, kalau ia dan Adam bukan saudara kandung?
“ Maksud tante apa?” tanya Medina dengan mata berkaca – kaca, jika benar ia dan Adam bukan saudara kandung, itu akan jadi hal yang paling tidak ia inginkan terjadi.
Wanita itu berjalan mendekati Medina yang masih tampak gamang di ambang pintu kamar, ia sedang berusaha menghentikan tangisannya. Jari lentiknya terlihat sibuk menyeka air mata yang membuat pipinya basah.
“ Sayang, ini Mama.”
Medina semakin di serang perasaan bingung. Apalagi ini? Sekarang dia juga menyebut dirinya sebagai ibu Medina. Siapa sebenarnya dia?
Kak Adam, buruan bangun. Aku bingung dengan semuanya. Apa kak Adam punya jawaban yang pantas untuk meenjelaskan apa yang terjadi sekarang?
“ Medina, mama kangen sama kamu.”
Ia kembali memeluk Medina erat, Medina ingin memberontak dan memberondong wanita ini dengan semua pertanyaan yang sudah memenuhi otaknya, tapi...pelukan hangat itu seakan menahannya.
“ Bertahun – tahun mama dan papa berusaha mencari keberadaan kamu dan kakak kamu. Mama hampir putus asa, hingga satu tahun yang lalu akhirnya mama berhasil menemukan kalian.”
Medina sudah tidak tahan lagi, akhirnya ia melepaskan pelukan itu.
“ Mama? Papa? Sebenarnya tante ini siapa? Tolong jangan tambah masalah kami lagi. Orang tua kami udah meninggal beberapa taahun yang lalu.”
“ Sayang...ini Mama. Kamu harus percaya itu.”
“ Bagaimana bisa saya percaya sedangkan sejak kecil bukan tante yang merawat saya. Bukan tante yang ada bersama saya!!"
“ Soal itu...itu memang kesalahan mama dan papa. Kami menyesal sayang, sangat menyesal.”
“ Kesalahan? Menyesal?”
“ Izinkan mama, untuk menjelaskan semuanya sama kamu. Please...,” mohon mama dengan isak tangis yang kembali luruh.
Medina diam, ia masih bingung harus merespon seperti apa. Ia takut. Takut jika kenyataan yang harus ia dengar dan ketahui akan membuat hatinya semakin bertambah sakit. Tapi...ia juga tidak ingin terus – terusan di hantui rasa penasaran.
Tiba – tiba dua wanita ini di kagetkan oleh pergerakan yang di ciptakan Adam. Adam menunjukkan reaksi yang tak biasa, nafasnya terdengar memburu, dada bidangnya turun naik tak beraturan. Baik mama maupun Medina terlihat begitu panik.
“ Kak Adam,” panik Medina dan bergegas mendekati kakaknya.
“ Adam,” mama juga sama paniknya.
“ Ma... kita harus bawa kak Adam ke rumah sakit sekarang. Aku mohon, Ma.” Pinta Medina mulai menangis. Ia tak ingin hal buruk terjadi pada Adam.
Bahkan saking khawatirnya ia bahkan reflek menyebut kata 'mama'.
Mama hanya mengangguk dan bergegas keluar rumah, meminta bantuan tetangga untuk membawa Adam kemobilnya yang terparkir di depan gang.
Medina terus saja menangis bahkan saat beberapa warga datang untuk membantunya. Ia tak peduli mau di anggap jagoan cengeng, ia hanya takut terjadi hal buruk pada kakaknya. Ia bahkan tidak lagi bersuara saat mama merangkulnya berusaha menenangkan.
“ Tenang sayang, kakak kamu akan baik – baik saja.”
Medina hanya mengangguk pelan dengan tangis yang tak kunjung berhenti.
Mobil mewah berwarna putih itu, melesat membelah jalanan membawa Adam ke rumah sakit. Membawa harapan Medina yang menginginkan kakaknya tetap baik – baik saja.
●●●
2
Kutip
Balas