Kaskus

Story

meta.morfosisAvatar border
TS
meta.morfosis
SULAKSMI
SULAKSMI



PROLOG




“ semoga ini awal yang baik untuk karir gw dalam berwiraswasta...”
yaa...itulah sepenggal kalimat kebahagian yang terucap dari mulut bagus disaat sebuah berita baik terucap dari mulut bapak dan mamah, keinginan bagus untuk mempunyai sebuah usaha sendiri selepas masa perkuliahannya, kini mulai terwujud seiring dengan keinginan mamah yang menginginkan bagus untuk mengelola sebuah rumah yang merupakan rumah peninggalan dari orang tua mamah dan telah lama terbengkalai
kini bersama ketiga sahabat baiknya, bagus berusaha mewujudkan mimpinya itu menjadi sebuah kenyataan, seiring dengan berjalannnya waktu, akan kah semua usaha bagus itu akan membuahkan hasil yang memuaskan, atau kah ada sisi lain dari rumah tersebut yang bagus tidak ketahui dan akan menjadi penghambat usaha bagus untuk mewujudkan mimpinya tersebut....

Note :

* dilarang copy paste tanpa seizin penulis
* apa yang ane tuliskan hanyalah sebuah bentuk karya seni tanpa memperdebatkan nyata/fiksi
* update disesuaikan dengan RL penulis


terima kasih & selamat membaca emoticon-coffee
@meta.morfosis

Chapter demi chapter :
Chapter 1
Chapter 2
Chapter 3
Chapter 4
Chapter 5
Chapter 6
Chapter 7
Chapter 8
Chapter 9
Chapter 10
Chapter 11
Chapter 12
Chapter 13
Chapter 14
Chapter 15
Chapter 16
Chapter 17
Chapter 18
EPILOG


Diubah oleh meta.morfosis 16-01-2019 19:25
indrag057Avatar border
bukhoriganAvatar border
bonita71Avatar border
bonita71 dan 35 lainnya memberi reputasi
36
65.2K
197
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread53.5KAnggota
Tampilkan semua post
meta.morfosisAvatar border
TS
meta.morfosis
#1
Chapter 1




Jakarta 1997

“ jadi mas akan menikah lagi....?”
sebuah kalimat yang akan selalu terngiang dalam telinga gw kini mengantarkan pandangan mata ini menatap sebuah bingkai photo yang berada di atas sebuah meja kecil di sudut kamar, lama gw terdiam menatap photo tersebut...ya sebuah photo yang menggambarkan seorang wanita muda dengan mengenakan kebaya tradisionalnya, tengah memangku seorang anak kecil yang tengah memamerkan senyum polosnya
“ andai ibu masih ada...” gumam gw pelan seraya mencoba mengingat kembali sebuah perisitiwa kelam yang pernah terjadi delapan belas tahun yang silam dan akhirnya kini menjadi sebuah titik hitam yang menodai lembaran putih perjalanan hidup gw
“ kamu belum berangkat gus....?” seraut wajah dari seorang pria yang telah berumur, kini menyeruak diantara pergerakan daun pintu yang terbuka
“ belum pak....” jawab gw seraya kembali mengarahkan pandangan ke arah bingkai photo setelah sebelumnya memperhatikan keberadaan bapak yang berjalan memasuki ruangan kamar
“ kamu masih menyalahkan bapak....gus...?” tanya bapak kembali, tatapan matanya kini ikut memperhatikan bingkai photo yang tengah menjadi fokus perhatian gw, walaupun perkataan bapak terdengar begitu tenang, tapi gw masih bisa merasakan rasa penyesalan yang tergambar jelas dalam getaran suaranya
“ enggak pak.....” jawab gw singkat dan mencoba membuang pikiran negatif yang mencoba menyalahkan bapak atas peristiwa yang telah lama berlalu itu
“ banyak hal yang belum bapak ceritakan sama kamu gus......”
“ udahlah pak....bagus enggak menyalahkan bapak....bagus percaya koq, kalau semuanya itu terjadi atas kehendak tuhan...” ucap gw memotong perkataan bapak, mendapati hal tersebut terlihat bapak hanya terdiam penuh dengan rasa sesal
“ gus....”
“ sepertinya bagus harus berangkat sekarang pak......” ucap gw seraya mengambil baju toga dari atas tempat tidur lalu mencium tangan bapak, keinginan bapak untuk melanjutkan perkataannya kini terhenti seiring dengan langkah kaki gw yang bergegas keluar dari dalam kamar, sunggguh...rasanya tidak sopan atas apa yang tengah gw lakukan kali ini, tapi semua itu semata mata gw lakukan hanya untuk meredam kegundahan yang gw rasakan saat ini
bagus handoko....ya itulah nama lengkap gw, seorang lelaki muda yang sebentar lagi akan meraih sebuah title sarjana dari sebuah perguruan tinggi swasta yang berada di kawasan jakarta selatan, gw merupakan anak pertama dari keluarga arya handoko, buah hati dari pernikahan bapak yang pertama....yaa...pernikahan bapak yang pertama, sebuah pernikahan yang akhirnya harus kandas dan berakhir di meja pengadilan agama dengan sebuah kata perceraian , dan setelah pernikahan bapak yang pertama itu gagal, bapak memutuskan untuk menikah kembali dengan seorang gadis, yang menurut sedikit informasi yang gw dapat, gadis tersebut adalah kekasih bapak sebelum bapak akhirnya memutuskan menikah dengan ibu, dari pernikahan bapak yang kedua ini, bapak dikarunia seorang putri yang bernama vina handoko, dan secara garis kekeluargaan...vina handoko resmi menjadi adik gw walaupun terlahir dari rahim yang berbeda....sedangkan gw, setelah proses perceraian tersebut, gw tinggal bersama ibu...hampir delapan belas tahun lamanya gw mengarungi kerasnya hidup ini bersama ibu, di rumah orang tua ibu yang berada di salah kota di jawa barat, hingga akhirnya setelah gw tamat dari pendidikan sekolah menengah atas, ibu meninggal dunia dan gw pun akhirnya memutuskan untuk tinggal bersama bapak berserta keluarga barunya di kawasan jakarta timur
“ gus....!!”
teriak seorang pria yang menyadarkan gw dari lamunan ini, tampak kini melalui jendela mobil yang terbuka, sebuah ruangan aula dari salah satu gedung di jakarta pusat telah di penuhi oleh wisudawan yang hadir bersama keluarganya, laju kendaraan yang mulai melambat untuk mencari keberadaan tempat parkir kini mengiringi lambaian tangan gw kepada pria tersebut...ya pria tersebut adalah iyan, dia merupakan salah seorang sahabat gw diantara tiga orang sahabat yang menjadi sahabat akrab gw selama menjalani proses perkuliahan
“ lohh...lu sendiri aja gus...?” tanya iyan begitu gw menghampirinya, tanpa memberikan jawaban apapun, gw hanya tersenyum lalu mengajak iyan untuk memasuki ruang wisuda
.....sarjana.....
mungkin itu adalah sebaris kata yang terlintas dalam pikiran dari sebagian besar wajah wajah penuh keceriaan yang hadir dan memenuhi ruang wisuda pada hari ini, ya...hari ini adalah hari yang sangat bersejarah bagi semua orang yang hadir di gedung ini, dimana pada hari ini mereka berhak untuk menyematkan sebuah title sarjana di depan nama mereka, sebuah title yang dapat mereka pergunakan untuk meraih cita cita yang telah mereka pendam selama ini...tapi sepertinya apa yang mungkin tengah mereka rasakan saat ini tidaklah berlaku bagi gw...keinginan gw untuk berwiraswasta setelah lulus dari bangku sekolah menengah atas kini telah menempatkan alur perkuliahan ini hanyalah sebagai sebuah bentuk formalitas dari sebuah syarat yang diajukan oleh bapak agar gw dapat berwiraswasta
“ senyum dong gus...dari tadi bengang bengong aja lu....” ucap iyan melemparkan candaannya yang berbalas senyuman dari beberapa mahasiswa yang kebetulan duduk di samping gw dan iyan
“ koq gw enggak melihat sella dan doni ya....mereka wisuda juga kan hari ini....?”
“ iyalah gus mereka wisuda juga hari ini...makanya lu kalau punya handphone jangan disimpan di saku aja...hati hati gus, nanti bisa impoten....” jawab iyan sambil tertawa, kini iyan memperlihatkan dua buah pesan yang terpampang di layar handphonenya, ya..dua buah pesan dari doni dan sella yang menyatakan bahwa mereka akan bertemu nanti setelah prosesi wisuda ini selesai, menyadari hal tersebut, gw segera mengambil handphone yang berada di saku celana, dan benar saja apa yang telah dikatakan oleh iyan, kini di handphone gw terdapat dua buah pesan yang berasal dari sella dan doni
hampir tiga jam lamanya prosesi wisuda ini berlangsung, hingga akhirnya setelah prosesi wisuda itu berakhir, gw dan iyan segera melangkah keluar dari dalam ruangan, dan sepertinya sesuai dengan perjanjian yang telah kami buat, terlihat doni dan sella yang telah berdiri menanti kehadiran kami di luar ruangan wisuda
“ lama banget sih kalian.....” tegur sella begitu melihat kehadiran gw dan iyan
“ ampun deh sel...kalian tau sendiri lah si iyan...kebanyakan photo photo dengan mahasiswi yang lain, serasa artis aja dia...” gurau gw yang berbalas gelak tawa dari doni dan sella
“ yah..kalau bukan momen seperti ini...mana mau cewek cewek itu photo sama gw gus...” ucap iyan memberikan alasan yang masuk akal, belum sempat gelak tawa kami terhenti, tampak terlihat di kejauhan orang tua dari iyan melambai lambaikan tangannya
“ tunggu sebentar ya...” ucap iyan seraya melangkahkan kakinya
“ bokap...nyokap... lu mana gus...?” tanya doni sambil memperhatikan iyan yang kini tengah berbincang bincang dengan kedua orang tuanya
“ ada di rumah....” jawab gw singkat
“ hahhh.....mereka enggak lu ajak gus....?” tanya doni kembali dengan rasa tidak percaya
“ enggak don...jangankan gw ajak, gw beritahu aja juga enggak..tapi sepertinya mereka udah tau.....” jawab gw tanpa rasa penyesalan, terlihat doni dan sella hanya bisa saling bertukar pandang begitu mendengar jawaban yang terucap dari mulut gw
“ lu kenapa sih gus....” tanya sella dengan ekspresi wajah serius
“ gw enggak kenapa napa sel....buat gw...apa yang gw jalani sekarang ini hanyalah sebuah bentuk formalitas aja...” jawab gw yang berbalas kebingungan di wajah sella dan doni, seiring dengan jawaban yang terucap dari mulut gw, kini nampak di kejauhan orang tua iyan kembali melambaikan tangannya ke arah kami, dan sepertinya lambaian tangan kali ini adalah sebuah lambaian tangan yang mengisyaratkan bahwa mereka akan segera pergi meninggalkan gedung ini, setelah memberikan balasan lambaian tangan, kini kedua orang tua iyan mulai berjalan menuju tempat mereka memarkirkan kendaraannya
“ wihh....sepertinya udah pada mulai serius nih.....” ujar iyan begitu telah berdiri di hadapan kami
“ rencana kalian apa....setelah proses wisuda ini....?” tanya gw secara spontan, iyan, doni serta sella yang sepertinya belum mempunyai rencana jelas setelah prosesi wisuda ini, tampak sedikit kebingungan untuk menjawab pertanyaan gw ini
“ gw belum ada rencana gus....tapi seperti yang umum orang lain lakukan, gw akan mulai mencoba melamar lamar pekerjaan.....”
mendengar perkataan yang terlontar dari mulut iyan, tampak dengan serempak doni dan sella menganggukan kepalanya
“ kalau lu gus...?, apa rencana lu....” tanya sella, lama gw terdiam seraya memperhatikan beberapa wisudawan yang mulai beranjak pergi meninggalkan gedung
“ mungkin gw akan berwiraswasta sel.....karena itu adalah cita cita gw yang tertunda....”
“ wiraswasta....wiraswasta apa gus...?” tanya sella kembali
“ gw belum tau sel.....mungkin gw akan meminta modal kepada orang tua gw untuk membuka sebuah usaha, keinginan gw sih...gw ingin mempunyai sebuah usaha perkebunan....”
“ waduh gus....itu sih modalnya pasti besar.......” ucap iyan seraya membayangkan modal dari usaha perkebunan yang gw rencanakan
“ besar untuk lu yan.....tapi kalau untuk orang tua bagus sih.....modal segitu enggak seberapa, kan orang tua bagus punya pohon duit....” canda doni yang berbalas gelak tawa,
hampir satu jam lamanya kami berbincang bincang dengan berbagai macam topik pembicaraan, hingga akhirnya kami pun memutuskan untuk segera pulang ke rumah masing masing
sinar terik matahari yang memayungi langit jakarta siang ini, kini telah mengantarkan laju kendaraan yang gw kendarai tiba di sebuah rumah yang berada di kawasan jakarta timur...sebuah rumah yang telah menjadi tempat bernaung gw selama kurang lebih lima tahun ini, kini seiring dengan laju kendaraan yang mulai memasuki pekarangan rumah, tampak terlihat mbok ida dan mang rohim yang merupakan pembantu rumah tangga di rumah ini, tengah asik bercengkrama di antara aktifitasnya merapihkan pekarangan rumah, senyuman yang mengembang di wajah mereka seperti menyambut kedatangan gw
“ ehh...kang bagus udah pulang.....” tegur mang rohim begitu melihat gw keluar dari dalam mobil, dengan tersenyum, mbok ida melangkahkan kakinya memasuki rumah
“ iya mang.....tadi agak macet di jalan....” ucap gw sambil menghempaskan tubuh di kursi
“ mamah dimana mang....?” tanya gw yang berbalas jawaban mang rohim yang memberitahukan kalau mamah sedang berada di dalam rumah
“ memangnya kang bagus dari mana....?” tanya mang rohim yang mungkin merasa heran dengan penampilan gw yang terlihat rapih hari ini
“ habis wisuda mang....” jawab gw singkat yang berbalas rasa bingung di wajah mang rohim
“ wisuda.....?, apaan tuh kang.....” mendengar suara yang terucap dari mulut mang rohim terdengar begitu kencang, gw pun segera memberikan isyarat agar mang rohim memelankan suaranya
“ tanda kelulusan mang....saya sekarang udah lulus kuliah...” jawab gw mencoba memberikan penjelasan akan arti dari kata wisuda, melihat mang rohim mengangguk anggukan kepalanya sebagai tanda mengerti atas penjelasan yang gw berikan, gw pun segera beranjak memasuki rumah
“ bagaimana wisuda kamu gus.....!”
sebuah suara yang terdengar begitu tiba tiba kini telah menyadarkan gw akan keberadaan mamah yang tengah memperhatikan gw dari arah ruang keluarga, diah astuti.....ya itulah nama lengkap dari mamah tiri gw, seorang mamah tiri yang dalam kurun waktu lima tahun ini telah memberikan rasa kasih sayangnya kepada gw laksana seorang ibu kandung yang memberikan kasih sayang terhadap anaknya, tidak terlihat sama sekali perbedaan perlakuan yang di berikan oleh mamah terhadap gw ataupun vina
“ lohh...koq mamah tau....?” tanya gw sambil berjalan menghampiri mamah, melihat gw yang merasa heran atas pertanyaan yang terlontar dari mulutnya, mamah hanya menggelengkan kepalanya, kini nampak di atas meja, gw melihat sebuah piring kecil yang berisikan beberapa kelopak bunga kenanga serta sepotong makanan yang menyerupai hati ayam yang terbuat dari darah hewan yang telah dibekukan dan di kukus
“ memangnya mamah bodoh gus....tadi pagi itu, mamah lihat sendiri koq kamu membawa baju toga itu ke dalam mobil....lagi pula bapak juga udah memberitahu kepada mamah kalau hari ini kamu wisuda...” terang mah yang berbalas senyuman gw
“ maafin bagus mah....bagus hanya ingin memberikan kejutan...tapi kalau mamah udah tau begini sih, berarti namanya bukan kejutan lagi....” ucap gw seraya mengambil posisi duduk di sisi mamah, pandangan gw kembali menatap piring yang berada di atas meja
“ mamah koq suka banget sih sama makanan seperti itu....sebenarnya rasanya seperti apa sih mah.....?” tanya gw seraya mengambil piring tersebut dari atas meja lalu menciumnya, kini gw bisa membaui aroma wangi bunga kenanga yang bercampur dengan aroma yang kurang sedap dan amis dari makanan yang menyerupai hati itu
seiring dengan perkataan yang terucap dari mulut gw, suara putaran gagang pintu dari sebuah kamar kini telah mengantarkan kehadiran seorang wanita muda yang keluar dari dalam kamar
“ ehhh bang sarjana udah pulang.....gimana dengan wisudanya bang, lancar apa enggak...?”tanya wanita tersebut seraya memamerkan deretan gigi putih yang tersembul diantara senyuman yang mengembang di wajahnya
“ walah vin..lu pikir wisuda itu jalanan di jakarta apa....pakai nanya lancar apa enggak....” jawab gw yang berbalas wajah cemberut vina
“ alhamdulillah vin....abang sekarang udah sarjana, jadi sebentar lagi abang udah bisa untuk punya usaha sendiri....nanti lu bisa kerja sama gw kalau lu udah lulus sekolah....” mendengar penjelasan gw, terlihat vina memperlihatkan ekspresi ketidakperduliannya, hingga akhirnya suara tawa vina mulai meledak begitu melihat ekspresi wajah gw yang mulai merasa jengkel atas perlakuannya
“ iya...iya bang...nanti gw pikir pikir dulu, pantas apa enggak ya...gw punya atasan kayak lu....” canda vina sambil menjulurkan lidahnya
“ huhh...dasar semprul...” ucap gw yang berbalas senyuman di wajah mamah
“ jadi niat kamu untuk berwiraswasta itu udah bulat gus...?” tanya mamah seraya mengarahkan pandangannya ke wajah gw
“ kamu enggak ingin kerja di kantor bapak kamu....?” tanya mamah kembali begitu mendapati gw yang hanya bisa terdiam setelah mendengar pertanyaan mamah yang pertama
“ bagus tetap mau berwiraswasta aja mah....sesuai dengan yang pernah bagus bicarakan waktu itu....” ucap gw mencoba mengingatkan kembali kepada mamah akan pembicaraan yang telah terjadi antara gw, bapak dan mamah
“ iya gus...mamah masih ingat, tapi merintis usaha sendiri bukanlah sesuatu yang mudah gus...apalagi kamu itu masih baru dalam menggeluti bisnis, saran mamah sih....lebih baik kamu ikut bekerja di kantor bapak dulu, dengan jabatan penting bapak kamu di kantor...mamah rasa bukanlah hal yang sulit untuk menempatkan kamu di salah satu posisi strategis di kantor......”
lama gw terdiam begitu mendengar perkataan mamah, memang benar apa yang telah dikatakan mamah, dengan posisi penting bapak di kantor sekarang ini, ditambah lagi masa pengabdian bapak yang telah lama, sepertinya bukanlah hal yang sulit bagi bapak untuk menempatkan gw di salah satu posisi strategis yang ada di kantor, tapi sepertinya semua kemudahan yang tampak di depan mata tersebut, masih tidak mampu menggoyahkan keinginan gw untuk merintis usaha sendiri
“ iya bang...lebih baik lu ikut kerja sama bapak aja deh....” ucap vina mendukung saran mamah
“ kamu enggak usah khawatir gus...kamu pasti akan mendapatkan posisi yang bagus, kalau kamu enggak mau melalui bapak kamu...mamah juga bisa mengusahakannya melalui kenalan mamah yang mempunyai posisi penting juga di kantor itu....dulu bapak kamu juga mendapat kerja di kantor itu atas bantuan dari relasi bapaknya mamah....”
“ maaf mah...sepertinya bagus lebih memilih berwiraswasta aja...bagus ingin mempunyai usaha sendiri, itu juga kalau bapak dan mamah mau menyetujuinya...” mendengar perkataan gw, terlihat mamah bangkit dari duduknya, kini belaian telapak tangannya yang mengacak acak rambut gw seperti mengisyaratkan kalau mamah bisa mengerti dengan keinginan gw yang sudah teramat kuat ini
“ ya udahlah....kita tunggu bapak kamu pulang dari kantor dulu, baru nanti kita bicarakan lagi....” ucap mamah seraya melangkahkan kakinya menuju ke dalam kamar, melihat hal tersebut...dengan sedikit mencibirkan bibirnya untuk meledek keberhasilan gw dalam merayu mamah, terlihat vina mengikuti langkah mamah masuk ke dalam kamar
Diubah oleh meta.morfosis 04-06-2018 12:46
bonita71
aripinastiko612
regmekujo
regmekujo dan 11 lainnya memberi reputasi
12
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.