Kaskus

Story

juraganpengkiAvatar border
TS
juraganpengki
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)

GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)
Cool Cover By Agan Linbara (Thanks, Bree)..

Prolog

Setelah bangun dari ‘Mati Suri’ karena memutuskan untuk mencoba membunuh diri sendiri untuk melindungi Kitab Langit dan melenyapkan Bayu Ambar, gw kembali ke dunia nyata.. Kehidupan gw sedikit jauh berbeda, karena pengalaman ‘Mati Suri’ itu berefek langsung pada kelebihan yang gw miliki.. Gw masih sama Anggie, meski ujian atas cinta kami masih saja mendera.. Ada musuh baru, tentu saja.. Tapi ada juga sahabat baru yang muncul.. Karena ini akhir dari cerita kami berempat..

Kembalinya Anak Ibu...
Pengorbanan Pedang Jagat Samudera...
Cintai Aku Sewajarnya, Yank...
Matinya Seorang Saudara (Versi Gw/Bimo)
Berkumpul Kembali...
Keanehan Yang Mulai Muncul...
Sambutan Ketiga Saudara Ke Reinata...
Sabar???
Cukup! Tinggalin Aku Sendiri!!!
Siapa Kau???
Aku Ikutin Kemauan Kamu...
Keputusan Sepihak Yang Pahit...
Semua Beban Menjadi satu
Semua Beban Menjadi Satu (2)...
Serangkum Rindu Untuk Ayah...
Munculnya Penguasa Laut Utara...
Bertemunya Dua Penguasa...
Sebuah Kesepakatan...
Ibu Kenapa Yah???
Lu Kenapa, Ka???
Wanted Dead Or Alive.. ANTON!!!
Mo 'Perabotan' Lu Hancur Apa Tanggung Jawab???
It's The End Of Us...
Di Kerjain Ibu...
Ridho!!!
Kelewatan!!!
Munculnya Dua Penjaga Gerbang Kerajaan Laut...
Dewi Arum Kesuma VS Dewi Ayu Anjani
Datangnya Sosok Seorang Pemisah Dan Shock Therapy Buat Gw...
Kerajaan Jin...
Terkuaknya Semua Jawaban...
Maafin Gw, Bree...
Pengakuan Suluh...
Akhirnya Boleh Gondrong...
Pernikahan Kak Silvi Yang Seharusnya Membuat Gw Bahagia...
Pernikahan Kak Silvi Yang seharusnya Membuat Gw Bahagia (2)...
Tunggu Pembalasan Gw!!!...
Ni Mas Linduri dan Banas Ireng...
Dua Sosok Penyelamat Misterius...
Ada Apa Sama Ridho?...
Kesalahan Fatal...
Kembalinya Jin Penjaga Ridho dan Suluh...
Akibat Terlalu Ikut Campur...
Setiap Perbuatan Akan Mendapat Balasan...
Munculnya Viny Dan Sebuah Tantangan Bertarung...
Manusia Cabul...
Suara Penolong Misterius...
Bertemunya Kembali Sepasang Kekasih...
Terkuaknya Kebenaran...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar (2)...
Jaket Dan Celana Jeans Robek Serta Sweater Hitam Kumal...
She's My True Love...
Dilema...
Pertengkaran Dengan Ibu...
Rambe Lantak...
Gendewa Panah Pramesti...
Akan Ku Balaskan Dendam Mu, Arum Kesuma!!!
Yang Hilang dan Yang Kembali...
Jawaban Ayu...
Mati Gw!!!
Aku Makin Sayang...
Nasihat Om Hendra...
Jera Mencuri...
Ajian Segoro Geni...
Pilihan Sulit...
Keputusasaan Anggie...
Kabar Baik dari Ridho dan Suluh...
Perjalanan Menuju Pembalasan Dendam...
Rawa Rontek...
Rawa Rontek 2 (Terbayarnya Dendam)...
Kedatangan Pak Sugi...
Orang Titipan...
Hukuman Paling Berat...
Tidurlah Di Pangkuan Ku...
Menjajal Kesaktian...
Menjajal Kesaktian (2)...
Pengakuan Mengejutkan Babeh Misar...
Pengajaran Ilmu Silat Betawi...
Di Kepret Babeh Misar Lagi...
Tasya...
Naga Caglak dan Bajing Item...
Misteri Sebuah Dendam...
Kekuatan Sejati Kitab Langit Bagian Matahari...
Perpisahan...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera (2)...
Kembalinya Ibu...
Empat Bayangan Hitam...
Siapa Ni Mas Laras Rangkuti???
Dendam Seorang Sahabat...
Ini Keputusan Yang Harus Gw Ambil...
Semua Pengorbanan Ini Demi Ibu...
Rapuh...
Kabar Mengejutkan Sekar dan Sebuah Restu...
Siasat Braja Krama...
Munculnya Kitab Langit...
Si Pembuka Kitab langit dan Sosok Asli Pak Sugi...
Rencana Yang Matang...
Lamaran Pribadi...
Keingintahuan Anggie...
Perubahan Rencana...
Hampir Terjebak...
Kekecewaan Sekar...
Dua Syarat Reinata...
Aku Harap Kamu dan Anggie Bahagia, Mam...
Rahasia Sepasang Suami Isteri...
Menitipkan Amanah...
Berkumpulnya Para Pembela Kitab Langit...
Siasat Ki Purwagalih...
Raja Jin Raja Muslihat (Nyesek, Bree)...
Pertukaran Tawanan...
Perang Gaib PunTak Terelakkan...
Sang Penyelamat Dari Utara...
Pertempuran Awal Dua Penguasa Kerajaan Gaib...
Bertekuk Lututnya Sekutu Braja Krama...
Pertarungan Dua Putera (Gugurnya Satu Sahabat Gaib)...
Krama Raja...
Braja Krama Versus Krama Raja...
Raja Licik...
Aku Lah Sang Pembuka...
Siasat Krama Raja dan Bayu Ambar...
Terbukanya Semua Ilmu Terlarang...
Sebuah Pengecualian...
Sri Baduga Maharaja...
Hilangnya Sebuah Pengecualian...
Hilangnya Sebuah Pengecualian (2)...
Sebuah Pengorbanan...
Pahlawan...
Sumpah...
Ilmu Pamungkas yang Terlarang...
Kabar Yang Mengejutkan...
Pulang...
Pulang (2)...
Sedikit Kisah Rio Sebelum Kisah Ini Tamat...
Terhalang Sumpah...
Bantuan Sahabat Baik...
Bachelor Party...
Keturunan Lain Sang Prabu...
Pembalasan Dendam Singgih...
Sepenggal Kisah Nyi Mas Roro Suwastri...
Tawaran Yang Mengejutkan...
Lawan Atau Kawan???
Terkuaknya Silsilah...
Sebuah Kebenaran...
Sebuah Kebenaran (2)...
Bertemunya Dua Keturunan Sang Prabu...
Pertempuran Dua Hati...
Cinta Pertama VS Cinta Terakhir Jagat Tirta...
Pengakuan Bayu Barata...
Ki Larang dan Nyi Mas Galuh Pandita???
Prana Kusuma...
Kau Benar Keturunan Kami, Ngger...
Our Big Day...
Insiden...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga (2)...
Dua Tamu Istimewa...
Semua Karena Cinta...
Keputusan Sekar Kencana...
Kena Gampar...
Bonyok!!!
RIBET!!!
Berdamai...
Keponakan Baru...
Malam Pertama dan Tiga Keanehan...
Ajian Warisan Para Leluhur (The Last Part/End Of All Chapters)

SIDE STORIES

Keturunan Yang Tersesat...
Keturunan Yang Tersesat (2)...

Diubah oleh juraganpengki 15-07-2018 20:23
uang500ratusAvatar border
devanpancaAvatar border
iskrimAvatar border
iskrim dan 132 lainnya memberi reputasi
127
2.1M
8K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
juraganpengkiAvatar border
TS
juraganpengki
#6775

Terkuaknya Silsilah...

Gw kembali tertegun mendengar ucapan beliau..

“Dia udah nyerap tenaga gw, arti nya dia juga yang bisa balikin” Ucap gw dalam hati..

Sambil menatap kedua mata bening laki-laki renta bertubuh kurus kering hingga tulang rusuknya nampak jelas terlihat dibalik kulit keriput, gw mencoba mencari kebenaran disana.. Kata orang, kita bisa mengetahui akan bohong atau tidak nya seseorang dari pandangan kedua matanya.. Dan dengan hati sedikit ragu, gw harus mengakui bahwa kedua bola mata dari rongga cekung itu nampak tulus hendak menolong..

“Bismillah aja lah.. Mo lawan ataupun kawan kedepannya, gw serahin semua sama takdir.. Yang pasti, gw ga bakal tinggal diem kalo niat dia jahat” Ucap gw dengan penuh keyakinan..

Perlahan, gw mengulurkan tangan untuk meraih telapak tangan si Kakek Tua.. Lalu..

DREEETT..

Tubuh gw sempat menegang sesaat, begitu sebuah sensasi seperti tersengat aliran listrik terasa saat telapak tangan ini sudah berada dalam genggamannya.. Bukan kesakitan atau terpental menerima sengatan aneh yang mengalir dari telapak tangan sosok misterius.. Yang gw rasakan malah berbeda.. Perlahan, tenaga gw kembali seluruhnya ke dalam tubuh.. Bahkan, gw merasakan tenaga yang merasuk kembali jauh lebih besar dari tenaga awal..

Dengan telapak tangan masih berada dalam genggaman si Kakek Tua, gw mencoba bangkit.. Dan, Alhamdulillah.. Gw bisa dengan mudahnya berdiri diatas kedua kaki yang tak lagi terasa lemah.. Mengetahui tenaga ini telah kembali seutuhnya bahkan jauh lebih besar terasa, gw langsung melepaskan telapak tangan dari genggaman sang Kakek.. Kemudian berniat menggunakan kembali Ajian Tembus Pandang untuk melihat tempat kami berdua berada.. Akan tetapi, baru saja gw mau mengalirkan tenaga dalam ke kedua mata.. Mendadak,..

PLAKK!!

Dari arah belakang, telapak tangan si Kakek Tua yang tak memegang obor memukul kepala ini.. Gw sontak menghadapkan wajah berang ke si Kakek.. Namun, melihat beliau menatap tajam seolah marah, membuat gw mengurungkan niat untuk ungkapkan rasa kesal..

“Dengarkan kataku! Jangan gunakan kesaktian apapun” Bentak si Kakek misterius..

Gw tertegun mendengar bentakannya, dan hanya bisa menggerutu dalam hati sambil menekuk wajah..

“Berdiri di sebelah ku”

Kembali gw terperanjat mendapat bentakan tanpa merasa telah membuat salah, dari sesosok mahluk gaib berwujud Kakek Tua yang bisa menjadi lawan atau kawan.. Dengan masih menekuk wajah, gw segera berjalan mendekat dan berdiri disebelah kiri beliau..

“Jangan ucapkan apapun, saat kau melihat hal-hal ganjil di depan mata.. Cukup bicara jika aku sudah perbolehkan” Perintah Sang Kakek Tua, yang terus memandang ke gelapnya suasana di depan tanpa sedikit pun melirik ke arah gw..

Gw menganggukkan kepala pertanda mengerti dan mengalihkan pandangan ke arah sama dengan Sang Kakek Misterius.. Perlahan, tangan si Kakek yang masih memegang obor dari batang bambu, sedikit di dekatkan ke arah mulut.. Lalu, dengan semburan udara dari dalam mulutnya, Beliau memadamkan api di atas obor.. Kemudian dilemparkannya entah kemana.. Suasana seketika diliputi kegelapan kembali.. Gw yang sempat di pesan untuk tidak menggunakan kesaktian apapun, sedikit ragu melihat pekat nya malam..

Tiba-tiba, suara tangisan bayi kembali terdengar.. Kali ini jauh lebih keras lagi suaranya.. Seolah sang Bayi berada persis di hadapan kami.. Gw yang tidak mampu melihat apapun, terpaksa harus meningkatkan kewaspadaan.. Berada di tempat asing nan gelap bersama sosok Kakek Tua misterius nan sakti, memaksa diri ini untuk bersiap siaga..

Entah apa yang dilakukan Sang Kakek, mendadak tepat tiga tombak dihadapan kami, muncul sebuah sinar putih yang sangat terang.. Gw yang tak sanggup menahan silaunya sinar tersebut, langsung menutup kedua mata.. Dan begitu gw kembali membuka kedua indera penglihatan, suasana di hadapan kami benar-benar telah berubah..

Gelapnya malam yang tadi sempat menyelimuti dan menahan segala sinar yang hendak menyeruak mengusirnya, telah lenyap.. Berganti menjadi suasana sebuah hutan rimba yang nampak temaram diterpa indahnya sinar perak Sang Dewi Malam.. Berbeda dengan kondisi sebelumnya dimana indera penglihatan gw sama sekali tidak dapat melihat selain kegelapan, kini gw bisa menelisik tiap sudut hutan dibantu cahaya bulan purnama yang nampak bersinar terang di atas rimbunan pohon-pohon besar berdaun lebat..

“Ikut dengan ku.. Ini jawaban dari salah satu pertanyaan mu dalam benak” Ajak Si Kakek Tua yang langsung berjalan maju tanpa menunggu jawaban gw..

Gw sempat tertegun melihat sang Kakek yang ternyata sedang melangkahkan kedua kaki hampir setengah jengkal di atas tanah yang tertutupi daun kering berserakan.. Sebuah senyuman konyol tersungging di wajah gw, karena sempat lupa bahwa yang sedang melangkahkan kaki melayang diatas tanah dihadapan gw, bukan lah manusia..

Tak butuh waktu lama, kami berdua tiba di muka sebuah gubuk tua beratapkan rumbai-rumbai jerami kering yang tertata rapi.. Dua buah obor nampak menyala dan tertempel di dua tiang jati berukuran sedang yang kokoh tertancap diatas tanah..

Sejenak, sang Kakek Tua nampak tertegun menatap ke kiri dan kanan gubuk.. Lalu melangkahkan kedua kaki dan berjalan menembus dinding dari bilik bambu.. Gw yang melihatnya hanya bisa terdiam tanpa bisa mengucapkan sesuatu apapun..

“Cepat ikuti aku masuk ke dalam” Ucap suara si Kakek Tua yang terdengar dalam batin gw..

Sontak kedua mata gw terbelalak mendengar perintah beliau.. Bagaimana mungkin gw bisa mengikuti nya berjalan menembus dinding.. Meski pun bukan tembok, tapi tetap saja dinding bilik bambu merupakan sebuah benda padat yang tidak akan mungkin bisa gw tembus..

“Yakin saja, Ngger.. Kau pasti bisa berjalan menembusnya”

Gw hanya bisa menghela nafas panjang.. Mudah sekali bagi Jin berwujud Kakek Tua itu menyuruh gw untuk mengumpulkan keyakinan di waktu yang singkat.. Lagipula, apa yang akan gw temui memangnya di dalam gubuk?

“Jika kau ragu.. Aku akan segera mengembalikan mu ke tempat dimana kau tertidur tadi.. Ingat! Aku hanya sekali ini saja membantu mu untuk menguak semua kebenaran.. Tidak ada lagi kesempatan kedua di lain waktu” Gertak suara Sang Kakek Tua, yang kembali terdengar dalam batin dan membuat gw harus menimbang ulang segala keputusan..

“Bismillah.. Gw ikutin kemauan si Kakek.. Gw penasaran juga akan segala kebenaran yang dijanjikannya” Batin gw sambil mulai melangkah kan kedua kaki..

Tanpa ragu dan penuh keyakinan bahwa gw bisa menembus dinding bilik bambu, gw terus melangkah mendekat.. Begitu dinding bilik bambu berwarna coklat sudah berada persis satu senti meter di depan hidung, gw menutup kedua mata dan melanjutkan langkah..

RRRTTT..

Sebuah sensasi getaran sempat gw rasakan disekujur tubuh untuk sesaat, meski dengan kedua mata masih tertutup.. Hingga akhirnya sebuah lengan menahan dada gw dan membuat langkah kaki ini terhenti.. Perlahan, gw membuka mata dan melirik wajah si Kakek Tua yang masih mengulurkan tangan kanannya ke depan dada ini.. Pandangan wajah si Kakek nampak tertuju ke depan.. Tanpa diperintah, gw langsung melemparkan pandangan ke arah sama..

Kening gw sempat berkerut melihat sosok seorang wanita cantik yang wajah lelahnya nampak tak asing, sedang duduk bersandar diatas sebuah ranjang kayu sederhana beralaskan selembar tikar pandan tanpa kasur.. Dalam gendongan wanita berambut panjang itu, nampak sesosok bayi baru lahir yang sudah dalam keadaan tertidur dengan hangat dan nyaman dalam balutan kain batik berwarna usang..

Disebelah kanan ranjang kayu, terlihat seorang laki-laki berwajah tampan yang wajahnya tak gw kenali.. Sementara, sedikit di pojok ruangan yang sederhana itu, nampak seorang perempuan setengah baya sedikit tambun, dengan hanya berkemben kain panjang untuk menutupi tubunya, sedang mencuci kedua tangan yang berlumuran darah hitam di dalam sebuah wadah terbuat dari tanah liat.. Sepertinya, wanita patuh baya sedikit tambun itulah yang telah membantu proses melahirkan Nyi Mas Roro Suwastri..

“Sesuai perintah Sang Prabu, aku harus segera mengembalikan bayi mu ke alam kasar, Roro Suwastri.. Ingat, putera mu Prana Kusuma adalah manusia seutuhnya yang tidak bisa tinggal lama dialam kita yang sekarang.. Dan kau pun harus segera menjalani hukuman karena telah mengandung di luar ikatan suci pernikahan” Ucap laki-laki tampan yang suara nya terdengar tak asing di telinga gw..

Gw sendiri cukup terkejut mendengar laki-laki asing itu menyebut nama Roro Suwastri, ke sosok wanita cantik yang nampak sedang sangat berberat hati untuk meluluskan perintahnya..

“Ki Larang, aku mohon untuk diberikan waktu semalam saja bersama putera ku.. Aku ingin mencurahkan kasih sayang ku untuk terakhir kali kepada nya.. Aku rela menjalani hukuman selama ratusan tahun akan dosa yang telah ku perbuat.. Tapi, sekali lagi ku mohon.. Izinkan aku menghabiskan satu malam bersama putera ku Prana Kusuma” Ucap Nyi Mas Roro Suwastri dengan wajah memelas dan kedua mata mulai dibasahi air bening..

Gw kembali terkejut untuk kedua kalinya, begitu mendengar Nyi Mas Roro Suwastri menyebut laki-laki tampan yang menyuruhnya untuk merelakan sang putera di bawa pergi, dengan nama Ki Larang.. Pantas saja, suara laki-laki itu terdengar tidak asing di telinga gw.. Ternyata, beliau adalah sosok Jin Penjaga yang diperintahkan untuk menjaga Anggie dan calon putera gw nantinya..

“Dengan berat hati, aku tidak bisa meluluskan permintaan mu Roro Suwastri.. Putera mu Prana Kusuma harus segera ku bawa pergi keluar dari alam kita.. Semua ku lakukan demi keselamatan putera mu sendiri, Roro Suwastri.. Sang Prabu juga berpesan agar kau tidak cemas, karena beberapa orang keturunan mu dimasa yang akan datang, akan menjadi sosok-sosok terpilih yang mewarisi darah Jagat Tirta dan dirimu” Ucap Ki Larang, yang kemudian menoleh ke arah perempuan sedikit tambun di belakangnya..

Perempuan yang telah membantu proses melahirkan Nyi Mas Roro Suwastri nampak menganggukkan kepala.. Lalu berjalan mendekati ranjang kayu sambil mengulurkan kedua tangannya..

Untuk sesaat, Nyi Mas Roro Suwastri nampak memandangi wajah perempuan tambun yang sedang mengulurkan kedua tangan.. Seolah sedang bersiap menerima sosok putera semata wayang nya dalam gendongan.. Dari wajah sendu dengan kedua mata dibanjiri deraian air bening, Nyi Mas Roro Suwastri melempar pandangan lagi menatap mengiba ke Ki Larang.. Namun, hanya gelengan kepala yang ia dapat, sebagai pertanda bahwa laki-laki itu sudah sangat bulat dengan segala keputusannya..

Nyi Mas Roro Suwastri nampak menghela nafas panjang sambil sesekali terisak.. Kemudian, dengan penuh kasih sayang dan diiringi tetesan air mata, wanita cantik itu mengecup kening puteranya, Prana Kusuma.. Cukup lama, Nyi Mas Roro Suwastri mendaratkan kecupan hangat nya di kening sang putera.. Sebuah kecupan terakhir penuh kasih sayang dari seorang ibu yang harus merelakan putera nya pergi setelah ini.. Padahal, darah hitam sisa melahirkan nampak masih membasahi kain wanita itu..

Sungguh tak tega gw di buatnya, memandangi sosok seorang Ibu yang harus rela melepaskan putera kandung nya sendiri ke orang lain.. Terlebih saat mendengar suara ratapan lirih yang terdengar dari lisan Nyi Mas Roro Suwastri.. Suara lirih berupa bisikan akan betapa beratnya beban rasa pilu yang harus ia tanggung.. Beberapa tetes air mata cinta pertamanya Jagat Tirta itu, nampak jatuh membasahi pipi Prana Kusuma.. Entah apa yang dibisikkan Nyi Mas Roro Suwastri ke putera nya, yang pasti setelah itu ia nampak mulai mengulurkan sosok Prana Kusuma ke perempuan tambun di sebelah..

“Berikan Prana Kusuma kepada pasangan suami isteri tak beranak, yang akan mencintai nya seperti putera kandung mereka sendiri, Ki Larang.. Aku ikhlas melepaskan buah hati ku demi keselamatannya” Ucap Nyi Mas Roro Suwastri dengan suara lirih..

Ki Larang sendiri nampak menganggukkan kepalanya dan melempar pandangan ke arah perempuan tambun yang sudah menggendong Prana Kusuma..

“Ikut dengan ku, Nyi.. Kita akan berikan putera Roro Suwastri ke orang yang tepat” Kata Ki Larang yang dibalas anggukan patuh wanita yang telah membantu proses kelahiran Nyi Mas Roro Suwastri..

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, sosok kedua mahluk penghuni alam halus itu lenyap tanpa bekas di hadapan kami bertiga.. Kedua mata gw yang masih terpaku menatap sosok Nyi Mas Roro Suwastri, terasa sedikit perih begitu mendengar perempuan itu meratap sambil memanggil-manggil putera nya, Prana Kusuma..

“Setelah ini, Nyi Mas Roro Suwastri akan mengirimkan kabar tentang kelahiran Prana Kusuma ke Jagat Tirta lewat mimpi selama tiga hari berturut-turut” Ucap sosok Kakek Tua bertelanjang dada yang mengajak gw melihat semua kejadian ini..

Gw sempat menyeka sedikit air mata yang mengembang di sudut kelopak, saat mendengar ucapan sang Kakek Tua.. Benak gw langsung teringat akan penuturan Bayu Barata yang hampir sama persis seperti kalimat Beliau barusan.. Tentang, munculnya sosok Nyi Mas Roro Suwastri dalam mimpi Jagat Tirta..

“Satu kebenaran telah ku ungkap, bahwa kau adalah salah satu keturunan Prana Kusuma yang dilahirkan oleh Nyi Mas Roro Suwastri.. Seperti ucapan Ki Larang tadi, kau termasuk dalam garis keturunan mereka yang terpilih”

Gw tertegun mendengar ucapan sosok Kakek Tua tanpa nama yang berdiri melayang di sebelah.. Jadi benar adanya, bahwa gw adalah keturunan Braja Krama dari garis keturunan Jagat Tirta dan Nyi Mas Roro Suwastri.. Benar pula segala kisah yang dituturkan oleh Bayu Barata beberapa waktu lalu, tentang kisah cinta pilu dua insan yang harus kandas karena terhalang restu Ki Suta.. Kisah cinta yang membuahkan seorang putera, yang harus tumbuh besar oleh kasih sayang orang lain..

Pandangan gw masih sesekali terpaku menatap sosok Nyi Mas Roro Suwastri, yang sedang berbaring miring sambil menatap kosong ke dinding bilik bambu, dengan kedua mata masih basah dan bibir yang terus memanggil-manggil nama Prana Kusuma.. Namun, perhatian gw teralihkan saat kedua tangan sang Kakek Tua terlihat diulurkan ke depan dan bergerak-gerak membuat pola berputar berlawanan.. Perlahan, ruangan tempat kami berada dengan sosok Nyi Mas Roro Suwastri masih berbaring lemah di atas ranjang kayu, mendadak menjauh dengan sendirinya.. Lalu, hilang dan berganti menjadi puluhan pohon-pohon besar seukuran dua pelukan tangan yang tumbuh tinggi menjulang..

“Sekarang waktunya aku ungkap kebenaran yang lain untuk mu, Ngger.. Pegang tanganku” Ucap Kakek Tua sambil mengulurkan tangan kanannya..

Gw sempat terdiam sambil melirik ke telapak tangan berkulit keriput yang sedang terulur..

“Kebenaran apa lagi yang bakal diungkap Kakek ini yak?” Tanya gw dalam batin sendiri..

“Jangan buang waktu dengan pertanyaan bodoh, waktu kita tidak banyak.. Lekas pegang telapak tangan kanan ku” Ucap si Kakek Tua dengan nada suara jauh lebih tegas terdengar..

Gw menganggukkan kepala dan tanpa ragu langsung melakukan apa yang diperintahkan sosok Kakek Misterius..

“Pejamkan matamu, aku akan memperlihatkan tiga kejadian yang masing-masing memiliki keterkaitan dengan mu.. Ingat jangan ucapkan apapun sebelum ku perintahkan”

Dalam hati, gw mengiyakan perintah sang Kakek Tua.. Lalu, menutup mata dan mempersiap kan diri untuk melihat kejadian apa saja yang akan segera gw lihat..
jenggalasunyi
sampeuk
dodolgarut134
dodolgarut134 dan 11 lainnya memberi reputasi
12
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.