Kaskus

Story

juraganpengkiAvatar border
TS
juraganpengki
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)

GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)
Cool Cover By Agan Linbara (Thanks, Bree)..

Prolog

Setelah bangun dari ‘Mati Suri’ karena memutuskan untuk mencoba membunuh diri sendiri untuk melindungi Kitab Langit dan melenyapkan Bayu Ambar, gw kembali ke dunia nyata.. Kehidupan gw sedikit jauh berbeda, karena pengalaman ‘Mati Suri’ itu berefek langsung pada kelebihan yang gw miliki.. Gw masih sama Anggie, meski ujian atas cinta kami masih saja mendera.. Ada musuh baru, tentu saja.. Tapi ada juga sahabat baru yang muncul.. Karena ini akhir dari cerita kami berempat..

Kembalinya Anak Ibu...
Pengorbanan Pedang Jagat Samudera...
Cintai Aku Sewajarnya, Yank...
Matinya Seorang Saudara (Versi Gw/Bimo)
Berkumpul Kembali...
Keanehan Yang Mulai Muncul...
Sambutan Ketiga Saudara Ke Reinata...
Sabar???
Cukup! Tinggalin Aku Sendiri!!!
Siapa Kau???
Aku Ikutin Kemauan Kamu...
Keputusan Sepihak Yang Pahit...
Semua Beban Menjadi satu
Semua Beban Menjadi Satu (2)...
Serangkum Rindu Untuk Ayah...
Munculnya Penguasa Laut Utara...
Bertemunya Dua Penguasa...
Sebuah Kesepakatan...
Ibu Kenapa Yah???
Lu Kenapa, Ka???
Wanted Dead Or Alive.. ANTON!!!
Mo 'Perabotan' Lu Hancur Apa Tanggung Jawab???
It's The End Of Us...
Di Kerjain Ibu...
Ridho!!!
Kelewatan!!!
Munculnya Dua Penjaga Gerbang Kerajaan Laut...
Dewi Arum Kesuma VS Dewi Ayu Anjani
Datangnya Sosok Seorang Pemisah Dan Shock Therapy Buat Gw...
Kerajaan Jin...
Terkuaknya Semua Jawaban...
Maafin Gw, Bree...
Pengakuan Suluh...
Akhirnya Boleh Gondrong...
Pernikahan Kak Silvi Yang Seharusnya Membuat Gw Bahagia...
Pernikahan Kak Silvi Yang seharusnya Membuat Gw Bahagia (2)...
Tunggu Pembalasan Gw!!!...
Ni Mas Linduri dan Banas Ireng...
Dua Sosok Penyelamat Misterius...
Ada Apa Sama Ridho?...
Kesalahan Fatal...
Kembalinya Jin Penjaga Ridho dan Suluh...
Akibat Terlalu Ikut Campur...
Setiap Perbuatan Akan Mendapat Balasan...
Munculnya Viny Dan Sebuah Tantangan Bertarung...
Manusia Cabul...
Suara Penolong Misterius...
Bertemunya Kembali Sepasang Kekasih...
Terkuaknya Kebenaran...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar (2)...
Jaket Dan Celana Jeans Robek Serta Sweater Hitam Kumal...
She's My True Love...
Dilema...
Pertengkaran Dengan Ibu...
Rambe Lantak...
Gendewa Panah Pramesti...
Akan Ku Balaskan Dendam Mu, Arum Kesuma!!!
Yang Hilang dan Yang Kembali...
Jawaban Ayu...
Mati Gw!!!
Aku Makin Sayang...
Nasihat Om Hendra...
Jera Mencuri...
Ajian Segoro Geni...
Pilihan Sulit...
Keputusasaan Anggie...
Kabar Baik dari Ridho dan Suluh...
Perjalanan Menuju Pembalasan Dendam...
Rawa Rontek...
Rawa Rontek 2 (Terbayarnya Dendam)...
Kedatangan Pak Sugi...
Orang Titipan...
Hukuman Paling Berat...
Tidurlah Di Pangkuan Ku...
Menjajal Kesaktian...
Menjajal Kesaktian (2)...
Pengakuan Mengejutkan Babeh Misar...
Pengajaran Ilmu Silat Betawi...
Di Kepret Babeh Misar Lagi...
Tasya...
Naga Caglak dan Bajing Item...
Misteri Sebuah Dendam...
Kekuatan Sejati Kitab Langit Bagian Matahari...
Perpisahan...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera (2)...
Kembalinya Ibu...
Empat Bayangan Hitam...
Siapa Ni Mas Laras Rangkuti???
Dendam Seorang Sahabat...
Ini Keputusan Yang Harus Gw Ambil...
Semua Pengorbanan Ini Demi Ibu...
Rapuh...
Kabar Mengejutkan Sekar dan Sebuah Restu...
Siasat Braja Krama...
Munculnya Kitab Langit...
Si Pembuka Kitab langit dan Sosok Asli Pak Sugi...
Rencana Yang Matang...
Lamaran Pribadi...
Keingintahuan Anggie...
Perubahan Rencana...
Hampir Terjebak...
Kekecewaan Sekar...
Dua Syarat Reinata...
Aku Harap Kamu dan Anggie Bahagia, Mam...
Rahasia Sepasang Suami Isteri...
Menitipkan Amanah...
Berkumpulnya Para Pembela Kitab Langit...
Siasat Ki Purwagalih...
Raja Jin Raja Muslihat (Nyesek, Bree)...
Pertukaran Tawanan...
Perang Gaib PunTak Terelakkan...
Sang Penyelamat Dari Utara...
Pertempuran Awal Dua Penguasa Kerajaan Gaib...
Bertekuk Lututnya Sekutu Braja Krama...
Pertarungan Dua Putera (Gugurnya Satu Sahabat Gaib)...
Krama Raja...
Braja Krama Versus Krama Raja...
Raja Licik...
Aku Lah Sang Pembuka...
Siasat Krama Raja dan Bayu Ambar...
Terbukanya Semua Ilmu Terlarang...
Sebuah Pengecualian...
Sri Baduga Maharaja...
Hilangnya Sebuah Pengecualian...
Hilangnya Sebuah Pengecualian (2)...
Sebuah Pengorbanan...
Pahlawan...
Sumpah...
Ilmu Pamungkas yang Terlarang...
Kabar Yang Mengejutkan...
Pulang...
Pulang (2)...
Sedikit Kisah Rio Sebelum Kisah Ini Tamat...
Terhalang Sumpah...
Bantuan Sahabat Baik...
Bachelor Party...
Keturunan Lain Sang Prabu...
Pembalasan Dendam Singgih...
Sepenggal Kisah Nyi Mas Roro Suwastri...
Tawaran Yang Mengejutkan...
Lawan Atau Kawan???
Terkuaknya Silsilah...
Sebuah Kebenaran...
Sebuah Kebenaran (2)...
Bertemunya Dua Keturunan Sang Prabu...
Pertempuran Dua Hati...
Cinta Pertama VS Cinta Terakhir Jagat Tirta...
Pengakuan Bayu Barata...
Ki Larang dan Nyi Mas Galuh Pandita???
Prana Kusuma...
Kau Benar Keturunan Kami, Ngger...
Our Big Day...
Insiden...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga (2)...
Dua Tamu Istimewa...
Semua Karena Cinta...
Keputusan Sekar Kencana...
Kena Gampar...
Bonyok!!!
RIBET!!!
Berdamai...
Keponakan Baru...
Malam Pertama dan Tiga Keanehan...
Ajian Warisan Para Leluhur (The Last Part/End Of All Chapters)

SIDE STORIES

Keturunan Yang Tersesat...
Keturunan Yang Tersesat (2)...

Diubah oleh juraganpengki 15-07-2018 20:23
uang500ratusAvatar border
devanpancaAvatar border
iskrimAvatar border
iskrim dan 132 lainnya memberi reputasi
127
2.1M
8K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
juraganpengkiAvatar border
TS
juraganpengki
#6743

Lawan Atau Kawan???

“Maafkan aku, Pamanda.. Aku tidak bisa memberi jawaban akan tawaran mu hari ini.. Berikan aku waktu sampai esok hari” Jawab gw dengan nada suara sedikit ragu..

Pamanda Krama Raja sendiri nampak menghela nafas sambil kembali melepas pegangannya di bahu gw..

“Baiklah, Ngger.. Aku juga tidak akan memaksamu.. Pikirkan baik-baik jawaban yang akan kau berikan atas tawaran ku.. Aku mengerti banyak yang harus kau pertimbangkan sebelumnya.. Lagipula, aku belum meminta izin ke Sri Baduga Maharaja terkait rencana ku ini.. Sampaikan jawaban mu lewat Bayu Barata.. Namun, satu hal yang harus kau ketahui, Ngger.. Aku sangat berharap kau mau meluluskan permintaan ku” Jawab Krama Raja yang mulai melayang mundur setengah tombak ke belakang..

Gw yang berada di hadapannya, hanya memberikan jawaban berupa anggukan kepala tanpa ada satu kata pun yang terucap.. Pandangan gw sempat melirik ke arah Bayu Barata yang juga nampak tertegun..

“Aku pamit, Ngger.. Istirahat lah kau setelah ini.. Esok hari, aku akan menunggu jawaban pasti dari mu yang akan disampaikan Bayu Barata” Ucap Pamanda Krama Raja, yang perlahan sosoknya mulai lenyap..

Gw menghela nafas panjang setelah kepergian sosok Penguasa Gaib Tanah Pasundan dari hadapan mata.. Perlahan, gw duduk bersila sambil menatap kosong ke arah lantai.. Benak gw benar-benar dibuat berpikir keras oleh tawaran Pamanda Krama Raja barusan..

“Bayu, bagaimana pendapat mu tentang tawaran Pamanda Krama Raja?” Tanya gw sambil melempar pandangan ke arah Bayu Barata yang sudah berpindah tempat dan melayang duduk dua tombak di sebelah..

“Kita bicarakan saja hal ini esok hari, Raden.. Seperti saran Baginda Krama Raja, kau harus segera istirahat” Jawab Bayu Barata yang membuat gw menganggukkan kepala..

Memang ucapan Bayu Barata ada baiknya dituruti, karena rasa lelah benar-benar telah menggerogoti tubuh gw.. Sambil menghela nafas panjang, gw merebahkan tubuh kembali di atas kasur lantai.. Perlahan, gw mencoba menutup kedua mata untuk tidur.. Kali ini, Rio memang sudah tidak mengganggu dengan dengkurannya.. Tapi, tetap saja gw masih belum bisa terlelap.. Benak ini selalu saja terbayang-bayang mimik penuh harap Pamanda Krama Raja, saat beliau melisan kan permintaannya tadi..

“Terus pejamkan kedua mata mu, Raden.. Aku akan membantu membuat mu lekas terlelap” Ucap Bayu Barata yang sepertinya tahu akan isi kepala gw yang masih terus berputar..

WUUSS...

Perlahan, gw merasakan hembusan angin sejuk menyapu tubuh dari ujung jari kaki hingga kepala.. Gw tahu hembusan angin itu adalah upaya Bayu Barata yang hendak membuat gw lekas tertidur.. Dan anehnya, segala pemikiran yang sempat memenuhi isi benak gw, lenyap sedikit demi sedikit.. Hingga akhirnya, satu ikatan sukma gw terlepas dari tubuh yang menandakan telah tertidur nya diri ini..

Gw membuka kedua mata perlahan saat mendengar sayup-sayup suara tangisan bayi baru lahir yang entah berasal dari mana..

“Kenapa pake mati lampu segala?” Tanya gw pada diri sendiri, begitu kegelapan mengungkung seluruh kamar tidur..

Mata gw yang terasa masih sepet, berusaha memandang kesana kemari dalam kegelapan sambil sesekali mengucek mata untuk mengembalikan fungsi penglihatan..

“Bree, bangun..Mati lampu nih” Kata gw berusaha membangunkan Rio, sambil mencoba duduk dan terus mengucek-kucek kedua mata..

Suasana kamar terasa sangat hening.. Jangankan sahutan dari Rio, suara dengkuran atau bahkan helaan nafas nya pun tak terdengar.. Yang tertangkap oleh telinga gw malah suara nyanyian jangkrik cukup nyaring.. Seolah, hewan-hewan peramai malam itu hidup dan tinggal di dalam kamar gw sendiri..

“Bree..” Panggil gw lagi, seraya mengulurkan kedua tangan untuk meraba pinggiran tempat tidur..

Tapi aneh, yang terasa oleh kedua telapak tangan gw hanya udara dan ruang kosong.. Tidak ada tepian ranjang terbuat dari kayu yang tersentuh oleh tangan gw.. Dengan benak mulai dipenuhi rasa heran, gw perlahan mengalihkan rabaan tangan kanan ke bawah, untuk menyentuh alas tidur berupa kasur lantai..

Kening gw langsung berkerut, begitu telapak tangan kanan menyentuh permukaan benda padat dengan tekstur kasar dan bergelombang di bawah.. Jelas benda yang saat ini terus gw raba bukanlah kasur lantai.. Rasa heran gw semakin menjadi, begitu telapak tangan kanan gw berhenti meraba saat menyentuh beberapa benda keras berukuran kecil.. Dari tekstur nya, terasa seperti kerikil.. Tapi, mana mungkin di dalam kamar gw ada kerikil yang jumlahnya lebih dari satu? Tak mau berasumsi lebih jauh, gw segera menggosok-gosokkan telapak tangan kanan ke atas permukaan benda padat yang menjadi alas gw duduk.. Lalu, perlahan gw mendekatkan telapak tangan untuk mencium aroma yang tertinggal dari gosokan tadi..

“Bener dugaan gw, yang gw dudukin sekarang adalah tanah.. Njiir! Ada yang nyoba main-main, sampe berani mindahin gw secara gaib.. Ini bukan mimpi.. Dan gw juga bukan sedang meraga sukma.. Pasti ada biang keladi dibelakang semua keanehan ini?” Gumam gw pada diri sendiri, masih dalam keadaan diselimuti pekatnya kegelapan..

Merasa ada hal ganjil sedang terjadi, gw berusaha menenangkan diri dan terdiam sambil menyalurkan sedikit tenaga dalam ke kedua mata.. Dalam hati, gw mulai merapalkan Ajian Tembus Pandang untuk melihat seluruh isi kamar.. Begitu kedua indera penglihatan sudah terasa hangat, gw perlahan membukanya..

DEG...

“Kenapa Ajian Tembus Pandang ga berfungsi? Apa tenaga dalam yang gw alirin kurang yak?” Tanya gw pada diri sendiri, saat mengetahui kegelapan tak jua tertembus..

Kembali gw memejamkan kedua mata dan mengalirkan tenaga dalam lebih.. Gw harap dengan tenaga dalam yang cukup, Ajian Tembus Pandang akan mampu membuat gw melihat dengan jelas..

Saat tingkat kehangatan di dua indera penglihatan cenderung meningkat ke arah panas, gw perlahan membuka mata.. Namun...

“AAKHH!!”

Gw terpekik kesakitan dan langsung menutup kembali kedua mata yang terasa perih..

“Sial! Ini bukan gelap biasa.. Ada yang nyoba balikin Ajian Tembus Pandang gw” Maki gw dalam hati seraya memegangi kedua mata yang perihnya sedikit berkurang..

Perasaan gw mulai tak menentu, begitu kedua mata tanpa Ajian Tembus Pandang kembali terbuka dan hanya kegelapan yang lagi-lagi menyelimuti.. Jika hanya kegelapan biasa, pasti akan langsung tertembus dengan sangat mudahnya oleh Ajian Tembus Pandang.. Tapi gelap yang kali ini meliputi suasana sekitar, terasa sangat berbeda.. Pekat nya seolah tidak dapat ditembus oleh apapun.. Dan didalam kegelapaan itu, gw yakin ada sosok yang barusan berhasil membalikkan Ajian Tembus Pandang..

Tanpa mau lagi berbasa-basi, gw mencoba bangkit berdiri, sambil menyalurkan setengah tenaga dalam ke kedua telapak tangan.. Ya! Gw sedang berusaha mengeluarkan Ajian Tapak Jagat.. Bukan hanya untuk berjaga-jaga dari siapa atau apapun yang berniat tidak baik, pendaran sinar putih di kedua tangan yang sudah terisi Ajian Tapak Jagat akan menghalau gelap dan membantu gw untuk bisa melihat sedikit lebih jelas..

Namun, bukan nya memendarkan sinar putih sesuai harapan, kedua tangan gw malah terasa seperti terbakar.. Dengan cepat, gw menurunkan aliran tenaga dalam dari kedua telapak tangan.. Dan benar, seiring lenyapnya semua aliran tenaga dalam dari sana, rasa panas di kedua tangan gw pun berangsur-angsur lenyap..

“Sekar dan Bayu Barata.. Gw harus memanggil mereka berdua sekarang juga.. Gw ga bisa kek gini terus” Ucap gw sedikit panik dan mulai memejamkan lagi kedua mata..

“Sekar Kencana.. Bayu Barata, muncullah” Panggil gw dengan suara lirih..

Untuk sekian detik, gw tetap berdiri tak bergeming entah di dimana.. Kedua telinga, gw pasang baik-baik.. Berharap menangkap suara auman harimau yang menandakan akan kehadiran Bayu Barata jika keadaan gw sedang terancam seperti saat ini.. Kedua lubang hidung gw juga terus berkembang kempis, berusaha menangkap bau harum bunga kenanga.. Tapi lagi-lagi hanya suara jangkrik saja yang terdengar saling bersahutan, tanpa diiringi bau harum bunga khas yang menandakan kemunculan Sekar Kencana.. Dengan perasaan mulai diliputi sedikit rasa cemas, gw kembali mengulang memanggil nama kedua Jin Penjaga..

“Sekar Kencana, Bayu Barata.. Aku mohon, muncul lah dihadapan ku” Ucap gw dengan penuh harap..

Namun, harapan hanya tinggal angan-angan semu.. Kedua sosok Jin Penjaga tidak jua muncul.. Entah apa yang sedang terjadi saat ini.. Selepas gw gagal memanggil kedua Jin Penjaga, gw juga sempat mencoba melakukan hal sama ke ketiga saudara dan Arya.. Tapi semua usaha gw sia-sia.. Kegelapan yang masih mengungkung diri gw dengan segala pekatnya, seolah menghalangi diri ini untuk bersentuhan dengan dunia luar..

Sekarang, gw hanya tinggal mengandalkan tenaga dalam saja tanpa mampu menggunakan kesaktian apapun untuk melindungi diri.. Gw sempat memaki kebodohan diri sendiri yang sesaat telah lalai karena terlalu mengandalkan bantuan orang lain.. Padahal diatas segalanya, masih ada Robbul Izzati yang pasti akan membantu gw keluar dari segala kesulitan.. Dengan berbesar hati, gw sandarkan semua perlindungan diri ke Sang Khaliq..

Perlahan, gw terdiam dan memejamkan mata sambil membaca Ayat Kursi.. Gw serahkan segalanya ke Allah SWT.. Sang Maha Melihat dan Maha Penentu Takdir seseorang.. Sambil menghela nafas panjang, gw kembali membuka mata.. Setelahnya, gw merasa jauh lebih tenang dan kian mantap untuk menghadapi segala aral rintangan yang terasa sedang menunggu dalam kegelapan di depan sana.. Dengan kembali mengucap kalimat Basmallah, gw memutuskan untuk melangkahkan kaki ke depan.. Namun, baru dua langkah gw ambil.. Tiba-tiba..

DUGG..

“ADUH!” Pekik gw, begitu wajah ini terasa sakit setelah membentur sesuatu..

Gw sempat memegangi hidung yang pertama kali terasa sakit karena membentur benda asing.. Sambil mengusap-usap batang indera penciuman, gw memaki sedikit kesialan disebabkan memiliki hidung bangir.. Asli, Bree.. Sakit banget hidung gw waktu itu..

Dalam keadaan pandangan mata masih buram di situasi gelap tanpa ada sedikit pun cahaya, gw mengulurkan kedua tangan dan mencoba meraba-raba benda keras yang barusan gw tabrak.. Sebuah alas benda kasar seperti kayu disertai sensasi dingin nan lembab langsung terasa di kedua telapak tangan, begitu mulai menyentuh benda asing tepat di hadapan..

“Ini kek pohon” Ucap gw lagi, sambil terus meraba ke atas dan ke bawah bagian kasar yang terasa seperti kulit batang sebuah pohon, lalu mencoba memeluk dengan kedua tangan untuk memastikan..

“Njiir! Ini beneran pohon” Pekik gw seraya melangkah mundur, begitu meyakini bahwa benda panjang nan kasar yang berada diluar jangkauan pelukan dua tangan itu adalah benar-benar sebuah pohon..

Sambil terus mengucek untuk mencoba mengembalikan fungsi kedua indera penglihatan agar mampu melihat jelas situasi yang ada di hadapan, sebisa mungkin gw memasang telinga mengikuti suara tangisan bayi.. Tapi sia-sia, semua masih terlihat sangat gelap.. Perasaan, gw sudah berjalan sambil meraba-raba cukup jauh.. Namun masih saja kegelapan yang gw temui.. tanpa adanya cahaya sama sekali disini..

Tiba-tiba, dari arah belakang terasa seseorang memegang bahu.. Gw yang terperanjat dan merasa ada ancaman, seketika membalikkan tubuh sambil refleks langsung melayangkan sebuah pukulan..

TAP..

Kepalan tangan gw terasa ditangkap oleh sebuah telapak tangan yang tak terlihat dalam gelap.. Gw berusaha melepaskan diri, tapi telapak tangan orang yang tak nampak malah kian kuat mencengkram.. Merasa ada ancaman, gw mencoba melayangkan sebuah tendangan sebagai bentuk serangan lain.. Namun aliran tenaga aneh yang keluar dari telapak tangan asing, seketika membuat gw kehilangan hampir seluruh tenaga.. Tak ayal, gw langsung jatuh terduduk di atas dua lutut dengan dua tangan menopang tubuh, saat sudah terlepas dari cengkraman sosok misterius..

“Sial!!” Maki gw dalam hati dengan nafas tersengal-sengal, dan kepala terus tertunduk menghadap permukaan tanah yang masih sama sekali tak nampak..

Mendadak, sebuah pijaran cahaya cukup terang muncul dari atas kepala gw dan membuat bayangan wajah terbentuk di tanah yang berwarna coklat.. Sepasang kaki tanpa alas, nampak berdiri berpijak setengah tombak di hadapan.. Gw sontak mengangkat kepala dan menemukan sesosok laki-laki tua bertelanjang dada, sedang mengulum senyuman ramah sambil memegangi sebuah obor.. Dilihat dari penampilannya yang nampak aneh dengan celana panjang lusuh dibalut kain coklat kumal dan sebuah penutup kepala dari kain hitam, menandakan sosok berwajah keriput itu hanya orang biasa.. Tapi, mengapa penampilannya terkesan sangat tempo dulu yak?

“Bangun lah, Ngger” Ucap sosok asing dengan suara yang mampu menggetarkan batin..

Gw sempat tertegun menatap wajahnya yang terlihat jelas di bawah pijaran api obor.. Lalu, perlahan gw mencoba bangkit berdiri.. Namun, kembali gw terjatuh berlutut di atas tanah karena dua kaki masih belum bisa digunakan untuk menopang tubuh..

“Gila! Kemana tenaga gw? Sampe berdiri aja ga bisa” Keluh gw dalam hati dengan nafas memburu..

“Pegang tangan ku, Ngger.. Biar ku bantu kau berdiri” Ucap kakek tua itu sambil mengulurkan tangan kirinya..

Untuk beberapa saat, gw menatap ragu ke tangan berkulit keriput yang ada di hadapan.. Lalu, pandangan gw terlempar memandangi wajah kakek tua tersebut.. Diam-diam, gw mencoba mengukur seberapa kuat aura sosok yang sedang berdiri di hadapan..

“Aneh.. Aura nya sama sekali ga kerasa.. Tapi kenapa dia bisa nguras tenaga gw cuma lewat cengkraman tangan tadi? Nih engkong-engkong pasti bukan orang sembarangan kek nya” Ucap gw dalam hati sambil terus memandangi wajah sang kakek tua..

“Apa kau mau tetap duduk lemah seperti itu, dengan menolak uluran tangan ku?” Tanya Sang Kakek Tua..
sampeuk
djaquo
dodolgarut134
dodolgarut134 dan 12 lainnya memberi reputasi
13
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.