Kaskus

Story

dumpsysAvatar border
TS
dumpsys
Merindukan Kematian
Merindukan Kematian


Quote:



Bab 1 Meningitis


Tanggal 2 Februari saat kuputuskan untuk menyerah dan mengikuti saran ayahku: dirawat di rumah sakit! Setelah lebih dari sepekan kurasakan nyeri kepala yang luar biasa, kondisi kesehatanku semakin menurun. Aku lebih memilih tidur sepanjang hari daripada memaksakan diri untuk makan di tengah derita nyeri.

Nyeri kepala yang kurasakan ini seperti ditusuk jarum berkali-kali di banyak titik secara bertubi-tubi. Awalnya nyeri itu terasa mencengkram bagian belakang kepala. Kupikir yang kuderita itu anemia, tetapi warna kelopak mata yang merah dan tak pucat tidak menunjukkan penyakit tersebut. Nyeri kepala ini berlangsung sepanjang hari selama 10 hari. Karena nyeri yang teramat sangat inilah aku merasa mual hingga muntah setiap perut diisi makanan. Ketika aku merasa tak mampu lagi bertahan dan semakin lemas karena tubuh tak mendapat asupan, aku pun berangkat bersama suami ke rumah sakit untuk rawat inap.

Ruang UGD penuh sekali dengan pasien. Berbagai macam keadaan mereka. Beberapa dokter yang mendapat giliran piket jaga menginterogasi satu per satu untuk mengindikasi penyakit yang diderita. Aku sendiri menunggu tindakan setelah tes uji yang dilakukan di lab rumah sakit.

Tes pertama yang kulakukan adalah uji darah. Setelah hasil keluar, sedangkan dugaan pertama tidak terbukti, tes kedua dilakukan untuk menguji dugaan kedua. Tes kedua yang kulakukan adalah pengambilan sumsum tulang belakang dengan metode lumbal pungsi.

Jika pengambilan darah merupakan tes biasa yang sering kulakukan sebelumnya, maka pengambilan sumsum tulang merupakan tes yang baru kuketahui. Berarti penyakit yang kuderita sekarang berbeda dengan penyakit yang pernah kuderita dulu: demam berdarah, radang tenggorokan, dan tipes.

Ternyata hasil tes keluar esoknya. Setelah semalaman berada di ruang UGD yang dingin dan menyaksikan banyak pasien menunggu perolehan ruangan, akhirnya aku mendapat ruang rawat inap kelas dua. Aku divonis terkena penyakit meningitis, suatu penyakit yang menyerang meninges atau lebih dikenal sebagai selaput otak yang disebabkan bakteri tuberculosis/tubercle bacillus(TB).

Selama dirawat oleh dokter ahli syaraf di sana, aku diberikan 4 jenis obat secara rutin: rifampicin, isoniazid, ethambutol, dan pyrazinamide. Keempatnya merupakan obat umum yang diberikan untuk membasmi bakteri TB. Selain obat ini, aku pun mengonsumsi obat penguat lambung serta kostikoroid yang disuntikkan melalui cairan infus dan multivitamin penguat imunitas tubuh.

Penyakit yang disebabkan bakteri TB umumnya menyerang organ paru-paru yang ditunjukkan oleh batuk yang terus-menerus. Akan tetapi, dalam beberapa kasus bakteri TB yang giat mencari jalan menuju organ lain dapat menyerang organ tubuh lain tersebut. Ada yang menyerang tulang, kelenjar, kulit, dan selaput otak seperti yang kualami.

Penyakit meningitis TB merupakan penyakit TB yang agak lama penyembuhannya, tetapi penularannya tidak massif seperti halnya TBC yang menyerang paru-paru. Hal ini disebabkan lokasi perkembangbiakan bakteri tersebut agak terisolir. Bagaimanapun otak merupakan organ yang paling terlindungi dan akses kesana sangat terbatas. Berbeda dengan paru-paru yang berhubungan dengan jalur pernafasan sehingga bakteri dapat ditularkan melalui batuk dan bersin.

Bukan hanya aku yang kurang beruntung mendapat penyakit syaraf ini. Di ruang rawat inap itu aku bersama dua pasien lain yang juga menderita penyakit syaraf. Pasien yang satu terkena stroke sehingga sebagian tubuhnya tak dapat digerakkan. Pasien lainnya terkena tumor otak sehingga penglihatannya terganggu dan ia sering tak sadarkan diri jika tengah alami nyeri tak tertahankan.

Pasien pertama berprofesi sebagai guru yang hampir pensiun. Ia didampingi oleh suaminya yang juga seorang guru yang telah pensiun 3 tahun lalu. Pasien ini mengeluhkan tiba-tiba suatu pagi ia tak mampu berdiri dan jatuh di dalam kamar mandi. Saat dicek kadar gula dan tekanan darahnya ternyata memang cukup tinggi sehingga ia memilih untuk rawat inap hingga pulih.

Pasien kedua berprofesi sebagai ibu rumah tangga dengan tiga orang anak. Anak pertama dan keduanya yang perempuan telah bersuami dan memiliki anak yang masih kecil-kecil. Meskipun demikian, mereka berdualah yang paling rajin bergiliran merawat sang ibu. Jika malam datang, suami ibu pengidap tumor ini pun mendapat giliran jaga. Sesekali bersama anak ketiga mereka yang laki-laki.

Aku sendiri dijaga bergiliran oleh bibi, ayah, dan ibu. Bibi dan ibu menjagaku siang hari, sedangkan ayah menjagaku malam hari. Jika datang malam sabtu dan minggu, suami sengaja menjenguk dan menjagaku. Suamiku bekerja di Jakarta selama 5 hari dan berakhir pekan bersama istri di rumah sakit dan terkadang berakhir pekan dengan anak kami di rumah mertuanya.

Dengan perasaan yang remuk redam aku menyapih anak kami, Ahmad, di usianya yang baru 1.5 tahun. Aku tak diperkenankan untuk menyusuinya karena dikhawatirkan bakteri TB menginfeksi si kecil melalui asi. Hampir dua pekan asi terkumpul di kelenjar susu sehingga payudaraku menjadi sangat keras dan terasa nyeri. 

Aku pun sering menangis, tetapi bukan karena rasa nyeri yang membuatku sedikit meriang itu, melainkan rindu anakku berada di pangkuanku untuk menyusu. Aku berusaha memendam rindu agar ia tak rewel di rumah bersama aki, enin, dan amah-nya. Akan tetapi, rasa rindu itu seringkali meradang dan mau tak mau membuatku memboroskan air mata. 

Maafkan bunda, Nak, maafkan..

Quote:

Diubah oleh dumpsys 15-09-2024 16:59
MardjokoAvatar border
raaaaud20Avatar border
pulaukapokAvatar border
pulaukapok dan 5 lainnya memberi reputasi
6
6.4K
29
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
dumpsysAvatar border
TS
dumpsys
#16
Bab 5
VP Shunt


Puasaku tak sempurna sebulan. Beberapa hutang puasa menambah kewajibanku membayar di luar Ramadhan karena kesehatanku yang labil. Meski demikian, aku sangat bersyukur dapat menikmati Ramadhan kembali semampuku.

Beberapa minggu setelah Ramadhan berlalu kondisi tubuhku tampak memburuk. Aku hampir selalu mual dan muntah di tengah malam sekalipun yang keluar hanya air. Kami sempat berpikir apa mungkin aku hamil lagi, tapi testpack menunjukkan hasil negatif.

Rasa kebas di muka kiri pun pergi lantas muncul kembali di tengah derita panas dingin. Pandanganku semakin tak fokus: bukan hanya semua jadi serba buram, melainkan juga menjadi serba goyang dan ganda. Aku tak mampu lagi membaca sebab huruf-huruf yang sebenarnya terpisah jarak jadi terlihat bertumpuk-tumpuk. Sendi lututku sebelah kanan pun sempat bergeser karena benturan dengan anakku. Sejak itu cara jalanku semakin aneh karena gangguan syaraf sekaligus trauma psikomatik.

Maka, saat bibi menjengukku yang saat itu tengah berjemur, aku langsung direkomendasikan untuk dirawat kembali. Mendengar pertanyaan, "Tidakkah kamu ingin sembuh?", aku menangis sejadi-jadinya. Sejujurnya aku lelah. Aku ingin mengakhiri penderitaan ini, tetapi Dia dengan kasih sayangnya masih menguji kesabaranku... Atau Dia ingin aku lebih optimal berikhtiyar??

Aku pun setuju untuk kembali rawat inap di rumah sakit yang sama saat meningitis. Aku diantar mobil oleh bibi dan suami kali itu. Sebelum berangkat kuciumi anakku dengan hati yang hancur. Bunda pergi untuk kembali, Nak, jangan nakal dan doakan kesembuhan untuk bunda.

Malam pertama aku mendapatkan ruang rawat setelah menginap semalam di UGD. Ruang rawatku kali ini pun sama persis dengan ruang rawat sebelumnya: kamar pasien umum kelas 2 spesialis penyakit syaraf. Barangkali penyakit yang kuderita kali ini masih berhubungan dengan penyakit lama: meningitis TB.

Awalnya aku memilih untuk dirawat oleh dokter yang sama seperti sebelumnya. Akan tetapi, karena kuharap respon yang cepat dengan harapan lekas sehat, kupilih dokter yang jaga on time saat itu. Beliau langsung datang dan membaca hasil CT scan di kepalaku. Tak lama kemudian dokter ini datang bersama dokter spesialis lain. Mereka berdiskusi cukup alot di hadapanku dengan bahasa yang tak mampu kumengerti.

Malamnya dua orang dokter spesialis bedah syaraf datang ke ruang rawat kami. Kebetulan saat itu aku dijaga oleh dua orang yang paling bertanggung jawab terhadapku: ayah dan suami. Tanpa kami duga kedua dokter langsung menawarkan tindakan berupa suatu operasi bedah syaraf bernama pemasangan vp-shunt.

Normalnya setiap manusia membuang sejumlah cairan dari otak ke organ pencernaan setiap harinya. Akan tetapi, dalam beberapa kasus ada yang menyumbat saluran pembuangan cairan tersebut. Pada bayi yang masih berkembang ukuran tengkoraknya, cairan yang tak mampu dibuang ini membuatnya memiliki kepala berukuran besar. Kasus ini dinamakan Hidrocephalus. Pada manusia dewasa yang ukuran tengkoraknya sudah berhenti berkembang, cairan ini akan mendesak syaraf di otak dan menyebabkan beberapa komplikasi.

Rupanya dalam tempurung otakku berkembang sejenis tumor yang menghalangi jalan cairan dari otak. Akibatnya cairan yang tak dapat keluar tersebut mendesak syaraf-syaraf di otak sehingga penglihatan dan pendengaranku terganggu. Operasi vp-shuntadalah operasi pemasangan shunt, yakni sejenis selang untuk jalan pembuangan cairan yang baru, yang dipasang dari tempurung otak ke lambung. Selang itu diletakkan di bawah jaringan kulit melalui belakang telinga, leher, dada dan payudara, berakhir di perut.

Operasi ini bukan tindakan final dari penyakitku, melainkan satu tindakan untuk meminimalisir efek sampingnya saja. Tindakan terhadap tumor dalam otakku akan ditentukan kemudian. Dokter menjelaskan bahwa operasi vp-shunt kepadaku penting dilakukan sekarang sebab syaraf di otak yang terdesak bisa kehilangan fungsinya yang berkenaan dengan penglihatan, pendengaran, dan pergerakan.

Di sisi lain dokter pun menjelaskan resiko di meja operasi: cacat atau bahkan meninggal. Aku sudah mengalami enam kali dirawat di rumah sakit dan salah satunya mengalami operasi karena kecelakaan, tetapi baru kali ini kudengar vonis sekeras itu. Agak sesak rasanya, tapi tak ada air mata. Apakah kematian bagiku telah begitu dekat?

Setelah kedua dokter keluar, aku bersama ayah dan suami bermusyawarah. Sejujurnya aku tak ingin dioperasi lagi, tetapi aku benar-benar ingin kembali sehat. Suami hanya diam saja menyimak saran ayah. Menurut ayah tak ada jalan selain mempercayai ahlinya, yaitu dokter. Maka, putusan kami pun membulat: aku akan mengambil jalan operasi. Secepat kilat aku diminta menandatangani lembar persetujuan lalu jadwal operasi langsung ditentukan karena menurut dokter kasusku cukup mendesak.

Setelah menandatangani lembar persetujuan dengan tangan yang gemetar, aku langsung diminta berpuasa pra operasi dan segera tidur untuk bersiap menjemput takdir lain. Aku tak tahu takdir apakah yang tengah kujemput: kesehatan atau kematian? Aku lebih berharap untuk mati saja daripada hidup dengan kecacatan dan lebih merepotkan orang-orang yang mencintaiku.

Tiba-tiba di tengah kegalauanku itu bayangan Ahmad muncul. Aku rindu bisa kembali memangkunya, mendekapnya, menciumnya. Mungkin pamit padanya kemarin itu adalah salam perpisahan. Ada sedikit sesal mengapa begitu singkat, tapi aku yakin ia pun bisa merasakan bahwa bundanya amat sangat mencintainya.

Ah, apalagi yang kuharapkan? Hidupku begitu sempurna. Aku punya keluarga utuh yang kucintai dan mencintaiku, aku telah mengecap pendidikan yang baik, aku sudah diperkenankan menikah dan dikaruniai seorang anak, dan yang terpenting aku diberi iman kepada Allah dan hari akhir sebagai kunci kebahagiaan hidup abadi. Sudah cukup kebahagiaanku, Rabbi, silakan Kau jemput hamba-Mu ini. Aku siap InsyaaAllah asal Kau menjaga imanku tetap tegar hingga jiwa keluar dari raga.

Sekitar tengah malam aku dikirim ke ruang operasi. Setelah kukenakan pakaian khusus pasien operasi, aku pun menunggu dengan berbaring di atas kasur yang keras dan dingin. Sungguh tak ada air mata, tetapi kurasakan seluruh tubuhku pasrah total. Aku harap surgalah tempat tinggalku setelah pergi dari dunia ini.

Kulihat suami dan kakak iparku mengurus administrasi di depan ruang operasi. Kulemparkan senyumku sebisa mungkin saat mata kami bertemu. Aku tahu ia pun khawatir. Aku paham ia berharap aku bisa sembuh kembali. Aku merasa perjuaanganku ini bukan hanya milikku, tetapi juga milik keluargaku yang kucintai dan mencintaiku.

"I love you," ucap suamiku sambil mengecup keningku. Ada rasa haru mendengarnya karena bisa jadi ini ucapan cinta terakhir yang dapat ia utarakan dan yang dapat kudengar di dunia. Semoga kami bisa bertemu lagi di rumah terakhir nanti, rumah terbaik di negeri akhirat.

Kasurku didorong ke sebuah ruangan yang sangat terang dan sangat dingin. Selembar baju operasi tak memberikan sedikit pun rasa hangat. Aku menggigil. Tak lama kemudian semua peralatan dan perlengkapan siap. Aku yang tadinya hanya diam menyimak pembicaraan para dokter bedah mulai diajak bicara.

"Coba lihat kemari," perintah dokter padaku mengarah ke kumpulan lampu yang membulat tepat di atas kepalaku, "sebentar lagi kamu akan tidur."

Aku pikir sekitar tiga hitungan dari ucapan dokter tersebut aku tak dapat mengingat apapun lagi. Barangkali anestesi mulai bekerja dalam tubuhku. Dengan namaMu, Ya Allah Tuhanku, aku hidup dan dengan namaMu aku mati.
pulaukapok
pulaukapok memberi reputasi
1
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.