Kaskus

News

rossdeleonAvatar border
TS
rossdeleon
[Diskusi} Sejarah Dinasti Han Akhir 184 - 280 AD
Lanjutan atau pecahan dari thread https://www.kaskus.co.id/thread/50ac...e-3-kingdom/58 yang sudah reborn tapi masih lebih berat pada novel daripada sejarah.

Akhir Kekaisaran Han menjadi salah satu sumber karya sastra karena baiknya dokumentasi pencatatan sejarah di era tersebut. Dokumen Sanguozhi buatan Chen Shou, seorang penulis di era tersebut yang dinilai sebagai sumber yang sangat berharga dalam menggambarkan situasi yang terjadi, baik keruntuhan, kekacauan hingga berakhirnya dinasti Han. era yang lebih kita kenal sebagai Kisah Tiga Negara atau Kisah Tiga Kerajaan.

[Diskusi} Sejarah Dinasti Han Akhir 184 - 280 AD

Chen Shou, hidup di era 3 Kerajaan dan menuliskan Dokumen Sejarah di eranya


Walau menginspirasi banyak karya seperti Film dan Komik tetapi nyatanya hampir semua bersumber dari Novel Tiga Negara atau Sanguoyanyi yang baru dikompilasi 10 abad berikutnya. alias novelnya baru ada 1000 tahun setelah kejadian. yang menulis atau mengkompilasi novel tersebut adalah Luo Guanzhong, seorang penulis di era peralihan Yuan dan Ming.  jadi harus dipahami bahwa antara Chen Shou dan Luo Guanzhong terdapat jarak kurang lebih 1000 tahun.

Luo Guanzhong dan beberapa generasi sebelumnya dalam menulis novel tetap berpatokan pada Sanguozhi terutama bagian garis-garis besarnya. namun selebihnya ia rubah sesuai dengan narasi yang dibutuhkan, karna pada era dimana novel tersebut hendak diterbitkan china sedang dikuasai oleh dinasti Yuan yang merupakan orang mongol/ asing sehingga dibutuhkan semacam karya sastra nasionalis untuk menggugah semangat generasi muda mereka.

[Diskusi} Sejarah Dinasti Han Akhir 184 - 280 AD

Luo Guanzhong, tokoh yang disebutkan sebagai "pengarang" Novel Tiga Negara


Karena itulah Novel tiga kerajaan dibuat, penuh dengan tokoh yang menekankan kesetiaan kepada kekaisaran. namun sejarahnya sendiri mencatat hal yang sangat berbeda, karena itu Novelnya walaupun begitu mudah dinikmati nyatanya memiliki beberapa kontradiksi yang tidak bisa memuaskan pembacanya karena memang sebetulnya penuh dengan fiksi dan sentimen yang keliru.

Berikut Link wiki untuk kedua penulis tersebut :

https://en.wikipedia.org/wiki/Chen_Shou


Chen Shou, betulan hidup di era 3 Kerajaan, berasal dari wilayah selatan (nantinya Wu) lalu ikut ayahnya yang mengabdi pada Liu Bei dan mendapatkan posisi di Shu sebagai pejabat kekaisaran. kemudian ia bekerja sebagai official di bawah dinasti Jin setelah keruntuhan dinasti Shu. mengetahui bakatnya, kekaisaran Wei-Jin kemudian menugaskan pencatatan era tersebut kepada dirinya karena dianggap sebagai pihak netral, bukan penduduk asli Wei-Jin yang menjadi penguasa.


https://en.wikipedia.org/wiki/Luo_Guanzhong


Merupakan penulis di era Yuan dan Ming, karena kekacauan di seantero china di masa akhir dinasti Yuan maka kisah hidup sang penulis tidak tercatat dengan baik. kemungkinan ia adalah seorang editor produktif bertangan dingin yang mana di bawah asuhannya berbagai karya sastra yang sudah menumpuk beberapa generasi akhirnya bisa diterbitkan, antara lain Kisah 3 Negara dan juga Tepian Air atau 108 pendekar.

Walau kemudian ada sejumlah besar yang di edit ulang oleh para ahli karena keliru atau merupakan extra yang tidak diperlukan, tetapi setidaknya di tangan Luo Guanzhong lah naskah tersebut bisa diterbitkan secara utuh dan lengkap, tidak kurang bagian per bagian.

Patut diperhatikan bahwa kedua karya tersebut bukan tulisan Luo Guanzhong seorang. kemungkinan karya tersebut sudah ada tetapi belum terkenal, masih lisan dan sekedar dikumpulkan lalu dibubukan menjadi 1. bukan hal yang mudah karena mungkin terdapat banyak versi dan banyak bagian yang hilang, belum utuh satu kesatuan hingga dari awal hingga tamat.



Dari segi Sumber untuk memudahkan pembahasan :

1. Film, Komik, Drama semua bersumber dari Sanguoyanyi (Novel) buatan Luo Guanzhong.

2. Sanguoyanyi (Novel) buatan Luo Guanzhong sendiri tetap bersumber dari Sanguozhi buatan Chen Shou.


Jadi untuk pembahasan sejarah kita tidak akan melihat versi Novel melainkan langsung ke Sanguozhi atau Records of the Three Kingdoms karangan Chen Shou.

https://en.wikipedia.org/wiki/Record...Three_Kingdoms

Catatan ini sendiri berbentuk biografi tokoh per tokoh sehingga dewasa ini dengan kemajuan teknologi untuk membaca Sanguozhi anda cukup menggunakan google. ketik nama tokoh lalu taruh SGZ lalu search. misal : "Liu Bei SGZ" maka akan ada beberapa artikel yang muncul yang mana merupakan beberapa terjemahan dari biografi tokoh tersebut dalam catatan resmi kekaisaran Han/ Wei-Jin.

semisal : http://kongming.net/novel/sgz/liubei.php

[Diskusi} Sejarah Dinasti Han Akhir 184 - 280 AD



Untuk mengawali diskusi mari kita bahas 1 topik yang sedari dahulu mengganjal. Bagaimana dinasti Shu sebenarnya runtuh? apa penyababnya, apa latar belakangnya, bagaimana kekaisaran yang memiliki pertahanan yang begitu kuat, terletak jauh dan mudah dipertahankan di atas pegunungan dan hujan, serta militer yang berjumlah besar (tercatat memiliki 100ribu prajurit di waktu kapitulasi penyerahan) bisa kalah dengan mudah.

Lanjut di post 13emoticon-Shakehand2

Pertanyaan dipersilahkan.
Diubah oleh rossdeleon 28-05-2018 10:53
0
65.5K
640
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Sejarah & Xenology
Sejarah & Xenology
KASKUS Official
6.5KThread11.6KAnggota
Tampilkan semua post
rossdeleonAvatar border
TS
rossdeleon
#12
Quote:


sudah ada tidak lama setelah kejadian. lalu setelah itu semakin naik karena banyak kaisar setelahnya yang ingin mendekatkan image mereka kepada sang jendral.

The apotheosis of Guan Yu occurred in stages, as he was given ever higher posthumous titles. Liu Shan, the second emperor of Shu, gave Guan Yu the posthumous title of "Marquis Zhuangmou" (壯繆侯) four decades after his death. During the Song dynasty, Emperor Huizong bestowed upon Guan Yu the title "Duke Zhonghui" (忠惠公), and later the title of a prince. In 1187, Emperor Xiaozong honoured Guan Yu as "Prince Zhuangmou Yiyong Wu'an Yingji" (壯繆義勇武安英濟王). During the Yuan dynasty, Emperor Wenzong changed Guan Yu's title to "Prince of Xianling Yiyong Wu'an Yingji" (顯靈義勇武安英濟王).

The elevation of Guan Yu's status to that of a deity took place during the Ming dynasty. In 1614, the Wanli Emperor bestowed on Guan Yu the title "Holy Emperor Guan, the Great God Who Subdues Demons in the Three Worlds and Whose Awe Spreads Far and Moves Heaven" (三界伏魔大神威遠震天尊關聖帝君). During the Qing dynasty, the Shunzhi Emperor gave Guan Yu the title of "Guan, the Loyal and Righteous God of War, the Holy Great Deity" (忠義神武關聖大帝) in 1644. This title was expanded to "Guan the Holy Great Deity; God of War Manifesting Benevolence, Bravery and Prestige; Protector of the Country and Defender of the People; Prow and Honest Supporter of Peace and Reconciliation; Promoter of Morality, Loyalty and Righteousness" (仁勇威顯護國保民精誠綏靖翊贊宣德忠義神武關聖大帝), a total of 24 Chinese characters, by the mid-19th century. It is often shortened to "Saint of War" (武聖; Wǔ Shèng), which is of the same rank as Confucius, who is honoured the "Saint of Culture" (文聖; Wén Shèng). The Qing advancement of Guan Yu served to strengthen the loyalty of Mongol tribes, as the Mongols revered him as second only to their lamas.[10]


dinasti silih berganti tetapi Guan Yu terus naik tingkat dan terus diberikan "pangkat" istimewa oleh kekaisaran demi kekaisaran. dari song hingga Qing. demikian pula statusnya dari dewa persaudaraan dan loyalitas menjadi setara dengan saint of war. emoticon-Big Grin


Quote:


dari segi manpower dan ekonomi serta kualitas SDM betul.

tapi.... faktor geografis itu sangat besar sekali. demikian besar sehingga di era modern sekalipun superpower macam soviet dan amerika masih bisa kelabakan dilawan rag-tag army dengan senjata seadanya entah di afghanistan ataupun vietnam karena faktor geografis itu tadi. karena itu jangan pernah menyepelekan geografis dalam pertempuran.

Qin di masa jayanya pernah meremehkan Chu karena dianggap orang gunung dan kampung, lalu memerintahkan seorang jendral yang pede meminta 200 ribu jiwa. tidak lama kemudian pulang dengan kekalahan memalukan. Chu baru dikalahkan setelah seorang jendral kolot diberikan lebih dari 1/2 juta orang dan keleluasaan dalam berperang, yang mana hampir 1/2 tahun digunakan untuk membangun basis-basis logistik dan perbentengan, dsb-nya barulah Chu bisa dikalahkan secara perlahan.

Liu Bei tahu akan hal ini sehingga memiliih Shu sebagai basisnya, seperti halnya dahulu forefathernya, Liu Bang menguasai china ketika bertolak dari hanzhong yang aman dari segala sisi dan termasuk kaya dengan hasil bumi untuk mendukung logistik pasukan. wilayah Shu mudah dipertahankan dan mengapa gagal senantiasa menjadi pertanyaan, sampai dengan sekarang ketika dokumen tambahan berhasil dibedah. emoticon-Big Grin

lanjut di bawah.

Quote:


baik melanjutkan.

tadi kita bicara tentang Li Yan. seorang nobody dalam novel yang diserahi tanggung jawab setara Zhuge Liang ketika Liu Bei sekarat. bahkan sebenarnya Li Yan diberikan posisi yang lebih tinggi.

In 222, Liu Bei suffered a devastating defeat to the eastern warlord, Sun Quan, at the Battle of Xiaoting and died not long later in Baidicheng. On his death bed, Liu Bei specifically asked Li Yan to be a co-regent with Zhuge Liang to take care of his son, Liu Shan, and appointed Li Yan as Central Protector-General (中都護) to handle all military matters — both imperial guards and standard armies were supposed to be under his command.[3] According to Liu Bei's dying wish, Li Yan should be the military paramountcy within the Shu regime.Liu's choice fell on Li because by 223, other original Yi officials likely to be given the position, Fa Zheng and Dong He already passed away, Huang Quan surrendered to Wei the year before and Wu Yi wasn't considered as talented as Li Yan.


kepala pasukan penjaga istana dan pasukan reguler shu. jadi Li Yan setelah kematian Liu Bei adalah jendral atau panglima tertinggi di Shu. padahal masih ada old guard macam Zhao Yun, dkk walau Guan Yu dan Chang Fei sudah tiada.

mengapa?

jawabnya adalah karena alasan etnis. Li Yan kalau anda baca bionya berasal dari daerah yang tidak jauh dari Shu. ia ketika muda bekerja sebagai katakanlah administrator kota yang andal di bawah Liu Biao. ketika Cao Cao datang, ia memilih minggat dan kemudian bekerja pada Liu Zhang karena masih merupakan native atau local dari daerah asalnya. baru kemudian ia memilih menyerah kepada Liu Bei setelah ybs datang untuk menguasai hanzhong dan sekitarnya.

nah, Li Yan diserahi tanggung jawab dan kuasa sebesar itu karena ketiadaan tokoh lain yang asli atau merupakan "lokal" daerah sana yang pro terhadap regime Shu agar para clan-clan besar yang berada di sana tidak memberontak. karena sebetulnya mau Liu Bei ataupun Liu Zhang ataupun bapaknya yakni Liu Yan (hati-hati tertukar dengan Li yan, beda Liu dan Li saja), sebetulnya merupakan "penjajah asing" bagi orang asli di sana.

kaskus-image

daerah yizhou yang juga mencakup hanzhong, sebetulnya merupakan daerah yang masih terbilang asing dan bauran etnisnya masih homogen. mereka seringkali terputus dari pusat dan seringkali punya struktur sosial sendiri dengan para clan dan keluarga besar memerintah wilayah. mereka seperti jadi raja/ bupati kecil dan gubernur dari pusat sekedar duduk tanpa kuasa yang kuat.

jadi situasinya seperti medieval jepang, dimana shugo/ gubernur yang diutus oleh shogun sebenarnya semakin tidak punya kuasa karena wilayah nyatanya dipegang kuat oleh para clan dan daimyo yang memiliki kuasa langsung atas ekonomi, tanah dan juga populasi serta pasukan.

nah di era Liu Yan ayah dari Liu Zhang, ia dengan pretext dibunuhnya utusan dari ibukota mulai menghukum mati banyak keluarga kuat di daerah tersebut setelah kedatangannya. dengan pretext mengejar pejabat korup maka ia memulai pembersihan dan mengisi jabatan penting dengan teman atau sahabatnya sendiri. sehingga kedudukan orang ibukota menjadi lebih tinggi daripada gentry/ penguasa lokal.

Liu Yan meninggal karena usaha pelarian anak-anaknya terhadap Dong Zhuo gagal, lalau para clan lokal memilih Liu Zhang yang cenderung baik terhadap mereka. Liu Zhang membiarkan para gentry/ clan lokal berkuasa kembali, karena itulah banyak pejabat yang melukiskan pemerintahan Liu Zhang sebagai korup karena memang KKN merajalela. banyak cendikiawan lokal mereka sendiri yang antipati terhadapnya dan karenanya ketika mengetahui Liu Bei datang segera mengumpulkan dukungan terhadapnya.

karena clan-clan lokal ini memang biang KKN dan senantiasa menindas rakyatnya sendiri. jadi bukan cuma cultuurstelstel yang menindas rakyatnya sendiri, bahkan ratusan tahun sebelumnya pun di yizhou china sebelum Shu, hal ini sudah sering terjadi.

nah di bawah Liu Bei, clan-clan lokal kembali dibuang ke taraf ke 3.

jadi dahulu ada 2 sekarang ada 3.

Liu Bei, dkk ada di tingkat teratas.
pejabat bekas Liu Zhang yang kompeten dan pro Liu bei ada di tingkat kedua.
sedangkan sisa-sisa clan yang tunduk ada di tingkat ke 3.


walau rakyat memuji Liu Bei dan terutama Zhuge Liang serta beberapa menteri lainnya yang lebih berjasa terhadap dibebaskannya mereka dari penindasan yang berlebihan, tetapi tetap adalah para clan besar yang memiliki kekayaan dan kontrol populasi, serta prajurit tentunya. tanpa mereka walaupun prajurit kelas bawah mendukung regmine Shu tetapi para letnan dan kolonel serta pembesar wilayah belum tentu mendukung atau malah menghambat.

karena itu Shu digulung dengan cepat, terlalu cepat dari seharusnya.

karena nyatanya para pembesar dan penguasa daerah tidak mendukungnya, atau malah mengharapkan agar Wei cepat-cepat datang agar struktur hierarki sosial kembali normal. yakni Wei di atas dan segala elemen bekas Shu hilang dan mereka para clan kembali menjadi kelas 2 dalam pemerintahan daerah.

setelah kematian Zhuge Liang sendiri ketidakpuasan antara kubu pendatang dan kubu lokal semakin meruncing. apalagi Li Yan sudah dipecat karena tidak kompeten dan cenderung memperkaya diri daripada mengurusi tanggung jawabnya. karena itu para clan semakin gerah karena tidak ada seorangpun yang menjadi pendukung mereka dalam pembuatan kebijakan di kekaisaran Shu.

ditambah lagi para old guard yang setia dengan Liu Bei semakin habis karena uzur dimakan usia, dan anak-anak generasi baru pun tidak banyak yang memiliki bakat yang sama. karena itu ketika Jiang Wei memimpin maka internal Shu sendiri dalam keadaan parah.

para clan yizhou tidak ingin perang karena mereka memang tidak care terhadap restorasi dinasti Han ataupun mengalahkan Wei. mereka hanya ingin hidup damai. dan setelah Zhuge liang melancarkan 3x perang yang mana hasilnya mengecewakan maka hampir seluruh sumber daya Shu terkuras. kekayaan yang seharusnya mengalir kepada para clan dibuang sia-sia, menurut mereka sehingga ketika Wei datang mereka malah diam-diam mendukungnya.

jadi pada kasus Shu, memang sebuah kekaisaran yang tidak mendapatkan dukungan penuh dari wilayahnya. ya rakyat bawah mendukungnya tetapi para elit dan pembesar daerah tidak. hal ini diperparah dengan pemerintahan tangan besi Zhuge Liang yang menurut beberapa ahli merupakan legalis reformis sedangkan kebanyakan pembesar yizhou adalah konfusianis kolot. sehingga seringkali banyak pejabat tinggi yang dihukum berat oleh Zhuge Liang karena, KKN, terlibat kesalahan lain, atau kecurangan yang mana sudah secara tradisi dihukum ringan. tetapi di tangan zhuge liang justru dihukum berat dan dipermalukan, karena itu banyak yang tidak suka dan tidak rela mendukung Shu.
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.