- Beranda
- Kendaraan Roda 4
[ ICON ] INDONESIAN CAMRY OWNERS - Part 1
...
TS
iconers100
[ ICON ] INDONESIAN CAMRY OWNERS - Part 1
"SELAMAT DATANG DI OFFICIAL THREAD INDONESIAN CAMRY OWNERS"
![[ ICON ] INDONESIAN CAMRY OWNERS - Part 1](https://dl.kaskus.id/i1189.photobucket.com/albums/z435/nubie_here/10462802_10152327291632530_2092963896852312169_n_zps755cb394.jpg)
Sedikit Sejarah
- Indonesian Camry Owners pertama kali terbentuk atas gagasan Saudara Teguh Iman Santoso untuk membuat thread di Kaskus.
- Pada pertengahan Juni 2011 Indonesian Camry Owners mulai diresmikan melalui BBM Group dengan dikoordinir oleh Saudara Vincent Herdison
Nama ICON adalah singkatan dari INDONESIAN CAMRY OWNERS. Kami disini tergabung sebagai pemilik, dan pengguna Toyota Camry dari seri tahun pertama hingga seri tahun terakhir.
Disini kami dapat men-sharing berbagai macam hal yang menyangkut tentang Toyota Camry. Baik itu tentang, mesin, body, suspensi, kelistrikan, hingga seputar tips dan trik, info-info terbaru, bengkel rekanan resmi maupun non resmi, toko sparepart, dan perawatan mobil.
Kami sangat terbuka bagi siapa saja pengguna, dan pemilik Toyota Camry dari semua seri tahun di Indonesia untuk bergabung di ICON.
Salam,
Indonesian Camry Owners (ICON)
Website- YouTube
Instagram : @indonesiancamryowners
Diubah oleh iconers100 14-08-2015 18:02
cakramukti dan 11 lainnya memberi reputasi
10
530.6K
3K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Kendaraan Roda 4
25.1KThread•19.6KAnggota
Tampilkan semua post
JaReD69
#1956
Review & Owning Camry XV40 V6 3.5Q
Review & Owning Experience Toyota Camry V6 3.5Q
![kaskus-image]()
Halo para penghuni FO kaskus, setelah sekitar satu dekade nggak review mobil disini, kali ini saya mau review sebuah mobil yg usianya cukup tuwir namun (menurut saya) istimewa, yaitu Toyota Camry XV40 3.5Q, mobilnya punya saya sendiri, beli akhir tahun 2017, baru sempet review sekarang.
Exterior
![kaskus-image]()
![kaskus-image]()
Frankly speaking, tadinya saya tidak begitu suka desain Camry XV40, entah kenapa rasanya boring, definitely not a head turner. Desainnya sendiri menurut saya bagus, mengotak namun tanpa sudut dan garis-garis tajam, menegaskan bahwa this model is more progressive but still has a Camry blueprint sebagai sedan midsize elegant. Overall it looks very-very safe, tidak ada bagian yang terlihat janggal dari berbagai angle, modelnya serasa long last and eternal, sampai sekarang pun tidak terlihat outdated. Oh iya, ada sedikit perbedaan looks antara trim 3.5Q dan 2.4 jika dilihat dari belakang dengan hadirnya twin tailpipes dan dan wheel alignment yang di set sedikit negative camber, menjadikan stance 3.5Q terlihat lebih “napak” dibanding trim 2.4. Makanya saya suka sekali looks tipe Q dari belakang.
![kaskus-image]()
Interior
Masuk ke interior, yang terlihat adalah ambience dark elegant, karena jok dan seluruh trim di dashboard dan pintu semua berwarna hitam, kelebihannya kabin tidak mudah terlihat kotor dibanding versi 2.4 yang berwarna beige. Center fascia diberi plat alumunium pada bagian atas berlanjut wood panel di bagian bawah yang memanjang sampai armrest console, lis wood panel dipasang memanjang dari tengah sampai ke door trim depan dan belakang. Saya suka banget wood panelnya yang berkelir glossy red-ish, because this is an origin of a modern wood panel ambient, nuansa modern-klasiknya dapet, wood panel dengan ambient serupa juga dipakai oleh mobil-mobil legendaris seperti Toyota Century 2nd gen dan Mercedes Boxer series (300CE). Sedangkan mobil-mobil sekarang lebih banyak menggunakan piano black yang mulai luntur nuansa mewahnya karena sudah banyak dipasang di low-end segmented car.
![kaskus-image]()
Kualitas interior sangat baik dengan banyaknya material soft-pad, leather seats yang empuk dan berjenis porforated dengan kualitas yang sangat baik, tombol-tombol di center fascia pun terasa solid ketika ditekan. Sayangnya kualitas fit and finish terasa kurang untuk mobil sekelas ini, stitching di beberapa bagian terlihat kurang rapih dan beberapa panel gap yang tidak sama/konsisten, contohnya adalah gap di speaker atas atas dashboard sebelah kiri dan kanan tidak sama. Poin minus lainnya ada pada steering wheel yang ukurannya agak kebesaran dan desainnya yang menyulitkan jempol untuk membunyikan klakson. Hadirnya moonroof pun terasa nanggung karena ukurannya yang kekecilan. Overall menurut saya desain interior XV40 adalah yang terbaik dari semua generasi Camry, so genuine dibanding layout XV50 yang seperti mencomot punya Lexus, dan so eternal, masih terlihat cantik untuk ukuran mobil sekarang dibanding layout XV30 yang mulai terlihat tuwir.
![kaskus-image]()
Dari sisi kelegaan kabin, ukuran full size menjadikan mobil ini sangat roomy, 5 penumpang bisa duduk dengan nyaman. Penumpang belakang dimanjakan dengan ruang kaki melimpah ditambah electric reclining seat dan sunshade elektrik serta audio switch yang semuanya bisa dikontrol dari panel di arm rest belakang.
![kaskus-image]()
Untuk ruang penyimpanan, mobil ini bisa dibilang cukup banyak. Ada 4 cupholder, 2 disamping tuas transmisi, 2 lagi di armrest belakang. Console box model double tray yg bisa dibuka dengan tuas yang berbeda, dan beberapa space di sekujur interior
Fitur
![kaskus-image]()
Di sektor ini, Camry 3.5Q adalah salah satu yang terlengkap pada zamannya, bahkan dengan standar midsize sedan sekarang. Fitur seperti Rear seat reclining dan Rear Center Arm Rest with audio switch + reclining switch + sun shade switch bahkan belum dimiliki oleh BMW 5-series & Mercedes E-Class terbaru.
![kaskus-image]()
Fitur plasma cluster bikin hembusan AC bener-bener segar, very different dengan hembusan AC pada mobil lain, lucunya fitur ini tidak dimiliki Camry XV50 sebagai penerusnya. Pengaturan seat & steering serba elektrik, enaknya adjusting tilt & telescopic steering jadi effortless tanpa harus dongkrak tuas dan menahan bobot steer, nice. Adanya krey samping dan belakang sangat disukai isteri saya yang sedang dalam masa menyusui, kegiatan menyusui dan breast pumping menjadi semakin nyaman dengan adanya fitur ini.
Kekurangannya, karena mobil ini lahir pada masa dimana Head Unit dengan Screen belum lazim jadi ya begitulah,..
Driving
![kaskus-image]()
Ketika pertama kali duduk di driver seat yang saya rasakan adalah kursinya nyaman dan empuk, enak untuk berlama-lama nyetir, sayangnya lumbar supportnya kurang, tidak mendekap punggung dengan sempurna. Start the engine, suara idle sangat halus begitu pula getarannya yang tak terasa ke kabin, V6 gitulohh..
Ok lepaskan rem tangan, eh bukan..rem tangan yang posisinya di kaki..jujur baru sejak pakai mobil ini saya menghilangkan kata “rem tangan” di otak saya dan menggantinya dengan “parking brake”. Mungkin yang biasa bawa mobil matic tidak terlalu sulit adaptasi, namun yang biasa pakai Manual harap fokus saat proses adaptasi karena posisinya hanya beda sedikit dengan pedal kopling pada M/T.
Geser gear lever ke “D” dan mulai jalan..agak surprise karena ternyata berbeda dengan versi 2.4 yang langsung responsif saat pedal di tekan halus, di 3.5Q the car feels heavy dan seakan malas bergerak, even worse, setirnya beraat sekali, ya ini memang hydraulic based, tapi ini rada kelewatan beratnya, udah berat plain pulak, tipikal steering Toyota yang minim feedback dan ada sedikit jeda sebelum mobil start turning. Setelah ditambah sedikit injakan accel barulah mobil ini terasa responsif, proses kickdown sangat effortless, di rpm rendah pun cukup di towel sedikit power dan torsi sudah ready, urusan overtaking di jalanan perkotaan menjadi hal yang mudah.
Karakter suspensi menurut saya unik (atau aneh), karena pada saat jalan perlahan bantingannya empuk, melewati polisi tidur dan jalan rusak terasa nyaman, namun ketika jalan agak cepat bantingannya surprisingly agak keras, menjadikan mobil ini cukup stabil dan terasa lengket dengan aspal. Namun sayangnya, bantingan keras tadi tidak disertai kualitas damper yang baik seperti kebanyakan European cars, sehingga ketika melintasi speed trap atau lubang pada kecepatan sedang ada suara metal clunking di bagian kaki belakang..suara yang tidak enak di telinga.
Driving position mobil ini tinggi, walau sudah settingan posisi paling rendah tetap masih cukup tinggi untuk ukuran saloon, jadi mirip bawa crossover atau mini hatch/MPV seperti Jazz, peyuka sedan sejati yang doyan duduk mendelep tenggelam sepertinya bakal kecewa. Tapi sisi positifnya kita jadi gampang untuk memprediksi body mobil terutama ketika masuk jalan tikus atau ketika manuver pindah jalur kondisi macet.
Kekurangan lain mobil ini adalah sangat minimnya efek engine brake karena pada saat pedal dilepas putaran mesin langsung drop, sepertinya tujuannya untuk efisiensi (mungkin fuel pump langsung di cut off untuk efisiensi, namun sekaligus menghilangkan efek engine brake), hal tersebut menjadikan kerja rem menjadi semakin berat. Saya sendiri melihat ada potensi bahaya disini karena beberapa kali rem terasa kewalahan ketika panic braking yang lazim dikakukan ketika traffic di tol tiba-tiba berhenti. Yup this car needs bigger brakes to handle tons of power it has.
Beberapa poin yang sangat baik dari mobil ini adalah Turning Radius-nya yang hanya 5,5m, lebih baik dari semua mobil seukurannya, bahkan the latest CRV yg size nya lebih compact pun radiusnya 5,7m, Kelebihan yang menurut saya sangat useful dengan kondisi jalanan di jakarta dan sekitarnya. Belum lagi Ground Clearance mobil ini ternyata cukup tinggi, lebih tinggi dari mini hatch/mini MPV yang membuatnya cukup versatile di jalan perkotaan maupun luar kota.
Powertrain
![kaskus-image]()
Under the hood, Camry 3.5Q menggunakan mesin berkode 2GR-FE, 3.5 L V6, 277 hp, 353 nm, membuat mobil ini menjadi yang paling bertenaga dikelasnya. Ruang mesin yang terlihat kopong dan telanjang di trim 2.4 sangat kontras berbeda di trim Q, ruang mesin terlihat penuh dan rapih karena ditutup cover.
Transmisi menggunakan 6-speed sequential dengan semi close ratio yang partisi antar gear-nya rapat dengan perpindahan yang sangat halus, saking halusnya sensasinya seperti CVT without that infinite plain engine note, karena semua beban mobil saat normal driving bisa dihandle di RPM rendah, ditambah peredaman kabin yang sangat baik, baru di mobil ini saya merasakan sensasi CVT yang menyenangkan, perpindahan yang halus, power tersedia di lower RPM, gear berpindah juga di lower RPM sehingga suara mesinnya tidak kedengaran. Nice
Masuk ke jalan tol, saya ganti gaya mengemudi jadi agresif, injak pedal agak dalam dan... seketika badan tertarik kebelakang disertai engine note yang.. uhuhuuy... so ear pleasing... this is it.. the famous V6 signature notes.. pada four cylinder engine, suara mesin bisa beda-beda dari mulai suara perasan tebu, suara kambing tercekik sampai suara yang crisp seperti Honda K engine (pure series), tapi V6 engine has a signature notes yang identik walau beda mobil...”wuuurrrrr rrrooorrrrrr”...saya sampe nggak sadar tau-tau udah 180 kpj dan harus slowdown karena traffic tol siang itu cukup ramai.
Thats all? No..Ternyata mobil ini masih menyimpan potensi terpendam, how..? Now switch from D to S, maka karakter mobil berubah dari mobil “bertenaga” menjadi “brutal”.. Throttle Response, Shifting Response and Torque Curve berubah menjadi sangat agresif. Pada mode “D” sebagian power dan torsi seakan disimpan / disembunyikan saat low-mid RPM dan baru nongol ketika full throttle untuk mengakomodir Comfort yang mana menjadi habitatnya sebagai mobil yang sebagian pemiliknya menggunakan jasa Chauffeur, yang biasanya selama mengemudi hanya di posisi “D”. Di mode S, semua serba instan, ketika pedal accel ditekan, saat itu juga power dan torque tersalur ke roda, pun perpindahan gear menjadi lebih agresif. Saat pedal gas dilepas RPM dijaga dalam posisi “Ready to Fire”, sehingga saat kickdown power dan torque berada dalam posisi sweet spot yang sangat minim power loss. Hal ini pun menghapus kekurangan mobil ini yang pada mode “D” sangat minim efek engine brake.
Beberapa bulan setelah beli, akhirnya saya berkesempatan untuk test akselerasi mobil ini dengan record video. Mempertimbangkan usia mobil yang sudah satu dekade, saya tidak melakukan start dengan metode “hold & launch” (tahan rpm di 3000-4000 dengan rem lalu lepas & launch), melainkan dari idle rpm. Posisi idle, release brake and full throttle...bangg..sedikit spin dan badan terbenam ke jok..kemudian saya terkejut karena moncong mobil tiba-tiba menjadi liar dan refleks saya segera mengkoreksi steering wheel..what a hell..Torque Steering..!!? Padahal mobil ini ditanam VSC dan TSC yang cannot be switched off tapi masih terjadi torque steer...wew..
Akhirnya didapat angka 7,5 detik untuk 0-100 kpj..not bad untuk sebuah saloon tua berukuran gambot.
Handling & Stability
Hmm..tadi saya sempat bilang bahwa steering mobil ini dull, lifeless dan agak lambat, but somehow the car turns quite well, body roll minim dan ukuran mobil yang besar seakan mau saja diajak menikung cepat, handlingnya lebih enak dari versi 2.4, apalagi yang versi Facelift dengan karakter bantingan yang sudah disetting lebih soft. Selidik punya selidik yang mempengaruhi adalah perbedaan setting suspensi yang keras dibanding versi facelift yang lebih soft dan perbedaan di as roda depan dengan versi 2.4. Perbedaan itu juga yang menjadikan kestabilan 3.5Q saat highspeed cukup baik, saya pernah test sampai diatas 200 kpj tidak ada gejala melayang.
![kaskus-image]()
Sayang seribu sayang segala kelebihannya tadi dirusak oleh kualitas rem yang menurut saya sangat kurang untuk mobil dengan power sebesar ini. Ukuran discbrake yang sama berikut brake pad yang nyaris serupa dengan trim 2.4 menjadikan mobil ini agak menakutkan ketika hard braking, sering gelosorr...diperparah dengan minimnya efek engine brake di posisi “D” seperti yang sudah saya bahas sebelumnya. Handling mobil ini memang cukup baik namun tetap saja ketika masuk ke tikungan yang lebih menantang barulah mobil ini mulai kewalahan, ukuran besar dan basic layout mobil ini yang FWD with tons of horsepower yang semua hanya tersalur ke roda depan menyebabkan understeer yang cukup intens ketika masuk sharp cornering, even worse steering yang payah meningkatkan statusnya jadi “Dangerous” dalam situasi seperti diatas.
Fuel Consumption
Mobil ini sekarang adalah daily driver saya, rata-rata jarak tempuh harian saya adalah 80km. Dari hasil perhitungan dengan metode Full to Full, angka yang didapat adalah :
Konsumsi dalam kota = 6-7 km/liter
Konsumsi luar kota/tol = 10-11 km/liter
Konsumsi kombinasi = 7-8 km/liter
Konsumsi real time terboros adalah pada saat macet total yang hanya mencatat 1:5, sedangkan dengan gaya nyetir brutal super agresif malah bisa 1:6-7
Boros? Exactly..mobil ini adalah sahabat SPBU, kurang cocok bagi para ECO fans club atau yang tiap cari mobil selalu tanya “konsumsi bbm nya gimana?”..but for me, setiap rupiah yang saya keluarkan untuk beli pertamax turbo terasa worthed dengan power, ride, fitur dan versatility mobil ini, belum lagi jika harga mobil ini juga dihitung, akan terasa lebih efisien secara whole package.
The “Q” Factor
![kaskus-image]()
Ada satu hal menarik yang dimiliki mobil ini, saya menyebutnya “Q Factor”, apa itu? Gampangnya seperti ini, dalam dunia “Performance Car” ada beberapa mark/emblem/logo yang mengisyaratkan “don’t play with me” seperti “AMG” dan “M” yang dengan melihatnya saja orang sudah gamang dan ciut untuk menantang. Nah di kelas Normal Car (mobil massal), logo “Q” pada Camry di indonesia kasusnya mirip, sering sekali saya ketemu sedan-sedan maupun VGT-Diesel SUV yang agresif di tol, begitu saya salip/overtake biasanya memutuskan untuk tidak mengejar/menantang mobil ini dan seolah mengatakan “you’re out of my league” setelah melihat logo “Q” di buritan mobil ini. Quite interesting..
Unfortunately TAM ruined this sacred mark in 2014 by launching Sienta Q then Innova Q in 2016..f*ck
However this mark still sacred in Camry..hohoho
Homework / Maintenance Cost
![kaskus-image]()
Oke, saya akan rinci total pengeluaran saya selama sekitar 5 bulan untuk beresin PR mobil ini :
Mesin
Lokasi : Toda, DTMF, Auto2000
- Ganti oli (6 liter) + filter oli Rp.810k
- Carbon clean, injector cleaning & spark plug cleaning Rp.800k
- MAF sensor cleaning Rp.200k
- Engine Mounting atas Rp.800k
Total = Rp.2610k
Kaki-kaki
Lokasi : Atrium Senen, Karya Per, DTMF, Bengkel Marathon, Banceuy, Indomakmur, Cibubur Point, Yans Speed
- Shock breaker depan sepasang Rp.1400k
- Stopper shock depan sepasang Rp.100k
- Support shock depan kiri Rp.250k
- Bearing depan kiri Rp.385k
- Ball joint kanan Rp.300k
- Recalibrate ball joint kiri Rp.150k
- Booth as roda kanan Rp.150k
- Tierod end sepasang Rp.400k
- Link stabiliser sepasang Rp.300k
- Long tierod kanan Rp.200k
- Bushing arm Rp.100k
- Bushing stabiliser sepasang Rp.120k
- Jasa (total ongkos jasa) Rp.1600k
Total = Rp.5455k
Brakes
Lokasi : Indomakmur, Auto2000
- Brake pad sepasang + jasa Rp.1000k
- Bubut disc brake Rp.200k
Total = Rp.1200k
Transmission
Lokasi : Cibubur Point
- ATF flushing/kuras (12 liter) + jasa Rp.1200k
Grand Total : Rp.10,465,000,-
Mahal? Bisa iya bisa enggak, bagi saya sih enggak karena seperti kata “Sultan” di vlog nya, “jika ingin beli mobil bekas, harus ada spare dana minimal 10 juta untuk beresin PR”, dan memang sekitar segitu biaya beresin PR mobil ini.
Conclusion
![kaskus-image]()
What car you can afford with less than IDR 170 mio in your pocket ?
You can buy a brand new, super small, super efficient and super dull LCGC car, live in peace of mind, place of Zen, killing the petrolhead desire that you read/watch everyday in kaskus & youtube , and drive slow in this fast world.
You can also buy a used people carrier, that can carry your whole family, plus your grandparent and your cousins with ultra great resale value, because the car is your investment.
Or...let your desire take control..desire of having a powerful car, desire of speeding, desire of earpleasing engine note..because you had more than 250 horsepower to play with..
Yeah, Life is a Choice, Logic or Desire? Well, I choose Desire...with Logic...hahaha
Buying a Camry 3.5Q is all about Versatility, you can drive normally, feel the super comfort ride..mobil besar dengan GC cukup tinggi yang jarang mentok polisi tidur dan gampang putar balik karena turning radius lebar..you can also doing a highspeed cruising (in highway) without waking up your family, baru di mobil ini saya bisa cruising 160-190 kpj di Cipularang dan keluarga tetap tertidur lelap..or you can also drive mad, nyetir seperti orang gila dengan memainkan gear lever transmisi dengan rasio rapatnya untuk mempertahankan power optimalnya di high rev, karena dengan cara inilah potensi mobil ini bisa keluar sepenuhnya plus alunan suara V6 nya yang membuat adrenalin terus memompa..but don’t treat this car as a race car, on the race track, coz she will kill you.. treat her as a tourer, and she will bring a smile on your face. Yes, this car is a longhaul highway cruiser, that can eat easy to mild corner..and all of those comes with easy & quite cheap mainenance..
Pros :
- Powerrrr
- Fast
- Stabil
- V6 note
- Comfort
- Tons of feature
- Transmisi halus, cepat & rapat
- Pricetag seharga LCGC
- Easy & Cheap Maintenance, Spare parts mudah dan murah
- Reliable
- “Q” factor, klo kita nyetir agresif, banyak yg udah jiper duluan
- Dignified..image mobil pejabat, gampang dapat parkir khusus
Cons :
- Boross
- Boring, saking banyaknya model ini dijalan
- Steering lifeless, heavy & laggy
- Brakes are dangerous, perjauh jarak pengereman saat highspeed
- Definitely not a sharp cornering eater..tend to understeer
- Komponen kaki-kaki rentan problem (untungnya parts berlimpah)
Sekian review dari saya, mungkin review ini terkesan subyektif seperti lazimnya orang-orang yang me-review mobilnya sendiri. Namun percayalah, apa yang saya katakan tentang mobil ini benar adanya. Silahkan buktikan sendiri.
Thanks

Halo para penghuni FO kaskus, setelah sekitar satu dekade nggak review mobil disini, kali ini saya mau review sebuah mobil yg usianya cukup tuwir namun (menurut saya) istimewa, yaitu Toyota Camry XV40 3.5Q, mobilnya punya saya sendiri, beli akhir tahun 2017, baru sempet review sekarang.
Exterior


Frankly speaking, tadinya saya tidak begitu suka desain Camry XV40, entah kenapa rasanya boring, definitely not a head turner. Desainnya sendiri menurut saya bagus, mengotak namun tanpa sudut dan garis-garis tajam, menegaskan bahwa this model is more progressive but still has a Camry blueprint sebagai sedan midsize elegant. Overall it looks very-very safe, tidak ada bagian yang terlihat janggal dari berbagai angle, modelnya serasa long last and eternal, sampai sekarang pun tidak terlihat outdated. Oh iya, ada sedikit perbedaan looks antara trim 3.5Q dan 2.4 jika dilihat dari belakang dengan hadirnya twin tailpipes dan dan wheel alignment yang di set sedikit negative camber, menjadikan stance 3.5Q terlihat lebih “napak” dibanding trim 2.4. Makanya saya suka sekali looks tipe Q dari belakang.

Interior
Masuk ke interior, yang terlihat adalah ambience dark elegant, karena jok dan seluruh trim di dashboard dan pintu semua berwarna hitam, kelebihannya kabin tidak mudah terlihat kotor dibanding versi 2.4 yang berwarna beige. Center fascia diberi plat alumunium pada bagian atas berlanjut wood panel di bagian bawah yang memanjang sampai armrest console, lis wood panel dipasang memanjang dari tengah sampai ke door trim depan dan belakang. Saya suka banget wood panelnya yang berkelir glossy red-ish, because this is an origin of a modern wood panel ambient, nuansa modern-klasiknya dapet, wood panel dengan ambient serupa juga dipakai oleh mobil-mobil legendaris seperti Toyota Century 2nd gen dan Mercedes Boxer series (300CE). Sedangkan mobil-mobil sekarang lebih banyak menggunakan piano black yang mulai luntur nuansa mewahnya karena sudah banyak dipasang di low-end segmented car.

Kualitas interior sangat baik dengan banyaknya material soft-pad, leather seats yang empuk dan berjenis porforated dengan kualitas yang sangat baik, tombol-tombol di center fascia pun terasa solid ketika ditekan. Sayangnya kualitas fit and finish terasa kurang untuk mobil sekelas ini, stitching di beberapa bagian terlihat kurang rapih dan beberapa panel gap yang tidak sama/konsisten, contohnya adalah gap di speaker atas atas dashboard sebelah kiri dan kanan tidak sama. Poin minus lainnya ada pada steering wheel yang ukurannya agak kebesaran dan desainnya yang menyulitkan jempol untuk membunyikan klakson. Hadirnya moonroof pun terasa nanggung karena ukurannya yang kekecilan. Overall menurut saya desain interior XV40 adalah yang terbaik dari semua generasi Camry, so genuine dibanding layout XV50 yang seperti mencomot punya Lexus, dan so eternal, masih terlihat cantik untuk ukuran mobil sekarang dibanding layout XV30 yang mulai terlihat tuwir.

Dari sisi kelegaan kabin, ukuran full size menjadikan mobil ini sangat roomy, 5 penumpang bisa duduk dengan nyaman. Penumpang belakang dimanjakan dengan ruang kaki melimpah ditambah electric reclining seat dan sunshade elektrik serta audio switch yang semuanya bisa dikontrol dari panel di arm rest belakang.

Untuk ruang penyimpanan, mobil ini bisa dibilang cukup banyak. Ada 4 cupholder, 2 disamping tuas transmisi, 2 lagi di armrest belakang. Console box model double tray yg bisa dibuka dengan tuas yang berbeda, dan beberapa space di sekujur interior
Fitur

Di sektor ini, Camry 3.5Q adalah salah satu yang terlengkap pada zamannya, bahkan dengan standar midsize sedan sekarang. Fitur seperti Rear seat reclining dan Rear Center Arm Rest with audio switch + reclining switch + sun shade switch bahkan belum dimiliki oleh BMW 5-series & Mercedes E-Class terbaru.

Fitur plasma cluster bikin hembusan AC bener-bener segar, very different dengan hembusan AC pada mobil lain, lucunya fitur ini tidak dimiliki Camry XV50 sebagai penerusnya. Pengaturan seat & steering serba elektrik, enaknya adjusting tilt & telescopic steering jadi effortless tanpa harus dongkrak tuas dan menahan bobot steer, nice. Adanya krey samping dan belakang sangat disukai isteri saya yang sedang dalam masa menyusui, kegiatan menyusui dan breast pumping menjadi semakin nyaman dengan adanya fitur ini.
Kekurangannya, karena mobil ini lahir pada masa dimana Head Unit dengan Screen belum lazim jadi ya begitulah,..
Driving

Ketika pertama kali duduk di driver seat yang saya rasakan adalah kursinya nyaman dan empuk, enak untuk berlama-lama nyetir, sayangnya lumbar supportnya kurang, tidak mendekap punggung dengan sempurna. Start the engine, suara idle sangat halus begitu pula getarannya yang tak terasa ke kabin, V6 gitulohh..
Ok lepaskan rem tangan, eh bukan..rem tangan yang posisinya di kaki..jujur baru sejak pakai mobil ini saya menghilangkan kata “rem tangan” di otak saya dan menggantinya dengan “parking brake”. Mungkin yang biasa bawa mobil matic tidak terlalu sulit adaptasi, namun yang biasa pakai Manual harap fokus saat proses adaptasi karena posisinya hanya beda sedikit dengan pedal kopling pada M/T.
Geser gear lever ke “D” dan mulai jalan..agak surprise karena ternyata berbeda dengan versi 2.4 yang langsung responsif saat pedal di tekan halus, di 3.5Q the car feels heavy dan seakan malas bergerak, even worse, setirnya beraat sekali, ya ini memang hydraulic based, tapi ini rada kelewatan beratnya, udah berat plain pulak, tipikal steering Toyota yang minim feedback dan ada sedikit jeda sebelum mobil start turning. Setelah ditambah sedikit injakan accel barulah mobil ini terasa responsif, proses kickdown sangat effortless, di rpm rendah pun cukup di towel sedikit power dan torsi sudah ready, urusan overtaking di jalanan perkotaan menjadi hal yang mudah.
Karakter suspensi menurut saya unik (atau aneh), karena pada saat jalan perlahan bantingannya empuk, melewati polisi tidur dan jalan rusak terasa nyaman, namun ketika jalan agak cepat bantingannya surprisingly agak keras, menjadikan mobil ini cukup stabil dan terasa lengket dengan aspal. Namun sayangnya, bantingan keras tadi tidak disertai kualitas damper yang baik seperti kebanyakan European cars, sehingga ketika melintasi speed trap atau lubang pada kecepatan sedang ada suara metal clunking di bagian kaki belakang..suara yang tidak enak di telinga.
Driving position mobil ini tinggi, walau sudah settingan posisi paling rendah tetap masih cukup tinggi untuk ukuran saloon, jadi mirip bawa crossover atau mini hatch/MPV seperti Jazz, peyuka sedan sejati yang doyan duduk mendelep tenggelam sepertinya bakal kecewa. Tapi sisi positifnya kita jadi gampang untuk memprediksi body mobil terutama ketika masuk jalan tikus atau ketika manuver pindah jalur kondisi macet.
Kekurangan lain mobil ini adalah sangat minimnya efek engine brake karena pada saat pedal dilepas putaran mesin langsung drop, sepertinya tujuannya untuk efisiensi (mungkin fuel pump langsung di cut off untuk efisiensi, namun sekaligus menghilangkan efek engine brake), hal tersebut menjadikan kerja rem menjadi semakin berat. Saya sendiri melihat ada potensi bahaya disini karena beberapa kali rem terasa kewalahan ketika panic braking yang lazim dikakukan ketika traffic di tol tiba-tiba berhenti. Yup this car needs bigger brakes to handle tons of power it has.
Beberapa poin yang sangat baik dari mobil ini adalah Turning Radius-nya yang hanya 5,5m, lebih baik dari semua mobil seukurannya, bahkan the latest CRV yg size nya lebih compact pun radiusnya 5,7m, Kelebihan yang menurut saya sangat useful dengan kondisi jalanan di jakarta dan sekitarnya. Belum lagi Ground Clearance mobil ini ternyata cukup tinggi, lebih tinggi dari mini hatch/mini MPV yang membuatnya cukup versatile di jalan perkotaan maupun luar kota.
Powertrain

Under the hood, Camry 3.5Q menggunakan mesin berkode 2GR-FE, 3.5 L V6, 277 hp, 353 nm, membuat mobil ini menjadi yang paling bertenaga dikelasnya. Ruang mesin yang terlihat kopong dan telanjang di trim 2.4 sangat kontras berbeda di trim Q, ruang mesin terlihat penuh dan rapih karena ditutup cover.
Transmisi menggunakan 6-speed sequential dengan semi close ratio yang partisi antar gear-nya rapat dengan perpindahan yang sangat halus, saking halusnya sensasinya seperti CVT without that infinite plain engine note, karena semua beban mobil saat normal driving bisa dihandle di RPM rendah, ditambah peredaman kabin yang sangat baik, baru di mobil ini saya merasakan sensasi CVT yang menyenangkan, perpindahan yang halus, power tersedia di lower RPM, gear berpindah juga di lower RPM sehingga suara mesinnya tidak kedengaran. Nice
Masuk ke jalan tol, saya ganti gaya mengemudi jadi agresif, injak pedal agak dalam dan... seketika badan tertarik kebelakang disertai engine note yang.. uhuhuuy... so ear pleasing... this is it.. the famous V6 signature notes.. pada four cylinder engine, suara mesin bisa beda-beda dari mulai suara perasan tebu, suara kambing tercekik sampai suara yang crisp seperti Honda K engine (pure series), tapi V6 engine has a signature notes yang identik walau beda mobil...”wuuurrrrr rrrooorrrrrr”...saya sampe nggak sadar tau-tau udah 180 kpj dan harus slowdown karena traffic tol siang itu cukup ramai.
Thats all? No..Ternyata mobil ini masih menyimpan potensi terpendam, how..? Now switch from D to S, maka karakter mobil berubah dari mobil “bertenaga” menjadi “brutal”.. Throttle Response, Shifting Response and Torque Curve berubah menjadi sangat agresif. Pada mode “D” sebagian power dan torsi seakan disimpan / disembunyikan saat low-mid RPM dan baru nongol ketika full throttle untuk mengakomodir Comfort yang mana menjadi habitatnya sebagai mobil yang sebagian pemiliknya menggunakan jasa Chauffeur, yang biasanya selama mengemudi hanya di posisi “D”. Di mode S, semua serba instan, ketika pedal accel ditekan, saat itu juga power dan torque tersalur ke roda, pun perpindahan gear menjadi lebih agresif. Saat pedal gas dilepas RPM dijaga dalam posisi “Ready to Fire”, sehingga saat kickdown power dan torque berada dalam posisi sweet spot yang sangat minim power loss. Hal ini pun menghapus kekurangan mobil ini yang pada mode “D” sangat minim efek engine brake.
Beberapa bulan setelah beli, akhirnya saya berkesempatan untuk test akselerasi mobil ini dengan record video. Mempertimbangkan usia mobil yang sudah satu dekade, saya tidak melakukan start dengan metode “hold & launch” (tahan rpm di 3000-4000 dengan rem lalu lepas & launch), melainkan dari idle rpm. Posisi idle, release brake and full throttle...bangg..sedikit spin dan badan terbenam ke jok..kemudian saya terkejut karena moncong mobil tiba-tiba menjadi liar dan refleks saya segera mengkoreksi steering wheel..what a hell..Torque Steering..!!? Padahal mobil ini ditanam VSC dan TSC yang cannot be switched off tapi masih terjadi torque steer...wew..
Akhirnya didapat angka 7,5 detik untuk 0-100 kpj..not bad untuk sebuah saloon tua berukuran gambot.
Handling & Stability
Hmm..tadi saya sempat bilang bahwa steering mobil ini dull, lifeless dan agak lambat, but somehow the car turns quite well, body roll minim dan ukuran mobil yang besar seakan mau saja diajak menikung cepat, handlingnya lebih enak dari versi 2.4, apalagi yang versi Facelift dengan karakter bantingan yang sudah disetting lebih soft. Selidik punya selidik yang mempengaruhi adalah perbedaan setting suspensi yang keras dibanding versi facelift yang lebih soft dan perbedaan di as roda depan dengan versi 2.4. Perbedaan itu juga yang menjadikan kestabilan 3.5Q saat highspeed cukup baik, saya pernah test sampai diatas 200 kpj tidak ada gejala melayang.

Sayang seribu sayang segala kelebihannya tadi dirusak oleh kualitas rem yang menurut saya sangat kurang untuk mobil dengan power sebesar ini. Ukuran discbrake yang sama berikut brake pad yang nyaris serupa dengan trim 2.4 menjadikan mobil ini agak menakutkan ketika hard braking, sering gelosorr...diperparah dengan minimnya efek engine brake di posisi “D” seperti yang sudah saya bahas sebelumnya. Handling mobil ini memang cukup baik namun tetap saja ketika masuk ke tikungan yang lebih menantang barulah mobil ini mulai kewalahan, ukuran besar dan basic layout mobil ini yang FWD with tons of horsepower yang semua hanya tersalur ke roda depan menyebabkan understeer yang cukup intens ketika masuk sharp cornering, even worse steering yang payah meningkatkan statusnya jadi “Dangerous” dalam situasi seperti diatas.
Fuel Consumption
Mobil ini sekarang adalah daily driver saya, rata-rata jarak tempuh harian saya adalah 80km. Dari hasil perhitungan dengan metode Full to Full, angka yang didapat adalah :
Konsumsi dalam kota = 6-7 km/liter
Konsumsi luar kota/tol = 10-11 km/liter
Konsumsi kombinasi = 7-8 km/liter
Konsumsi real time terboros adalah pada saat macet total yang hanya mencatat 1:5, sedangkan dengan gaya nyetir brutal super agresif malah bisa 1:6-7
Boros? Exactly..mobil ini adalah sahabat SPBU, kurang cocok bagi para ECO fans club atau yang tiap cari mobil selalu tanya “konsumsi bbm nya gimana?”..but for me, setiap rupiah yang saya keluarkan untuk beli pertamax turbo terasa worthed dengan power, ride, fitur dan versatility mobil ini, belum lagi jika harga mobil ini juga dihitung, akan terasa lebih efisien secara whole package.
The “Q” Factor

Ada satu hal menarik yang dimiliki mobil ini, saya menyebutnya “Q Factor”, apa itu? Gampangnya seperti ini, dalam dunia “Performance Car” ada beberapa mark/emblem/logo yang mengisyaratkan “don’t play with me” seperti “AMG” dan “M” yang dengan melihatnya saja orang sudah gamang dan ciut untuk menantang. Nah di kelas Normal Car (mobil massal), logo “Q” pada Camry di indonesia kasusnya mirip, sering sekali saya ketemu sedan-sedan maupun VGT-Diesel SUV yang agresif di tol, begitu saya salip/overtake biasanya memutuskan untuk tidak mengejar/menantang mobil ini dan seolah mengatakan “you’re out of my league” setelah melihat logo “Q” di buritan mobil ini. Quite interesting..
Unfortunately TAM ruined this sacred mark in 2014 by launching Sienta Q then Innova Q in 2016..f*ck
However this mark still sacred in Camry..hohoho
Homework / Maintenance Cost

Oke, saya akan rinci total pengeluaran saya selama sekitar 5 bulan untuk beresin PR mobil ini :
Mesin
Lokasi : Toda, DTMF, Auto2000
- Ganti oli (6 liter) + filter oli Rp.810k
- Carbon clean, injector cleaning & spark plug cleaning Rp.800k
- MAF sensor cleaning Rp.200k
- Engine Mounting atas Rp.800k
Total = Rp.2610k
Kaki-kaki
Lokasi : Atrium Senen, Karya Per, DTMF, Bengkel Marathon, Banceuy, Indomakmur, Cibubur Point, Yans Speed
- Shock breaker depan sepasang Rp.1400k
- Stopper shock depan sepasang Rp.100k
- Support shock depan kiri Rp.250k
- Bearing depan kiri Rp.385k
- Ball joint kanan Rp.300k
- Recalibrate ball joint kiri Rp.150k
- Booth as roda kanan Rp.150k
- Tierod end sepasang Rp.400k
- Link stabiliser sepasang Rp.300k
- Long tierod kanan Rp.200k
- Bushing arm Rp.100k
- Bushing stabiliser sepasang Rp.120k
- Jasa (total ongkos jasa) Rp.1600k
Total = Rp.5455k
Brakes
Lokasi : Indomakmur, Auto2000
- Brake pad sepasang + jasa Rp.1000k
- Bubut disc brake Rp.200k
Total = Rp.1200k
Transmission
Lokasi : Cibubur Point
- ATF flushing/kuras (12 liter) + jasa Rp.1200k
Grand Total : Rp.10,465,000,-
Mahal? Bisa iya bisa enggak, bagi saya sih enggak karena seperti kata “Sultan” di vlog nya, “jika ingin beli mobil bekas, harus ada spare dana minimal 10 juta untuk beresin PR”, dan memang sekitar segitu biaya beresin PR mobil ini.
Conclusion

What car you can afford with less than IDR 170 mio in your pocket ?
You can buy a brand new, super small, super efficient and super dull LCGC car, live in peace of mind, place of Zen, killing the petrolhead desire that you read/watch everyday in kaskus & youtube , and drive slow in this fast world.
You can also buy a used people carrier, that can carry your whole family, plus your grandparent and your cousins with ultra great resale value, because the car is your investment.
Or...let your desire take control..desire of having a powerful car, desire of speeding, desire of earpleasing engine note..because you had more than 250 horsepower to play with..
Yeah, Life is a Choice, Logic or Desire? Well, I choose Desire...with Logic...hahaha

Buying a Camry 3.5Q is all about Versatility, you can drive normally, feel the super comfort ride..mobil besar dengan GC cukup tinggi yang jarang mentok polisi tidur dan gampang putar balik karena turning radius lebar..you can also doing a highspeed cruising (in highway) without waking up your family, baru di mobil ini saya bisa cruising 160-190 kpj di Cipularang dan keluarga tetap tertidur lelap..or you can also drive mad, nyetir seperti orang gila dengan memainkan gear lever transmisi dengan rasio rapatnya untuk mempertahankan power optimalnya di high rev, karena dengan cara inilah potensi mobil ini bisa keluar sepenuhnya plus alunan suara V6 nya yang membuat adrenalin terus memompa..but don’t treat this car as a race car, on the race track, coz she will kill you.. treat her as a tourer, and she will bring a smile on your face. Yes, this car is a longhaul highway cruiser, that can eat easy to mild corner..and all of those comes with easy & quite cheap mainenance..
Pros :
- Powerrrr
- Fast
- Stabil
- V6 note
- Comfort
- Tons of feature
- Transmisi halus, cepat & rapat
- Pricetag seharga LCGC
- Easy & Cheap Maintenance, Spare parts mudah dan murah
- Reliable
- “Q” factor, klo kita nyetir agresif, banyak yg udah jiper duluan
- Dignified..image mobil pejabat, gampang dapat parkir khusus
Cons :
- Boross
- Boring, saking banyaknya model ini dijalan
- Steering lifeless, heavy & laggy
- Brakes are dangerous, perjauh jarak pengereman saat highspeed
- Definitely not a sharp cornering eater..tend to understeer
- Komponen kaki-kaki rentan problem (untungnya parts berlimpah)
Sekian review dari saya, mungkin review ini terkesan subyektif seperti lazimnya orang-orang yang me-review mobilnya sendiri. Namun percayalah, apa yang saya katakan tentang mobil ini benar adanya. Silahkan buktikan sendiri.
Thanks
0