- Beranda
- Stories from the Heart
Become True (Kakak)
...
TS
riani14
Become True (Kakak)
Quote:
WARNING!!!
DILARANG KERAS!!! MENGCOPY / AKSI PLAGIAT/ SHARE TANPA SEIZIN PENULIS.
JIKA TERJADI, SAYA AKAN MENINDAK TEGAS, TERKAIT DENGAN HAK CIPTA PENULIS.
DILARANG KERAS!!! MENGCOPY / AKSI PLAGIAT/ SHARE TANPA SEIZIN PENULIS.
JIKA TERJADI, SAYA AKAN MENINDAK TEGAS, TERKAIT DENGAN HAK CIPTA PENULIS.
Quote:
Jangan Lupa...tinggalkan jejak berupa KRITIK/ SARAN agan2 dan Sista2.



Dan Jangan Lupa






Dan Jangan Lupa



Quote:
Genre:FIKSI

Quote:

Quote:
INDEX
Part 1
Part 2
Part 3
PART 4
PART 5
PART 6
PART 7
PART 8
PART 9
PART 10
PART 11
PART 12
PART 13
PART 14
PART 15
PART 16
PART 17
PART 18
PART 19
PART 20
PART 21
PART 22
PART 23
PART 24
PART 25
PART 26
PART 27
PART 28
PART 29
PART 30
PART 31
PART 32
PART 33
PART 34
PART 35
PART 36
PART 37
PART 38
PART 39
PART 40 ( revisi )
PART 41
PART 42
PART 43
PART 44
PART 45
PART 46
PART 47
PART 48
PART 49
PART 50
PART 51
PART 52
PART 53
PART 54
PART 55
PART 56
PART 57
PART 58
PART 59
PART 60
PART 61
PART 62
PART 63
PART 64
PART 65
PART 66
PART 67
PART 68
PART 69
PART 70 + extra part
PART 71
PART 72
PART 73
PART 74
PART 75
EPILOG
ADAM MOMENT
Prolog
Barisan antrian mengular mengisi salah satu sisi toko buku besar yang ada di kawasan mall ibu kota. Antrian terjadi bukan tanpa alasan, kehadiran penulis novel bestseller dengan judul fenomenal 'BECOME TRUE' menjadi pemyebabnya.
Penulis berjilbab itu tampak ramah menyapa para pembacanya sambil membubuhkan tanda tangan di novel karyanya yang selalu ludes di buru penggemar. Berbagai komentar manis dan menyenangkan terlontar dari para pembaca setianya yang berasal dari berbagai kalangan dan usia itu.
Ya ampun kak Medina, aslinya cantik banget.
Iya. Ramah banget lagi.
Nggak heran sih dia bisa sesukses sekarang, orangnya baik gitu
Berbagai celotehan itu samar – samar melewati indra pendengarannya, ia tersenyum sekaligus bersyukur atas apa yaang ia raih saat ini.
Tapi...kebahagiaan yang ia dapatkan sekarang terasa kurang lengkap oleh satu hal. Hal paling penting dalam hidupnya, yang pernah ia tinggalkan.Dan saat ia ingin semuanya kembali, ia malah kehilangan segalanya. Ia kehilangan kepercayaan dan senyuman itu. Bahkan ia kehilangan kesempatan untuk sekedar menyampaikan permintaan maaf.
Lamunan tentang masa lalu, tanpa sadar membuatnya menitikkan air mata. Membuat heran para penggemarnya. Sadar jadi pusat perhatian, lekas ia mengusap air mata yang turut jatuh membasahi buku yang seharusnya ia tanda tangani itu.
" Jangan sedih. Dia nggak pernah ninggalin kamu."
Suara berat seseorang yang sudah lama tidak pernah menyapanya, sontak membuat gadis berlesung pipi ini mengangkat wajah. Air mata yang tadi mulai berhenti mengalir kini kembali tumpah kian deras namun di sertai senyum bahagia mendapati siapa yang berdiri di hadapannya kini.
Dia kembali.
Quote:
PART 1
Derap langkah kaki jenjang seorang gadis terlihat lincah menapaki setiap anak tangga yang berjejer rapi. Bulir keringat terlihat kian membasahi dahi mulusnya. Rambut panjang yang di kuncir ekor kuda kini tampak lepek, tak ada indah – indahnya sama sekali. Ingin sekali rasanya dia memaki orang yang memintanya mendatangi rooftop rumah susun berlantai 15 ini.
Bukan masalah berapa lantai yang harus ia tempuh, melainkan tidak ada akses alternatif menuju rooftop selain melewati tangga. Belum lagi ramainya kawasan rumah susun yang membuat langkahnya semakin tak leluasa. Mata hitamnya sesekali melihat kearah arloji yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 16.29, itu artinya satu menit lagi ia akan terlambat dari waktu yang di janjikan.
Gadis berlesung pipi ini kian mempercepat langkahnya, ia tidak boleh terlambat ini kesempatan bagus demi mewujudkan mimpinya selama ini. Mimpi yang selama ini hanya jadi bahan lelucon teman – teman satu kampusnya.
Dengan nafas nyaris terputus akhirnya ia tiba di puncak gedung. Naamun apa yang ia temui ternyata sangat jauh dari ekspektasinya. Tak ada siapa – siapa di sana, hanya ada deretan jemuran yang berbaris dan melambai – lambai di hembus angin pengantar senja. Sepasang matanya terlihat sayu memandangi naskah cerita yang sudah di jilid rapi, yang sejak tadi ada dalam genggaman.
Kemana orang yang meneleponnya tadi? Kemana pimpinan penerbitan yang harus ia temui sore ini? Kemana orang yang bisa memberikannya jalan untuk mewujudkan mimpinya menjadi seorang penulis terkenal? Kemana-.
Lamunan itu pecah saat gelak tawa seseorang membentur gendang telinganya, ia menoleh cepat ke sumber suara dengan tangan terkepal. Ia kenal suara itu, seorang bocah yang senang melihatnya seperti ini. Melihatnya jatuh dan kehilangan semangat untuk mimpi – mimpinya. Bukan bocah dalam arti sesungguhnya, melainkan dalam artian sifat laki – laki itu yang menurutnya sangat kekanak – kanakan. Laki – laki jangkung berkacamata yang kini berdiri tepat dihadapannya ini, selalu jadi tersangka utama untuk setiap moment menyebalkan dalam kehidupannya sejak satu tahun terakhir.
“ Jadi ini kerjaan lo?” hardiknya yang di sambut dengan senyum meledek dari laki – laki itu. Ia semakin kesal, bolehkah ia memaki orang yang akan ia temui sekarang?
“ Lo bisa nggak sih, nggak ngusilin gue sehari aja?” kesalnya dengan tatapan marah.
“ Bisa. Asal lo mau jadi pacar gue?”
Lagi. Kata – kata yang sama yang selalu ia dengar sepanjang tahun ini. Membosankan.
“ Jadi pacar lo? Nggak akan pernah, bahkan dalam mimpi lo sekalipun.”
Hening kemudian menguasai keduanya, tak ada yang membuka suara terkecuali tatapan saling mengintimidasi satu sama lain yang mereka layangkan saat ini. Hingga beberapa saat kemudian suara berat seseorang menghentikan kegiatan keduanya.
“ Pada ngapain?” tanya cowok yang punya sorot mata teduh itu, yang kini berdiri tegak persis di antara keduanya. Tumpukan pakaian kering ada dalam dekapan tubuh tegapnya. Iris mata hitam pekatnya melirik ke kiri dan kekanan, menanti jawaban dari dua orang ini.
“ Kak Adam,” seru keduanya kompak dengan mata membelalak kaget. Entah malu atau kesal karena kehadiran Adam yang tiba – tiba, keduanya saling membuang pandangan ke sembarang arah.
Gadis berlesung pipi itu yang terlihat sangat gusar dengan kehadiran Adam, ia memilih berdiri memunggungi Adam daripada harus bertemu tatap dengannya. Terlalu mengerikan dan membuat lidahnya kelu. Kakaknya itu pasti akan sangat, sangat, sangat marah melihat kelakuannya hari ini. Belum lagi apa yaang ia kenakan saat ini, kaos hitam rangkap kemeja kebesaran, topi baseball buluk dikepala serta celana jeans sobek yang membungkus kaki jenjangnya, membuatnya terlihat seperti preman jalanan ketimbang adik satu – satunya seorang Adam Vegar Raditya, yang terkenal cerdas dan berperangai baik bak malaikat. Apa yang ia kenakan saat ini, sudah cukup menjadi alasan untuk Adam mengomelinya habis – habisan.
“ Medina. Pulang,” Itu bukan ajakan, itu perintah.
Medina reflek memutar badannya,” ta-tapi kak, urusan aku sama dia belum kelar,” sela Medina sambil mengarahkan telunjuk dan tatapan melototnya pada cowok berkacamata yang sejak tadi hanya diam memperhatikan. “ Dia tu...,” Medina menjeda ucapannya, lirikan tajam Adam dan hentakan nafasnya sukses membungkam mulutnya. Jika Adam sudah seperti itu, artinya dia tak ingin di bantah.
“ Iya...iya...aku pulang.”
Dengan kepala tertunduk dan bibir mengerucut, Medina menyusul langkah Adam yang telah berada didepannya. Ia kembali menghentikan langkahnya ketika mendengar cekikikan dari arah belakang. Medina menoleh dan memandangi cowok berkacamata tadi dengan tatapan membunuh, darahnya serasa mendidih, melihat cowok tadi tampak puas menertawainya. Ia kembali ingin mendekat dan memberi pelajaran pada musuh bebuyutannya itu, tapi apa mau di kata, langkahnya tertahan karena Adam telah lebih dulu menarik kerah kemejanya dan menyeretnya persis anak kucing.
“ Ah...kak Adam, aku harus beri dia pelajaran dulu,” rengek Medina.
“ Pelajaran apa? Kamu sendiri masih butuh di ajari.”
“ Kak...,”
“ Diam.”
Medina tahu betul kakaknya itu tidak suka di bantah, tapi entah mengapa ia justru jadi orang yang paling sering membantah perkataan kakaknya. Walau ia bandel dan kakaknya cukup tegas serta over protective terhadap dirinya, ia tetap menyayangi kakak semata wayangnya itu. Bagaimanapun, Adam adalah satu – satunya keluarga yang ia miliki setelah kepergian kedua orang tuanya.
“ Kak, dia itu udah ngebohongin aku, dia harus dapat balasannya.”
“ Salah kamu, kenapa gampang banget di bohongin,” tuding Adam sambil menggedor salah satu pintu rumah yang berada di lantai 10.
“ Bukannya gitu, aku cuma-,” ucapan Medina tertahan saat si empunya rumah keluar dan menerima pakaian kering yang sedari tadi di bawa Adam.
Wanita paruh baya itu juga tampak memberikan beberapa lembar uang lima ribuan pada Adam. Adam menerimanya seraya mengucapkan terima kasih.
“ Kak, Nando itu emang rese’. Aku selalu jadi bahan lelucon dia di kampus. Kakak tahu itu kan? Jadi...apa salahnya aku kasih dia pukulan sedikit biar jera,” Medina kembali buka suara saat ibu berambut sebahu tadi masuk ke rumah dan menutup pintu.
“ Kamu itu cewek. Nggak pantes kayak gitu.”
“ Kakak...cewek itu juga perlu pertahanan diri.”
“ Pertahanan diri buat hal yang penting, bukan buat ngeladenin orang rese’.”
“ Tapi, Kak-,”
“ Kakak nggak pernah ngajarin kamu berkelakuan kayak preman begitu.”
Mereka terus saja berdebat sambil menapaki satu persatu anak tangga menuju ke lantai dasar. Keduanya saling tidak mau mengalah. Keduanya keukeuh mempertahankan argumen masing – masing.
Yang mereka ributkan tentu saja bukan hanya soal kelakuan Medina yang sebelas dua belas sama preman pasar, tapi juga cara berpakaian Medina yang sangat di tentang oleh sang kakak. Adam sudah berulang kali menasehati Medina untuk berpakaian lebih santun dan feminim, tapinpercuma nasehat itu mental duluan sebelum masuk ke telinga adiknya. Medina terlalu keras kepala.
“ Pokoknya mulai besok kakak nggak mau liat kamu berpenampilan kayak gini lagi,” tegas Adam dengan tatapan dingin.
“ Tapi...kak, aku nyaman dengan penampilan aku yang sekarang.”
Adam memijat pelipisnya, ia seperti kehabisan kata – kata untuk menasehati adiknya itu. Terlalu keras di beritahu, Medina akan semakin melawan. Tapi jika bersikap lembut, Medina malah ngelunjak.
Adam menghela nafas kasar, akan lebih baik ia menyudahi perdebatan ini sebelum Medina ngambek dan kabur dari rumah seperti kebiasaannya yang sudah – sudah.
“ Kakak berangkat kerja dulu. Kamu langsung pulang,” titah Adam dan kemudian berlalu pergi meninggalkan pelataran parkir rumah susun serta Medina yang terlihat semringah karena kakaknya tidak lagi berkomentar soal apa yang ia kenakan. Atau...lebih tepatnya belum berkomentar. Entahlah...apapun itu yang penting sekarang Medina tidak harus menuruti kemauan kakaknya untuk mengubah penampilan tomboynya itu.
“ Baru tahu gue, kalau ‘macan kampus’ punya pawang.”
Kalimat bernada meledek itu, menyentil emosi Medina yang kian menggunung. Nando kini berdiri di sisinya dengan melayangkan senyum yang dibuat semanis – manisnya, tapi entah kenapa terlihat begitu menyebalkan bagi Medina.
“ Oh...mulut lo itu kayaknya butuh belaian langsung dari bogem mentah gue ya?” tanya Medina sambil menyingsingkan lengan kemejanya, menantang.
“ Ya elah Na, jangankan bogem mentah. Di cium mesra sama lo aja, gue pasrah,” Nando semakin semringah. Tak gentar menghadapi kemarahan Medina yang sudah sangat sering ia lihat.
Tapi...tingkahnya justru semakin menaikkan kadar kemarahan Medina,” Nando!!”
Medina siap melayangkan tinjunya, Nando reflek menghindar melarikan diri.
Aksi saling kejar – kejaran layaknya Tom and Jerry mengisi pelataran parkir rumah susun yang terlihat sepi. Medina dan Nando sebenarnya telah saling mengenal sejak masih ingusan, tapi karena keusilan Nando, keduanya malah tidak pernah akur.
Walau takdir terus – terusan mempertemukan mereka di tempat yang sama. Sekolah yang sama dari jaman Tk hingga SMA, bahkan kampus yang sama, itu tak membuat keduanya bisa menjalin pertemanan yang baik, apalagi sejak Nando menyatakan cintanya pada Medina satu tahun lalu. Gadis bermata hitam pekat itu seakan kian antipati kepadanya.
Apa sikap antipati itu untuk menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya pada Nando? Atau memang ia ingin membuat Nando menjauh? Entahlah, apapun itu toh usahanya untuk membuat Nando menjauh tak pernah berhasil. Cowok manis berkacamata itu justru kian sering muncul mengisi kehidupannya.
Terkadang, cinta itu keras kepala.
●●●
Diubah oleh riani14 07-10-2023 17:38
efti108 dan tien212700 memberi reputasi
5
76.5K
Kutip
1K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
riani14
#235
Quote:
PART 26
Keadaan kampus berangsur sepi, hari juga semakin mendekati senja. Medina dan Nina terlihat duduk berselonjor kaki di lantai dengan wajah datar. Sudah satu jam keduanya berada di depan ruang dekan, tapi masih tak ada tanda – tanda Nando ataupun Tirta keluar dari ruangan. Pasca perkelahian tadi keduanya memang langsung di bawa menemui dekan lantaran keributan yang mereka buat.
“ Na...maafin gue ya?”
“ Dari tadi lo bilang maaf terus, maaf buat apa sih?” Medina tak mengerti arah pembicaraan sahabatnya itu.
“ Harusnya gue bilang sama lo, kalau Tirta itu nggak seperti yang lo pikir. Emosi dia itu nggak stabil”
“ Bukannya lo udah sering bilang itu ya ke gue? Guenya aja yang ngeyel.”
“ Tapi Na-“
“ Udahlah Nin, gue nggak mau bahas soal dia lagi. Siapapun yang ngelukain kak Adam, bakal jadi musuh terbesar gue.”
Nina ingin bersuara lagi, tapi suara pintu yang di buka, mengalihkan perhatian dua gadis ini. Nando dan Tirta muncul dari ambang pintu dengan kepala tertunduk. Baik Medina dan Nina sangat penasaran apa saja yang terjadi di dalam? Hukuman seperti apa yang harus mereka terima?
Medina melangkah cepat mendekati Nando, dan bukannya menunjukkan rasa prihatin atau semacamnya, gadis manis ini malah melemparkan tatapan kesal pada Nando. Hingga kemudian...
Plakk!!
Satu tamparan keras mendarat persis di pipi Nando, membuat semua yang menyaksikan heran bukan main.
“ Medina...lo apa – apa’an sih?” protes Nina sedikit kesal. Bagaimana bisa Medina menampar Nando? Nina tak mengerti dimana letak salah Nando di mata sahabatnya itu.
Tirta yang juga berdiri persis di samping Nando, sama tak mengertinya.
“ Sejak kapan lo berubah jadi sok jagoan? Apa gue minta lo ngehajar anak orang habis – habisan cuma buat nolongin gue? Cukup kak Adam yang perlu gue khawatirin Ndo. Jangan lo.” Terang Medina dengan mata yang mulai berkaca – kaca. Ah...kenapa ia harus jadi semellow ini. Keterlaluan.
“ Na...gue nggak apa – apa. Lo nggak perlu ngekhawatirin gue,” Nando merasa senang karena Medina mulai menunjukkan rasa pedulinya, tapi di sisi lain ia juga tak ingin melihat gadis itu menangis hanya untuk mengkhawatirkannya. Ia tidak tega.
“ Sekarang...apa yang lo dapat dari ngebantu’in gue? Lo di hukumkan?” tanya Medina berusaha sedikit lebih tenang.
“ Iya Ndo, lo di hukum ya?” timpal Nina juga ingin tahu.
“ Guy’s gue kan salah satu mahasiswa terbaik di sini. Ya mana mungkin gue di hukum. Emang nih anak, mahasiswa pindahan juga, udah dapat skorsing aja,” Nando menyindir Tirta.
Sementara yang di sindir hanya membuang muka, tak suka.
“ Lo nggak bohongkan?” tanya Medina kian serius. Ia tak ingin di tipu lagi.
“ Ya nggaklah,” Nando melempar senyum semringah, berusaha meyakinkan gadis itu.
Medina menghela nafas lega, dia bersyukur karena Nando tidak di hukum hanya karena membantunya. Ia tak ingin menyusahkan dan membebani hidup orang lain lebih banyak lagi. Percayalah...itu nggak enak sama sekali.
“ Alhamdulillah kalau gitu. By the way...sorry soal tamparan barusan. Gue kesel aja sama lo, ngelakuin sesuatu nggak pake pikir dulu.”
“ Ya gimana gue mau mikir. Orang isi pikiran gue udah di invasi sama lo semua,” goda Nando sukses memancing senyuman Medina. Dan Nina lagi – lagi hanya bisa menahan diri untuk tidak marah. Ia hanya melempar senyum seadanya.
“ Lo nggak apa – apakan? Luka lo nggak parahkan?” cemas Nando dengan tatapan terfokus pada luka yang sudah di plester yang menghiasi dahi mulus Medina.
Medina memegangi lukanya sejenak,” Nggak apa – apa kok. Cuma luka kecil ini.”
“ Na...gue pengen ngomong bentar sama lo boleh?” Tirta akhirnya membuka suara hingga langsung mendapat perhatian penuh dari ketiganya.
“ Mau ngapain lagi lo? Nggak cukup lo bikin jodoh gue sedih gara – gara lo mukulin abangnya?” dengus Nando dengan wajah sebal sekaligus cemburu.
“ Tahu nih, mending lo jauh – jauh deh Tir dari hidup Medina,” Nina yang kesal juga ikut menimpali.
“ Boleh.”
Ucapan Medina mengejutkan Nina dan Nando, pikiran perempuan yang satu ini memang sulit di tebak. Bukan karena Medina labil. Tapi karena memang ia selalu punya cara sendiri untuk menyelesaikan masalahnya dengan orang lain.
“ Na...udahlah, nih cowok jangan di kasih hati. Ujung – ujungnya malah ngelunjak,” Nina melayangkan protes. Ia tak ingin terjadi sesuatu pada Medina. Tahu sendirikan Tirta itu orangnya seperti apa.
“ Nggak apa – apa Nin. Gue tahu kok apa yang gue lakuin,” yakin Medina sambil tersenyum. Setidaknya itu bisa mengurangi kekhawatiran sahabat terbaiknya itu.
“ Ya udah, gue sama Nando nunggu di parkiran. Kalau lo udah selesai, lo langsung ke sana,” pinta Nina sambil mengusap pundak Medina. Yang di sambut dengan anggukan kecil oleh Medina.
“ Yuk Ndo,” ajak Nina.
“ Tunggu dulu,” – Nando memandangi wajah Medina dengan begitu intens tanpa mengucapkan sepatah katapun hingga meembuat Medina ‘agak risih’. Tindakan unfaedahnya berbuah satu pijakan keras di kakinya hingga membuatnya menjerit kesakitan “ Auwww...bisa santai aja nggak sih?” rungut Nando pada si pelaku. Medina.
“ Makanya ngeliatin orang biasa aja. Bukan muhrim juga.” Dengus Medina sambil bersidekap.
“ Iya maaf, habisnya gue takut nggak bisa ngeliat lo lagi.”Ucapan Nando sukses membuatnya di hadiahi tatapan melotot oleh Medina dan Nina, bahkan Tirta tanpa terkecuali. Ngomong apa’an nih bocah?
“ Lo nyumpahin gue mati?!”
“ Ya bukan gitu, Na.”
“ Lo nyebelin banget sih, pergi nggak lo,”
“ Iya...iya gue pergi, tapi nanti jangan kangen ya,” kelakar Nando dengan senyum cerah.
“ Erghhh....NANDO!!” Medina mulai mencak – mencak meluapkan kekesalannya.
Nando yang lebih mementingkan keselamatan jiwa dan raganya langsung ngacir bersama Nina yang mengekor di belakangnya.
Sepeninggal Nando dan Nina, situasi canggung menyelimuti Tirta dan Medina. Medina yang tak terbiasa berlama – lama berhadapan dengan orang yang kini ia benci, merasa tidak nyaman dengan situasi ini.
Sementara Tirta tampak ragu untuk memulai obrolan, ia masih merasa sangat bersalah dengan semua hal yang hari ini ia lakukan.
“ Gimana luka lo?” tanya Medina yang tak ingin berlama – lama merasa canggung dalam keheningan masing – masing. Apalagi wajah babak belur Tirta cukup membuatnya prihatin dan tertarik untuk mengetahui keadaannya.
“ Nggak apa – apa kok. Cuma luka kecil ini, dua tiga hari juga sembuh.”
Medina mengangguk tanda mengerti.
“ Na...gue minta maaf. Gue nggak maksud buat bikin kak Adam babak belur. Gue juga nggak maksud buat bikin lo luka kayak gini. Gue-,”
“ Cukup Tir, gue nggak mau dengar apa – apa lagi dari lo. Kalimat apapun yang keluar dari mulut lo sekarang. Gue nggak peduli.”
“ Tapi Na-,”
“ Gue udah cukup kecewa sama lo. Mulai sekarang jangan pernah lo muncul lagi di hadapan gue. Anggap kita nggak pernah kenal. Karena apa? Karena gue benci sama lo.”
Tirta mengepal kedua tangannya erat, ia tengah berusaha mati – matian menahan emosinya agar tidak kembali meledak dan menakuti Medina.
Tanpa sengaja Medina melihat hal itu, ia tersenyum sinis dan melempar tatapan sama sinisnya pada Tirta.
“ Lo marah? Lo benci sama gue? Silakan. Justru itu bagus buat gue.” Ketus Medina dan keemudian berlalu pergi.
“ Gue tahu gue aneh, psikopat di mata lo semua,” tukas Tirta sukses menghentikan laangkah Medina. Ia kini berdiri membelakangi Tirta.
“Tapi satu hal yang harus lo tahu Na, gue bukan orang yang bisa semudah itu menggantikan perasaan sayang dengan rasa benci.”
Medina membeku seketika, ia bukan lagi anak kecil di mana setiap kalimat harus di terangkan secara detail. Ia tahu persis apa maksud perkataan Tirta barusan. Tapi...Medina jelas tidak ingin mempercayai hal itu begitu saja. Bisa saja itu taktik Tirta agar Medina mau memaafkannya.
“ Apa ketulusan gue selama ini, masih belum cukup buat lo maafin gue?” tanya Tirta dengan wajah kian muram. Sungguh ia begitu takut jika Medina membencinya bahkan tak ingin bertemu dengannya lagi.
Medina masih diam, ia sedang menelaah semua ucapan Tirta yang tiba – tiba. Jadi semua perhatian itu? Semua kebaikan itu terjadi karena satu alasan? Karena Tirta menaruh perasaan lebih dari seorang teman kepadanya? Tapi bagaimana mungkin dan sejak kapan itu terjadi? Mengingat mereka sudah lama tidak bertemu. Terakhir bertemu dulu, saat Tirta dan Nina putus. Lantas sejak kapan perasaan seperti itu muncul di hati Tirta? Apa dia tengah membohongi Medina? Atau...
“ Na...gue butuh jawaban lo. Apa ketulusan itu masih belum cukup buat lo maafin gue?”
Tanpa sedikitpun berniat membalikkan badan menatap lawan bicaranya, “ Iya.” Singkat Medina dan kemudian berlalu pergi tanpa peduli dengan Tirta yang kini tengah di sarungi perasaan kecewa yang luar biasa.
Bukannya Medina tak ingin memaafkan, perasaan marahnya masih cukup berperan didalam sana, hingga rasanya sulit untuk memaafkan sahabatnya sendiri.
Medina juga masih butuh waktu untuk lebih memahami semuanya. Semuanya tanpa terkecuali.
●●●
JabLai cOY memberi reputasi
3
Kutip
Balas