- Beranda
- Stories from the Heart
Burung Kertas Merah Muda
...
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
chrishana
#350
Chapter 56
Pukul lima pagi, sudah terdengar suara mesin sepeda motor berukuran besar dengan kapasitas cylinder dua ratus lima puluh. Suara yang dikeluarkan oleh pipa pembuangan racing yang teraplikasi di mesin tersebut memberikan suara yang khas. Sepeda motor itu terparkir persis di depan rumah Anna. Siapa lagi kalau bukan Rian yang memilikinya. Anak dari pasangan pengusaha kaya raya. Bahkan bisa dibilang, lebih kaya dari Winarto Nugroho, papanya Rendy.
Tak membutuhkan waktu lama untuk Rian menunggu Anna yang sedang bersiap-siap. Anna keluar dari rumahnya ditemani oleh ibunya. Anna terlihat masih takut untuk menemui Rian yang semalam membuatnya menangis hingga tak bisa istirahat dengan tenang.
Terdengar nyanyian dari seekor unggas yang dipelihara oleh para tetangga Anna dengan kedua sayap yang melekat pada tubuhnya namun tak kuasa untuk terbang. Pertanda bahwa matahari akan segera terbit. Anna dan Rian terbiasa berangkat pada waktu di mana para muslimin baru saja pulang dari masjid. Saat itu, Rian melajukan motornya dengan pelan dan santai.
Mentari pagi perlahan merangkak naik menampakan diri bertepatan dengan angin yang berhembus pelan menggoyangkan dahan dan ranting. Motor yang sedang ditunggangi oleh Rian dan Anna tiba di sebuah perempatan tak jauh dari sekolah mereka. Namun, pada saat lampunya berubah menjadi hijau, Rian membelokkan lajunya.
Lima belas menit berlalu, sampailah Anna dan Rian di suatu rumah yang lumayan besar dalam kompleks perumahan kawasan elit ibu kota. Rian memarkirkan motornya di garasi rumahnya yang cukup luas dan muat hingga tiga mobil.
Rian menarik Anna masuk ke dalam. Kedua kaki milik Anna terasa lemas dan bergerak tak sesuai dengan apa yang dia inginkan. Anna ingin kakinya bisa melawan dan melangkah keluar dari rumah. Tapi kini, entah mengapa semua itu berubah. Keadaan yang menakutkan membuat dia pasrah dan menuruti apa kata Rian. Ditambah lagi ancaman bahwa Rian akan mecelakakan Rendy. Dan akhirnya, Rian berhasil membawa Anna masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu.
Makin lama, tangan milik Rian semakin leluasa menjamah tubuh seorang perempuan yang dibalut dengan kemeja putih miliknya. Perempuan yang sudah lemah tak berdaya dan tak bisa melawan seorang lelaki bertubuh lebih besar darinya.
Permainan Rian terhenti sejenak karena ada suara telepon berdering masuk ke dalam telepon genggamnya. Terlihat nampak nama Rheva Rahmadhani muncul dari layar ponsel miliknya.
Telepon dimatikan oleh Rian secara sepihak. Rian kembali lagi fokus pada Anna yang sudah menangis terisak-isak. Tangannya mulai menggerayangi tubuh langsing milik Anna. Sampai akhirnya Rian menyentuh bagian dada Anna.
Rian melanjutkan permainannya. Melampiaskan hawa nafsu yang tertahankan kepada Anna. Anna yang lemah tak berdaya juga tak kuasa untuk melawannya. Berkali-kali Anna mendorong Rian menjauh, tetap saja Rian seperti tak bergerak mundur sedikit pun.
Rian yang sudah kesal mengambil sesuatu dari dalam lemarinya. Sebuah perekat berwarna hitam berukurang sedang diambilnya. Anna yang melihatnya menjadi tambah panik dan ketakutan.
Anna pun pasrah. Rian berhasil menyingkap kedua tangan milik Anna dan merekatkan perekat untuk mengikatnya. Anna hanya bisa menangis dan berharap ada Rendy di sana. Anna selalu menyebut nama Rendy dalam bibirnya yang gemetaran hebat seraya Rian mulai membuka kemeja seragam milik Anna serta hijab putihnya dilanjutkan dengan menanggalkan rok abu-abu miliknya.
Tiba-tiba saja seseorang bertubuh tegap menendang pintu kamar Rian dengan kuat. Di sebelah lelaki itu, ada seorang perempuan dengan rambut panjang lurus serta mempunyai wajah yang cantik.
“Aduh, dia datang lagi.” gumam Anna yang melihat Rian datang dari balik jendela.
“Kenapa, nak?” tanya ibunda Anna.
“Ada Kak Rian, Bu.” jawab Anna.
“Ya udah kamu siap-siap berangkat gih. Udah dijemput kan.”
“Iya, Bu.”
“Kenapa, nak?” tanya ibunda Anna.
“Ada Kak Rian, Bu.” jawab Anna.
“Ya udah kamu siap-siap berangkat gih. Udah dijemput kan.”
“Iya, Bu.”
Tak membutuhkan waktu lama untuk Rian menunggu Anna yang sedang bersiap-siap. Anna keluar dari rumahnya ditemani oleh ibunya. Anna terlihat masih takut untuk menemui Rian yang semalam membuatnya menangis hingga tak bisa istirahat dengan tenang.
“Pagi, Bu.” ucap Rian sambil mencium tangan ibunda Anna.
“Pagi, nak Rian. Kalian hati-hati di jalan ya. Jangan ngebut.”
“Tenang aja, Bu. Anna aman sama saya. Pamit ya, Bu.”
“Pagi, nak Rian. Kalian hati-hati di jalan ya. Jangan ngebut.”
“Tenang aja, Bu. Anna aman sama saya. Pamit ya, Bu.”
Terdengar nyanyian dari seekor unggas yang dipelihara oleh para tetangga Anna dengan kedua sayap yang melekat pada tubuhnya namun tak kuasa untuk terbang. Pertanda bahwa matahari akan segera terbit. Anna dan Rian terbiasa berangkat pada waktu di mana para muslimin baru saja pulang dari masjid. Saat itu, Rian melajukan motornya dengan pelan dan santai.
“Anna, kamu kenapa sih gak pernah peluk aku kalau lagi naik motor?” tanya Rian.
“Nggak apa-apa, Kak. Gak nyaman aja.” ujar Anna.
“Ya udah sekarang coba peluk aku dong. Masa gak nyaman.” ucap Rian sedikit memaksa.
“...”
“Kamu kemarin bilang mau diapain aja kan. Atau kamu mau Rendy gak bisa lihat kamu lagi?” Rian sedikit mengancam.
“...” Anna tak menjawab dan secara terpaksa memeluk Rian dari belakang.
“Nah, gitu dong sayang.” ujar Rian kegirangan.
“Nggak apa-apa, Kak. Gak nyaman aja.” ujar Anna.
“Ya udah sekarang coba peluk aku dong. Masa gak nyaman.” ucap Rian sedikit memaksa.
“...”
“Kamu kemarin bilang mau diapain aja kan. Atau kamu mau Rendy gak bisa lihat kamu lagi?” Rian sedikit mengancam.
“...” Anna tak menjawab dan secara terpaksa memeluk Rian dari belakang.
“Nah, gitu dong sayang.” ujar Rian kegirangan.
Mentari pagi perlahan merangkak naik menampakan diri bertepatan dengan angin yang berhembus pelan menggoyangkan dahan dan ranting. Motor yang sedang ditunggangi oleh Rian dan Anna tiba di sebuah perempatan tak jauh dari sekolah mereka. Namun, pada saat lampunya berubah menjadi hijau, Rian membelokkan lajunya.
“Kak, kok belok? Sekolah kita kan masih lurus.” ujar Anna.
“Siapa yang mau bawa kamu ke sekolah, Na?”
“Terus kita kamu ke mana?” Anna mulai panik.
“Udah diem aja! Kamu yang mau kan aku ngapain aja! Gak usah banyak tanya!” bentak Rian.
“...” Anna semakin takut dan terdiam.
“Siapa yang suruh lepas pelukannya!”
“Iya... Maaf, Kak.” Anna kembali mengencangkan pelukannya dengan terpaksa.
“Siapa yang mau bawa kamu ke sekolah, Na?”
“Terus kita kamu ke mana?” Anna mulai panik.
“Udah diem aja! Kamu yang mau kan aku ngapain aja! Gak usah banyak tanya!” bentak Rian.
“...” Anna semakin takut dan terdiam.
“Siapa yang suruh lepas pelukannya!”
“Iya... Maaf, Kak.” Anna kembali mengencangkan pelukannya dengan terpaksa.
Lima belas menit berlalu, sampailah Anna dan Rian di suatu rumah yang lumayan besar dalam kompleks perumahan kawasan elit ibu kota. Rian memarkirkan motornya di garasi rumahnya yang cukup luas dan muat hingga tiga mobil.
“Ini rumah siapa, Kak?” tanya Anna kebingungan.
“Ini rumahku.”
“Kok sepi?”
“Orang tuaku udah berangkat kerja dan pulang tengah malam. Ayo masuk.”
“Terus kita cuma berdua di dalam? Gak mau!” Anna mulai melawan.
“Masuk gak!” Rian menarik tangan Anna.
“Gak! Aku mau pulang!”
“Silahkan kamu pulang! Besok Rendy gak ada lagi di dunia ini! Ngerti kamu!” Rian mengancam dengan nada keras.
“...” Anna terdiam tak bisa melawan.
“Ini rumahku.”
“Kok sepi?”
“Orang tuaku udah berangkat kerja dan pulang tengah malam. Ayo masuk.”
“Terus kita cuma berdua di dalam? Gak mau!” Anna mulai melawan.
“Masuk gak!” Rian menarik tangan Anna.
“Gak! Aku mau pulang!”
“Silahkan kamu pulang! Besok Rendy gak ada lagi di dunia ini! Ngerti kamu!” Rian mengancam dengan nada keras.
“...” Anna terdiam tak bisa melawan.
Rian menarik Anna masuk ke dalam. Kedua kaki milik Anna terasa lemas dan bergerak tak sesuai dengan apa yang dia inginkan. Anna ingin kakinya bisa melawan dan melangkah keluar dari rumah. Tapi kini, entah mengapa semua itu berubah. Keadaan yang menakutkan membuat dia pasrah dan menuruti apa kata Rian. Ditambah lagi ancaman bahwa Rian akan mecelakakan Rendy. Dan akhirnya, Rian berhasil membawa Anna masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu.
“Selamat datang di kamarku.” ujar Rian.
“...” Anna hanya bisa diam terduduk di atas ranjang milik Rian.
“Kamu yang mau sendiri kan kemarin kalau kamu mau diapain aja sama aku, asal aku gak apa-apain Rendy. Tenang aja, Rendy gak akan aku apa-apain.” ujar Rian sambil mengelus wajah Anna.
“...” Anna hanya bisa diam terduduk di atas ranjang milik Rian.
“Kamu yang mau sendiri kan kemarin kalau kamu mau diapain aja sama aku, asal aku gak apa-apain Rendy. Tenang aja, Rendy gak akan aku apa-apain.” ujar Rian sambil mengelus wajah Anna.
Makin lama, tangan milik Rian semakin leluasa menjamah tubuh seorang perempuan yang dibalut dengan kemeja putih miliknya. Perempuan yang sudah lemah tak berdaya dan tak bisa melawan seorang lelaki bertubuh lebih besar darinya.
“Kak! Apaan sih!” Anna mulai merasa tak nyaman.
“Aku mau senang-senang.” ujar Rian.
“Kak, pleasejangan. Aku gak mau macam-macam.” Anna memohon seraya air matanya jatuh membasahi pipinya.
“Aku mau senang-senang.” ujar Rian.
“Kak, pleasejangan. Aku gak mau macam-macam.” Anna memohon seraya air matanya jatuh membasahi pipinya.
Permainan Rian terhenti sejenak karena ada suara telepon berdering masuk ke dalam telepon genggamnya. Terlihat nampak nama Rheva Rahmadhani muncul dari layar ponsel miliknya.
“Halo, Rian!”
“Hai, Va. Kenapa?”
“Lo lagi sama Anna gak?”
“Iya, ini Anna di samping gue.”
“Di mana? Rendy dari tadi nyariin Anna.”
“Bilang sama Rendy. Anna lagi seneng-seneng di rumah gue. Hahahahaha!”
“Astaga! Heh, jangan macem-macem lo brengsek!”
*KLIK!*
“Hai, Va. Kenapa?”
“Lo lagi sama Anna gak?”
“Iya, ini Anna di samping gue.”
“Di mana? Rendy dari tadi nyariin Anna.”
“Bilang sama Rendy. Anna lagi seneng-seneng di rumah gue. Hahahahaha!”
“Astaga! Heh, jangan macem-macem lo brengsek!”
*KLIK!*
Telepon dimatikan oleh Rian secara sepihak. Rian kembali lagi fokus pada Anna yang sudah menangis terisak-isak. Tangannya mulai menggerayangi tubuh langsing milik Anna. Sampai akhirnya Rian menyentuh bagian dada Anna.
“Ah! Kak! Jangan!”
“Jangan ya? Rendy apa kabarnya ya...”
“...”
“Udah jangan ngelawan, nikmatin aja!”
“Jangan ya? Rendy apa kabarnya ya...”
“...”
“Udah jangan ngelawan, nikmatin aja!”
Rian melanjutkan permainannya. Melampiaskan hawa nafsu yang tertahankan kepada Anna. Anna yang lemah tak berdaya juga tak kuasa untuk melawannya. Berkali-kali Anna mendorong Rian menjauh, tetap saja Rian seperti tak bergerak mundur sedikit pun.
“Kak, jangan! Aku mohon jangan!” Anna mulai menangis dan melawan.
“Kamu tuh bisa gak sih gak usah ngelawan! Apa kamu udah bosan liat Rendy?”
“Aku gak mau, Kak! Cukup!”
“Ya udah, aku mau ketemu Rendy. Aku mau habisin dia sekarang!” Rian marah dan bersiap meninggalkan Anna.
“Kak! Jangan! Jangan Rendy!” Anna menahan Rian.
“Ya kalau gitu nurut sama aku!” bentak Rian.
“...”
“Kamu tuh bisa gak sih gak usah ngelawan! Apa kamu udah bosan liat Rendy?”
“Aku gak mau, Kak! Cukup!”
“Ya udah, aku mau ketemu Rendy. Aku mau habisin dia sekarang!” Rian marah dan bersiap meninggalkan Anna.
“Kak! Jangan! Jangan Rendy!” Anna menahan Rian.
“Ya kalau gitu nurut sama aku!” bentak Rian.
“...”
Rian yang sudah kesal mengambil sesuatu dari dalam lemarinya. Sebuah perekat berwarna hitam berukurang sedang diambilnya. Anna yang melihatnya menjadi tambah panik dan ketakutan.
“Kak, aku mau diapain!” Anna ketakutan.
“Diam kamu! Sini tanganmu!” Rian memegangi tangan Anna.
“Kak! Gak mau!” Anna melawan.
“Kamu pilih nurut sama aku atau Rendy celaka!” Rian mengancam.
“...”
“Diam kamu! Sini tanganmu!” Rian memegangi tangan Anna.
“Kak! Gak mau!” Anna melawan.
“Kamu pilih nurut sama aku atau Rendy celaka!” Rian mengancam.
“...”
Anna pun pasrah. Rian berhasil menyingkap kedua tangan milik Anna dan merekatkan perekat untuk mengikatnya. Anna hanya bisa menangis dan berharap ada Rendy di sana. Anna selalu menyebut nama Rendy dalam bibirnya yang gemetaran hebat seraya Rian mulai membuka kemeja seragam milik Anna serta hijab putihnya dilanjutkan dengan menanggalkan rok abu-abu miliknya.
“Kak! Udah cukup! Jangan aku mohon!” Anna memohon.
“Kamu bisa diam gak? Mau aku lakban juga mulut kamu? Kita belum mulai nih.”
*BRAK!*
“Kamu bisa diam gak? Mau aku lakban juga mulut kamu? Kita belum mulai nih.”
*BRAK!*
Tiba-tiba saja seseorang bertubuh tegap menendang pintu kamar Rian dengan kuat. Di sebelah lelaki itu, ada seorang perempuan dengan rambut panjang lurus serta mempunyai wajah yang cantik.
itkgid dan 7 lainnya memberi reputasi
8
Tutup
