- Beranda
- Stories from the Heart
Burung Kertas Merah Muda
...
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
chrishana
#318
Chapter 53
Ini adalah sebuah tempat di mana terdapat cekungan buatan yang begitu luas dan digenangi oleh air tawar di seluruh permukaannya. Tempat yang ditempuh setengah jam dari sekolah yang ditunjukkan Anna. Ini adalah kali pertama Rendy mengunjungi tempat ini. Tempat ini dikelilingi oleh pedagang kaki lima yang menjual aneka ragam makanan dan jajanan. Rendy seperti tersihir jatuh cinta pada pandangan pertama dengan tempat ini.
Rendy dan Anna duduk di pinggiran danau sambil menikmati pemandangan siang. Tak lupa mereka membeli beberapa makanan yang di jual di sana. Walaupun Rendy tak suka menghabiskan uangnya untuk membeli jajanan, tapi kali ini justru Rendy mencoba semua yang ada di sini. Banyak jajanan khas yang di jual di sekolah dasar seperti telur gulung, cilok, dan ada juga yang menjual sosis bakar.
Pusat tata surya yang berjarak jutaan kilometer dari bumi perlahan mulai tergelincir. Suasana di tempat ini semakin ramai dikunjungi oleh banyak orang. Dari kaum pelajar hingga mahasiswa ada di sini. Sampai tiba-tiba, ada segerombolan murid mendatangi Rendy dan Anna.
Anna terlihat gemetar ketakutan. Tangannya terus melingkar dan memeluk Rendy dengan kuat. Padahal saat itu, Rendy sedang tidak berseragam. Namun, segerombolan anak sekolah lain tersebut melihat Anna yang masih berseragam.
Salah satu dari mereka memegangi tangan Anna. Terlihat Anna memberontak namun kalah jumlah dan tenaga. Dari mulai bagian wajah, hingga bagian tubuhnya tak luput dari colekan-colekan serta pelecehan secara verbal yang diujarkan oleh mereka.
Sebuah tinju yang sangat keras mengenai murid yang memegangi tangan Anna hingga jatuh tersungkur dan mengeluarkan darah dari mulutnya. Mereka berjumlah delapan orang melawan Rendy yang hanya seorang diri. Para pengunjung yang melihat tidak ada yang berani memisahkan mereka karena lawan Rendy kali ini membawa senjata tajam.
Pertarungan tak berlangsung lama. Walaupun mereka semua dibelaki senjata tajam, namun mereka kalah kemampuan dan pengalaman dari Rendy. Kedelapan orang tersebut babak belur dibuatnya. Rendy hanya mengalami luka kecil akibat sayatan sebuah pisau lipat. Ada satu murid yang dibuat Rendy tak sadarkan diri. Temannya sudah lari tunggang langgang entah ke mana.
Padahal orang itu sudah tak sadarkan diri, tapi Rendy masih saja memukul bahkan menginjak orang tersebut. Anna yang melihat Rendy sudah kalap langsung menghampiri dan memeluknya serta menjauhi Rendy dari orang yang sudah terkapar dengan luka lebam di seluruh wajahnya.
Rendy menyalakan mesin motor dengan kapasitas cylinderseratus lima puluh berlogo sayap miliknya. Napasnya masih tak beraturan karena masih segar di ingatannya karena melihat langsung Anna dilecehkan di depannya. Rendy masih belum melajukan motornya lantaran masih memendam amarah.
Perlahan-lahan, emosinya mulai mereda namun Rendy belum membuka omongan. Hingga akhirnya, Rendy melajukan kendaraannya dengan pelan dan santai.
“Bagus banget tempatnya, Na. Kamu suka ke sini?”
“Iya, kadang-kadang. Aku juga udah lama gak ke sini.” ujar Anna.
“Kamu gak suka pergi kayak ke mall gitu, Na?” tanya Rendy.
“Aku gak suka jalan ke mall, Ren. Kurang suka sih tepatnya. Aku lebih suka ke tempat kayak gini. Terbuka dan banyak jajanan. Di sini kalau malam lebih indah lagi terus ramai.” ujar Anna.
“Iya, kadang-kadang. Aku juga udah lama gak ke sini.” ujar Anna.
“Kamu gak suka pergi kayak ke mall gitu, Na?” tanya Rendy.
“Aku gak suka jalan ke mall, Ren. Kurang suka sih tepatnya. Aku lebih suka ke tempat kayak gini. Terbuka dan banyak jajanan. Di sini kalau malam lebih indah lagi terus ramai.” ujar Anna.
Rendy dan Anna duduk di pinggiran danau sambil menikmati pemandangan siang. Tak lupa mereka membeli beberapa makanan yang di jual di sana. Walaupun Rendy tak suka menghabiskan uangnya untuk membeli jajanan, tapi kali ini justru Rendy mencoba semua yang ada di sini. Banyak jajanan khas yang di jual di sekolah dasar seperti telur gulung, cilok, dan ada juga yang menjual sosis bakar.
“Enak ya suasananya di sini.” ujar Rendy.
“Iya, banyak angin jadi gak terlalu panas.”
“Oh iya, gimana kamu sama Rian?” tanya Rendy.
“Kamu bahas Rian nanti marah lagi.” ujar Anna dengan senyuman tipis.
“Ya nggak lah, Na.”
“Ya aku sama dia gak gimana-gimana.” jawab Anna sambil menyuap makanan ke dalam mulutnya.
“Masa sih?”
“Ya setiap hari sih aku dijemput dan dianterin pulang sama dia. Cuma ya aku biasa aja. Perasaanku ke dia gak ada yang berubah. Malah aku gak punya perasaan apa-apa.” ujar Anna.
“...”
“Ya aku sih pernah ditanya sama dia. Kenapa kalau di atas motor aku gak pernah peluk dia.”
“Terus kamu jawab apa?”
“Aku gak jawab. Aku diemin aja. Masa iya aku jawab karena aku gak sayang sama dia. Yang ada aku diturunin di tengah jalan kali, Ren.” ujar Anna.
“Kalau dia berani turunin kamu di tengah jalan, masih ada aku kok di belakang kalian.”
“Ngapain kamu di belakang? Kamu ngikutin aku ya tiap pagi?” tanya Anna heran.
“Sekali doang sih waktu kamu belum jadian. Awalnya aku mau jemput kamu. Tapi udah keduluan sama Rian.”
“...”
“Udah gak apa-apa gak usah dipikirin.” ujar Rendy seraya mengusap kepala Anna dengan lembut.
“Iya, banyak angin jadi gak terlalu panas.”
“Oh iya, gimana kamu sama Rian?” tanya Rendy.
“Kamu bahas Rian nanti marah lagi.” ujar Anna dengan senyuman tipis.
“Ya nggak lah, Na.”
“Ya aku sama dia gak gimana-gimana.” jawab Anna sambil menyuap makanan ke dalam mulutnya.
“Masa sih?”
“Ya setiap hari sih aku dijemput dan dianterin pulang sama dia. Cuma ya aku biasa aja. Perasaanku ke dia gak ada yang berubah. Malah aku gak punya perasaan apa-apa.” ujar Anna.
“...”
“Ya aku sih pernah ditanya sama dia. Kenapa kalau di atas motor aku gak pernah peluk dia.”
“Terus kamu jawab apa?”
“Aku gak jawab. Aku diemin aja. Masa iya aku jawab karena aku gak sayang sama dia. Yang ada aku diturunin di tengah jalan kali, Ren.” ujar Anna.
“Kalau dia berani turunin kamu di tengah jalan, masih ada aku kok di belakang kalian.”
“Ngapain kamu di belakang? Kamu ngikutin aku ya tiap pagi?” tanya Anna heran.
“Sekali doang sih waktu kamu belum jadian. Awalnya aku mau jemput kamu. Tapi udah keduluan sama Rian.”
“...”
“Udah gak apa-apa gak usah dipikirin.” ujar Rendy seraya mengusap kepala Anna dengan lembut.
Pusat tata surya yang berjarak jutaan kilometer dari bumi perlahan mulai tergelincir. Suasana di tempat ini semakin ramai dikunjungi oleh banyak orang. Dari kaum pelajar hingga mahasiswa ada di sini. Sampai tiba-tiba, ada segerombolan murid mendatangi Rendy dan Anna.
“Waduh berduaan aja di sini.” ujar salah seorang anak sekolah lain yang tiba-tiba duduk di samping Rendy.
“SMA mana cantik? Oh, Trinusa.” salah satu dari mereka duduk di samping Anna dan mencoba menggodanya.
“Lo pada mau ngapain?” tanya Rendy.
“Suka-suka kita lah. Ini wilayah kita.” ujar salah satu dari mereka.
“SMA mana cantik? Oh, Trinusa.” salah satu dari mereka duduk di samping Anna dan mencoba menggodanya.
“Lo pada mau ngapain?” tanya Rendy.
“Suka-suka kita lah. Ini wilayah kita.” ujar salah satu dari mereka.
Anna terlihat gemetar ketakutan. Tangannya terus melingkar dan memeluk Rendy dengan kuat. Padahal saat itu, Rendy sedang tidak berseragam. Namun, segerombolan anak sekolah lain tersebut melihat Anna yang masih berseragam.
“Gak usah takut gitu sama kita, manis.” ada salah satu di antara mereka mencoba mencolek tubuh Anna.
“Woi! Lo sentuh dia, gue bunuh lo!” Rendy mulai marah.
“Dih! Songong banget ini bocah luar!”
“Ayo pegangin ceweknya!”
“Woi! Lo sentuh dia, gue bunuh lo!” Rendy mulai marah.
“Dih! Songong banget ini bocah luar!”
“Ayo pegangin ceweknya!”
Salah satu dari mereka memegangi tangan Anna. Terlihat Anna memberontak namun kalah jumlah dan tenaga. Dari mulai bagian wajah, hingga bagian tubuhnya tak luput dari colekan-colekan serta pelecehan secara verbal yang diujarkan oleh mereka.
“Ah! Apaan sih! Jangan pegang-pegang gue!” Anna mencoba melawan.
“MATI LO SEMUA!”
“MATI LO SEMUA!”
Sebuah tinju yang sangat keras mengenai murid yang memegangi tangan Anna hingga jatuh tersungkur dan mengeluarkan darah dari mulutnya. Mereka berjumlah delapan orang melawan Rendy yang hanya seorang diri. Para pengunjung yang melihat tidak ada yang berani memisahkan mereka karena lawan Rendy kali ini membawa senjata tajam.
Pertarungan tak berlangsung lama. Walaupun mereka semua dibelaki senjata tajam, namun mereka kalah kemampuan dan pengalaman dari Rendy. Kedelapan orang tersebut babak belur dibuatnya. Rendy hanya mengalami luka kecil akibat sayatan sebuah pisau lipat. Ada satu murid yang dibuat Rendy tak sadarkan diri. Temannya sudah lari tunggang langgang entah ke mana.
“Berani lo nyentuh Anna!”
*BUG!*
“Gue bunuh lo sekarang juga!”
*BUG!*
*BUG!*
“Gue bunuh lo sekarang juga!”
*BUG!*
Padahal orang itu sudah tak sadarkan diri, tapi Rendy masih saja memukul bahkan menginjak orang tersebut. Anna yang melihat Rendy sudah kalap langsung menghampiri dan memeluknya serta menjauhi Rendy dari orang yang sudah terkapar dengan luka lebam di seluruh wajahnya.
“Rendy udah!”
“Dia belom mati, Na!”
“Kalau dia mati apa untungnya buat kamu!”
“...”
“Kamu mau masuk penjara? Kalau kamu masuk penjara, siapa yang jaga aku Rendy!”
Rendy menghela napas panjang. “Iya, maaf.”
“Udah ayo kita balik aja. Udah sore juga.” ujar Anna sambil mendorong Rendy menjauh dari kerumunan.
“Dia belom mati, Na!”
“Kalau dia mati apa untungnya buat kamu!”
“...”
“Kamu mau masuk penjara? Kalau kamu masuk penjara, siapa yang jaga aku Rendy!”
Rendy menghela napas panjang. “Iya, maaf.”
“Udah ayo kita balik aja. Udah sore juga.” ujar Anna sambil mendorong Rendy menjauh dari kerumunan.
Rendy menyalakan mesin motor dengan kapasitas cylinderseratus lima puluh berlogo sayap miliknya. Napasnya masih tak beraturan karena masih segar di ingatannya karena melihat langsung Anna dilecehkan di depannya. Rendy masih belum melajukan motornya lantaran masih memendam amarah.
“Rendy.”
“...”
“Kok diem aja? Ayo jalan.”
Anna yang merasa bahwa Rendy masih marah mencoba meredam. Dia memberanikan diri untuk memeluk Rendy dari belakang. “Rendy, gak baik marah terus. Coba dimaafin mereka. Aku udah maafin kok dan aku udah ikhlas. Karena kamu udah ngebalas mereka, Rendy.”
“...”
“Kok diem aja? Ayo jalan.”
Anna yang merasa bahwa Rendy masih marah mencoba meredam. Dia memberanikan diri untuk memeluk Rendy dari belakang. “Rendy, gak baik marah terus. Coba dimaafin mereka. Aku udah maafin kok dan aku udah ikhlas. Karena kamu udah ngebalas mereka, Rendy.”
Perlahan-lahan, emosinya mulai mereda namun Rendy belum membuka omongan. Hingga akhirnya, Rendy melajukan kendaraannya dengan pelan dan santai.
jenggalasunyi dan 9 lainnya memberi reputasi
10
Tutup
