Kaskus

Story

claymiteAvatar border
TS
claymite
Criminal Puzzle : Murder on Hotel
Criminal Puzzle : Murder on Hotel
HOLLA

Criminal Puzzle : Murder on Hotel
Crime-Mystery-Thriller



Criminal Puzzle : Murder on Hotel

Quote:


Criminal Puzzle : Murder on Hotel

Quote:


Criminal Puzzle : Murder on Hotel

Quote:


Criminal Puzzle : Murder on Hotel

Quote:


Criminal Puzzle : Murder on Hotel


Quote:


Criminal Puzzle : Murder on Hotel

Quote:
Diubah oleh claymite 18-06-2018 12:43
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
41.7K
325
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.2KAnggota
Tampilkan semua post
claymiteAvatar border
TS
claymite
#6
Part 3


Jam sudah menunjukkan pukul 05.30 tapi tetap saja tidak ada barang bukti untuk kasus tersebut, tidak ditemukan pisau, ceceran darah, jejak kaki berdarah, dan lainnya.

Nampaknya pembunuh ini benar-benar profesional. Ben yang daritadi curiga terhadap sang security kemudian meledak-ledak karena dia sudah yakin bahwa itu pelakunya.

"Hei, sir aku rasa kamu bakal mendapatkan tempat istimewa hari ini!"teriak Ben sambil menendang sang security yang daritadi duduk di kursi.
"Aku tahu kau pelakunya!!" teriak Ben lagi sambil meluapkan amarahnya.
"Hei, tenanglah kawan, kita belum mendapatkan bukti secara fisik" kata Tommy berusaha menenangkan.

Ronald yang daritadi tidak terlihat wujudnya kembali ke kolam renang, dia langsung menghampiri pemilik hotel.
"Hei, pak boleh kutanya? Kenapa hotel sebesar dan sekelas ini tidak diberi CCTV? Padahal ini sangat penting untuk keamanan"
"Keamanan kita beberapa tahun belakangan sudah cukup memadai pak, tadi merupakan sebuah kesalahan fatal bagi kami" kata Pemilik Hotel tersebut.
"Hmm..jadi itulah alasanmu tidak memasang CCTV? Karena merasa keamanan hotelmu sudah memadai?" kata Ronald sambil menulis di sebuah note.
"Ya pak, keamanan kita sudah cukup memadai dan CCTV menurut saya hanyalah buang-buang listrik saja" lanjut sang pemilik hotel.

Ronald pun menghampiri Ben dan menanyakan apa yang terjadi.
"Hei, berantakan sekali disini? Ada masalah?"
"Ya ya, Ben sempat emosi dan meluap-luap tapi biarkanlah sudah reda" kata Tommy.

"Hei, Ben, pernahkah kau merasa bahwa kasus ini hanyalah kecelakaan semata?" bisik Ronald
"Lagi lagi kau membuat lelucon yang bodoh! Aku tak tahu kau sekolah dimana, tapi kita punya saksi mata, Anna! Dia melihat secara persis di depan matanya!" bentak Ben
"Pernahkah kau berpikir bahwa apa yang dikatakan Anna hanyalah omong kosong? Atau pernahkah kau berpikir bahwa Anna mengalami halusinasi?" kata Ronald pelan
"Tidak!!Tidak!!aku berani bersumpah itu bukanlah halusinasi!! Kau bisa lihat, ada lubang bekas tusukan yang berarti itu adalah pembunuhan!" teriak aku.

"Kurasa itu sebuah bunuh diri" kata Ronald dengan datar
"Hei, apa yang kau pikirkan? Apa kau putus asa terhadap kasus ini? Apa kasus ini terlalu rumit bagimu!? Maka pergilah dari sini dan biarkan aku dan timku yang mengurusinya, kau hanyalah sampah! bentak Ben sambil mendorong Ronald.

Ronald pun terdiam sejenak, ia mengajak kita untuk menghampiri mayat korban.
"Oh ya, daritadi aku belum sempat menanyakan identitas jenazahnya" kata Ronald
"Bella Crave, umur 32 tahun, seorang juru ketik, dan baru menginap sekitar 1 hari disini sebelum terbunuh" kata Ben
"Mmmm....dia menginap sendiri?" kata Ronald
"Ya, dan pertanyaan itu membuatmu tampak bodoh dan konyol, jika ia datang berpasangan kita daritadi sudah bisa menanyakan kejadian yang sebenernya kepada pasangannya" kata Ben dengan emosi.

Matahari sudah mulai terbit, tapi orang-orang masih ramai disini. Jurnalis pun mulai berdatangan karena penasaran banyaknya mobil polisi yang terparkir disini dan garis police line.

"Hei hei, Tommy, tolong bilang ke para anggota polisi untuk mencabut garis police line dan memarkirkan mobil jauh-jauh disini, jangan ada yang tahu bahwa telah terjadi pembunuhan disini, ini bakal membuat warga sekitar shock, cukup kita dan para tamu hotel diwajibkan tutup mulut" tegas Ben
Tommy dengan sigap langsung melaksanakan perintah dari Ben.

Langit sudah mulai cerah, dan Ronald mengajakku untuk minum kopi sejenak di kedai kopi sambil berbicang.
"Anna, aku mau tahu, jawab sejujurnya, siapakah yang kamu curigai menjadi tersangka selain dari tersangka itu sendiri?" kata Ronald
"Maksudmu? Selain dari para tersangka, siapakah yang paling aku curigai?
"Tepat, siapakah selain dari para tersangka yang kamu curigai?" kata Ronald
"Tidak ada"

"Mengapa kau menanyakan hal itu?" lanjut aku
"Tidak...aku hanya merasakan kecurigaan yang sangat besar terhadap Ben" jawab Ronald
"Hah?? Kenapa kau curiga terhadap dia?"
"Tadi pas aku menanyakan tentang apakah ini merupakan kasus bunuh diri, sebenernya itu hanyalah trik apakah kecurigaanku benar terhadap Ben, jika ia setuju maka kecurigaanku benar, lagian itu kasus sudah jelas merupakan pembunuhan, aku tidak sebodoh itu, jelas-jelas tidak ada benda seperti pisau, tapi korban terkena tusukan, yakali itu merupakan bunuh diri" kata Ronald sambil tertawa

"Dengar, aku hanya ingin tahu dan mengetes Ben, walaupun dia tadi tidak bersikap mencurigakan dan sempat menolak pernyataan aku bahwa itu adalah kasus bunuh diri, tapi aku tetap mencurigai dia, untuk masalah bunuh diri, aku yakin dia sudah mengetahui rencana ku, yakali pembunuh kelas kakap dengan mudahnya tertipu dengan pernyataan bunuh diri yang gak masuk akal, itu sih logis, jadi aku masih menaruh curiga kepadanya" lanjut Ronald

"Yaampun, Ronald, kenapa engkau mencurigainya separah itu? Kenapa kamu berprasangka buruk?"
"Begini Anna, tadi pas aku berkeliling, aku menemukan salah satu kartu nama detektif bernama Edward Fasser, ini kartu namanya, kutemukan pot dekat dengan lift kamarmu" kata Ronald sambil menunjukan benda yang telah ia temukan.

"Lalu, aku tidak menemukan orang yang bernama Edward Fasser, bahkan aku hanya menemukan satu detektif, yaitu Ben, dengar Anna, ceritakan bagaimana kau bertemu dengan dia?" tanya Ronald
"Aku bertemu dengan dia saat aku panik dan menelpon 911, disitu aku mendengar suara ketukan pintu dan suara orang jalan, beberapa menit kemudian, ada suara personel polisi ramai dan aku melihat segerombolan polisi langsung siaga berlari ke arah kolam renang, disitulah Ben datang dan mengetuk pintu"

"Bingo!! Katakan kepadaku, apakah ia memberikan kartu namanya kepadamu? tanya Ronald lagi
"Tidak"
"Okeoke, kira-kira berapa menit dia datang setelah kamu mendengar suara ketukan pintu? Kira-kira saja berapa?" tanya Ronald dengan penuh antusias
"Jika dikira-kira mungkin sekitar 2-3 menitan"
"Itu dia, dan pertanyaan terakhirku, apakah ia membawa Tommy saat itu?atau sendiri?" tanya Ronald dengan penuh penasaran
"Dia sendiri" jawab aku

"Itulah hal yang membuat aku curiga kepadanya! Dia datang sendiri, tapi beberapa jam kemudian datanglah Tommy seorang rekan kerjanya, dan kenapa Ben memilih ke kamarmu dulu? Kenapa dia gak langsung mengikuti para personel polisi? Dan yang paling buat aku curiga adalah dia ingin cepat-cepat menyelesaikan kasus ini, kau bisa lihat, dia tadi meluapkan emosinya terhadap para tersangka seolah-olah itulah tersangkanya, dan aku makin curiga ketika ia berusaha menutupi kasus ini dari publik" kata Ronald.
Diubah oleh claymite 16-05-2018 11:54
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.