Kaskus

Story

chrishanaAvatar border
TS
chrishana
Burung Kertas Merah Muda
Burung Kertas Merah Muda


Quote:



Spoiler for Perkenalan:


Quote:
Polling
0 suara
Siapakah sosok perempuan yang ada dibalik burung kertas berwarna merah muda tersebut?
Diubah oleh chrishana 08-01-2019 13:13
pulaukapokAvatar border
JabLai cOYAvatar border
zio0108Avatar border
zio0108 dan 16 lainnya memberi reputasi
15
134.8K
610
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.9KAnggota
Tampilkan semua post
chrishanaAvatar border
TS
chrishana
#298
Chapter 49
“Oh, jadi karena itu kamu gundah. Hahahaha!” Anita tertawa mendengar cerita Rendy.

“Malah diketawain.”

“Iya iya. Kita sarapan dulu aja. Aku gak bisa mikir kalau lapar.” ujar Anita.

“Ya udah. Itu kayaknya di sebelah sana banyak yang jualan.”

Sebuah bintang pusat tata surya berbentuk bulat yang terdiri dari kumpulan plasma panas dengan diameter seratus kali lebih besar dari bumi kini menampakkan diri dari celah-celah gumpalan putih yang berada di atas langit. Perlahan-lahan ia merangkak naik memancarkan sinarnya. Membuat Anita dan Rendy merasakan hangatnya siraman cahaya yang dihasilkan oleh mentari pagi.
“Kamu mau makan apa?” tanya Anita.

“Maunya sih masakan Mama.” jawab Rendy.

“Ya kamu pikir ada Mama kamu di sini?”

“Hehehehe... Ikut Kakak aja deh.”

Mereka berdua lahap menyantap sarapan. Tapi, Rendy seperti tak menikmati sarapannya. Mungkin karena bukan masakan mamanya. Mereka berdua menyantap bubur ayam yang dijual di pinggir taman. Anita hanya tersenyum melihat Rendy makan dengan setengah hati.
“Enak, Ren?” tanya Anita.

“Enak sih, Kak. Tapi, masih enakan masakan Mama.” jawab Rendy.

“Kamu ini. Ya jangan samain sama masakan mama kamu dong.”

“Iya, Kak.”

“Eh, iya. Aku mau tanya sama kamu.” ujar Anita.

“Apa Kak?”

“Gimana perasaan kamu sama Rheva?” tanya Anita.

“Aku bingung jelasinnya, Kak.”

“Hhmm... Ya udah kita balik ke bangku yang tadi aja ya.”

“Iya, Kak.”

Tak lupa Anita membayar sarapan yang disantap berdua dengan Rendy. Setelah itu, keduanya terlihat berjalan bersama menuju bangku taman yang tadi mereka duduki. Beruntungnya, tempat itu belum ditempati oleh orang lain. Suasana taman ini semakin ramai karena memang hari ini adalah hari libur.
“Kamu udah kasih jawaban atas permintaan Rheva kemarin?” tanya Anita.

“Belum, Kak. Aku bingung sama apa yang aku rasain. Aku takut kalau nanti aku pacaran sama Rheva, justru malah nyakitin dia.” jawab Rendy.

“Ya udah, sekarang apa alasan kamu menganggap dia jadi obat penawar hati kamu?” tanya Anita.

“Senyumnya. Aku senang lihat senyumnya, Kak. Dia cantik kalau senyum.” jawab Rendy.

“Berarti kamu cuma sebatas suka aja sama dia.” ujar Anita.

“Kenapa kakak beranggapan seperti itu?”

Anita menggenggam tangan Rendy, “Suka itu ketika kamu berkata bahwa dia cantik. Sayang itu ketika kamu ingin terus bersamanya. Cinta itu ketika kamu berkata bahwa dia adalah anugerah terindah dari Tuhan untukmu.”

“...”

“Jadi, apa yang kamu rasakan pada Anna?” tanya Anita.

“Dia adalah anugerah terindah dari Tuhan untukku.” jawab Rendy dengan lantang.

Anita mengacak-acak rambut Rendy. “Masih kecil udah cinta-cintaan.”

“Biarin aja sih, Kak.”

“Ya udah, yuk pulang!” ajak Anita.

Anita dan Rendy berjalan menuju tempat khusus untuk memarkirkan motor milik Rendy. Pada masa itu, matahari sedang ganas-ganasnya mengeluarkan energi panas sehingga membuat Anita merasa gerah dan berkeringat. Suara mesin dari sepeda motor besutan negeri sakura berlogo sayap putih sudah menyala. Kuda besi dengan mesin isi cylinderseratus lima puluh mengeluarkan suara khas dari racing exhaust yang diaplikasikan pada mesin tersebut.

Setengah jam kemudian, sampailah mereka di rumah. Mereka berjalan dengan terburu-buru menuju kamar. Rendy langsung menyalakan pendingin ruangan karena suasana di dalam kamarnya juga ikut menjadi panas. Anita yang merasa tak nyaman dengan rasa gerahnya langsung menanggalkan seluruh pakaiannya dan berganti hanya menggunakan tanktop dan hotpants yang hanya menutupi hingga pangkal pahanya.
“Aduh, gerahnya.” Anita mengeluh seraya merebahkan tubuhnya di atas ranjang.

Rendy menghela napas panjang. “Mataharinya lagi galak, Kak.”

“Iya nih. Jadi pengen telanjang rasanya.” ujar Anita.

“Kamu gak risih, Kak?” tanya Rendy.

“Risin kenapa?”

“Setiap hari pakai pakaian kayak gitu di depan aku.” ujar Rendy.

“Gak sama sekali. Emang kamu nafsu lihatnya?” tanya Anita.

“Awalnya iya, tapi sekarang udah biasa aja gara-gara Kakak hobi banget mancing-mancing aku tiap hari.” ujar Rendy.

“Hahahahaha! Mmmuaahh...” Anita memeluk dan mencium pipi Rendy secara tiba-tiba.

“Dih! Apaan sih, Kak!” Rendy mendorong Anita menjauh.

“Iseng aja, Ren. Eh iya, kamu mau dengerin saran aku gak untuk masalah kamu yang tadi.”

“Jadi gimana, Kak? Aku bingung banget. Baru kali ini aku bingung masalah percintaan.” ujar Rendy.

“Kalau menurutku, mendingan kamu sahabatan aja deh sama Rheva. Soalnya, kamu cuma sebatas suka aja sama dia. Kalau jadian, kasihan dia nanti gak dapat cinta yang tulus dari hati kamu.”

“Iya, bener juga sih, Kak.” Rendy merubah posisi tidurnya menghadap langit-langit. “Terus aku harus jadian sama siapa?” tanya Rendy.

“Kalau dilihat dari cara pandang dan jawabanmu, Anna yang pantas.” jawab Anita.

“Anna udah punya pacar, Kak.”

“Memang kamu tau apa yang Anna rasain ke pacarnya?”

“...” Rendy hanya menggelengkan kepalanya.

“Itu PR buat kamu, besok kamu tanya langsung ke Anna.”

“Iya, Kak.”

“Ingat, Ren. Jangan pernah kamu menyatukan urusan hati dan logika. Mereka berdua bagaikan sebuah kutub yang sama. Gak akan bisa bersatu.” Anita menggenggam tangan Rendy. “Walau keadaannya dia sudah bersama orang lain, tapi jika hatinya tetap bersamamu, tetaplah kamu yang jadi juaranya.”

JabLai cOY
itkgid
jenggalasunyi
jenggalasunyi dan 11 lainnya memberi reputasi
12
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.