- Beranda
- Stories from the Heart
Become True (Kakak)
...
TS
riani14
Become True (Kakak)
Quote:
WARNING!!!
DILARANG KERAS!!! MENGCOPY / AKSI PLAGIAT/ SHARE TANPA SEIZIN PENULIS.
JIKA TERJADI, SAYA AKAN MENINDAK TEGAS, TERKAIT DENGAN HAK CIPTA PENULIS.
DILARANG KERAS!!! MENGCOPY / AKSI PLAGIAT/ SHARE TANPA SEIZIN PENULIS.
JIKA TERJADI, SAYA AKAN MENINDAK TEGAS, TERKAIT DENGAN HAK CIPTA PENULIS.
Quote:
Jangan Lupa...tinggalkan jejak berupa KRITIK/ SARAN agan2 dan Sista2.



Dan Jangan Lupa






Dan Jangan Lupa



Quote:
Genre:FIKSI

Quote:

Quote:
INDEX
Part 1
Part 2
Part 3
PART 4
PART 5
PART 6
PART 7
PART 8
PART 9
PART 10
PART 11
PART 12
PART 13
PART 14
PART 15
PART 16
PART 17
PART 18
PART 19
PART 20
PART 21
PART 22
PART 23
PART 24
PART 25
PART 26
PART 27
PART 28
PART 29
PART 30
PART 31
PART 32
PART 33
PART 34
PART 35
PART 36
PART 37
PART 38
PART 39
PART 40 ( revisi )
PART 41
PART 42
PART 43
PART 44
PART 45
PART 46
PART 47
PART 48
PART 49
PART 50
PART 51
PART 52
PART 53
PART 54
PART 55
PART 56
PART 57
PART 58
PART 59
PART 60
PART 61
PART 62
PART 63
PART 64
PART 65
PART 66
PART 67
PART 68
PART 69
PART 70 + extra part
PART 71
PART 72
PART 73
PART 74
PART 75
EPILOG
ADAM MOMENT
Prolog
Barisan antrian mengular mengisi salah satu sisi toko buku besar yang ada di kawasan mall ibu kota. Antrian terjadi bukan tanpa alasan, kehadiran penulis novel bestseller dengan judul fenomenal 'BECOME TRUE' menjadi pemyebabnya.
Penulis berjilbab itu tampak ramah menyapa para pembacanya sambil membubuhkan tanda tangan di novel karyanya yang selalu ludes di buru penggemar. Berbagai komentar manis dan menyenangkan terlontar dari para pembaca setianya yang berasal dari berbagai kalangan dan usia itu.
Ya ampun kak Medina, aslinya cantik banget.
Iya. Ramah banget lagi.
Nggak heran sih dia bisa sesukses sekarang, orangnya baik gitu
Berbagai celotehan itu samar – samar melewati indra pendengarannya, ia tersenyum sekaligus bersyukur atas apa yaang ia raih saat ini.
Tapi...kebahagiaan yang ia dapatkan sekarang terasa kurang lengkap oleh satu hal. Hal paling penting dalam hidupnya, yang pernah ia tinggalkan.Dan saat ia ingin semuanya kembali, ia malah kehilangan segalanya. Ia kehilangan kepercayaan dan senyuman itu. Bahkan ia kehilangan kesempatan untuk sekedar menyampaikan permintaan maaf.
Lamunan tentang masa lalu, tanpa sadar membuatnya menitikkan air mata. Membuat heran para penggemarnya. Sadar jadi pusat perhatian, lekas ia mengusap air mata yang turut jatuh membasahi buku yang seharusnya ia tanda tangani itu.
" Jangan sedih. Dia nggak pernah ninggalin kamu."
Suara berat seseorang yang sudah lama tidak pernah menyapanya, sontak membuat gadis berlesung pipi ini mengangkat wajah. Air mata yang tadi mulai berhenti mengalir kini kembali tumpah kian deras namun di sertai senyum bahagia mendapati siapa yang berdiri di hadapannya kini.
Dia kembali.
Quote:
PART 1
Derap langkah kaki jenjang seorang gadis terlihat lincah menapaki setiap anak tangga yang berjejer rapi. Bulir keringat terlihat kian membasahi dahi mulusnya. Rambut panjang yang di kuncir ekor kuda kini tampak lepek, tak ada indah – indahnya sama sekali. Ingin sekali rasanya dia memaki orang yang memintanya mendatangi rooftop rumah susun berlantai 15 ini.
Bukan masalah berapa lantai yang harus ia tempuh, melainkan tidak ada akses alternatif menuju rooftop selain melewati tangga. Belum lagi ramainya kawasan rumah susun yang membuat langkahnya semakin tak leluasa. Mata hitamnya sesekali melihat kearah arloji yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 16.29, itu artinya satu menit lagi ia akan terlambat dari waktu yang di janjikan.
Gadis berlesung pipi ini kian mempercepat langkahnya, ia tidak boleh terlambat ini kesempatan bagus demi mewujudkan mimpinya selama ini. Mimpi yang selama ini hanya jadi bahan lelucon teman – teman satu kampusnya.
Dengan nafas nyaris terputus akhirnya ia tiba di puncak gedung. Naamun apa yang ia temui ternyata sangat jauh dari ekspektasinya. Tak ada siapa – siapa di sana, hanya ada deretan jemuran yang berbaris dan melambai – lambai di hembus angin pengantar senja. Sepasang matanya terlihat sayu memandangi naskah cerita yang sudah di jilid rapi, yang sejak tadi ada dalam genggaman.
Kemana orang yang meneleponnya tadi? Kemana pimpinan penerbitan yang harus ia temui sore ini? Kemana orang yang bisa memberikannya jalan untuk mewujudkan mimpinya menjadi seorang penulis terkenal? Kemana-.
Lamunan itu pecah saat gelak tawa seseorang membentur gendang telinganya, ia menoleh cepat ke sumber suara dengan tangan terkepal. Ia kenal suara itu, seorang bocah yang senang melihatnya seperti ini. Melihatnya jatuh dan kehilangan semangat untuk mimpi – mimpinya. Bukan bocah dalam arti sesungguhnya, melainkan dalam artian sifat laki – laki itu yang menurutnya sangat kekanak – kanakan. Laki – laki jangkung berkacamata yang kini berdiri tepat dihadapannya ini, selalu jadi tersangka utama untuk setiap moment menyebalkan dalam kehidupannya sejak satu tahun terakhir.
“ Jadi ini kerjaan lo?” hardiknya yang di sambut dengan senyum meledek dari laki – laki itu. Ia semakin kesal, bolehkah ia memaki orang yang akan ia temui sekarang?
“ Lo bisa nggak sih, nggak ngusilin gue sehari aja?” kesalnya dengan tatapan marah.
“ Bisa. Asal lo mau jadi pacar gue?”
Lagi. Kata – kata yang sama yang selalu ia dengar sepanjang tahun ini. Membosankan.
“ Jadi pacar lo? Nggak akan pernah, bahkan dalam mimpi lo sekalipun.”
Hening kemudian menguasai keduanya, tak ada yang membuka suara terkecuali tatapan saling mengintimidasi satu sama lain yang mereka layangkan saat ini. Hingga beberapa saat kemudian suara berat seseorang menghentikan kegiatan keduanya.
“ Pada ngapain?” tanya cowok yang punya sorot mata teduh itu, yang kini berdiri tegak persis di antara keduanya. Tumpukan pakaian kering ada dalam dekapan tubuh tegapnya. Iris mata hitam pekatnya melirik ke kiri dan kekanan, menanti jawaban dari dua orang ini.
“ Kak Adam,” seru keduanya kompak dengan mata membelalak kaget. Entah malu atau kesal karena kehadiran Adam yang tiba – tiba, keduanya saling membuang pandangan ke sembarang arah.
Gadis berlesung pipi itu yang terlihat sangat gusar dengan kehadiran Adam, ia memilih berdiri memunggungi Adam daripada harus bertemu tatap dengannya. Terlalu mengerikan dan membuat lidahnya kelu. Kakaknya itu pasti akan sangat, sangat, sangat marah melihat kelakuannya hari ini. Belum lagi apa yaang ia kenakan saat ini, kaos hitam rangkap kemeja kebesaran, topi baseball buluk dikepala serta celana jeans sobek yang membungkus kaki jenjangnya, membuatnya terlihat seperti preman jalanan ketimbang adik satu – satunya seorang Adam Vegar Raditya, yang terkenal cerdas dan berperangai baik bak malaikat. Apa yang ia kenakan saat ini, sudah cukup menjadi alasan untuk Adam mengomelinya habis – habisan.
“ Medina. Pulang,” Itu bukan ajakan, itu perintah.
Medina reflek memutar badannya,” ta-tapi kak, urusan aku sama dia belum kelar,” sela Medina sambil mengarahkan telunjuk dan tatapan melototnya pada cowok berkacamata yang sejak tadi hanya diam memperhatikan. “ Dia tu...,” Medina menjeda ucapannya, lirikan tajam Adam dan hentakan nafasnya sukses membungkam mulutnya. Jika Adam sudah seperti itu, artinya dia tak ingin di bantah.
“ Iya...iya...aku pulang.”
Dengan kepala tertunduk dan bibir mengerucut, Medina menyusul langkah Adam yang telah berada didepannya. Ia kembali menghentikan langkahnya ketika mendengar cekikikan dari arah belakang. Medina menoleh dan memandangi cowok berkacamata tadi dengan tatapan membunuh, darahnya serasa mendidih, melihat cowok tadi tampak puas menertawainya. Ia kembali ingin mendekat dan memberi pelajaran pada musuh bebuyutannya itu, tapi apa mau di kata, langkahnya tertahan karena Adam telah lebih dulu menarik kerah kemejanya dan menyeretnya persis anak kucing.
“ Ah...kak Adam, aku harus beri dia pelajaran dulu,” rengek Medina.
“ Pelajaran apa? Kamu sendiri masih butuh di ajari.”
“ Kak...,”
“ Diam.”
Medina tahu betul kakaknya itu tidak suka di bantah, tapi entah mengapa ia justru jadi orang yang paling sering membantah perkataan kakaknya. Walau ia bandel dan kakaknya cukup tegas serta over protective terhadap dirinya, ia tetap menyayangi kakak semata wayangnya itu. Bagaimanapun, Adam adalah satu – satunya keluarga yang ia miliki setelah kepergian kedua orang tuanya.
“ Kak, dia itu udah ngebohongin aku, dia harus dapat balasannya.”
“ Salah kamu, kenapa gampang banget di bohongin,” tuding Adam sambil menggedor salah satu pintu rumah yang berada di lantai 10.
“ Bukannya gitu, aku cuma-,” ucapan Medina tertahan saat si empunya rumah keluar dan menerima pakaian kering yang sedari tadi di bawa Adam.
Wanita paruh baya itu juga tampak memberikan beberapa lembar uang lima ribuan pada Adam. Adam menerimanya seraya mengucapkan terima kasih.
“ Kak, Nando itu emang rese’. Aku selalu jadi bahan lelucon dia di kampus. Kakak tahu itu kan? Jadi...apa salahnya aku kasih dia pukulan sedikit biar jera,” Medina kembali buka suara saat ibu berambut sebahu tadi masuk ke rumah dan menutup pintu.
“ Kamu itu cewek. Nggak pantes kayak gitu.”
“ Kakak...cewek itu juga perlu pertahanan diri.”
“ Pertahanan diri buat hal yang penting, bukan buat ngeladenin orang rese’.”
“ Tapi, Kak-,”
“ Kakak nggak pernah ngajarin kamu berkelakuan kayak preman begitu.”
Mereka terus saja berdebat sambil menapaki satu persatu anak tangga menuju ke lantai dasar. Keduanya saling tidak mau mengalah. Keduanya keukeuh mempertahankan argumen masing – masing.
Yang mereka ributkan tentu saja bukan hanya soal kelakuan Medina yang sebelas dua belas sama preman pasar, tapi juga cara berpakaian Medina yang sangat di tentang oleh sang kakak. Adam sudah berulang kali menasehati Medina untuk berpakaian lebih santun dan feminim, tapinpercuma nasehat itu mental duluan sebelum masuk ke telinga adiknya. Medina terlalu keras kepala.
“ Pokoknya mulai besok kakak nggak mau liat kamu berpenampilan kayak gini lagi,” tegas Adam dengan tatapan dingin.
“ Tapi...kak, aku nyaman dengan penampilan aku yang sekarang.”
Adam memijat pelipisnya, ia seperti kehabisan kata – kata untuk menasehati adiknya itu. Terlalu keras di beritahu, Medina akan semakin melawan. Tapi jika bersikap lembut, Medina malah ngelunjak.
Adam menghela nafas kasar, akan lebih baik ia menyudahi perdebatan ini sebelum Medina ngambek dan kabur dari rumah seperti kebiasaannya yang sudah – sudah.
“ Kakak berangkat kerja dulu. Kamu langsung pulang,” titah Adam dan kemudian berlalu pergi meninggalkan pelataran parkir rumah susun serta Medina yang terlihat semringah karena kakaknya tidak lagi berkomentar soal apa yang ia kenakan. Atau...lebih tepatnya belum berkomentar. Entahlah...apapun itu yang penting sekarang Medina tidak harus menuruti kemauan kakaknya untuk mengubah penampilan tomboynya itu.
“ Baru tahu gue, kalau ‘macan kampus’ punya pawang.”
Kalimat bernada meledek itu, menyentil emosi Medina yang kian menggunung. Nando kini berdiri di sisinya dengan melayangkan senyum yang dibuat semanis – manisnya, tapi entah kenapa terlihat begitu menyebalkan bagi Medina.
“ Oh...mulut lo itu kayaknya butuh belaian langsung dari bogem mentah gue ya?” tanya Medina sambil menyingsingkan lengan kemejanya, menantang.
“ Ya elah Na, jangankan bogem mentah. Di cium mesra sama lo aja, gue pasrah,” Nando semakin semringah. Tak gentar menghadapi kemarahan Medina yang sudah sangat sering ia lihat.
Tapi...tingkahnya justru semakin menaikkan kadar kemarahan Medina,” Nando!!”
Medina siap melayangkan tinjunya, Nando reflek menghindar melarikan diri.
Aksi saling kejar – kejaran layaknya Tom and Jerry mengisi pelataran parkir rumah susun yang terlihat sepi. Medina dan Nando sebenarnya telah saling mengenal sejak masih ingusan, tapi karena keusilan Nando, keduanya malah tidak pernah akur.
Walau takdir terus – terusan mempertemukan mereka di tempat yang sama. Sekolah yang sama dari jaman Tk hingga SMA, bahkan kampus yang sama, itu tak membuat keduanya bisa menjalin pertemanan yang baik, apalagi sejak Nando menyatakan cintanya pada Medina satu tahun lalu. Gadis bermata hitam pekat itu seakan kian antipati kepadanya.
Apa sikap antipati itu untuk menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya pada Nando? Atau memang ia ingin membuat Nando menjauh? Entahlah, apapun itu toh usahanya untuk membuat Nando menjauh tak pernah berhasil. Cowok manis berkacamata itu justru kian sering muncul mengisi kehidupannya.
Terkadang, cinta itu keras kepala.
●●●
Diubah oleh riani14 07-10-2023 17:38
efti108 dan tien212700 memberi reputasi
5
76.6K
Kutip
1K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
riani14
#134
Quote:
PART 23
Kaki jenjang itu terayun – ayun bebas menantang angin. Celana kulot panjang berwarna hitam yang membungkus kakinya tampak serasi dengan kemeja biru muda motif bunga – bunga yang membalut tubuh rampingnya.
Hampir satu jam waktu yang gadis ini habiskan hanya untuk menunggu seseorang yang hingga kini belum terlihat batang hidungnya. Kesalnya lagi, ia di minta menunggu di halte yang terletak di tengah keramaian kota. Tempat dimana pasokan polusi dari asap kendaraan bertebaran di setiap incinya.
Di halte hanya ada dirinya dan...bayangannya tentu saja. Tak ada siapapun di sini yang bisa ia ajak ngobrol hanya untuk sekedar membunuh kejenuhan yang menggelayuti sejak tadi.
“ NINA!!” seruan seseorang dari seberang jalan membuatnya dengan cepat menoleh. Itu adalah orang yang ia tunggu sejak tadi. Cowok manis berkacamata, yang belakangan ini tanpa di sadari selalu memenuhi isi kepalanya dengan senyum manis yang ia punya.
“ Nandoooo..., lo darimana aja sih?” tanya Nina dengan wajah galak saat Nando telah berada di hadapannya. Ia tak peduli jika sekarang Nando tampak sangat kelelahan dan nyaris kehabisan nafas. “ Lo ke sini naik apa’an?”
“ Angkot. Udah gitu angkotmya mogok lagi di ujung jalan sono. Mau nggak mau gue lari ke sini. Daripada di semprot sama mak lampir," terang Nando dengan nafas yang mulai teratur. Ia langsung mendaratkan bokongnya di dudukan halte persis di samping Nina.
“ Apa lo bilang?” tanya Nina dengan mata melotot.
“ Nggak. Bukan apa – apa," kilah Nando berusaha menyelamatkan diri dari amukan Nina. Asal tahu saja amukan Nina bahkan lebih menyeramkan dari Medina.
“ Lo naik angkot. Mobil lo mana?”
“ Di sita sama bokap gue.” Jawab Nando dengan wajah memelas.
“ Kok bisa?”
“ Soalnya gue keluyuran sampe jam dua pagi.”
“ Dua pagi? Ngapain aja lo?” tanya Nina agak kaget. Yang ia tahu, Nando bukanlah tipe cowok yang suka keluyuran hingga selarut itu.
“ Nyari jodoh gue. Seneng banget kayaknya dia bikin gue repot dan khawatir.”
Nina terdiam, ia paham betul maksud dari semua kata – kata Nando. Ia tahu persis siapa yang Nando sebut sebagai jodohnya, itu ‘ Medina’.
Ya...sahabatnya sendiri.
Biasanya Nina selalu khawatir atas apapun yang menimpa sahabatnya. Harusnya ia berpikir kenapa Medina kabur lagi? Tapi kini yang terjadi malah sesuatu yang lain. Ia mendadak tidak suka Medina selalu merepotkan Nando. Ia tak suka Nando terlalu mengkhawatirkan Medina.
“ Yuk...berangkat!!” ajak Nando sambil beranjak dari posisinya.
“ Sebenarnya kita itu mau kemana sih?” tanya Nina dengan wajah bingung. Karena di telepon tadi, Nando juga tidak memberitahu mereka akan kemana hari ini.
“ Ada deh. Pokoknya tugas lo hanya menjadi penasehat terpercaya gue hari ini.” Ungkap Nando semringah dan kemudian bergegas meninggalkan halte.
Nina yang masih tak mengerti, hanya diam mengikuti dari belakang.
Semoga saja Nando tidak bertingkah gila lagi.
***
Lembutnya es krim vanilla dengan corn berbentuk kerucut mengisi genggaman Medina saat ini. Senyum lebar tercetak jelas di bibirnya saat mata teduhnya memandangi es krim yang terlihat lembut dan seakan memanggil untuk di santap.
“ Kenapa cuma di plototin? Dimakan, Na.”
Suara Tirta membuat Medina malu sendiri. Hanya karena satu buah scoop es krim, ia bisa luar biasa bahagianya. Bukan karena ini pertama kalinya ia makan es krim. Bukan pula karena es krim itu ia beli dari salah satu gerai es krim yang ada di mall, yang sekarang ia datangi.
Tapi itu karena, ini kali pertamanya ia menikmato es krim saat ia benar – bemar menginginkannya. Perempuan yang satu ini punya kebiasaan selalu memakan banyak es krim di saat ia sedang kesal. Tapi hal itu selalu gagal ia lakukan, lantaran penghasilan kakaknya bukan untuk ia hambur – hamburkan hanya untuk memenuhi kebiasaannya.
“ Cari kursi dulu yuk,” ajak Medina samil memindai keadaan sekitar.“ Di sana Tir,” Medina berjalan lebih dulu saat berhasil menemukan kursi kosong yang terletak di salah satu sudut mall.
Tirta yang mengekori hanya tersenyum melihat kebahagiaan sahabatnya.
“ Kenapa makan es krimnya nggak sambil jalan keliling mall aja?” tanya Tirta ingin tahu saat keduanya berhasil duduk di kursi kayu berwarna hitam itu.
“ Sunnah Rasulullah, kalau mau makan atau minum apapun kita harus dalam posisi duduk. Ilmu kedokteran juga sudah membuktikan kalau makan dan minum sambil duduk itu lebih sehat," jawab Medina sambil menikmati es krimnya dengan sangat antusias.
“ Lo tahu banyak juga ya?” salut Tirta dengan tersenyum.
Medina tersenyum ,” Kak Adam yang bilang.”
“ Lo sayang banget ya sama kak Adam?” tanya Tirta dengan nada serius dan sukses menghentikan pergerakan Medina.
“ Sangat,” Medina tersenyum penuh makna.
“ Walaupun dia over protective sama lo?”
Medina mengangguk,” Walau kadang nyebelin, tapi gue tahu dia kayak gitu karena dia sayang sama gue. Tapi...ada satu hal yang kadang buat gue berpikir untuk pergi dari dia.”
“ Apa?”
“ Dia terlalu mikirin kebahagiaan gue, sampe mengabaikan kebahagiaannya sendiri. Itu nyebelin banget buat gue.”
“ Bukannya itu justru bagus.”
Tirta kian tertarik ingin mengetahui lebih dalam tentang Adam. Ia tidak tahu kenapa? Tapi seakan ada satu hal yang memang belum ia tahu tentang seberapa erat hubungan kakak adik ini.
“ Iya. Bagus. Tapi...itu justru buat gue nggak punya kesempatan buat bikin dia bahagia.”
Tirta mengangguk mengerti,” Lo pernah mikir nggak, kalau sebenarnya kebahagiaan lo yang justru jadi sumber kebahagiaan kakak lo?”
Medina tersenyum dan mengangguk kecil,” Pernah. Tapi gue nggak percaya.,”- Medina menghela nafas sejenak,” Gue berkeyakinan setiap orang punya keinginan untuk membuat dirinya sendiri bahagia. Termasuk kakak gue.”
“ Na...kadang ada beberapa orang di dunia ini, yang justru bahagia dengan hal sederhana. Salah satunya bahagia melihat orang yang di sayanginya bahagia.”
Kata – kata bijak yang baru saja di lontarkan Tirta, seakan sebuah lelucon bagi Medina. Gelak tawanya langsung memancing orang – orang yang melintas di sekitar tempat mereka duduk.
“ Hahah...lo percaya ada hal yang seperti itu? Itu omong kosong , Tir. Kalimat itu cuma buat orang – orang pengecut yang nggak berani mengaku kalau sebenarnya dia sakit hati,” ucap Medina masih di selingi gelak tawa.
“ Itu bukan omong kosong , Na," protes Tirta dengan wajah sebal.
“ Gue bisa kasih buktinya sama lo,” Tirta memasang tampang meyakinkan.
“ Bukti apa? Bukti kalau lo bahagia asalkan Nina bahagia?”
“ Lha kenapa jadi bawa – bawa Nina sih?”
Medina tak menjawab, ia hanya tersenyum sambil mengarahkan dagunya ke satu arah. Dan sesekali melirik Tirta, berusaha menangkap ekspresi seperti apa yang akan Tirta tunjukkan saat melihat di salah satu eskalator tampak Nina dan Nando sedang jalan berdua dengan wajah bahagia.
“ Lo nggak cemburu?” tanya Medina bernada meledek.
Tirta mengernyit heran, bagaimana bisa Medina berpikiran hingga ke sana? Antara Tirta dan Nina jelas tidak terikat hubungan apapun,” Buat apa gue cemburu? Gue nggak punya perasaan apa – apa lagi sama dia.”
“ Yakin?”
“ Iyalah. Gue ini udah lama move on dari dia. Dianya aja tu kalik yang masih cinta sama gue.”
“ Tirta please deh ya, kalau mau sombong itu sewajarnya aja,” tanggap Medina kian tersenyum lebar.
Tirta tak lagi berkomentar, tawa bahagia Medina ibarat megnet yang turut menciptakan senyum menawan di wajah tegasnya.
Salah satu bukti bahwa kebahagiaan bisa tercipta hanya lewat hal – hal sederhana.
Bahwa kebahagiaan bisa kita rasakan saat orang yang kita sayangi bahagia.
***
Kebahagiaan Nina sepanjang perjalanan tadi seketika terenggut, saat mengetahui bahwa Nando sengaja membawanya ke mall hingga tiba di salah satu toko perhiasan hanya untuk membelikan sebuah kalung untuk Medina.
Hello Nando, gue bukan mak comblang lo.
“ Yang ini bagus nggak?” tanya Nando sambil menunjukkan sebuah kalung emas putih berliontin hati pada Nina.
Itu adalah kalung ke sepuluh yang jadi salah satu kandidat yang akan Nando berikan pada Medina.
“ Hmm.”
“ Kalau yang ini?” Nando memperlihatkan kalung yang lainnya.
“ Hmm.”
Nando menghela nafas berat, dan kemudian melempar tatapan kesal pada Nina. Nina memilih cuek bebek. Karena ia memang sudah sangat kesal dengan tingkah Nando yang terkesan memanfaatkannya hanya untuk mendapatkan hati Medina.
Dulu, Nina memang merasa tak terganggu dengan itu. Tapi...sekarang? Beda cerita. Entah kenapa ia selalu kesal pada semua perhatian yang Nando berikan pada sahabatnya. Nina merasa cemburu.
“ Lo kenapa sih? Daritadi jawabannya ‘ha hmm ha hmm’ doank? Sariawan lo?” protes Nando dengan wajah kesal.
“ Ya habis lo-nya juga sih yang aneh. Yang ulang tahun itu Kak Adam. Kenapa lo malah beli’in kado buat Medina?” protes Nina tak kalah kesalnya. Mbak – mbak SPG yang menjaga toko itu, hanya tersenyum kecil melihat perdebatan un-faedah keduanya.
“ Yeh...emang kenapa? Nggak masalah kalik. Lagian ulang tahun Medina itu masih jauh, gue takut nggak punya waktu lagi buat ngasih kado sama dia.”
Nggak punya waktu? Apa maksudnya? Nando mau pergi jauh gitu? Tapi...kemana? Apa jangan – jangan...
“ Nyebelin lo!” dengus Nando sambil berlalu pergi meninggalkan Nina.
Nina bisa melihat Nando memasukkan sebuah kotak kecil berbentuk persegi di dalam saku jaket yang ia kenakan. Itu artinya Nando sudah mendapatkan kalung yang ia inginkan.
Tapi...itu tidak penting bagi Nina. Yang terpenting sekarang, dan benar – benar harus Nina cari tahu adalah...apa maksud ucapan Nando tadi? Nando mau pergi jauh? Atau Nando mau mati? Ah...Nggak mungkin.
Nina bergegas menyusul Nando tapi langkahnya lagi – lagi terhenti saat ia tak sengaja melihat Adam sedang berada di salah satu cafe dan sedang berbicara serius dengan wanita paruh baya yang terlihat masih sangat cantik dan anggun.
“ Itu beneran kak Adam?” Nina menyipitkan matanya, berharap hal itu bisa mempertajam penglihatannya. “ Tapi...sama siapa?”
Rasa penasaran Nina dengan sangat terpaksa tidak terjawab sama sekali lantaran Nando datang dan langsung menarik ransel yang Nina kenakan, “ Lo ngapain sih disini? Ayo pulang.”
Nina berusaha memberontak dan ingin memberitahu apa yang sedang ia lihat tadi, tapi Nando tak peduli sama sekali bahkan seakan menulikan telinganya.
Sifat menyebalkan bocah itu mulai menampakkan wujudnya. Sungguh...sangat menguji kesabaran.
Nggak apa – apa Nina sudah kebal dengan tabiat bocah yang satu ini.
●●●
JabLai cOY memberi reputasi
3
Kutip
Balas