- Beranda
- Stories from the Heart
Patahan Salib Bidadari
...
TS
setiawanari
Patahan Salib Bidadari
In the name of Allah, the beneficient, the merciful
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Terimakasih untuk gambar sampulnya awayeye
Terimakasih Kaskus, khususnya untuk sub forum SFTH yang telah menyediakan tempat menampilkan sebuah cerita. Sebuah fasilitas yang akan saya gunakan untuk menulis dimulai dari hari ini hingga di hari-hari selanjutnya.
Terlepas dari nyata atau tidaknya cerita ini, adalah tidak terlalu penting karena sebagian dari kisah nyata dan sebagian dari imaginasi saya. Harapan saya tokoh-tokoh dalam cerita ini dapat menjadi inspirasi untuk para pembaca cerita yang saya tulis ini dapat menjadikan saya untuk terus berkreatifitas.
Mohon maaf jika materi dalam cerita ini nantinya ada kesalahan dan menyinggung pihak-pihak tertentu sekiranya nasihat, kritik dan saran dari agan/sista yang lebih berpengalaman selalu sangat saya harapkan.
Menemani istirahat untuk menghilangkan lelah setelah pulang kerja/sekolah/kuliah, atau saat sedang menunggu sesuatu mari kita baca ceritanya. Ditemani alunan musik dan segelas kopi/cokelat/susu/teh hangat kita kembali ke beberapa tahun yang lalu!!!.
PEMBUKA CERITA
Terpaku di dalam rasa cinta yang tak mungkin pudar, menanti cinta datang membawa arti sampai segenap organ ini berhenti.
Sore itu saat cuaca cerah di lantai 6 gedung akademisi yang melahirkan sarjana ekonomi terbaik aku termenung. Melamunkan manis, asam, asin dan pahitnya segala kehendak Tuhan yang dianugerahkan kepada salah satu ciptaanNya.
Manusia diberikan otak untuk berfikir dan menggunakan logika lalu diberikan hati untuk merasakan. Hati adalah malaikat sedangkan otak kadang menjadi iblis dan sangat sulit untuk mengontrolnya menjadi malaikat. Hati menjerit saat kita berbuat salah sedangkan otak adalah penyebab semua kesalahan yang dilakukan manusia. Malaikat dan iblis adalah gambaran dari manusia, sebagai simbol antara kebaikan dan kejahatan. Kebaikan tidak akan bersanding dengan kejahatan dan sebaliknya.
“Permisi Mas! Bisa pindah duduknya, lantainya mau di bersihkan!” Sapa seorang petugas cleaning service membuyarkan lamunanku.
“Oh, iya mas”. Jawabku sambil berlalu pergi menuju tempat parkir motor tepatnya dihalaman depan kampus.
Karamnya cinta ini
Tenggelamkanku diduka yang terdalam
Hampa hati terasa
Kau tinggalkanku meski ku tak rela
Salahkah diriku hingga saat ini
Kumasih mengharap
Kau tuk kembali………
Sore itu gerimis turun saat aku pulang, tak terasa sampai ditempat kos yang kebetulan hanya berjarak 10 menit dari kampus air hujan membasahi jaket jeans yang ku kenakan. Segera aku mengambil handuk dan membersihkan diri, bersiap untuk mengucapkan syukur kepada Yang Maha Kuasa. Dengan ritual sholat Ashar aku merasakan kedamaian yang tidak ada bandingannya, sebagai bentuk kepatuhan dan rasa syukur atas semua yang diberikan Tuhan baik itu berkah yang membuat hati senang maupun musibah sebagai ujian kepada hambanya agar menjadi sosok yang lebih kuat.
Waktunya istirahat, kurebahkan badan ini di kasur busa sebagai surga dunia yang paling indah, sambil memutar lagu menemaniku melepas lelah. Secangkir kopi hitam telah kusiapkan untuk menghangatkan suasana karena diluar hujan turun semakin deras. Kupandangi sebuah kalung berwarna emas berliontin salib yang bersanding dengan sebuah kalung perak berliontin lafaz Allah, tergantung dibawah poster foto Ibu Sundari Sukotjo tepat di tengah-tengah dinding kamar kosku. Masih menampakkan kilaunya meski kalung-kalung itu sudah hampir 4 tahun lamanya. Aku bangkit dari tempat tidur, meminum sedikit kopi hitam, sambil menarik nafas dalam sedalam yang aku mampu. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu di sore ini, ya aku merasakan suatu kerinduan yang luar biasa dengan pemilik kalung salib yang tergantung dikamarku, seorang yang sangat suka musik klasik, seseorang pecinta sepakbola, seseorang yang suka kopi hitam dan mungkin pernah mencintaiku walaupun tak pernah mengungkapkan sepatah katapun.
“Ya Tuhan hari ini aku kangen banget sama dia, meski tak sebesar kangen ku kepadaMu, tapi sungguh seolah-olah aku merasa sangat lemah dan sangat kehilangan. Hari ini tepat 4 bulan yang lalu dia beranjak pergi dari tempat ini, dia pergi untuk cita-citanya, untuk impiannya dan bodohnya aku belum sempat mengutarakan seluruh perasaanku kepadanya. Perbedaan keyakinanlah yang menghalangi, aku bahkan hanya bisa diam membisu saat ku ingin mengucapkan seluruh rasa cinta ini aku takut rasa cinta kepada makhluk ciptaanMu melebihi rasa cintaku padaMu. Tak kuasa air mata ini menetes, berusaha ku tahan tapi tak sanggup karena mungkin ini air mata rindu yang mencapai puncaknya.
Aku bukan seorang penulis tetapi hari ini tiba-tiba ingin sekali aku ingin sekali memainkan jariku di keyboard yang biasanya hanya kupakai untuk membuat tugas. Aku ingin menulis tentang dirimu tentang cerita kita, walaupun mungkin tidak berujung bahagia tidak apa karena mungkin dengan tulisan ini aku bisa mencurahkan segala isi hati dan kerinduanku kepada mu. Kenangan indah tentang hari-hari yang pernah kulalui dengan seorang bidadari yang telah merubah seluruh hidupku, meski meninggalkan perasaan yang terus menggantung entah sampai kapan. Bidadari yang datang di hidupku, menemaniku sejenak lalu pergi meninggalkan patahan salibnya di hidupku.
Mungkin suatu saat nanti
Kau temukan bahagia meski tak bersamaku
Bila nanti kau tak kembali
Kenanglah aku sepanjang hidupmu
Sekilas Gambar Tentang Aku
Harapan Sesuai dengan Kenyataan
Kerikil Kecil dan Awan yang Jauh
Pertemuan dengan Sahabat
Sepatu Mengawali Sebuah Impian
Dunia Kampus dan Teman Baru
Keluarga Kecil Bernama HALTE
Sesuatu Mengganggu Pesta Akhir Smester
Diantara Rasa Kagum dan Penasaran
Meluapnya Sebuah Emosi
Hubungan yang Semakin Dekat
Kegelisahan Menghadapi Perasaan yang Berbeda
Siang Menjadi Malam dan Sebaliknya
Perjalanan yang Semakin Indah
Momen Menggelikan dan Warna Kehidupan
Dilema Menghadapi Ungkapan Perasaan
Tetangga di Sekitar Kami
Liontin Salib untuk Leher yang Indah
Kepedihan Cerita di Masa Lalu
Senyuman untuk Hati yang Terluka
Sosok yang Menjadi Pertanyaan
Mencoba Menghilangkan Trauma
Pelangi yang Hilang Bersama Turunnya Hujan
Malam Kebahagiaan Bersama Keluarga Kecil
Bidadari Kecil Kini Telah Dewasa
Kebahagiaan Kini Tinggal Prasasti
Semua Terjadi Sangat Cepat
Sebuah Cinta yang Salah
Surga yang Tak Layak untuk Dilihat
Rumput Dingin Di Bawah Bangku Taman
Pahitnya Sebuah Ucapan
Air Mata Menepis Kerasnya Kata-kata
Satu Langkah ke Arah Normal
Bertahan Hanya dalam Waktu Singkat
Semakin Tenggelam dalam Kedekatan
Lilin Kecil di Malam Penuh Kebahagiaan
Selamat Datang Kemarau
Kerinduan yang Teramat Dalam
Hembusan Angin Masa Lalu
Sayap yang Kuat Untuk Bidadari Kecil
Tinta Biru Menorehkan Luka
Berusaha Menyembunyikan Luka
Hilangnya Rasa Segan
Keberhasilan Tanpa Perayaan
Berharap Hanya Andai Saja
Serpihan Kenangan yang Menyiksa
Tempat Baru
Berita Baik Bersama Undangan
Selamat Menempuh Hidup Baru
Kesan yang Baik di Hari Pertama
Insiden Kecil dan Masa yang Telah Terlewati
Menutup Momen 4 Tahun Kebersamaan
Kotak Makan Siang
Keberanian Untuk Memulai
Pahitnya Sambutan Selamat Datang
Seperti Kembali ke Waktu Itu
Teka Teki dari Perhatian Sederhana
Cerita di Ujung Sore
Peneduh Panasnya Amarah
Mengungungkapkan tak Semudah Membayangkan
Titik Terang yang Terasa Gelap
Patahan Salib Bidadari
Terimakasih Untuk Masa yang Terlewati
Apa yang Sebenarnya Terjadi
Kembali Terjatuh
Dunia Ciptakan Keindahan
Dan Kebahagiaan [TAMAT]
Kata Penutup (Q&A)
Diubah oleh setiawanari 10-07-2018 17:35
nona212 dan calebs12 memberi reputasi
3
111.2K
608
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
setiawanari
#541
Terimakasih untuk Masa yang Terlewati
Cerah pagi ini dengan cahaya matahari menerpa menghangatkan dinginnya kota Jogjakarta. Kicauan burung di dalam sangkar menyambut pagi dengan alunan keroncong keluar dari speaker pioner tua berukuran 12 inci. Tanpa terasa sudah dua tahun lamanya aku nikmati suasana seperti ini.
Pria tua berusia 50 tahun lebih sibuk menyiram tanaman di atas pot pot kecil yang berbaris di teras rumah. Sementara istrinya tak kalah sibuk menata makanan di atas meja makan untuk sarapan pagi. Mereka adalah orang tua istriku.
Istriku, Jilbab belum dia kenakan, menunggu rambut mengering sambil memakaikan setelan baju gadis kecil berusia 1tahun 4bulan. Dengan sabar dan terampil tangannya menahan gadis kecil itu yang sesekali berontak saat bedak di oleskan di wajahnya.
" Ayah, udah kamu beresin semuanya barangnya? Di cek lagi jangan sampai ada yang ketinggalan." Kata istriku selesai mendadani gadis kecil dengan pipi seperti kue donat.
" Semuanya sudah beres, tinggal berangkat." Jawabku setelah meletakkan koper terakhir di bagasi mobil.
Saatnya sarapan, kami berkumpul di meja makan dan istriku harus mengalah untuk makan paling terakhir karena harus menyuapi gadis kecilnya.
" Awan, salam ya buat paman sama bibi serta kedua adikmu kami datang nanti pas resepsi saja." Kata Pak Cipto mertuaku.
" Nggih Pak, nanti saya sampaikan salam Bapak untuk mereka."
" Kamu jadinya seminggu nginap disana?" Kata Bu Marti istri Pak Cipto.
" Rencananya seperti itu Bu, tetapi kalau semuanya sudah beres ya mungkin tidak sampai seminggu. Terlebih minggu depan order untuk dekorasi dan catering sudah numpuk jadi harus cepat-cepat di selesaikan." Jawabku
" Oalah kalau itu ma masih bisa bapak sama ibu yang gantiin buat ngurusin. Tidak usah buru-buru disana lagipula jarang-jarang kalian berkunjung kan? Sekalinya berkunjung kalau buru-buru kasihan paman sama bibi disana kangennya belum hilang." Kata Bu Marti.
" Tau nih Mas Awan, kerjaan mulu yang dikejar sesekali liburan agak lamaan kenapa?" Jawab istriku.
" Iya-iya tergantung sikecil betah gak disana." Kataku.
" Yo pasti betah disana, apalagi kalau udah ketemu tantenya udah pasti lengket." Jawab istriku.
Waktu sarapan usai, aku, istri dan anakku bersiap berangkat menuju kota kelahiranku. Menyambut keluarga besar calon suami Indri yang berniat baik untuk melamar adik bungsuku.
" Belok kanan aja Yah." Kata istriku saat kami melewati perempatan jalan.
" Lho bukannya enakan lurus? Kalau belok kanan muternya rada jauh." Jawabku membelokkan stir mengikuti perkataan istri.
" Iya tapi kalau lurus jalannya rusak, mendingan muter agak jauh tapi aspalnya baru."
" Ooooh, iya-iya hmmmmm tapi bukan karena itu kan?"
" Itu apa?"
" Ya itu kalau lurus kan lewatin desa mantan kamu?"
" Iiihhhhhh apaan sih ya nggak lah, itu ma udah masa lalu udah ada yang sekarang dan yang nanti akan lebih indah." Jawab istriku tersenyum kecil.
" Kirain, eh tapi itu kan bagian dari perjalanan hidup kita juga. Biar bagaimanapun tanpa dia kita juga belum tentu bisa seperti ini."
" Yasudahlah gak usah dibahas lagi, aku udah punya kamu punya Ariel itu sudah melebihi apa yang aku harapkan dalam hidupku. Gak usah protes mulu kenapa?"
" Oke, siap Tuan Putri." Jawabku tersenyum puas melihat wajah kesal istriku.
Mobil terus melaju menyusuri jalur selatan pulau jawa lalu akhirnya berbelok ke arah utara menuju kota Solo. Dan roda terhenti di halaman rumah yang akan tetap aku singgahi selama aku masih hidup.
Suasana selalu sama saat aku datang. Sambutan paman dan bibi selalu terasa hangat, pelukan Putri dan Indri menjadi hadiah untukku, untuk istriku saat kami bertemu. Panggilan Mas dari Wahyu masih terasa aneh ditelingaku hingga kini. Lalu sebentar lagi Riski akan menyusul Wahyu memanggilku Mas Awan. Tersenyum kecil saat aku mendengarnya.
Sore menjelang saat 2 jam lagi matahari akan terbenam. Aku, istri dan Ariel anakku berdoa didepan dua gundukan tanah dengan rumput tumbuh di atasnya. Tertulis nama dibatu nisan yang tidak pudar meski lumut telah tumbuh diatas permukaannya.
Kuletakkan sepasang bunga di atas kedua makam itu. Sebagai bukti aku selalu datang mengunjungi raga mereka yang saat ini mungkin sudah menjadi tanah. Lalu perjalanan hidupku terus berlanjut masih banyak yang harus aku lalui sebelum aku menyusul mereka.
Selembar tisu kuberikan untuk istriku yang air matanya menetes, menunduk lesu meninggalkan makam. Menggendong erat gadis kecil kami yang belum mengerti arti berakhirnya kehidupan.
Tiba di dalam mobil aku cium kening kedua gadis tercintaku. Berdoa agar kebaikan dan kebahagiaan Tuhan selalu bersama kami. Masih panjang jalan yang harus kita lewati, dalam hatiku berjanji selalu menjaga mereka, membahagiakan, menemani mereka hingga Tuhan berkata Cukup!!!
Karang Anyar 2017
Pria tua berusia 50 tahun lebih sibuk menyiram tanaman di atas pot pot kecil yang berbaris di teras rumah. Sementara istrinya tak kalah sibuk menata makanan di atas meja makan untuk sarapan pagi. Mereka adalah orang tua istriku.
Istriku, Jilbab belum dia kenakan, menunggu rambut mengering sambil memakaikan setelan baju gadis kecil berusia 1tahun 4bulan. Dengan sabar dan terampil tangannya menahan gadis kecil itu yang sesekali berontak saat bedak di oleskan di wajahnya.
" Ayah, udah kamu beresin semuanya barangnya? Di cek lagi jangan sampai ada yang ketinggalan." Kata istriku selesai mendadani gadis kecil dengan pipi seperti kue donat.
" Semuanya sudah beres, tinggal berangkat." Jawabku setelah meletakkan koper terakhir di bagasi mobil.
Saatnya sarapan, kami berkumpul di meja makan dan istriku harus mengalah untuk makan paling terakhir karena harus menyuapi gadis kecilnya.
" Awan, salam ya buat paman sama bibi serta kedua adikmu kami datang nanti pas resepsi saja." Kata Pak Cipto mertuaku.
" Nggih Pak, nanti saya sampaikan salam Bapak untuk mereka."
" Kamu jadinya seminggu nginap disana?" Kata Bu Marti istri Pak Cipto.
" Rencananya seperti itu Bu, tetapi kalau semuanya sudah beres ya mungkin tidak sampai seminggu. Terlebih minggu depan order untuk dekorasi dan catering sudah numpuk jadi harus cepat-cepat di selesaikan." Jawabku
" Oalah kalau itu ma masih bisa bapak sama ibu yang gantiin buat ngurusin. Tidak usah buru-buru disana lagipula jarang-jarang kalian berkunjung kan? Sekalinya berkunjung kalau buru-buru kasihan paman sama bibi disana kangennya belum hilang." Kata Bu Marti.
" Tau nih Mas Awan, kerjaan mulu yang dikejar sesekali liburan agak lamaan kenapa?" Jawab istriku.
" Iya-iya tergantung sikecil betah gak disana." Kataku.
" Yo pasti betah disana, apalagi kalau udah ketemu tantenya udah pasti lengket." Jawab istriku.
Waktu sarapan usai, aku, istri dan anakku bersiap berangkat menuju kota kelahiranku. Menyambut keluarga besar calon suami Indri yang berniat baik untuk melamar adik bungsuku.
" Belok kanan aja Yah." Kata istriku saat kami melewati perempatan jalan.
" Lho bukannya enakan lurus? Kalau belok kanan muternya rada jauh." Jawabku membelokkan stir mengikuti perkataan istri.
" Iya tapi kalau lurus jalannya rusak, mendingan muter agak jauh tapi aspalnya baru."
" Ooooh, iya-iya hmmmmm tapi bukan karena itu kan?"
" Itu apa?"
" Ya itu kalau lurus kan lewatin desa mantan kamu?"
" Iiihhhhhh apaan sih ya nggak lah, itu ma udah masa lalu udah ada yang sekarang dan yang nanti akan lebih indah." Jawab istriku tersenyum kecil.
" Kirain, eh tapi itu kan bagian dari perjalanan hidup kita juga. Biar bagaimanapun tanpa dia kita juga belum tentu bisa seperti ini."
" Yasudahlah gak usah dibahas lagi, aku udah punya kamu punya Ariel itu sudah melebihi apa yang aku harapkan dalam hidupku. Gak usah protes mulu kenapa?"
" Oke, siap Tuan Putri." Jawabku tersenyum puas melihat wajah kesal istriku.
Mobil terus melaju menyusuri jalur selatan pulau jawa lalu akhirnya berbelok ke arah utara menuju kota Solo. Dan roda terhenti di halaman rumah yang akan tetap aku singgahi selama aku masih hidup.
Suasana selalu sama saat aku datang. Sambutan paman dan bibi selalu terasa hangat, pelukan Putri dan Indri menjadi hadiah untukku, untuk istriku saat kami bertemu. Panggilan Mas dari Wahyu masih terasa aneh ditelingaku hingga kini. Lalu sebentar lagi Riski akan menyusul Wahyu memanggilku Mas Awan. Tersenyum kecil saat aku mendengarnya.
Sore menjelang saat 2 jam lagi matahari akan terbenam. Aku, istri dan Ariel anakku berdoa didepan dua gundukan tanah dengan rumput tumbuh di atasnya. Tertulis nama dibatu nisan yang tidak pudar meski lumut telah tumbuh diatas permukaannya.
Kuletakkan sepasang bunga di atas kedua makam itu. Sebagai bukti aku selalu datang mengunjungi raga mereka yang saat ini mungkin sudah menjadi tanah. Lalu perjalanan hidupku terus berlanjut masih banyak yang harus aku lalui sebelum aku menyusul mereka.
Selembar tisu kuberikan untuk istriku yang air matanya menetes, menunduk lesu meninggalkan makam. Menggendong erat gadis kecil kami yang belum mengerti arti berakhirnya kehidupan.
Tiba di dalam mobil aku cium kening kedua gadis tercintaku. Berdoa agar kebaikan dan kebahagiaan Tuhan selalu bersama kami. Masih panjang jalan yang harus kita lewati, dalam hatiku berjanji selalu menjaga mereka, membahagiakan, menemani mereka hingga Tuhan berkata Cukup!!!
Karang Anyar 2017
Diubah oleh setiawanari 13-06-2018 04:22
g.gowang dan dtechboyz memberi reputasi
2