- Beranda
- Stories from the Heart
Patahan Salib Bidadari
...
TS
setiawanari
Patahan Salib Bidadari
In the name of Allah, the beneficient, the merciful
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Terimakasih untuk gambar sampulnya awayeye
Terimakasih Kaskus, khususnya untuk sub forum SFTH yang telah menyediakan tempat menampilkan sebuah cerita. Sebuah fasilitas yang akan saya gunakan untuk menulis dimulai dari hari ini hingga di hari-hari selanjutnya.
Terlepas dari nyata atau tidaknya cerita ini, adalah tidak terlalu penting karena sebagian dari kisah nyata dan sebagian dari imaginasi saya. Harapan saya tokoh-tokoh dalam cerita ini dapat menjadi inspirasi untuk para pembaca cerita yang saya tulis ini dapat menjadikan saya untuk terus berkreatifitas.
Mohon maaf jika materi dalam cerita ini nantinya ada kesalahan dan menyinggung pihak-pihak tertentu sekiranya nasihat, kritik dan saran dari agan/sista yang lebih berpengalaman selalu sangat saya harapkan.
Menemani istirahat untuk menghilangkan lelah setelah pulang kerja/sekolah/kuliah, atau saat sedang menunggu sesuatu mari kita baca ceritanya. Ditemani alunan musik dan segelas kopi/cokelat/susu/teh hangat kita kembali ke beberapa tahun yang lalu!!!.
PEMBUKA CERITA
Terpaku di dalam rasa cinta yang tak mungkin pudar, menanti cinta datang membawa arti sampai segenap organ ini berhenti.
Sore itu saat cuaca cerah di lantai 6 gedung akademisi yang melahirkan sarjana ekonomi terbaik aku termenung. Melamunkan manis, asam, asin dan pahitnya segala kehendak Tuhan yang dianugerahkan kepada salah satu ciptaanNya.
Manusia diberikan otak untuk berfikir dan menggunakan logika lalu diberikan hati untuk merasakan. Hati adalah malaikat sedangkan otak kadang menjadi iblis dan sangat sulit untuk mengontrolnya menjadi malaikat. Hati menjerit saat kita berbuat salah sedangkan otak adalah penyebab semua kesalahan yang dilakukan manusia. Malaikat dan iblis adalah gambaran dari manusia, sebagai simbol antara kebaikan dan kejahatan. Kebaikan tidak akan bersanding dengan kejahatan dan sebaliknya.
“Permisi Mas! Bisa pindah duduknya, lantainya mau di bersihkan!” Sapa seorang petugas cleaning service membuyarkan lamunanku.
“Oh, iya mas”. Jawabku sambil berlalu pergi menuju tempat parkir motor tepatnya dihalaman depan kampus.
Karamnya cinta ini
Tenggelamkanku diduka yang terdalam
Hampa hati terasa
Kau tinggalkanku meski ku tak rela
Salahkah diriku hingga saat ini
Kumasih mengharap
Kau tuk kembali………
Sore itu gerimis turun saat aku pulang, tak terasa sampai ditempat kos yang kebetulan hanya berjarak 10 menit dari kampus air hujan membasahi jaket jeans yang ku kenakan. Segera aku mengambil handuk dan membersihkan diri, bersiap untuk mengucapkan syukur kepada Yang Maha Kuasa. Dengan ritual sholat Ashar aku merasakan kedamaian yang tidak ada bandingannya, sebagai bentuk kepatuhan dan rasa syukur atas semua yang diberikan Tuhan baik itu berkah yang membuat hati senang maupun musibah sebagai ujian kepada hambanya agar menjadi sosok yang lebih kuat.
Waktunya istirahat, kurebahkan badan ini di kasur busa sebagai surga dunia yang paling indah, sambil memutar lagu menemaniku melepas lelah. Secangkir kopi hitam telah kusiapkan untuk menghangatkan suasana karena diluar hujan turun semakin deras. Kupandangi sebuah kalung berwarna emas berliontin salib yang bersanding dengan sebuah kalung perak berliontin lafaz Allah, tergantung dibawah poster foto Ibu Sundari Sukotjo tepat di tengah-tengah dinding kamar kosku. Masih menampakkan kilaunya meski kalung-kalung itu sudah hampir 4 tahun lamanya. Aku bangkit dari tempat tidur, meminum sedikit kopi hitam, sambil menarik nafas dalam sedalam yang aku mampu. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu di sore ini, ya aku merasakan suatu kerinduan yang luar biasa dengan pemilik kalung salib yang tergantung dikamarku, seorang yang sangat suka musik klasik, seseorang pecinta sepakbola, seseorang yang suka kopi hitam dan mungkin pernah mencintaiku walaupun tak pernah mengungkapkan sepatah katapun.
“Ya Tuhan hari ini aku kangen banget sama dia, meski tak sebesar kangen ku kepadaMu, tapi sungguh seolah-olah aku merasa sangat lemah dan sangat kehilangan. Hari ini tepat 4 bulan yang lalu dia beranjak pergi dari tempat ini, dia pergi untuk cita-citanya, untuk impiannya dan bodohnya aku belum sempat mengutarakan seluruh perasaanku kepadanya. Perbedaan keyakinanlah yang menghalangi, aku bahkan hanya bisa diam membisu saat ku ingin mengucapkan seluruh rasa cinta ini aku takut rasa cinta kepada makhluk ciptaanMu melebihi rasa cintaku padaMu. Tak kuasa air mata ini menetes, berusaha ku tahan tapi tak sanggup karena mungkin ini air mata rindu yang mencapai puncaknya.
Aku bukan seorang penulis tetapi hari ini tiba-tiba ingin sekali aku ingin sekali memainkan jariku di keyboard yang biasanya hanya kupakai untuk membuat tugas. Aku ingin menulis tentang dirimu tentang cerita kita, walaupun mungkin tidak berujung bahagia tidak apa karena mungkin dengan tulisan ini aku bisa mencurahkan segala isi hati dan kerinduanku kepada mu. Kenangan indah tentang hari-hari yang pernah kulalui dengan seorang bidadari yang telah merubah seluruh hidupku, meski meninggalkan perasaan yang terus menggantung entah sampai kapan. Bidadari yang datang di hidupku, menemaniku sejenak lalu pergi meninggalkan patahan salibnya di hidupku.
Mungkin suatu saat nanti
Kau temukan bahagia meski tak bersamaku
Bila nanti kau tak kembali
Kenanglah aku sepanjang hidupmu
Sekilas Gambar Tentang Aku
Harapan Sesuai dengan Kenyataan
Kerikil Kecil dan Awan yang Jauh
Pertemuan dengan Sahabat
Sepatu Mengawali Sebuah Impian
Dunia Kampus dan Teman Baru
Keluarga Kecil Bernama HALTE
Sesuatu Mengganggu Pesta Akhir Smester
Diantara Rasa Kagum dan Penasaran
Meluapnya Sebuah Emosi
Hubungan yang Semakin Dekat
Kegelisahan Menghadapi Perasaan yang Berbeda
Siang Menjadi Malam dan Sebaliknya
Perjalanan yang Semakin Indah
Momen Menggelikan dan Warna Kehidupan
Dilema Menghadapi Ungkapan Perasaan
Tetangga di Sekitar Kami
Liontin Salib untuk Leher yang Indah
Kepedihan Cerita di Masa Lalu
Senyuman untuk Hati yang Terluka
Sosok yang Menjadi Pertanyaan
Mencoba Menghilangkan Trauma
Pelangi yang Hilang Bersama Turunnya Hujan
Malam Kebahagiaan Bersama Keluarga Kecil
Bidadari Kecil Kini Telah Dewasa
Kebahagiaan Kini Tinggal Prasasti
Semua Terjadi Sangat Cepat
Sebuah Cinta yang Salah
Surga yang Tak Layak untuk Dilihat
Rumput Dingin Di Bawah Bangku Taman
Pahitnya Sebuah Ucapan
Air Mata Menepis Kerasnya Kata-kata
Satu Langkah ke Arah Normal
Bertahan Hanya dalam Waktu Singkat
Semakin Tenggelam dalam Kedekatan
Lilin Kecil di Malam Penuh Kebahagiaan
Selamat Datang Kemarau
Kerinduan yang Teramat Dalam
Hembusan Angin Masa Lalu
Sayap yang Kuat Untuk Bidadari Kecil
Tinta Biru Menorehkan Luka
Berusaha Menyembunyikan Luka
Hilangnya Rasa Segan
Keberhasilan Tanpa Perayaan
Berharap Hanya Andai Saja
Serpihan Kenangan yang Menyiksa
Tempat Baru
Berita Baik Bersama Undangan
Selamat Menempuh Hidup Baru
Kesan yang Baik di Hari Pertama
Insiden Kecil dan Masa yang Telah Terlewati
Menutup Momen 4 Tahun Kebersamaan
Kotak Makan Siang
Keberanian Untuk Memulai
Pahitnya Sambutan Selamat Datang
Seperti Kembali ke Waktu Itu
Teka Teki dari Perhatian Sederhana
Cerita di Ujung Sore
Peneduh Panasnya Amarah
Mengungungkapkan tak Semudah Membayangkan
Titik Terang yang Terasa Gelap
Patahan Salib Bidadari
Terimakasih Untuk Masa yang Terlewati
Apa yang Sebenarnya Terjadi
Kembali Terjatuh
Dunia Ciptakan Keindahan
Dan Kebahagiaan [TAMAT]
Kata Penutup (Q&A)
Diubah oleh setiawanari 10-07-2018 17:35
nona212 dan calebs12 memberi reputasi
3
111.2K
608
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
setiawanari
#537
Patahan Salib Bidadari
Enam hari berlalu, setelah kudengar kabar Ninda kembali berada tidak jauh dari tempatku. Hari-hari yang terasa berat untuk kujalani. Seolah waktu dan pikiranku tersita dengan kenyataan ini.
" Wan seminggu ini kamu udah terlambat dua kali padahal sebelumnya gak sekalipun kamu datang terlambat. Pekerjaanmu juga menurun, seminggu ini kamu cuma ngerjain separuh dari minggu lalu. Ada masalah kamu?" Tanya Mbak Widia Jumat sore setelah jam kantor berakhir.
" Oooh gak ada Mbak, cuma minggu ini aku lagi gak fit aja." Jawabku.
" Yaudah kamu konsultasi lah ke dokter atau minum vitamin. Itu bawah mata kamu sampai hitam gitu kaya kurang tidur. Mbak berharap kamu menjaga kepercayaan yang diberikan perusahaan mengangkat kamu menjadi karyawan tetap lebih cepat dari waktu yang di tentukan."
" Siap Mbak Wid, akan saya perbaiki apa yang terjadi selama seminggu ini."
" Yaudah ayo pulang, langsung pulang kan kamu?"
" Hmmmm iya lah Mbak, emang mau kemana lagi? Atau Mbak Wid mau ngajak kemana gitu? Mumpung weekend." Tawaranku ke Mbak Widia karena aku tahu calon suaminya kembali berada di luar kota.
" Alaaah maunya kamu itu ma, aku langsung pulang Marsha juga lagi flu. Yaudah pulang yuk."
" Iya Mbak." Jawabku beranjak mengikuti atasanku berjalan menuju tempat parkir.
Sudah menjadi rintangan yang harus dihadapi setiap hari, melewati kemacetan jalanan ibukota saat jam pulang kantor. Minggu yang melelehkan karena harus menempuh perjalanan dari Jakarta, Bekasi lalu kembali ke Jakarta. Jawaban dari Bu Parsi tak juga melegakanku, setiap kesana ucapannya selalu sama "Ninda belum pulang juga Nak."
Pesan tak kunjung di balas, telepon tak pernah aktif sungguh suatu kehadiran yang justru membuatku semakin tersiksa.
" Pulangnya malem terus Mas? Lagi banyak kerjaan?" Sambut Indri membuka pintu saat aku tiba di tempat kos.
" Iya Ndri, kerjaan kantor lagi banyak. Kamu udah makan?" Kataku melepas sepatu.
" Udah Mas, tadinya mau nunggu kamu tapi udah laper banget. Yaudah sana mandi Mas, udah ku buatin teh hangat sama aku beliin makan tadi."
" Anak pinteeer, tumben nih pasti ada maunya." Kataku mengusap rambut Indri.
" Iiiihhhhh, kan udah sering kali Mas, bukannya tumben."
" Ooh iya ya! Hehehehe yaudah aku mandi dulu." Kataku menyambar handuk menuju kamar mandi.
Malam, tepat pukul 11 malam disaat mata seharusnya menginginkan untuk terpejam. Namun retina tampak bening dan kelopaknya hanya sesekali berkedip untuk membasahi pupil. Rasa lelah setelah aktivitas seharian tak juga membuatku ingin segera merebahkan raga. Tertegun di teras tempat kos, memandang keramaian yang semakin lama semakin sepi. Melamun, merenung, menahan rasa yang membuatku terus merasakan sesak. Tubuh sehat, logikaku masih berjalan, namun rasa sesak ini tak kunjung hilang.
Tit.tit.....tit.tit
Bunyi nada pemberitahuan sms masuk membuyarkan lamunanku. Malas rasanya membuka sms karena pasti dari operator atau info promosi dari suatu produk. Dengan tangan terasa berat aku membukanya.
" Hai... Temui aku di room 08, tempat yang sama disaat kamu melihatku seperti bayi, jam 12.00. Ninda"
Rasanya hanya butuh waktu beberapa detik aku mengganti baju kini sudah berada di dalam mobil.
" Jangan lupa pintunya di kunci Ndri." Kataku sebelum berangkat.
" Iya Mas, hati-hati di jalan." Jawab Indri yang kali ini tidak menunjukkan kebawelannya.
Dalam perjalanan, aku mengharapkan hujan turun karena gerakan wiper mengusap kaca mobil akan mengurangi kecepatanku. Semakin lambat waktuku tiba menemuinya, semakin siap kata-kata yang akan keluar dari mulut ini menyambung kalimat "gimana kabarnya". Namun langit tampak cerah, jangankan hujan mendungpun seolah tak nampak satupun menghiasi langit. Malam ini penantianku menanti jawaban akhirnya tiba. Meski tidak ada hujan, tidak ada musik pengiring, karena musik player di mobilku belum terpasang tetapi malam ini aku seperti sedang berenang di permukaan danau dengan air yang begitu jernih, begitu tenang. Dinginnya tidak dingin, hangatnya tidak hangat, semuanya cukup. Di atasnya penuh dengan gemerlap bintang seolah memberikan selamat untukku.
Tergesa langkahku menuju tempat yang di janjikan Ninda, gemetar seluruh tubuhku. Kakiku mampu berlari hingga 40menit tanpa lelah saat bermain futsal, malam terasa letih saat tiba di depan pintu room 08 yang sedikit terbuka.
Aku mendorong pintu, melangkah masuk lalu berdiri tertegun menatap nanar seorang gadis yang telah menenggelamkanku. Tampak semakin cantik meski hanya bercelana jeans hitam dengan kaos abu-abu pendek. Sungguh gaya berpakaian yang sama seperti dulu saat aku masih sering menatapnya. Namun malam ini ada yang berbeda, sangat berbeda.
" Yaudah aku tunggu dibawah ya." Kata seorang pria yang bersama Ninda pergi meninggalkan ruangan. Melangkah melewatiku memberikan senyuman hangat menyambut kehadiranku.
Aku kembali melangkah mendekati Ninda yang duduk dengan kaki disilangkan.
" Haiiiiii, Awan gimana kabarnya? Ya Tuhan tambah ganteng kamu." Kata Ninda mengulurkan tangannya. Bening matanya menatapku diantara warna warni cahaya lampu.
" Baa..baik Nin Alhamdulillah, sangat baik. Kamu sendiri gimana kabarnya." Jawabku sedikit terbata membalas uluran tangannya. Terasa lembut saat kulit tangan kami saling bersentuhan. Rasanya aku menginginkan lebih dari sebuah jabat tangan, raga ini seolah mengharapkan sebuah pelukan.
" Aku? Hahahaha sama aku juga baik. Kok kamu kaya canggung gitu sih? Kaya baru pertama ketemu aja."
" Yaaah namanya juga udah lama gak ketemu, mungkin masih sedikit kaget, bisa ketemu kamu lagi." Kataku duduk di samping Ninda.
" Kaget? Iiih kaya lihat setan aja kaget."
" Yaaa, mungkin itu."
" Maksudnya?"
" Hmmm gak kok, mungkin sebuah luapan perasaan aja Nin bisa ketemu kamu lagi padahal kamu menghilang gitu aja." Kataku membuat suasana kaku diantara kami.
" Aaah, apaan sih udahlah jangan canggung gitu ah. Oh iya gimana kabar Putri, Indri, Paman sama Bibi?"
" Semuanya dalam keadaan baik Nin, Putri udah jadi ibu, Indri tinggal sama aku, kuliah di sini."
" Waaah, udah punya keponakan dong kamu? Terus kamu sendiri gimana?"
" Ya begitu lah... Gimana apanya?"
" Hmmmmm, belum berencana jadi ayah?"
" Hahahahaha, ya udah pengen sih tapi calon ibunya belum ada. Atau kamu mau jadi calon ibunya?"
" Iiiiiiih apaan sih, kerja dimana kamu Wan?"
" Di Jakarta Nin."
" Iya tau maksudku di kantor atau di PT apa?"
" Abis pertanyaannya juga kurang detail. Aku jadi staff HRD di PT yang gak terlalu besar Nin tapi cukup lah dan yang jelas aku menikmati kerja ditempatku. Kamu sendiri gimana? Kerja atau lanjutin kuliah disana?"
" Hahaha, kuliah? Udah males mikir gw Wan. Kebetulan ada tawaran project pembangunan properti di Singapura jadi aku coba join waktu itu. Eh keterima yaudah sampai sekarang."
" Kamu kurusan, di luar negeri gak ada makanan ya? Atau kamu gak ada uang buat beli makan?"
" Ya Tuhan... Enak aja kalau ngomong. Ini udah ideal kok gak kurus. Aku kan jaga pola makan."
" Oooh kirain gitu gak ada makanan disana, tar aku kirimin Ind*mie dari sini kalau mau."
" Enggak! Udah banyak makanan disana. Waaah baru ketemu sebentar aja udah ngeselin. Kamu tu gak berubah ya..."
" Berubah? Nggak ada yang berubah Nin bahkan sampai saat ini perasaanku juga gak berubah kok masih sama seperti sebelum kamu pergi."
" Perasaan? Perasaan seperti apa?" Kata Ninda membuatku kembali kehabisan kata-kata.
" Hmmmmm, eeeemm bukan apa-apa kok. Udahlah, kok kamu gak kasih tau aku kalau udah pulang?"
" Oooh, maaf aku nggak langsung kasih tau kamu tentang kedatanganku. Soalnya..." Kata Ninda terpotong.
" Iya Nin gak apa-apa, lagipula kamu juga pergi gitu aja, hanya meninggalkan selembar kertas." Jawabku mengambil sekaleng softdrink lalu menyiramkan ke tenggorokan yang mulai mengering.
" Awan.... Maaf untuk semua yang terjadi waktu itu dan sampai saat ini aku kembali bisa berada disini."
" Iya, Nin. Tapi kok bisa ya? Kamu pergi gitu aja?"
" Pergi gitu aja katamu?" Kata Ninda dengan nada sedikit membentak dan menatap tajam ke arahku.
" Ya kenyataannya emang gitu kan?" Jawabku tanpa berani melihat wajahnya.
" Oke, sekarang aku tanya kenapa kamu datang ke kehidupanku, kenapa kamu bisa dekat denganku, kenapa semuanya kamu lakuin buatku? kenapa Wan?"
" Lha itu kan pertanyaan yang udah berulang kali kamu tanyain ke aku dan aku juga udah selalu kasih jawaban"
" Jawaban? Kamu kasih jawaban? Jawaban yang mana? Jawaban yang sama seperti kamu kasih ke wanita-wanita yang pernah dekat sama kamu? Itu yang kamu bilang jawaban. Mungkin mereka bisa terima Wan, tapi aku beda. Aku merasa jawaban yang keluar dari mulut kamu itu beda dengan isi hatimu. Berapa tahun lamanya aku menunggu jawaban jujur dari hatimu Wan? Berapa tahun? Sampai akhirnya aku pergi karena aku salah. Aku berharap kamu akan berkata semua yang kamu lakukan karena kamu cinta sama aku, karena kamu sayang sama aku. Lalu hari ini kamu bilang aku pergi gitu aja? Awan, kamu gak pernah tau bagaimana beban perasaanku beranjak dari tempat dimana kita pertama kali saling bertatap. Kamu gak pernah tau kacaunya batinku saat memutuskan untuk pergi." Kata Ninda dengan air mata mulai menetes namun tanpa isakan.
" Tunggu Nin, aku bisa jelaskan. Sebenernya...."
" Enggak Wan, gak perlu kamu jelasin. Waktu itu aku mutusin pergi, tanpa pamit. Aku gak kuat jika sebelum pergi harus menatap orang yang aku harapkan cintanya ternyata tidak sama seperti harapanku. Tanpa melihatmu saja langkah kakiku terasa berat bahkan saat pesawat hendak terbangpun aku masih mengharapkan keajaiban, kamu tiba-tiba ada di samping tempat dudukku. Hahahaha, aneh memang tapi yasudahlah."
Tlp masuk.
" Iya, sebentar say, ehhhmmmm 15 menit ya..."
...........
" Oke,.... Iya-iya. Bye." Kata Ninda menutup telepon.
Suasana kembali hening, Ninda masih mengetik sesuatu di hpnya.
" Nin..Waan." Kata kami bersamaan.
" Iya..." Jawab kami bersamaan.
" Hmmm yaudah kamu dulu." Kata Ninda.
" Hmmm, Siapa Nin tadi yang bareng kamu?"
" Dia? Hmmmm orang yang aku harapkan sama seperti aku harapkan ke kamu di waktu yang udah terlewati."
" Oooowh, jadi itu?"
" Iya, dia calon suamiku."
" Ya Tuhan, akhirnya inilah jawaban atas penantianku selama ini!"
" Jawaban penantian? Maksud kamu?"
" Segala penyesalan pasti akan terjadi pada akhir sebuah peristiwa Nin. Banyak hal yang aku sesali tapi aku menganggap suatu hal yang biasa. Malam ini berbeda, sungguh penyesalan yang berbeda, aku merasakan sakit. Entahlah sesak rasanya mendengar jawaban yang tidak pernah kuharapkan ingin ku dengar. Waktu itu aku membiarkan semuanya mengalir, aku lewatkan semuanya karena aku yakin semuanya akan berjalan baik-baik saja. Seandainya waktu bisa di putar ingin rasanya kembali ke waktu satu detik sebelum kamu pergi dan aku mengatakan yang sejujurnya tentang perasaanku. Ninda, aku juga mencintaimu Nin, aku menyayangimu, bukan dari malam ini tetapi saat kita masih menikmati panasnya cuaca menjelang hujan dan merasakan dinginnya angin malam di sofa lusuh sudut tempat kos." Kataku semua keluar begitu saja tanpa logika yang mengiringinya.
Ninda hanya menunduk, menatap layar hpnya yang nampak gelap karena berada dalam mode lockscreen.
" Nin, masih ada kesempatankah untukku memulai dari awal?"
" Maaf Wan, aku harus pergi, jadwal pesawatku pukul 05.00." Kata Ninda beranjak dari sofa, sambil mengikat rambut lebatnya.
" Jadi kamu....?"
" Ya, hidup itu pilihan Wan, aku udah memilih dan aku udah memutuskan. Terimakasih ya untuk segalanya, maaf untuk semua yang telah aku lakukan. Aku pergi dulu." Kata Ninda mengulurkan tangannya untukku.
Tanpa bisa berkata-kata aku berdiri meski tiba-tiba kaki terasa berat seperti sedang memikul beban. Aku membalas uluran tangannya tanpa sepatah kata keluar dari mulutku yang seolah terkunci rapat.
" Aku juga mencintaimu, aku menyayangimu tapi kita tau kita tak mungkin bisa bersama. Semoga kelak kau temukan orang yang menemani dibelakangmu saat kamu bersujud. Karena aku juga memilih dia yang menemaniku melantunkan lagu-lagu indah di bawah teduhnya atap rumah bermahkota salib." Bisik Ninda tepat di telingaku sambil menangis sesenggukan. Memelukku sangat erat hingga beberapa detik lamanya. Perlahan dia lepaskan pelukannya, lalu bibirnya dia letakkan perlahan ke arah bibirku yang hanya bisa menikmati semua perlakuannya.
" Aku pergi, sekali lagi terimakasih untuk semuanya." Kata Ninda berjalan meninggalkanku yang masih terdiam seperti patung.
Satu langkah, dua langkah, tiga langkah aku masih terus menatapnya lalu akhirnya dia hilang dari pandanganku saat melewati pintu ruangan 08.
Kembali kujatuhkan badanku di atas sofa yang kali ini tidak terasa empuk. Kupandangi langit-langit dengan sorot lampu warna-warni. Aku berusaha melihat ke atas agar air mataku tidak menetes. Tapi ini terasa berat.
" Hahahaha, kenapa ini? Kenapa aku ingin menangis? Kenapa ini sakit?" Batinku yang pada akhirnya tak kuasa menahan air mata.
Tidak sedang berlari kencang atau bekerja keras namun ragaku sangat lelah. Senyum ku paksakan, mata terus ku kedip-kedipkan agar tidak terasa perih. Aku beranjak pulang, pulang dengan jawaban yang sungguh menyesakkan entah sampai kapan ini akan hilang.
" Yaampun pagi banget pulangnya Mas! Lho kok mata kamu merah, terus agak bengkak? Mas kamu gak minum kan?" Kata Indri membukakan pintu kamar kos.
" Apaan sih enggak lah, kalau minum pasti bau alkohol kali."
" Oooooohhh, tapi kok merah gitu?" Kata Indri menutup pintu kamar.
" Ngantuk Indri, udah jam 4 pasti ngantuk lah, bawel banget."
" Aaah boong, lagi ada masalah ya? Gak biasanya kamu pulang pagi mas kalau kopdar pun jam 1 juga udah pulang. Kamu dari mana Mas? Cerita kalau ada masalah." Kata indri memegang kedua pipiku dan memaksaku menatap wajahnya.
Aku tak kuasa menahan rasa letihku, tak kuasa menahan rasa sesakku. Berusaha menyembunyikannya semampuku agar dia tidak ikut merasakan apa yang aku rasakan saat ini. Akhirnya aku terjatuh melihat wajahnya, cerminan wajah almarhum ibu. Aku memeluknya erat, menangis sesenggukan seperti anak kecil yang kehilangan mainan, merengek, mengadu ke ibunya.
Ya Tuhan kakak macam aku ini yang tega berbagi kesedihan dengan adikku. Sebuah penyesalan dan kepahitan hidup yang aku buat sendiri. Tidak pantas telinganya mendengarkan jeritan sesaknya dada lalu berusaha menenangkanku. Tidak selayaknya air matanya ikut terjatuh mengalir membasahi halusnya kulit pipi. Aku lelah bahkan tanpa sadar aku terpejam bersama pelukannya. Tangan kecilnya tidak berhenti mengusap rambutku, seperti seorang ibu menyanyikan lagu pengantar tidur untuk anaknya.
Ibu, terimakasih telah hidup kembali.....!
" Wan seminggu ini kamu udah terlambat dua kali padahal sebelumnya gak sekalipun kamu datang terlambat. Pekerjaanmu juga menurun, seminggu ini kamu cuma ngerjain separuh dari minggu lalu. Ada masalah kamu?" Tanya Mbak Widia Jumat sore setelah jam kantor berakhir.
" Oooh gak ada Mbak, cuma minggu ini aku lagi gak fit aja." Jawabku.
" Yaudah kamu konsultasi lah ke dokter atau minum vitamin. Itu bawah mata kamu sampai hitam gitu kaya kurang tidur. Mbak berharap kamu menjaga kepercayaan yang diberikan perusahaan mengangkat kamu menjadi karyawan tetap lebih cepat dari waktu yang di tentukan."
" Siap Mbak Wid, akan saya perbaiki apa yang terjadi selama seminggu ini."
" Yaudah ayo pulang, langsung pulang kan kamu?"
" Hmmmm iya lah Mbak, emang mau kemana lagi? Atau Mbak Wid mau ngajak kemana gitu? Mumpung weekend." Tawaranku ke Mbak Widia karena aku tahu calon suaminya kembali berada di luar kota.
" Alaaah maunya kamu itu ma, aku langsung pulang Marsha juga lagi flu. Yaudah pulang yuk."
" Iya Mbak." Jawabku beranjak mengikuti atasanku berjalan menuju tempat parkir.
Sudah menjadi rintangan yang harus dihadapi setiap hari, melewati kemacetan jalanan ibukota saat jam pulang kantor. Minggu yang melelehkan karena harus menempuh perjalanan dari Jakarta, Bekasi lalu kembali ke Jakarta. Jawaban dari Bu Parsi tak juga melegakanku, setiap kesana ucapannya selalu sama "Ninda belum pulang juga Nak."
Pesan tak kunjung di balas, telepon tak pernah aktif sungguh suatu kehadiran yang justru membuatku semakin tersiksa.
" Pulangnya malem terus Mas? Lagi banyak kerjaan?" Sambut Indri membuka pintu saat aku tiba di tempat kos.
" Iya Ndri, kerjaan kantor lagi banyak. Kamu udah makan?" Kataku melepas sepatu.
" Udah Mas, tadinya mau nunggu kamu tapi udah laper banget. Yaudah sana mandi Mas, udah ku buatin teh hangat sama aku beliin makan tadi."
" Anak pinteeer, tumben nih pasti ada maunya." Kataku mengusap rambut Indri.
" Iiiihhhhh, kan udah sering kali Mas, bukannya tumben."
" Ooh iya ya! Hehehehe yaudah aku mandi dulu." Kataku menyambar handuk menuju kamar mandi.
Malam, tepat pukul 11 malam disaat mata seharusnya menginginkan untuk terpejam. Namun retina tampak bening dan kelopaknya hanya sesekali berkedip untuk membasahi pupil. Rasa lelah setelah aktivitas seharian tak juga membuatku ingin segera merebahkan raga. Tertegun di teras tempat kos, memandang keramaian yang semakin lama semakin sepi. Melamun, merenung, menahan rasa yang membuatku terus merasakan sesak. Tubuh sehat, logikaku masih berjalan, namun rasa sesak ini tak kunjung hilang.
Tit.tit.....tit.tit
Bunyi nada pemberitahuan sms masuk membuyarkan lamunanku. Malas rasanya membuka sms karena pasti dari operator atau info promosi dari suatu produk. Dengan tangan terasa berat aku membukanya.
" Hai... Temui aku di room 08, tempat yang sama disaat kamu melihatku seperti bayi, jam 12.00. Ninda"
Rasanya hanya butuh waktu beberapa detik aku mengganti baju kini sudah berada di dalam mobil.
" Jangan lupa pintunya di kunci Ndri." Kataku sebelum berangkat.
" Iya Mas, hati-hati di jalan." Jawab Indri yang kali ini tidak menunjukkan kebawelannya.
Dalam perjalanan, aku mengharapkan hujan turun karena gerakan wiper mengusap kaca mobil akan mengurangi kecepatanku. Semakin lambat waktuku tiba menemuinya, semakin siap kata-kata yang akan keluar dari mulut ini menyambung kalimat "gimana kabarnya". Namun langit tampak cerah, jangankan hujan mendungpun seolah tak nampak satupun menghiasi langit. Malam ini penantianku menanti jawaban akhirnya tiba. Meski tidak ada hujan, tidak ada musik pengiring, karena musik player di mobilku belum terpasang tetapi malam ini aku seperti sedang berenang di permukaan danau dengan air yang begitu jernih, begitu tenang. Dinginnya tidak dingin, hangatnya tidak hangat, semuanya cukup. Di atasnya penuh dengan gemerlap bintang seolah memberikan selamat untukku.
Tergesa langkahku menuju tempat yang di janjikan Ninda, gemetar seluruh tubuhku. Kakiku mampu berlari hingga 40menit tanpa lelah saat bermain futsal, malam terasa letih saat tiba di depan pintu room 08 yang sedikit terbuka.
Aku mendorong pintu, melangkah masuk lalu berdiri tertegun menatap nanar seorang gadis yang telah menenggelamkanku. Tampak semakin cantik meski hanya bercelana jeans hitam dengan kaos abu-abu pendek. Sungguh gaya berpakaian yang sama seperti dulu saat aku masih sering menatapnya. Namun malam ini ada yang berbeda, sangat berbeda.
" Yaudah aku tunggu dibawah ya." Kata seorang pria yang bersama Ninda pergi meninggalkan ruangan. Melangkah melewatiku memberikan senyuman hangat menyambut kehadiranku.
Aku kembali melangkah mendekati Ninda yang duduk dengan kaki disilangkan.
" Haiiiiii, Awan gimana kabarnya? Ya Tuhan tambah ganteng kamu." Kata Ninda mengulurkan tangannya. Bening matanya menatapku diantara warna warni cahaya lampu.
" Baa..baik Nin Alhamdulillah, sangat baik. Kamu sendiri gimana kabarnya." Jawabku sedikit terbata membalas uluran tangannya. Terasa lembut saat kulit tangan kami saling bersentuhan. Rasanya aku menginginkan lebih dari sebuah jabat tangan, raga ini seolah mengharapkan sebuah pelukan.
" Aku? Hahahaha sama aku juga baik. Kok kamu kaya canggung gitu sih? Kaya baru pertama ketemu aja."
" Yaaah namanya juga udah lama gak ketemu, mungkin masih sedikit kaget, bisa ketemu kamu lagi." Kataku duduk di samping Ninda.
" Kaget? Iiih kaya lihat setan aja kaget."
" Yaaa, mungkin itu."
" Maksudnya?"
" Hmmm gak kok, mungkin sebuah luapan perasaan aja Nin bisa ketemu kamu lagi padahal kamu menghilang gitu aja." Kataku membuat suasana kaku diantara kami.
" Aaah, apaan sih udahlah jangan canggung gitu ah. Oh iya gimana kabar Putri, Indri, Paman sama Bibi?"
" Semuanya dalam keadaan baik Nin, Putri udah jadi ibu, Indri tinggal sama aku, kuliah di sini."
" Waaah, udah punya keponakan dong kamu? Terus kamu sendiri gimana?"
" Ya begitu lah... Gimana apanya?"
" Hmmmmm, belum berencana jadi ayah?"
" Hahahahaha, ya udah pengen sih tapi calon ibunya belum ada. Atau kamu mau jadi calon ibunya?"
" Iiiiiiih apaan sih, kerja dimana kamu Wan?"
" Di Jakarta Nin."
" Iya tau maksudku di kantor atau di PT apa?"
" Abis pertanyaannya juga kurang detail. Aku jadi staff HRD di PT yang gak terlalu besar Nin tapi cukup lah dan yang jelas aku menikmati kerja ditempatku. Kamu sendiri gimana? Kerja atau lanjutin kuliah disana?"
" Hahaha, kuliah? Udah males mikir gw Wan. Kebetulan ada tawaran project pembangunan properti di Singapura jadi aku coba join waktu itu. Eh keterima yaudah sampai sekarang."
" Kamu kurusan, di luar negeri gak ada makanan ya? Atau kamu gak ada uang buat beli makan?"
" Ya Tuhan... Enak aja kalau ngomong. Ini udah ideal kok gak kurus. Aku kan jaga pola makan."
" Oooh kirain gitu gak ada makanan disana, tar aku kirimin Ind*mie dari sini kalau mau."
" Enggak! Udah banyak makanan disana. Waaah baru ketemu sebentar aja udah ngeselin. Kamu tu gak berubah ya..."
" Berubah? Nggak ada yang berubah Nin bahkan sampai saat ini perasaanku juga gak berubah kok masih sama seperti sebelum kamu pergi."
" Perasaan? Perasaan seperti apa?" Kata Ninda membuatku kembali kehabisan kata-kata.
" Hmmmmm, eeeemm bukan apa-apa kok. Udahlah, kok kamu gak kasih tau aku kalau udah pulang?"
" Oooh, maaf aku nggak langsung kasih tau kamu tentang kedatanganku. Soalnya..." Kata Ninda terpotong.
" Iya Nin gak apa-apa, lagipula kamu juga pergi gitu aja, hanya meninggalkan selembar kertas." Jawabku mengambil sekaleng softdrink lalu menyiramkan ke tenggorokan yang mulai mengering.
" Awan.... Maaf untuk semua yang terjadi waktu itu dan sampai saat ini aku kembali bisa berada disini."
" Iya, Nin. Tapi kok bisa ya? Kamu pergi gitu aja?"
" Pergi gitu aja katamu?" Kata Ninda dengan nada sedikit membentak dan menatap tajam ke arahku.
" Ya kenyataannya emang gitu kan?" Jawabku tanpa berani melihat wajahnya.
" Oke, sekarang aku tanya kenapa kamu datang ke kehidupanku, kenapa kamu bisa dekat denganku, kenapa semuanya kamu lakuin buatku? kenapa Wan?"
" Lha itu kan pertanyaan yang udah berulang kali kamu tanyain ke aku dan aku juga udah selalu kasih jawaban"
" Jawaban? Kamu kasih jawaban? Jawaban yang mana? Jawaban yang sama seperti kamu kasih ke wanita-wanita yang pernah dekat sama kamu? Itu yang kamu bilang jawaban. Mungkin mereka bisa terima Wan, tapi aku beda. Aku merasa jawaban yang keluar dari mulut kamu itu beda dengan isi hatimu. Berapa tahun lamanya aku menunggu jawaban jujur dari hatimu Wan? Berapa tahun? Sampai akhirnya aku pergi karena aku salah. Aku berharap kamu akan berkata semua yang kamu lakukan karena kamu cinta sama aku, karena kamu sayang sama aku. Lalu hari ini kamu bilang aku pergi gitu aja? Awan, kamu gak pernah tau bagaimana beban perasaanku beranjak dari tempat dimana kita pertama kali saling bertatap. Kamu gak pernah tau kacaunya batinku saat memutuskan untuk pergi." Kata Ninda dengan air mata mulai menetes namun tanpa isakan.
" Tunggu Nin, aku bisa jelaskan. Sebenernya...."
" Enggak Wan, gak perlu kamu jelasin. Waktu itu aku mutusin pergi, tanpa pamit. Aku gak kuat jika sebelum pergi harus menatap orang yang aku harapkan cintanya ternyata tidak sama seperti harapanku. Tanpa melihatmu saja langkah kakiku terasa berat bahkan saat pesawat hendak terbangpun aku masih mengharapkan keajaiban, kamu tiba-tiba ada di samping tempat dudukku. Hahahaha, aneh memang tapi yasudahlah."
Tlp masuk.
" Iya, sebentar say, ehhhmmmm 15 menit ya..."
...........
" Oke,.... Iya-iya. Bye." Kata Ninda menutup telepon.
Suasana kembali hening, Ninda masih mengetik sesuatu di hpnya.
" Nin..Waan." Kata kami bersamaan.
" Iya..." Jawab kami bersamaan.
" Hmmm yaudah kamu dulu." Kata Ninda.
" Hmmm, Siapa Nin tadi yang bareng kamu?"
" Dia? Hmmmm orang yang aku harapkan sama seperti aku harapkan ke kamu di waktu yang udah terlewati."
" Oooowh, jadi itu?"
" Iya, dia calon suamiku."
" Ya Tuhan, akhirnya inilah jawaban atas penantianku selama ini!"
" Jawaban penantian? Maksud kamu?"
" Segala penyesalan pasti akan terjadi pada akhir sebuah peristiwa Nin. Banyak hal yang aku sesali tapi aku menganggap suatu hal yang biasa. Malam ini berbeda, sungguh penyesalan yang berbeda, aku merasakan sakit. Entahlah sesak rasanya mendengar jawaban yang tidak pernah kuharapkan ingin ku dengar. Waktu itu aku membiarkan semuanya mengalir, aku lewatkan semuanya karena aku yakin semuanya akan berjalan baik-baik saja. Seandainya waktu bisa di putar ingin rasanya kembali ke waktu satu detik sebelum kamu pergi dan aku mengatakan yang sejujurnya tentang perasaanku. Ninda, aku juga mencintaimu Nin, aku menyayangimu, bukan dari malam ini tetapi saat kita masih menikmati panasnya cuaca menjelang hujan dan merasakan dinginnya angin malam di sofa lusuh sudut tempat kos." Kataku semua keluar begitu saja tanpa logika yang mengiringinya.
Ninda hanya menunduk, menatap layar hpnya yang nampak gelap karena berada dalam mode lockscreen.
" Nin, masih ada kesempatankah untukku memulai dari awal?"
" Maaf Wan, aku harus pergi, jadwal pesawatku pukul 05.00." Kata Ninda beranjak dari sofa, sambil mengikat rambut lebatnya.
" Jadi kamu....?"
" Ya, hidup itu pilihan Wan, aku udah memilih dan aku udah memutuskan. Terimakasih ya untuk segalanya, maaf untuk semua yang telah aku lakukan. Aku pergi dulu." Kata Ninda mengulurkan tangannya untukku.
Tanpa bisa berkata-kata aku berdiri meski tiba-tiba kaki terasa berat seperti sedang memikul beban. Aku membalas uluran tangannya tanpa sepatah kata keluar dari mulutku yang seolah terkunci rapat.
" Aku juga mencintaimu, aku menyayangimu tapi kita tau kita tak mungkin bisa bersama. Semoga kelak kau temukan orang yang menemani dibelakangmu saat kamu bersujud. Karena aku juga memilih dia yang menemaniku melantunkan lagu-lagu indah di bawah teduhnya atap rumah bermahkota salib." Bisik Ninda tepat di telingaku sambil menangis sesenggukan. Memelukku sangat erat hingga beberapa detik lamanya. Perlahan dia lepaskan pelukannya, lalu bibirnya dia letakkan perlahan ke arah bibirku yang hanya bisa menikmati semua perlakuannya.
" Aku pergi, sekali lagi terimakasih untuk semuanya." Kata Ninda berjalan meninggalkanku yang masih terdiam seperti patung.
Satu langkah, dua langkah, tiga langkah aku masih terus menatapnya lalu akhirnya dia hilang dari pandanganku saat melewati pintu ruangan 08.
Kembali kujatuhkan badanku di atas sofa yang kali ini tidak terasa empuk. Kupandangi langit-langit dengan sorot lampu warna-warni. Aku berusaha melihat ke atas agar air mataku tidak menetes. Tapi ini terasa berat.
" Hahahaha, kenapa ini? Kenapa aku ingin menangis? Kenapa ini sakit?" Batinku yang pada akhirnya tak kuasa menahan air mata.
Tidak sedang berlari kencang atau bekerja keras namun ragaku sangat lelah. Senyum ku paksakan, mata terus ku kedip-kedipkan agar tidak terasa perih. Aku beranjak pulang, pulang dengan jawaban yang sungguh menyesakkan entah sampai kapan ini akan hilang.
" Yaampun pagi banget pulangnya Mas! Lho kok mata kamu merah, terus agak bengkak? Mas kamu gak minum kan?" Kata Indri membukakan pintu kamar kos.
" Apaan sih enggak lah, kalau minum pasti bau alkohol kali."
" Oooooohhh, tapi kok merah gitu?" Kata Indri menutup pintu kamar.
" Ngantuk Indri, udah jam 4 pasti ngantuk lah, bawel banget."
" Aaah boong, lagi ada masalah ya? Gak biasanya kamu pulang pagi mas kalau kopdar pun jam 1 juga udah pulang. Kamu dari mana Mas? Cerita kalau ada masalah." Kata indri memegang kedua pipiku dan memaksaku menatap wajahnya.
Aku tak kuasa menahan rasa letihku, tak kuasa menahan rasa sesakku. Berusaha menyembunyikannya semampuku agar dia tidak ikut merasakan apa yang aku rasakan saat ini. Akhirnya aku terjatuh melihat wajahnya, cerminan wajah almarhum ibu. Aku memeluknya erat, menangis sesenggukan seperti anak kecil yang kehilangan mainan, merengek, mengadu ke ibunya.
Ya Tuhan kakak macam aku ini yang tega berbagi kesedihan dengan adikku. Sebuah penyesalan dan kepahitan hidup yang aku buat sendiri. Tidak pantas telinganya mendengarkan jeritan sesaknya dada lalu berusaha menenangkanku. Tidak selayaknya air matanya ikut terjatuh mengalir membasahi halusnya kulit pipi. Aku lelah bahkan tanpa sadar aku terpejam bersama pelukannya. Tangan kecilnya tidak berhenti mengusap rambutku, seperti seorang ibu menyanyikan lagu pengantar tidur untuk anaknya.
Ibu, terimakasih telah hidup kembali.....!
g.gowang memberi reputasi
1