- Beranda
- Stories from the Heart
Burung Kertas Merah Muda
...
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
chrishana
#284
Chapter 47
“Anna, aku sayang sama kamu. Kamu mau nggak jadi pacarku?”
Suasana di tengah lapangan menjadi gaduh dan ramai. Suara lantunan dari kalimat permintaan yang diucapkan oleh Rian kepada Anna begitu lantang membelah keramaian. Masuk ke dalam telinga Rendy hingga menusuk sampai ke hati. Membuat Rendy sesak dan terdiam seribu bahasa.
“Terima! Terima!” seluruh murid bersorak kepada Rian dan Anna.
Anna yang tersipu malu melihat ke semua penjuru sekolah. Hingga akhirnya tatapan itu terhenti tepat ke arah Rendy yang berdiri diam mematung melihat Anna dan Rian. Rendy menjadi harap-harap cemas menunggu jawaban apa yang akan diberikan oleh Anna. Rendy bertanya dalam hati apakah masih ada cinta di hati Anna untuk dirinya.
“Hai, Rendy!” tiba-tiba saja Rheva memeluk Rendy dari belakang.
Sontak ketika itu Rendy kaget dalam lamunannya. Anna yang juga melihat kejadian itu, langsung memalingkan wajahnya ke arah Rian yang dari tadi menunggu berdiri untuk jawaban atas permintaannya. Sorakan dari murid di seluruh penjuru sekolah semakin keras. Anna mulai menghela napas panjang.
“Iya, aku mau, Kak!” ujar Anna dengan lantang.
Rendy yang mendengar jawaban Anna langsung kaku tak bergerak. Bibirnya bergetar namun tak bisa berkata apa-apa. Rheva masih berada di sampingnya merangkul tangan kirinya yang lemas dan gemetaran. Rendy tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Anna barusan. Seruan keras semakin bergemuruh di depan lapangan.
Dan kini, Anna dan Rian resmi berstatus pacaran. Rian adalah pacar pertama Anna karena memang sebelumnya Anna tak pernah merasakan jatuh cinta. Sebuah gejolak perasaan dan hati dirasakan oleh Anna. Anna yang mencintai Rendy justru lebih memilih Rian. Tanda tanya besar untuk Rendy karena Anna pernah menyatakan perasaannya kepada Rendy.
“Rendy, kamu kenapa?” tanya Rheva seraya melambaikan tangannya tepat di depan mata Rendy.
“Eh, Rheva.” lamunannya buyar.
“Kamu kenapa, Ren? Bengong gitu.”
“Gak apa-apa, Va. Aku mau pulang.” Rendy berjalan dengan cepat meninggalkan Rheva.
“Hei, tunggu!” Rheva menahan Rendy.
“Ada apa lagi?” tanya Rendy.
“Kamu kenapa sih? Gak biasanya kamu ninggalin aku langsung kayak gitu.” ujar Rheva.
“Aku lagi bete. Udah jangan ganggu.”
“Kamu mau ke mana?”
“Pulang.”
“Aku ikut!”
Rendy menghentikan langkahnya. “Mau ngapain?”
“Aku gak percaya kamu mau pulang. Aku ikut pokoknya!”
****
“Eh, Rheva.” lamunannya buyar.
“Kamu kenapa, Ren? Bengong gitu.”
“Gak apa-apa, Va. Aku mau pulang.” Rendy berjalan dengan cepat meninggalkan Rheva.
“Hei, tunggu!” Rheva menahan Rendy.
“Ada apa lagi?” tanya Rendy.
“Kamu kenapa sih? Gak biasanya kamu ninggalin aku langsung kayak gitu.” ujar Rheva.
“Aku lagi bete. Udah jangan ganggu.”
“Kamu mau ke mana?”
“Pulang.”
“Aku ikut!”
Rendy menghentikan langkahnya. “Mau ngapain?”
“Aku gak percaya kamu mau pulang. Aku ikut pokoknya!”
****
Rheva Rahmadhani.
Seorang perempuan dengan tinggi setara dengan bahu milik Rendy. Murid dari kelas dua belas SMA Trinusa dengan paras paling cantik dan disukai banyak lelaki. Senyumannya mampu meluluhlantakan semua kaum adam yang melihatnya. Sebuah sihir yang mampu merubah keadaan dari negatif menjadi positif. Tak terkecuali dengan keadaan Rendy saat ini.
“Kamu suka ke sini, Va?” tanya Rendy melihat sekeliling.
“Kadang. Kalau lagi badmood aja.” jawab Rheva.
“Kadang. Kalau lagi badmood aja.” jawab Rheva.
Setelah kejadian pengutaraan perasaan antara Rian dan Anna, Rendy dan Rheva berkunjung ke suatu tempat. Tempat ini adalah tempat yang direkomendasikan Rheva kepada Rendy. Karena Rheva tahu apa yang Rendy rasakan sekarang. Dia pasti sangat terpukul dengan gejolak keadaan sekarang.
Tempat ini adalah sebuah taman hutan kota. Di mana banyak jenis pepohonan tertanam di sini. Tempat ini juga tidak ramai. Bahkan cenderung sepi. Padahal, tempat ini cukup elok dan indah untuk dikunjungi. Mereka berdua duduk di bangku taman berwarna cokelat yang dihiasi bunga di pinggirannya.
“Kamu kayak gak terima kalau Rian jadian sama Anna.” ujar Rheva.
“...”
“Kamu kenapa, Ren?” tanya Rheva kembali.
“Aku cuma marah sama diriku sendiri, Va. Aku merasakannya, tapi gak ada keberanian untuk mengungkapkan.” jawab Rendy lalu menghela napas panjang.
“Merasakan apa?”
“Aku sayang Anna, Va. Tapi gak cukup keberanianku untuk berkata di depannya.” ujar Rendy kecewa.
“...”
“...”
“...”
“Kamu kenapa, Ren?” tanya Rheva kembali.
“Aku cuma marah sama diriku sendiri, Va. Aku merasakannya, tapi gak ada keberanian untuk mengungkapkan.” jawab Rendy lalu menghela napas panjang.
“Merasakan apa?”
“Aku sayang Anna, Va. Tapi gak cukup keberanianku untuk berkata di depannya.” ujar Rendy kecewa.
“...”
“...”
Rheva dan Rendy bungkam seketika. Bibir mereka bergetar tapi tak mampu mengeluarkan kata-kata. Rheva tak merasa kaget dengan apa yang diutarakan oleh Rendy. Karena Rheva sudah merasakannya dari jauh hari. Tapi, Rheva sedikit kecewa karena lelaki pujaannya justru menyimpan nama perempuan lain di dalam lubuk hatinya.
“Sakit itu ketika orang yang kita cinta mengutarakan perasaannya kepada orang yang mencintainya. Tapi bukan untuk orang yang mencintainya, melainkan untuk orang lain.” ujar Rheva.
“Maksud kamu?” tanya Rendy.
“Aku sayang kamu, Rendy. Aku sayang banget sama kamu.” tak terasa air mata Rheva deras membasahi pipinya.
“...”
“Tapi aku juga gak bisa berbuat apa-apa kalau memang hati kamu lebih memilih Anna.” lanjut Rheva.
“Rheva.” Rendy menggenggam tangan Anna.
“...”
“Udah jangan nangis. Gak perlu kamu tangisin. Aku belum jujur semuanya ke kamu.” ujar Rendy.
“Soal apa kamu belum jujur?” tanya Rheva.
“Soal apa yang aku rasain kalau aku lagi berdua sama kamu.”
“...”
“Va, dengerin aku.” ujar Rendy sambil menghapus air mata Rheva. “Ketika aku gundah karena Anna, rasa itu seketika hilang pada saat kamu datang. Kamu seperti mantra penyembuh luka di hatiku.”
“...”
“Va, aku mohon dengan sangat sama kamu.” Rendy menggenggam kedua tangan Rheva. “Kamu adalah perempuan yang aku tak mau kehilangan. Aku ingin kamu terus ada di sampingku.”
“Maksud kamu?” tanya Rendy.
“Aku sayang kamu, Rendy. Aku sayang banget sama kamu.” tak terasa air mata Rheva deras membasahi pipinya.
“...”
“Tapi aku juga gak bisa berbuat apa-apa kalau memang hati kamu lebih memilih Anna.” lanjut Rheva.
“Rheva.” Rendy menggenggam tangan Anna.
“...”
“Udah jangan nangis. Gak perlu kamu tangisin. Aku belum jujur semuanya ke kamu.” ujar Rendy.
“Soal apa kamu belum jujur?” tanya Rheva.
“Soal apa yang aku rasain kalau aku lagi berdua sama kamu.”
“...”
“Va, dengerin aku.” ujar Rendy sambil menghapus air mata Rheva. “Ketika aku gundah karena Anna, rasa itu seketika hilang pada saat kamu datang. Kamu seperti mantra penyembuh luka di hatiku.”
“...”
“Va, aku mohon dengan sangat sama kamu.” Rendy menggenggam kedua tangan Rheva. “Kamu adalah perempuan yang aku tak mau kehilangan. Aku ingin kamu terus ada di sampingku.”
Rheva tersenyum dalam tangisnya. Menatap dalam-dalam bola mata yang kecokelatan milik Rendy. Rheva mengangguk tanda setuju dengan permintaan Rendy. Awan mulai datang menyelimuti langit. Matahari kini tak dapat menghantarkan gelombang panas untuk menghangatkan bumi. Gemuruh kilat mulai menyambar. Namun, Rheva dan Rendy masih berada di sana.
“Aku juga mau minta sesuatu sama kamu, boleh?” tanya Rheva.
“Apapun yang kamu minta, jika memang aku bisa memenuhinya, aku akan penuhi.” jawab Rendy meyakinkan.
“Antar aku, Rendy. Mau?”
“Aku bersedia. Kemana, Tuan Putri?”
“Apapun yang kamu minta, jika memang aku bisa memenuhinya, aku akan penuhi.” jawab Rendy meyakinkan.
“Antar aku, Rendy. Mau?”
“Aku bersedia. Kemana, Tuan Putri?”
itkgid dan 10 lainnya memberi reputasi
11
Tutup
