- Beranda
- Stories from the Heart
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)
...
TS
juraganpengki
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)

Cool Cover By Agan Linbara (Thanks, Bree)..
Prolog
Setelah bangun dari ‘Mati Suri’ karena memutuskan untuk mencoba membunuh diri sendiri untuk melindungi Kitab Langit dan melenyapkan Bayu Ambar, gw kembali ke dunia nyata.. Kehidupan gw sedikit jauh berbeda, karena pengalaman ‘Mati Suri’ itu berefek langsung pada kelebihan yang gw miliki.. Gw masih sama Anggie, meski ujian atas cinta kami masih saja mendera.. Ada musuh baru, tentu saja.. Tapi ada juga sahabat baru yang muncul.. Karena ini akhir dari cerita kami berempat..
Kembalinya Anak Ibu...
Pengorbanan Pedang Jagat Samudera...
Cintai Aku Sewajarnya, Yank...
Matinya Seorang Saudara (Versi Gw/Bimo)
Berkumpul Kembali...
Keanehan Yang Mulai Muncul...
Sambutan Ketiga Saudara Ke Reinata...
Sabar???
Cukup! Tinggalin Aku Sendiri!!!
Siapa Kau???
Aku Ikutin Kemauan Kamu...
Keputusan Sepihak Yang Pahit...
Semua Beban Menjadi satu
Semua Beban Menjadi Satu (2)...
Serangkum Rindu Untuk Ayah...
Munculnya Penguasa Laut Utara...
Bertemunya Dua Penguasa...
Sebuah Kesepakatan...
Ibu Kenapa Yah???
Lu Kenapa, Ka???
Wanted Dead Or Alive.. ANTON!!!
Mo 'Perabotan' Lu Hancur Apa Tanggung Jawab???
It's The End Of Us...
Di Kerjain Ibu...
Ridho!!!
Kelewatan!!!
Munculnya Dua Penjaga Gerbang Kerajaan Laut...
Dewi Arum Kesuma VS Dewi Ayu Anjani
Datangnya Sosok Seorang Pemisah Dan Shock Therapy Buat Gw...
Kerajaan Jin...
Terkuaknya Semua Jawaban...
Maafin Gw, Bree...
Pengakuan Suluh...
Akhirnya Boleh Gondrong...
Pernikahan Kak Silvi Yang Seharusnya Membuat Gw Bahagia...
Pernikahan Kak Silvi Yang seharusnya Membuat Gw Bahagia (2)...
Tunggu Pembalasan Gw!!!...
Ni Mas Linduri dan Banas Ireng...
Dua Sosok Penyelamat Misterius...
Ada Apa Sama Ridho?...
Kesalahan Fatal...
Kembalinya Jin Penjaga Ridho dan Suluh...
Akibat Terlalu Ikut Campur...
Setiap Perbuatan Akan Mendapat Balasan...
Munculnya Viny Dan Sebuah Tantangan Bertarung...
Manusia Cabul...
Suara Penolong Misterius...
Bertemunya Kembali Sepasang Kekasih...
Terkuaknya Kebenaran...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar (2)...
Jaket Dan Celana Jeans Robek Serta Sweater Hitam Kumal...
She's My True Love...
Dilema...
Pertengkaran Dengan Ibu...
Rambe Lantak...
Gendewa Panah Pramesti...
Akan Ku Balaskan Dendam Mu, Arum Kesuma!!!
Yang Hilang dan Yang Kembali...
Jawaban Ayu...
Mati Gw!!!
Aku Makin Sayang...
Nasihat Om Hendra...
Jera Mencuri...
Ajian Segoro Geni...
Pilihan Sulit...
Keputusasaan Anggie...
Kabar Baik dari Ridho dan Suluh...
Perjalanan Menuju Pembalasan Dendam...
Rawa Rontek...
Rawa Rontek 2 (Terbayarnya Dendam)...
Kedatangan Pak Sugi...
Orang Titipan...
Hukuman Paling Berat...
Tidurlah Di Pangkuan Ku...
Menjajal Kesaktian...
Menjajal Kesaktian (2)...
Pengakuan Mengejutkan Babeh Misar...
Pengajaran Ilmu Silat Betawi...
Di Kepret Babeh Misar Lagi...
Tasya...
Naga Caglak dan Bajing Item...
Misteri Sebuah Dendam...
Kekuatan Sejati Kitab Langit Bagian Matahari...
Perpisahan...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera (2)...
Kembalinya Ibu...
Empat Bayangan Hitam...
Siapa Ni Mas Laras Rangkuti???
Dendam Seorang Sahabat...
Ini Keputusan Yang Harus Gw Ambil...
Semua Pengorbanan Ini Demi Ibu...
Rapuh...
Kabar Mengejutkan Sekar dan Sebuah Restu...
Siasat Braja Krama...
Munculnya Kitab Langit...
Si Pembuka Kitab langit dan Sosok Asli Pak Sugi...
Rencana Yang Matang...
Lamaran Pribadi...
Keingintahuan Anggie...
Perubahan Rencana...
Hampir Terjebak...
Kekecewaan Sekar...
Dua Syarat Reinata...
Aku Harap Kamu dan Anggie Bahagia, Mam...
Rahasia Sepasang Suami Isteri...
Menitipkan Amanah...
Berkumpulnya Para Pembela Kitab Langit...
Siasat Ki Purwagalih...
Raja Jin Raja Muslihat (Nyesek, Bree)...
Pertukaran Tawanan...
Perang Gaib PunTak Terelakkan...
Sang Penyelamat Dari Utara...
Pertempuran Awal Dua Penguasa Kerajaan Gaib...
Bertekuk Lututnya Sekutu Braja Krama...
Pertarungan Dua Putera (Gugurnya Satu Sahabat Gaib)...
Krama Raja...
Braja Krama Versus Krama Raja...
Raja Licik...
Aku Lah Sang Pembuka...
Siasat Krama Raja dan Bayu Ambar...
Terbukanya Semua Ilmu Terlarang...
Sebuah Pengecualian...
Sri Baduga Maharaja...
Hilangnya Sebuah Pengecualian...
Hilangnya Sebuah Pengecualian (2)...
Sebuah Pengorbanan...
Pahlawan...
Sumpah...
Ilmu Pamungkas yang Terlarang...
Kabar Yang Mengejutkan...
Pulang...
Pulang (2)...
Sedikit Kisah Rio Sebelum Kisah Ini Tamat...
Terhalang Sumpah...
Bantuan Sahabat Baik...
Bachelor Party...
Keturunan Lain Sang Prabu...
Pembalasan Dendam Singgih...
Sepenggal Kisah Nyi Mas Roro Suwastri...
Tawaran Yang Mengejutkan...
Lawan Atau Kawan???
Terkuaknya Silsilah...
Sebuah Kebenaran...
Sebuah Kebenaran (2)...
Bertemunya Dua Keturunan Sang Prabu...
Pertempuran Dua Hati...
Cinta Pertama VS Cinta Terakhir Jagat Tirta...
Pengakuan Bayu Barata...
Ki Larang dan Nyi Mas Galuh Pandita???
Prana Kusuma...
Kau Benar Keturunan Kami, Ngger...
Our Big Day...
Insiden...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga (2)...
Dua Tamu Istimewa...
Semua Karena Cinta...
Keputusan Sekar Kencana...
Kena Gampar...
Bonyok!!!
RIBET!!!
Berdamai...
Keponakan Baru...
Malam Pertama dan Tiga Keanehan...
Ajian Warisan Para Leluhur (The Last Part/End Of All Chapters)
SIDE STORIES
Keturunan Yang Tersesat...
Keturunan Yang Tersesat (2)...

Cool Cover By Agan Linbara (Thanks, Bree)..
Prolog
Setelah bangun dari ‘Mati Suri’ karena memutuskan untuk mencoba membunuh diri sendiri untuk melindungi Kitab Langit dan melenyapkan Bayu Ambar, gw kembali ke dunia nyata.. Kehidupan gw sedikit jauh berbeda, karena pengalaman ‘Mati Suri’ itu berefek langsung pada kelebihan yang gw miliki.. Gw masih sama Anggie, meski ujian atas cinta kami masih saja mendera.. Ada musuh baru, tentu saja.. Tapi ada juga sahabat baru yang muncul.. Karena ini akhir dari cerita kami berempat..
Kembalinya Anak Ibu...
Pengorbanan Pedang Jagat Samudera...
Cintai Aku Sewajarnya, Yank...
Matinya Seorang Saudara (Versi Gw/Bimo)
Berkumpul Kembali...
Keanehan Yang Mulai Muncul...
Sambutan Ketiga Saudara Ke Reinata...
Sabar???
Cukup! Tinggalin Aku Sendiri!!!
Siapa Kau???
Aku Ikutin Kemauan Kamu...
Keputusan Sepihak Yang Pahit...
Semua Beban Menjadi satu
Semua Beban Menjadi Satu (2)...
Serangkum Rindu Untuk Ayah...
Munculnya Penguasa Laut Utara...
Bertemunya Dua Penguasa...
Sebuah Kesepakatan...
Ibu Kenapa Yah???
Lu Kenapa, Ka???
Wanted Dead Or Alive.. ANTON!!!
Mo 'Perabotan' Lu Hancur Apa Tanggung Jawab???
It's The End Of Us...
Di Kerjain Ibu...
Ridho!!!
Kelewatan!!!
Munculnya Dua Penjaga Gerbang Kerajaan Laut...
Dewi Arum Kesuma VS Dewi Ayu Anjani
Datangnya Sosok Seorang Pemisah Dan Shock Therapy Buat Gw...
Kerajaan Jin...
Terkuaknya Semua Jawaban...
Maafin Gw, Bree...
Pengakuan Suluh...
Akhirnya Boleh Gondrong...
Pernikahan Kak Silvi Yang Seharusnya Membuat Gw Bahagia...
Pernikahan Kak Silvi Yang seharusnya Membuat Gw Bahagia (2)...
Tunggu Pembalasan Gw!!!...
Ni Mas Linduri dan Banas Ireng...
Dua Sosok Penyelamat Misterius...
Ada Apa Sama Ridho?...
Kesalahan Fatal...
Kembalinya Jin Penjaga Ridho dan Suluh...
Akibat Terlalu Ikut Campur...
Setiap Perbuatan Akan Mendapat Balasan...
Munculnya Viny Dan Sebuah Tantangan Bertarung...
Manusia Cabul...
Suara Penolong Misterius...
Bertemunya Kembali Sepasang Kekasih...
Terkuaknya Kebenaran...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar (2)...
Jaket Dan Celana Jeans Robek Serta Sweater Hitam Kumal...
She's My True Love...
Dilema...
Pertengkaran Dengan Ibu...
Rambe Lantak...
Gendewa Panah Pramesti...
Akan Ku Balaskan Dendam Mu, Arum Kesuma!!!
Yang Hilang dan Yang Kembali...
Jawaban Ayu...
Mati Gw!!!
Aku Makin Sayang...
Nasihat Om Hendra...
Jera Mencuri...
Ajian Segoro Geni...
Pilihan Sulit...
Keputusasaan Anggie...
Kabar Baik dari Ridho dan Suluh...
Perjalanan Menuju Pembalasan Dendam...
Rawa Rontek...
Rawa Rontek 2 (Terbayarnya Dendam)...
Kedatangan Pak Sugi...
Orang Titipan...
Hukuman Paling Berat...
Tidurlah Di Pangkuan Ku...
Menjajal Kesaktian...
Menjajal Kesaktian (2)...
Pengakuan Mengejutkan Babeh Misar...
Pengajaran Ilmu Silat Betawi...
Di Kepret Babeh Misar Lagi...
Tasya...
Naga Caglak dan Bajing Item...
Misteri Sebuah Dendam...
Kekuatan Sejati Kitab Langit Bagian Matahari...
Perpisahan...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera (2)...
Kembalinya Ibu...
Empat Bayangan Hitam...
Siapa Ni Mas Laras Rangkuti???
Dendam Seorang Sahabat...
Ini Keputusan Yang Harus Gw Ambil...
Semua Pengorbanan Ini Demi Ibu...
Rapuh...
Kabar Mengejutkan Sekar dan Sebuah Restu...
Siasat Braja Krama...
Munculnya Kitab Langit...
Si Pembuka Kitab langit dan Sosok Asli Pak Sugi...
Rencana Yang Matang...
Lamaran Pribadi...
Keingintahuan Anggie...
Perubahan Rencana...
Hampir Terjebak...
Kekecewaan Sekar...
Dua Syarat Reinata...
Aku Harap Kamu dan Anggie Bahagia, Mam...
Rahasia Sepasang Suami Isteri...
Menitipkan Amanah...
Berkumpulnya Para Pembela Kitab Langit...
Siasat Ki Purwagalih...
Raja Jin Raja Muslihat (Nyesek, Bree)...
Pertukaran Tawanan...
Perang Gaib PunTak Terelakkan...
Sang Penyelamat Dari Utara...
Pertempuran Awal Dua Penguasa Kerajaan Gaib...
Bertekuk Lututnya Sekutu Braja Krama...
Pertarungan Dua Putera (Gugurnya Satu Sahabat Gaib)...
Krama Raja...
Braja Krama Versus Krama Raja...
Raja Licik...
Aku Lah Sang Pembuka...
Siasat Krama Raja dan Bayu Ambar...
Terbukanya Semua Ilmu Terlarang...
Sebuah Pengecualian...
Sri Baduga Maharaja...
Hilangnya Sebuah Pengecualian...
Hilangnya Sebuah Pengecualian (2)...
Sebuah Pengorbanan...
Pahlawan...
Sumpah...
Ilmu Pamungkas yang Terlarang...
Kabar Yang Mengejutkan...
Pulang...
Pulang (2)...
Sedikit Kisah Rio Sebelum Kisah Ini Tamat...
Terhalang Sumpah...
Bantuan Sahabat Baik...
Bachelor Party...
Keturunan Lain Sang Prabu...
Pembalasan Dendam Singgih...
Sepenggal Kisah Nyi Mas Roro Suwastri...
Tawaran Yang Mengejutkan...
Lawan Atau Kawan???
Terkuaknya Silsilah...
Sebuah Kebenaran...
Sebuah Kebenaran (2)...
Bertemunya Dua Keturunan Sang Prabu...
Pertempuran Dua Hati...
Cinta Pertama VS Cinta Terakhir Jagat Tirta...
Pengakuan Bayu Barata...
Ki Larang dan Nyi Mas Galuh Pandita???
Prana Kusuma...
Kau Benar Keturunan Kami, Ngger...
Our Big Day...
Insiden...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga (2)...
Dua Tamu Istimewa...
Semua Karena Cinta...
Keputusan Sekar Kencana...
Kena Gampar...
Bonyok!!!
RIBET!!!
Berdamai...
Keponakan Baru...
Malam Pertama dan Tiga Keanehan...
Ajian Warisan Para Leluhur (The Last Part/End Of All Chapters)
SIDE STORIES
Keturunan Yang Tersesat...
Keturunan Yang Tersesat (2)...
Diubah oleh juraganpengki 15-07-2018 20:23
iskrim dan 132 lainnya memberi reputasi
127
2.1M
8K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
juraganpengki
#6231
Pulang (2)...
Sayup-sayup, suara adzan Subuh berkumandang saling sahut dari tiap Mushola dan Masjid.. Gw segera beranjak dari atas tempat tidur dan berjalan menuju pintu..
“Maaf, Raden.. Tolong berhenti sejenak” Ucap Bayu Barata yang menghentikan langkah kaki gw..
Dengan sedikit bingung akan maksud panggilan Bayu Barata barusan, gw membalikkan badan menghadapnya.. Untuk sesaat, wajah Bayu Barata nampak seperti sedang gelisah antara ingin mengutarakan sesuatu atau tidak.. Sesekali pandangannya yang menatap gw, terlempar ke arah lain.. Seolah segan membalas tatapan mata ini..
“Ada apa, Bayu?” Tanya gw dengan kening berkerut melihat tingkah aneh Bayu Barata..
Jin Penjaga gw yang kedua itu sempat membalas tatapan mata gw.. Namun tiba-tiba ia menundukkan wajah dan duduk bersimpuh sambil merapatkan dua telapak tangan di depan dada bidangnya.. Gw yang melihat Bayu Barata seperti itu, kian merasa heran..
“Apa yang sebenarnya terjadi, Bayu? Mengapa kau bersimpuh seperti itu?”
“Ampuni aku, Raden.. Karena kesalahan ku yang telah lalai menjaga Ibu mu sewaktu sakit, aku berhasil di tawan Braja Krama.. Dan dalam pengaruh nya, aku pasti pernah mencoba mencelakai mu atau sosok sahabat gaib yang lain.. Mohon ampuni Jin Penjaga mu yang berilmu rendah ini, Raden”
Gw sempat tercengang mendengar permohonan ampun terlontar dari lisan Bayu Barata.. Tanpa pikir panjang, gw melangkah mendekati Bayu Barata yang masih duduk bersimpuh sambil menundukan kepala.. Perlahan, gw memegang dua lengan kekar Bayu Barata dan mengajaknya untuk bangkit berdiri kembali..
“Angkat wajah mu dan tatap mataku, Bayu” Pinta gw ke Bayu Barata setelah melepas pegangan tangan di lengannya..
Dengan gerakan lambat, Bayu Barata mengangkat wajah dan menatap kedua mata gw.. Akan tetapi, pandangan Jin itu nampak masih jelas menyiratkan sorot mata yang segan.. Gw tersenyum melihat reaksi Bayu Barata, lalu memegang lengan kanannya..
“Bayu Barata, sudah berapa kali aku bilang bahwa aku tidak pernah menganggap mu sebagai Jin Penjaga.. Kau sahabat ku seperti halnya Sekar Kencana.. Dan tentang tertangkapnya dirimu oleh Braja Krama, tentu saja itu semua bukan salah mu.. Jadi, berhenti menyalahkan diri mu sendiri, Bayu.. Lagi pula, masa itu telah kita lewati.. Sekarang, aku mau kau tetap menjadi sahabat baikku dari alam gaib dan lupakan semua”
Bayu Barata nampak tersenyum mendengar penuturan gw sambil menganggukkan kepalanya satu kali.. Gw memang selalu menggunakan istilah Jin Penjaga yang kedua untuk menggantikan nama Bayu Barata di dalam kisah kami ini.. Akan tetapi, itu hanya dalam cerita.. Secara nyata, gw tidak pernah memanggil Bayu Barata dengan sebutan Jin Penjaga Kedua.. Karena memang bagi gw, baik Sekar Kencana dan Bayu Barata adalah dua sosok gaib yang sama-sama gw sayangi sebagai sahabat..
“Terima kasih atas pengertian mu, Raden.. Aku benar-benar bangga bisa menjadi Penjaga seorang pemuda seperti mu.. Aku berjanji akan terus menjaga mu serta seluruh keluarga mu hingga masa bakti ku usai” Ucap Bayu Barata dengan suara mantap dan kedua mata berbinar..
Gw yang mendengar ucapan Bayu Barata, juga melempar senyuman dan menepuk lengannya satu kali..
“Ya sudah, aku sebaiknya mandi sekarang sebelum menunaikan Shalat Subuh” Kata gw seraya hendak membalikkan tubuh..
“Tunggu, Raden” Panggil Bayu Barata lagi yang membuat gw mengurungkan niat dan kembali menatapnya heran..
“Maaf, Raden.. Sebaiknya, aku salurkan terlebih dahulu tenaga dalam ke tubuhmu.. Aku khawatir kau akan jatuh sakit jika memaksakan diri untuk tidak istirahat dengan tenaga dalam yang tersisa sedikit setelah pertempuran” Ucap Bayu Barata memberikan saran..
Gw menganggukkan kepala setelah sempat terdiam menimbang bahwa saran Bayu Barata benar adanya.. Tanpa pikir panjang, gw langsung duduk bersila membelakangi Bayu Barata..
“Raden, bolehkah aku menggunakan sedikit Ajian yang akan membuat rasa lelah dan kantuk mu hilang?” Tanya Bayu Barata sebelum menempelkan dua telapak tangannya di punggung gw..
Mendengar hal tersebut, gw langsung menganggukkan kepala sebagai pertanda memberikan izin ke Bayu Barata..
“Pejamkan kedua mata mu, Raden.. Aku akan mulai menggunakan Ajian itu dan setelahnya menyalurkan tenaga dalam ku ke tubuh mu” Pinta Bayu Barata..
Gw melakukan apa yang diinginkan oleh Bayu Barata.. Kedua mata gw pun mulai terpejam.. Perlahan, kedua telapak tangan Bayu Barata memegang pelipis kiri dan kanan gw..
DREETTTT...
Gw sempat menaikkan kedua alis diatas mata yang terpejam, begitu merasakan getaran muncul dari dua telapak tangan Bayu Barata.. Lalu, masih dari telapak tangan Jin Penjaga gw itu, mengalir hawa sejuk yang merasuk ke dalam pori-pori kulit pelipis.. Yang terjadi kemudian, gw merasakan kepala terasa jauh lebih ringan..
Setelah menggunakan Ajian yang namanya tidak disebutkan, Bayu Barata melepas dua telapak tangan dan menempelkannya ke punggung.. Kembali gw merasakan aliran hawa dari dua telapak tangan Bayu Barata.. Namun kali ini bukan hawa sejuk.. Melainkan hawa hangat yang merasuk lewat punggung dan menyebar ke seluruh tubuh..
Untuk sesaat, gw merasakan tubuh diselimuti hawa hangat yang luar biasa nyaman.. Hingga akhirnya, Bayu Barata menghela nafas lega dan melepaskan dua telapak tangannya dari punggung..
Gw yang menyadari Bayu Barata telah menyelesaikan prosesi penyaluran tenaga dalam, segera membuka kedua mata.. Ajaib, segala rasa kantuk yang tadi sempat menggelayuti kedua pelupuk mata, mendadak lenyap.. Pandangan gw pun terlihat semakin tegar dan terang..
Sedikit cepat gw beranjak bangkit dan tertegun merasakan tubuh yang tadinya lemah karena kekurangan tenaga, tiba-tiba terasa segar.. Sebuah senyuman merekah gw kembangkan untuk Bayu Barata, sebagai ungkapan awal akan bantuannya..
“Terima kasih, Bayu.. Tubuh ku terasa sangat segar.. Rasa kantuk dan lelah hilang karena bantuan mu”
Bayu Barata sontak menyunggingkan senyuman sumringah melihat gw yang sedang menggerak-gerakkan tubuh kekiri dan kanan dengan penuh semangat..
“Jika seperti ini, aku siap melawan Braja Krama sekali lagi, Bayu” Ujar gw mencoba berkelakar dan membuat Bayu Barata tertawa..
Namun, suara tawa Bayu Barata seketika lenyap saat suara ketukan pintu kamar gw terdengar..
“Abang, bangun! Shalat Subuh” Teriak Ibu dengan suara lantang..
Sontak, gw langsung menempelkan jari telunjuk ke mulut sebagai tanda agar Bayu Barata tidak lagi bersuara dan berjalan berjinjit menuju pintu.. Bodoh memang, sudah pasti suara Bayu Barata yang jelas sosok gaib tidak bisa terdengar oleh Ibu.. Tapi malah gw menyuruhnya membungkam mulut..
TOKK!! TOKK!!!
“Abaaaang!!!” Teriak Ibu kembali setelah mengetuk pintu lagi..
Gw yang sudah berada persis di depan pintu sempat mengacak-acak rambut dan memasang wajah seperti orang yang baru bangun tidur.. Perlahan, gw membuka pintu dan berpura-pura menguap di depan Ibu..
Sosok wanita yang nampak anggun dalam balutan mukena putihnya itu, nampak menatap menyelidik ke arah gw.. Sementara, gw sendiri malah tertegun menatapnya selepas berpura-pura menguap..
“Kamu baru bangun, Bang? Koq Ibu kek denger suara orang ngobrol dari dalem” Kata Ibu sambil menepikan tubuh gw dan memandangi seluruh penjuru kamar..
“Nyari siapa sih, Bu? Abang baru bangun” Kata gw seraya berpura-pura menguap lagi..
Ibu tidak menjawab dan malah memandangi gw kembali.. Kali ini, pandangan mata detektifnya mulai turun menatap tubuh gw yang bertelanjang dada.. Gw sempat mengikuti gerakan mata Ibu yang nampak sedang memperhatikan jejak pasir di lengan kanan gw..
“Abang mandi dulu deh” Ucap gw seraya menyambar handuk dari balik pintu dan menutupi tubuh sambil bergegas berjalan cepat menuju kamar mandi..
Setelah berada didalam kamar mandi, gw baru bisa menghela nafas lega.. Hampir saja Ibu memperhatikan tubuh gw bagian atas yang memang masih terjejaki pasir di beberapa bagiannya.. Untungnya, gw masih bisa dengan cepar menghindari tatapan mata Ibu yang tadi sempat terfokus ke lengan.. Kalo beliau sampai melihat ada jejak pasir di tubuh gw, bisa banyak pertanyaan yang akan terlontar nantinya..
Selepas mandi dan menunaikan Shalat Subuh berjamaah bersama Ibu, gw segera kembali ke kamar dan melihat Bayu Barata juga sedang berdzikir.. Mendengar suara langkah kaki gw, Bayu Barata segera menyudahi dzikirnya dan bangkit menghadap..
“Bayu, aku meminta tolong kau ambilkan pakaian ku yang berwarna hitam di tempat pertempuran semalam.. Aku tidak mau mengecewakan kekasihku jika harus kehilangan pakaian itu, Bayu” Pinta gw sambil membuka kain sarung dan Baju koko putih..
“Baik, Raden.. Aku akan mengambilnya sekarang juga.. Namun, aku mungkin akan kembali sedikit lebih lama.. Aku berniat menemui Pandu Rukmo dan melihat perkembangan Pemuda yang ia jaga”
Gw tertegun mendengar jawaban Bayu Barata.. Ingatan gw kembali ke sosok Pandu Rukmo dan Arya.. Kedua nya memang sempat menjadi lawan kami semua karena berada dalam pengaruh Ajian milik Braja Krama..
“Bagaimana keadaan sahabat ku itu, Bayu? Apakah ia sudah siuman?” Tanya gw yang penasaran akan kondisi Arya..
Bayu Barata tersenyum mendengar pertanyaan gw barusan..
“Alhamdulillah, sahabat mu telah siuman, Raden.. Akan tetapi, keadaannya masih benar-benar lemah.. Selepas aku mengantarkan mereka berdua, Pandu Rukmo dan sahabat mu berpesan akan segera menemui mu untuk meminta maaf secara langsung”
Gw tersenyum lega mendengar kabar yang disampaikan Bayu Barata.. Alhamdulillah, baik Pandu Rukmo dan Arya sama-sama sudah sadar dan terbebas dari pengaruh Ajian milik mantan Penguasa Gaib Tanah Pasundan..
“Aku sebaiknya pamit sekarang, Raden.. Ibu mu sesaat lagi akan datang kesini” Ucap bayu Barata sambil merapatkan kedua tangan dan menatap ke arah pintu kamar..
Benar saja ucapan Bayu Barata, suara ketuka tak lama terdengar setelah ia selesai berucap.. Gw yang sempat terkejut melihat sosok Bayu Barata sudah lenyap, segera berjalan menuju pintu..
“Kamu mau nemenin Ibu sarapan ga, Bang?” Tanya Ibu yang sudah membuka mukenanya..
Gw tersenyum dan menganggukkan kepala sebagai jawaban untuk Ibu..
“Abang pake kaus dulu ya, Bu” Ucap gw yang di balas oleh senyuman Ibu, lalu wanita itu beranjak pergi menuju dapur..
Gw segera memakai kaus singlet berwarna hitam dan berjalan mengikuti Ibu dengan bagian bawah hanya mengenakan boxer.. Aroma nasi goreng buatan Ibu yang tertangkap di indera penciuman gw, seketika merangsang nafsu makan gw.. Ibu yang melihat gw datang, segera mengambil piring dan menyendokkan gw nasi goreng buatannya..
“Untungnya kamu ga jadi nginep di rumah Bimo, Bang.. Kalo sampe maksa nginep, Ibu udah siapin amunisi buat ngomel dan bikin kuping kamu merah” Kata Ibu sambil menyodorkan sepiring nasi goreng ke hadapan gw..
Untuk beberapa saat, gw tidak menjawab ucapan Ibu dan malah tertegun menatap sepiring nasi goreng buatan Ibu yang masih mengepul dan sudah terhidang tepat di hadapan mata.. Entah mengapa rasa syukur teramat sangat perlahan terbit dalam batin, karena masih bisa berjumpa dan berkumpul bersama Ibu..
Bersamaan dengan itu muncul pula rasa sedih disebabkan bayangan wajah Bayu Ambar tercipta di dalam benak.. Tanpa sadar, dua airmata menetes jatuh di pipi.. Dengan cepat, gw seka airmata itu sebelum Ibu menyadarinya.. Tapi gagal, pandangan Ibu mulai menatap gw dengan sorot mata menyelidiki..
“Kamu kenapa, Bang? Koq malah nangisin nasi goreng Ibu?” Tanya Ibu yang membuat gw sempat tergagap..
“Ga apa-apa, Bu.. Abang terharu aja masih bisa di bikinin nasi goreng sama Ibu.. Banyak orang diluar sana yang bahkan ga bisa makan” Jawab gw yang malah membuat Ibu tertawa..
Gw sempat menanyakan diri sendiri atas jawaban yang barusan terlisan dari mulut, malah di tertawakan oleh Ibu.. Memang jawaban itu terdengar klise dan mengada-ada.. Tapi, Cuma itu yang terlintas dalam benak gw.. Sambil mengangkat sesendok nasi goreng di sendok makan, gw sempat melirik ke arah Ibu yang masih berusaha menahan tawa..
“Ibu koq malah ketawa?” Tanya gw dengan mulut dipenuhi nasi..
“Ga, Ibu lucu aja.. Jawaban kamu tumben lagi bener banget, Bang.. Oh iya, Anggie kenapa beda banget semalam ya, Bang?”
Gw sontak berhenti menguyah dan menatap Ibu dengan tatapan heran.. Benak gw kembali mengingat ke masa beberapa jam sebelumnya.. Masa dimana Nyai Lingga masih memenuhi permintaan gw untuk menjelma menjadi Anggie dan ikut menerima lamaran dari Ibu serta beberapa orang utusan keluarga kami..
“Maksud Ibu, Anggie aneh gimana?” Tanya gw semakin penasaran, khawatir Nyai Lingga tidak menjalankan tugas dengan baik..
Ibu sempat menunda jawaban dan menuang kan air ke dalam dua buah gelas kosong, yang salah satunya disodorkan ke arah gw.. Perlahan, Ibu meneguk air tersebut dari gelasnya dan menatap gw dengan pandangan aneh.. Sekilas, gw sempat melihat raut ketidaksukaan muncul di sorot mata Ibu..
Sayup-sayup, suara adzan Subuh berkumandang saling sahut dari tiap Mushola dan Masjid.. Gw segera beranjak dari atas tempat tidur dan berjalan menuju pintu..
“Maaf, Raden.. Tolong berhenti sejenak” Ucap Bayu Barata yang menghentikan langkah kaki gw..
Dengan sedikit bingung akan maksud panggilan Bayu Barata barusan, gw membalikkan badan menghadapnya.. Untuk sesaat, wajah Bayu Barata nampak seperti sedang gelisah antara ingin mengutarakan sesuatu atau tidak.. Sesekali pandangannya yang menatap gw, terlempar ke arah lain.. Seolah segan membalas tatapan mata ini..
“Ada apa, Bayu?” Tanya gw dengan kening berkerut melihat tingkah aneh Bayu Barata..
Jin Penjaga gw yang kedua itu sempat membalas tatapan mata gw.. Namun tiba-tiba ia menundukkan wajah dan duduk bersimpuh sambil merapatkan dua telapak tangan di depan dada bidangnya.. Gw yang melihat Bayu Barata seperti itu, kian merasa heran..
“Apa yang sebenarnya terjadi, Bayu? Mengapa kau bersimpuh seperti itu?”
“Ampuni aku, Raden.. Karena kesalahan ku yang telah lalai menjaga Ibu mu sewaktu sakit, aku berhasil di tawan Braja Krama.. Dan dalam pengaruh nya, aku pasti pernah mencoba mencelakai mu atau sosok sahabat gaib yang lain.. Mohon ampuni Jin Penjaga mu yang berilmu rendah ini, Raden”
Gw sempat tercengang mendengar permohonan ampun terlontar dari lisan Bayu Barata.. Tanpa pikir panjang, gw melangkah mendekati Bayu Barata yang masih duduk bersimpuh sambil menundukan kepala.. Perlahan, gw memegang dua lengan kekar Bayu Barata dan mengajaknya untuk bangkit berdiri kembali..
“Angkat wajah mu dan tatap mataku, Bayu” Pinta gw ke Bayu Barata setelah melepas pegangan tangan di lengannya..
Dengan gerakan lambat, Bayu Barata mengangkat wajah dan menatap kedua mata gw.. Akan tetapi, pandangan Jin itu nampak masih jelas menyiratkan sorot mata yang segan.. Gw tersenyum melihat reaksi Bayu Barata, lalu memegang lengan kanannya..
“Bayu Barata, sudah berapa kali aku bilang bahwa aku tidak pernah menganggap mu sebagai Jin Penjaga.. Kau sahabat ku seperti halnya Sekar Kencana.. Dan tentang tertangkapnya dirimu oleh Braja Krama, tentu saja itu semua bukan salah mu.. Jadi, berhenti menyalahkan diri mu sendiri, Bayu.. Lagi pula, masa itu telah kita lewati.. Sekarang, aku mau kau tetap menjadi sahabat baikku dari alam gaib dan lupakan semua”
Bayu Barata nampak tersenyum mendengar penuturan gw sambil menganggukkan kepalanya satu kali.. Gw memang selalu menggunakan istilah Jin Penjaga yang kedua untuk menggantikan nama Bayu Barata di dalam kisah kami ini.. Akan tetapi, itu hanya dalam cerita.. Secara nyata, gw tidak pernah memanggil Bayu Barata dengan sebutan Jin Penjaga Kedua.. Karena memang bagi gw, baik Sekar Kencana dan Bayu Barata adalah dua sosok gaib yang sama-sama gw sayangi sebagai sahabat..
“Terima kasih atas pengertian mu, Raden.. Aku benar-benar bangga bisa menjadi Penjaga seorang pemuda seperti mu.. Aku berjanji akan terus menjaga mu serta seluruh keluarga mu hingga masa bakti ku usai” Ucap Bayu Barata dengan suara mantap dan kedua mata berbinar..
Gw yang mendengar ucapan Bayu Barata, juga melempar senyuman dan menepuk lengannya satu kali..
“Ya sudah, aku sebaiknya mandi sekarang sebelum menunaikan Shalat Subuh” Kata gw seraya hendak membalikkan tubuh..
“Tunggu, Raden” Panggil Bayu Barata lagi yang membuat gw mengurungkan niat dan kembali menatapnya heran..
“Maaf, Raden.. Sebaiknya, aku salurkan terlebih dahulu tenaga dalam ke tubuhmu.. Aku khawatir kau akan jatuh sakit jika memaksakan diri untuk tidak istirahat dengan tenaga dalam yang tersisa sedikit setelah pertempuran” Ucap Bayu Barata memberikan saran..
Gw menganggukkan kepala setelah sempat terdiam menimbang bahwa saran Bayu Barata benar adanya.. Tanpa pikir panjang, gw langsung duduk bersila membelakangi Bayu Barata..
“Raden, bolehkah aku menggunakan sedikit Ajian yang akan membuat rasa lelah dan kantuk mu hilang?” Tanya Bayu Barata sebelum menempelkan dua telapak tangannya di punggung gw..
Mendengar hal tersebut, gw langsung menganggukkan kepala sebagai pertanda memberikan izin ke Bayu Barata..
“Pejamkan kedua mata mu, Raden.. Aku akan mulai menggunakan Ajian itu dan setelahnya menyalurkan tenaga dalam ku ke tubuh mu” Pinta Bayu Barata..
Gw melakukan apa yang diinginkan oleh Bayu Barata.. Kedua mata gw pun mulai terpejam.. Perlahan, kedua telapak tangan Bayu Barata memegang pelipis kiri dan kanan gw..
DREETTTT...
Gw sempat menaikkan kedua alis diatas mata yang terpejam, begitu merasakan getaran muncul dari dua telapak tangan Bayu Barata.. Lalu, masih dari telapak tangan Jin Penjaga gw itu, mengalir hawa sejuk yang merasuk ke dalam pori-pori kulit pelipis.. Yang terjadi kemudian, gw merasakan kepala terasa jauh lebih ringan..
Setelah menggunakan Ajian yang namanya tidak disebutkan, Bayu Barata melepas dua telapak tangan dan menempelkannya ke punggung.. Kembali gw merasakan aliran hawa dari dua telapak tangan Bayu Barata.. Namun kali ini bukan hawa sejuk.. Melainkan hawa hangat yang merasuk lewat punggung dan menyebar ke seluruh tubuh..
Untuk sesaat, gw merasakan tubuh diselimuti hawa hangat yang luar biasa nyaman.. Hingga akhirnya, Bayu Barata menghela nafas lega dan melepaskan dua telapak tangannya dari punggung..
Gw yang menyadari Bayu Barata telah menyelesaikan prosesi penyaluran tenaga dalam, segera membuka kedua mata.. Ajaib, segala rasa kantuk yang tadi sempat menggelayuti kedua pelupuk mata, mendadak lenyap.. Pandangan gw pun terlihat semakin tegar dan terang..
Sedikit cepat gw beranjak bangkit dan tertegun merasakan tubuh yang tadinya lemah karena kekurangan tenaga, tiba-tiba terasa segar.. Sebuah senyuman merekah gw kembangkan untuk Bayu Barata, sebagai ungkapan awal akan bantuannya..
“Terima kasih, Bayu.. Tubuh ku terasa sangat segar.. Rasa kantuk dan lelah hilang karena bantuan mu”
Bayu Barata sontak menyunggingkan senyuman sumringah melihat gw yang sedang menggerak-gerakkan tubuh kekiri dan kanan dengan penuh semangat..
“Jika seperti ini, aku siap melawan Braja Krama sekali lagi, Bayu” Ujar gw mencoba berkelakar dan membuat Bayu Barata tertawa..
Namun, suara tawa Bayu Barata seketika lenyap saat suara ketukan pintu kamar gw terdengar..
“Abang, bangun! Shalat Subuh” Teriak Ibu dengan suara lantang..
Sontak, gw langsung menempelkan jari telunjuk ke mulut sebagai tanda agar Bayu Barata tidak lagi bersuara dan berjalan berjinjit menuju pintu.. Bodoh memang, sudah pasti suara Bayu Barata yang jelas sosok gaib tidak bisa terdengar oleh Ibu.. Tapi malah gw menyuruhnya membungkam mulut..
TOKK!! TOKK!!!
“Abaaaang!!!” Teriak Ibu kembali setelah mengetuk pintu lagi..
Gw yang sudah berada persis di depan pintu sempat mengacak-acak rambut dan memasang wajah seperti orang yang baru bangun tidur.. Perlahan, gw membuka pintu dan berpura-pura menguap di depan Ibu..
Sosok wanita yang nampak anggun dalam balutan mukena putihnya itu, nampak menatap menyelidik ke arah gw.. Sementara, gw sendiri malah tertegun menatapnya selepas berpura-pura menguap..
“Kamu baru bangun, Bang? Koq Ibu kek denger suara orang ngobrol dari dalem” Kata Ibu sambil menepikan tubuh gw dan memandangi seluruh penjuru kamar..
“Nyari siapa sih, Bu? Abang baru bangun” Kata gw seraya berpura-pura menguap lagi..
Ibu tidak menjawab dan malah memandangi gw kembali.. Kali ini, pandangan mata detektifnya mulai turun menatap tubuh gw yang bertelanjang dada.. Gw sempat mengikuti gerakan mata Ibu yang nampak sedang memperhatikan jejak pasir di lengan kanan gw..
“Abang mandi dulu deh” Ucap gw seraya menyambar handuk dari balik pintu dan menutupi tubuh sambil bergegas berjalan cepat menuju kamar mandi..
Setelah berada didalam kamar mandi, gw baru bisa menghela nafas lega.. Hampir saja Ibu memperhatikan tubuh gw bagian atas yang memang masih terjejaki pasir di beberapa bagiannya.. Untungnya, gw masih bisa dengan cepar menghindari tatapan mata Ibu yang tadi sempat terfokus ke lengan.. Kalo beliau sampai melihat ada jejak pasir di tubuh gw, bisa banyak pertanyaan yang akan terlontar nantinya..
Selepas mandi dan menunaikan Shalat Subuh berjamaah bersama Ibu, gw segera kembali ke kamar dan melihat Bayu Barata juga sedang berdzikir.. Mendengar suara langkah kaki gw, Bayu Barata segera menyudahi dzikirnya dan bangkit menghadap..
“Bayu, aku meminta tolong kau ambilkan pakaian ku yang berwarna hitam di tempat pertempuran semalam.. Aku tidak mau mengecewakan kekasihku jika harus kehilangan pakaian itu, Bayu” Pinta gw sambil membuka kain sarung dan Baju koko putih..
“Baik, Raden.. Aku akan mengambilnya sekarang juga.. Namun, aku mungkin akan kembali sedikit lebih lama.. Aku berniat menemui Pandu Rukmo dan melihat perkembangan Pemuda yang ia jaga”
Gw tertegun mendengar jawaban Bayu Barata.. Ingatan gw kembali ke sosok Pandu Rukmo dan Arya.. Kedua nya memang sempat menjadi lawan kami semua karena berada dalam pengaruh Ajian milik Braja Krama..
“Bagaimana keadaan sahabat ku itu, Bayu? Apakah ia sudah siuman?” Tanya gw yang penasaran akan kondisi Arya..
Bayu Barata tersenyum mendengar pertanyaan gw barusan..
“Alhamdulillah, sahabat mu telah siuman, Raden.. Akan tetapi, keadaannya masih benar-benar lemah.. Selepas aku mengantarkan mereka berdua, Pandu Rukmo dan sahabat mu berpesan akan segera menemui mu untuk meminta maaf secara langsung”
Gw tersenyum lega mendengar kabar yang disampaikan Bayu Barata.. Alhamdulillah, baik Pandu Rukmo dan Arya sama-sama sudah sadar dan terbebas dari pengaruh Ajian milik mantan Penguasa Gaib Tanah Pasundan..
“Aku sebaiknya pamit sekarang, Raden.. Ibu mu sesaat lagi akan datang kesini” Ucap bayu Barata sambil merapatkan kedua tangan dan menatap ke arah pintu kamar..
Benar saja ucapan Bayu Barata, suara ketuka tak lama terdengar setelah ia selesai berucap.. Gw yang sempat terkejut melihat sosok Bayu Barata sudah lenyap, segera berjalan menuju pintu..
“Kamu mau nemenin Ibu sarapan ga, Bang?” Tanya Ibu yang sudah membuka mukenanya..
Gw tersenyum dan menganggukkan kepala sebagai jawaban untuk Ibu..
“Abang pake kaus dulu ya, Bu” Ucap gw yang di balas oleh senyuman Ibu, lalu wanita itu beranjak pergi menuju dapur..
Gw segera memakai kaus singlet berwarna hitam dan berjalan mengikuti Ibu dengan bagian bawah hanya mengenakan boxer.. Aroma nasi goreng buatan Ibu yang tertangkap di indera penciuman gw, seketika merangsang nafsu makan gw.. Ibu yang melihat gw datang, segera mengambil piring dan menyendokkan gw nasi goreng buatannya..
“Untungnya kamu ga jadi nginep di rumah Bimo, Bang.. Kalo sampe maksa nginep, Ibu udah siapin amunisi buat ngomel dan bikin kuping kamu merah” Kata Ibu sambil menyodorkan sepiring nasi goreng ke hadapan gw..
Untuk beberapa saat, gw tidak menjawab ucapan Ibu dan malah tertegun menatap sepiring nasi goreng buatan Ibu yang masih mengepul dan sudah terhidang tepat di hadapan mata.. Entah mengapa rasa syukur teramat sangat perlahan terbit dalam batin, karena masih bisa berjumpa dan berkumpul bersama Ibu..
Bersamaan dengan itu muncul pula rasa sedih disebabkan bayangan wajah Bayu Ambar tercipta di dalam benak.. Tanpa sadar, dua airmata menetes jatuh di pipi.. Dengan cepat, gw seka airmata itu sebelum Ibu menyadarinya.. Tapi gagal, pandangan Ibu mulai menatap gw dengan sorot mata menyelidiki..
“Kamu kenapa, Bang? Koq malah nangisin nasi goreng Ibu?” Tanya Ibu yang membuat gw sempat tergagap..
“Ga apa-apa, Bu.. Abang terharu aja masih bisa di bikinin nasi goreng sama Ibu.. Banyak orang diluar sana yang bahkan ga bisa makan” Jawab gw yang malah membuat Ibu tertawa..
Gw sempat menanyakan diri sendiri atas jawaban yang barusan terlisan dari mulut, malah di tertawakan oleh Ibu.. Memang jawaban itu terdengar klise dan mengada-ada.. Tapi, Cuma itu yang terlintas dalam benak gw.. Sambil mengangkat sesendok nasi goreng di sendok makan, gw sempat melirik ke arah Ibu yang masih berusaha menahan tawa..
“Ibu koq malah ketawa?” Tanya gw dengan mulut dipenuhi nasi..
“Ga, Ibu lucu aja.. Jawaban kamu tumben lagi bener banget, Bang.. Oh iya, Anggie kenapa beda banget semalam ya, Bang?”
Gw sontak berhenti menguyah dan menatap Ibu dengan tatapan heran.. Benak gw kembali mengingat ke masa beberapa jam sebelumnya.. Masa dimana Nyai Lingga masih memenuhi permintaan gw untuk menjelma menjadi Anggie dan ikut menerima lamaran dari Ibu serta beberapa orang utusan keluarga kami..
“Maksud Ibu, Anggie aneh gimana?” Tanya gw semakin penasaran, khawatir Nyai Lingga tidak menjalankan tugas dengan baik..
Ibu sempat menunda jawaban dan menuang kan air ke dalam dua buah gelas kosong, yang salah satunya disodorkan ke arah gw.. Perlahan, Ibu meneguk air tersebut dari gelasnya dan menatap gw dengan pandangan aneh.. Sekilas, gw sempat melihat raut ketidaksukaan muncul di sorot mata Ibu..
dodolgarut134 dan 12 lainnya memberi reputasi
13