- Beranda
- Stories from the Heart
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)
...
TS
juraganpengki
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)

Cool Cover By Agan Linbara (Thanks, Bree)..
Prolog
Setelah bangun dari ‘Mati Suri’ karena memutuskan untuk mencoba membunuh diri sendiri untuk melindungi Kitab Langit dan melenyapkan Bayu Ambar, gw kembali ke dunia nyata.. Kehidupan gw sedikit jauh berbeda, karena pengalaman ‘Mati Suri’ itu berefek langsung pada kelebihan yang gw miliki.. Gw masih sama Anggie, meski ujian atas cinta kami masih saja mendera.. Ada musuh baru, tentu saja.. Tapi ada juga sahabat baru yang muncul.. Karena ini akhir dari cerita kami berempat..
Kembalinya Anak Ibu...
Pengorbanan Pedang Jagat Samudera...
Cintai Aku Sewajarnya, Yank...
Matinya Seorang Saudara (Versi Gw/Bimo)
Berkumpul Kembali...
Keanehan Yang Mulai Muncul...
Sambutan Ketiga Saudara Ke Reinata...
Sabar???
Cukup! Tinggalin Aku Sendiri!!!
Siapa Kau???
Aku Ikutin Kemauan Kamu...
Keputusan Sepihak Yang Pahit...
Semua Beban Menjadi satu
Semua Beban Menjadi Satu (2)...
Serangkum Rindu Untuk Ayah...
Munculnya Penguasa Laut Utara...
Bertemunya Dua Penguasa...
Sebuah Kesepakatan...
Ibu Kenapa Yah???
Lu Kenapa, Ka???
Wanted Dead Or Alive.. ANTON!!!
Mo 'Perabotan' Lu Hancur Apa Tanggung Jawab???
It's The End Of Us...
Di Kerjain Ibu...
Ridho!!!
Kelewatan!!!
Munculnya Dua Penjaga Gerbang Kerajaan Laut...
Dewi Arum Kesuma VS Dewi Ayu Anjani
Datangnya Sosok Seorang Pemisah Dan Shock Therapy Buat Gw...
Kerajaan Jin...
Terkuaknya Semua Jawaban...
Maafin Gw, Bree...
Pengakuan Suluh...
Akhirnya Boleh Gondrong...
Pernikahan Kak Silvi Yang Seharusnya Membuat Gw Bahagia...
Pernikahan Kak Silvi Yang seharusnya Membuat Gw Bahagia (2)...
Tunggu Pembalasan Gw!!!...
Ni Mas Linduri dan Banas Ireng...
Dua Sosok Penyelamat Misterius...
Ada Apa Sama Ridho?...
Kesalahan Fatal...
Kembalinya Jin Penjaga Ridho dan Suluh...
Akibat Terlalu Ikut Campur...
Setiap Perbuatan Akan Mendapat Balasan...
Munculnya Viny Dan Sebuah Tantangan Bertarung...
Manusia Cabul...
Suara Penolong Misterius...
Bertemunya Kembali Sepasang Kekasih...
Terkuaknya Kebenaran...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar (2)...
Jaket Dan Celana Jeans Robek Serta Sweater Hitam Kumal...
She's My True Love...
Dilema...
Pertengkaran Dengan Ibu...
Rambe Lantak...
Gendewa Panah Pramesti...
Akan Ku Balaskan Dendam Mu, Arum Kesuma!!!
Yang Hilang dan Yang Kembali...
Jawaban Ayu...
Mati Gw!!!
Aku Makin Sayang...
Nasihat Om Hendra...
Jera Mencuri...
Ajian Segoro Geni...
Pilihan Sulit...
Keputusasaan Anggie...
Kabar Baik dari Ridho dan Suluh...
Perjalanan Menuju Pembalasan Dendam...
Rawa Rontek...
Rawa Rontek 2 (Terbayarnya Dendam)...
Kedatangan Pak Sugi...
Orang Titipan...
Hukuman Paling Berat...
Tidurlah Di Pangkuan Ku...
Menjajal Kesaktian...
Menjajal Kesaktian (2)...
Pengakuan Mengejutkan Babeh Misar...
Pengajaran Ilmu Silat Betawi...
Di Kepret Babeh Misar Lagi...
Tasya...
Naga Caglak dan Bajing Item...
Misteri Sebuah Dendam...
Kekuatan Sejati Kitab Langit Bagian Matahari...
Perpisahan...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera (2)...
Kembalinya Ibu...
Empat Bayangan Hitam...
Siapa Ni Mas Laras Rangkuti???
Dendam Seorang Sahabat...
Ini Keputusan Yang Harus Gw Ambil...
Semua Pengorbanan Ini Demi Ibu...
Rapuh...
Kabar Mengejutkan Sekar dan Sebuah Restu...
Siasat Braja Krama...
Munculnya Kitab Langit...
Si Pembuka Kitab langit dan Sosok Asli Pak Sugi...
Rencana Yang Matang...
Lamaran Pribadi...
Keingintahuan Anggie...
Perubahan Rencana...
Hampir Terjebak...
Kekecewaan Sekar...
Dua Syarat Reinata...
Aku Harap Kamu dan Anggie Bahagia, Mam...
Rahasia Sepasang Suami Isteri...
Menitipkan Amanah...
Berkumpulnya Para Pembela Kitab Langit...
Siasat Ki Purwagalih...
Raja Jin Raja Muslihat (Nyesek, Bree)...
Pertukaran Tawanan...
Perang Gaib PunTak Terelakkan...
Sang Penyelamat Dari Utara...
Pertempuran Awal Dua Penguasa Kerajaan Gaib...
Bertekuk Lututnya Sekutu Braja Krama...
Pertarungan Dua Putera (Gugurnya Satu Sahabat Gaib)...
Krama Raja...
Braja Krama Versus Krama Raja...
Raja Licik...
Aku Lah Sang Pembuka...
Siasat Krama Raja dan Bayu Ambar...
Terbukanya Semua Ilmu Terlarang...
Sebuah Pengecualian...
Sri Baduga Maharaja...
Hilangnya Sebuah Pengecualian...
Hilangnya Sebuah Pengecualian (2)...
Sebuah Pengorbanan...
Pahlawan...
Sumpah...
Ilmu Pamungkas yang Terlarang...
Kabar Yang Mengejutkan...
Pulang...
Pulang (2)...
Sedikit Kisah Rio Sebelum Kisah Ini Tamat...
Terhalang Sumpah...
Bantuan Sahabat Baik...
Bachelor Party...
Keturunan Lain Sang Prabu...
Pembalasan Dendam Singgih...
Sepenggal Kisah Nyi Mas Roro Suwastri...
Tawaran Yang Mengejutkan...
Lawan Atau Kawan???
Terkuaknya Silsilah...
Sebuah Kebenaran...
Sebuah Kebenaran (2)...
Bertemunya Dua Keturunan Sang Prabu...
Pertempuran Dua Hati...
Cinta Pertama VS Cinta Terakhir Jagat Tirta...
Pengakuan Bayu Barata...
Ki Larang dan Nyi Mas Galuh Pandita???
Prana Kusuma...
Kau Benar Keturunan Kami, Ngger...
Our Big Day...
Insiden...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga (2)...
Dua Tamu Istimewa...
Semua Karena Cinta...
Keputusan Sekar Kencana...
Kena Gampar...
Bonyok!!!
RIBET!!!
Berdamai...
Keponakan Baru...
Malam Pertama dan Tiga Keanehan...
Ajian Warisan Para Leluhur (The Last Part/End Of All Chapters)
SIDE STORIES
Keturunan Yang Tersesat...
Keturunan Yang Tersesat (2)...

Cool Cover By Agan Linbara (Thanks, Bree)..
Prolog
Setelah bangun dari ‘Mati Suri’ karena memutuskan untuk mencoba membunuh diri sendiri untuk melindungi Kitab Langit dan melenyapkan Bayu Ambar, gw kembali ke dunia nyata.. Kehidupan gw sedikit jauh berbeda, karena pengalaman ‘Mati Suri’ itu berefek langsung pada kelebihan yang gw miliki.. Gw masih sama Anggie, meski ujian atas cinta kami masih saja mendera.. Ada musuh baru, tentu saja.. Tapi ada juga sahabat baru yang muncul.. Karena ini akhir dari cerita kami berempat..
Kembalinya Anak Ibu...
Pengorbanan Pedang Jagat Samudera...
Cintai Aku Sewajarnya, Yank...
Matinya Seorang Saudara (Versi Gw/Bimo)
Berkumpul Kembali...
Keanehan Yang Mulai Muncul...
Sambutan Ketiga Saudara Ke Reinata...
Sabar???
Cukup! Tinggalin Aku Sendiri!!!
Siapa Kau???
Aku Ikutin Kemauan Kamu...
Keputusan Sepihak Yang Pahit...
Semua Beban Menjadi satu
Semua Beban Menjadi Satu (2)...
Serangkum Rindu Untuk Ayah...
Munculnya Penguasa Laut Utara...
Bertemunya Dua Penguasa...
Sebuah Kesepakatan...
Ibu Kenapa Yah???
Lu Kenapa, Ka???
Wanted Dead Or Alive.. ANTON!!!
Mo 'Perabotan' Lu Hancur Apa Tanggung Jawab???
It's The End Of Us...
Di Kerjain Ibu...
Ridho!!!
Kelewatan!!!
Munculnya Dua Penjaga Gerbang Kerajaan Laut...
Dewi Arum Kesuma VS Dewi Ayu Anjani
Datangnya Sosok Seorang Pemisah Dan Shock Therapy Buat Gw...
Kerajaan Jin...
Terkuaknya Semua Jawaban...
Maafin Gw, Bree...
Pengakuan Suluh...
Akhirnya Boleh Gondrong...
Pernikahan Kak Silvi Yang Seharusnya Membuat Gw Bahagia...
Pernikahan Kak Silvi Yang seharusnya Membuat Gw Bahagia (2)...
Tunggu Pembalasan Gw!!!...
Ni Mas Linduri dan Banas Ireng...
Dua Sosok Penyelamat Misterius...
Ada Apa Sama Ridho?...
Kesalahan Fatal...
Kembalinya Jin Penjaga Ridho dan Suluh...
Akibat Terlalu Ikut Campur...
Setiap Perbuatan Akan Mendapat Balasan...
Munculnya Viny Dan Sebuah Tantangan Bertarung...
Manusia Cabul...
Suara Penolong Misterius...
Bertemunya Kembali Sepasang Kekasih...
Terkuaknya Kebenaran...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar (2)...
Jaket Dan Celana Jeans Robek Serta Sweater Hitam Kumal...
She's My True Love...
Dilema...
Pertengkaran Dengan Ibu...
Rambe Lantak...
Gendewa Panah Pramesti...
Akan Ku Balaskan Dendam Mu, Arum Kesuma!!!
Yang Hilang dan Yang Kembali...
Jawaban Ayu...
Mati Gw!!!
Aku Makin Sayang...
Nasihat Om Hendra...
Jera Mencuri...
Ajian Segoro Geni...
Pilihan Sulit...
Keputusasaan Anggie...
Kabar Baik dari Ridho dan Suluh...
Perjalanan Menuju Pembalasan Dendam...
Rawa Rontek...
Rawa Rontek 2 (Terbayarnya Dendam)...
Kedatangan Pak Sugi...
Orang Titipan...
Hukuman Paling Berat...
Tidurlah Di Pangkuan Ku...
Menjajal Kesaktian...
Menjajal Kesaktian (2)...
Pengakuan Mengejutkan Babeh Misar...
Pengajaran Ilmu Silat Betawi...
Di Kepret Babeh Misar Lagi...
Tasya...
Naga Caglak dan Bajing Item...
Misteri Sebuah Dendam...
Kekuatan Sejati Kitab Langit Bagian Matahari...
Perpisahan...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera (2)...
Kembalinya Ibu...
Empat Bayangan Hitam...
Siapa Ni Mas Laras Rangkuti???
Dendam Seorang Sahabat...
Ini Keputusan Yang Harus Gw Ambil...
Semua Pengorbanan Ini Demi Ibu...
Rapuh...
Kabar Mengejutkan Sekar dan Sebuah Restu...
Siasat Braja Krama...
Munculnya Kitab Langit...
Si Pembuka Kitab langit dan Sosok Asli Pak Sugi...
Rencana Yang Matang...
Lamaran Pribadi...
Keingintahuan Anggie...
Perubahan Rencana...
Hampir Terjebak...
Kekecewaan Sekar...
Dua Syarat Reinata...
Aku Harap Kamu dan Anggie Bahagia, Mam...
Rahasia Sepasang Suami Isteri...
Menitipkan Amanah...
Berkumpulnya Para Pembela Kitab Langit...
Siasat Ki Purwagalih...
Raja Jin Raja Muslihat (Nyesek, Bree)...
Pertukaran Tawanan...
Perang Gaib PunTak Terelakkan...
Sang Penyelamat Dari Utara...
Pertempuran Awal Dua Penguasa Kerajaan Gaib...
Bertekuk Lututnya Sekutu Braja Krama...
Pertarungan Dua Putera (Gugurnya Satu Sahabat Gaib)...
Krama Raja...
Braja Krama Versus Krama Raja...
Raja Licik...
Aku Lah Sang Pembuka...
Siasat Krama Raja dan Bayu Ambar...
Terbukanya Semua Ilmu Terlarang...
Sebuah Pengecualian...
Sri Baduga Maharaja...
Hilangnya Sebuah Pengecualian...
Hilangnya Sebuah Pengecualian (2)...
Sebuah Pengorbanan...
Pahlawan...
Sumpah...
Ilmu Pamungkas yang Terlarang...
Kabar Yang Mengejutkan...
Pulang...
Pulang (2)...
Sedikit Kisah Rio Sebelum Kisah Ini Tamat...
Terhalang Sumpah...
Bantuan Sahabat Baik...
Bachelor Party...
Keturunan Lain Sang Prabu...
Pembalasan Dendam Singgih...
Sepenggal Kisah Nyi Mas Roro Suwastri...
Tawaran Yang Mengejutkan...
Lawan Atau Kawan???
Terkuaknya Silsilah...
Sebuah Kebenaran...
Sebuah Kebenaran (2)...
Bertemunya Dua Keturunan Sang Prabu...
Pertempuran Dua Hati...
Cinta Pertama VS Cinta Terakhir Jagat Tirta...
Pengakuan Bayu Barata...
Ki Larang dan Nyi Mas Galuh Pandita???
Prana Kusuma...
Kau Benar Keturunan Kami, Ngger...
Our Big Day...
Insiden...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga (2)...
Dua Tamu Istimewa...
Semua Karena Cinta...
Keputusan Sekar Kencana...
Kena Gampar...
Bonyok!!!
RIBET!!!
Berdamai...
Keponakan Baru...
Malam Pertama dan Tiga Keanehan...
Ajian Warisan Para Leluhur (The Last Part/End Of All Chapters)
SIDE STORIES
Keturunan Yang Tersesat...
Keturunan Yang Tersesat (2)...
Diubah oleh juraganpengki 15-07-2018 20:23
iskrim dan 132 lainnya memberi reputasi
127
2.1M
8K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
juraganpengki
#6229
Pulang...
Gw tersentak mendengar Anggie barusan berucap kasar kepada sosok yang seharusnya sangat ia hormati.. Tanpa ragu, gw mencoba memegang lengan gadis itu.. Namun kembali ia tepis.. Bahkan kali ini, tatapan nanarnya juga menyorot menatap gw..
Lain hal dengan sosok Sri Baduga Maharaja sendiri.. Meski Beliau sempat menyembunyikan raut keterkejutan, akan tetapi dengan cepat Beliau mengulum senyuman manis sebagai penggantinya.. Sang Prabu juga nampak menggelengkan kepala ke arah gw yang hendak mencoba lagi memegang lengan Anggie..
“Biarkan gadis keturunan ku mencurahkan keluh kesahnya, keturunan Braja Krama”
Gw sempat tertegun mendengar suara berat penuh kharisma Sri Baduga Maharaja, yang terdengar dalam batin.. Lalu mengurungkan niat untuk memegang lengan Anggie.. Sementara, pacar gw itu kembali melempar pandangan nanarnya ke arah sosok Sang Kakek Moyang..
“Sekali lagi aku tegaskan.. Aku tidak akan membiarkan putera ku tumbuh dengan embel-embel dunia gaib.. Aku adalah calon Ibu nya dan aku yang punya kewajiban untuk membuat putera ku tumbuh dengan baik” Ucap Anggie dengan suara masih bergetar..
Sosok Sri Baduga Maharaja kembali menyunggingkan senyuman manis sebagai jawaban awal dari ucapan Anggie..
“Aku akan menjawab pertanyaan mu yang pertama, cucuku.. Mungkin kau lupa.. Saat kau mencoba mengakhiri hidup, aku sendiri yang membawa sukma mu kembali ke dalam tubuh meski tanpa mewujudkan sosok ku.. Tapi berkat kelebihan yang aku miliki, kau bisa pulih dan terbebas dari segala racun obat yang kau telan”
Anggie nampak cukup terkejut mendengar jawaban Sang Kakek Moyang.. Kening gadis itu berkerut seolah sedang mencoba mengingat-ingat sesuatu dalam benaknya.. Gw sendiri masih terdiam menatap Anggie.. Dalam hati, sebenarnya gw juga bertanya-tanya perihal ucapan Sang Prabu..
“Yang kedua, aku sangat memahami mengapa kau begitu marah mendengar bahwa aku tidak bisa menutupi kelebihan yang akan dimiliki calon putera mu.. Kau adalah calon Ibunya.. sudah sepantasnya kau ingin yang terbaik bagi putera mu.. Tapi sayang, cucuku.. Baik aku, kau atau siapapun tidak bisa mengubah garis takdir yang akan berlaku pada calon putera kalian”
Anggie nampak melempar pandangan ke arah gw dengan kedua mata mulai berkaca-kaca.. Gw langsung meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya erat..
“Aku ga mau anak kita jadi anak aneh nantinya, Beb.. Aku mau dia hidup normal” Ucap Anggie sambil menatap gw dengan dua titik air mata yang mulai mengalir..
Gw tertegun mendengar isak tangis gadis itu.. Dalam hati, gw juga mengiyakan keinginannya.. Gw juga tidak mau calon putera gw nanti akan di cap sebagai seorang anak yang aneh.. Perlahan, gw menyeka airmata yang membasahi pipi Anggie.. Lalu melemparkan pandangan ke arah Sri Baduga Maharaja..
“Eyang, apakah tidak ada cara lain untuk menyelesaikan masalah ini?” Tanya gw dengan wajah memelas..
Sang Prabu nampak terdiam dan menoleh ke arah Macan Kumbang bernama Ki Larang.. Sosok Panglima yang memilih bentuk berwujud seekor harimau berkulit hitam mengkilat diterpa sinar rembulan itu, juga nampak membalas tatapan Junjungannya dengan dua mata bersinar merah mencorong.. Lalu, Sang Prabu terdengar menghela nafas dan kembali menatap gw yang masih menunggu sebuah solusi bersama Anggie..
“Sebenarnya ada satu hal yang bisa aku lakukan”
Baik gw dan Anggie sama-sama tersenyum medengar akan ada penyelesaian dari masalah yang menanti kami dimasa depan.. Sempat saling menatap untuk beberapa saat, gw dan Anggie memasang indera pendengaran kami baik-baik..
“Aku memang tidak bisa menutupi kelebihan yang akan dimiliki putera kalian nanti.. Tapi, aku akan mencoba menekan kelebihannya itu hingga masa aqil balig tiba.. Selepas kalian pulang bersama Bayu Barata, aku akan memberikan Ki Larang sebuah Ajian guna menekan kelebihan di calon putera kalian, sekaligus untuk menyamarkan aura nya agar tidak dapat dirasakan Jin dari golongan hitam”
Mendengar ucapan Sang Kakek Moyang, seketika senyuman Anggie lenyap dari wajah.. Gw yang semula tertegun memikirkan penuturan Sang Prabu, langsung memeluk lengan Anggie.. Gadis itu segera menoleh ke arah gw dengan tatapan tidak berkenan..
“Udah, Yank.. Kamu ga usah bahas lagi masalah ini sama Beliau”
“Tapi, Beb.. Solusi dari dia bukan jalan keluar.. Ini menyangkut calon anak kita” Sanggah Anggie sambil mencoba melepaskan diri dari pelukan gw di lengannya..
“Iya, aku ngerti.. But, please don’t argue anymore.. I’m so tired.. Aku pengen banget balik.. Kita bisa bicarain ini nanti.. Aku takut orang rumah keburu panik nyariin kita”
Anggie mendadak terdiam setelah gw berbicara tentang sosok-sosok manusia yang gw yakin pasti sedang mencari keberadaan kami.. Pertarungan tadi sudah pasti memakan waktu berhari-hari.. Meski perbedaan masa di alam gaib dan alam nyata cukup jauh, tetap saja gw meyakini bahwa waktu terus berjalan..
“Sebaiknya kau turuti ucapan calon suamimu, cucuku.. Aku juga akan segera pergi untuk memberikan Ki Larang Ajian guna menjaga calon putera mu.. Ingat lah baik-baik.. Calon putera mu itu adalah salah satu dari beberapa keturunan ku yang istimewa.. Dan aku berikrar akan selalu melindunginya dengan seizin Sang Pencipta” Ucap Sang Prabu dengan wajah bersungguh-sungguh..
Anggie yang mendengar jaminan dari sosok Kakek Moyangnya, perlahan menghela nafas.. Lalu melempar pandangannya kembali ke arah gw.. Sebuah senyuman gw berikan ke gadis itu yang segera dibalas senyuman sama.. Kemudian, ia menatap wajah sosok Sang Prabu yang masih melayang bersila disebelah Ki Larang..
“Baiklah, Eyang.. Aku mempercayai ucapan mu.. Aku juga memohon maaf karena telah berucap kasar tadi”
Sri Baduga Maharaja terlihat mengulum senyuman manis sambil menganggukkan kepala.. Wajahnya sama sekali tidak menyiratkan kekecewaan maupun kekesalan..
“Aku maaf kan dirimu, cucuku.. Tindakan mu tadi, semata-mata hanya ungkapan marah seorang calon Ibu yang tidak mau sesuatu yang buruk berlaku atas puteranya.. Bayu Barata, sebaiknya kau antarkan mereka pulang sekarang juga” Ucap Sri Baduga Maharaja dengan sangat bijaksana, lalu memerintahkan Jin Penjaga gw yang kedua untuk memulangkan kami..
Gw dan Anggie sempat menundukkan kepala sebagai bentuk salam pernghormatan ke arah Sri Baduga Maharaja, bersamaan dengan dipegangnya bahu kami oleh Bayu Barata..
“Hamba mohon diri, Paduka” Ucap Bayu Barata dengan wajah sama tertunduk ke hadapan Junjungannya..
Perlahan, Bayu Barata meminta gw dan Anggie untuk menutup mata setelah ucapannya di balas oleh anggukan kepala Sang Baginda.. Hembusan angin dingin khas pegunungan sempat menerpa tubuh gw yang masih bertelanjang dada, sebelum akhirnya lenyap bersama Anggie dan Bayu Barata..
“Bukalah mata mu, Raden.. Kita sudah sampai di rumah kekasih mu” Ucap Bayu Barata yang gw balas dengan anggukan kepala dan membuka mata secara perlahan..
Gw sempat mengerutkan dahi melihat Anggie terlihat sedang menatap heran ke tempat tidurnya sendiri.. Lalu perlahan berjalan mendekat dan meraba seprai di atas ranjangnya yang masih nampak sedikit tertekuk.. Kemudian, wajah gadis itu menoleh ke arah jam dinding berwarna pink yang tergantung dia atas dinding, berlawanan dengan posisi ranjang.. Gw juga sempat merasa heran melihat jarum pendek di alat penunjuk waktu itu yangberada di angka 4..
“Kita masih di malam yang sama yah, Beb?” Tanya Anggie yang membuat gw terkejut dan melempar pandangan ke arah Bayu Barata..
“Pertempuran kalian melawan Braja Krama memang hanya memakan waktu beberapa jam saja, Raden.. Setahu ku jalannya waktu di alam gaib dan alam nyata memang berbeda.. Akan tetapi, tidak seharusnya bisa sampai sejauh ini perbedaan itu.. Entah lah, mungkin Sri Baginda yang membuat waktu berjalan sangat cepat di alam gaib” Ucap Bayu Barata yang sempat melirik segan ke arah Anggie..
Mendengar jawaban Bayu Barata, gw hanya bisa menggaruk-garuk kepala.. Seingat gw, pertempuran yang gw lewati bersama beberapa sosok sahabat gaib memang memakan waktu cukup lama.. Bahkan, gw sempat mengira sudah berhari-hari waktu di alam nyata terlewat.. Namun pada kenyataannya, satu malam pun belum berakhir..
“Astaghfirullah, Beb”
Gw seketika terperanjat mendengar Anggie Cumiik sambil menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan.. Kedua mata gadis itu nampak terbelalak menatap gw yang segera mendekat untuk mengetahui apa yang terjadi..
“Kenapa, Yank? Kamu ga apa-apa?” Tanya gw dengan nada cukup panik sambil memegangi dua bahu gadis itu..
Anggie nampak masih membelalakkan mata meski dua telapak tangan nya perlahan terlepas turun dari mulut..
“Kamu kenapa, Yank?” Tanya gw lagi yang mulai diserang rasa cemas melihat tingkah aneh Anggie..
“Sweater hitam kamu ketinggalan”
GUBRAKK!!!
Seketika gw melepas pegangan tangan di bahu Anggie dan menepok jidat sendiri, begitu mengetahui alasan terpekiknya gadis itu adalah karena sebuah sweater hitam kumal.. Tega nya Anggie membuat gw sport jantung melihat reaksinya tadi..
“Kamu bikin aku kaget aja, Yank.. Aku fikir ada apaan, sampe kamu jerit sambil istighfar” Kata gw yang sudah merasa lega setelah menghela nafas panjang..
“Tadi aku sempet lihat Ridho letakin sweater kamu di atas tanah, Beb” Jawab Anggie dengan kedua mata beningnya yang menatap ke atas, seolah sedang mengingat sesuatu..
“Kalo emang ketinggalan, biarin aja.. Toh udah bolong ini sweater aku nya, Yank”
“Ehh, ga bisa.. Enak aja kamu kalo ngomong.. Benda itu berharga buat aku.. Aku pernah di lamar kamu pake sweater itu.. Pokoknya, aku ga mau tahu.. Mau rusak atau engga, sweater itu harus di ambil lagi sama Jin Penjaga kamu” Sanggah Anggie dengan suara sedikit naik, sambil melempar pandangan ke arah Bayu Barata..
Gw yang mendengar kalimat Anggie, hanya bisa menganggukkan kepala dan tersenyum.. Lalu, perlahan gw mencium kening gadis itu dengan sangat lembut.. Anggie membalas ciuman gw dengan sebuah pelukan erat, seolah tak mau lagi kehilangan diri ini.. Pandangan mata gw sempat menoleh ke arah Bayu Barata yang sedang membalikkan badan tak mau memandangi kami..
Dengan penuh kasih sayang, gw pandangi wajah Anggie dalam-dalam..
“Alhamdulillah, apa yang aku takutkan ga terjadi, Yank.. Aku bahagia banget ga ada yang terjadi sama kita berdua” Ucap gw disusul sebuah ciuman hangat di atas kepala Anggie..
“Aku juga, Beb.. Aku bersyukur banget kita selamat” Jawab Anggie yang masih menenggelamkan kepala nya dalam pelukan gw..
Untuk sesaat, gw melepas pelukan dan menatap kembali wajah cantik gadis yang sangat gw cintai itu.. Lalu mencium bibirnya dengan sangat lembut.. Baru saja kami tenggelam dalam buaian birahi, tiba-tiba..
BRAKKK..
Suara dua daun jendela kamar Anggie yang terbuka paksa oleh hantaman angin besar dari luar terdengar keras dan mengejutkan kami berdua.. Bayu Barata yang sempat gw lupakan keberadaannya di dekat kami, langsung menatap nanar ke arah daun jendela untuk sesaat.. Lalu melempar pandangannya kembali ke arah gw dan Anggie..
“Aku merasakan hawa sakti Kakek Moyang kekasih mu, Raden” Ucap Bayu Barata yang membuat gw menatap wajah Anggie lekat-lekat..
Anggie sendiri tersenyum mendengar kalimat Bayu Barata.. Kemudian, mencubit pinggang gw dengan cukup keras.. Gw sempat menjerit kesakitan meski suara gw langsung di tahan oleh telapak tangan Anggie, begitu mendapat serangan cukup mematikan darinya..
“Kamu lupa yah wejangan Kakek Moyang aku tadi?” Kata Anggie sambil melepas tellapak tangannya..
Gw sempat mengingat-ingat kalimat-kalimat bijak yang beberapa saat lalu dilontarkan sosok Sri Baduga Maharaja.. Saat ingatan ini tiba di kalimat Beliau yang memerintahkan gw untuk segera menikahi Anggie agar terhindar dari tindakan keji, baru gw menelan ludah.. Pandangan mata gw sempat terlempar kembali ke dua daun jendela yang barusan terbuka paksa oleh angin besar misterius.. Kemungkinan, yang terjadi beberapa saat lalu adalah peringatan Kakek Moyangnya Anggie agar gw tidak melakukan hal-hal yang menjurus ke perilaku menyimpang..
“Kamu mendingan sekarang pulang terus istirahat, Beb.. Tapi jangan sampe kelewatan Sholat Subuh” Ucap Anggie, lalu meraih telapak tangan gw dan mencium punggungnya dengan lembut..
“Ya udah.. Aku pulang deh.. Dari pada macam-macam disini sama kamu, terus ujung-ujungnya kena damprat Kakek Moyang kamu.. Oh iya, ntar aku minta Bayu Barata buat ambil sweater hitam aku di gunung tadi.. Kamu juga jangan lupa Sholat Subuh ya, Yank” Jawab gw disusul sebuah kecupan mesra di kening Anggie, lalu berjalan menghampiri Bayu Barata..
Sebelum meninggalkan rumah Anggie, gw sempat meminta sesuatu ke Jin Penjaga gw yang kedua.. Gw meminta Bayu Barata untuk memperingatkan Jin jahil yang suka muncul menyerupai mendiang pembatu rumah ini.. Gw khawatir dengan terbukanya mata batin Anggie, dia akan menggunakan kesempatan itu untuk menakuti gadis tersebut..
Sekitar dua menit kemudian, Bayu Barata muncul sambil menganggukkan kepalanya sebagai pertanda ia sudah menjalani apa yang gw minta ia untuk kerjakan.. Sebelum pamit, gw sekali lagi melemparkan senyuman manis ke arah Anggie dan menutup kedua mata secara perlahan-lahan..
Setibanya di dalam kamar, gw melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul empat lewat.. Sebentar lagi memang adzan Subuh akan segera berkumandang.. Suara Bang Juki, seorang merbot mushola yang biasa bershalawat menjelang Subuh, sudah terdengar.. Tapi rasa lelah sudah semakin mendera tubuh.. Belum lagi kantuk yang kian menggelayuti kedua mata..
“Mendingan gw rebahan dulu bentar deh, sambil nunggu Subuh” Ucap gw dalam hati seraya mendudukkan diri diatas tempat tidur dan merebahkan tubuh..
Gw sempat melirik ke arah Bayu Barata yang nampak duduk termenung diatas bangku belajar.. Lalu, gw mencoba menutup kedua mata.. Akan tetapi, bayangan wajah Bayu Ambar selalu muncul tiap kali mata gw terpejam..
Aah.. Gw sama sekali tidak pernah menduga, bahwa sosok musuh yang penuh misterus itu akhirnya memutuskan untuk mengorban kan diri demi keselamatan semua sosok sahabat, terutama gw.. Ia rela menukar nyawa nya untuk menyelsmatkan nyawa gw.. Tapi gw yakin, Allah SWT tidak akan pernah tidur.. Yang Maha Agung, pasti akan memberikan tempat mulia untuk Bayu Ambar atas pengorbanannya itu..
Gw tersentak mendengar Anggie barusan berucap kasar kepada sosok yang seharusnya sangat ia hormati.. Tanpa ragu, gw mencoba memegang lengan gadis itu.. Namun kembali ia tepis.. Bahkan kali ini, tatapan nanarnya juga menyorot menatap gw..
Lain hal dengan sosok Sri Baduga Maharaja sendiri.. Meski Beliau sempat menyembunyikan raut keterkejutan, akan tetapi dengan cepat Beliau mengulum senyuman manis sebagai penggantinya.. Sang Prabu juga nampak menggelengkan kepala ke arah gw yang hendak mencoba lagi memegang lengan Anggie..
“Biarkan gadis keturunan ku mencurahkan keluh kesahnya, keturunan Braja Krama”
Gw sempat tertegun mendengar suara berat penuh kharisma Sri Baduga Maharaja, yang terdengar dalam batin.. Lalu mengurungkan niat untuk memegang lengan Anggie.. Sementara, pacar gw itu kembali melempar pandangan nanarnya ke arah sosok Sang Kakek Moyang..
“Sekali lagi aku tegaskan.. Aku tidak akan membiarkan putera ku tumbuh dengan embel-embel dunia gaib.. Aku adalah calon Ibu nya dan aku yang punya kewajiban untuk membuat putera ku tumbuh dengan baik” Ucap Anggie dengan suara masih bergetar..
Sosok Sri Baduga Maharaja kembali menyunggingkan senyuman manis sebagai jawaban awal dari ucapan Anggie..
“Aku akan menjawab pertanyaan mu yang pertama, cucuku.. Mungkin kau lupa.. Saat kau mencoba mengakhiri hidup, aku sendiri yang membawa sukma mu kembali ke dalam tubuh meski tanpa mewujudkan sosok ku.. Tapi berkat kelebihan yang aku miliki, kau bisa pulih dan terbebas dari segala racun obat yang kau telan”
Anggie nampak cukup terkejut mendengar jawaban Sang Kakek Moyang.. Kening gadis itu berkerut seolah sedang mencoba mengingat-ingat sesuatu dalam benaknya.. Gw sendiri masih terdiam menatap Anggie.. Dalam hati, sebenarnya gw juga bertanya-tanya perihal ucapan Sang Prabu..
“Yang kedua, aku sangat memahami mengapa kau begitu marah mendengar bahwa aku tidak bisa menutupi kelebihan yang akan dimiliki calon putera mu.. Kau adalah calon Ibunya.. sudah sepantasnya kau ingin yang terbaik bagi putera mu.. Tapi sayang, cucuku.. Baik aku, kau atau siapapun tidak bisa mengubah garis takdir yang akan berlaku pada calon putera kalian”
Anggie nampak melempar pandangan ke arah gw dengan kedua mata mulai berkaca-kaca.. Gw langsung meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya erat..
“Aku ga mau anak kita jadi anak aneh nantinya, Beb.. Aku mau dia hidup normal” Ucap Anggie sambil menatap gw dengan dua titik air mata yang mulai mengalir..
Gw tertegun mendengar isak tangis gadis itu.. Dalam hati, gw juga mengiyakan keinginannya.. Gw juga tidak mau calon putera gw nanti akan di cap sebagai seorang anak yang aneh.. Perlahan, gw menyeka airmata yang membasahi pipi Anggie.. Lalu melemparkan pandangan ke arah Sri Baduga Maharaja..
“Eyang, apakah tidak ada cara lain untuk menyelesaikan masalah ini?” Tanya gw dengan wajah memelas..
Sang Prabu nampak terdiam dan menoleh ke arah Macan Kumbang bernama Ki Larang.. Sosok Panglima yang memilih bentuk berwujud seekor harimau berkulit hitam mengkilat diterpa sinar rembulan itu, juga nampak membalas tatapan Junjungannya dengan dua mata bersinar merah mencorong.. Lalu, Sang Prabu terdengar menghela nafas dan kembali menatap gw yang masih menunggu sebuah solusi bersama Anggie..
“Sebenarnya ada satu hal yang bisa aku lakukan”
Baik gw dan Anggie sama-sama tersenyum medengar akan ada penyelesaian dari masalah yang menanti kami dimasa depan.. Sempat saling menatap untuk beberapa saat, gw dan Anggie memasang indera pendengaran kami baik-baik..
“Aku memang tidak bisa menutupi kelebihan yang akan dimiliki putera kalian nanti.. Tapi, aku akan mencoba menekan kelebihannya itu hingga masa aqil balig tiba.. Selepas kalian pulang bersama Bayu Barata, aku akan memberikan Ki Larang sebuah Ajian guna menekan kelebihan di calon putera kalian, sekaligus untuk menyamarkan aura nya agar tidak dapat dirasakan Jin dari golongan hitam”
Mendengar ucapan Sang Kakek Moyang, seketika senyuman Anggie lenyap dari wajah.. Gw yang semula tertegun memikirkan penuturan Sang Prabu, langsung memeluk lengan Anggie.. Gadis itu segera menoleh ke arah gw dengan tatapan tidak berkenan..
“Udah, Yank.. Kamu ga usah bahas lagi masalah ini sama Beliau”
“Tapi, Beb.. Solusi dari dia bukan jalan keluar.. Ini menyangkut calon anak kita” Sanggah Anggie sambil mencoba melepaskan diri dari pelukan gw di lengannya..
“Iya, aku ngerti.. But, please don’t argue anymore.. I’m so tired.. Aku pengen banget balik.. Kita bisa bicarain ini nanti.. Aku takut orang rumah keburu panik nyariin kita”
Anggie mendadak terdiam setelah gw berbicara tentang sosok-sosok manusia yang gw yakin pasti sedang mencari keberadaan kami.. Pertarungan tadi sudah pasti memakan waktu berhari-hari.. Meski perbedaan masa di alam gaib dan alam nyata cukup jauh, tetap saja gw meyakini bahwa waktu terus berjalan..
“Sebaiknya kau turuti ucapan calon suamimu, cucuku.. Aku juga akan segera pergi untuk memberikan Ki Larang Ajian guna menjaga calon putera mu.. Ingat lah baik-baik.. Calon putera mu itu adalah salah satu dari beberapa keturunan ku yang istimewa.. Dan aku berikrar akan selalu melindunginya dengan seizin Sang Pencipta” Ucap Sang Prabu dengan wajah bersungguh-sungguh..
Anggie yang mendengar jaminan dari sosok Kakek Moyangnya, perlahan menghela nafas.. Lalu melempar pandangannya kembali ke arah gw.. Sebuah senyuman gw berikan ke gadis itu yang segera dibalas senyuman sama.. Kemudian, ia menatap wajah sosok Sang Prabu yang masih melayang bersila disebelah Ki Larang..
“Baiklah, Eyang.. Aku mempercayai ucapan mu.. Aku juga memohon maaf karena telah berucap kasar tadi”
Sri Baduga Maharaja terlihat mengulum senyuman manis sambil menganggukkan kepala.. Wajahnya sama sekali tidak menyiratkan kekecewaan maupun kekesalan..
“Aku maaf kan dirimu, cucuku.. Tindakan mu tadi, semata-mata hanya ungkapan marah seorang calon Ibu yang tidak mau sesuatu yang buruk berlaku atas puteranya.. Bayu Barata, sebaiknya kau antarkan mereka pulang sekarang juga” Ucap Sri Baduga Maharaja dengan sangat bijaksana, lalu memerintahkan Jin Penjaga gw yang kedua untuk memulangkan kami..
Gw dan Anggie sempat menundukkan kepala sebagai bentuk salam pernghormatan ke arah Sri Baduga Maharaja, bersamaan dengan dipegangnya bahu kami oleh Bayu Barata..
“Hamba mohon diri, Paduka” Ucap Bayu Barata dengan wajah sama tertunduk ke hadapan Junjungannya..
Perlahan, Bayu Barata meminta gw dan Anggie untuk menutup mata setelah ucapannya di balas oleh anggukan kepala Sang Baginda.. Hembusan angin dingin khas pegunungan sempat menerpa tubuh gw yang masih bertelanjang dada, sebelum akhirnya lenyap bersama Anggie dan Bayu Barata..
“Bukalah mata mu, Raden.. Kita sudah sampai di rumah kekasih mu” Ucap Bayu Barata yang gw balas dengan anggukan kepala dan membuka mata secara perlahan..
Gw sempat mengerutkan dahi melihat Anggie terlihat sedang menatap heran ke tempat tidurnya sendiri.. Lalu perlahan berjalan mendekat dan meraba seprai di atas ranjangnya yang masih nampak sedikit tertekuk.. Kemudian, wajah gadis itu menoleh ke arah jam dinding berwarna pink yang tergantung dia atas dinding, berlawanan dengan posisi ranjang.. Gw juga sempat merasa heran melihat jarum pendek di alat penunjuk waktu itu yangberada di angka 4..
“Kita masih di malam yang sama yah, Beb?” Tanya Anggie yang membuat gw terkejut dan melempar pandangan ke arah Bayu Barata..
“Pertempuran kalian melawan Braja Krama memang hanya memakan waktu beberapa jam saja, Raden.. Setahu ku jalannya waktu di alam gaib dan alam nyata memang berbeda.. Akan tetapi, tidak seharusnya bisa sampai sejauh ini perbedaan itu.. Entah lah, mungkin Sri Baginda yang membuat waktu berjalan sangat cepat di alam gaib” Ucap Bayu Barata yang sempat melirik segan ke arah Anggie..
Mendengar jawaban Bayu Barata, gw hanya bisa menggaruk-garuk kepala.. Seingat gw, pertempuran yang gw lewati bersama beberapa sosok sahabat gaib memang memakan waktu cukup lama.. Bahkan, gw sempat mengira sudah berhari-hari waktu di alam nyata terlewat.. Namun pada kenyataannya, satu malam pun belum berakhir..
“Astaghfirullah, Beb”
Gw seketika terperanjat mendengar Anggie Cumiik sambil menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan.. Kedua mata gadis itu nampak terbelalak menatap gw yang segera mendekat untuk mengetahui apa yang terjadi..
“Kenapa, Yank? Kamu ga apa-apa?” Tanya gw dengan nada cukup panik sambil memegangi dua bahu gadis itu..
Anggie nampak masih membelalakkan mata meski dua telapak tangan nya perlahan terlepas turun dari mulut..
“Kamu kenapa, Yank?” Tanya gw lagi yang mulai diserang rasa cemas melihat tingkah aneh Anggie..
“Sweater hitam kamu ketinggalan”
GUBRAKK!!!
Seketika gw melepas pegangan tangan di bahu Anggie dan menepok jidat sendiri, begitu mengetahui alasan terpekiknya gadis itu adalah karena sebuah sweater hitam kumal.. Tega nya Anggie membuat gw sport jantung melihat reaksinya tadi..
“Kamu bikin aku kaget aja, Yank.. Aku fikir ada apaan, sampe kamu jerit sambil istighfar” Kata gw yang sudah merasa lega setelah menghela nafas panjang..
“Tadi aku sempet lihat Ridho letakin sweater kamu di atas tanah, Beb” Jawab Anggie dengan kedua mata beningnya yang menatap ke atas, seolah sedang mengingat sesuatu..
“Kalo emang ketinggalan, biarin aja.. Toh udah bolong ini sweater aku nya, Yank”
“Ehh, ga bisa.. Enak aja kamu kalo ngomong.. Benda itu berharga buat aku.. Aku pernah di lamar kamu pake sweater itu.. Pokoknya, aku ga mau tahu.. Mau rusak atau engga, sweater itu harus di ambil lagi sama Jin Penjaga kamu” Sanggah Anggie dengan suara sedikit naik, sambil melempar pandangan ke arah Bayu Barata..
Gw yang mendengar kalimat Anggie, hanya bisa menganggukkan kepala dan tersenyum.. Lalu, perlahan gw mencium kening gadis itu dengan sangat lembut.. Anggie membalas ciuman gw dengan sebuah pelukan erat, seolah tak mau lagi kehilangan diri ini.. Pandangan mata gw sempat menoleh ke arah Bayu Barata yang sedang membalikkan badan tak mau memandangi kami..
Dengan penuh kasih sayang, gw pandangi wajah Anggie dalam-dalam..
“Alhamdulillah, apa yang aku takutkan ga terjadi, Yank.. Aku bahagia banget ga ada yang terjadi sama kita berdua” Ucap gw disusul sebuah ciuman hangat di atas kepala Anggie..
“Aku juga, Beb.. Aku bersyukur banget kita selamat” Jawab Anggie yang masih menenggelamkan kepala nya dalam pelukan gw..
Untuk sesaat, gw melepas pelukan dan menatap kembali wajah cantik gadis yang sangat gw cintai itu.. Lalu mencium bibirnya dengan sangat lembut.. Baru saja kami tenggelam dalam buaian birahi, tiba-tiba..
BRAKKK..
Suara dua daun jendela kamar Anggie yang terbuka paksa oleh hantaman angin besar dari luar terdengar keras dan mengejutkan kami berdua.. Bayu Barata yang sempat gw lupakan keberadaannya di dekat kami, langsung menatap nanar ke arah daun jendela untuk sesaat.. Lalu melempar pandangannya kembali ke arah gw dan Anggie..
“Aku merasakan hawa sakti Kakek Moyang kekasih mu, Raden” Ucap Bayu Barata yang membuat gw menatap wajah Anggie lekat-lekat..
Anggie sendiri tersenyum mendengar kalimat Bayu Barata.. Kemudian, mencubit pinggang gw dengan cukup keras.. Gw sempat menjerit kesakitan meski suara gw langsung di tahan oleh telapak tangan Anggie, begitu mendapat serangan cukup mematikan darinya..
“Kamu lupa yah wejangan Kakek Moyang aku tadi?” Kata Anggie sambil melepas tellapak tangannya..
Gw sempat mengingat-ingat kalimat-kalimat bijak yang beberapa saat lalu dilontarkan sosok Sri Baduga Maharaja.. Saat ingatan ini tiba di kalimat Beliau yang memerintahkan gw untuk segera menikahi Anggie agar terhindar dari tindakan keji, baru gw menelan ludah.. Pandangan mata gw sempat terlempar kembali ke dua daun jendela yang barusan terbuka paksa oleh angin besar misterius.. Kemungkinan, yang terjadi beberapa saat lalu adalah peringatan Kakek Moyangnya Anggie agar gw tidak melakukan hal-hal yang menjurus ke perilaku menyimpang..
“Kamu mendingan sekarang pulang terus istirahat, Beb.. Tapi jangan sampe kelewatan Sholat Subuh” Ucap Anggie, lalu meraih telapak tangan gw dan mencium punggungnya dengan lembut..
“Ya udah.. Aku pulang deh.. Dari pada macam-macam disini sama kamu, terus ujung-ujungnya kena damprat Kakek Moyang kamu.. Oh iya, ntar aku minta Bayu Barata buat ambil sweater hitam aku di gunung tadi.. Kamu juga jangan lupa Sholat Subuh ya, Yank” Jawab gw disusul sebuah kecupan mesra di kening Anggie, lalu berjalan menghampiri Bayu Barata..
Sebelum meninggalkan rumah Anggie, gw sempat meminta sesuatu ke Jin Penjaga gw yang kedua.. Gw meminta Bayu Barata untuk memperingatkan Jin jahil yang suka muncul menyerupai mendiang pembatu rumah ini.. Gw khawatir dengan terbukanya mata batin Anggie, dia akan menggunakan kesempatan itu untuk menakuti gadis tersebut..
Sekitar dua menit kemudian, Bayu Barata muncul sambil menganggukkan kepalanya sebagai pertanda ia sudah menjalani apa yang gw minta ia untuk kerjakan.. Sebelum pamit, gw sekali lagi melemparkan senyuman manis ke arah Anggie dan menutup kedua mata secara perlahan-lahan..
Setibanya di dalam kamar, gw melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul empat lewat.. Sebentar lagi memang adzan Subuh akan segera berkumandang.. Suara Bang Juki, seorang merbot mushola yang biasa bershalawat menjelang Subuh, sudah terdengar.. Tapi rasa lelah sudah semakin mendera tubuh.. Belum lagi kantuk yang kian menggelayuti kedua mata..
“Mendingan gw rebahan dulu bentar deh, sambil nunggu Subuh” Ucap gw dalam hati seraya mendudukkan diri diatas tempat tidur dan merebahkan tubuh..
Gw sempat melirik ke arah Bayu Barata yang nampak duduk termenung diatas bangku belajar.. Lalu, gw mencoba menutup kedua mata.. Akan tetapi, bayangan wajah Bayu Ambar selalu muncul tiap kali mata gw terpejam..
Aah.. Gw sama sekali tidak pernah menduga, bahwa sosok musuh yang penuh misterus itu akhirnya memutuskan untuk mengorban kan diri demi keselamatan semua sosok sahabat, terutama gw.. Ia rela menukar nyawa nya untuk menyelsmatkan nyawa gw.. Tapi gw yakin, Allah SWT tidak akan pernah tidur.. Yang Maha Agung, pasti akan memberikan tempat mulia untuk Bayu Ambar atas pengorbanannya itu..
dodolgarut134 dan 14 lainnya memberi reputasi
15