EPISODE 9 : K.O
Quote:
Ketika Jatmiko siuman tubuhnya terasa panas. Kepalanya berdenyut sakit. Matanya berat sekali untuk dapat dibuka. Jatmiko membuka kedua matanya dengan perlahan, Yang pertama sekali dilihatnya ialah langit –langit ruangan yang berwarna putih. Dia berusaha memutar bola matanya dan memandang berkeliling. Semuanya serba putih. Ingatannya merayap pada saat dia berada di Patuk di dalam mobil melakukan pengintaian lalu menyergap seorang gadis. Dan ia babak belur bahkan ada tiga polisi terkapar menjemput ajal.
Tubuhnya gemetaran ketika dicobanya bangun dan duduk di tepi ranjang dimana dia terbaring. Tapi tubuhnya yang lemah tiada berdaya itu terhempas kembali ke atas ranjang berwarna putih itu. Jatmiko mengeluh kesakitan. Ia melihat selang infus menancap di lengan kanannya. Dan dia pingsan lagi. Kedua kali dia sadarkan diri, hawa panas dari demam yang menyerangnya telah berkurang tapi tubuhnya masih lemas.
Pagi itu Jatmiko merasakan badannya berangsur baik dan segar. Saat ia melirik ke arah lengan kanannya selang infus telah di lepas. Di atas meja tidak jauh dari ranjang ada sebuah minuman dan makanan yang diletakkan dalam wadah dan tertutup rapat oleh plastik. Di teguknya air dalam gelas itu hingga habis. Tanpa pikir lagi Jatmiko segera menyambar makanan dalam wadah, membuka plastiknya lalu dengan lahap memakan apa yang ada di wadah itu.
Seorang perawat masuk, tatkala Jatmiko telah menghabiskan makanannya. Perawat itu tersenyum melihat Jatmiko.
“ Bagaimana Bapak? Apakah sudah baikan badannya? “
Jatmiko hanya mengangguk seraya meletakkan bekas makanannya di atas meja. Lalu perawat itu mengecek suhu badan Jatmiko serta tekanan darahnya. Terdengar ketukan dari luar ruangan.
“ Masuk...” Perawat itu mempersilahkan orang yang di depan pintu untuk masuk.
Saat itu ke dalam kamar masuk dua orang berseragam Polisi disertai seorang Reserse berpakaian preman. Jatmiko langsung duduk dari berbaringnya tatkala melihat orang yang memakai jaket kulit berwarna hitam itu.
“ Parman......”
Lelaki yang dipanggil Parman itu tersenyum.
“ Bagaimana keadaan Pak Jatmiko?”
Jatmiko menghela nafas panjang.
“ Seperti yang kau lihat, akau babak belur dan bahkan terkapar emapat hari di rumah sakit ini. Entah apa yang terjadi di luar sana...”
“ Tidak usah terlalu dipikirkan yang terjadi diluar sana. Bapak harus cepat sehat “
Parmin berusaha menghibur atasannya itu.
“ Aku butuh bantuan mu Man. Tolong temani aku mencari dimana pembangunan kawasan Real Estate itu. Seingatku Edwin pernah mengatakan di kaki Gunung Kelir di daerah Bantul. Prinsipku dalam menangani kasus masih sama. Telusuri dari awal mula kasus itu muncul“
Jatmiko mengalihkan pandangannya ke arah si perawat.
“ Maaf sus, apakah saya hari ini sudah diperbolehkan untuk pulang? “
Jatmiko baertanya kepada perawat yang tengah merapikan peralatan medisnya yang diletakkan di atas meja.
“ Soal itu saya musti konfirmasi kepada dokter Tri dulu Pak. Jadi saya tidak bisa memutuskan hal itu “
“ Kapan dokter Tri akan kemari? “
“ Nanti pak, sekitar jam sebelas “
Jatmiko melirik ke arah jam dinding yang menempel di tembok ruangan.
“ Masih dua jam lagi...” Desahnya pasrah.
Quote:
Pukul sebelas lebih sepuluh menit saat itu perawat yang tadi masuk kembali ke dalam kamar mengiringi seorang lelaki gemuk pendek, berkaca mata. Dia dokter Tri, dokter spesialis bedah yang menolong Jatmiko. Sambil tertawa lebar dan nepuk tangan Jatmiko dokter Tri berkata.
"Ah, ini dia jagoan kita”
Jatmiko tertawa.
“ Pak Jatmiko, anda ada keluhan apa?"
"Tidak ada keluhan apa-apa Dokter."
"Dadanya sakit?"
"Tidak Dokter."
"Bagus, coba saya periksa dulu"
Dokter itu menyingkapkan selimut Jatmiko. Seorang perawat membuka bajunya. Sang Dokter kemudian perlahan – lahan menyentuh luka memar di dada Jatmiko.
"Sakit?" tanya Dokter Tri.
Jatmiko menggeleng.
Perlahan-lahan dokter Tri mengangkat kepala, memandang pada Jatmiko lalu pada jururawat yang berdiri di sekeliling tempat tidur. Dokter bedah itu ulurkan tangannya. Menekan dada Jatmiko.
"Sakit?"
Jatmiko menggeleng.
"Berarti Pak Jatmiko bisa pulang siang ini. Nanti sebelumnya saya akan buatkan resep obat untuk mempercepat pemulihan tenaga dan stamina bapak"
Jatmiko tersenyum mendengar kalimat terakhir yang keluar dari mulut dokter Tri.