- Beranda
- Stories from the Heart
MEREKA YANG HIDUP DALAM GELAP -[Based On True Story]- SEASON 2 "KAMI SELALU ADA"
...
TS
bakamonotong
MEREKA YANG HIDUP DALAM GELAP -[Based On True Story]- SEASON 2 "KAMI SELALU ADA"
Mereka yang Hidup Dalam Gelap, merupakan suatu true stroy, real story atau semacam itu tentang Arda, ketika di season 1 Arda menyajikan pada anda bagaimana dia bertahan dan berhadapan serta bertemu dan mengenal mereka, maka di season 2 ini arda akan mengantarkan kalian menuju dalamnya cerita tahap lanjut, dimana dia harus berhadapan dengan mereka, menguji apa yang telah dia pelajari, dan menjadi seorang yang menjembatani antara 2 dunia.
90% horror dengan bumbu hiperbola dan cerita drama, cinta, dan cerita persahabatan, memberikan kepada pembaca kesan tentang apa yagn dialami penulis.
Quote:
Quote:
selamat menikmati season 2 dari cerita ini, semoga kalian menyukai, jangan lupa cendol, juga share and like nya
ig : @bakemonotong
twitter : @Ardahakimotong
Welcome to my Second Season of Story
INDEKS :
Quote:
NITIPSSSS :
Quote:
Diubah oleh bakamonotong 22-06-2018 09:53
meqiba dan 2 lainnya memberi reputasi
3
56.2K
212
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
bakamonotong
#192
Part XXIX - Abah dan Sar
Mimpi malam itu cukup aneh, pertama kali aku berada di sebuah kaki gunung, dan seperti tertarik oleh sebuah energi yang besar aku masuk menembus suatu zona lain, dunia lain. seperti sebuah gerbang kerajaan yang besar, dan dibaliknya ramai, oleh orang- orang yang tak ku kenal, kulihat beberapa ada makhluk setengah hewan, setengah manusia, ada lagi manusia dengan tubuh raksasa nya dan menjaga gerbang tadi, membukakan pintu untuk aku masuk. Dan ada sesosok kakek tua terbang melayang datas gerbang, melihatku, eperti mengamati aku, dan ketika kau memasuki gerbang aku elihat dua sosok yang familiar aku lihat, Abah dan Sar, berdiri tegap dan seakan menyambut kedatanganku, seraya Abah berkata "Selamat datang di padukuhan ******** ".
Aku masih takjub melihat kemegahan kampung di balik gerbang tadi, dan ada satu istana cukup besar di ujung jalannya dan cukup menarik perhatianku, karena banyak sekali naga berwarna keemasan mengitari atas istana tadi. Abah dan Sar mengantarku berkeliling hingga mencapai sebuah perpondokan kecil disana dan ada seorang pria tua duduk disana, aku pun diminta Abah mendatangi nya, "Namaku, Raden Panggadewa, selamat datang wahai keturunan langsungku", katanya kemudian seraya dia mempersilahkan aku duduk dengan tersenyum, membuatku canggung, dia pun tertawa melihatku, "kau dan kakekmu saja saja, sama- sama canggung melihat ku, pertama kali", katanya kemudian memegang pundakku dia melanjutkan omongannya, "Aku akan jelaskan padamu siapa aku, dan aku akan memberikanmu beberapa pertahanan yang harus kamu pelajari, anggap suatu langkah mendekatkan diri pada sang Khalik" katanya. Kemudian dia menceritakan bahwa dia adalah seorang prajurit dari kerajaan kuno di Jawa Barat, dengan kekuatannya, dia adalah barisan depan pertahanan dan barisan serang bagi rajanya, dia yang sekarang adalah kumpulan energi, residu dari Raden Panggadewa dahulu, yang ditinggal untuk menyampaikan ilmunya padaku, dan aura yang terpancar uat dari tubuhnya, hanya sekitar 40% kemampuan asli Raden Panggadewa, dan dia berkata Sar dan Abah memang diperintah untuk menjadi penjaga sekaligus temanku, dia juga menjelaskan kampung itu adalah sisa residu energi orang jaman dahulu yang dikumpulkan oleh rajanya, dan dijadikan perkampungan gaib, bercampur dengan jin asli sana, dan Kerajaan disana adalah kerajaan jin terbesar di Jawa Barat yang menjadi bagian penting poros kehidupan alam gaib disana, dan pemimpin di Istana itu, cukup kuat untuk menghancurkan alam gaib di jawa barat dan membuat kerusakan di dunia manusia, dan sang Raja adalah makhluk yang cukup pemarah.
Cerita yang disampaikan oleh Raden Panggadewa cukup lama, dan menghibur, aku tak merasa wkatu yang berjalan disana, dan tiba- tiba Raden Panggadewa menyudahi omongannya, dia berdiri, menatapku, "ada yang datag mengganggu kalian malam ini"< katanya, seketika mengingat bahwa aku tidur di hotel, dan membuatku sedikit panik, aku segera ingin kembali tapi Raden Panggadewa melarangku, :sebentar, biar aku kirimi padamu sebagian energi yang menjadi sumber kehidupanku dan kehidupan makhluk disini, yang skiranya cukup untuk mementalkan jin rendahan yang mengganggumu malam ini. Raden Panggadewa yang berdiri tegap sangat tinggi, dengna mudah dia memegang kepalaku, dan memberikan sebagian energinya padaku, kemudian cepat dia merapal beberapa bacaan yang aku tak paham, aku merasa pusing sekaligus bugar karena masuknya banyak energi sekaligus padaku, dan banyak sekali ajian, bacaan yang masuk ke dalam kepalaku, membuatku terperangah kaget, dan pusing, seketika selesai, Raden Panggadewa melepaskan pegangannya pada kepalaku, dan segera memintaku kembali ke tubuhku, di temani Abah dan dengna menunggangi Sar, aku kembali dari gunung tadi bergerak cepat, bak cahay kembali ke penginapan, dan kulihat sesosok kuntilanak, sedang menatap dan berusaha merasuki tubuhku, mencoba menembus pagar gaib yang entah siapa yang memasang, aku tak peduli segera aku menerjang Kuntilanak ini dan membuatnya terpental menjauh, aku segera menarik Naga Pancawarna, dan kini benar- benar berubah, energinya makin besar, dan Naga Pancawarna semula berwara loreng, kini menjadi emas dan merah,lalu lapisan emasnya bercahaya dan memancarkan aura kuat,aku lemparkan pada kuntilanak tadi, dia mengerang terkikik dan menjerit ngeri, aku kemudian mendekatinya, dan merapalkan beberapa bacaan dan kubakar setengah tubuhnya, kuntilanak tadi mengerang makin keras, kulepas pergi degnan peringatan jangan menggangguku lagi, dan dia pergi menatapku, aku segera kembali ke tubuhku, tapi aku tidak tersadar juga, masih belum bisa menempelkan sukmaku pada ragaku, kenapa, apa yang terjadi padaku.
Mimpi malam itu cukup aneh, pertama kali aku berada di sebuah kaki gunung, dan seperti tertarik oleh sebuah energi yang besar aku masuk menembus suatu zona lain, dunia lain. seperti sebuah gerbang kerajaan yang besar, dan dibaliknya ramai, oleh orang- orang yang tak ku kenal, kulihat beberapa ada makhluk setengah hewan, setengah manusia, ada lagi manusia dengan tubuh raksasa nya dan menjaga gerbang tadi, membukakan pintu untuk aku masuk. Dan ada sesosok kakek tua terbang melayang datas gerbang, melihatku, eperti mengamati aku, dan ketika kau memasuki gerbang aku elihat dua sosok yang familiar aku lihat, Abah dan Sar, berdiri tegap dan seakan menyambut kedatanganku, seraya Abah berkata "Selamat datang di padukuhan ******** ".
Aku masih takjub melihat kemegahan kampung di balik gerbang tadi, dan ada satu istana cukup besar di ujung jalannya dan cukup menarik perhatianku, karena banyak sekali naga berwarna keemasan mengitari atas istana tadi. Abah dan Sar mengantarku berkeliling hingga mencapai sebuah perpondokan kecil disana dan ada seorang pria tua duduk disana, aku pun diminta Abah mendatangi nya, "Namaku, Raden Panggadewa, selamat datang wahai keturunan langsungku", katanya kemudian seraya dia mempersilahkan aku duduk dengan tersenyum, membuatku canggung, dia pun tertawa melihatku, "kau dan kakekmu saja saja, sama- sama canggung melihat ku, pertama kali", katanya kemudian memegang pundakku dia melanjutkan omongannya, "Aku akan jelaskan padamu siapa aku, dan aku akan memberikanmu beberapa pertahanan yang harus kamu pelajari, anggap suatu langkah mendekatkan diri pada sang Khalik" katanya. Kemudian dia menceritakan bahwa dia adalah seorang prajurit dari kerajaan kuno di Jawa Barat, dengan kekuatannya, dia adalah barisan depan pertahanan dan barisan serang bagi rajanya, dia yang sekarang adalah kumpulan energi, residu dari Raden Panggadewa dahulu, yang ditinggal untuk menyampaikan ilmunya padaku, dan aura yang terpancar uat dari tubuhnya, hanya sekitar 40% kemampuan asli Raden Panggadewa, dan dia berkata Sar dan Abah memang diperintah untuk menjadi penjaga sekaligus temanku, dia juga menjelaskan kampung itu adalah sisa residu energi orang jaman dahulu yang dikumpulkan oleh rajanya, dan dijadikan perkampungan gaib, bercampur dengan jin asli sana, dan Kerajaan disana adalah kerajaan jin terbesar di Jawa Barat yang menjadi bagian penting poros kehidupan alam gaib disana, dan pemimpin di Istana itu, cukup kuat untuk menghancurkan alam gaib di jawa barat dan membuat kerusakan di dunia manusia, dan sang Raja adalah makhluk yang cukup pemarah.
Cerita yang disampaikan oleh Raden Panggadewa cukup lama, dan menghibur, aku tak merasa wkatu yang berjalan disana, dan tiba- tiba Raden Panggadewa menyudahi omongannya, dia berdiri, menatapku, "ada yang datag mengganggu kalian malam ini"< katanya, seketika mengingat bahwa aku tidur di hotel, dan membuatku sedikit panik, aku segera ingin kembali tapi Raden Panggadewa melarangku, :sebentar, biar aku kirimi padamu sebagian energi yang menjadi sumber kehidupanku dan kehidupan makhluk disini, yang skiranya cukup untuk mementalkan jin rendahan yang mengganggumu malam ini. Raden Panggadewa yang berdiri tegap sangat tinggi, dengna mudah dia memegang kepalaku, dan memberikan sebagian energinya padaku, kemudian cepat dia merapal beberapa bacaan yang aku tak paham, aku merasa pusing sekaligus bugar karena masuknya banyak energi sekaligus padaku, dan banyak sekali ajian, bacaan yang masuk ke dalam kepalaku, membuatku terperangah kaget, dan pusing, seketika selesai, Raden Panggadewa melepaskan pegangannya pada kepalaku, dan segera memintaku kembali ke tubuhku, di temani Abah dan dengna menunggangi Sar, aku kembali dari gunung tadi bergerak cepat, bak cahay kembali ke penginapan, dan kulihat sesosok kuntilanak, sedang menatap dan berusaha merasuki tubuhku, mencoba menembus pagar gaib yang entah siapa yang memasang, aku tak peduli segera aku menerjang Kuntilanak ini dan membuatnya terpental menjauh, aku segera menarik Naga Pancawarna, dan kini benar- benar berubah, energinya makin besar, dan Naga Pancawarna semula berwara loreng, kini menjadi emas dan merah,lalu lapisan emasnya bercahaya dan memancarkan aura kuat,aku lemparkan pada kuntilanak tadi, dia mengerang terkikik dan menjerit ngeri, aku kemudian mendekatinya, dan merapalkan beberapa bacaan dan kubakar setengah tubuhnya, kuntilanak tadi mengerang makin keras, kulepas pergi degnan peringatan jangan menggangguku lagi, dan dia pergi menatapku, aku segera kembali ke tubuhku, tapi aku tidak tersadar juga, masih belum bisa menempelkan sukmaku pada ragaku, kenapa, apa yang terjadi padaku.
regmekujo dan 4 lainnya memberi reputasi
5