- Beranda
- Stories from the Heart
ANDAI - Cerita Fiksi Time Travel Bersambung
...
TS
okarin89
ANDAI - Cerita Fiksi Time Travel Bersambung

Salam untuk semua penghuni Kaskus khususnya semua penghuni SFTH
Mohon izinkan Okarin membuat cerita bergenre Fiksi Futuristik ya. Ceritanya ini bersifat Fiksi jadi tidak perlu ditanyakan dan diperdebatkan ya.
Jika suka ya tolong beri cendol supaya semangat. Moga-moga nggak kentang ya karena ceritanya lumayan njelimet.
Jika suka dengan cerita Okarin tolong beri Okarin cendol yang banyak ya en rate bintang lima supaya Okarin tambah semangat nulisnya.
Spoiler for Prolog:
CHAPTER INDEX
DAFTAR GARIS DUNIA
DAFTAR GARIS WAKTU
CHAPTER 1 : YA GITU DEH !
CHAPTER 2 : TITIK PERTEMUAN
CHAPTER 3 : HAH !!!!!!!
CHAPTER 4 : WAKTU YANG BERJALAN MUNDUR
CHAPTER 5 : ADA APA DENGAN RALINE ?
CHAPTER 6 : PESAWAT YANG JATUH BAGIAN 1& BAGIAN 2
CHAPTER 7 : MEMBUAT MESIN WAKTU SEBENARNYA 1 BAGIAN 1 & BAGIAN 2
CHAPTER 8 : KEINGINAN TERDALAM JULIE BAGIAN 1 , 2 , 3 , 4 , 5 , 6 , 7 , 8 , 9 , 10 , 11 ,12 ,13
Diubah oleh okarin89 17-08-2019 20:45
bonita71 dan 13 lainnya memberi reputasi
8
71.2K
427
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
okarin89
#136
CHAPTER 8 - KEINGINAN TERDALAM JULIE BAGIAN 6
Ruang Tamu Kediaman Julie Estella Tanjung pukul 15:09 WIB

“Silakan duduk dulu nak Garin, nak Seno, nak Yaya, ada yang ingin om bicarakan dengan kalian ! … Julie tolong buatkan empat cangkir kopi ginseng untuk kami berempat !”. ucap Mauricio Putra Tanjung dengan menunjukkan ekspresi wajah sangat serius.
“Baik om !”. ucap ketiganya secara hampir bersamaan dengan menunjukkan ekspresi wajah sedikit penasaran bercampur bingung.
“Baiklah Ayah !”. ucap Julie pendek, sambil bergegas menuju dapur.
“Om tahu kalau kalau om sebenarnya sudah mati !”. ucap Mauricio pelan sehingga membuat ketiganya cukup terkejut, sambil menengadahkan wajahnya ke bawah, dan kemudian menghela nafas panjang.
“Sejak kapan om menyadari kalau om sudah mati ?”. tanya Garin pelan, sambil berpikir bahwa pria paruh baya itu punya Memori Quantum sama seperti dirinya.
“Sejak Julie memeluk tubuh om dengan sangat kuat dan diiringi isak tangisnya hingga muncul beberapa ingatan memori om yang terlihat cukup jelas kalo om mati dibunuh dengan batok kepala om terbuka tanpa otak … nak Garin !”. jawab Mauricio sekenanya, sambil menghela nafas agak panjang.
“Mungkin otak om dipakai untuk pengembangan riset Teknologi Artificial Vovalstig yang sangat berguna dalam pembuatan mesin waktu untuk menghindari overload dalam otak karena adanya friksi garis waktu !”. ucap Yaya pelan.
“Sayangnya Teknologi Artificial Vovalstig tidak sesederhana itu nak Yaya !”. ucap Mauricio pelan.
“Maksud om ?”. tanya Yaya agak penasaran.
“Nanti kalian bertiga akan tahu sendiri jawabannya !”. jawab Mauricio lirih.
“Apa om memiliki Memori Quantum ?”. tanya Garin agak penasaran.
“Mungkin nak Garin tapi semua garis waktu dan semua garis dunia yang ada mempunyai hukum keseimbangan walaupun terjadi friksi dan anomali antar garis waktu !”. jawab Mauricio sekenanya.
“Hukum keseimbangan ?”. ucap Seno dengan penuh tanda tanya, sambil menggaruk-garuk kepala bagian belakangnya.
“Contohnya seperti ini jika orang yang sudah meninggal pada garis waktu X dan garis dunia Y dan kembali hidup pada Garis Waktu X dan Garis Dunia Z maka Garis Waktu Psi yang dipengaruhi oleh Garis Waktu Alaseis dan Konstelasi Bintang Pegasus akan menentukan variabel pengganti dari variabel orang yang sudah meninggal itu dengan nilai konstanta 0,5 !”. ucap Mauricio dengan panjang lebar.
“Masih mbulet buanget om !”. ucap Garin dengan menunjukkan ekspresi wajah bingung, sambil memijat-mijat dahinya dengan pelan.
“Intinya jika yang sudah mati dihidupkan maka yang masih hidup akan dimatikan untuk menggantikan posisi orang yang sudah dianggap mati oleh Garis Waktu Psi dan Garis Waktu Alaseis ya om !”. ucap Yaya pelan.
“Tepat sekali nak Yaya ! … Salah satu dari kalian mungkin akan menggantikan posisi om supaya tercipta keseimbangan pada alam !”. ucap Mauricio pelan dan lirih, sambil menoleh ke arah Yaya, lalu menoleh ke arah Garin, lalu menoleh ke arah Seno, dan kemudian menghela nafas agak panjang.
“Kopi ginsengnya sudah datang ! … Ini kopi ginseng buat Ayahku tercinta ! … Ini kopi ginseng kamu rin ! … Ini kopi ginseng kamu no ! … dan yang ini kopi ginseng kamu ya ! … Apa yang kalian sedang bicarakan ? … Kok pada serius gituh mukanya !”. ucap Julie dengan tone suara agak tinggi, dan kemudian bertanya sesuatu hal pada mereka berempat yang terlihat hening dengan menunjukkan ekspresi wajah serius.
“Makasih banyak ya Julie ! … Ayah hanya membicarakan masa SMA kamu yang masih suka ngompol Julie !”. ucap Mauricio pelan, dan kemudian menjawab pertanyaan Julie dengan asal.
“Makasih banyak ya Jul !”. ucap Garin pelan, sambil merenungkan ucapan dari pria paruh baya itu perihal Hukum Keseimbangan.
“Makasih My Waifu !”. ucap Seno antusias, sambil menikmati aroma kopi ginseng dengan menutup kedua matanya.
“Makasih banyak nih Jul ! … Jadi ngerepotin kita !”. ucap Yaya pelan, sambil memegang tangan kanan Garin dengan agak kuat.
“Maaf om en loe Jul ! … Sepertinya kami bertiga harus pamit karena ada satu tempat lagi yang harus kami kunjungi !”. ucap Garin pelan, sambil menyeruput beberapa teguk kopi ginsengnya, lalu menyalami Mauricio dan Julie dengan hangat, dan kemudian bergegas menuju mobilnya.
“Baiklah nak Garin ! … Lupakan omongan om yang tadi ya !”. ucap Mauricio pelan, sambil menepuk-nepuk punggung Garin sebanyak tiga kali.
“Sering-sering maen kemari ya rin !”. ucap Julie dengan tone suara agak tinggi.
“Om Mauricio tolong jagain My Waifu ya om !”. ucap Seno antusias, sambil menyeruput kopi ginsengnya hingga tinggal setengah cangkir, lalu menyalami tangan Mauricio dengan agak kuat, lalu mengulurkan tangannya pada Julie namun tidak ditanggapi, dan kemudian berlari menyusul Garin.
“Baiklah nak Seno ! … Sepertinya kalian ditakdirkan berjodoh ya !”. ucap Mauricio dengan tone suara agak tinggi, sambil tersenyum melihat tingkah keduanya yang terlihat bertolak belakang satu sama lain.
“Iam not your Waifu … Seno Chondro !”. ucap Julie dengan tone suara agak tinggi, sambil membuang mukanya ke kiri dengan posisi tangan bersedekap.
“Om Mauricio Yaya pamit ya om ! … Julie kapan-kapan gue pasti maen kemari lagi !”. ucap Yaya pelan, sambil menyeruput kopi ginsengnya beberapa teguk, lalu meletakkan cangkir kopinya di atas sebuah piring putih kecil, lalu beranjak dari sofa, lalu menyalami Mauricio dengan hangat, lalu memeluk Julie dengan sangat hangat, dan kemudian segera menyusul keduanya menuju mobil.
“Makasih banyak ya nak Yaya sudah bersilaturahim kemari !”. ucap Mauricio pelan.
“Sama-sama ya om !”. ucap Yaya pendek.
“Pintu rumah gue selalu terbuka lebar buat loe ya !”. ucap Julie dengan tone suara agak tinggi.
“WOY TUNGGUIN GUE !!!!!”. pekik Yaya dengan penuh berapi-api pada Garin dan Seno, sambil berlari kencang dengan sepatu pantofelnya mengejar mobil Garin yang melaju agak kencang menuju pagar besi rumah super mewah itu.

“Silakan duduk dulu nak Garin, nak Seno, nak Yaya, ada yang ingin om bicarakan dengan kalian ! … Julie tolong buatkan empat cangkir kopi ginseng untuk kami berempat !”. ucap Mauricio Putra Tanjung dengan menunjukkan ekspresi wajah sangat serius.
“Baik om !”. ucap ketiganya secara hampir bersamaan dengan menunjukkan ekspresi wajah sedikit penasaran bercampur bingung.
“Baiklah Ayah !”. ucap Julie pendek, sambil bergegas menuju dapur.
“Om tahu kalau kalau om sebenarnya sudah mati !”. ucap Mauricio pelan sehingga membuat ketiganya cukup terkejut, sambil menengadahkan wajahnya ke bawah, dan kemudian menghela nafas panjang.
“Sejak kapan om menyadari kalau om sudah mati ?”. tanya Garin pelan, sambil berpikir bahwa pria paruh baya itu punya Memori Quantum sama seperti dirinya.
“Sejak Julie memeluk tubuh om dengan sangat kuat dan diiringi isak tangisnya hingga muncul beberapa ingatan memori om yang terlihat cukup jelas kalo om mati dibunuh dengan batok kepala om terbuka tanpa otak … nak Garin !”. jawab Mauricio sekenanya, sambil menghela nafas agak panjang.
“Mungkin otak om dipakai untuk pengembangan riset Teknologi Artificial Vovalstig yang sangat berguna dalam pembuatan mesin waktu untuk menghindari overload dalam otak karena adanya friksi garis waktu !”. ucap Yaya pelan.
“Sayangnya Teknologi Artificial Vovalstig tidak sesederhana itu nak Yaya !”. ucap Mauricio pelan.
“Maksud om ?”. tanya Yaya agak penasaran.
“Nanti kalian bertiga akan tahu sendiri jawabannya !”. jawab Mauricio lirih.
“Apa om memiliki Memori Quantum ?”. tanya Garin agak penasaran.
“Mungkin nak Garin tapi semua garis waktu dan semua garis dunia yang ada mempunyai hukum keseimbangan walaupun terjadi friksi dan anomali antar garis waktu !”. jawab Mauricio sekenanya.
“Hukum keseimbangan ?”. ucap Seno dengan penuh tanda tanya, sambil menggaruk-garuk kepala bagian belakangnya.
“Contohnya seperti ini jika orang yang sudah meninggal pada garis waktu X dan garis dunia Y dan kembali hidup pada Garis Waktu X dan Garis Dunia Z maka Garis Waktu Psi yang dipengaruhi oleh Garis Waktu Alaseis dan Konstelasi Bintang Pegasus akan menentukan variabel pengganti dari variabel orang yang sudah meninggal itu dengan nilai konstanta 0,5 !”. ucap Mauricio dengan panjang lebar.
“Masih mbulet buanget om !”. ucap Garin dengan menunjukkan ekspresi wajah bingung, sambil memijat-mijat dahinya dengan pelan.
“Intinya jika yang sudah mati dihidupkan maka yang masih hidup akan dimatikan untuk menggantikan posisi orang yang sudah dianggap mati oleh Garis Waktu Psi dan Garis Waktu Alaseis ya om !”. ucap Yaya pelan.
“Tepat sekali nak Yaya ! … Salah satu dari kalian mungkin akan menggantikan posisi om supaya tercipta keseimbangan pada alam !”. ucap Mauricio pelan dan lirih, sambil menoleh ke arah Yaya, lalu menoleh ke arah Garin, lalu menoleh ke arah Seno, dan kemudian menghela nafas agak panjang.
“Kopi ginsengnya sudah datang ! … Ini kopi ginseng buat Ayahku tercinta ! … Ini kopi ginseng kamu rin ! … Ini kopi ginseng kamu no ! … dan yang ini kopi ginseng kamu ya ! … Apa yang kalian sedang bicarakan ? … Kok pada serius gituh mukanya !”. ucap Julie dengan tone suara agak tinggi, dan kemudian bertanya sesuatu hal pada mereka berempat yang terlihat hening dengan menunjukkan ekspresi wajah serius.
“Makasih banyak ya Julie ! … Ayah hanya membicarakan masa SMA kamu yang masih suka ngompol Julie !”. ucap Mauricio pelan, dan kemudian menjawab pertanyaan Julie dengan asal.
“Makasih banyak ya Jul !”. ucap Garin pelan, sambil merenungkan ucapan dari pria paruh baya itu perihal Hukum Keseimbangan.
“Makasih My Waifu !”. ucap Seno antusias, sambil menikmati aroma kopi ginseng dengan menutup kedua matanya.
“Makasih banyak nih Jul ! … Jadi ngerepotin kita !”. ucap Yaya pelan, sambil memegang tangan kanan Garin dengan agak kuat.
“Maaf om en loe Jul ! … Sepertinya kami bertiga harus pamit karena ada satu tempat lagi yang harus kami kunjungi !”. ucap Garin pelan, sambil menyeruput beberapa teguk kopi ginsengnya, lalu menyalami Mauricio dan Julie dengan hangat, dan kemudian bergegas menuju mobilnya.
“Baiklah nak Garin ! … Lupakan omongan om yang tadi ya !”. ucap Mauricio pelan, sambil menepuk-nepuk punggung Garin sebanyak tiga kali.
“Sering-sering maen kemari ya rin !”. ucap Julie dengan tone suara agak tinggi.
“Om Mauricio tolong jagain My Waifu ya om !”. ucap Seno antusias, sambil menyeruput kopi ginsengnya hingga tinggal setengah cangkir, lalu menyalami tangan Mauricio dengan agak kuat, lalu mengulurkan tangannya pada Julie namun tidak ditanggapi, dan kemudian berlari menyusul Garin.
“Baiklah nak Seno ! … Sepertinya kalian ditakdirkan berjodoh ya !”. ucap Mauricio dengan tone suara agak tinggi, sambil tersenyum melihat tingkah keduanya yang terlihat bertolak belakang satu sama lain.
“Iam not your Waifu … Seno Chondro !”. ucap Julie dengan tone suara agak tinggi, sambil membuang mukanya ke kiri dengan posisi tangan bersedekap.
“Om Mauricio Yaya pamit ya om ! … Julie kapan-kapan gue pasti maen kemari lagi !”. ucap Yaya pelan, sambil menyeruput kopi ginsengnya beberapa teguk, lalu meletakkan cangkir kopinya di atas sebuah piring putih kecil, lalu beranjak dari sofa, lalu menyalami Mauricio dengan hangat, lalu memeluk Julie dengan sangat hangat, dan kemudian segera menyusul keduanya menuju mobil.
“Makasih banyak ya nak Yaya sudah bersilaturahim kemari !”. ucap Mauricio pelan.
“Sama-sama ya om !”. ucap Yaya pendek.
“Pintu rumah gue selalu terbuka lebar buat loe ya !”. ucap Julie dengan tone suara agak tinggi.
“WOY TUNGGUIN GUE !!!!!”. pekik Yaya dengan penuh berapi-api pada Garin dan Seno, sambil berlari kencang dengan sepatu pantofelnya mengejar mobil Garin yang melaju agak kencang menuju pagar besi rumah super mewah itu.
1