- Beranda
- Stories from the Heart
Investigasi Supranatural: Dendam Arwah Penunggu Jalan Angker (dongeng seram)
...
TS
dodydrogba
Investigasi Supranatural: Dendam Arwah Penunggu Jalan Angker (dongeng seram)

Mencoba membagikan karya ane yang baru gan, terinspirasi dari serial Constantine, Supernatural dan DI sini ada Setan, judulnya Investigasi Supranatural: Dendam Arwah Penunggu Jalan Angker. Berkisah tentang Aryo yang kehilangan saudari kembarnya secara misterus, hal itu mengundang rasa penasarannya dan berniat menolongnya, namun sebelum itu ia harus mengikuti permintaan saudarinya itu yaitu menyelesaikan kasus yang berkaitan dengan kejadian mistis atau supranatural. Semoga bisa terhibur dan mohon kritik dan sarannya.
Spoiler for Bab 1:
Sudah jatuh tertimpa tangga pula, itulah yang dialami oleh Aryo saat ini ketika mendengar sebuah kabar buruk yang menimpa keluarganya. Setelah sebelumnya di putus hubungan kerjanya karena perusahaanya bangkrut, kini ia tengah mencoba tegar setelah tahu saudari kembarnya Arina menghilang di sebuah gunung. Pencarian dan segala usaha lain sudah dilakukan, sayangnya hasil nihil tanpa mendapatkan bukti apa pun. Tim penolong memutuskan untuk menyerah setelah menguber ke segala sisi gunung tersebut yaitu Gunung Sanjaya. Berbeda dengan dirinya, Arina sendiri sedikit unik kehidupannya. Ia tak menjadi karyawan atau wirausahawan seperti pada umumnya namun menjadi praktisi supranatural, para psikolog atau apapun itu yang berkaitan dengan hal - hal berbau supranatural. Ia menolong siapapun yang terkena masalah berbau supranatural. Uniknya walau dibayar secara sukarela atau bahkan kadang tak dibayar sama sekali, entah kenapa ia bisa survive hingga saat ini.
Sedangkan Aryo, ia malah tak mendapatkan kemampuan yang dimiliki Arina sejak lahir yaitu indera ke enam. Tentu ia sangat bersyukur tak bisa berinteraksi dengan mahluk kasat mata di berbagai tempat karena jika tak siap bisa menimbulkan tekanan psikis tersendiri yang mungkin mempengaruhi kehidupannya. Aryo sendiri merupakan pria muda yang cukup tangguh dan pemberani, buktinya ia bahkan sering melewati jalan angker ketika pulang dari kantornya berkali - kali. Ia bahkan lebih takut bertemu begal dan perampok daripada hantu karena taruhannya nyawa terkadang duit. Mungkin karena ia yang tak diberkahi kemampuan unik seperti jadi tak merasa was - was ada aura negatif di sekelilingnya.
Sebelum Arina menghilang, Aryo tak mendapatkan kabar apapun dari saudari kembarnya itu. Mungkin karena kesibukkan yang sangat padat jadi tak sempat mengirim pesan terakhir kepada Aryo. Padahal biasanya Arina akan menyempat mengirim pesan singkat melalui ponselnya kepada saudara kembarnya itu. Ah, andai saja punya kemampuan unik seperti Arina, mungkin hal seperti ini bisa dicegah lebih dulu, batin Aryo. Namun nasi sudah menjadi bubur, yang ia bisa lakukan sekarang adalah mencari tahu siapa saja yang pernah melakukan kontak dengan saudarinya itu.
Di kamar saudarinya yang harum semerbak dan terawat rapi, ia memeriksa satu persatu buku - buku di lemarinya. Berharap keberuntungan menyertainya, berbagai lembar dilirik dengan penuh ketelitian. Sayangnya, tak ada satu pun yang menyertakan nama - nama orang yang dikenalnya. Andai saja ponselnya tertinggal, mungkin masih ada sedikit harapan. Sang ibu sebenarnya sudah merelakan anaknya, ia bahkan rajin beribadah agar anaknya bisa diberi tempat terbaik di sisinya. Berbeda dengan Aryo, walau tak percaya hal yang tak masuk akal, firasatnya terus mengatakan bahwa Arina masih hidup. Usaha pencarian itu juga membuatnya lelah, ia pun merebahkan diri ke kasur milik Arina. Ia tak kuasa menahan kantuk, mata pun ia pejamkan dengan rapat, berharap hari esok lebih baik dari sebelumnya. Aryo akhirnya tertidur pulas di malam yang belum terlalu larut.
Di tengah - tengah tidurnya, ia tenggelam pada lautan mimpi yang sangat dalam. Rasanya aneh, ia sama sekali belum pernah mengalaminya. Lalu ia terjatuh di sebuah hamparan padang rumput yang dibelakangnya terdapat gunung yang besar dan indah. Sebuah siluet bayangan tiba - tiba muncul di depannya, lama - lama berbentuk padat, mirip manusia. Ia sepertinya kenal, itu adalah saudari kembarnya, Arina. Melihat hal itu membuat Aryo merangkak perlahan lalu berdiri tegak. Ia masih tak percaya akan apa yang dipandangnya, ia pun mengucek matanya. Ternyata benar, ia tak salah lihat, kekuatirannya yang memuncak perlahan sirna. Mungkin ini sebuah pertanda jika dia masih hidup ditambah ia punya kemampuan indera ke enam dari lahir. Dengan mental baja ia memberanikan diri untuk bertanya sesuatu kepadanya perihal kehilangannya itu.
"Arina!!! Engkau kah itu?"
Arina tersenyum lalu berbicara sesuatu padanya, "Iya Aryo, ini aku, saudari kembar mu."
"Benerkah itu?? Di mana kah kamu berada sekarang? Kamu tahu ibu dan saudara - saudara kita benar - benar mencemaskan mu, bahkan mereka hampir mengira kamu sudah mati," Aryo menatap dengan penuh kesedihan.
"Aku minta maaf sudah mencemaskan kalian, tapi aku masih hidup," Arina berbicara datar kali ini.
"Kalau begitu biar lah aku menolong mu kali ini, kita bersaudara kembar bukan. Saudara kembar yang baik harus tolong menolong apapun itu kondisinya. Dan mereka tidak akan percaya kamu masih hidup selama diri mu belum diketemukan," Aryo berusaha meyakinkan Arina.
"Tidak perlu Aryo, itu hanya buang - buang waktu dan merepotkan mu saja. Atau malah bisa membuat mu suatu saat terbunuh, apa kamu tak tahu itu?" Arina menolak.
"Tidak perlu??? Apa kamu tak tahu batin derita yang dirasakan ibu mu, tangis harunya tak pernah berhenti sebelum melihat senyum indah mu. Kamu tahu ia sangat mencintai mu, ibu mana yang tak sedih ketika anaknya sedang dalam masalah. Biarkan aku menolong mu Arina, walau mungkin aku bukan orang yang punya kemampuan unik seperti diri mu. Tapi setidaknya aku akan berusaha mati - matian untuk menolong mu," Aryo kembali mencoba meyakinkannya.
Arina tak berkata satu patah kata pun, ia membalikan badannya, menatap langit cerah di atas gunung, tiba - tiba pelangi cantik muncul, menambah pesona indah dari pemandangan tersebut. Ternyata itu adalah gambaran perasaanya, sebuah bentuk komunikasi non verbal yang sangat aneh tapi penuh seni keindahan. Hatinya perlahan luluh ketika mendengar kata ibu, ia teringat ibu selalu mengkuatirkannya ketika ia pergi. Atas dasar itu, maka ia memutuskan untuk menyetujui permohonan saudar kembarnya itu.
"Baiklah, jika kamu ingin menolong ku, maka kamu juga harus menolong yang lain."
"Apa maksud mu Arina, aku tidak mengerti?"
"Lihat lah pelangi itu, indah bukan."
Arina menunjuk dengan tangannya, Aryo menatap dengan serius. Pelangi itu rupanya mengalihkan perhatiannya dari Arina yang perlahan memudar lalu menghilang.
"Arina tunggu!!! Arina!!!" teriak Aryo.
Keanehan kembali terjadi, kali ini semburan api melahap kakinya lalu menuju ke atas. Seketika langit yang cerah menjadi gelap gulita. Ia yang terkejut tak kuasa menahan rasa takutnya.
"Apa yang terjadi, tolong!!!!!"
Dalam seketika ia terbangun dari alam mimpi di luar nalarnya itu. Nafasnya terengah - engah bak habis lari sepuluh kali memutari lapangan. Otaknya berputar memikirkan apa yang baru saja ia alami sebelumnya. Ia menghela nafas sebentar, mencoba untuk lebih rileks, kepalanya mendongak lalu menatap ke arah pintu yang berada tak jauh di depannya. Sebuah jaket wanita berwarna cokelat tergantung pada gantungan di pintu itu. Ada hal yang telah menarik perhatiannya di jaket itu. Iya, merek pelangi, ia teringat perkataan Arina yang terpukau pada pelangi yang indah. Mungkin saja dia bermaksud ada sebuah keindahan di balik jaket itu, tapi apa, tak ada yang tahu. Sejatinya Aryo kesal dengan teka - teki konyol ini, hanya malah mempersulit dirinya menolong saudarinya itu. Tapi sayangnya, itu bagaikan wasiat langung dari nya, dan ketika menolaknya, yang ditakuti adalah kesialan yang menimpa sekitar dirinya atau orang terdekatnya. Mau gak mau, ia mencoba mendekati jaket itu. Tak dirasa waktu berjalan lebih cepat, kini sudah menunjukkan jam empat pagi. Batin Aryo berharap belum terlambat untuk kehilangan saudarinya itu.
Jaket merek pelangi itu dirabanya, dari atas sampai bawah lalu ke segala sisi. Sampai ia berhenti pada bagian tengah jaket itu, terdapat sebuah kantung di luarnya. Dilihatnya kantung itu, tak terdapat apa - apa. Tapi yang aneh terasa padat berisi, membuat kantung itu sedikit berat. Ia coba cek kembali, kali ini dari dalam. Dan ternyata ia menemukan resreting kantung dalam bagian jaket itu. Dengan terburu - buru ia membukanya, akhirnya usahanya tak sia - sia. Ia menemukan sebuah buku kecil yang sepertinya milik Arina. Setelah itu ia mulai berjalan menuju semacam meja belajar di samping lemari. Lembar demi lembar mulai dibukanya, tulisan - tulisan yang ia tatap dengan teliti itu meningkatkan rasa penasaran dari Aryo. Bentuknya seperti sebuah diary, tetapi tak sepenuhnya jadi. Judul dari tulisan catatan harian itu juga terasa aneh, seperti berita kasus kriminal, ada juga yang cuma menunjukan alamat sebuah tempat saja. Ia terus melanjutkan membuka lembaran buku itu hingga ia menemukan sebuah catatan aneh di belakangnya.
"Tanda - tanda kehadiran mahluk astral atau gaib:
1. Timbul bau aneh seperti wangi kemenyan, bau anyir darah atau bau daging busuk secara mendadak.
2. Adanya penerangan lampu yang selalu redup atau kelap - kelip bahkan ketika sudah diganti lampu baru.
3. Perubahan suhu secara mendadak, seperti suhu dingin yang membuat bulu kuduk merinding.
4. Pergerakan benda yang melawan hukum alam, fisika atau apapun itu.
5. Suara - suara aneh yang muncul mendadak seperti tangisan atau tertawa.
Jika aku tak muncul beberapa hari atau tahun, harap hubungi alamat ini:
Jl. Putri Kahiyang, no. 4, perumahan Cempaka Biru, kecamatan Sukamaju."
Lagi - lagi firasat Aryo mengatakan bahwa mungkin ini yang dimaksud menolongnya melalui menolong orang lain. "Apa mungkin aku disuruh menyelesaikan kasus - kasusnya yang belum tuntas itu sebelum menemukan dirinya? Yah, mungkin saja, setidaknya alamat ini mungkin bisa berguna bagi ku dalam mencari dirinya yang hilang," kata Aryo dalam hati.
Niat beserta tekad yang kuat sudah ia bulatkan dalam hati, tak ingin mundur sebelum tujuan tercapai. Pagi hari Aryo menemui ibunya di kamarnya, meminta izin sekaligus pamit kepada ibunya. Ia mencoba mengajak ibunya untuk terus berharap akan sebuah keajaiban bisa menghampiri keluarga mereka.
"Nak, kamu yakin soal ini, bagaimana kalau semua ini sia - sia, bagaimana kalau ini hanya ujian buat keluarga kita agar tetap tabah dalam situasi apa pun," sang ibu kuatir.
"Tenang aja bu, aku yakin keajaiban itu ada. Dan tentu semua masalah yang kita hadapi adalah ujian hidup. Tapi firasat kuat ku mengatakan dia masih hidup," kata Aryo dengan penuh keyakinan.
"Iya, ibu tahu, tapi ibu sudah kehilangan saudari mu untuk saat ini, ibu tak mau kehilangan mu, anak ibu yang masih tersisa dan sangat ibu cintai," ibu yang sedih menggenggam erat tangan anaknya.
"Ibu, Aryo kan sudah besar, sudah mandiri, Aryo bisa kok mengatasi masalah sendiri. Jadi ibu tak perlu berpikir aneh - aneh, entar jadi malah bisa stres sendiri dan Aryo tak ingin ibu seperti itu," kata Aryo dengan tenang.
"Baiklah, ibu tak bisa memaksa mu untuk tetap di sini, kamu sudah besar nak. Aku harap tuhan selalu melindungi dari segala marabahaya," yang tak kuasa menahan sedih mulai meneteskan air mata.
"Ibu, maafkan Aryo sudah merepotkan ibu. Kalau begitu Aryo pamit dulu, bi Sumi, tolong jaga ibu dengan baik ya," Aryo mengusap air mata ibu dan meminta pembantu rumahnya untuk menjaga sang ibu.
"Iya mas, bi Sumi pasti akan menjaga ibu dengan baik," bi Sumi tersenyum lepas.
Senyuman bi Sumi juga menular ke sang ibu, mungkin kini ia lebih lega karena harapan kecil mulai timbul di benak pikirannya akan keberadaan anak perempuannya itu. Sementara itu Aryo berangkat dengan sepeda motor harley milik mendiang ayahnya yang sudah meninggal lima tahun lalu itu. Sambil berkendara, alunan musik Highway to Hell milik AC/DC menyertai perjalanannya, menuju sang matahari terbit di mana harapan akan terus ada selama masih ada hari esok yang cerah.
Bab 2
Bab 3
Bab 4
Bab 5
Bab 6
Bab 7
Bab 8
Bab 9 Part 1
Bab 9 Part 2
Diubah oleh dodydrogba 12-05-2018 14:36
anasabila memberi reputasi
2
8.8K
Kutip
25
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
dodydrogba
#16
Spoiler for Bab 7:
Dinginnya malam dan rasa kantuk tak menyurutkan semangat Aryo ketika mengawasi jalanan Anggrek Hitam di pinggir jalan tersebut. Sel - sel dalam otaknya terus menari, memikirkan apa yang terjadi setelah ini. Sayangnya misteri arwah penunggu jalanan tersebut bukan satu - satunya yang berada di pikirannya. Memastikan keadaan saudari kembarnya itu sejatinya masih jadi prioritas utama namun rumitnya teka - teki dalam mengungkapkan keberadaan Arina benar - benar membuat semua menjadi sulit. Aryo seperti merasa saudarinya itu seperti mengikhlaskan dirinya untuk pergi ketimbang harus repot - repot untuk mencarinya hingga ke ujung dunia. Gejolak pikirannya akhirnya harus pupus setelah sebuah suara gas dari mesin sedan putih melaju kencang dari arah belakang. Tak mau nasib tragis kembali terulang, Aryo dengan tergesa - gesa menyalakan mesin motornya, mengikuti mobil itu secepat mungkin. Aksi saling kejar berlangsung di jalanan, Aryo berusaha memberhentikan mobil itu dengan terus - terus mengklakson, sayangnya peringatan itu nampak diabaikan begitu saja. Usaha Aryo sempat berhenti setelah dia melihat sebuah pemandangan yang tak aneh bagi dirinya, kabut putih tebal yang menyelimuti jalanan, mobil sedan itu telah masuk perangkap arwah sialan itu. Gelisah sekaligus takut, itu yang dirasakan Aryo saat ini, bimbang apakah terus menyalakan motor dan masuk ke kabut itu atau mengabaikannya demi panjang umur. Sayangnya otaknya lagi - lagi teringat kepada saudarinya itu, jika ingin menolongnya maka harus menolong orang lain. Tekad sudah bulat, mau tak mau ia harus terjun ke kabut putih itu, walau ia tahu bahaya besar sedang mengancamnya.
Sementara itu di Muara Buaya sepasang kakak beradik disibukkan dengan pencarian sebuah toko cincin tempat di mana cincin terkutuk itu dikembalikan. Sayangnya usaha mereka belum membuahkan hasil, mungkin karena sudah lama, tempat itu sekarang kebanyakan malah diisi oleh pedagang pulsa. Riko yang terus mencari identitas sang penjual atau pun pemilik toko juga belum menemukannya melalui internet. Bahkan ketika ia juga meretas data - data sipil lama yang disimpan oleh dinas terkait.
"Bukankah seharusnya toko itu di sekitar jalanan ini, apa karena sudah lama jadi kita tak tahu kalau tempat ini dulunya diisi toko - toko penjual cincin?" Risa yang penasaran masih mengamati toko - toko pulsa itu satu persatu.
"Entahlah, mungkin saja, tapi aku juga kesulitan menemukan identitas penjualnya," balas Riko sambil mengamati laptopnya.
"Ini sudah larut malam juga, ada baiknya kita menghampiri si Aryo. Kita akan mencari lagi besok, kasihan dia sendiri saat ini," Risa mengedipkan mata yang tak kuat menahan rasa kantuk.
"Ciyee!!! Tumben peduli, aku aja hampir lupa kalau Aryo lagi ada di sana," ledek Riko.
"Udah berisik, dia itu teman baru kita, dia menghilang atau mampus, tambah ribet lagi kita," Risa jengkel.
"Iya - iya ampun, ya udah langsung balik aja. Aku juga udah ngantuk," Riko mematikan laptopnya.
Mobil mereka pun berbalik arah, bergerak menuju ke jalanan yang dihindari banyak orang, apalagi kalau bukan Anggrek Hitam. Selagi mereka pulang, Aryo bersusah payah menghentikan sebuah mobil di dalam kabut tebal. Meski ia kesulitan dalam melihat, suara mobil itu masih lantang terdengar. Lima menit kemudian, suara mesin gas itu pun berganti menjadi suara tubrukan keras. Pada saat itu pula kabut itu mulai menyusut, Aryo kini bisa melihat jalan lebih jelas. Di saat yang sama, ia tertegun melihat pemandangan aneh di depan mata, sebuah garis hitam mengkelok menempel di jalanan. Sepertinya itu disebabkan oleh mobil yang sedang melaju lalu membanting setir mendadak karena suatu hal. Dan mobil itu tampaknya menabrak berbagai pohon kecil di samping jalan hingga masuk ke dalam hutan. Aryo pun memberhentikan motornya itu, lalu memarkirnya dan meninggalkannya menuju hutan di seberang jalan untuk melihat kondisi sopir mobil itu.
Berbekal senter yang terang, ia nekad memasuki hutan dekat jalanan angker itu pada malam hari. Kepalanya terus melingak - linguk kesana kemari, mewaspadai arwah itu agar tak melukai. Sepatunya terus bergesekan dengan rerumputan, menambah suara berisik yang sudah ditimbulkan oleh dedaunan pohon yang menari - nari karena hembusan angin dan juga hewan - hewan malam seperti jangkrik atau kodok yang menambah suasana horor semakin menjadi - jadi. Namun dari semua suara, ada suara khas yang sepertinya semakin membuat bulu kuduk merinding, tak lain dan tak bukan adalah suara lolongan serigala di tengah bulan purnama.
"Ah sialan, kenapa harus suara ini sih? Kalau di film - film horor ini pertanda tak bagus, aku benar - benar benci situasi menyeramkan kayak gini," Aryo mencoba menahan rasa takutnya.
Pertengahan jalan ke hutan, akhirnya ia menemukan sebuah mobil yang menabrak sebuah pohon besar dan rindang, tampaknya pohon itu selain menghentikan laju mobil juga berhasil merusak mesinnya. Aryo berlari ke arah mobil itu, lalu memeriksa kursi depan tempat sopir berkendara. Tapi yang ia lihat pada saat itu benar - benar mencengangkan jiwa, sopir itu tidak ada. Pilihannya ada dua, dia berhasil selamat lalu melarikan diri, atau dia digondol oleh arwah itu ke suatu tempat. Hal ini menambah kegelisahan yang dialami oleh Aryo, ia juga takut kalau polisi mengira dialah pelakunya karena dia sempat berada di dekat tempat kejadian perkara.
"Aneh, sopirnya tidak ada, apa berhasil selamat ya, atau jangan - jangan malah digondol arwah itu. Tapi setahuku dari kasus - kasus yang ada jarang ada tuh yang digondol ma arwah itu. Hufhh bikin repot aja kasus ini, bagaimana kalau aku yang dituduh pelaku hilangnya korban ya?"
Ketika Aryo mengeluarkan unek - uneknya, sebuah suara wanita datang dari belakang. Anehnya ia seperti tak asing dengan suara wanita itu, ia seperti mengenalnya, yang jelas bukan seperti suara arwah menyeramkan itu.
"Hei kamu di sana, angkat tangan mu jangan bergerak!!" seru wanita itu.
"Suara ini jangan - jangan," Aryo yang penasaran membalikan badan, betapa terkejutnya keduanya setelah tahu mereka sudah pernah bertemu sebelumnya, "Mbak Dorna, ngapain malam - malam di tempat ini?"
"Hah, kamu ... kamu lagi, tak gak apa - apa sih. Kamu sendiri ngapain malam - malam di tempat ini?" tanya petugas Dorna.
Dorna yang tak tampak seperti biasanya itu mengenakan jeans biru dengan atasan kemeja flanel wanita membuat tampilannya bak anggun nan rupawan. Aryo pun dibuat terpana olehnya, ia bahkan tak mengira itu adalah polisi itu karena pakaiannya yang tak menggunakan seragam saat bertugas. Mungkin saja ia dalam misi khusus sendiri, tapi tetap saja wanita cantik bahkan dikasih pakaian apapun tetap menghilang keindahannya.
"Aaaakuu, aku disuruh detektif Tasya untuk menjaga daerah sini. Mencegah kendaraan agar tidak melewati tempat ini," jawab Aryo dengan rasa canggung.
"Begitu ya, maaf sudah mengagetkan mu. Ngomong - ngomong apa nggak bahaya ke sini sendiri malam - malam? Kalau aku memang ada misi sendiri, aku tak percaya dengan omong kosong setan - setanan itu," Dorna menurunkan pistolnya.
"Oh iya, mbak nggak kenapa - kenapa kan? Tadi kenapa bisa membelok ke arah hutan ya?" Aryo penasaran sekaligus kuatir.
Kepala Dorna tertunduk sebentar lalu kembali berbicara dengan nada yang dalam dan serius, "Tadi .... tadi aku melihat seseorang tiba - tiba hadir tepan di depan mobil ku, membuat ku kaget dan terpaksa aku harus membanting setir ke samping agar tak menabrak orang itu. Lagipula hari ini aneh bener ya, udah ada kabut putih terus ada orang muncul tiba - tiba di depan mobil ku. Apa jangan - jangan ini kerjaan bajing luncat ya, pasti ada seseorang di sekitar sini."
"Entahlah mbak, tapi yang pasti ... " kini gantian Aryo yang menjadi senyap tiba - tiba.
Mulutnya membisu, suasana jauh lebih hening dari sebelumnya, ia seperti melihat bahaya besar berada di depan mata namun tak tahu apa yang harus diperbuat. Benar saja, dari belakang petugas Dorna, sebuah bayangan siluet manusia muncul sekitar lima langkah darinya. Bayangan itu semakin lama semakin mendekat dan menunjukkan batang hidungnya. Dorna yang bingung terhadap tingkah polah Aryo mencoba untuk menyadarkanyya namun usahanya tak berhasil.
"Aryo kamu kenapa sih, kok tiba - tiba diam membisu kayak patung. Kamu terpana ya sama kecantikan ku, apa - apa jangan kamu ingin mengungkapkan ..."
Omongan Dorna langsung dipotong oleh bahasa tubuh Aryo, tangan kanannya ditaruh di depan mulut lalu jari telunjukknya terangkat ke atas. Ternyata dia memberi kode untuk tetap tenang dan jangan ribut. Tatapan Aryo sekilas menatap ke arah Dorna, namun aslinya ia terkejut lalu diam mematung ke arah belakang Dorna yang tak disangka - sangka ialah mahluk arwah penasaran yang sedang melayang tak terlalu tinggi sambil memberikan senyuman menyeringai ke arahnya. Dorna juga merasakan hawa buruk yang sama, dinginnya angin di sekitarnya membuat bulu kuduk merinding, jantung berdegup kencang, dahinya mengkerut, ia menyesal, menelan ludah sendiri setelah merasa pengalaman gaib yang buruk seperti ini. Ia bisa merasakan sebuah dengusan di bagian belakang kepalanya, lalu suara geraman bak menahan amarah yang hebat, dan terakhir sebuah suara horor cekikikkan wanita yang sangat pelan menghampiri telinganya. Dorna tahu ini adalah situasi yang sangat sulit, sama halnya ketika menangani perampok yang menyandera orang di dekatnya, namun karena ia sadar dirinya berprofesi sebagai polisi yang mempunyai tanggung jawab besar, maka ia harus melawan rasa takut itu demi melindungi orang sekitarnya. Ia membalikkan badannya, lalu membuka matanya lebar - lebar ke sebuah sosok yang ada di depannya. Ia terkejut setelah mengetahui sosok di depannya bukanlah manusia, membuatnya diam mematung. Tak lama kemudian sosok itu mengeluarkan suara melengking yang sangat nyaring, membuat petugas Dorna tak sadarkan diri di tempat.
Sekarang ancaman kematian berpindah mendatangi Aryo, Aryo sendiri sadar nasibnya kini sedang di ujung tanduk. Arwah penasaran itu mulai melirik tajam dirinya, dan skenario buruk pun terjadi. Arwah itu terbang melayang mengejar dirinya, mau tak mau Aryo langsung berlari kencang ke dalam hutan. Hanya bertahan hidup yang ada di benak pikiran Aryo saat ini.
Tak jauh dari situ, sebuah mobil van yang di dalamnya terdengar keras suara musik Shake it Off dari Taylor Swift mengundang Risa untuk terus bernyanyi, berirama, menggerakan bahunya ke kiri dan ke kanan. Hal tersebut tentu membuat adiknya yaitu Riko menjadi risih, pasalnya adiknya sedang serius mendalami foto - foto yang sebelumnya dikirim oleh Aryo. Pertanyaan besar muncul dari dalam benak pikirannya, apakah mungkin tujuan arwah itu sejatinya ingin mencari suaminya lalu membunuhnya. Sayangnya itu terlalu rumit melihat banyak korban yang sudah mati, ditambah untuk ukuran sebuah arwah penasaran, tenaganya sangat kuat untuk bisa berkali - kali menewaskan banyak orang. Ingin sekali ia menanyakan ini kepada kakaknya, tapi sound pengeras suara dalam mobil itu benar - benar merusak suasana yang ada. Terpaksa ia kembali menatap ke depan lalu menutup laptopnya itu, tapi sepertimha ada yang menggugah pikirannya ketika pandangannya melihat ke jalanan yang lurus tak jauh darinya. Sebuah motor harley dari arah bersebrangan terparkir di pinggir jalan dekat hutan yang sangat lebat. Firasatnya mengatakan itu adalah motor Aryo dan tebakannya benar karena plat nomor yang sama. Ia pun menyadarkan kakaknya yang sedang asyik itu dengan menepuk bahunya dengan kuat sehingga menimbulkan rasa sakit yang amat sangat.
"Hihh, apaan sih tepuknya keras banget!!" Risa jengkel.
"Itu lihat di depan, bukannya motornya Aryo, kamu kan sopirnya? Masak gak lihat," tangan Riko menunjuk ke pinggir jalan.
Risa mengecilkan suara dalam mobil lalu memandangi motor itu, dan firasat buruk juga menghampiri dirinya.
"Sialan, ini benar - benar gawat!! Ada yang tidak beres di sini!!" Risa gelisah.
"Gawat bagaimana??" kata Riko.
"Sudah jelas si Aryo dalam bahaya, make nanya segala. Ayo kita cepat menuju ke sana!!" seru Risa.
Mobil van itu bergerak menepi, kedua orang itu turun dari mobil. Risa mengambil persenjataan yang diperlukan sementara Riko sudah duluan masuk ke dalam. Sedangkan Aryo yang dalam keadaan bahaya terus melakukan langkah seribu demi menghindari amukan arwah gentayangan itu. Tapi nasib sial lagi - lagi menghampirinya, ia tersandung oleh sebuah akar pohon besar yang kuat lalu tersungkur jatuh ke tanah. Dengan sisa tenaga yang ada ia mencoba membangunkan setengah bagian tubuhnya. Kini ia dalam posisi duduk dengan kaki lurus ke depan, tapi saat ia menatap ke atas, arwah itu sudah melayang dengan jarak yang amat dekat dengannya. Arwah itu lalu mendarat ke tanah, ia berjalan seperti melayang ke arah Aryo. Aryo yang tak ingin mati begitu saja melakukan segala cara agar tetap hidup, salah satunya dengan mengambil bungkusan di kantong celananya itu. Ia membuka bungkusan itu lalu menuangkan sebuk di dalamnya ke telapak tangan kanannya. Ia teringat kata Risa bahwa garam bisa mengusir mereka untuk sementara. Maka ia pun melemparkan serbuk itu ke arah arwah penasaran tersebut, tapi yang terjadi malah tidak menimbulkan efek apa - apa. Terlanjur jengkel, ia mencoba merasakan bekas serbuk yang ada di tangannya, dan ia pun menyesal telah salah mengambil barang.
"Haaaachuu!!!" Aryo bersin, "Sialan!!! Ini kan merica, aku salah ambil bungkusan rupanya. Benar - benar mampus aku kali ini!!"
Bahaya sudah di depan mata, ia tak tahan untuk merasakannya, maka Aryo mencoba menutup matanya, siapa tahu dewi fortuna sedang menyertainya kali ini. Dan benar saja saat tangan arwah itu mau menyentuh kepala Aryo, sebuah suara tembakan keras lagi - lagi berhasil mengenainya. Arwah itu pun kembali lenyap bak angin debu di malam hari. Setelah arwah itu menghilang, Risa menghampiri Aryo dan menanyakan kondisinya.
"Ampuuunn!!! Aku janji gak ke sini lagi!! Ampuun!! Jangan bunuh aku!!!" Aryo meringis ketakutan seperti anak kecil.
"Woi, buka mata mu, ini Risa, dewi penolong mu!!" Risa menenangkan Aryo dengan santai.
"Rrrrisaa," Aryo membuka matanya perlahan, arwah itu telah menghilang, ia pun merasa lega, "Hufffh untung lah."
Risa membantunya berdiri, lalu membersihkan kotoran yang ada di jaketnya, "Kamu tidak apa - apa kan?"
"Aku tidak apa - apa, itu si petugas Dorna bagaimana?" kata Aryo.
"Tenang, dia baik - baik saja. Kamu bagaimana bisa bertemu dengannya, jangan - jangan sudah janjian duluan," Risa mulai berpikir macam - macam.
"Ah, enggak kok, emang lagi kebetulan aja ia juga ada misi nya tersendiri," jawab Aryo dengan muka kikuk.
Ketika berbicara dengan Risa, muncul di benak kepala Riko secara mendadak untuk menyudahi usaha pencarian dengan menyelesaikan kasus seperti ini. Sudah dua kali maut hampir mengambil nyawanya, ia hanya tak ingin di ketiga kalinya itu kembali terjadi dan berujung pada kematiannya sehingga membuatnya tak mungkin lagi untuk mencari keberadaan Arina.
"Risa, aku boleh berbicara pada mu?"
"Oh iya tentu saja, ini bukan soal polisi wanita tadi bukan?"
"Tentu saja tidak, ini soal diri ku, entah kenapa aku ingin menyudahi membantu menguak kasus ini."
"Woooo, jadi kamu ingin berhenti begitu, kamu ingin berhenti di tengah jalan?"
"Aku tidak berhenti di tengah jalan, aku tetap mencari Arina dengan cara ku sendiri yang tidak berbahaya seperti ini."
"Oh, tapi bagaimana kalau dalam misi pencarian Arina dengan cara mu itu di tengah - tengah juga menemui bahaya seperti ini? Aryo coba pikir kembali, yang kamu lakukan bukan cara yang diinginkan saudari kembar mu bukan? Ia ingin kamu menemukan dirinya dengan cara yang berguna buat orang lain. Cobalah bertahan sebentar saja, aku yakin jika marabahaya kembali menghampiri mu, ia pasti akan datang menolong mu. Entah bagaimana pun caranya, karena aku sempat bersama dirinya dalam waktu lama dalam menguak berbagai kasus yang ada, dan dia adalah orang yang bertanggung jawab."
Risa masih berusaha untuk meyakinkan Aryo dalam misi pencarian Arina, di sisi lain sejenak Aryo memikirkan kembali kata - kata Risa. Ada benarnya juga, ia telah berjanji kepada Arina untuk berusaha menolongnya dengan menolong orang lain, jika ia mengabaikannya, maka sama saja dengan mengkhianatinya. Apalagi ia juga tak ingin menambah luka sang ibu yang melihat putranya tak kunjung berhasil menemukan putrinya yang hilang itu. Dari pertimbangan itu, maka ia pun setuju untuk bertahan dengan Risa dan Riko walau mungkin dalam waktu yang bentar.
"Baiklah, aku akan mencoba bertahan tapi untuk sebentar saja."
"Iya tidak masalah Aryo, dan aku juga punya rencana buat mu besok."
"Rencana apa itu?"
"Nanti akan kujelaskan ketika kita sampai di hotel."
"Lalu bagaimana dengan polisi itu?"
"Iya juga ya, terpaksa untuk sementara dia harus tidur di kamar ku. Pasti kasur bakalan sempit ini."
Setelah aksi mendebarkan jiwa itu, mereka memutuskan untuk kembali ke hotel, beristirahat lalu menyiapkan segalanya untuk esok hari. Walau Aryo juga hampir putus asa akan keadaannya, kondisi saudarinya itu kembali memperingatkan dirinya akan misi pencarian yang harus terus berlanjut, salah satunya dengan menguak kasus supranatural seperti ini.
Sementara itu di Muara Buaya sepasang kakak beradik disibukkan dengan pencarian sebuah toko cincin tempat di mana cincin terkutuk itu dikembalikan. Sayangnya usaha mereka belum membuahkan hasil, mungkin karena sudah lama, tempat itu sekarang kebanyakan malah diisi oleh pedagang pulsa. Riko yang terus mencari identitas sang penjual atau pun pemilik toko juga belum menemukannya melalui internet. Bahkan ketika ia juga meretas data - data sipil lama yang disimpan oleh dinas terkait.
"Bukankah seharusnya toko itu di sekitar jalanan ini, apa karena sudah lama jadi kita tak tahu kalau tempat ini dulunya diisi toko - toko penjual cincin?" Risa yang penasaran masih mengamati toko - toko pulsa itu satu persatu.
"Entahlah, mungkin saja, tapi aku juga kesulitan menemukan identitas penjualnya," balas Riko sambil mengamati laptopnya.
"Ini sudah larut malam juga, ada baiknya kita menghampiri si Aryo. Kita akan mencari lagi besok, kasihan dia sendiri saat ini," Risa mengedipkan mata yang tak kuat menahan rasa kantuk.
"Ciyee!!! Tumben peduli, aku aja hampir lupa kalau Aryo lagi ada di sana," ledek Riko.
"Udah berisik, dia itu teman baru kita, dia menghilang atau mampus, tambah ribet lagi kita," Risa jengkel.
"Iya - iya ampun, ya udah langsung balik aja. Aku juga udah ngantuk," Riko mematikan laptopnya.
Mobil mereka pun berbalik arah, bergerak menuju ke jalanan yang dihindari banyak orang, apalagi kalau bukan Anggrek Hitam. Selagi mereka pulang, Aryo bersusah payah menghentikan sebuah mobil di dalam kabut tebal. Meski ia kesulitan dalam melihat, suara mobil itu masih lantang terdengar. Lima menit kemudian, suara mesin gas itu pun berganti menjadi suara tubrukan keras. Pada saat itu pula kabut itu mulai menyusut, Aryo kini bisa melihat jalan lebih jelas. Di saat yang sama, ia tertegun melihat pemandangan aneh di depan mata, sebuah garis hitam mengkelok menempel di jalanan. Sepertinya itu disebabkan oleh mobil yang sedang melaju lalu membanting setir mendadak karena suatu hal. Dan mobil itu tampaknya menabrak berbagai pohon kecil di samping jalan hingga masuk ke dalam hutan. Aryo pun memberhentikan motornya itu, lalu memarkirnya dan meninggalkannya menuju hutan di seberang jalan untuk melihat kondisi sopir mobil itu.
Berbekal senter yang terang, ia nekad memasuki hutan dekat jalanan angker itu pada malam hari. Kepalanya terus melingak - linguk kesana kemari, mewaspadai arwah itu agar tak melukai. Sepatunya terus bergesekan dengan rerumputan, menambah suara berisik yang sudah ditimbulkan oleh dedaunan pohon yang menari - nari karena hembusan angin dan juga hewan - hewan malam seperti jangkrik atau kodok yang menambah suasana horor semakin menjadi - jadi. Namun dari semua suara, ada suara khas yang sepertinya semakin membuat bulu kuduk merinding, tak lain dan tak bukan adalah suara lolongan serigala di tengah bulan purnama.
"Ah sialan, kenapa harus suara ini sih? Kalau di film - film horor ini pertanda tak bagus, aku benar - benar benci situasi menyeramkan kayak gini," Aryo mencoba menahan rasa takutnya.
Pertengahan jalan ke hutan, akhirnya ia menemukan sebuah mobil yang menabrak sebuah pohon besar dan rindang, tampaknya pohon itu selain menghentikan laju mobil juga berhasil merusak mesinnya. Aryo berlari ke arah mobil itu, lalu memeriksa kursi depan tempat sopir berkendara. Tapi yang ia lihat pada saat itu benar - benar mencengangkan jiwa, sopir itu tidak ada. Pilihannya ada dua, dia berhasil selamat lalu melarikan diri, atau dia digondol oleh arwah itu ke suatu tempat. Hal ini menambah kegelisahan yang dialami oleh Aryo, ia juga takut kalau polisi mengira dialah pelakunya karena dia sempat berada di dekat tempat kejadian perkara.
"Aneh, sopirnya tidak ada, apa berhasil selamat ya, atau jangan - jangan malah digondol arwah itu. Tapi setahuku dari kasus - kasus yang ada jarang ada tuh yang digondol ma arwah itu. Hufhh bikin repot aja kasus ini, bagaimana kalau aku yang dituduh pelaku hilangnya korban ya?"
Ketika Aryo mengeluarkan unek - uneknya, sebuah suara wanita datang dari belakang. Anehnya ia seperti tak asing dengan suara wanita itu, ia seperti mengenalnya, yang jelas bukan seperti suara arwah menyeramkan itu.
"Hei kamu di sana, angkat tangan mu jangan bergerak!!" seru wanita itu.
"Suara ini jangan - jangan," Aryo yang penasaran membalikan badan, betapa terkejutnya keduanya setelah tahu mereka sudah pernah bertemu sebelumnya, "Mbak Dorna, ngapain malam - malam di tempat ini?"
"Hah, kamu ... kamu lagi, tak gak apa - apa sih. Kamu sendiri ngapain malam - malam di tempat ini?" tanya petugas Dorna.
Dorna yang tak tampak seperti biasanya itu mengenakan jeans biru dengan atasan kemeja flanel wanita membuat tampilannya bak anggun nan rupawan. Aryo pun dibuat terpana olehnya, ia bahkan tak mengira itu adalah polisi itu karena pakaiannya yang tak menggunakan seragam saat bertugas. Mungkin saja ia dalam misi khusus sendiri, tapi tetap saja wanita cantik bahkan dikasih pakaian apapun tetap menghilang keindahannya.
"Aaaakuu, aku disuruh detektif Tasya untuk menjaga daerah sini. Mencegah kendaraan agar tidak melewati tempat ini," jawab Aryo dengan rasa canggung.
"Begitu ya, maaf sudah mengagetkan mu. Ngomong - ngomong apa nggak bahaya ke sini sendiri malam - malam? Kalau aku memang ada misi sendiri, aku tak percaya dengan omong kosong setan - setanan itu," Dorna menurunkan pistolnya.
"Oh iya, mbak nggak kenapa - kenapa kan? Tadi kenapa bisa membelok ke arah hutan ya?" Aryo penasaran sekaligus kuatir.
Kepala Dorna tertunduk sebentar lalu kembali berbicara dengan nada yang dalam dan serius, "Tadi .... tadi aku melihat seseorang tiba - tiba hadir tepan di depan mobil ku, membuat ku kaget dan terpaksa aku harus membanting setir ke samping agar tak menabrak orang itu. Lagipula hari ini aneh bener ya, udah ada kabut putih terus ada orang muncul tiba - tiba di depan mobil ku. Apa jangan - jangan ini kerjaan bajing luncat ya, pasti ada seseorang di sekitar sini."
"Entahlah mbak, tapi yang pasti ... " kini gantian Aryo yang menjadi senyap tiba - tiba.
Mulutnya membisu, suasana jauh lebih hening dari sebelumnya, ia seperti melihat bahaya besar berada di depan mata namun tak tahu apa yang harus diperbuat. Benar saja, dari belakang petugas Dorna, sebuah bayangan siluet manusia muncul sekitar lima langkah darinya. Bayangan itu semakin lama semakin mendekat dan menunjukkan batang hidungnya. Dorna yang bingung terhadap tingkah polah Aryo mencoba untuk menyadarkanyya namun usahanya tak berhasil.
"Aryo kamu kenapa sih, kok tiba - tiba diam membisu kayak patung. Kamu terpana ya sama kecantikan ku, apa - apa jangan kamu ingin mengungkapkan ..."
Omongan Dorna langsung dipotong oleh bahasa tubuh Aryo, tangan kanannya ditaruh di depan mulut lalu jari telunjukknya terangkat ke atas. Ternyata dia memberi kode untuk tetap tenang dan jangan ribut. Tatapan Aryo sekilas menatap ke arah Dorna, namun aslinya ia terkejut lalu diam mematung ke arah belakang Dorna yang tak disangka - sangka ialah mahluk arwah penasaran yang sedang melayang tak terlalu tinggi sambil memberikan senyuman menyeringai ke arahnya. Dorna juga merasakan hawa buruk yang sama, dinginnya angin di sekitarnya membuat bulu kuduk merinding, jantung berdegup kencang, dahinya mengkerut, ia menyesal, menelan ludah sendiri setelah merasa pengalaman gaib yang buruk seperti ini. Ia bisa merasakan sebuah dengusan di bagian belakang kepalanya, lalu suara geraman bak menahan amarah yang hebat, dan terakhir sebuah suara horor cekikikkan wanita yang sangat pelan menghampiri telinganya. Dorna tahu ini adalah situasi yang sangat sulit, sama halnya ketika menangani perampok yang menyandera orang di dekatnya, namun karena ia sadar dirinya berprofesi sebagai polisi yang mempunyai tanggung jawab besar, maka ia harus melawan rasa takut itu demi melindungi orang sekitarnya. Ia membalikkan badannya, lalu membuka matanya lebar - lebar ke sebuah sosok yang ada di depannya. Ia terkejut setelah mengetahui sosok di depannya bukanlah manusia, membuatnya diam mematung. Tak lama kemudian sosok itu mengeluarkan suara melengking yang sangat nyaring, membuat petugas Dorna tak sadarkan diri di tempat.
Sekarang ancaman kematian berpindah mendatangi Aryo, Aryo sendiri sadar nasibnya kini sedang di ujung tanduk. Arwah penasaran itu mulai melirik tajam dirinya, dan skenario buruk pun terjadi. Arwah itu terbang melayang mengejar dirinya, mau tak mau Aryo langsung berlari kencang ke dalam hutan. Hanya bertahan hidup yang ada di benak pikiran Aryo saat ini.
Tak jauh dari situ, sebuah mobil van yang di dalamnya terdengar keras suara musik Shake it Off dari Taylor Swift mengundang Risa untuk terus bernyanyi, berirama, menggerakan bahunya ke kiri dan ke kanan. Hal tersebut tentu membuat adiknya yaitu Riko menjadi risih, pasalnya adiknya sedang serius mendalami foto - foto yang sebelumnya dikirim oleh Aryo. Pertanyaan besar muncul dari dalam benak pikirannya, apakah mungkin tujuan arwah itu sejatinya ingin mencari suaminya lalu membunuhnya. Sayangnya itu terlalu rumit melihat banyak korban yang sudah mati, ditambah untuk ukuran sebuah arwah penasaran, tenaganya sangat kuat untuk bisa berkali - kali menewaskan banyak orang. Ingin sekali ia menanyakan ini kepada kakaknya, tapi sound pengeras suara dalam mobil itu benar - benar merusak suasana yang ada. Terpaksa ia kembali menatap ke depan lalu menutup laptopnya itu, tapi sepertimha ada yang menggugah pikirannya ketika pandangannya melihat ke jalanan yang lurus tak jauh darinya. Sebuah motor harley dari arah bersebrangan terparkir di pinggir jalan dekat hutan yang sangat lebat. Firasatnya mengatakan itu adalah motor Aryo dan tebakannya benar karena plat nomor yang sama. Ia pun menyadarkan kakaknya yang sedang asyik itu dengan menepuk bahunya dengan kuat sehingga menimbulkan rasa sakit yang amat sangat.
"Hihh, apaan sih tepuknya keras banget!!" Risa jengkel.
"Itu lihat di depan, bukannya motornya Aryo, kamu kan sopirnya? Masak gak lihat," tangan Riko menunjuk ke pinggir jalan.
Risa mengecilkan suara dalam mobil lalu memandangi motor itu, dan firasat buruk juga menghampiri dirinya.
"Sialan, ini benar - benar gawat!! Ada yang tidak beres di sini!!" Risa gelisah.
"Gawat bagaimana??" kata Riko.
"Sudah jelas si Aryo dalam bahaya, make nanya segala. Ayo kita cepat menuju ke sana!!" seru Risa.
Mobil van itu bergerak menepi, kedua orang itu turun dari mobil. Risa mengambil persenjataan yang diperlukan sementara Riko sudah duluan masuk ke dalam. Sedangkan Aryo yang dalam keadaan bahaya terus melakukan langkah seribu demi menghindari amukan arwah gentayangan itu. Tapi nasib sial lagi - lagi menghampirinya, ia tersandung oleh sebuah akar pohon besar yang kuat lalu tersungkur jatuh ke tanah. Dengan sisa tenaga yang ada ia mencoba membangunkan setengah bagian tubuhnya. Kini ia dalam posisi duduk dengan kaki lurus ke depan, tapi saat ia menatap ke atas, arwah itu sudah melayang dengan jarak yang amat dekat dengannya. Arwah itu lalu mendarat ke tanah, ia berjalan seperti melayang ke arah Aryo. Aryo yang tak ingin mati begitu saja melakukan segala cara agar tetap hidup, salah satunya dengan mengambil bungkusan di kantong celananya itu. Ia membuka bungkusan itu lalu menuangkan sebuk di dalamnya ke telapak tangan kanannya. Ia teringat kata Risa bahwa garam bisa mengusir mereka untuk sementara. Maka ia pun melemparkan serbuk itu ke arah arwah penasaran tersebut, tapi yang terjadi malah tidak menimbulkan efek apa - apa. Terlanjur jengkel, ia mencoba merasakan bekas serbuk yang ada di tangannya, dan ia pun menyesal telah salah mengambil barang.
"Haaaachuu!!!" Aryo bersin, "Sialan!!! Ini kan merica, aku salah ambil bungkusan rupanya. Benar - benar mampus aku kali ini!!"
Bahaya sudah di depan mata, ia tak tahan untuk merasakannya, maka Aryo mencoba menutup matanya, siapa tahu dewi fortuna sedang menyertainya kali ini. Dan benar saja saat tangan arwah itu mau menyentuh kepala Aryo, sebuah suara tembakan keras lagi - lagi berhasil mengenainya. Arwah itu pun kembali lenyap bak angin debu di malam hari. Setelah arwah itu menghilang, Risa menghampiri Aryo dan menanyakan kondisinya.
"Ampuuunn!!! Aku janji gak ke sini lagi!! Ampuun!! Jangan bunuh aku!!!" Aryo meringis ketakutan seperti anak kecil.
"Woi, buka mata mu, ini Risa, dewi penolong mu!!" Risa menenangkan Aryo dengan santai.
"Rrrrisaa," Aryo membuka matanya perlahan, arwah itu telah menghilang, ia pun merasa lega, "Hufffh untung lah."
Risa membantunya berdiri, lalu membersihkan kotoran yang ada di jaketnya, "Kamu tidak apa - apa kan?"
"Aku tidak apa - apa, itu si petugas Dorna bagaimana?" kata Aryo.
"Tenang, dia baik - baik saja. Kamu bagaimana bisa bertemu dengannya, jangan - jangan sudah janjian duluan," Risa mulai berpikir macam - macam.
"Ah, enggak kok, emang lagi kebetulan aja ia juga ada misi nya tersendiri," jawab Aryo dengan muka kikuk.
Ketika berbicara dengan Risa, muncul di benak kepala Riko secara mendadak untuk menyudahi usaha pencarian dengan menyelesaikan kasus seperti ini. Sudah dua kali maut hampir mengambil nyawanya, ia hanya tak ingin di ketiga kalinya itu kembali terjadi dan berujung pada kematiannya sehingga membuatnya tak mungkin lagi untuk mencari keberadaan Arina.
"Risa, aku boleh berbicara pada mu?"
"Oh iya tentu saja, ini bukan soal polisi wanita tadi bukan?"
"Tentu saja tidak, ini soal diri ku, entah kenapa aku ingin menyudahi membantu menguak kasus ini."
"Woooo, jadi kamu ingin berhenti begitu, kamu ingin berhenti di tengah jalan?"
"Aku tidak berhenti di tengah jalan, aku tetap mencari Arina dengan cara ku sendiri yang tidak berbahaya seperti ini."
"Oh, tapi bagaimana kalau dalam misi pencarian Arina dengan cara mu itu di tengah - tengah juga menemui bahaya seperti ini? Aryo coba pikir kembali, yang kamu lakukan bukan cara yang diinginkan saudari kembar mu bukan? Ia ingin kamu menemukan dirinya dengan cara yang berguna buat orang lain. Cobalah bertahan sebentar saja, aku yakin jika marabahaya kembali menghampiri mu, ia pasti akan datang menolong mu. Entah bagaimana pun caranya, karena aku sempat bersama dirinya dalam waktu lama dalam menguak berbagai kasus yang ada, dan dia adalah orang yang bertanggung jawab."
Risa masih berusaha untuk meyakinkan Aryo dalam misi pencarian Arina, di sisi lain sejenak Aryo memikirkan kembali kata - kata Risa. Ada benarnya juga, ia telah berjanji kepada Arina untuk berusaha menolongnya dengan menolong orang lain, jika ia mengabaikannya, maka sama saja dengan mengkhianatinya. Apalagi ia juga tak ingin menambah luka sang ibu yang melihat putranya tak kunjung berhasil menemukan putrinya yang hilang itu. Dari pertimbangan itu, maka ia pun setuju untuk bertahan dengan Risa dan Riko walau mungkin dalam waktu yang bentar.
"Baiklah, aku akan mencoba bertahan tapi untuk sebentar saja."
"Iya tidak masalah Aryo, dan aku juga punya rencana buat mu besok."
"Rencana apa itu?"
"Nanti akan kujelaskan ketika kita sampai di hotel."
"Lalu bagaimana dengan polisi itu?"
"Iya juga ya, terpaksa untuk sementara dia harus tidur di kamar ku. Pasti kasur bakalan sempit ini."
Setelah aksi mendebarkan jiwa itu, mereka memutuskan untuk kembali ke hotel, beristirahat lalu menyiapkan segalanya untuk esok hari. Walau Aryo juga hampir putus asa akan keadaannya, kondisi saudarinya itu kembali memperingatkan dirinya akan misi pencarian yang harus terus berlanjut, salah satunya dengan menguak kasus supranatural seperti ini.
Diubah oleh dodydrogba 01-05-2018 13:08
0
Kutip
Balas