- Beranda
- Stories from the Heart
Yaudah 3: Kuliah Kerja Nyata?
...
TS
dasadharma10
Yaudah 3: Kuliah Kerja Nyata?
Selamat datang di thread ketiga yang merupakan lanjutan dari Yaudah Gue Mati Ajadan Yaudah 2: Challenge Accepted.
Sebelumnya, ijinkan gue buat memperkenalkan diri. Bagi pembaca setia kisah gue, pastinya kalian udah enggak asing dengan nama Muhdawi. Tapi bagi pembaca yang baru masuk ke thread ini, pastinya kalian asing dengan nama yang enggak biasa itu. Perkenalkan, nama lengkap gue Muhammad Danang Wijaya. Biasanya orang-orang manggil gue Dawi yang diambil dari singkatan nama gue Muhdawi. Kalian bisa panggil gue Dawi, atau kalo mau ikut-ikutan manggil gue Sawi juga enggak masalah. Gue orangnya idem, apa yang lo mau, kalo gue bisa, pasti gue usahakan. Anyway, langsung aja masuk lebih dalam ke thread ini. Sekali lagi gue ucapkan, selamat datang di thread ini.
Sebelumnya, ijinkan gue buat memperkenalkan diri. Bagi pembaca setia kisah gue, pastinya kalian udah enggak asing dengan nama Muhdawi. Tapi bagi pembaca yang baru masuk ke thread ini, pastinya kalian asing dengan nama yang enggak biasa itu. Perkenalkan, nama lengkap gue Muhammad Danang Wijaya. Biasanya orang-orang manggil gue Dawi yang diambil dari singkatan nama gue Muhdawi. Kalian bisa panggil gue Dawi, atau kalo mau ikut-ikutan manggil gue Sawi juga enggak masalah. Gue orangnya idem, apa yang lo mau, kalo gue bisa, pasti gue usahakan. Anyway, langsung aja masuk lebih dalam ke thread ini. Sekali lagi gue ucapkan, selamat datang di thread ini.
Quote:
Quote:
Spoiler for Sinopsis:
Spoiler for Index:
Diubah oleh dasadharma10 16-10-2018 23:34
andybtg dan 14 lainnya memberi reputasi
11
359.5K
1.3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
dasadharma10
#974
PART 69
“Gimana? Rame?”
“Banget, Bang!” kata si Bull acungin jempol ke gue. “Nella Kharisma punya suaranya si Sasha.”
“Menurut gue suaranya mirip sama vokalis Tik-Tok,” ucap gue menali sepatu. “Gue pernah lihat mereka manggung, bawain lagunya Avicii yang ‘Wake me up’ keren banget waktu itu.”
“Lo beneran balik sekarang, Bang?” tanya Bull. “Baru juga rame-ramenya.”
“Gausah nangis,” kata gue menghentak-hentakkan sepatu. “Udah capek kuping gue dengerin tangisan. Lagipula gue juga udah pamit sama pak RW kalo mau balik duluan juga, masa iya enggak jadi.”
“Dijemput cewek lo?” tanya Bull lagi. “Salam, ya?”
“Salam-salam,” kata gue. “Kunyah tuh daun salam.”
Bull menjatuhkan tubuhnya ke kasur, Kalo dilihat dari kantung matanya kayaknya dia capek banget. Mungkin lebih dari sekedar capek. Kayak orang yang dipaksa bangun selama tiga hari non stop karena dimintain pertanggungjawaban atas ide buat dangdutan. Ya, mungkin lebih mirip kayak gitu.
“Balik sekarang, Wi?” tanya Melly yang tiba-tiba ada di depan pintu rumah unit.
“Iya, Mell,” seru gue dari dalam kamar. “Kok lo di sini? Itu panggung siapa yang ngawasin?”
“Tenang,” ucap Melly menghampiri. “Ada si Luther, kok.”
“Bukannya itu malah harus lebih diawasin, ya?”
“Yaudah,” kata si Bull. “Gue balik ke panggung duluan deh kalo gitu.”
“Gue juga udah selesai kok ini, tungguin Bull–”
“Duluan aja, Bull!” potong Melly mendorong badan Bull ke arah pintu.
“Eh! Bull!”
“Udah…, lo ngobrol berdua aja dulu!” serunya Bull kejauhan. “Ntar kalo cewek lo dateng gue kabarin.”
Melly mendekat dan Bull pun berlalu. Rese emang si Bull, dia pasti masih mikir kalo gue sama Melly ada apa-apa. Padahal udah gue jelasin semuanya, apalagi dia juga udah tau kalo gue udah ada cewek, kenapa masih mikir yang aneh-aneh coba?
“Barang udah dimasukin tas semua, Wi?” tanya Melly duduk di sebelah gue.
“Kayaknya sih udah,” jawab gue. “Dompet, hape, sama charger.”
“Oh…,” gumam Melly.
“Ntar kalo ada yang ketinggalan paling juga dibawain sama anak-anak,” lanjut gue. “Keuntungan balik duluan, Mell–”
“Makasih ya, Wi,” potong Melly memegang tangan gue.
“M-makasih? Makasih buat apa?”
“Buat kemarin, buat tiga puluh hari kemarin, buat apa yang udah lo lakuin buat gue sama Cassie,” jelas Melly. “Gue bener-bener bersyukur bisa kenal sama orang kayak lo.”
“Ah… lo mah lebay–”
“Ssstt…!” potong Melly membungkam mulut gue dengan tangannya. “Man dont talk, man action.”
Gue tarik tangan Melly dari mulut gue, “I am no man, I am a dude.”
Melly tersenyum kesal lalu tertawa, “Annoying dude!”
“Jangan ngarep hal-hal romantis, deh,” kata gue. “Ntar urusan makin panjang.”
“Sepanjang apapun masalah kalo sama lo gapapa, deh.”
“Emang bener perasaan gue, makin lama gue di rumah ini makin banyak juga gangguannya.”
Melly mendorong gue ke arah kasur yang udah tertata rapi di tembok.
“M-Mell,” ucap gue pelan. “B-bahaya, Mell–”
Dia menarik buff muka di leher gue sampai ke hidung dengan paksa. Lalu dengan satu gerakan dia menempelkan bibirnya ke buff gue.
Memang sebagain orang bakal mikir kalo sama aja kayak cium kain biasa, tapi kalo dirasain sendiri… beuh! Melly gila!
Gue jauhkan kepala gue dari Melly. Beranjak dari duduk, gue segera merapikan baju gue. Enggak ada kejanggalan, ataupun keanehan lainnya. Tentang yang baru aja kejadian, gue enggak mau terlalu mikirin.
“Wi,” panggil Melly.
“Ya?”
“Lo mikir kalo gue ini cewek gampangan, ya?”
“Enggak,” jawab gue memutar badan ke arahnya. “Emang gue pernah bilang kayak gitu.”
“Enggak ada hubungan apa-apa … tapi tiba-tiba kayak gitu,” lanjutnya masih memikirkan yang barusan.
“Mell,” panggil gue. “Buat cium seseorang lo enggak perlu hubungan.”
Melly menatap gue dalam-dalam.
“Hubungan cuma diperluin buat ML,” lanjut gue. “Makanya disebut hubungan badan.”
“Eh?”
“Kalo ML enggak ada hubungannya ya jadi cuma badan doang,” tambah gue sambil nyengir.
“Lo tuh emang orang paling ngeselin! Gue baru serius juga!”
“Santai… santai….” Gue ulurkan tangan gue ke depan Melly. “Gausah nge-gas.”
“Bodo!” ucapnya menepis tangan gue.
“Selama gue enggak pernah bilang kalo lo murahan atau sejenisnya, janganlah lo mikir kayak gitu. Itu namanya bukan gue yang judgemental tapi lo yang judgemental. Belum jadi lo tau gimana pemikiran gue tentang lo, eh, lo nya udah bikin pemikiran lo sendiri.”
“Ya tapi kan dari kelaluan gue ke lo–”
“Buat gue cium orang tiba-tiba itu punya banyak arti,” potong gue kembali mengulurkan tangan. “Bisa karena kita peduli, bisa karena kita enggak mau kehilangan, atau mungkin bisa karena kita peduli dan enggak mau kehilangan orang itu.”
Melly meraih tangan gue dan beranjak dari duduknya.
“Ciuman tiba-tiba itu kebanyakan tanpa nafsu, cuma rasa, rasa pengin melakukan sesuatu yang bikin kita sadar akan momen itu.”
“Cium orang cuma karena pengin sadar akan momen itu?”
“Ya salah satunya itu,” lanjut gue. “Ya emang sih buat mengingat momen bisa aja pake hal lain. Kayak push up, mainan gundu, ataupun bocorin kepala dengan cara jatuhin diri dari pohon mangga punya tetangga.”
Dia senyum ke arah gue.
“Tapi hal-hal itu lebih enggak lazim,” kata gue. “Lo lagi lulus SNMPTN bareng sama temen lo, seneng banget, saking bahagia dan girangnya akhirnya lo mainan gundu. Kan enggak ‘wah’ sama sekali.”
“Dasar!” pukul Melly sambil nyengir. “Dan menurut lo satu-satunya hal yang saat itu lazim tuh ciuman?”
“With kiss,” kata gue. “Everything is a memorable moment.”
“Kalo gitu cium gue sekali lagi,” kata Melly mendorong gue ke arah tembok.
“Sekali lagi? Gue bahkan belum pernah cium lo!”
“Yang barusan?”
“Lo cium kain! Ada rasanya juga enggak!”
“Yaudah berarti cium gue!”
“Gimana? Rame?”
“Banget, Bang!” kata si Bull acungin jempol ke gue. “Nella Kharisma punya suaranya si Sasha.”
“Menurut gue suaranya mirip sama vokalis Tik-Tok,” ucap gue menali sepatu. “Gue pernah lihat mereka manggung, bawain lagunya Avicii yang ‘Wake me up’ keren banget waktu itu.”
“Lo beneran balik sekarang, Bang?” tanya Bull. “Baru juga rame-ramenya.”
“Gausah nangis,” kata gue menghentak-hentakkan sepatu. “Udah capek kuping gue dengerin tangisan. Lagipula gue juga udah pamit sama pak RW kalo mau balik duluan juga, masa iya enggak jadi.”
“Dijemput cewek lo?” tanya Bull lagi. “Salam, ya?”
“Salam-salam,” kata gue. “Kunyah tuh daun salam.”
Bull menjatuhkan tubuhnya ke kasur, Kalo dilihat dari kantung matanya kayaknya dia capek banget. Mungkin lebih dari sekedar capek. Kayak orang yang dipaksa bangun selama tiga hari non stop karena dimintain pertanggungjawaban atas ide buat dangdutan. Ya, mungkin lebih mirip kayak gitu.
“Balik sekarang, Wi?” tanya Melly yang tiba-tiba ada di depan pintu rumah unit.
“Iya, Mell,” seru gue dari dalam kamar. “Kok lo di sini? Itu panggung siapa yang ngawasin?”
“Tenang,” ucap Melly menghampiri. “Ada si Luther, kok.”
“Bukannya itu malah harus lebih diawasin, ya?”
“Yaudah,” kata si Bull. “Gue balik ke panggung duluan deh kalo gitu.”
“Gue juga udah selesai kok ini, tungguin Bull–”
“Duluan aja, Bull!” potong Melly mendorong badan Bull ke arah pintu.
“Eh! Bull!”
“Udah…, lo ngobrol berdua aja dulu!” serunya Bull kejauhan. “Ntar kalo cewek lo dateng gue kabarin.”
Melly mendekat dan Bull pun berlalu. Rese emang si Bull, dia pasti masih mikir kalo gue sama Melly ada apa-apa. Padahal udah gue jelasin semuanya, apalagi dia juga udah tau kalo gue udah ada cewek, kenapa masih mikir yang aneh-aneh coba?
“Barang udah dimasukin tas semua, Wi?” tanya Melly duduk di sebelah gue.
“Kayaknya sih udah,” jawab gue. “Dompet, hape, sama charger.”
“Oh…,” gumam Melly.
“Ntar kalo ada yang ketinggalan paling juga dibawain sama anak-anak,” lanjut gue. “Keuntungan balik duluan, Mell–”
“Makasih ya, Wi,” potong Melly memegang tangan gue.
“M-makasih? Makasih buat apa?”
“Buat kemarin, buat tiga puluh hari kemarin, buat apa yang udah lo lakuin buat gue sama Cassie,” jelas Melly. “Gue bener-bener bersyukur bisa kenal sama orang kayak lo.”
“Ah… lo mah lebay–”
“Ssstt…!” potong Melly membungkam mulut gue dengan tangannya. “Man dont talk, man action.”
Gue tarik tangan Melly dari mulut gue, “I am no man, I am a dude.”
Melly tersenyum kesal lalu tertawa, “Annoying dude!”
“Jangan ngarep hal-hal romantis, deh,” kata gue. “Ntar urusan makin panjang.”
“Sepanjang apapun masalah kalo sama lo gapapa, deh.”
“Emang bener perasaan gue, makin lama gue di rumah ini makin banyak juga gangguannya.”
Melly mendorong gue ke arah kasur yang udah tertata rapi di tembok.
“M-Mell,” ucap gue pelan. “B-bahaya, Mell–”
Dia menarik buff muka di leher gue sampai ke hidung dengan paksa. Lalu dengan satu gerakan dia menempelkan bibirnya ke buff gue.
Memang sebagain orang bakal mikir kalo sama aja kayak cium kain biasa, tapi kalo dirasain sendiri… beuh! Melly gila!
Gue jauhkan kepala gue dari Melly. Beranjak dari duduk, gue segera merapikan baju gue. Enggak ada kejanggalan, ataupun keanehan lainnya. Tentang yang baru aja kejadian, gue enggak mau terlalu mikirin.
“Wi,” panggil Melly.
“Ya?”
“Lo mikir kalo gue ini cewek gampangan, ya?”
“Enggak,” jawab gue memutar badan ke arahnya. “Emang gue pernah bilang kayak gitu.”
“Enggak ada hubungan apa-apa … tapi tiba-tiba kayak gitu,” lanjutnya masih memikirkan yang barusan.
“Mell,” panggil gue. “Buat cium seseorang lo enggak perlu hubungan.”
Melly menatap gue dalam-dalam.
“Hubungan cuma diperluin buat ML,” lanjut gue. “Makanya disebut hubungan badan.”
“Eh?”
“Kalo ML enggak ada hubungannya ya jadi cuma badan doang,” tambah gue sambil nyengir.
“Lo tuh emang orang paling ngeselin! Gue baru serius juga!”
“Santai… santai….” Gue ulurkan tangan gue ke depan Melly. “Gausah nge-gas.”
“Bodo!” ucapnya menepis tangan gue.
“Selama gue enggak pernah bilang kalo lo murahan atau sejenisnya, janganlah lo mikir kayak gitu. Itu namanya bukan gue yang judgemental tapi lo yang judgemental. Belum jadi lo tau gimana pemikiran gue tentang lo, eh, lo nya udah bikin pemikiran lo sendiri.”
“Ya tapi kan dari kelaluan gue ke lo–”
“Buat gue cium orang tiba-tiba itu punya banyak arti,” potong gue kembali mengulurkan tangan. “Bisa karena kita peduli, bisa karena kita enggak mau kehilangan, atau mungkin bisa karena kita peduli dan enggak mau kehilangan orang itu.”
Melly meraih tangan gue dan beranjak dari duduknya.
“Ciuman tiba-tiba itu kebanyakan tanpa nafsu, cuma rasa, rasa pengin melakukan sesuatu yang bikin kita sadar akan momen itu.”
“Cium orang cuma karena pengin sadar akan momen itu?”
“Ya salah satunya itu,” lanjut gue. “Ya emang sih buat mengingat momen bisa aja pake hal lain. Kayak push up, mainan gundu, ataupun bocorin kepala dengan cara jatuhin diri dari pohon mangga punya tetangga.”
Dia senyum ke arah gue.
“Tapi hal-hal itu lebih enggak lazim,” kata gue. “Lo lagi lulus SNMPTN bareng sama temen lo, seneng banget, saking bahagia dan girangnya akhirnya lo mainan gundu. Kan enggak ‘wah’ sama sekali.”
“Dasar!” pukul Melly sambil nyengir. “Dan menurut lo satu-satunya hal yang saat itu lazim tuh ciuman?”
“With kiss,” kata gue. “Everything is a memorable moment.”
“Kalo gitu cium gue sekali lagi,” kata Melly mendorong gue ke arah tembok.
“Sekali lagi? Gue bahkan belum pernah cium lo!”
“Yang barusan?”
“Lo cium kain! Ada rasanya juga enggak!”
“Yaudah berarti cium gue!”
JabLai cOY dan pulaukapok memberi reputasi
2
