- Beranda
- Stories from the Heart
OPERASI BINTANG MERAH
...
TS
novalso
OPERASI BINTANG MERAH
Hii...
Ini post pertamaku.
Di post perdana ini, aku bakal suguhin kalian dengan cerita anak SMA yang memiliki cerita dan rahasia masing-masing.
Cerita ini kuberi judul Operasi Bintang Merah...
seram ya??
Merah darah?
bukan kok,
kisah ini bermula ketika Lelaki bernama Kega yang duduk di bangku kelas 10 dipaksa untuk mengikuti ekstrakulikuler oleh gurunya, dikarenakan sudah menjadi peraturan sekolah untuk mewajibkan setiap siswa kelas 10 untuk mengikuti kegiatan yang di singkat ekskul ini..
bagaimana Kelanjutannya?
.
.
Spoiler for Kisah Satu (Prolog):
Quote:
Masih bingung tentang alur OBM, yuk tanya tanya di SEPUTAR TANYA OBM
Spoiler for SEPUTAR OBM:
Spoiler for INDEX CERITA:
Diubah oleh novalso 06-05-2018 10:08
nona212 dan anasabila memberi reputasi
2
5.8K
41
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33KThread•54.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
novalso
#40
Memoar Hujan Sang Ratu
Air langit mendera udara, tembus pandang dari jendela lantai dua tempat berbaring puteri raja. Matahari yang hendak menyambut – kalah kuasa dengan hujan yang terus menggebu. Ia menghirup aroma cuaca, nikmat meresap di antara lubang hidung,
Quote:
Pikirannya melayang jauh, menatap tepi jendeli segi empat yang tembus ke arah rintik yang membasahi kaca
Quote:
Hari itu ia tidak pergi ke sekolah, padahal limosin di garasi istana siap untuk menghantarkannya sampai ke dalam kelas. Ia lebih memilih belajar di rumah, membuka buku ilmu pasti sambil menulis apa yang pantas untuk ditulis. Hari-harinya diisi dengan belajar, menjadi suatu keharusan baginya untuk belajar tiga waktu dalam satu hari tanpa terlewati. Baru kali inilah tumben ia merasa malas untuk berangkat ke sekolah. Hari yang monoton berlalu begitu saja.
Esok hari
Quote:
Selesai makan ia segera berangkat ke sekolah diantar oleh Wisnu, supir keluarga dan ditemani Bibi Nida. Bibi Nida hanya menghantar sampai pintu gerbang, karena sudah menjadi peraturan sekolah untuk tidak menghantar anak sampai ke dalam sekolah.
Quote:
Banyak orang menyapanya, siapa yang tak megenal dirinya, orang yang tidak asing lagi bagi para penghuni sekolah. Ia juga termasuk orang yang ramah, membalas setiap sapaan dibarengi sebuah senyuman. Ia langsung menempati kursi di baris paling depan, tempat yang memang disediakan untuknya.
Quote:
Kring... Kring...
Bel masuk berbunyi, perbincangan berakhir tanpa sebuah jawaban berarti. Maria tidak terlalu peduli, hanya anggota kelas baru, selama itu tidak menganggunya dalam belajar rasanya itu tidak masalah.
Jam pelajaran berakhir, waktunya untuk pulang
Maria menunggu pak Wisnu dan bibi Nida di halte sekolah, sudah setengah jam ia menunggu.
Quote:
Ia sedikit menggerutu, melirik jam tangan lucu bermotif Hello Kitty yang jarum detiknya terus berpacu. Ia bosan menunggu, memutuskan untuk berjalan pulang sendiri dan ini adalah perjalanan pertamanya tanpa sebuah kendaraan mewah. Maria melintasi trotoar yang diingatnya selalu ketika bepergian dalam limosin. Pada sudut jalan ia mendengar suara gemerisik, ia telusuri berasal dari semak-semak di depannya. Ia cukup penasaran tetapi juga takut.
Quote:
Maria berlari sekuat tenaga di sepanjang trotar. Terus berlari tanpa ada di benaknya untuk menepi, berhenti. Ia melihat di depan ada sebuah tempat kontruksi bangunan yang cukup tua, ia berpikir bisa mengelabui anjing itu jika bersembunyi di sana. Tapi ia salah, anjing itu tetap mengejarnya, ia sudah tidak sanggup lagi, Maria menyerah. Ia berjongkok menangis di ujung jalan yang rupanya buntu, biarlah mati dimakan anjing, pikirnya.
Quote:
Sesuatu terbang di udara lalu menghajar anjing yang siap menerkam Maria. Dua hewan saling bertarung, rival dalam rantai makanan yang tak pernah tergantikan. Anjing itu kabur setelah terpojok kalah bertarung dengan kucing jalanan bernama Eru.
Quote:
Yang berbicara itu melirik pada Maria, “Hey cengeng, anjingnya sudah pergi, jangan nangis lagi.”
Maria mengangkat kepalanya, melihat siapa yang berbicara. Air matanya berhenti, dilihatnya orang dengan senyum lebar penuh baret menggendong seekor anak kucing.
Quote:
Maria mengikuti lelaki itu dari belakang, kini ia dan lelaki itu berteduh di gedung tua yang nampak sudah tak terpakai. Mereka menghuni salah satu ruangan yang terlihat sudah rapih seperti baru dibersihkan, berbeda dengan lobby ataupun ruangan lainnya yang nampak berdebu dan penuh dengan puing bangunan.
Quote:
Lelaki itu pergi meninggalkan Maria sendiri. Lelaki dengan sweater itu pergi menuju suatu tempat, di antara hujan yang turun ia berlari – menghindari setiap tetesannya.
Quote:
Lamunannya buyar, seseorang berdiri di depan pintu yang semula tertutup rapat. Ia menoleh,
Quote:
Ia mengambil ransel kemudian bangkit dari duduknya meninggalkan ruangan yang sejuk akibat rintik hujan
0