EPISODE 8 : PEMBUNUHNYA ADALAH.....
Quote:
MALAM sangat gelap, pekat menghitam membungkus tempat dimana orang - orang itu mengadakan pertemuan hingga wajah keduanya sulit dikenali. Sebuah mobil mercy mewah berwarna hijau giok terparkir tepat di depan kedua orang itu. Si pengemudi tidak sedikitpun turun. Masih tetap berada di dalam mobil. Jendela depan samping kiri sengaja dibuka sedikit agar suara si pengemudi mercy bisa terdengar sampai keluar.
"Ada hal mendesak hingga kau meminta pertemuan ini?" Pengemudi mercy bertanya dengan suara berat.
"Dokter itu tidak ada di tempat kediamannya. Menurut tetangga -tetangganya dia menghilang begitu saja setelah ada seorang menjemputnya. Berarti saat lenyapnya hampir bersamaan dengan menghilangnya pemuda bernama Johan itu..."
Lelaki di dalam mobil mengusap mukanya berulang kali. Ada keringat dingin membasahi wajahnya.
"Aku juga khawatir pada dua orang itu. Rais, Sobran sekarang cari lagi kedua orang itu dengan teliti. Tempo hari kalian berdua aku perintahkan untuk segera membereskan kedua orang itu. Tapi kalian malah gagal. Celakanya dua orang itu menghilang seperti ditelan bumi...”
“ ..... Satu lagi tugas kalian membereskan polisi itu juga gagal....”
Suara orang di dalam mobil terdengar gusar dengan nada yang meninggi.
Rais dan Sobran hanya menundukkan wajahnya.
“ Aku tidak mau melihat kegagalan itu lagi. Tempo hari aku berharap urusan ini segera beres. Kalian meninggalkan desa ini sejauh –jauhnya dan memulai hidup baru dengan rumah dan harta yang telah aku persiapkan untuk kalian berdua “
"Jika kalian masih menginginkan hal itu perintahku harus kau lakukan dengan sebaik -baiknya. Kalau tidak nasibmupun akan masuk dalam daftar hitamku! Jangan lupa kau ikut terlibat banyak dalam urusan ini!"
"Saya mengerti. Kalau begitu izinkan kami pergi sekarang..."
"Jika kalian ingin bicara lagi jangan di luaran seperti ini, kalian bisa datang ke rumah. Tidak perlu sembunyi-sembunyi. Justru jika ada yang melihat bisa tambah tidak beres urusan ini. Pohon dan semak belukar ini sekarang telah memiliki mata dan telinga. Kalian mengerti...?"
"Kami mengerti..."
Dua orang itu menjawab serempak
"Kalian boleh pergi sekarang!"
Kedua orang ini bergerak meninggalkan tempat itu. Bayangan tubuhnya segera lenyap di kegelapan malam. Terdengar suara mesin mobil dihidupkan. Mobil mercy itu memutar agak jauh di depan sana lalu kembali lagi. Meluncur ke arah semula saat kemudian mobil itu berlalu.
Setelah mobil itu berlalu, sesosok tubuh bangkit. Dan keluar dari persembunyian di balik pohon asem yang tumbang yang ditutupi oleh rimbunnya semak belukar. Sesosok tubuh ini memperhatikan mobil tadi itu yang sekarang tengah membelok di sebuah tikungan tajam. Lampu belakangnya menyala merah lebih terang karena injakan pedal rem dan plat nomornya...
“ Sialan..orang itu cukup cerdas juga plat nomornya sengaja di tutup menggunakan kertas berwarna hitam. Tapi aku ingat jenis mobil itu. Tidak banyak yang punya mobil mewah seperti itu “
“ Aku sangat kagum dengan Pak Jatmiko. Nalurinya tidak pernah salah. Memang awal bencana ini bersumber dari desa ini “
Orang ini tersenyum sambil menggeleng –gelengkan kepalanya. Rupanya setelah kejadian ular sendok masuk di dalam mobil. Jatmiko yang masih curiga memerintahkan Marwan untuk kembali ke desa Pandak seorang diri. Menyusup ke desa ini untuk menghimpun keterangan. Malam semakin larut tatkala mata Marwan yang tajam melihat sekelebatan dua orang yang berjalan berjingkat –jingkat berjalan ke arah tepi desa yang sepi dan gelap karena penuh pohon besar dan semak –belukar. Berhati –hati polisi ini menguntit dua orang yang mencurigakan itu. Dan kemudian dua orang itu berhenti tepat di depan sebuah mobil yang terparkir dalam kegelapan malam. Tanpa membuang waktu Marwan bersembunyi di balik pohon yang tumbang. Jaraknya tidak terlalu jauh. Hanya sekitar lima belas langkah dari pertemuan orang –orang itu.
Quote:
Lelaki itu bercerita dengan muka tegang. Beberapa kali terlihat dia mengigit bibir. Kalimat –kalimat yang keluar dari bibirnya terdengar sesekali terbata –bata dan gemetaran. Setelah meraih segelas air putih yang ada di depannya. Lelaki tua itu melanjutkan perkataanya lagi. Jatmiko dengan seksama menyimak setiap perkataan dari lelaki itu yang diketahui bernama Supri. Jatmiko dan Parman telonjak dari tempat duduknya. Marwan yang tengah menghisap rokok melengak kaget. Akibatnya ia terbatuk. Rokoknya terjatuh ke pangkuan, menimbulkan percikan api pada celana jeans yang dikenakan. Cepat –cepat ia tepiskan puntung rokok menyala itu. Tentu saja orang ini kalang kabut. Dari orang ini mereka kemudian mendapatkan keterangan yang mengejutkan.
"Sebagai pembantu di tempat kediaman juragan Parmin saya diam-diam mengetahui adanya hubungan gelap antara juragan dengan anak tirinya Galuh. Ketika gadis itu hamil juragan menjadi bingung dan sangat ketakutan...."
"Tunggu dulu!" memotong Marwan.
" Tidak masuk akal kalau Galuh mau melayani ayah tirinya itu!"
"Secara wajar memang begitu. Tapi Juragan telah mencekoki anak tirinya itu dengan semacam obat perangsang " menjelaskan Supri. Sopir tua itu lalu melanjutkan.
"Dengan iming-iming sejumlah uang dan beberapa petak sawah, celakanya pemilik kos itu yang bernama Daim mau menolong juragan yang sedang kesulitan itu. Daim membawa mbak Galuh ke dokter untuk menggugurkan janinnya. Dokter itu dipaksa agar menggugurkan kandungan mbak Galuh. Tapi gagal karena kandungan sudah besar dan janinnya sudah kuat. Mbak Galuh meninggal dunia waktu kandungannya itu digugurkan "
"Ketika hal itu dikabarkan pada juragan, juragan menjadi tambah ketakutan. Akhirnya juragan datang sendiri ke rumahdokter itu pada tengah malam. Kami diperintahkan ikut. Disitu... di rumah dokter Jundi, mayat mbak Galuh kemudian dipotong-potong...."
Sampai disitu Supri menghentikan ucapannya. Wajahnya terlihat muram. Semacam ada perasaan yang sangat bersalah di diri lelaki tua ini.
"Siapa yang melakukannya?!" tanya Jatmiko.
"Kang Daim, juga Juragan Parmin..." sahut Supri
"Manusia-manusia biadab!" desis Jatmiko geram. Tangan kanannya mengepal gemas.
"Lalu apa yang terjadi selanjutnya?"
"Potongan-potongan mayat mbak Galuh dibuntal dalam sebuah kain putih. Terlebih dahulu juragan mencacah wajah mayat hingga tak mungkin lagi dikenali. Saya kemudian diperintahkan menggotong mayat dalam buntalan, bersama Daim dan dua orang lagi. Saya tidak tahu namanya
mayat itu kemudian di bawa dan buang di perbukitan seribu di tengah hutan jati sebelah selatan..."
"Setahu kami Galuh mempunyai seorang kekasih bernama Johan. Tapi pemuda itu lenyap hampir bersamaan dengan ditemukannya mayat di puncak hutan jati itu "
Jatmiko bertanya sembari meraih cangkir berisi kopi susu yang tersaji dihadapannya.
"Juga dokter bernama Jundi itu lenyap dari rumahnya... Apakah Johan tidak mengetahui kalau kekasihnya hamil...?"
"Mas Johan memang tidak mengetahui kehamilan itu. Dia seorang pemuda polos dan sopan. Dan dia bukannya lenyapkan diri, tapi sengaja bersembunyi demi keselamatannya. Orang- orang suruhan juragan Parmin berkali-kali hendak membunuhnya secara gelap. Dia lalu bersembunyi di satu tempat. Dokter itu ikut sembunyi bersamanya karena memang mas Johan yang menjemputnya malam-malam. Mereka merencanakan untuk melapor pada pihak berwajib, tapi tidak berani keluar dari tempat persembunyian karena orang-orang juragan ada dimana-mana..."
"Kalian tahu dimana tempat persembunyian Johan dan dokter Jundi itu?" tanya Jatmiko.
Supri mengangguk.
"Kalau begitu malam ini juga tolong antarkan kami ke sana," ujar Jatmiko lagi.
“ Tetapi sebelumnya tolong perintahan kepada beberapa orang segera lakukan penangkapan kepada orang yang bernama Daim itu ! Aku yakin dia masih ada di sini belum pulang ke Jogja “
“ Siap Pak “
Marwan berdiri lalu beranjak dari tempat duduknya. Tidak berapa lama terlihat ia berbicara dengan beberapa polisi yang ada di serambi.