Kaskus

Story

chrishanaAvatar border
TS
chrishana
Burung Kertas Merah Muda
Burung Kertas Merah Muda


Quote:



Spoiler for Perkenalan:


Quote:
Polling
0 suara
Siapakah sosok perempuan yang ada dibalik burung kertas berwarna merah muda tersebut?
Diubah oleh chrishana 08-01-2019 13:13
pulaukapokAvatar border
JabLai cOYAvatar border
zio0108Avatar border
zio0108 dan 16 lainnya memberi reputasi
15
135K
610
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread53.4KAnggota
Tampilkan semua post
chrishanaAvatar border
TS
chrishana
#187
Chapter 36
“Ya Allah, Far. Beneran gue gak ada hubungan apa-apa sama Rendy.” Anna berkata dengan lihir sambil menahan tangis.

“Alah gak usah bawa-bawa Tuhan deh lo! Munafik tau gak!”

“Gue gak ada hubungan apa-apa sama Rendy, Far. Serius, gue gak bohong.” Anna mulai mengeluarkan air mata.

“Pokoknya mulai detik ini, lo bukan temen gue lagi! Gue gak mau liat muka lo lagi! TITIK!”

Fara memutuskan sambungan telepon dengan sepihak. Anna yang sedang mengurung diri di kamarnya, kini merasakan bagaimana kehilangan seorang teman. Anna masih terngiang oleh kejadian kemarin yang menimpa Rendy dan Tasya, sehingga dia tak mau pergi menuju sekolahnya sampai dia merasa aman.

Anna masih menutupi wajahnya yang kemerahan. Seolah-olah dia tak percaya apa yang baru saja dia alami saat ini. Bukannya memiliki teman baru, justru malah dia mempunyai musuh. Musuh yang tak diinginkan olehnya karena teman sebangku sendiri. Anna menjadi bingung apa yang harus dia lakukan. Dia memutuskan untuk keluar dari kamarnya dan berjalan keluar dari rumahnya. Di depan rumah, ada ibunya yang sedang duduk bersantai.
“Mau kemana, nak?” tanya ibunda Anna.

“Mau keluar sebentar, Bu.” jawab Anna sambil menunduk.

Ibunda Anna bangkit dari duduknya dan menghampiri Anna. “Kamu kenapa? Kok nangis?”

“Gak apa-apa, Bu. Aku mau keluar sebentar ya. Sebentar aja.”

“Gak mau makan dulu? Udah siang.”

“Gak usah, Bu.”

Anna berjalan perlahan dari kompleks rumahnya menuju suatu tempat. Langkahnya terus melaju tanpa tahu arah tujuannya. Anna hanya berjalan di bawah siraman mentari di siang hari. Bahkan, awan tak bersedia memayungi dirinya yang sedang bersedih. Senyawa berwarna putih tersebut bahkan hilang seiring angin membuatnya dia melaju menjauhi sang surya.

Langkahnya terus melaju hingga akhirnya sampailah ke sebuah taman di mana taman ini begitu indah. Taman yang letaknya tak jauh dari rumahnya. Tempat ini begitu sepi di siang hari. Hanya ada beberapa orang saja yang melintas. Di sana, Anna menemukan seseorang yang wajahnya tak asing baginya.
“Kak Anita?”

“Anna? Kok kamu di sini?”

Anna duduk di samping Anita. “Kebetulan aja rumahku gak jauh dari sini, Kak. Kakak sama Rendy?”

“Aku sendiri aja ke sini. Kamu kenapa gak sekolah?”

“Aku masih takut, Kak. Takut orang-orang yang kemarin nungguin aku di sekolah. Rendy gimana keadaannya, Kak?”

“Rendy gak apa-apa kok. Cuma aku agak shock aja dengan apa yang dia lakuin tadi.” jawab Anita.

“Rendy kenapa, Kak? Dia berantem lagi?”

“...” Anita menggelengkan kepalanya. “Dia... Kasar...”

“Rendy orang baik, Kak. Aku gak percaya!”

Hembusan angin di hari yang cerah menghiasi siang itu. Anita dan Anna saling menunduk tanpa kata. Ada rasa tak percaya dari Anna dengan apa yang diutarakan oleh Anita. Karena Anna sangat yakin bahwa Rendy adalah anak yang baik. Tidak mungkin ada api jika tak ada pemicunya.
“Pasti dia punya alasan untuk berbuat kasar, Kak.” ujar Anna.
“Iya, kamu bener. Mungkin aku yang keterlaluan.”

Anita menceritakan semuanya kepada Anna. Anita berkisah dengan apa yang dia lakukan. Anita juga mengakui bahwa dia sering menggoda Rendy dengan tubuhnya. Dengan spontan, Anna meledakkan emosinya.
“Kakak! Harus ya kayak gitu sama Rendy?!” Anna mulai marah.

“Kok kamu marah, Na?” tanya Anita.

“Ya aku gak suka kakak kayak gitu! Apaan coba sampe nempel-nempel! Pegang dada lah!”

Anita tersenyum meledek Anna. “Ciee... Kamu cemburu, ya? Hahahahaha!”

“Nggak!” Anna membuang muka.

“Kalaupun iya juga gak apa-apa kok, Na.”

Angin kembali bertiup menggugurkan daun yang menempel di ranting. Anna kembali tertunduk karena dia sadar bahwa dia bukan siapa-siapa. Dia tak punya hubungan apapun dengan Rendy. Walaupun hatinya panas karena perlakuan Anita kepada Rendy.
“Aku tau kok kamu sayang sama Rendy, Na.” ujar Anita.

“...”

“Dari sikap kamu dan apa yang kamu lakuin buat Rendy, itu udah cukup membuktikan bahwa kamu tulus sayang sama dia.” lanjut Anita.

“...”

“Kamu mau ngabulin permintaanku gak, Na?”

“Apa, Kak?”

“Tolong jagain Rendy. Aku percaya cuma kamu yang bisa jaga dia, Anna.”

Anita beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan perlahan meninggalkan Anna sendiri. Anna hanya bisa melihat setiap langkah dari Anita yang perlahan menghilang dari pandangannya.
****

“Rendy.” Mama tiba-tiba saja menampakkan diri dari balik pintu kamar Rendy.

“Eh, Mama.”

“Kamu kenapa sama Anita?” tanya Mama seraya duduk di samping Rendy.

“Berantem sedikit, Ma.” jawab Rendy.

“Mau kamu marah bagaimanapun, kamu gak boleh kasar sama perempuan.”

“Iya aku tau, Ma.”

“Kamu tau gak kenapa Anita pindah ikut kita ke sini?” tanya Mama.

“...” Rendy hanya menggelengkan kepala.

“Jadi, sebenarnya dia itu takut dengan papanya. Dia sering melihat papa dan mamanya bertengkar. Sampai akhirnya dia melihat papanya bertindak kasar dengan mamanya. Maka dari itu, dia pindah ke sini supaya dirinya bisa jauh lebih tenang.” Mama berkata dengan perlahan dan jelas.

Rendy menghela napas panjang. “Kenapa Kak Anita gak cerita dari awal sama aku?”

Mama hanya mengusap kepala Rendy, lalu pergi meninggalkan Rendy menuju ke ruang keluarga untuk melanjutkan aktifitasnya. Aktifitas yang kurang disukai oleh sebagian orang. Yaitu, menunggu.
JabLai cOY
itkgid
jenggalasunyi
jenggalasunyi dan 10 lainnya memberi reputasi
11
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.