- Beranda
- Stories from the Heart
MEREKA YANG HIDUP DALAM GELAP -[Based On True Story]- SEASON 2 "KAMI SELALU ADA"
...
TS
bakamonotong
MEREKA YANG HIDUP DALAM GELAP -[Based On True Story]- SEASON 2 "KAMI SELALU ADA"
Mereka yang Hidup Dalam Gelap, merupakan suatu true stroy, real story atau semacam itu tentang Arda, ketika di season 1 Arda menyajikan pada anda bagaimana dia bertahan dan berhadapan serta bertemu dan mengenal mereka, maka di season 2 ini arda akan mengantarkan kalian menuju dalamnya cerita tahap lanjut, dimana dia harus berhadapan dengan mereka, menguji apa yang telah dia pelajari, dan menjadi seorang yang menjembatani antara 2 dunia.
90% horror dengan bumbu hiperbola dan cerita drama, cinta, dan cerita persahabatan, memberikan kepada pembaca kesan tentang apa yagn dialami penulis.
Quote:
Quote:
selamat menikmati season 2 dari cerita ini, semoga kalian menyukai, jangan lupa cendol, juga share and like nya
ig : @bakemonotong
twitter : @Ardahakimotong
Welcome to my Second Season of Story
INDEKS :
Quote:
NITIPSSSS :
Quote:
Diubah oleh bakamonotong 22-06-2018 09:53
meqiba dan 2 lainnya memberi reputasi
3
56.3K
212
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
bakamonotong
#158
PART XXIV - Melepaskan Semua
(maaf bar update karena saya baru sampai jogja hari minggu siang, dan ini baru nyentuh laptop buat update lagi, maaf semua nya)
Kelima naga yang sekarang ini bersedia bertempur bersama ku, mereka memaksa untuk menaikkan energi mereka, menggunakan sampai batas paling tinggi dari energi mereka. Aku yang sudah berkonsentrasi dan membaca doa kini merasa lebih yakin untuk menghancurkan makhluk ini. dan aku berlari maju bersama kelima naga ini, hingga akhirnya, tertarik pada suatu dimensi, yang berbeda lagi, kami tertarik masuk ke dalam suatu kerajaan besar, dan ya, si Gendruwo raksasa ini adalah bosnya, raja dari istana itu. Istana yang penuh aura kegelapan, aura yang negatif yang membuatku sesak nafas.
Kerajaan ini berada di bagian utara, daerah pegunungan, karena sangat terasa beda aura dari mereka yang di pantai dan di gunung, dan yang lebih parahnya lagi, aku yang seharusnya lebih bisa akrab dengan penghuni utara, kini harus bertempur dengan salah satu raja di daerah utara. Dan satu yang membuatku yakin, tidak mungkin alasan dia menyerangku hanya karena tidak suka dan tidak senang padaku, ada hal lain yang dia tutupi yang membuatku harus bertempur dengannya, dan kehilangan Abah dan Sar yang ditahan olehnya. Apa yang sebenarnya diinginkan oleh makhluk ini, aku harus segera mencari tahu.
Aku segera memasang kuda kuda, dan meminta para Naga maju menyerang, Naga Geni, Watu, Ireng, Bayu dan Amarta kini menghancurkan dan perlahan meluluh lantakkan beberapa pasukan disana, membuat makhluk- makhluk kelas teri disana kewalahan dan terpukul mundur, tapi si Raksasa ini meloncat dan membuat para Naga terpental, sigap dia mencekik leher para Naga, dan tersenyum , "Kalian akan menjadi baju zirah yang bagus untukku", katanya. Aku yang geram segera meminta para Naga melilitnya, untuk menghancurkannya, entah apapun yang diinginkan makhluk ini, aku sudah tak peduli lagi. Dan kulihat para Naga kini melilit dan menghancurkan perlahan lengan kaki dan badannya, membuat si Makhluk ini mengerang dan kemudian marah, membanting dan membaut para Naga terlepas. Seketika makhluk ini terjatuh, terduduk dan memandang marah padaku, pandangannya sudah cukup untuk membuat mentalku mengendur. hingga makhluk ini berdiri dan perlahan bersiap menyerangku lagi.
"Kau! Manusia! Aku tak setuju manusia sepertimu akan menjadi pewaris dari dia, Raden Panggadewa (samaran), awas saja kau, akan ku hancurkan kau disini, dan sekarang juga", kata raksasa itu memaki padaku, satu sisi aku mulai menangkap apa yang terjadi, dan siapa Panggadewa? baru kali ini aku mendengar nama itu, siapakah dia? Pikiranku saat itu mulai meracau jauh, hingga aku tak sadar si Raksasa berdiri mengambil Gada nya dan memukul para Naga, kemudian berlari ke arahku dan memukulku dengan gadanya, membuatku terpental. Aku lihat para Naga sudah kehabisan energi, dan perlahan badan serta aura mereka semakin menipis dan transparan, hingga si raksasa, kembali, menyedot kelima naga ini, membuat nya semakin kuat, dan aku kini makin tidak tahu bagaimana cara mengalahkan raksasa sialan satu ini.
Aku hanya bisa berdiri, kebingungan dan kemudian mulai merapalkan segala doa, dan aku teringat pada satu hal, sebuah kemampuan yang pernah ku pelajari dari Abah dalam mimpi, kemampuan yang lebih dari sekadar membakar Jin, tapi juga menghapuskan jejak, istana, kampung, bahkan juga menghancurkan seluruh daerah gaib sekitarnya, Ajian Wisang Geni ( bukan nama asli ajiannya, cuma disamarkan, karena tidak boleh disebar), dan aku kemudian membaca doa, berharap bantuan dari Allah, dan memantapkan doaku, memfokuskan segala energi ku, ke dalam satu titik terkuat, mata ketiga ku, membuat mataku menyala terang, dan memancarkan sedikit api, sebuah ajian yang dapat menghanguskan, meluluh lantakkan si Raksasa, dengan satu resiko, rusaknya mata ketiga ku, dan energi spiritual ku yang hilang, dan dalam keadaan ngerogo sukma, ada kemungkinan aku tidak bisa kembali ke badanku.
Tanpa pikir panjang dan aku memang tidak memiliki pilihan lain, aku yang telah membakar mataku dengan ajian ini, kini menerang si raksasa itu, meloncat cepat dan segera aku tempelakn telapak kananku di bagian tubuh makhluk itu, dan seketika terbakar, hangus, dan menghilang, tangan raskas tadi hilang tak berbekas, membuatnya mengerang kesakitan, memegang bekas hilang tangannya yang buntung barusan. Kemudian dia berusaha memukulku dan kutangkap tangan satunya, dan terbakar hilang, aku mundur kemudian, sedikit bersandar pada pilar kerajaan ini, dan pilar ini pun hangus, hilang, sebuah kemampuan yang belum bisa aku kontrol, dan kini membuat kepalaku makin pusing, membuatku sedikit linglung dan hmpir jatuh. Tapi aku masih ada tugas, untuk menuntaskan nyawa si raksasa sial satu ini.
Cepat aku kemudian belari, kulihat para jon - jin kecil mulai mendatangi ku, beberapa banaspati menyerangku, tapi tubuh api mereka tetap kalah oleh api yang ada pada diriku, menghanguskan api? memang hampir tidak mungkin tapi ini yang terjadi, banaspati tadi terbakar dan perlahan menghilang, Ajian WIsang Geni, kini mulai melemah, setelah aku menuntaskan banyak pasukan si Raksasa ini, hingga akhirnya aku memutuskan untuk maju, menyerang si Raksasa sialan ini, kutempelkan tangan diakakinya, membakar dan membuatnya jatuh, kutempelkan tanganku di badannya, menghancurkan dadanya, membuat lubang besar dan kulihat dia mengerang makin kencang, tapi tak bisa melakukan apapun. dan satu hal, Ajian Wisang Geni, mengunci kemampuan regenerasi dari makhluk astral ini. kini kulihat Abah, Sar dan Para Naga di dalam tubuh makhluk ini, dan setelah badn makhluk ini hangus, mereka terbebas, dan segera aku minta mereka menjauh karena aku tidak mampu mengontrol ajian ini.
Erangan makhluk ini makin tak terdengar karena perlahan kepalanya hilang terbakar oleh ku, dan ajian wisang geni mulai memudar kekuatannya begitu juga kemampuanspiritualku dan mata ketigaku yang berada di dahi ku, kini mulai blur untuk melihat, dan sakit sekali jika kugunakan, hingga akhirnya aku dtarik kembali ke ragaku oleh abah, sar dan para Naga. KIni aku melemah, bahkan dalam ragaku ini aku kehilangan kemampuan mengendalikan mereka, aku hanya melihat Abah Sar dan Para Naga dalam keadaan samar, dan sepertinya ini saat aku harus mengucapkan perpisahan pada mereka.
"Kami akan kemabli pada tuan kami di tanah selebes, dan terima kasih telah menerima kami, suatu saat, kami akan kembali bertemu kamu jika memang itu sudah menjadi takdir jodoh kami", kudengar samar suara Naga Amarta, dan perlahan kulihat mereka terbang, menghilang dalam gelap malam. Aku sedikit menangis kesepian ditinggal 5 naga ini, teman dalam gelapku. Dan aku lirik Abah dan Sar, yang menunduk padaku, "Kami akan setia disini, tapi untuk sementara, kami akan kembali ke tanah pasundan, kembali ke gunung kami, untuk memulihkan energi kami dan meningkatkan kekuatan kami, den Arda, semoga segera bisa memulihkan mata dan energi spiritual den Arda, lakukan hal yang menurut den Arda benar, kami pamit dahulu". Seketika, Abah, Sar menghilang, sebelumnya Abah sempat memulihkan energiku, membuatku sedikit sadar, dan mampu untuk membawa kendaraan pulang ke rumah. dan semua sosok yang biasa kulhat di rumahku, kini tak kulihat lagim bahkan samar ku dapat merasakannya. Kehilangan kemampuan ini, seperti ketakutan buatku, hampa, memang aku tidak akan diganggu kaum mereka, tapi aku juga merindukan bisa melihat sosok- sosok yang menemaniku.
(maaf bar update karena saya baru sampai jogja hari minggu siang, dan ini baru nyentuh laptop buat update lagi, maaf semua nya)
Kelima naga yang sekarang ini bersedia bertempur bersama ku, mereka memaksa untuk menaikkan energi mereka, menggunakan sampai batas paling tinggi dari energi mereka. Aku yang sudah berkonsentrasi dan membaca doa kini merasa lebih yakin untuk menghancurkan makhluk ini. dan aku berlari maju bersama kelima naga ini, hingga akhirnya, tertarik pada suatu dimensi, yang berbeda lagi, kami tertarik masuk ke dalam suatu kerajaan besar, dan ya, si Gendruwo raksasa ini adalah bosnya, raja dari istana itu. Istana yang penuh aura kegelapan, aura yang negatif yang membuatku sesak nafas.
Kerajaan ini berada di bagian utara, daerah pegunungan, karena sangat terasa beda aura dari mereka yang di pantai dan di gunung, dan yang lebih parahnya lagi, aku yang seharusnya lebih bisa akrab dengan penghuni utara, kini harus bertempur dengan salah satu raja di daerah utara. Dan satu yang membuatku yakin, tidak mungkin alasan dia menyerangku hanya karena tidak suka dan tidak senang padaku, ada hal lain yang dia tutupi yang membuatku harus bertempur dengannya, dan kehilangan Abah dan Sar yang ditahan olehnya. Apa yang sebenarnya diinginkan oleh makhluk ini, aku harus segera mencari tahu.
Aku segera memasang kuda kuda, dan meminta para Naga maju menyerang, Naga Geni, Watu, Ireng, Bayu dan Amarta kini menghancurkan dan perlahan meluluh lantakkan beberapa pasukan disana, membuat makhluk- makhluk kelas teri disana kewalahan dan terpukul mundur, tapi si Raksasa ini meloncat dan membuat para Naga terpental, sigap dia mencekik leher para Naga, dan tersenyum , "Kalian akan menjadi baju zirah yang bagus untukku", katanya. Aku yang geram segera meminta para Naga melilitnya, untuk menghancurkannya, entah apapun yang diinginkan makhluk ini, aku sudah tak peduli lagi. Dan kulihat para Naga kini melilit dan menghancurkan perlahan lengan kaki dan badannya, membuat si Makhluk ini mengerang dan kemudian marah, membanting dan membaut para Naga terlepas. Seketika makhluk ini terjatuh, terduduk dan memandang marah padaku, pandangannya sudah cukup untuk membuat mentalku mengendur. hingga makhluk ini berdiri dan perlahan bersiap menyerangku lagi.
"Kau! Manusia! Aku tak setuju manusia sepertimu akan menjadi pewaris dari dia, Raden Panggadewa (samaran), awas saja kau, akan ku hancurkan kau disini, dan sekarang juga", kata raksasa itu memaki padaku, satu sisi aku mulai menangkap apa yang terjadi, dan siapa Panggadewa? baru kali ini aku mendengar nama itu, siapakah dia? Pikiranku saat itu mulai meracau jauh, hingga aku tak sadar si Raksasa berdiri mengambil Gada nya dan memukul para Naga, kemudian berlari ke arahku dan memukulku dengan gadanya, membuatku terpental. Aku lihat para Naga sudah kehabisan energi, dan perlahan badan serta aura mereka semakin menipis dan transparan, hingga si raksasa, kembali, menyedot kelima naga ini, membuat nya semakin kuat, dan aku kini makin tidak tahu bagaimana cara mengalahkan raksasa sialan satu ini.
Aku hanya bisa berdiri, kebingungan dan kemudian mulai merapalkan segala doa, dan aku teringat pada satu hal, sebuah kemampuan yang pernah ku pelajari dari Abah dalam mimpi, kemampuan yang lebih dari sekadar membakar Jin, tapi juga menghapuskan jejak, istana, kampung, bahkan juga menghancurkan seluruh daerah gaib sekitarnya, Ajian Wisang Geni ( bukan nama asli ajiannya, cuma disamarkan, karena tidak boleh disebar), dan aku kemudian membaca doa, berharap bantuan dari Allah, dan memantapkan doaku, memfokuskan segala energi ku, ke dalam satu titik terkuat, mata ketiga ku, membuat mataku menyala terang, dan memancarkan sedikit api, sebuah ajian yang dapat menghanguskan, meluluh lantakkan si Raksasa, dengan satu resiko, rusaknya mata ketiga ku, dan energi spiritual ku yang hilang, dan dalam keadaan ngerogo sukma, ada kemungkinan aku tidak bisa kembali ke badanku.
Tanpa pikir panjang dan aku memang tidak memiliki pilihan lain, aku yang telah membakar mataku dengan ajian ini, kini menerang si raksasa itu, meloncat cepat dan segera aku tempelakn telapak kananku di bagian tubuh makhluk itu, dan seketika terbakar, hangus, dan menghilang, tangan raskas tadi hilang tak berbekas, membuatnya mengerang kesakitan, memegang bekas hilang tangannya yang buntung barusan. Kemudian dia berusaha memukulku dan kutangkap tangan satunya, dan terbakar hilang, aku mundur kemudian, sedikit bersandar pada pilar kerajaan ini, dan pilar ini pun hangus, hilang, sebuah kemampuan yang belum bisa aku kontrol, dan kini membuat kepalaku makin pusing, membuatku sedikit linglung dan hmpir jatuh. Tapi aku masih ada tugas, untuk menuntaskan nyawa si raksasa sial satu ini.
Cepat aku kemudian belari, kulihat para jon - jin kecil mulai mendatangi ku, beberapa banaspati menyerangku, tapi tubuh api mereka tetap kalah oleh api yang ada pada diriku, menghanguskan api? memang hampir tidak mungkin tapi ini yang terjadi, banaspati tadi terbakar dan perlahan menghilang, Ajian WIsang Geni, kini mulai melemah, setelah aku menuntaskan banyak pasukan si Raksasa ini, hingga akhirnya aku memutuskan untuk maju, menyerang si Raksasa sialan ini, kutempelkan tangan diakakinya, membakar dan membuatnya jatuh, kutempelkan tanganku di badannya, menghancurkan dadanya, membuat lubang besar dan kulihat dia mengerang makin kencang, tapi tak bisa melakukan apapun. dan satu hal, Ajian Wisang Geni, mengunci kemampuan regenerasi dari makhluk astral ini. kini kulihat Abah, Sar dan Para Naga di dalam tubuh makhluk ini, dan setelah badn makhluk ini hangus, mereka terbebas, dan segera aku minta mereka menjauh karena aku tidak mampu mengontrol ajian ini.
Erangan makhluk ini makin tak terdengar karena perlahan kepalanya hilang terbakar oleh ku, dan ajian wisang geni mulai memudar kekuatannya begitu juga kemampuanspiritualku dan mata ketigaku yang berada di dahi ku, kini mulai blur untuk melihat, dan sakit sekali jika kugunakan, hingga akhirnya aku dtarik kembali ke ragaku oleh abah, sar dan para Naga. KIni aku melemah, bahkan dalam ragaku ini aku kehilangan kemampuan mengendalikan mereka, aku hanya melihat Abah Sar dan Para Naga dalam keadaan samar, dan sepertinya ini saat aku harus mengucapkan perpisahan pada mereka.
"Kami akan kemabli pada tuan kami di tanah selebes, dan terima kasih telah menerima kami, suatu saat, kami akan kembali bertemu kamu jika memang itu sudah menjadi takdir jodoh kami", kudengar samar suara Naga Amarta, dan perlahan kulihat mereka terbang, menghilang dalam gelap malam. Aku sedikit menangis kesepian ditinggal 5 naga ini, teman dalam gelapku. Dan aku lirik Abah dan Sar, yang menunduk padaku, "Kami akan setia disini, tapi untuk sementara, kami akan kembali ke tanah pasundan, kembali ke gunung kami, untuk memulihkan energi kami dan meningkatkan kekuatan kami, den Arda, semoga segera bisa memulihkan mata dan energi spiritual den Arda, lakukan hal yang menurut den Arda benar, kami pamit dahulu". Seketika, Abah, Sar menghilang, sebelumnya Abah sempat memulihkan energiku, membuatku sedikit sadar, dan mampu untuk membawa kendaraan pulang ke rumah. dan semua sosok yang biasa kulhat di rumahku, kini tak kulihat lagim bahkan samar ku dapat merasakannya. Kehilangan kemampuan ini, seperti ketakutan buatku, hampa, memang aku tidak akan diganggu kaum mereka, tapi aku juga merindukan bisa melihat sosok- sosok yang menemaniku.
regmekujo dan 4 lainnya memberi reputasi
5