Kaskus

Story

juraganpengkiAvatar border
TS
juraganpengki
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)

GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)
Cool Cover By Agan Linbara (Thanks, Bree)..

Prolog

Setelah bangun dari ‘Mati Suri’ karena memutuskan untuk mencoba membunuh diri sendiri untuk melindungi Kitab Langit dan melenyapkan Bayu Ambar, gw kembali ke dunia nyata.. Kehidupan gw sedikit jauh berbeda, karena pengalaman ‘Mati Suri’ itu berefek langsung pada kelebihan yang gw miliki.. Gw masih sama Anggie, meski ujian atas cinta kami masih saja mendera.. Ada musuh baru, tentu saja.. Tapi ada juga sahabat baru yang muncul.. Karena ini akhir dari cerita kami berempat..

Kembalinya Anak Ibu...
Pengorbanan Pedang Jagat Samudera...
Cintai Aku Sewajarnya, Yank...
Matinya Seorang Saudara (Versi Gw/Bimo)
Berkumpul Kembali...
Keanehan Yang Mulai Muncul...
Sambutan Ketiga Saudara Ke Reinata...
Sabar???
Cukup! Tinggalin Aku Sendiri!!!
Siapa Kau???
Aku Ikutin Kemauan Kamu...
Keputusan Sepihak Yang Pahit...
Semua Beban Menjadi satu
Semua Beban Menjadi Satu (2)...
Serangkum Rindu Untuk Ayah...
Munculnya Penguasa Laut Utara...
Bertemunya Dua Penguasa...
Sebuah Kesepakatan...
Ibu Kenapa Yah???
Lu Kenapa, Ka???
Wanted Dead Or Alive.. ANTON!!!
Mo 'Perabotan' Lu Hancur Apa Tanggung Jawab???
It's The End Of Us...
Di Kerjain Ibu...
Ridho!!!
Kelewatan!!!
Munculnya Dua Penjaga Gerbang Kerajaan Laut...
Dewi Arum Kesuma VS Dewi Ayu Anjani
Datangnya Sosok Seorang Pemisah Dan Shock Therapy Buat Gw...
Kerajaan Jin...
Terkuaknya Semua Jawaban...
Maafin Gw, Bree...
Pengakuan Suluh...
Akhirnya Boleh Gondrong...
Pernikahan Kak Silvi Yang Seharusnya Membuat Gw Bahagia...
Pernikahan Kak Silvi Yang seharusnya Membuat Gw Bahagia (2)...
Tunggu Pembalasan Gw!!!...
Ni Mas Linduri dan Banas Ireng...
Dua Sosok Penyelamat Misterius...
Ada Apa Sama Ridho?...
Kesalahan Fatal...
Kembalinya Jin Penjaga Ridho dan Suluh...
Akibat Terlalu Ikut Campur...
Setiap Perbuatan Akan Mendapat Balasan...
Munculnya Viny Dan Sebuah Tantangan Bertarung...
Manusia Cabul...
Suara Penolong Misterius...
Bertemunya Kembali Sepasang Kekasih...
Terkuaknya Kebenaran...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar (2)...
Jaket Dan Celana Jeans Robek Serta Sweater Hitam Kumal...
She's My True Love...
Dilema...
Pertengkaran Dengan Ibu...
Rambe Lantak...
Gendewa Panah Pramesti...
Akan Ku Balaskan Dendam Mu, Arum Kesuma!!!
Yang Hilang dan Yang Kembali...
Jawaban Ayu...
Mati Gw!!!
Aku Makin Sayang...
Nasihat Om Hendra...
Jera Mencuri...
Ajian Segoro Geni...
Pilihan Sulit...
Keputusasaan Anggie...
Kabar Baik dari Ridho dan Suluh...
Perjalanan Menuju Pembalasan Dendam...
Rawa Rontek...
Rawa Rontek 2 (Terbayarnya Dendam)...
Kedatangan Pak Sugi...
Orang Titipan...
Hukuman Paling Berat...
Tidurlah Di Pangkuan Ku...
Menjajal Kesaktian...
Menjajal Kesaktian (2)...
Pengakuan Mengejutkan Babeh Misar...
Pengajaran Ilmu Silat Betawi...
Di Kepret Babeh Misar Lagi...
Tasya...
Naga Caglak dan Bajing Item...
Misteri Sebuah Dendam...
Kekuatan Sejati Kitab Langit Bagian Matahari...
Perpisahan...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera (2)...
Kembalinya Ibu...
Empat Bayangan Hitam...
Siapa Ni Mas Laras Rangkuti???
Dendam Seorang Sahabat...
Ini Keputusan Yang Harus Gw Ambil...
Semua Pengorbanan Ini Demi Ibu...
Rapuh...
Kabar Mengejutkan Sekar dan Sebuah Restu...
Siasat Braja Krama...
Munculnya Kitab Langit...
Si Pembuka Kitab langit dan Sosok Asli Pak Sugi...
Rencana Yang Matang...
Lamaran Pribadi...
Keingintahuan Anggie...
Perubahan Rencana...
Hampir Terjebak...
Kekecewaan Sekar...
Dua Syarat Reinata...
Aku Harap Kamu dan Anggie Bahagia, Mam...
Rahasia Sepasang Suami Isteri...
Menitipkan Amanah...
Berkumpulnya Para Pembela Kitab Langit...
Siasat Ki Purwagalih...
Raja Jin Raja Muslihat (Nyesek, Bree)...
Pertukaran Tawanan...
Perang Gaib PunTak Terelakkan...
Sang Penyelamat Dari Utara...
Pertempuran Awal Dua Penguasa Kerajaan Gaib...
Bertekuk Lututnya Sekutu Braja Krama...
Pertarungan Dua Putera (Gugurnya Satu Sahabat Gaib)...
Krama Raja...
Braja Krama Versus Krama Raja...
Raja Licik...
Aku Lah Sang Pembuka...
Siasat Krama Raja dan Bayu Ambar...
Terbukanya Semua Ilmu Terlarang...
Sebuah Pengecualian...
Sri Baduga Maharaja...
Hilangnya Sebuah Pengecualian...
Hilangnya Sebuah Pengecualian (2)...
Sebuah Pengorbanan...
Pahlawan...
Sumpah...
Ilmu Pamungkas yang Terlarang...
Kabar Yang Mengejutkan...
Pulang...
Pulang (2)...
Sedikit Kisah Rio Sebelum Kisah Ini Tamat...
Terhalang Sumpah...
Bantuan Sahabat Baik...
Bachelor Party...
Keturunan Lain Sang Prabu...
Pembalasan Dendam Singgih...
Sepenggal Kisah Nyi Mas Roro Suwastri...
Tawaran Yang Mengejutkan...
Lawan Atau Kawan???
Terkuaknya Silsilah...
Sebuah Kebenaran...
Sebuah Kebenaran (2)...
Bertemunya Dua Keturunan Sang Prabu...
Pertempuran Dua Hati...
Cinta Pertama VS Cinta Terakhir Jagat Tirta...
Pengakuan Bayu Barata...
Ki Larang dan Nyi Mas Galuh Pandita???
Prana Kusuma...
Kau Benar Keturunan Kami, Ngger...
Our Big Day...
Insiden...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga (2)...
Dua Tamu Istimewa...
Semua Karena Cinta...
Keputusan Sekar Kencana...
Kena Gampar...
Bonyok!!!
RIBET!!!
Berdamai...
Keponakan Baru...
Malam Pertama dan Tiga Keanehan...
Ajian Warisan Para Leluhur (The Last Part/End Of All Chapters)

SIDE STORIES

Keturunan Yang Tersesat...
Keturunan Yang Tersesat (2)...

Diubah oleh juraganpengki 15-07-2018 20:23
uang500ratusAvatar border
devanpancaAvatar border
iskrimAvatar border
iskrim dan 132 lainnya memberi reputasi
127
2.1M
8K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.6KAnggota
Tampilkan semua post
juraganpengkiAvatar border
TS
juraganpengki
#5352

Krama Raja...

Pandangan mata gw juga terlempar ke arah sama, begitu ingat sosok Ratu Laut Utara dan Jin Penjaganya Reinata.. Disana, di sebelah barat di dekat batu besar.. Bersandar seorang Kakek Tua bergamis putih yang nampak lemah dan berwajah sangat pucat.. Setengah tombak di samping kiri beliau, terlihat ceceran darah hitam yang sepertinya bekas termuntahkan.. Dengan posisi bersandar dan duduk bersila, Jin Penjaga nya Reinata yang sepertinya terluka cukup parah sedang mencoba menyelaraskan semua hawa murni dalam tubuhnya sambil menyilangkan kedua tangan di atas dada..

Sementara di arah lain, di atas lantai marmer berpilar sama hitam.. Seorang wanita cantik bermahkota dipenuhi taburan permata hijau juga terlihat sedang duduk bersila sambil menyatukan dua telapak tangan di depan dada, dengan dua mata tertutup.. Sementara, Tongkat Emasnya tergeletak di sebelah dengan posisi terbalik, yang ujungnya menyentuh rantai pengikat tawanan terakhir Braja Krama..

Meski wajah jelitanya sedikit pucat namun kharisma yang terpancar di sana masih sanggup membuat semua mata laki-laki tertegun menatap.. Ya! Beliau lah sosok Penguasa Kerajaan Laut Utara, yang sedang mencoba memulihkan tenaga setelah bentrokan kesaktian beberapa saat yang lalu.. Persis satu tombak di belakang Ratu Laut Utara, nampak sosok laki-laki berwajah tertutupi rambut panjang acak-acakan..

“Hahaha.. Aku baru mengerahkan setengah tenaga untuk meladeni tantangan mu, Dewi.. Tapi kau nampak seperti sudah tak sanggup melawan ku? Bagaimana, apakah kau masih berniat untuk meneruskan pertempuran kita ini? Jika iya, kau sepatutnya memikirkan nasib mahluk-mahluk berkesaktian rendah yang kau bela dibelakang.. Lihat keadaan mereka yang sudah terluka hanya karena terkena gelombang ledakan dari kesaktian ku” Ucap Braja Krama dengan wajah dihiasi senyum sumringah..

Ratu Laut Utara membuka mata dan menatap Braja Krama dengan dua bola mata menyorot tajam.. Beliau perlahan bangkit sambil mengangkat Tongkat Emasnya dan melempar pandangan ke arah semua sahabat gaib dan gw yang masih memangku Anggie.. Lalu kembali menatap Raja Jin yang terus melayang dengan wajah penuh keangkuhan..

“Aku tidak akan menarik sumpah untuk membalaskan dendam puteri ku atasmu, Raja Jin.. Meski aku tahu kekuatan yang ku miliki berada dibawahmu.. Tapi, aku tidak perlu merasa risau akan semua sosok sahabat.. Karena aku yakin, mereka pun siap mengorbankan diri demi untuk melenyapkan angkara murka.. Yaitu kau, Braja Krama” Jawab Ratu Penguasa Laut Selatan sambil mengarahkan Tongkat Emasnya yang bertahtakan batu permata hijau ke arah Braja Krama..

Raja Jin sendiri menyunggingkan senyuman dingin.. Lalu mengangkat senjatanya tinggi-tinggi menghadap angkasa..

“Baiklah.. Aku penuhi permintaan kalian untuk bisa meregang nyawa ditangan ku.. Untuk itu, aku akan memberikan kalian semua kematian secara terhormat dengan Ajian Bledeg Ngampar andalan ku”

Mendengar ucapan Raja Jin, kedua mata Ratu Laut Utara terbelalak.. Terlebih saat beliau melihat batu permata merah yang tersemat di ujung Tongkat Emas Raja Jin mulai memendarkan cahaya berwarna sama.. Secepat kilat, Ratu Laut Utara melesat ke arah Jin Penjaga nya Reinata dan memegang bahu Kakek Tua tersebut.. Lalu tubuh mereka lenyap dan muncul kembali di tengah-tengah semua sosok sahabat gaib yang masih terluka.. Bersamaan dengan itu, melesat sinar berwarna merah dari ujung Tongkat Emas Raja Jin, menembus gelapnya langit malam.. Seketika, hitamnya langit berubah merah seolah sang Raja Siang hendak menyingsingkan sinar pertamanya..

Tatapan Ratu Laut Utara yang memandang ke arah langit nampak semakin membesar.. Wajah jelitanya yang semakin menyiratkan kepanikan, menoleh ke arah gw..

“Lekas lah melompat kesini bersama kekasih mu, Cah Bagus.. Aku akan mencoba melindungi kalian semua dari sini” Ucap Ratu Laut Utara dalam batin gw..

Gw segera menganggukkan kepala dan berusaha bangkit sambil menggendong Anggie.. Akan tetapi, dari angkasa mulai terdengar suara gemuruh guntur bersahutan diiringi kilatan petir yang membuat awan merah bercahaya dibagian dalamnya.. Sosok Raja Jin sendiri nampak semakin lebar menyunggingkan senyuman menyeringai.. Lalu, mengayunkan Tongkat Emas bertahtakan Permata Merah ke arah kami semua..

Dari angkasa, awan merah terlihat semakin terang pertanda muatan listrik sudah terkumpul penuh dibaliknya dan bersiap memuntahkan petir.. Dan benar saja, seiring semakin bergemuruhnya langit dan kian merahnya awan, satu petir menyambar..

JEGEERRR!!!

Bukan.. Bukan satu petir.. Namun puluhan petir lain berwarna merah menyusul menyambar secara bersamaan dari balik merahnya awan.. Dan incaran puluhan petir merah ciptaan Aji Bledeg Ngampar milik Raja Jin adalah Ratu Laut Utara yang sudah berkumpul bersama semua sosok sahabat gaib dan ketiga saudara..

JEGEEEER!!! JEGEEERRR!!!! JEGEEERRR!!!!!

Suara menggelegar terdengar susul menyusul Cumiakkan gendang telinga dan merubah suasana malam yang gelap menjadi memerah.. Gw yang tidak jadi melompat ke arah semua sahabat, menurunkan tubuh Anggie kembali dan langsung menutup kedua telinga gadis itu dengan dua telapak tangan.. Khawatir suara menggelegar yang masih terus terdengar merusak indera pendengarannya.. Sementara, gw melindungi telinga sendiri dengan menyalurkan tenaga dalam..

Pandangan gw terlempar ke arah Ratu Laut Utara yang mengayunkan Tongkat Emas ke samping.. Lalu, mengarahkan ujung senjata nya kembali keatas.. Suara bergemuruh lagi-lagi terdengar dari sisi Gunung sebelah utara.. Bersamaan dengan munculnya segulung ombak besar yang langsung menahan sambaran puluhan petir berwarna merah, beberapa tombak di atas kepala mereka..

“Benteng Laut Utara” Ucap Raden Jaka Wastra dengan suara lirih dari belakang junjungannya..

Hujan Petir ciptaan Raja Jin terus menggelegar menyambar benteng pelindung berupa ombak besar ciptaan Ratu Laut Utara.. Kedua sosok yang dimasa lalu pernah menjalin hubungan itu, nampak sama-sama mengerahkan kesaktian.. Wajah Braja Krama nampak masih bisa menyunggingkan senyuman dingin.. Dilain pihak, wajah jelita Ratu Laut Utara terlihat mulai menyiratkan rasa kecemasan dalam menahan gempuran Aji Bledeg Ngampar.. Terlebih saat Tongkat Emas ditangan kanan beliau yang mulai bergetar..

Tak mau menyerah, telapak tangan kiri Ratu Laut Utara diulurkan ke atas.. Persisnya ke sosok Braja Krama.. Sempat terdengar suara teriakan Ratu Laut Utara bersamaan dengan melesatnya selarik sinar hijau terang dari tengah telapak tangan kiri..

SETT..

Suara melesatnya sinar hijau terang dari telapak tangan Ratu Laut Utara terdengar samar diantara menggelegarnya puluhan kilat.. Kemudian terdengar pula suara-suara lain yang hampir sama, seiring melesatnya beberapa sinar kuning, hijau, hitam, merah dan perak dari belakang Ratu Laut Utara.. Disana, di bawah gulungan ombak yang menahan sambaran puluhan petir, nampak Dewi Ayu Anjani, Nyi Durga Daksa, Ki Braja Sapta dan Nyi Roro Ranggas serta Raden Jaka Wastra mengulurkan tangan dan senjata mereka ke atas.. Meski dengan wajah yang sama-sama masih terlihat pucat, sosok-sosok sahabat gaib itu ternyata membantu Ratu Laut Utara dengan kekuatan terakhir mereka..

Kelima sinar kesaktian terakhir dari kelima sahabat gaib seketika menyatu dengan sinar hijau terang dari telapak tangan kiri Ratu Laut Utara yang mengarah tepat ke Raja Jin.. Sosok Penguasa Gaib Tanah Pasundan sendiri nampak mengulum senyuman meremehkan.. Lalu mengayunkan Tongkat Emas bertahta Permata Merah ke arah sinar warna-warni laksana pelangi tersebut..

JEEGEERRRRR!!!

Mandadak, puluhan petir berwarna merah menggelegar muncul kembali dari balik awan yang berbeda dan hendak menyambar ke arah keenam sinar kesaktian sosok-sosok sahabat gaib..

DUARRR!!!

Sebuah ledakan hebat kembali terjadi di udara, saat puluhan petir merah menghantam keenam sinar.. Sontak kelima sosok sahabat gaib terpental ke belakang dan masing-masing langsung memuntahkan darah hitam.. Sementara, Ratu Laut Utara tersurut mundur satu tombak ke belakang sambil terus menahan Ajian Bledeg Ngampar dengan Benteng Laut Utara ciptaannya.

Diam-diam, pandangan mata Braja Krama melirik ke arah gw yang berada beberapa tombak di belakang semua sosok sahabat gaib.. Lalu, menatap wajah Ratu Laut Utara kembali.. Tiba-tiba, Penguasa Gaib Tanah Pasundan itu menunjuk ke arah angkasa menggunakan jari telunjuk kiri.. Perlahan, terdengar suara bergemuruh dari langit diatas kepala.. Kening gw berkerut saat menengadahkan kepala dan memandang ke atas.. Disana, di langit yang awalnya gelap tanpa di aliri Ajian Bledeg Ngampar milik Raja Jin.. Nampak kilatan cahaya putih seperti tegangan listrik jutaan volt telah terkumpul dibaliknya..

Kedua mata gw dan Ratu Laut Utara sama-sama terbelalak saat menyadari niat Raja Jin.. Ya! Dia akan melebur tubuh gw dan Anggie dengan sambaran petir dari langit.. Dengan gerakan cepat gw mencoba menggendong tubuh Anggie kembali dan berniat melompat untuk menghindari serangan.. Bersamaan dengan itu Ratu Laut Utara melemparkan Selendang hijaunya menggunakan tangan kiri untuk menyelamatkan gw.. Akan tetapi, semua sepertinya terlambat seiring dengan terdengarnya suara menggelegar dari atas..

JEGEEERRR!!!

Bersamaan dengan menggelegarnya Petir yang menyambar dari angkasa, tiba-tiba kabut aneh berwarna putih nan tebal seketika muncul mengurung tubuh gw dan Anggie.. Gw langsung melempar pandangan kesegala penjuru.. Mencoba mencari semua sosok sahabat yang nampak tak terlihat karena tertutupi tebalnya kabut misterius.. Sementara, kilatan cahaya Petir yang menyambar pun terlihat bergerak sangat lambat diatas langit sana.. Kedua mata gw tertegun melihat dua kejadian aneh yang terjadi secara berturut-turut.. Yang pertama munculnya kabut dan yang kedua melambatnya waktu.. Tapi anehnya, gw masih bisa bergerak bebas dengan menoleh ke arah segala penjuru beberapa waktu lalu.. Seolah melambatnya waktu tidak berpengaruh di tubuh gw dan Anggie..

Menyadari ada peluang untuk menyelamatkan diri sendiri dan Anggie.. Tanpa mau membuang waktu dengan pertanyaan-pertanyaan bodoh dalam benak, gw mencoba menggendong kembali tubuh gadis itu.. Tapi, kedua kaki terasa tak bisa digerakkan.. Seolah tertancap secara gaib di atas tanah berbatu.. Gw mencoba menyalurkan tenaga dalam dan berdiri.. Lalu berusaha menggerakkan lagi kedua kaki.. Namun, gagal.. Yang ada malah gw terjatuh berlutut lagi diatas tanah berbatu, persis di sebelah Anggie..

“Sial! Kenapa lagi dengan kaki gw?” Maki gw dalam hati, lalu melempar pandangan kembali ke atas langit..

Rasa geram gw berganti dengan rasa terkejut saat melihat cahaya Petir dari atas nampak semakin terang.. Ini menandakan jarak sambaran petir ciptaan Raja Jin semakin dekat.. Gw mulai cemas menyadari posisi sudah sangat terancam.. Yang gw cemaskan bukan diri gw, melainkan keselamatan Anggie.. Gw mencoba memanggil nama sahabat-sahabat gaib agar bisa memberikan pertolongan.. Termasuk menyebut nama Ratu Laut Utara yang tadi sempat melemparkan Selendang Hijaunya untuk menyelamatkan gw..

Tapi, tidak terdengar suara siapapun sebagai balasan.. Tidak ada reaksi apapun sebagai bentuk penyelamatan.. Seolah-olah tebalnya kabut menghalangi gw untuk dapat berinteraksi dengan semua sosok yang ada diluarnya.. Pandangan mata gw terlempar menatap wajah Anggie yang masih tetap cantik meski dalam keadaan tidak sadar.. Untuk beberapa saat, gw tertegun memandangi wajah gadis yang sangat gw cintai itu..

“Ga.. Anggie ga boleh mati disini.. Gw harus selametin Anggie.. Gimana pun caranya” Ucap gw sambil menggelengkan kepala beberapa kali..

Mendadak, benak gw tersadar dari ketertegunan begitu Selendang Hijau muncul menembus lapisan kabut putih nan tebal dan secara perlahan membelit pinggang.. Ini pasti Selendang milik Ratu Laut Utara yang baru tiba untuk menyelamatkan gw, meski sosoknya tak terlihat dibalik kabut.. Gw sempat tertegun menyadari bahwa melambatnya waktu, juga di alami oleh semua sosok sahabat gaib yang berada diluar kabut tebal..

Sekali lagi gw mencoba mengangkat kedua kaki untuk menyelamatkan diri sendiri dan Anggie.. Namun hasilnya tetap sama.. Kedua organ itu tetap tak mau terangkat maupun terpindahkan.. Gw menghela nafas panjang menyadari bahwa gw memang tidak ditakdirkan untuk pergi dari tempat ini.. Tempat dimana gw akan meregang nyawa setelah tersambar oleh Petir ciptaan Braja Krama sebentar lagi.. Kesempatan gw pun semakin sedikit untuk menyelamatkan Anggie.. Sebelum Petir ciptaan Raja Jin menghancurkan tubuh kami berdua..

Dengan keyakinan penuh, gw melepas belitan Selendang Hijau Ratu Laut Utara dan mengikatkannya ke pinggang Anggie.. Lalu, mencoba berdiri sambil menggendong tubuh gadis itu di depan.. Kedua mata gw terpejam saat memusatkan seluruh tenaga dalam ke kedua lengan.. Lalu, gw menarik Selendang Hijau sambil berharap Ratu Laut Utara mau membalas tarikan kembali dari luar kabut.. Setelah merasakan selendang tertarik untuk sesaat, dengan sekuat tenaga gw melemparkan tubuh Anggie.. Diluar kabut, yang perlahan menipis dengan sendirinya, teriakan ketiga saudara, Sekar Kencana dan Babeh Misar terdengar.. Bersamaan dengan kembali berjalannya waktu seperti semula..

Sebuah senyuman tersungging di wajah gw, saat melihat Ratu Laut Utara menangkap tubuh Anggie meski dengan raut wajah penuh keterkejutan.. Dengan kedua kaki yang masih tidak bisa digunakan untuk melangkah dan hanya bisa menopang tubuh yang sedang berdiri tegap, gw mengepalkan kedua tangan.. Wajah gw menengadah keatas memandang sebuah sinar terang menjalar yang sebentar lagi akan menyambar dan menghancurkan tubuh.. Perlahan, kedua mata gw mulai tertutup sebagai bentuk kesiapan diri sebelum maut menjemput..

Kening gw berkerut saat beberapa menit telah berlalu dengan kedua mata masih terpejam.. Aneh! Mengapa tidak terjadi apa-apa? Tidak ada suara sambaran petir.. Tidak ada hawa panas yang membakar dan menghanguskan tubuh.. Yang terdengar malah suara panggilan Ridho, Bimo, Suluh dan Sekar.. Secara perlahan, gw membuka mata dengan cara memicingkannya dan menatap kedua telapak tangan yang masih terlihat utuh..

“Alhamdulillah, gw selamat.. Gw masih hidup.. Tubuh gw tidak jadi tersambar petir” Ucap gw sambil membolak-balikkan dua telapak tangan, dan melempar pandangan ke arah depan..

Beberapa tombak di hadapan, sosok semua sahabat gaib dan ketiga saudara nampak tertegun.. Namun pandangan mereka bukan tertuju ke arah gw.. Melainkan ke atas kepala ini.. Gw juga melempar pandangan ke sosok Raja Jin dan Bayu Ambar yang sama-sama terpaku menatap ke atas kepala gw.. Dengan kedua indera penglihatan yang masih menggunakan Ajian Menembus Pandang, gw bisa menatap jelas tangan kanan Braja Krama bergetar..

Ya! Tangan kanan sosok Penguasa Gaib Tanah Pasundan itu nampak bergetar.. Meski terus memegangi Tongkat Emas bertahtakan permata merah, yang masih menghujani Benteng Laut Utara ciptaan Ibunda mendiang Dewi Arum Kesuma dengan Ajian Bledeg Ngampar.. Raut wajah nya pun nampak berubah dingin.. Tapi cenderung ke arah segan..

Rasa penasaran kian menghantui tentang sesuatu yang sedang mereka tatap diatas gw.. Gw perlahan mengangkat kepala dan tertegun melihat sosok seorang laki-laki bergamis putih dengan wajah samar tertutup rambut panjang acak-acakan sedang melayang, persis dua tombak diatas kepala gw.. Sosok misterius itu nampak berdiri gagah dengan tangan kanan terangkat ke atas kepala.. Mulut gw seketika terbuka menganga saat menyadari tangan kanan sosok tawanan terakhir Raja Jin, ternyata sedang menggengam ujung sinar putih yang menyala terang dengan pangkal menjalarnya terlihat muncul dibalik awan.. Luar biasa! Sosok itu ternyata sedang menangkap Petir ciptaan Raja Jin dan menyelamatkan gw..

Kedua mata sosok itu nampak tajam menyorot ke arah Raja Jin dan Bayu Ambar, dibalik beberapa helai rambutnya yang panjang menjuntai menutupi sebagian wajah.. Lalu, Beliau terlihat menurunkan tangan kanannya yang menggenggam ujung petir, seperti sengaja sedang menarik aliran listrik jutaan volt itu ke bawah.. Untuk beberapa saat, sosok tersebut menyunggingkan senyuman menyeringai namun terkesan penuh dendam ke arah Raja Jin.. Kemudian dengan gerakan secepat kilat, Beliau melompat satu tombak kedepan sambil berputar satu kali dan melemparkan petir ditangannya ke sosok Penguasa Gaib Tanah Pasundan..

JEEEEGEEEER!!!

Suara petir yang dikembalikan sosok misterius itu, terdengar menggelegar menyambar ke depan.. Bayu Ambar nampak melesat secepat kilat ke samping untuk menghindari serangan mendadak.. Sementara, Raja Jin sendiri terlihat sangat terkejut dan ikut melompat namun ke atas, sembari berputar dan mengayunkan Tongkat Emasnya ke arah ujung petir yang akan menyambarnya..

DUAARRR!!!

Suara ledakan terdengar keras, bersamaan terbenturnya permata merah di ujung Tongkat Emas dan ujung petir bersinar sangat terang.. Ledakan tersebut seketika membuat suasana di sekitar tanah gunung tempat kami berada sangat terang.. Meski tidak menimbulkan bunga api besar seperti ledakan saat ketiga kesaktian milik Ratu Laut Utara, Jin Penjaga nya Reinata dan Raja Jin berbentrokan sesaat lalu.. Tapi tetap saja, gelombang ledakan itu membuat tanah berbatu terguncang cukup hebat dan membikin semua sosok gaib, ketiga saudara dan gw sendiri sempoyongan untuk beberapa saat..

Pandangan mata gw seketika terlempar ke sosok Penguasa Gaib Tanah Pasundan yang nampak tersengal-sengal nafasnya.. Dilain pihak, sosok laki-laki bergamis putih dengan wajah tidak jelas tertutupi rambut panjang acak-acakan, melayang turun dan menapakkan kedua kaki berdiri disebelah gw.. Sontak, gw menggeser tubuh satu tombak menjauh dari beliau, saat merasakan hawa kesaktiannya sangat sangat tinggi.. Mungkin setingkat lebih tinggi dari Raja Jin sendiri.. Akan tetapi, tangan kanan sosok bergamis putih itu menarik lengan sweater gw dan memaksa diri ini untuk kembali berdiri persis disebelahnya..

“Jangan jauh-jauh dariku.. Aku pamanda mu sendiri, Ngger” Bisik Laki-laki tersebut, sambil merangkul pundak gw dan mengedipkan sebelah mata kirinya dibalik rambut panjang..

Untuk sesaat, gw terdiam tertgun menyaksikan tingkah sosok yang telah menyelamatkan nyawa gw dari sambaran petir ciptaan Raja Jin..

“Jahanam! Bagaimana kau bisa lolos dari jeratan Rantai ku, Krama Raja?” Bentak Raja Jin setelah berhasil menguasai jalan nafasnya yang sempat tersengal untuk beberapa saat..
jenggalasunyi
sampeuk
dodolgarut134
dodolgarut134 dan 12 lainnya memberi reputasi
13
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.