- Beranda
- Stories from the Heart
URBAN LEGEND PANTAI TRISIK 1990
...
TS
breaking182
URBAN LEGEND PANTAI TRISIK 1990
URBAN LEGEND : PANTAI TRISIK 1990
Quote:

INDEX URBAN LEGEND PANTAI TRISIK 1990
Quote:
SERIES BARU
MUTILASI
MUTILASI
EPISODE 1 : MAYAT TERPOTONG DI HUTAN JATI
EPISODE 2 : EVAKUASI
EPISODE 3 : SANG DALANG
EPISODE 4 : KASIH TAK SAMPAI
EPISODE 5 : PENYUSUP
EPISODE 6 : LOLOS DARI MAUT
EPISODE 7 : DUKA TERDALAM
EPISODE 8 : PEMBUNUHNYA ADALAH ....
EPISODE 9 : PENYERGAPAN
CREDIT SCENE
TAMAT
EPISODE 2 : EVAKUASI
EPISODE 3 : SANG DALANG
EPISODE 4 : KASIH TAK SAMPAI
EPISODE 5 : PENYUSUP
EPISODE 6 : LOLOS DARI MAUT
EPISODE 7 : DUKA TERDALAM
EPISODE 8 : PEMBUNUHNYA ADALAH ....
EPISODE 9 : PENYERGAPAN
CREDIT SCENE
TAMAT
SERIES BARU
MAHKLUK DARI SEBERANG ZAMAN
MAHKLUK DARI SEBERANG ZAMAN
EPISODE 1 : SRITI WANGI
EPISODE 2 : PANGKAL BENCANA
EPISODE 3 : MAYAT DI DALAM PETI
EPISODE 4 : KECELAKAAN MAUT
EPISODE 5 : SANG DEWI
EPISODE 6 : KORBAN BERJATUHAN
EPISODE 7 : PENODONGAN DI MALIOBORO
EPISODE 8 : PENYERGAPAN DI BUKIT BINTANG
EPISODE 9 : K.O
EPISODE 10 : PETUNJUK?!
EPISODE 11 : KI AGENG BRAJAGUNA
EPISODE 12 : PERTEMPURAN TERAKHIR
STORY BRIDGE
TAMAT
EPISODE 2 : PANGKAL BENCANA
EPISODE 3 : MAYAT DI DALAM PETI
EPISODE 4 : KECELAKAAN MAUT
EPISODE 5 : SANG DEWI
EPISODE 6 : KORBAN BERJATUHAN
EPISODE 7 : PENODONGAN DI MALIOBORO
EPISODE 8 : PENYERGAPAN DI BUKIT BINTANG
EPISODE 9 : K.O
EPISODE 10 : PETUNJUK?!
EPISODE 11 : KI AGENG BRAJAGUNA
EPISODE 12 : PERTEMPURAN TERAKHIR
STORY BRIDGE
TAMAT
KUMPULAN CERPEN HORROR
INDEX
Diubah oleh breaking182 07-05-2018 13:16
itkgid dan 41 lainnya memberi reputasi
40
256.1K
Kutip
809
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
breaking182
#449
Quote:
Lalu buru –buru polisi itu keluar dari pondok dan menemui kawannya yang masih berdiri di luar mengawasi keadaan. Melihat Marwan keluar dari pondok dengan muka pucat dan berketingat dingin. Heranlah orang ini.
“ Kau kenapa Wan? “
" Kau tidak mencium bau sesuatu?" bertanya Marwan dengan jengkel.
" Betul. Bau busuk… " jawab Parman. Sesekali ia meludah ke tanah.
Saat itu sebenarnya dari tadi ia mencium bau yang sangat busuk memuakkan itu. Tapi ia sama sekali tidak ambil pusing dengan bau itu. Mungkin hanya bau binatang yang mati. Toh, disitu bisa dikatakan berada di tengah hutan. Bau bangkai binatang sudah bukan hal yang mustahil terjadi.
" Bau busuk yang berasal dari apa menurutmu?" bertanya lagi Marwan.
" Sulit diterka, Wan. Mungkin itu berasal dari bang¬kai binatang…"
" Kau betul," berkata Marwan.
" Itu memang bau bangkai binatang. Binatang berkaki dua!"
" Maksud mu…?" Parman mengernyitkan dahi. Kebingungan.
" Maksudku adalah bau bangkai manusia! Kau tahu, bangkai manusia adalah yang paling busuk dari segala bangkai yang ada di dunia ini!"
Parman tersenyum dan berkata,
“ Kau jangan bercanda Wan, bukannya tadi kau sudah masuk ke dalam pondok itu cukup lama? Kau temui mayat orang di dalam sana?! “
Marwan menarik nafas panjang. Lalu menggeleng lemah. Seraya berkata,
“ Kau tahu ?! Aku pernah mencium bau sejenis ini saat menangani kasus pembunuhan di alas Jati di perbatasan Wonosari dan Wonogiri. Jenasah itu telah membusuk dan baunya persis seperti ini “
“ Aku jadi semakin janggal dengan kasus kali ini. Seperti ada sesuatu yang mengerikan di balik semua ini “
Marwan mengelus kuduknya yang tiba –tiba terasa dingin.
“ Cepat kita tinggalkan tempat ini. Firasatku mengatakan kedua orang itu akan segera pulang dan kembali ke pondok ini “
“ Pak Jatmiko harus segera mendengarkan laporan kita. Secepatnya kita lakukan penyergapan untuk mengungkap kasus ini !”
Parman mengangguk. Kedua anggota polisi itu bergegas meninggalkan pondok. Pintu yang tadi terbuka dikembalikan seperti semula untuk menghindari kecurigaan dari si empunya pondok. Tubuh kedua orang itu segera lenyap di telan kegelapan malam. Memang benar, hanya beberapa saat tatkala Marwan dan Parman pergi meninggalkan pondok itu. Sesosok tubuh setengah berlari menyembul dari balik semak belukar di ujung telaga. Lalu masuk pondok melalui pintu depan. Tidak berapa lama pondok itu jadi gelap gulita. Lampu minyak yang tadi dinyalakan kini telah dipadamkan. Pondok itu seperti lenyap ditelan kepekatan malam yang sebentar lagi beranjak pagi.
“ Kau kenapa Wan? “
" Kau tidak mencium bau sesuatu?" bertanya Marwan dengan jengkel.
" Betul. Bau busuk… " jawab Parman. Sesekali ia meludah ke tanah.
Saat itu sebenarnya dari tadi ia mencium bau yang sangat busuk memuakkan itu. Tapi ia sama sekali tidak ambil pusing dengan bau itu. Mungkin hanya bau binatang yang mati. Toh, disitu bisa dikatakan berada di tengah hutan. Bau bangkai binatang sudah bukan hal yang mustahil terjadi.
" Bau busuk yang berasal dari apa menurutmu?" bertanya lagi Marwan.
" Sulit diterka, Wan. Mungkin itu berasal dari bang¬kai binatang…"
" Kau betul," berkata Marwan.
" Itu memang bau bangkai binatang. Binatang berkaki dua!"
" Maksud mu…?" Parman mengernyitkan dahi. Kebingungan.
" Maksudku adalah bau bangkai manusia! Kau tahu, bangkai manusia adalah yang paling busuk dari segala bangkai yang ada di dunia ini!"
Parman tersenyum dan berkata,
“ Kau jangan bercanda Wan, bukannya tadi kau sudah masuk ke dalam pondok itu cukup lama? Kau temui mayat orang di dalam sana?! “
Marwan menarik nafas panjang. Lalu menggeleng lemah. Seraya berkata,
“ Kau tahu ?! Aku pernah mencium bau sejenis ini saat menangani kasus pembunuhan di alas Jati di perbatasan Wonosari dan Wonogiri. Jenasah itu telah membusuk dan baunya persis seperti ini “
“ Aku jadi semakin janggal dengan kasus kali ini. Seperti ada sesuatu yang mengerikan di balik semua ini “
Marwan mengelus kuduknya yang tiba –tiba terasa dingin.
“ Cepat kita tinggalkan tempat ini. Firasatku mengatakan kedua orang itu akan segera pulang dan kembali ke pondok ini “
“ Pak Jatmiko harus segera mendengarkan laporan kita. Secepatnya kita lakukan penyergapan untuk mengungkap kasus ini !”
Parman mengangguk. Kedua anggota polisi itu bergegas meninggalkan pondok. Pintu yang tadi terbuka dikembalikan seperti semula untuk menghindari kecurigaan dari si empunya pondok. Tubuh kedua orang itu segera lenyap di telan kegelapan malam. Memang benar, hanya beberapa saat tatkala Marwan dan Parman pergi meninggalkan pondok itu. Sesosok tubuh setengah berlari menyembul dari balik semak belukar di ujung telaga. Lalu masuk pondok melalui pintu depan. Tidak berapa lama pondok itu jadi gelap gulita. Lampu minyak yang tadi dinyalakan kini telah dipadamkan. Pondok itu seperti lenyap ditelan kepekatan malam yang sebentar lagi beranjak pagi.
Quote:
SAAT itu pagi telah memasuki waktu siang. Cahaya matahari bersinar cukup terik. Menerobos kerapatan pepohonan yang padat di kawasan hutan kecil di tepi desa Sambirejo. musim semi. Di balik kerapatan pepeohona dan semak belukar sebuah telaga kecil beriak –riak airnya tersapu angin yang bertiup cukup kencang. Di ikuti oleh bunyi kereketan ranting pohon yang meliuk – liuk dan saling bersinggungan. Dalam redup bayang – bayangan pohon di balik belukar. Lima sosok lelaki tegap bergerak mengendap -endap menuju sebuah pondok bambu yang berada di ujung selatan telaga.
"Hati –hati tahan nafas kalian di pondok bambu itu ada bau sangat busuk. Menyerupai bau bangkai. Persiapkan diri kalian “
Orang yang paling depan berbicara setengah berbisik pada keempat kawannya.
Sementara disisi lain di balik lebarnya daun keladi hutan tiga bayangan mengendap –endap dengan tujuan yang sama. Pondok bambu di ujung telaga!
Setelah semakin dekat dengan pondok itu sosok –sosok tubuh itu menyebar. Pondok bambu itu kini telah terkepung rapat.
Delapan orang lelaki yang mengepung ini rata -rata memiliki tampang-tampang tegas, rambut cepak dengan badan lumayan tegap dan berotot. Sebuah revolver tergengangam di tangan masing –masing. Teracung ke depan siap mencari sasaran jika ada yang menyerang dari dalam pondok. Begitu sampai di depan pondok bambu beratap rumbia, seorang lelaki memakai jaket kulit berwarna hitam menendang pintu pondok sambil berteriak:
"Yang ada di dalam pondok! Kami kepolisian Gunung Kidul datang membawa surat perintah penangkapan!"
Pintu rumah terpental tanggal. Polisi yang menendang langsung masuk diikuti dua orang temannya. Keenam lagi menunggu di luar berjaga- jaga dengan tangan siap menekan picu revolver.
Sebuah bayangan bekelebat lari keluar melalui pintu belakang. Sesaat terlihat seorang lelaki tua berumur sekitar delapan puluh tahun, mengenakan pakaian serba hitam berlari menembus kepungan tiga orang yang berada di belakang pondok. Tiga polisi tersentak kaget. Karena tahu –tahu sesosok tubuh melesat dari dalam pondok. Suara berdecit keras membelah udara. Sebuah benda berwarna hitam melesat dengan cepat !
Satu teriakan kesakitan merobek langit santer terdengar. Seorang polisi terjatuh meregang nyawa sebuah pisau berbentuk aneh menyerupai daun sirih berwarna hitam menancap di lehernya. Inilah pisau godong suruh ( baca : Tumbal - tumbal Iblis)
Darah berwarna merah kehitaman seketika membanjiri rerumputan. Polisi itu mengerang sebentar lalu tak berkutik selamanya dengan sekujur tubuh membiru dan mata melotot.
“ Kejar ! Kejar orang itu! “
Teriakan menggema di tengah kesunyian hutan. Lima orang berhamburan mengejar ke arah lenyapnya si orang tua.
Sementara di dalam pondok. Begitu mendengar jeritan dari luar polisi yang memakai jaket hitam segera memberikan perintah.
“ Tiga orang cepat lakukan pengejaran !”
“ Siapa Pak Jatmiko !”
Tiga orang polisi bergerak cepat keluar pondok.
Marwan mendekati lelaki yang memakai jaket hitam yang ternyata adalah Jatmiko. Sebelumnya diceritakan Jatmiko mendengar telpon di rumahnya berdering berbunyi. Lalu polisi berpangkat sersan itu segera mengangkat telpon yang ternyata dari anak buahnya yang tengah ditugaskan untuk melakukan pengintaian. Tanpa banyak bicara saat itu juga delapan anggota polisi dipimpin oleh dirinya langsung melakukan penyergapan.
“ Balai –balai kayu yang tadi saya ceritakan ada di balik dinding papan itu pak “
Jatmiko beberapa kali meludah ke tanah. Bau busuk bangkai menusuk –nusuk hidung. Bau itu sangat familiar untuknya. Seperti bau orang yang semalam sempat membuat babak belur dirinya dan Sasongko.
Jatmiko dan Marwan mengendap –endap menuju ke balik tembok. Revolver tergenggam erat di tangannya. Sesampainya di balik tembok. Di atas balai-balai itu terbujur sosok seorang memakai baju putih yang sangat dekil. Terlentang menghadap ke atas langit –langit. Bau busuk semakin hebat di ruangan itu. Meskipun belum sepenuhnya melihat sesosok tubuh yang terbujur itu. Akan tetapi, Jatmiko sangat yakin kalau sosok itu adalah Idam. Mayat hidup yang semalam tadi hampir merenggut nyawanya.
Perlahan –lahan dua orang polisi itu lebih mendekati ke arah balai –balai kayu. Sambil sesekali meludah dan telapak tangan kiri membekap hidung. Sementara tangan kanan masih memegang erat hulu revolver. Kini tampak terlihat pemandangan yang sangat mengerikan sesosok mayat yang sudah mulai membusuk dan membengkak. Sebuah lubang menganga terlihat di leher. Lubang itu tampak hitam dan berair di kerumuni ulat –ulat kecil. Sementara kepalanya sedikit rengkah. Sebuah timah bersarang di batok kepala itu. Marwan tidak berani melihat pemandangan mengerikan itu, dia terhuyung ke belakang lalu terduduk lemas bersandar pada dinding bambu. Nafasnya tersengal –sengal.
“ Selesai sudah misteri ini. Dia lah yang menyerang ku dan Sasongko tadi malam. Yang jadi persoalannya dengan maksud apa orang itu membangkitkan mayat dan berniat mengincar nyawa Sasongko “ Pertanyaan itu berkecamuk di hati Jatmiko.
Marwan tidak mampu berkata –apa –apa lagi. Polisi itu dengan isyarat mata minta ijin kepada Jatmiko untuk keluar dari pondok. Jatmiko mengangguk perlahan. Tidak lama kemudian terdengar suara orang muntah dari luar pondok. Jatmiko bergegas keluar dari pondok tatkala apa yang dicari dan disimpulkan tadi malam telah hampir menemukan jawabnya. Diraihnya radio panggil yang berada di balik jaket.
“ Kobra memanggil..Kobra memanggil “
Suara distorsi beberapa kali terdengar.
Bzztttt...Bzzttt... Bzztttt...Bzzttt
Bzztttt...Bzzttt... Bzztttt...Bzzttt
Beberapa lama kemudian terdengar jawaban dari seberang sambungan.
“ Elang satu sedang melakukan pengejaran..Ganti....”
“ Sasaran jangan sampai lolos dan tangkap hidup –hidup..Ganti..”
“ Siap laksanakan...”
Lalu sambungan terputus.
Jatmiko segera melihat dua orang polisi yang tengah mengurus jenazah temannya yang sudah mati. Polisi muda itu sedikit mengernyitkan keningnya tatkala melihat sebilah pisau berbentuk aneh seperti daun sirih menancap di leher anak buahnya.
“ Jadi Karman gugur dilempar menggunakan pisau ini?! “
Dia seperti bertanya pada dirinya sendiri.
“ Gila! Aku yakin pisau ini mengandung racun yang sangat jahat. Tubuh Karman sampai membiru seperti itu”
Jatmiko menggeleng –gelengkan kepalanya.
“ Kalian tolong jaga di sini. Aku akan ikut melakukan pengejaran. Tolong jangan sentuh apa –apa dulu. Segera panggil bantuan dengan senjata lengkap ke tempat ini “
“ Baik Pak!”
Tubuh Jatmiko segera lenyap di balik lebarnya daun keladi hutan yang tumbuh subur di sekitar tempat itu.
"Hati –hati tahan nafas kalian di pondok bambu itu ada bau sangat busuk. Menyerupai bau bangkai. Persiapkan diri kalian “
Orang yang paling depan berbicara setengah berbisik pada keempat kawannya.
Sementara disisi lain di balik lebarnya daun keladi hutan tiga bayangan mengendap –endap dengan tujuan yang sama. Pondok bambu di ujung telaga!
Setelah semakin dekat dengan pondok itu sosok –sosok tubuh itu menyebar. Pondok bambu itu kini telah terkepung rapat.
Delapan orang lelaki yang mengepung ini rata -rata memiliki tampang-tampang tegas, rambut cepak dengan badan lumayan tegap dan berotot. Sebuah revolver tergengangam di tangan masing –masing. Teracung ke depan siap mencari sasaran jika ada yang menyerang dari dalam pondok. Begitu sampai di depan pondok bambu beratap rumbia, seorang lelaki memakai jaket kulit berwarna hitam menendang pintu pondok sambil berteriak:
"Yang ada di dalam pondok! Kami kepolisian Gunung Kidul datang membawa surat perintah penangkapan!"
Pintu rumah terpental tanggal. Polisi yang menendang langsung masuk diikuti dua orang temannya. Keenam lagi menunggu di luar berjaga- jaga dengan tangan siap menekan picu revolver.
Sebuah bayangan bekelebat lari keluar melalui pintu belakang. Sesaat terlihat seorang lelaki tua berumur sekitar delapan puluh tahun, mengenakan pakaian serba hitam berlari menembus kepungan tiga orang yang berada di belakang pondok. Tiga polisi tersentak kaget. Karena tahu –tahu sesosok tubuh melesat dari dalam pondok. Suara berdecit keras membelah udara. Sebuah benda berwarna hitam melesat dengan cepat !
Satu teriakan kesakitan merobek langit santer terdengar. Seorang polisi terjatuh meregang nyawa sebuah pisau berbentuk aneh menyerupai daun sirih berwarna hitam menancap di lehernya. Inilah pisau godong suruh ( baca : Tumbal - tumbal Iblis)
Darah berwarna merah kehitaman seketika membanjiri rerumputan. Polisi itu mengerang sebentar lalu tak berkutik selamanya dengan sekujur tubuh membiru dan mata melotot.
“ Kejar ! Kejar orang itu! “
Teriakan menggema di tengah kesunyian hutan. Lima orang berhamburan mengejar ke arah lenyapnya si orang tua.
Sementara di dalam pondok. Begitu mendengar jeritan dari luar polisi yang memakai jaket hitam segera memberikan perintah.
“ Tiga orang cepat lakukan pengejaran !”
“ Siapa Pak Jatmiko !”
Tiga orang polisi bergerak cepat keluar pondok.
Marwan mendekati lelaki yang memakai jaket hitam yang ternyata adalah Jatmiko. Sebelumnya diceritakan Jatmiko mendengar telpon di rumahnya berdering berbunyi. Lalu polisi berpangkat sersan itu segera mengangkat telpon yang ternyata dari anak buahnya yang tengah ditugaskan untuk melakukan pengintaian. Tanpa banyak bicara saat itu juga delapan anggota polisi dipimpin oleh dirinya langsung melakukan penyergapan.
“ Balai –balai kayu yang tadi saya ceritakan ada di balik dinding papan itu pak “
Jatmiko beberapa kali meludah ke tanah. Bau busuk bangkai menusuk –nusuk hidung. Bau itu sangat familiar untuknya. Seperti bau orang yang semalam sempat membuat babak belur dirinya dan Sasongko.
Jatmiko dan Marwan mengendap –endap menuju ke balik tembok. Revolver tergenggam erat di tangannya. Sesampainya di balik tembok. Di atas balai-balai itu terbujur sosok seorang memakai baju putih yang sangat dekil. Terlentang menghadap ke atas langit –langit. Bau busuk semakin hebat di ruangan itu. Meskipun belum sepenuhnya melihat sesosok tubuh yang terbujur itu. Akan tetapi, Jatmiko sangat yakin kalau sosok itu adalah Idam. Mayat hidup yang semalam tadi hampir merenggut nyawanya.
Perlahan –lahan dua orang polisi itu lebih mendekati ke arah balai –balai kayu. Sambil sesekali meludah dan telapak tangan kiri membekap hidung. Sementara tangan kanan masih memegang erat hulu revolver. Kini tampak terlihat pemandangan yang sangat mengerikan sesosok mayat yang sudah mulai membusuk dan membengkak. Sebuah lubang menganga terlihat di leher. Lubang itu tampak hitam dan berair di kerumuni ulat –ulat kecil. Sementara kepalanya sedikit rengkah. Sebuah timah bersarang di batok kepala itu. Marwan tidak berani melihat pemandangan mengerikan itu, dia terhuyung ke belakang lalu terduduk lemas bersandar pada dinding bambu. Nafasnya tersengal –sengal.
“ Selesai sudah misteri ini. Dia lah yang menyerang ku dan Sasongko tadi malam. Yang jadi persoalannya dengan maksud apa orang itu membangkitkan mayat dan berniat mengincar nyawa Sasongko “ Pertanyaan itu berkecamuk di hati Jatmiko.
Marwan tidak mampu berkata –apa –apa lagi. Polisi itu dengan isyarat mata minta ijin kepada Jatmiko untuk keluar dari pondok. Jatmiko mengangguk perlahan. Tidak lama kemudian terdengar suara orang muntah dari luar pondok. Jatmiko bergegas keluar dari pondok tatkala apa yang dicari dan disimpulkan tadi malam telah hampir menemukan jawabnya. Diraihnya radio panggil yang berada di balik jaket.
“ Kobra memanggil..Kobra memanggil “
Suara distorsi beberapa kali terdengar.
Bzztttt...Bzzttt... Bzztttt...Bzzttt
Bzztttt...Bzzttt... Bzztttt...Bzzttt
Beberapa lama kemudian terdengar jawaban dari seberang sambungan.
“ Elang satu sedang melakukan pengejaran..Ganti....”
“ Sasaran jangan sampai lolos dan tangkap hidup –hidup..Ganti..”
“ Siap laksanakan...”
Lalu sambungan terputus.
Jatmiko segera melihat dua orang polisi yang tengah mengurus jenazah temannya yang sudah mati. Polisi muda itu sedikit mengernyitkan keningnya tatkala melihat sebilah pisau berbentuk aneh seperti daun sirih menancap di leher anak buahnya.
“ Jadi Karman gugur dilempar menggunakan pisau ini?! “
Dia seperti bertanya pada dirinya sendiri.
“ Gila! Aku yakin pisau ini mengandung racun yang sangat jahat. Tubuh Karman sampai membiru seperti itu”
Jatmiko menggeleng –gelengkan kepalanya.
“ Kalian tolong jaga di sini. Aku akan ikut melakukan pengejaran. Tolong jangan sentuh apa –apa dulu. Segera panggil bantuan dengan senjata lengkap ke tempat ini “
“ Baik Pak!”
Tubuh Jatmiko segera lenyap di balik lebarnya daun keladi hutan yang tumbuh subur di sekitar tempat itu.
Quote:
Lelaki tua berambut panjang memutih dengan bekas sodetan luka di pipi kirinya itu berlari seperti dikejar setan. Dalam pagi hari yang menjelang siang tubuhnya beberapa kali membentur pohon, pakaian hitamnya robek-robek terkait duri, bahkan kulitnya penuh dengan barut luka yang menjadi perih akibat terkena keringat. Namun semua itu tidak diperdulikannya. Dia lari terus sekencang yang bisa dilakukannya walau nafasnya mulai menyesak dan terengah –engah.
"Celaka…..! Celaka diriku! Tak mungkin aku bisa lari menghindari kejaran mereka. Aku harus mencapai tempat yang aman untuk bersembunyi sementara waktu untuk kemudian pulang ke Muntilan "
Orang ini berlari terus. Berusaha lebih kecang. Namun tenaganya hampir punah. Kedua kakinya seperti diganduli batu besar. Beberapa kali dia tersandung jatuh tapi bangkit kembali dan berlari lagi. Berpaling kembali ke belakang, dari kejauhan terlihat bayangan beberapa orang tampak berkelebatan dari balik semak belukar. Beberapa kali terdengar suara letusan dari mocong senjata api.
"Celaka! Celaka diriku…..!"
Sekali lagi dia tersungkur di tanah karena kakinya tersangkut akar pohon gayam yang menjulur. Seperti ada semangat dan kekuatan baru dalam tubuh orang itu, ia langsung berdiri dan berlari lebih kencang. Pada saat itulah terdengar suara anjing menggonggong. Mula-mula hanya seekor saja, namun sesaat kemudian ada setengah lusin anjing yang berlompatan dari semak belukar di depannya. Keenam anjing itu mengerubungi orang tua itu sambil terus menyalak.
"Celaka!" keluh si orang tua bepipi codet.
Dia cepat berbalik arah menuju ke sebuah tikungan jalan setapak. Hampir bersamaan dengan saat ia akan berbalik arah, dari berbagai arah terdengar suara membentak:
"Hantikan lari mu Pak Tua. Menyerahlah!"
Lalu bermunculan orang –orang menodongkan revolver ke arahnya. Si orang tua menjadi panik. Enam ekor anjing tadi ternyata ikut mengepung dan mengelilinginya dengan pandangan mata beringas serta memperlihatkan taring –taring yang tajam dan berlendir itu.
Hatinya tambah tercekat. Sudah tidak ada lagi jalan keluar bagi dirinya!
Dari kerumunan orang itu muncul seorang pemuda sambil berteriak- teriak.
“ Tangkap! Jangan biarkan dia lolos!"
“ Hati –hati jaga jarak, orang tua itu bersenjata ! “
Menyadari dirinya terkurung di tengah-tengah dan terancam bahaya orang tua itu menjadi nekad. Dia merangsek menerobos kepungan orang di depannya. Pada saat itu enam ekor anjing berjenis siap menerkam. Orang tua yang tidak lain Ki Dukun Dipo Wongso dari desa Padas Lintang itu. Segera kiblatkan goloknya dengan cepat yang sedari tadi terselip di pinggangnya! Kejadian itu sangat cepat tatkala tiga kepala menggelinding di tanah. Serta merta tanah berbatu itu tergenang oleh darah! Tiga ekor anjing meregang nyawa dengan kepala tanggal. Tiga ekor anjing lagi nampak surut mundur melihat kawannya modar!
Beberapa polisi menembakkan revolvernya ke udara sebagai peringatan.
“ Menyerahlah Pak Tua !”
Bentakan itu tidak ditanggapi sama sekali oleh Dipo Wongso. Dukun tua itu merogoh dua pisau yang masih tersisa di dalam saku baju hitamnya. Benda itu mendesing tatkala dukun tua itu melemparkannya ke depan. Guna mencari sasaran orang – orang yang mengepungnya!
“ Hati –hati ! Merunduk! Tiarap !”
Jatmiko yang sudah mengetahui keganasan pisau berbentuk daun suruh itu berteriak mengingatkan. Tetapi peringatannya terlambat. Terdengar lengkingan lolongan kesakitan. Dua polisi rebah ke tanah mandi darah. Sebuah pisau telah bersarang tepat di jantung kedua polisi itu. Tubuh polisi itu langsung membiru. Nyawanya minggat di ujung pisau godong suruh!
Selagi para polisi itu sedikit lumer nyalinya. Dukun Dipo Wongso tidak sia-siakan kesempatan. Mati disadarinya memang sudah jadi bagiannya. Tapi dia tidak mau mati atau ditangkap untuk dikorek keterangan dari mulutnya. Maka dengan cepat dia keluarkan kantong kulit yang ada di balik pinggangnya. Lalu cepat sekali dia menuangkan bubuk putih kelabu yang ada dalam kantong kedalam mulutnya yang dibuka lebar-lebar. Kejadian itu berlangsung cepat sekali, tidak terduga oleh semua orang yang ada di tempat itu. Tidak perlu menunggu lama. Orang ini mulai melejang-lejang. Mukanya menjadi biru sampai ke bibir. Sepasang mata membeliak. Dari tenggorokannya ada suara seperti orang tercekik lalu menyembur busa dan air berwarna hitam pekat.
"Kurang ajar! baik itu menenggak racun yang dibawanya sendiri!" teriak seorang polisi.
"Dia bunuh diri!"
"Kita terlambat!"
Jatmiko terduduk lesu di bawah pohon trembesi. Niat untuk membuka tabir misteri kasus itu sirna sudah. Nalurinya sebagai seorang polisi mengatakan bahwa kasus ini belum selesai. Dia yakin orang tua yang kini membujur kaku tidak jauh dari dirinya itu pastilah tidak berkerja sendiri. Setidaknya dalang dan biang keladi dari masalah ini masih ada dan masih hidup.
"Celaka…..! Celaka diriku! Tak mungkin aku bisa lari menghindari kejaran mereka. Aku harus mencapai tempat yang aman untuk bersembunyi sementara waktu untuk kemudian pulang ke Muntilan "
Orang ini berlari terus. Berusaha lebih kecang. Namun tenaganya hampir punah. Kedua kakinya seperti diganduli batu besar. Beberapa kali dia tersandung jatuh tapi bangkit kembali dan berlari lagi. Berpaling kembali ke belakang, dari kejauhan terlihat bayangan beberapa orang tampak berkelebatan dari balik semak belukar. Beberapa kali terdengar suara letusan dari mocong senjata api.
"Celaka! Celaka diriku…..!"
Sekali lagi dia tersungkur di tanah karena kakinya tersangkut akar pohon gayam yang menjulur. Seperti ada semangat dan kekuatan baru dalam tubuh orang itu, ia langsung berdiri dan berlari lebih kencang. Pada saat itulah terdengar suara anjing menggonggong. Mula-mula hanya seekor saja, namun sesaat kemudian ada setengah lusin anjing yang berlompatan dari semak belukar di depannya. Keenam anjing itu mengerubungi orang tua itu sambil terus menyalak.
"Celaka!" keluh si orang tua bepipi codet.
Dia cepat berbalik arah menuju ke sebuah tikungan jalan setapak. Hampir bersamaan dengan saat ia akan berbalik arah, dari berbagai arah terdengar suara membentak:
"Hantikan lari mu Pak Tua. Menyerahlah!"
Lalu bermunculan orang –orang menodongkan revolver ke arahnya. Si orang tua menjadi panik. Enam ekor anjing tadi ternyata ikut mengepung dan mengelilinginya dengan pandangan mata beringas serta memperlihatkan taring –taring yang tajam dan berlendir itu.
Hatinya tambah tercekat. Sudah tidak ada lagi jalan keluar bagi dirinya!
Dari kerumunan orang itu muncul seorang pemuda sambil berteriak- teriak.
“ Tangkap! Jangan biarkan dia lolos!"
“ Hati –hati jaga jarak, orang tua itu bersenjata ! “
Menyadari dirinya terkurung di tengah-tengah dan terancam bahaya orang tua itu menjadi nekad. Dia merangsek menerobos kepungan orang di depannya. Pada saat itu enam ekor anjing berjenis siap menerkam. Orang tua yang tidak lain Ki Dukun Dipo Wongso dari desa Padas Lintang itu. Segera kiblatkan goloknya dengan cepat yang sedari tadi terselip di pinggangnya! Kejadian itu sangat cepat tatkala tiga kepala menggelinding di tanah. Serta merta tanah berbatu itu tergenang oleh darah! Tiga ekor anjing meregang nyawa dengan kepala tanggal. Tiga ekor anjing lagi nampak surut mundur melihat kawannya modar!
Beberapa polisi menembakkan revolvernya ke udara sebagai peringatan.
“ Menyerahlah Pak Tua !”
Bentakan itu tidak ditanggapi sama sekali oleh Dipo Wongso. Dukun tua itu merogoh dua pisau yang masih tersisa di dalam saku baju hitamnya. Benda itu mendesing tatkala dukun tua itu melemparkannya ke depan. Guna mencari sasaran orang – orang yang mengepungnya!
“ Hati –hati ! Merunduk! Tiarap !”
Jatmiko yang sudah mengetahui keganasan pisau berbentuk daun suruh itu berteriak mengingatkan. Tetapi peringatannya terlambat. Terdengar lengkingan lolongan kesakitan. Dua polisi rebah ke tanah mandi darah. Sebuah pisau telah bersarang tepat di jantung kedua polisi itu. Tubuh polisi itu langsung membiru. Nyawanya minggat di ujung pisau godong suruh!
Selagi para polisi itu sedikit lumer nyalinya. Dukun Dipo Wongso tidak sia-siakan kesempatan. Mati disadarinya memang sudah jadi bagiannya. Tapi dia tidak mau mati atau ditangkap untuk dikorek keterangan dari mulutnya. Maka dengan cepat dia keluarkan kantong kulit yang ada di balik pinggangnya. Lalu cepat sekali dia menuangkan bubuk putih kelabu yang ada dalam kantong kedalam mulutnya yang dibuka lebar-lebar. Kejadian itu berlangsung cepat sekali, tidak terduga oleh semua orang yang ada di tempat itu. Tidak perlu menunggu lama. Orang ini mulai melejang-lejang. Mukanya menjadi biru sampai ke bibir. Sepasang mata membeliak. Dari tenggorokannya ada suara seperti orang tercekik lalu menyembur busa dan air berwarna hitam pekat.
"Kurang ajar! baik itu menenggak racun yang dibawanya sendiri!" teriak seorang polisi.
"Dia bunuh diri!"
"Kita terlambat!"
Jatmiko terduduk lesu di bawah pohon trembesi. Niat untuk membuka tabir misteri kasus itu sirna sudah. Nalurinya sebagai seorang polisi mengatakan bahwa kasus ini belum selesai. Dia yakin orang tua yang kini membujur kaku tidak jauh dari dirinya itu pastilah tidak berkerja sendiri. Setidaknya dalang dan biang keladi dari masalah ini masih ada dan masih hidup.
Diubah oleh breaking182 12-04-2018 18:40
knoopy dan anggaava18 memberi reputasi
3
Kutip
Balas