- Beranda
- Stories from the Heart
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)
...
TS
juraganpengki
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)

Cool Cover By Agan Linbara (Thanks, Bree)..
Prolog
Setelah bangun dari ‘Mati Suri’ karena memutuskan untuk mencoba membunuh diri sendiri untuk melindungi Kitab Langit dan melenyapkan Bayu Ambar, gw kembali ke dunia nyata.. Kehidupan gw sedikit jauh berbeda, karena pengalaman ‘Mati Suri’ itu berefek langsung pada kelebihan yang gw miliki.. Gw masih sama Anggie, meski ujian atas cinta kami masih saja mendera.. Ada musuh baru, tentu saja.. Tapi ada juga sahabat baru yang muncul.. Karena ini akhir dari cerita kami berempat..
Kembalinya Anak Ibu...
Pengorbanan Pedang Jagat Samudera...
Cintai Aku Sewajarnya, Yank...
Matinya Seorang Saudara (Versi Gw/Bimo)
Berkumpul Kembali...
Keanehan Yang Mulai Muncul...
Sambutan Ketiga Saudara Ke Reinata...
Sabar???
Cukup! Tinggalin Aku Sendiri!!!
Siapa Kau???
Aku Ikutin Kemauan Kamu...
Keputusan Sepihak Yang Pahit...
Semua Beban Menjadi satu
Semua Beban Menjadi Satu (2)...
Serangkum Rindu Untuk Ayah...
Munculnya Penguasa Laut Utara...
Bertemunya Dua Penguasa...
Sebuah Kesepakatan...
Ibu Kenapa Yah???
Lu Kenapa, Ka???
Wanted Dead Or Alive.. ANTON!!!
Mo 'Perabotan' Lu Hancur Apa Tanggung Jawab???
It's The End Of Us...
Di Kerjain Ibu...
Ridho!!!
Kelewatan!!!
Munculnya Dua Penjaga Gerbang Kerajaan Laut...
Dewi Arum Kesuma VS Dewi Ayu Anjani
Datangnya Sosok Seorang Pemisah Dan Shock Therapy Buat Gw...
Kerajaan Jin...
Terkuaknya Semua Jawaban...
Maafin Gw, Bree...
Pengakuan Suluh...
Akhirnya Boleh Gondrong...
Pernikahan Kak Silvi Yang Seharusnya Membuat Gw Bahagia...
Pernikahan Kak Silvi Yang seharusnya Membuat Gw Bahagia (2)...
Tunggu Pembalasan Gw!!!...
Ni Mas Linduri dan Banas Ireng...
Dua Sosok Penyelamat Misterius...
Ada Apa Sama Ridho?...
Kesalahan Fatal...
Kembalinya Jin Penjaga Ridho dan Suluh...
Akibat Terlalu Ikut Campur...
Setiap Perbuatan Akan Mendapat Balasan...
Munculnya Viny Dan Sebuah Tantangan Bertarung...
Manusia Cabul...
Suara Penolong Misterius...
Bertemunya Kembali Sepasang Kekasih...
Terkuaknya Kebenaran...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar (2)...
Jaket Dan Celana Jeans Robek Serta Sweater Hitam Kumal...
She's My True Love...
Dilema...
Pertengkaran Dengan Ibu...
Rambe Lantak...
Gendewa Panah Pramesti...
Akan Ku Balaskan Dendam Mu, Arum Kesuma!!!
Yang Hilang dan Yang Kembali...
Jawaban Ayu...
Mati Gw!!!
Aku Makin Sayang...
Nasihat Om Hendra...
Jera Mencuri...
Ajian Segoro Geni...
Pilihan Sulit...
Keputusasaan Anggie...
Kabar Baik dari Ridho dan Suluh...
Perjalanan Menuju Pembalasan Dendam...
Rawa Rontek...
Rawa Rontek 2 (Terbayarnya Dendam)...
Kedatangan Pak Sugi...
Orang Titipan...
Hukuman Paling Berat...
Tidurlah Di Pangkuan Ku...
Menjajal Kesaktian...
Menjajal Kesaktian (2)...
Pengakuan Mengejutkan Babeh Misar...
Pengajaran Ilmu Silat Betawi...
Di Kepret Babeh Misar Lagi...
Tasya...
Naga Caglak dan Bajing Item...
Misteri Sebuah Dendam...
Kekuatan Sejati Kitab Langit Bagian Matahari...
Perpisahan...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera (2)...
Kembalinya Ibu...
Empat Bayangan Hitam...
Siapa Ni Mas Laras Rangkuti???
Dendam Seorang Sahabat...
Ini Keputusan Yang Harus Gw Ambil...
Semua Pengorbanan Ini Demi Ibu...
Rapuh...
Kabar Mengejutkan Sekar dan Sebuah Restu...
Siasat Braja Krama...
Munculnya Kitab Langit...
Si Pembuka Kitab langit dan Sosok Asli Pak Sugi...
Rencana Yang Matang...
Lamaran Pribadi...
Keingintahuan Anggie...
Perubahan Rencana...
Hampir Terjebak...
Kekecewaan Sekar...
Dua Syarat Reinata...
Aku Harap Kamu dan Anggie Bahagia, Mam...
Rahasia Sepasang Suami Isteri...
Menitipkan Amanah...
Berkumpulnya Para Pembela Kitab Langit...
Siasat Ki Purwagalih...
Raja Jin Raja Muslihat (Nyesek, Bree)...
Pertukaran Tawanan...
Perang Gaib PunTak Terelakkan...
Sang Penyelamat Dari Utara...
Pertempuran Awal Dua Penguasa Kerajaan Gaib...
Bertekuk Lututnya Sekutu Braja Krama...
Pertarungan Dua Putera (Gugurnya Satu Sahabat Gaib)...
Krama Raja...
Braja Krama Versus Krama Raja...
Raja Licik...
Aku Lah Sang Pembuka...
Siasat Krama Raja dan Bayu Ambar...
Terbukanya Semua Ilmu Terlarang...
Sebuah Pengecualian...
Sri Baduga Maharaja...
Hilangnya Sebuah Pengecualian...
Hilangnya Sebuah Pengecualian (2)...
Sebuah Pengorbanan...
Pahlawan...
Sumpah...
Ilmu Pamungkas yang Terlarang...
Kabar Yang Mengejutkan...
Pulang...
Pulang (2)...
Sedikit Kisah Rio Sebelum Kisah Ini Tamat...
Terhalang Sumpah...
Bantuan Sahabat Baik...
Bachelor Party...
Keturunan Lain Sang Prabu...
Pembalasan Dendam Singgih...
Sepenggal Kisah Nyi Mas Roro Suwastri...
Tawaran Yang Mengejutkan...
Lawan Atau Kawan???
Terkuaknya Silsilah...
Sebuah Kebenaran...
Sebuah Kebenaran (2)...
Bertemunya Dua Keturunan Sang Prabu...
Pertempuran Dua Hati...
Cinta Pertama VS Cinta Terakhir Jagat Tirta...
Pengakuan Bayu Barata...
Ki Larang dan Nyi Mas Galuh Pandita???
Prana Kusuma...
Kau Benar Keturunan Kami, Ngger...
Our Big Day...
Insiden...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga (2)...
Dua Tamu Istimewa...
Semua Karena Cinta...
Keputusan Sekar Kencana...
Kena Gampar...
Bonyok!!!
RIBET!!!
Berdamai...
Keponakan Baru...
Malam Pertama dan Tiga Keanehan...
Ajian Warisan Para Leluhur (The Last Part/End Of All Chapters)
SIDE STORIES
Keturunan Yang Tersesat...
Keturunan Yang Tersesat (2)...

Cool Cover By Agan Linbara (Thanks, Bree)..
Prolog
Setelah bangun dari ‘Mati Suri’ karena memutuskan untuk mencoba membunuh diri sendiri untuk melindungi Kitab Langit dan melenyapkan Bayu Ambar, gw kembali ke dunia nyata.. Kehidupan gw sedikit jauh berbeda, karena pengalaman ‘Mati Suri’ itu berefek langsung pada kelebihan yang gw miliki.. Gw masih sama Anggie, meski ujian atas cinta kami masih saja mendera.. Ada musuh baru, tentu saja.. Tapi ada juga sahabat baru yang muncul.. Karena ini akhir dari cerita kami berempat..
Kembalinya Anak Ibu...
Pengorbanan Pedang Jagat Samudera...
Cintai Aku Sewajarnya, Yank...
Matinya Seorang Saudara (Versi Gw/Bimo)
Berkumpul Kembali...
Keanehan Yang Mulai Muncul...
Sambutan Ketiga Saudara Ke Reinata...
Sabar???
Cukup! Tinggalin Aku Sendiri!!!
Siapa Kau???
Aku Ikutin Kemauan Kamu...
Keputusan Sepihak Yang Pahit...
Semua Beban Menjadi satu
Semua Beban Menjadi Satu (2)...
Serangkum Rindu Untuk Ayah...
Munculnya Penguasa Laut Utara...
Bertemunya Dua Penguasa...
Sebuah Kesepakatan...
Ibu Kenapa Yah???
Lu Kenapa, Ka???
Wanted Dead Or Alive.. ANTON!!!
Mo 'Perabotan' Lu Hancur Apa Tanggung Jawab???
It's The End Of Us...
Di Kerjain Ibu...
Ridho!!!
Kelewatan!!!
Munculnya Dua Penjaga Gerbang Kerajaan Laut...
Dewi Arum Kesuma VS Dewi Ayu Anjani
Datangnya Sosok Seorang Pemisah Dan Shock Therapy Buat Gw...
Kerajaan Jin...
Terkuaknya Semua Jawaban...
Maafin Gw, Bree...
Pengakuan Suluh...
Akhirnya Boleh Gondrong...
Pernikahan Kak Silvi Yang Seharusnya Membuat Gw Bahagia...
Pernikahan Kak Silvi Yang seharusnya Membuat Gw Bahagia (2)...
Tunggu Pembalasan Gw!!!...
Ni Mas Linduri dan Banas Ireng...
Dua Sosok Penyelamat Misterius...
Ada Apa Sama Ridho?...
Kesalahan Fatal...
Kembalinya Jin Penjaga Ridho dan Suluh...
Akibat Terlalu Ikut Campur...
Setiap Perbuatan Akan Mendapat Balasan...
Munculnya Viny Dan Sebuah Tantangan Bertarung...
Manusia Cabul...
Suara Penolong Misterius...
Bertemunya Kembali Sepasang Kekasih...
Terkuaknya Kebenaran...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar (2)...
Jaket Dan Celana Jeans Robek Serta Sweater Hitam Kumal...
She's My True Love...
Dilema...
Pertengkaran Dengan Ibu...
Rambe Lantak...
Gendewa Panah Pramesti...
Akan Ku Balaskan Dendam Mu, Arum Kesuma!!!
Yang Hilang dan Yang Kembali...
Jawaban Ayu...
Mati Gw!!!
Aku Makin Sayang...
Nasihat Om Hendra...
Jera Mencuri...
Ajian Segoro Geni...
Pilihan Sulit...
Keputusasaan Anggie...
Kabar Baik dari Ridho dan Suluh...
Perjalanan Menuju Pembalasan Dendam...
Rawa Rontek...
Rawa Rontek 2 (Terbayarnya Dendam)...
Kedatangan Pak Sugi...
Orang Titipan...
Hukuman Paling Berat...
Tidurlah Di Pangkuan Ku...
Menjajal Kesaktian...
Menjajal Kesaktian (2)...
Pengakuan Mengejutkan Babeh Misar...
Pengajaran Ilmu Silat Betawi...
Di Kepret Babeh Misar Lagi...
Tasya...
Naga Caglak dan Bajing Item...
Misteri Sebuah Dendam...
Kekuatan Sejati Kitab Langit Bagian Matahari...
Perpisahan...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera (2)...
Kembalinya Ibu...
Empat Bayangan Hitam...
Siapa Ni Mas Laras Rangkuti???
Dendam Seorang Sahabat...
Ini Keputusan Yang Harus Gw Ambil...
Semua Pengorbanan Ini Demi Ibu...
Rapuh...
Kabar Mengejutkan Sekar dan Sebuah Restu...
Siasat Braja Krama...
Munculnya Kitab Langit...
Si Pembuka Kitab langit dan Sosok Asli Pak Sugi...
Rencana Yang Matang...
Lamaran Pribadi...
Keingintahuan Anggie...
Perubahan Rencana...
Hampir Terjebak...
Kekecewaan Sekar...
Dua Syarat Reinata...
Aku Harap Kamu dan Anggie Bahagia, Mam...
Rahasia Sepasang Suami Isteri...
Menitipkan Amanah...
Berkumpulnya Para Pembela Kitab Langit...
Siasat Ki Purwagalih...
Raja Jin Raja Muslihat (Nyesek, Bree)...
Pertukaran Tawanan...
Perang Gaib PunTak Terelakkan...
Sang Penyelamat Dari Utara...
Pertempuran Awal Dua Penguasa Kerajaan Gaib...
Bertekuk Lututnya Sekutu Braja Krama...
Pertarungan Dua Putera (Gugurnya Satu Sahabat Gaib)...
Krama Raja...
Braja Krama Versus Krama Raja...
Raja Licik...
Aku Lah Sang Pembuka...
Siasat Krama Raja dan Bayu Ambar...
Terbukanya Semua Ilmu Terlarang...
Sebuah Pengecualian...
Sri Baduga Maharaja...
Hilangnya Sebuah Pengecualian...
Hilangnya Sebuah Pengecualian (2)...
Sebuah Pengorbanan...
Pahlawan...
Sumpah...
Ilmu Pamungkas yang Terlarang...
Kabar Yang Mengejutkan...
Pulang...
Pulang (2)...
Sedikit Kisah Rio Sebelum Kisah Ini Tamat...
Terhalang Sumpah...
Bantuan Sahabat Baik...
Bachelor Party...
Keturunan Lain Sang Prabu...
Pembalasan Dendam Singgih...
Sepenggal Kisah Nyi Mas Roro Suwastri...
Tawaran Yang Mengejutkan...
Lawan Atau Kawan???
Terkuaknya Silsilah...
Sebuah Kebenaran...
Sebuah Kebenaran (2)...
Bertemunya Dua Keturunan Sang Prabu...
Pertempuran Dua Hati...
Cinta Pertama VS Cinta Terakhir Jagat Tirta...
Pengakuan Bayu Barata...
Ki Larang dan Nyi Mas Galuh Pandita???
Prana Kusuma...
Kau Benar Keturunan Kami, Ngger...
Our Big Day...
Insiden...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga (2)...
Dua Tamu Istimewa...
Semua Karena Cinta...
Keputusan Sekar Kencana...
Kena Gampar...
Bonyok!!!
RIBET!!!
Berdamai...
Keponakan Baru...
Malam Pertama dan Tiga Keanehan...
Ajian Warisan Para Leluhur (The Last Part/End Of All Chapters)
SIDE STORIES
Keturunan Yang Tersesat...
Keturunan Yang Tersesat (2)...
Diubah oleh juraganpengki 15-07-2018 20:23
iskrim dan 132 lainnya memberi reputasi
127
2.1M
8K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
juraganpengki
#5209
Bertekuk Lututnya Sekutu Braja Krama...
Dalam hati, mulai muncul sedikit rasa curiga.. Dan gw pun diam-diam mengamati ujung hidung Jagat Tirta.. Namun tidak nampak ada tanda titik hitam kecil disana.. Gw sedikit merasa lega setelah meyakini bahwa sosok suami nya Sekar yang ada diantara kami bukanlah jelmaan Jin sekutunya Braja Krama.. Sambil menarik nafas panjang, gw memikirkan mengapa Jagat Tirta belum menyebut nama gw sedari tadi..
“Aku akan membantu mu melawan Bayu Ambar” Ucap gw langsung menyambar perkataan Jagat Tirta, yang sudah menghentikan arahan..
Suaminya Sekar Kencana nampak menoleh ke arah gw.. Lalu menyimpulkan senyuman manisnya dan melayang mendekat..
“Tidak, anak muda titisan ku.. Kau bertugas menjaga kekasih mu bersama Ayahandaku.. Ada sesuatu yang membuat ku tertegun saat mengusap wajah nya tadi.. Aku sempat merasakan hawa aneh, namun sama sekali tidak mengancam.. Aku takut selain mengincar Kitab Langit, musuh kita juga mengincar kekasihmu”
Gw terdiam sambil menatap wajah Anggie yang nampak tenang dibawah pengaruh Ilmu Sirep Jagat Tirta.. Benak gw mencermati kalimat Jagat Tirta barusan tentang hawa aneh dalam diri Anggie.. Selama ini, belum pernah gw merasakan hawa apapun selama berada di dekatnya.. Meski bukan hawa jahat, namun tetap saja gw memikirkan apa yang di jelaskan Jagat Tirta tadi..
“Baiklah, aku akan menuruti perintahmu.. Tapi, aku tidak menjamin akan tetap tinggal diam jika melihat sahabat atau ketiga saudara ku terluka”
Jagat Tirta menganggukkan kepala dan kembali menyimpulkan senyuman kecil..
“Cukup! Waktu kalian sudah habis.. Aku akan memulai pertempuran sekarang juga” Teriak Raja Jin, yang lalu menganggukkan kepala ke arah Raksa Wanara dan Ni Mas Laras Rangkuti serta kelima sosok sahabat dalam pengaruhnya..
Sementara dari arah bawah, Jagat Tirta yang sudah membalikkan tubuh ke arah mereka juga menganggukkan kepala sambil menatap tajam ke Bayu Ambar.. Saudara kembarnya sendiri terlihat membalas tatapan Jagat Tirta dengan sorot mata dingin.. Disebelah Bayu Barata, Pandu Rukmo menatap tajam ke arah kami semua..
Setelah menerima anggukan kepala Sang Junjungan, semua sosok musuh melesat cepat ke arah kami secara bersamaan.. Kecuali Braja Krama sendiri dan Bayu Ambar serta Kera Raksasa jelmaan Raksa Wanara.. Ketiganya nampak tetap diam seraya menatap sosok lawan yang berbeda.. Namun hal itu tidak berlangsung lama.. Penguasa Gaib Tanah Pasundan terlihat melesat secepat kilat ke arah Ratu Laut Utara.. Di susul Kera Raksasa yang mulai melangkah kan kakinya ke depan dan meninggalkan Bayu Ambar seorang diri..
Dari arah kami, semua sosok sahabat gaib dan ketiga saudara yang telah mendapat tugas untuk bertarung dengan lawan berbeda, ikut melesat dan melompat.. Ratu Penguasa Laut Utara nampak sudah bersiap dengan senjatanya, berupa tongkat emas yang diselimuti sinar keemasan.. Kedua mata sosok jelita itu terlihat membesar begitu tubuh Raja Jin yang hampir tiba beberapa tombak dihadapannya mendadak lenyap.. Dan..
BUGGH!!!
Ratu Penguasa Laut Utara terpental ke samping kiri, saat terkena serangan tak kasat mata di lengan kanannya.. Dengan cepat, ia memutar tongkat emas ke arah kanan namun hanya mengenai udara kosong.. Tapi, begitu ia berbalik ke arah kiri sebuah serangan mendarat lagi mengenai bahu nya.. Menyadari dirinya sedang dipermainkan oleh lawan, Ratu Laut Utara segera menjilat ujung ibu jari dengan posisi terbalik dan menekan titik tengah kening diantara dua alis indahnya.. Kedua mata gw membesar begitu melihat sosok jelita Penguasa Kerajaan Gaib Laut Utara sirna seketika.. Berganti suara benturan dua senjata dan bentrokan beberapa jurus..
“Dua Penguasa Kerajaan Gaib bertempur dalam wujud mereka yang paling halus, Ngger.. Hanya para Penguasa yang bisa menutupi diri mereka hingga tak telihat bahkan oleh mataku sendiri” Ucap Ki Suta yang nampak melempar pandangan ke arah Kera Raksasa jelmaan Raksa Wanara..
“Seandainya aku tidak terluka, sudah pasti aku akan turun tangan membantu mengalahkan Angkara Murka” Timpal Ki Purwagalih dengan wajah menyiratkan rasa sesal..
Gw mengiyakan ucapan Ki Purwagalih dalam hati.. Karena memang gw sendiri ingin sekali ikut menyumbangsihkan tenaga untuk melawan mereka..
“Ngger, maafkan aku yang telah menyematkan Kitab langit Bagian Matahari ke dalam bahu kanan tanpa sepengetahuan dirimu.. Niat ku hanya satu, yaitu bagimana caranya agar Braja Krama tidak sampai bisa menggunakan Kitab Langit meski dengan bantuan mu” Lanjut Ki Purwagalih yang membuat gw menoleh ke arah nya..
Benak gw sempat teringat akan mantera yang gw sebutkan untuk meminta Kitab langit menyatu dengan diri, saat nafas sudah tinggal sekali tarikan saja dalam cekikan Anggie beberapa saat lalu..
“Eyang, aku sempat mengucapkan mantera untuk meminta Kitab Langit menyatu dengan diriku saat tercekik tadi.. Tapi, mengapa hanya hawa panas saja yang terasa keluar dari balik bahu kanan tanpa terjadi apapun? Sebelumnya, aku pernah meminta kekuatan pada Kitab Langit Bagian Matahari ketika masih tersimpan dalam telapak tangan.. Waktu itu, aku tubuhku terbakar dengan sendirinya”
Ki Purwagalih dan Ki Suta seketika melempar pandangannya yang sedang melihat Naga Caglak membelit kedua kaki Kera Raksasa jelmaan Raksa Wanara, ke arah gw.. Lalu sama-sama saling memandang untuk beberapa saat.. Gw yang tidak mengerti mengapa kedua Jin yang bersahabat baik itu menatap aneh, hanya bisa menekuk kedua alis berharap salah satu dari mereka mengatakan sesuatu..
“Ngger, aku harap kau tidak lagi meminta Kitab Langit menyatu dengan tubuh mu dilain waktu.. Karena..”
Rasa penasaran gw semakin meningkat mendengar Ki Purwagalih nampak ragu untuk meneruskan kalimat dan malah memandang Ki Suta..
“Karena apa, Eyang?” Tanya gw dengan wajah dipenuhi tanda tanya..
Untuk beberapa saat, kedua sahabat itu masih saling menatap satu sama lain.. Hal itu membuat gw makin yakin bahwa ada sesuatu yang sengaja mereka tutupi.. Akan tetapi, gw tidak mau mengalah dan membiarkan mereka membungkam mulut tanpa mengatakan yang sebenarnya.. Secara perlahan, gw bangkit dari posisi duduk bersila dan membuat Ki Purwagalih menatap heran..
“Hendak kemana kah dirimu, Ngger? Ingat pesan Jagat Tirta, kau harus tetap disini untuk melindungi kekasihmu”
Ucapan Ki Purwagalih membuat gw semakin mantap untuk membuat mereka menyerah dan mau membuka mulut tentang segala hal yang sedang kedua Jin itu tutupi..
“Aku akan mengucap lagi mantera agar Kitab Langit menyatu seutuhnya dengan ku, Eyang” Jawab gw sambil menatap ke arah Jin Penjaga nya Reinata yang sedang menggebuk bahu kanan Kera Raksasa jelmaan Raksa Wanara dan membuat mahluk itu terjatuh berlutut dengan dua kaki masih terbelit Naga Caglak..
Untuk sesaat, gw memusatkan pandangan mata ke arah Ki Braja Sapta serta Nyi Roro Ranggas yang sama-sama sudah menjelma ke wujud genderuwo hitam dan kuntilanak merah.. Kedua Jin Penjaga Gerbang Gaib Barat dan Timur itu mengubah ukuran tubuh mereka hingga hampir setinggi dan sebesar sosok musuh..
Genderuwo hitam jelmaan Ki Braja Sapta langsung menggigit dan merobek leher Kera Raksasa jelmaan Raksa Wanara yang sontak membuat sosok itu meraung kesakitan..
Sementara, sosok Kuntilanak Merah jelmaan Nyi Roro Ranggas menyusul melompat ke arah musuh.. Tapi malah memeluk kepala Kera Raksasa yang sedang menutupi kucuran darah hitam dari luka koyak akibat gigitan Ki Braja Sapta dilehernya, dengan telapak tangan.. Untuk sesaat, sosok Kuntilanak Merah membelai rambut Kera Raksasa jelmaan Raksa Wanara yang sedang berlutut dan membenamkan kepalanya dalam pelukan..
Gw sempat memikirkan apa yang ada dalam benak Kuntilanak Merah, yang malah terlihat sedang mencoba meredam raung kesakitan Kera Raksasa jelmaan Raksa Wanara.. Tidak ubahnya seperti sosok seorang ibu yang berusaha menenangkan rajukan sang buah hati.. Perlahan, suara raungan Kera Raksasa terdengar melemah.. Bersamaan dengan belitan Naga Caglak yang terlepas dari kedua kaki dan kembali masuk ke dalam tanah..
Akan tetapi, pandangan gw terbelalak saat melihat tangan kiri Kuntilanak Merah menjambak rambut Kera Raksasa.. Hingga memaksa sosok jelmaan Raksa Wanara tersebut menengadahkan kepala ke arah langit.. Bersamaan dengan itu, Kuntilanak Merah menjerit melengking dan menghujamkan kelima kuku runcing di tangan kanannya ke leher Kera Raksasa..
CRASHHH...
“ROAAARRR”
Suara tusukan lima jari yang menembus kulit menghancurkan tulang leher terdengar cukup keras.. Disusul raung kesakitan Kera Raksasa yang kembali menggema diantara suara benturan dari pertempuran lain.. Namun, jerit kesakitan itu segera lenyap saat Kuntilanak Merah jelmaan Nyi Roro Ranggas membenamkan kepala Kera Raksasa ke dalam pelukannya lagi.. Dan kembali membelai kepala mahluk tersebut dengan lembut setelah mencabut keluar kelima kuku yang terbenam dari leher..
Melihat sosok lawan sudah tidak berdaya, Kuntilanak Merah melepaskan pelukan dan melayang menjauh.. Kedua mata Kera Raksasa jelmaan Raksa Wanara nampak mendelik ke atas dengan luka koyak dan luka tusuk di leher yang dibanjiri darah hitam.. Akan tetapi, perlahan-lahan Kera Raksasa itu kembali menatap nanar ke arah semua sahabat gaib dan Bajing Ireng sambil menutupi kedua luka di leher..
Mengetahui lawan masih belum sepenuhnya dapat ditaklukkan, Bajing Ireng memanggil Naga Caglak lagi dan melompat ke atas kepala Ular Raksasa tersebut.. Secepat kilat, Naga Caglak mengibaskan ekornya yang langsung menghantam tubuh Kera Raksasa dan membuat mahluk itu terlempar jauh ke atas.. Dari arah berlawanan, Jin Penjaga nya Reinata melompat seraya merubah Senjata Tongkat Putihnya menjadi sebuah Pedang berkilauan.. Lalu dengan gerakan sangat cepat, Kakek Tua bergamis putih itu menebas leher Kera Raksasa jelmaan Raksa Wanara yang seketika terlepas dari raganya..
Saat kepala Kera Raksasa masih terlempar terpisah dari tubuh, Genderuwo Hitam menggulung kedua tangannya di depan dada.. Lalu mengayunkan kedua tangan tersebut ke arah kepala musuh..
SEETTT...
Dua larik sinar berwarna hitam, melesat keluar dari pusat telapak tangan Genderuwo Hitam jelmaan Ki Brapa Sapta dan menghancurkan kepala Kera Raksasa itu menjadi serpihan abu berwarna sama.. Tak mau ketinggalan, sosok Kuntilanak Merah melompat ke arah tubuh tanpa kepala Kera Raksasa sambil mengayunkan kedua tangan berkuku panjang nan tajam.. Kemudian merobek tubuh tersebut hingga terpisah menjadi empat bagian..
Ketiga sosok gaib yang sudah berhasil mengalahkan Kera Raksasa jelmaan Raksa Wanara bersama Bajing Ireng dan Naga Caglak, nampak mengulum senyuman puas.. Nyi Roro Ranggas yang sudah berubah kembali ke sosok cantik bermuka masam, nampak menoleh ke arah Ki Braja Sapta.. Sosok laki-laki gagah yang tidak lagi menjelma menjadi Genderuwo hitam, membalas tatapan sahabatnya itu dengan senyuman kemenangan..
“Musuh pertama telah berhasil ditaklukkan.. Tapi, sepertinya berbeda dengan Ketiga sahabat dari Kerajaan Laut yang melawan isteri mu dan Bayu Barata, Suta Dewa” Ucap Ki Purwagalih yang sudah menatap ke arah berbeda..
Gw melemparkan pandangan ke arah Raden Jaka Wastra, Dewi Ayu Anjani dan Raden Dwipa yang nampak setengah hati melawan Nyi Mas Galuh Pandita serta Bayu Barata bersama ketiga anggota Kerajaan Gaib Raja Jin.. Bagaimana tidak, ketiga sosok itu dipesan Jagat Tirta untuk dapat melumpuhkan para sahabat gaib yang berada di bawah pengaruh Braja Krama, tanpa melukai.. Alhasil, mereka hanya bisa bertahan tanpa menyerang menggunakan kesaktian apapun guna melumpuhkan para sahabat yang dikendalikan sepenuhnya oleh Penguasa Gaib Tanah Pasundan.. Dilain pihak, semua sosok Sahabat Gaib yang menjadi lawan ketiga utusan Kerajaan Laut menyerang dengan bersungguh-sungguh..
Merasa semakin terdesak oleh serangan Nyi Mas Galuh Pandita dengan Selendang Birunya, Dewi Ayu Anjani terpaksa menyelipkan beberapa ilmu kesaktian dari ujung Trisula.. Sementara, Bayu Barata yang sudah menjelma menjadi Macan Kumbang Raksasa berkulit dan berbulu hitam legam, terus menyerang Raden Jaka Wastra.. Dilain arah, Raden Dwipa yang sempat terluka nampak kesulitan menahan serangan Patih Kerajaan Gaib Raja Jin dan Dua Singa kembar berbulu emas.. Sekilas, gw melihat pertarungan lima lawan tiga di puluhan tombak di depan sana, tidak seimbang..
Tak mau ketiga sahabat dari Kerajaan tiga laut yang berbeda terluka, Nyi Roro Ranggas bersama Ki Braja Sapta melesat ke arah Raden Dwipa dan menahan serangan Dua Singa Kembar Penjaga Gerbang Kerajaa Raja Jin.. Setelah mendapat bantuan dari dua Jin Penjaga Gerbang Gaib sebelah Barat dan Timur, Penguasa Pulau Tidung nampak lebih bersemangat melawan Patih Kerajaan Gaib Braja Krama..
Akan tetapi, tetap saja pertempuran itu nampak hambar dengan semua sahabat yang hanya terus menerus menahan serangan.. Tanpa bisa mengeluarkan Aji Kesaktian..
“Sepertinya, aku harus membantu mereka dengan menggunakan Benang Langit untuk mengikat kelima Sahabat Gaib” Ucap Ki Purwagalih yang membuat Ki Suta menoleh ke arahnya..
Tanpa menunggu reaksi dari Kakek Moyang gw, Ki Purwagalih melesat ke medan pertempuran dan melemparkan sesuatu berwarna putih ke arah Nyi Mas Galuh Pandita.. Akan tetapi, isterinya Ki Suta itu menyadari kedatangan serangan yang membokong dari belakang.. Dengan gerakan cepat, ia mengibaskan Selendang Biru yang seketika menghalau jeratan Benang Langit.. Lalu melemparkan ujung selendang ke arah Ki Purwagalih..
Melihat Kakek Tua bergamis putih itu sedikit terkejut dan terponggok, Jin Penjaganya Reinata segera melesat ke arah serangan Ujung selendang biru.. Secepat kilat, Jin Penjaganya Reinata mengayunkan tongkat putih untuk membelit ujung selendang dan membetot Selendang Biru sekuat tenaga.. Sontak tubuh Nyi Mas Galuh Pandita tertarik maju ke arah Jin Penjaganya Reinata.. Kemudian dengan gerakan sangat cepat, telapak tangan kanan Kakek itu terbuka dan memukul bagian atas dada isternya Ki Suta..
Sontak, tubuh Nyi Mas Galuh Pandita terhempas kebelakang.. Tak mau menyiakan kesempatan emas, Ki Purwagalih ikut menyusul melompat sambil mencoba melemparkan Benang Langit kembali..
DREETTT...
Seketika, Benang Langit yang sangat tipis berwarna putih membelit tubuh Nyi Mas Galuh Pandita.. Sosok isterinya Ki Suta yang masih melayang nampak mencoba membebaskan diri dari jeratan Benang Langit dengan meronta.. Akan tetapi, Dewi Ayu Anjani segera menangkap tubuh Ibundanya Jagat Tirta dan Bayu Ambar itu sebelum jatuh terbanting menghantam tanah berbatu.. Lalu menghentikan gerakan Nyi Mas Galuh Pandita dengan menotok tubuhnya di beberapa titik..
Melihat rekannya telah terjerat oleh lawan, Bayu Barata dan ketiga anggota Kerajaan Gaib Raja Jin sedikit lengah karena sempat menoleh.. Dengan cepat, Raden Jaka Wastra dan Raden Dwipa serta Nyi Roro Ranggas bersama Ki Braja Sapta, melakukan hal sama untuk melumpuhkan para sahabat dengan cara menotok jalan darah masing-masing.. Sontak, tubuh keempat sahabat yang masih berada dalam pengaruh Braja Krama itu menegang dan jatuh tersungkur dengan keadaan raga kaku.. Ki Purwagalih juga melompat ke arah Bayu Barata dan ketiga anggota Kerajaan Gaib Raja Jin.. Lalu membelitkan tubuh mereka menggunakan Benang Langit..
Gw sempat menyunggingkan senyuman lega melihat kelima sahabat yang masih dipengaruhi Braja Krama, telah berhasil dilumpuhkan tanpa mengalami luka serius.. Rasa lega pun kembali terbersit saat mengetahui ketiga saudara juga mampu menaklukkan Pandu Rukmo.. Meski Jin Penjaganya Arya itu sempat dibuat muntah darah hitam oleh Bimo.. Sosok Pandu Rukmo yang kesaktiannya terserap habis oleh belitan Cambuk Langit Selatan milik Ridho, nampak lemah dengan posisi duduk bersila di dekat Arya.. Begitu pula dengan Nyi Durga Daksa dan Sekar Kencana.. Kedua sosok Jin cantik tersebut membuat Nyi Mas Laras Rangkuti bertekuk lutut dan membelit tubuhnya menggunakan Selendang Emas kepunyaan Sekar..
Akan tetapi, rasa lega yang terbit di hati gw mendadak berganti cemas saat melihat pertempuran antara Jagat Tirta dan Bayu Ambar masih terlihat alot.. Kedua saudara kandung seayah seibu itu nampak saling serang dengan sengitnya.. Beberapa kali Jagat Tirta berhasil mendaratkan pukulan bertenaga dalam tinggi ke tubuh kembarannya.. Namun, segera dibalas oleh Bayu Ambar.. Hingga disatu waktu, keduanya terlihat mengeluarkan Aji Kesaktian..
Jagat Tirta nampak mengeluarkan sebuah Pedang dari bahu kanannya.. Kedua mata gw terbelalak, melihat bentuk senjata yang terhunus dalam genggaman Jagat Tirta sama persis dengan Pedang Jagat Samudera.. Tidak, bukan sama persis.. Melainkan memang itu lah Pedang Jagat Samudera yang sempat hilang di depan sosok tawanan terakhir Braja Krama.. Gw bahkan sampai meraba bahu yang terasa menghangat dengan sendirinya.. Bersamaan dengan pandangan Jagat Tirta yang menoleh ke arah gw..
Ternyata, Jagat Tirta lah yang telah mengambil Pedang sakti yang selama ini selalu menyertai gw dalam setiap pertempuran.. Entah mengapa, gw merasakan suatu perasaan aneh yang tidak enak dalam hati, melihat Pedang Jagat Samudera bukan terhunus tergenggam dalam telapak tangan gw sendiri.. Terutama saat melihat Pedang tersebut nampak semakin terang pendaran sinar biru dan putihnya dalam genggaman tangan Jagat Tirta.. Si pemilik Pedang Jagat Samudera yang sebenarnya..
Tak mau larut dalam perasaan tidak enak, gw melempar pandangan ke Bayu Ambar.. Sosok kembaran Jagat Tirta yang lebih memilih untuk bergabung dengan Braja Krama Kakeknya sendiri itu, nampak tidak memiliki senjata apapun.. Namun, ia malah membuka jubah hitamnya.. Kemudian digulung sedemikian rupa hingga bentuk jubah itu memanjang seperti cambuk..
Sambil menatap nanar ke arah Jagat Tirta, Bayu Ambar secara perlahan merentangkan jubah hitamnya ke depan dada.. Lalu, mengurut benda itu seraya menggerakkan mulut membaca mantera.. Kedua mata gw membesar begitu melihat asap hitam nan tipis mengepul dari balik genggaman tangan kanan Bayu Ambar, yang terus mengurut jubah hitam dan merubah benda tersebut menjadi sebuah cambuk berwarna sama dengan ujung memendarkan sinar merah menyala..
“Astaghfirullah, itu Cemeti Dasar Bumi” Ucap Ki Suta, yang membuat gw menoleh dan menatap heran wajah pucatnya..
dodolgarut134 dan 13 lainnya memberi reputasi
14