- Beranda
- Stories from the Heart
Perburuan Kepala Hantu Kuyang di Kalimantan (Real Story)
...
TS
patra.wasaka
Perburuan Kepala Hantu Kuyang di Kalimantan (Real Story)
Perburuan Kepala Hantu Kuyang di Kalimantan
(Horror & Romance)


Di dunia ini ada sebuah fenomena yang sampai detik ini belum terpecahkan rahasianya oleh siapapun. Bahkan para ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu dan lintas generasi pun belum bisa menemukan jawaban dibalik fenomena ini, mendekatipun tidak. Fenomena yang dimaksud adalah keberadaan makhluk lain selain manusia yaitu 'Makhluk Halus" atau dikenal dengan sebutan hantu. Banyak orang memperdebatkan darimana asal mulanya dan terbentuk dari zat apa makhluk tersebut. Berbagai spekulasi beredar di muka bumi ini tentang keberadaan hantu sehingga menimbulkan pro dan kontra diantara berbagai kalangan. Ada yang berpendapat, hantu adalah arwah gentayangan dari seseorang yang sudah meninggal. Pendapat lain mengatakan, penampakan hantu hanyalah ilusi yang dialami seseorang dalam keadaan pikirannya sedang kosong.
Literatur dalam kitab suci suatu agama menyebutkan tentang kepercayaan pada hal-hal ghaib tapi dalam arti luas. Dalam kitab tersebut menjelaskan tentang keberadaan golongan makhluk ghaib seperti malaikat dan jin selebihnya tidak ada. Jadi? Apakah hantu tidak di akui sebagai golongan makhluk ghaib dalam kitab agama tersebut? Tidak juga... Beberapa ahli tafsir mengatakan wujud dari hantu itu sendiri adalah jelmaan dari jin yang senang mengganggu manusia saat batinnya sedang lemah. Hantu adalah manifestasi dari pikiran manusia itu sendiri. Apa yang ada di pikiran manusia maka itulah yang tampak di hadapannya. Beberapa kesaksian yang pernah menyaksikan sebuah penampakan ada yang terlihat logis adapula hanya sekedar mengada-ada. Rasa takut dalam diri manusia semakin membuat fenomena ini berkembang tiada habisnya sampai akhir zaman.
Di Kalimantan ada sebuah cerita rakyat yang sudah turun menurun tentang keberadaan sesosok makhluk yang biasa kami sebut "KUYANG". Konon sosok tersebut adalah kepala dari orang yang sudah meninggal lalu dihidupkan kembali untuk digunakan sebagai media aliran ilmu sesat atau pesugihan. Ada pula Hantu Kuyang jenis lain yang bertujuan menimba ilmu hitam agar dapat hidup abadi dan awet muda. Namun dari beberapa jenis Kuyang yang ada, tetap saja mereka memiliki kesamaan yaitu senang menghisap darah manusia.
Merunut dari asal muasal serta sejarah kemunculan Kuyang bersumber dari minyak "KAWIYANG". Minyak tersebut apabila dioleskan pada leher maka dapat memisahkan bagian kepala dari tubuh manusia. Kepala itu akan melayang-layang di udara untuk mencari perempuan yang akan melahirkan lalu menghisap darah berikut jabang bayinya. Selain itu Kuyang juga senang memakan ari-ari bayi yang baru dilahirkan. Kuyang memiliki beberapa kelebihan saat akan menjalankan aksi biadabnya. Mereka dapat meniru suara binatang untuk mengelabui para manusia. Bahkan sebagian dari mereka dapat berubah menjadi manusia dan membaur dengan masyarakat. Biasanya mereka akan menyamar sebagai dokter, bidan atau dukun beranak dengan alibi ingin membantu proses kelahiran.
Hantu Kuyang sering terlihat di perkampungan yang tidak terlalu padat penduduk. Mereka cenderung menghindari daerah kota yang ramai penduduk. Namun sesekali ada saja kejadian di tengah kota sekalipun kedatangan sosok Kuyang. Masyarakat sangat terganggu oleh kehadiran hantu Kuyang terlebih para korban yang diincar adalah wanita yang sedang melahirkan. Akhirnya masyarakat mulai gerah dan beberapa dari mereka memutuskan untuk memburu para Hantu tersebut. Aku adalah salah satu diantara sekian banyak orang yang ingin mengakhiri semua aksi teror ini.
I N D E X
Spoiler for index:
Diubah oleh patra.wasaka 10-04-2018 14:58
sampeuk dan 6 lainnya memberi reputasi
3
84.9K
183
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
patra.wasaka
#6
#PART 1. Perkenalan
Tahun 2004...
Aku duduk di sebuah bangku yang terbuat dari sebatang kayu yang memanjang. Di hadapanku terbentang sungai yang sangat luas dan konon katanya terpanjang di Kalimantan. Dari lebarnya menurutku kapal pesiar besar sangat mungkin melewati sungai ini, hanya saja sungai ini terlalu dangkal. Hari mulai senja dan sudah cukup lama aku duduk sendirian diantara pepohonan. Segerombolan kecil burung-burung terbang diatas sungai yang memerah karena pantulan cahaya senja, mungkin mereka sedang menuju ke tempat tinggalnya, entahlah...
Dengan perlahan aku merogoh saku celana dan mengeluarkan kotak kecil dari dalamnya. Cukup lama kupandangi kotak yang berisi batang korek api tersebut sebelum menggunakannya. Aku menggesekkan batang korek tersebut pada sisi kotak yang bertekstur kasar dan seketika api menyala. Namun aku tidak langsung membakar rokok yang sedari tadi bertengger di mulutku. Aku hanya memperhatikan api tersebut sampai akhirnya beberapa detik kemudian padam serta meninggalkan jejak menghitam pada batang koreknya. Dan itu membuatku tersadar bahwa setiap kejahatan juga akan selalu meninggalkan jejak layaknya api.
Tiba-tiba handphone ku bergetar, ada sms masuk rupanya. "Kak, aku baru sampe rumah, tadi dari tempat sodara." Sms dari Novia. Aku membaca sms darinya tapi tak ada niatku tuk membalasnya. Aku memasukkan kembali handphone ke dalam saku celana jeans hitam yang ku kenakan.
Novia adalah adik kelas yang juga merangkap sebagai kekasihku. Kami sudah berpacaran selama satu tahun di sekolah. Ia juga merupakan cinta pertama dalam drama cinta monyet di masa remajaku ini.
Hari mulai gelap dan aku beranjak dari tempat ku duduk. Aku harus segera mengembalikan motor pamanku karena dia akan bekerja shift malam. Saat aku melewati area pemakaman umum, ada sebuah makam yang masih terlihat baru. Bunga segar bertaburan diatas gundukan tanah yang masih terlihat basah. Aku sengaja tidak memperhatikan nama yang tertulis di batu nisan meskipun jarak makam tersebut hanya beberapa meter dariku. Aku memilih untuk mempercepat laju sepeda motor yang ku kendarai. Sempat ku mendengar kabar bahwa beberapa hari yang lalu terjadi kasus pembunuhan di sekitar daerah ini. Aku pun berasumsi bahwa makam tadi adalah makam dari korban pembunuhan tersebut. Bulu kudukku tiba-tiba berdiri dan tubuhku mulai merinding, "Kenapa ngga lewat jalan tadi aja, ya?" Gumamku.
Paman Hadri terlihat duduk di teras rumah lengkap memakai seragam kerjanya. Tubuhnya yang tinggi gempal serta berkulit gelap terlihat seperti preman, tapi sifatnya sama sekali bertolak belakang dengan penampilannya. Paman Hadri adalah orang yang taat beribadah dan dikenal sebagai tokoh masyarakat dikampung kami.
"Mau berangkat sekarang kah, mang?" Tanyaku sambil memasukkan sepeda motor ke halaman rumahnya.
"Beluman lagi, kopi aja belum di buatkan acil (tante) kamu, nih..." jawabnya sambil mengibas-ngibaskan kaus kaki ke udara.
Aku duduk sambil meletakkan kunci motor disebelah Paman Hadri, "Siapa yang mati dibunuh kemaren, mang?" Tanyaku penasaran. Sebagai seseorang yang dikenal masyarakat pastilah ia sedikit banyaknya tahu segala informasi apabila ada kejadian kriminal di sekitar daerah tempat kami tinggal.
"Oh, biasa, bubuhan pemabukan (gerombolan pemabuk)," ujarnya santai seakan itu adalah hal yang biasa. "Murah banget nyawa di jaman sekarang, gara-gara selisih paham sedikit aja main bunuh-bunuhan." Ujarku dengan nada miris.
"Sudah itu jalan yang dipilihnya mau kaya gimana lagi. Ada kesempatan untuk melakukan hal-hal yang berguna tapi mereka lebih memilih melakukan hal yang mudarat." Ujar Paman Hadri cuek tapi kata-kata yang keluar dari mulutnya selalu mengajarkan aku banyak hal.
Hampir setengah jam kami berdua bercengkerama dan tiba saatnya Paman Hadri untuk berangkat kerja. Aku pun pamit untuk pulang. Rumahku tidak terlalu jauh dari kediaman Paman Hadri, kurang lebih hanya berjarak 100 meter. Ayahku adalah kakak dari Paman Hadri, semenjak kecil mereka berdua sudah tinggal di kampung ini. Keduanya sangat akur, apabila mereka bertemu lebih terlihat seperti sepasang sahabat ketimbang kakak beradik.
"Abah sudah pulang kah?" Tanyaku sembari membantu Ibu membereskan meja makan. "Belum, masih di kantor, ada rapat, jar... Makan dulu sana," Ujarnya. "Nanti aja, Ma.. Ulun (aku) belum lapar." Ujarku sambil berlalu ke dalam kamar setelah selesai membantu ibu.
Aku terlahir dalam sebuah keluarga yang sederhana. Ayah dan Ibuku merupakan Pegawai Negeri Sipil di kota Banjarmasin. Berkat kerja keras mereka berdualah yang berhasil mengantarkan aku dan adik-adikku mengenyam pendidikan di bangku sekolah. Adikku yang bungsu masih berusia 10 tahun bernama Fauziah. Dhani adalah adik laki-lakiku atau anak kedua dari 3 bersaudara di keluarga ini. Usianya hanya terpaut 2 tahun dibawahku. Kami bersekolah di satu sekolah yang sama. Untuk menghemat ongkos, Ayah membekali kami satu buah sepeda motor bebek untuk dipakai berdua.
Aku membuka lemari belajar dan mengeluarkan beberapa buku pelajaran. Ujian tinggal beberapa bulan lagi, banyak waktu kuhabiskan untuk belajar di malam hari. Aku tidak ingin mengecewakan kedua orang tua yang telah banyak berkorban demi masa depanku. Aku hanya ingin membuktikan bahwa pengorbanan mereka tidak sia-sia telah membesarkan anak-anak mereka.
Baru saja aku membuka beberapa lembar halaman di buku, tiba-tiba terdengar suara mobil berhenti didepan rumah. Rasanya sudah tidak asing mendengar suara berisik mesin mobil SUV bertipe diesel tersebut. Itu pertanda bahwa Ayah baru pulang bekerja. Aku bergegas keluar dari kamar menuju ke halaman rumah dan kulihat mobil lawas berwarna hitam itu terparkir didepan rumah.
"Nak, tolong masukan mobilnya ke dalam, lah.." Pinta Ayah di sela obrolan dengan Ibu didepan pagar. Tapi tidak jelas siapa yang diperintahkannya. Dhani yang terlihat baru saja memarkirkan motor di teras pun berlari dan aku mengejarnya.
Kami berdua berusaha meraih pintu mobil untuk membukanya. "Aku yang disuruh abah!" Teriaknya sambil tertawa berusaha melepaskan tanganku dari tubuhnya. Aku terus menggelitiki pinggangnya sampai ia menggeliat seperti cacing kepanasan.
"Kamu masih kecil, kaki aja belum sampe ke pedal." Aku terus menarik tubuhnya yang hampir berhasil masuk ke dalam mobil. Kami berdua memang sering bercanda apalagi untuk urusan memarkirkan mobil Ayah.
"Sudah, jangan berebut.." Ujar Ayah memperingatkan kami berdua. Aku pun mengalah dan membiarkan Dhani masuk ke dalam mobil lalu ia langsung menutup pintunya.
Senyumnya terlihat mengejek, aku menghampiri pintu mobil dan berusaha menjitak kepalanya. "Ngga kena, weee..." ledeknya.
Keesokan harinya...
Aku duduk diatas motor sambil menunggu Dhani yang sedang duduk mengenakan sepatunya di teras. Dhani berjalan kearah ku, saat ia akan duduk di jok belakang, aku menarik gas dan meninggalkannya. Dhani berlari mengejar, aku pun berhenti beberapa meter didepan sambil tertawa. Ibu hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuanku.
"Kirain udah naik tadi," Ujarku berpura-pura saat Dhani duduk di jok dengan nafas tersengal-sengal.
Kami tiba didepan gerbang sekolah. Aku menyerahkan motor pada Dhani untuk memarkirkannya. Sambil berjalan di koridor sekolah, mataku terus memandang ke segala arah untuk mencari keberadaan seseorang. Ruang kelasku hanya tinggal beberapa langkah lagi dan orang yang kucari berdiri tepat didepan pintu kelas. Ia mendekat lalu mencium tanganku. "Kak, kenapa tadi malem ngga ada kabar?" Tanya Novia. "Kaka sibuk belajar, ding." Jawabku tersenyum.
"Oh gitu, udah sarapan, kak?" Tanya Novia. "Udah, kok," Jawabku santai. Novia masih berdiri di hadapanku dengan raut wajah yang gelisah. "Ada apa? Kaya ada yang dipikirin gitu?" Tanyaku penasaran.
"Nanti jam istirahat aku mau ngobrol sama kakak," Ujar Novia sambil mengusap jemarinya yang lentik. "Ya udah, sekarang kamu ke kelas sana, udah mau bel." Aku memintanya dengan lembut. Novia pun pergi meninggalkanku, sesekali ia menoleh ke belakang sambil menatapku. Meskipun berpakaian tertutup namun lekuk tubuhnya terlihat jelas dibalik seragam sekolah yang ia kenakan. Terkadang ada rasa ingin ku memeluk tubuhnya dari belakang, namun sayang situasi dan kondisi kurang memungkinkan.
Selama mengikuti pelajaran, pikiranku sesekali menerawang. Ucapan Novia tadi membuatku bertanya-tanya, apakah ada masalah serius tentang hubungan kami berdua atau sesuatu yang lain? batinku bertanya. Materi pelajaran selesai diberikan, bel istirahat berbunyi dan seisi ruang kelas berhamburan keluar. Aku meregangkan kedua tanganku sebelum beranjak dari kursi.
Saat memasuki kantin, terlihat kedua sahabatku duduk di meja tempat biasa kami berkumpul. Aku berjalan menghampiri mereka ke arah pojok kantin. Joko dan Agau adalah sahabatku semenjak duduk di kelas 1 SMA. Joko, dari namanya saja sudah dapat ditebak ia berasal darimana. Orang tuanya ikut program transmigrasi ke Kalimantan dari Jawa timur berpuluh-puluh tahun silam. Meskipun begitu, Joko sudah fasih bicara logat Banjar karena memang dia lahir di Banjarmasin dan menghabiskan seluruh masa kecilnya di kota ini. Joko bertubuh gempal dengan rambut cepak dan berkulit coklat. Matanya bulat seperti orang melotot. Sedangkan Agau berasal dari Kalimantan Tengah. Anak-anak di sekolah lebih tertarik memanggilnya dengan sebutan Jagau yang artinya pemberani dalam bahasa Banjar. Aku setuju sekaligus juga tidak dengan panggilan nama itu karena untuk urusan berkelahi, Agau tidak pernah mengenal kata takut, tapi untuk urusan perempuan sepertinya nama itu tidak cocok disematkan padanya. Darah Dayak mengalir di tubuhnya. Agau bertubuh tinggi dan berisi. Rambutnya hitam lebat dan bentuk wajahnya tirus berkulit sawo matang. Diantara kami bertiga, Agau adalah anak yang paling pemalu dan rendah diri apalagi untuk urusan perempuan tadi. Joko adalah kebalikan dari Agau, untuk urusan perempuan boleh dibilang Joko memiliki predikat cumlaude.
Baru saja aku duduk bersama Joko dan Agau, tiba-tiba dari kejauhan Novia terlihat bersama teman-temannya berjalan memasuki kantin. Aku langsung teringat obrolan tadi pagi dan dengan segera aku langsung menghampiri Novia. Belum sempat aku menyapanya, "Eh, kak, udah disini, tah..?" Novia menyapa terlebih dahulu. "Iya, katanya ada yang mau diobrolin?" Tanyaku untuk memastikan. "Kak, tunggu disitu, aku mau jajan dulu," Novia menunjuk sebuah meja kosong.
Setelah beberapa saat, Novia pun duduk didepanku sambil meletakkan beberapa cemilan di atas meja. Aku terus menatap sepasang bola matanya yang indah. Ia pun menatapku dengan tatapan yang telah lama ku kenal. Senyum tipisnya menyiratkan sesuatu. Meskipun aku tidak sabar, namun aku mencoba untuk tidak membuka suara terlebih dahulu.
Bersambung...
Tahun 2004...
Aku duduk di sebuah bangku yang terbuat dari sebatang kayu yang memanjang. Di hadapanku terbentang sungai yang sangat luas dan konon katanya terpanjang di Kalimantan. Dari lebarnya menurutku kapal pesiar besar sangat mungkin melewati sungai ini, hanya saja sungai ini terlalu dangkal. Hari mulai senja dan sudah cukup lama aku duduk sendirian diantara pepohonan. Segerombolan kecil burung-burung terbang diatas sungai yang memerah karena pantulan cahaya senja, mungkin mereka sedang menuju ke tempat tinggalnya, entahlah...
Dengan perlahan aku merogoh saku celana dan mengeluarkan kotak kecil dari dalamnya. Cukup lama kupandangi kotak yang berisi batang korek api tersebut sebelum menggunakannya. Aku menggesekkan batang korek tersebut pada sisi kotak yang bertekstur kasar dan seketika api menyala. Namun aku tidak langsung membakar rokok yang sedari tadi bertengger di mulutku. Aku hanya memperhatikan api tersebut sampai akhirnya beberapa detik kemudian padam serta meninggalkan jejak menghitam pada batang koreknya. Dan itu membuatku tersadar bahwa setiap kejahatan juga akan selalu meninggalkan jejak layaknya api.
Tiba-tiba handphone ku bergetar, ada sms masuk rupanya. "Kak, aku baru sampe rumah, tadi dari tempat sodara." Sms dari Novia. Aku membaca sms darinya tapi tak ada niatku tuk membalasnya. Aku memasukkan kembali handphone ke dalam saku celana jeans hitam yang ku kenakan.
Novia adalah adik kelas yang juga merangkap sebagai kekasihku. Kami sudah berpacaran selama satu tahun di sekolah. Ia juga merupakan cinta pertama dalam drama cinta monyet di masa remajaku ini.
Hari mulai gelap dan aku beranjak dari tempat ku duduk. Aku harus segera mengembalikan motor pamanku karena dia akan bekerja shift malam. Saat aku melewati area pemakaman umum, ada sebuah makam yang masih terlihat baru. Bunga segar bertaburan diatas gundukan tanah yang masih terlihat basah. Aku sengaja tidak memperhatikan nama yang tertulis di batu nisan meskipun jarak makam tersebut hanya beberapa meter dariku. Aku memilih untuk mempercepat laju sepeda motor yang ku kendarai. Sempat ku mendengar kabar bahwa beberapa hari yang lalu terjadi kasus pembunuhan di sekitar daerah ini. Aku pun berasumsi bahwa makam tadi adalah makam dari korban pembunuhan tersebut. Bulu kudukku tiba-tiba berdiri dan tubuhku mulai merinding, "Kenapa ngga lewat jalan tadi aja, ya?" Gumamku.
Paman Hadri terlihat duduk di teras rumah lengkap memakai seragam kerjanya. Tubuhnya yang tinggi gempal serta berkulit gelap terlihat seperti preman, tapi sifatnya sama sekali bertolak belakang dengan penampilannya. Paman Hadri adalah orang yang taat beribadah dan dikenal sebagai tokoh masyarakat dikampung kami.
"Mau berangkat sekarang kah, mang?" Tanyaku sambil memasukkan sepeda motor ke halaman rumahnya.
"Beluman lagi, kopi aja belum di buatkan acil (tante) kamu, nih..." jawabnya sambil mengibas-ngibaskan kaus kaki ke udara.
Aku duduk sambil meletakkan kunci motor disebelah Paman Hadri, "Siapa yang mati dibunuh kemaren, mang?" Tanyaku penasaran. Sebagai seseorang yang dikenal masyarakat pastilah ia sedikit banyaknya tahu segala informasi apabila ada kejadian kriminal di sekitar daerah tempat kami tinggal.
"Oh, biasa, bubuhan pemabukan (gerombolan pemabuk)," ujarnya santai seakan itu adalah hal yang biasa. "Murah banget nyawa di jaman sekarang, gara-gara selisih paham sedikit aja main bunuh-bunuhan." Ujarku dengan nada miris.
"Sudah itu jalan yang dipilihnya mau kaya gimana lagi. Ada kesempatan untuk melakukan hal-hal yang berguna tapi mereka lebih memilih melakukan hal yang mudarat." Ujar Paman Hadri cuek tapi kata-kata yang keluar dari mulutnya selalu mengajarkan aku banyak hal.
Hampir setengah jam kami berdua bercengkerama dan tiba saatnya Paman Hadri untuk berangkat kerja. Aku pun pamit untuk pulang. Rumahku tidak terlalu jauh dari kediaman Paman Hadri, kurang lebih hanya berjarak 100 meter. Ayahku adalah kakak dari Paman Hadri, semenjak kecil mereka berdua sudah tinggal di kampung ini. Keduanya sangat akur, apabila mereka bertemu lebih terlihat seperti sepasang sahabat ketimbang kakak beradik.
"Abah sudah pulang kah?" Tanyaku sembari membantu Ibu membereskan meja makan. "Belum, masih di kantor, ada rapat, jar... Makan dulu sana," Ujarnya. "Nanti aja, Ma.. Ulun (aku) belum lapar." Ujarku sambil berlalu ke dalam kamar setelah selesai membantu ibu.
Aku terlahir dalam sebuah keluarga yang sederhana. Ayah dan Ibuku merupakan Pegawai Negeri Sipil di kota Banjarmasin. Berkat kerja keras mereka berdualah yang berhasil mengantarkan aku dan adik-adikku mengenyam pendidikan di bangku sekolah. Adikku yang bungsu masih berusia 10 tahun bernama Fauziah. Dhani adalah adik laki-lakiku atau anak kedua dari 3 bersaudara di keluarga ini. Usianya hanya terpaut 2 tahun dibawahku. Kami bersekolah di satu sekolah yang sama. Untuk menghemat ongkos, Ayah membekali kami satu buah sepeda motor bebek untuk dipakai berdua.
Aku membuka lemari belajar dan mengeluarkan beberapa buku pelajaran. Ujian tinggal beberapa bulan lagi, banyak waktu kuhabiskan untuk belajar di malam hari. Aku tidak ingin mengecewakan kedua orang tua yang telah banyak berkorban demi masa depanku. Aku hanya ingin membuktikan bahwa pengorbanan mereka tidak sia-sia telah membesarkan anak-anak mereka.
Baru saja aku membuka beberapa lembar halaman di buku, tiba-tiba terdengar suara mobil berhenti didepan rumah. Rasanya sudah tidak asing mendengar suara berisik mesin mobil SUV bertipe diesel tersebut. Itu pertanda bahwa Ayah baru pulang bekerja. Aku bergegas keluar dari kamar menuju ke halaman rumah dan kulihat mobil lawas berwarna hitam itu terparkir didepan rumah.
"Nak, tolong masukan mobilnya ke dalam, lah.." Pinta Ayah di sela obrolan dengan Ibu didepan pagar. Tapi tidak jelas siapa yang diperintahkannya. Dhani yang terlihat baru saja memarkirkan motor di teras pun berlari dan aku mengejarnya.
Kami berdua berusaha meraih pintu mobil untuk membukanya. "Aku yang disuruh abah!" Teriaknya sambil tertawa berusaha melepaskan tanganku dari tubuhnya. Aku terus menggelitiki pinggangnya sampai ia menggeliat seperti cacing kepanasan.
"Kamu masih kecil, kaki aja belum sampe ke pedal." Aku terus menarik tubuhnya yang hampir berhasil masuk ke dalam mobil. Kami berdua memang sering bercanda apalagi untuk urusan memarkirkan mobil Ayah.
"Sudah, jangan berebut.." Ujar Ayah memperingatkan kami berdua. Aku pun mengalah dan membiarkan Dhani masuk ke dalam mobil lalu ia langsung menutup pintunya.
Senyumnya terlihat mengejek, aku menghampiri pintu mobil dan berusaha menjitak kepalanya. "Ngga kena, weee..." ledeknya.
Keesokan harinya...
Aku duduk diatas motor sambil menunggu Dhani yang sedang duduk mengenakan sepatunya di teras. Dhani berjalan kearah ku, saat ia akan duduk di jok belakang, aku menarik gas dan meninggalkannya. Dhani berlari mengejar, aku pun berhenti beberapa meter didepan sambil tertawa. Ibu hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuanku.
"Kirain udah naik tadi," Ujarku berpura-pura saat Dhani duduk di jok dengan nafas tersengal-sengal.
Kami tiba didepan gerbang sekolah. Aku menyerahkan motor pada Dhani untuk memarkirkannya. Sambil berjalan di koridor sekolah, mataku terus memandang ke segala arah untuk mencari keberadaan seseorang. Ruang kelasku hanya tinggal beberapa langkah lagi dan orang yang kucari berdiri tepat didepan pintu kelas. Ia mendekat lalu mencium tanganku. "Kak, kenapa tadi malem ngga ada kabar?" Tanya Novia. "Kaka sibuk belajar, ding." Jawabku tersenyum.
"Oh gitu, udah sarapan, kak?" Tanya Novia. "Udah, kok," Jawabku santai. Novia masih berdiri di hadapanku dengan raut wajah yang gelisah. "Ada apa? Kaya ada yang dipikirin gitu?" Tanyaku penasaran.
"Nanti jam istirahat aku mau ngobrol sama kakak," Ujar Novia sambil mengusap jemarinya yang lentik. "Ya udah, sekarang kamu ke kelas sana, udah mau bel." Aku memintanya dengan lembut. Novia pun pergi meninggalkanku, sesekali ia menoleh ke belakang sambil menatapku. Meskipun berpakaian tertutup namun lekuk tubuhnya terlihat jelas dibalik seragam sekolah yang ia kenakan. Terkadang ada rasa ingin ku memeluk tubuhnya dari belakang, namun sayang situasi dan kondisi kurang memungkinkan.
Selama mengikuti pelajaran, pikiranku sesekali menerawang. Ucapan Novia tadi membuatku bertanya-tanya, apakah ada masalah serius tentang hubungan kami berdua atau sesuatu yang lain? batinku bertanya. Materi pelajaran selesai diberikan, bel istirahat berbunyi dan seisi ruang kelas berhamburan keluar. Aku meregangkan kedua tanganku sebelum beranjak dari kursi.
Saat memasuki kantin, terlihat kedua sahabatku duduk di meja tempat biasa kami berkumpul. Aku berjalan menghampiri mereka ke arah pojok kantin. Joko dan Agau adalah sahabatku semenjak duduk di kelas 1 SMA. Joko, dari namanya saja sudah dapat ditebak ia berasal darimana. Orang tuanya ikut program transmigrasi ke Kalimantan dari Jawa timur berpuluh-puluh tahun silam. Meskipun begitu, Joko sudah fasih bicara logat Banjar karena memang dia lahir di Banjarmasin dan menghabiskan seluruh masa kecilnya di kota ini. Joko bertubuh gempal dengan rambut cepak dan berkulit coklat. Matanya bulat seperti orang melotot. Sedangkan Agau berasal dari Kalimantan Tengah. Anak-anak di sekolah lebih tertarik memanggilnya dengan sebutan Jagau yang artinya pemberani dalam bahasa Banjar. Aku setuju sekaligus juga tidak dengan panggilan nama itu karena untuk urusan berkelahi, Agau tidak pernah mengenal kata takut, tapi untuk urusan perempuan sepertinya nama itu tidak cocok disematkan padanya. Darah Dayak mengalir di tubuhnya. Agau bertubuh tinggi dan berisi. Rambutnya hitam lebat dan bentuk wajahnya tirus berkulit sawo matang. Diantara kami bertiga, Agau adalah anak yang paling pemalu dan rendah diri apalagi untuk urusan perempuan tadi. Joko adalah kebalikan dari Agau, untuk urusan perempuan boleh dibilang Joko memiliki predikat cumlaude.
Baru saja aku duduk bersama Joko dan Agau, tiba-tiba dari kejauhan Novia terlihat bersama teman-temannya berjalan memasuki kantin. Aku langsung teringat obrolan tadi pagi dan dengan segera aku langsung menghampiri Novia. Belum sempat aku menyapanya, "Eh, kak, udah disini, tah..?" Novia menyapa terlebih dahulu. "Iya, katanya ada yang mau diobrolin?" Tanyaku untuk memastikan. "Kak, tunggu disitu, aku mau jajan dulu," Novia menunjuk sebuah meja kosong.
Setelah beberapa saat, Novia pun duduk didepanku sambil meletakkan beberapa cemilan di atas meja. Aku terus menatap sepasang bola matanya yang indah. Ia pun menatapku dengan tatapan yang telah lama ku kenal. Senyum tipisnya menyiratkan sesuatu. Meskipun aku tidak sabar, namun aku mencoba untuk tidak membuka suara terlebih dahulu.
Bersambung...
Diubah oleh patra.wasaka 08-04-2018 22:49
sampeuk dan 4 lainnya memberi reputasi
5