- Beranda
- Stories from the Heart
Dia Untukku
...
TS
nasihiber
Dia Untukku


Hidup itu keras. Hidup itu penuh dengan ketenangan. Hidup itu penuh dengan kegelisahan. Hidup itu penuh dengan tawa. Hidup itu penuh dengan air mata. Hidup adalah sebuah jalan yang kita tempuh. Dan kita harus siap menghadapi semua itu dengan lapang dada. Perjalanan hidup tidak hanya sekedar bangun tidur, melaksanakan kegiatan, dan tidur kembali. Setiap harinya, pasti ada sesuatu yang bisa kita ambil sebagai pelajaran. Terkadang kita dihadapkan dalam sebuah keadaan dimana kita harus memilih salah satu dari beberapa pilihan. Namun disitulah kita akan belajar menjadi dewasa.
Kita tak akan pernah benar-benar tahu apakah keputusan yang kita ambil berada pada posisi benar atau salah, sampai kita benar-benar telah memutuskan. Yang perlu kita yakini, saat kita memutuskan sesuatu, terlepas keputusan itu benar atau salah, berarti kita telah sukses melewati satu tahap kehidupan.
Aku bukanlah lelaki yang berasal dari keluarga berada. Aku juga tidak berasal dari keluarga yang mengenal agama. Bahkan ilmu agamakupun mungkin tergolong kategori rendah. Disini aku hanya ingin bercerita. Bukan berarti aku orang pintar, bukan. Melainkan aku orang yang penuh dengan kegelisahan. Aku bukanlah manusia yang hebat, yang dikagumi oleh banyak orang. Aku hanyalah seorang lelaki yang terlalu menikmati dosa-dosa. Aku hanya lelaki yang sedang berusaha untuk berubah ke arah yang lebih baik lagi. Jadikan kisah ini sebagai pengisi waktu kekosongan saja. Aku tidak memaksakan kalian untuk membaca kisah ini. Namun yang pasti, buang negatifnya, ambil positifnya.
Spoiler for F.A.Q:
Index
SEASON 1
BAB 1
BAB 2
BAB 3
BAB 4
BAB 5
BAB 6
BAB 7
BAB 8
BAB 9
BAB 10
BAB 11
BAB 12
BAB 13
BAB 14
BAB 15
BAB 16
BAB 17
BAB 18
BAB 19
BAB 20
BAB 21
BAB 22
BAB 23
BAB 24
BAB 25
BAB 26
BAB 27
BAB 28
BAB 29
BAB 30
BAB 31
BAB 32
BAB 33
BAB 34
BAB 35
BAB 36
BAB 37
BAB 38
BAB 39
BAB 40
BAB 41
BAB 42
BAB 43
BAB 44
BAB 45
BAB 46
BAB 47
SEASON 2
Part 2.1 - Kehidupan
Part 2.2 - Camping
(Behind the Scene)Isi Hatiku - Istrimu
Part 2.3 - Fernita Widyaningsih
Part 2.4 - Teman Lama
Part 2.5 - Fernita Dilamar?
Part 2.6 - Dapat Restu
Part 2.7 - Keputusan
Part 2.8 - Menjelang Pernikahan
Part 2.9 - Masa Lalu
Part 2.10 - Hati yang Hilang
Part 2.11 - Persiapan
Part 2.12 - Hijrah
Part 2.13 - Cahaya Cinta
Part 2.14 - Mblenjani Janji
Part 2.15 - Serendipity
Part 2.16 - Pertemuan
Part 2.17 - Kesempatan Kedua
Part 2.18 - Harapan dan Cinta
Part 2.19 - Cahaya Cinta 2
Part 2.20 - Liburan
Part 2.21 - Mekarnya sang Melati
Part 2.22 - Cinta dan Sahabat
Part 2.23 - Mella Agustina
Part 2.24 - Penenang Hati
Part 2.25 - Ikatan Suci
Ending 1 - Cinta Suci
Ending 2 - Dia Untukku
Dibalik Hati
NB: Terima kasih buat yang sudah memberi komentar.
Yang berkomentar, page terakhir dan 2-3 page kebelakang mungkin akan ada pemberitahuan update melalui "Quote"
Yang berkomentar, page terakhir dan 2-3 page kebelakang mungkin akan ada pemberitahuan update melalui "Quote"

Polling
0 suara
Siapakah yang menikah dengan Fatir?
Diubah oleh dipretelin 27-06-2018 10:21
junti27 dan 5 lainnya memberi reputasi
6
247.9K
1.4K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
nasihiber
#634
Part 2.2 - Camping
Pagi hari, aku berangkat bersama Dea menuju titik kumpul. Aku harap, dengan liburan kali ini bisa membuatku sedikit lebih fresh. Jam 8 pagi, kami berangkat menuju lokasi camping. Kami berdua berangkat menggunakan mobil dan tiba di tujuan pada jam 9 pagi di kaki gunung. Kami beristirahat sejenak untuk sarapan sebelum mendaki menuju camping spot. Untuk sarapan, sudah disediakan oleh panitia
“Lo kuat nanti?” tanyaku
“Kuat dong, lo kayanya bakal mundur tengah jalan” kata Dea
“Engga lah . . . “
“Ko lo bisa tau acara gini?” tanyaku
“Iya, dari temen, tapi dia yang ngasih tau, dia malah ga bisa ikut” katanya
“Oh hehe . . kenapa lo ngajak gue? Kan banyak yang lain?”
“Yaa pengen aja Fat, lo keberatan ya?” tanyanya
“Engga kok . . gue butuh sedikit refreshing”
“Heem . . . lo terlalu keras bekerja, sampai lo ga bisa membagi waktu untuk diri lo sendiri” katanya
“Mungkin saja . . . “
“Jangan terlalu keras, nanti lo malah stres”
“Iya Dea . . . “
Sekitar 1 jam kemudian, kami mulai mendaki. Selama mendaki, kami saling membantu satu sama lain. Dan sepertinya yang mengajakku kemari yang tidak kuat berjalan. Terkadang Dea terjatuh atau terpeleset, namun ia bisa bangkit kembali. Sampai pada akhirnya, kami memutuskan untuk beristirahat sejenak.
“Cape iih . . “ kata Dea
“Lo katanya kuat haha”
“Iissh . . . tungguin . . “
“Iya iya . . gue tungguin . . nih minum dulu” sambil memberikan botol minum padanya
Ia mengambil ikat rambut yang ada di tangannya dan mengikat rambutnya menjadi kuncir kuda. Dak aku begitu menyukai ketika ia melakukan itu. Sampai akhirnya, ia melihat kearahku dan memergokiku
“Hayo . . liat apaa? Aku cantik yah?”
“Pede amat . . . udah yu ah . . “ ngeles
“Ciiee . . . ada yang terpesona . . “
“Apaan sih . . . udah ayo, atau gue tinggal nih . . “
“Iissh . . jahat . . “
“Yaudah ayo”
Kemudian ia mengulurkan kedua tangannya . . .
“Apa?” tanyaku
“Bantuin berdiri iih . . . “
“Manja banget siih . . “ ucapku sambil membantunya
“Biarin . . . “ sambil memeletkan lidahnya
Kami kembali mendaki menuju spot camping. Ada beberapa orang yang ikut beristirahat ketika kami istirahat, jadi kami tak sendiri. Sekitar 30 menit melanjutkan perjalanan, kami berhasil sampai di pos pertama. Disana, kami disuguhkan pemandangan kota yang spektakuler. Tapi katanya ini belum seberapa, karena masih agak terhalangi oleh pepohonan. Spot yang sebenarnya berada di puncak gunung yang memang sering dipakai untuk camping.
“Fatir” panggil Nada
“Iya?”
“Lo bawa makanan?” tanyanya
“Bawa, bentar ya”
Aku mengambil snack ringan dan aku berikan padanya. Dengan sedikit gemas ia membuka kemasan makanan ringan itu dan mulai memakannya sedikit demi sedikit. Aku duduk disampingnya sambil meneguk air yang ada dalam botol minumku
“Lo mau?” tawarnya
“Mau” Sambil mengambil makanan itu, namun ia tepis
“Tangan lo kotor, jorok . . gue suapin aja” kata Dea
Aku menurutinya saja ketika ia menyuapiku. Angin bertiup membuat daun pepohonan saling bergesekkan menghipnotisku untuk berbaring sejenak sambil menatap langit. Waktu menunjukkan jam 11 siang, kami tiba di puncak/spot camping pada jam setengah 12 siang. Di atas, kami langsung disuguhi pemandangan kota yang tak terhalangi apapun. Kami benar-benar berada di puncak gunung ini. Kami langsung mendirikan tenda disini dan saling membantu satu sama lain. Aku berpasangan dengan Yuda yang merupakan salah satu peserta camping juga. Masa iya sama Dea, nanti aja di kosan hehe . . .
“Asal lo dari mana Fat?” tanya Yuda
“Dulu gue pindah-pindah, tapi gue lahir di tanah Jawa. Lo sendiri?”
“Gue asli orang sini hehe”
“Ooh hehe kuliah?” tanyaku
“Iya hehe, lo kuliah?”
“Engga, gue berhenti” jawabku sambil tetap tersenyum
“Lah kenapa?”
“Yaah keadaan hehe . . “
“Maksudnya?”
“Kedua orang tua gue udah meninggal karena sakit. Sekarang gue harus hidupin adik gue yang asalnya satu kampus dengan gue” jawabku
“Eh, sorry, gue ga bermaksud”
“Gapapa . . . “
“Ade lo kuliah?”
“Iya, kita cuma beda dua tahun“ Kataku
“Ooh gitu . . . nanti juga usaha lo bakal terbayarkan”
“Aamiin . . “
“Yang tadi itu cewek lo?” tanyanya
“Oh, bukan, dia temen gue. Gue sama dia tetanggaan”
“Asiik . . . gebetan haha”
“Ada-ada aja lo haha”
Acara demi acara terus berlanjut. Aku duduk di depan tendaku sambil melihat orang lain yang sedang sibuk dengan aktivitas mereka seperti foto-foto. Saat itu, Dea datang menghampiriku dan duduk disampingku
“Lo ga gabung?” tanyaku
“Engga ah, gue disini aja”
Aku membaringkan tubuhku dengan menggunakan lengan sebagai bantal. Aku kembali menatap langit yang sebagian tertutupi oleh awan yang bergerak secara perlahan. Aku membayangkan Nada. Tatapanku kosong. Aku merindukannya. Sangat merindukannya. Pikiranku kembali ke masa lalu, seperti sebuah film yang berjalan mundur dengan cepat. Teringat ketika awal aku bertemu Nada. Saat dirumah aku tak sadar mengutarakan perasaanku yang awalnya aku pikir itu hanya sebuah mimpi.
“Fatir”
“Iya” jawabku sambil terus menatap kosong ke langit
“Udaranya mulai sejuk” katanya
“Iya, udah mulai terasa dingin” ucapku
Tiba-tiba Dea membaringkan kepalanya dibadanku sambil mengikutiku menatap langit. Tak ada penolakan dariku.
“Entah kenapa begitu menyenangkan menatap langit seperti ini” ucapnya
“Iya”
“Fatir” panggilnya
“Ya?”
“ . . . “
“Dea?” panggilku
Namun tidak ada jawaban dari Dea. Aku merubah posisiku menjadi duduk, sementara Dea masih terbaring di pangkuanku. Matanya tertutup rapat. Tanpa aku sadari, aku menatapnya dan mengusap rambut panjangnya. Kenapa wajahnya terlihat sangat pucat sekali? Aku menyentuh pipinya, dan terasa sangat dingin. Aku mencoba memanggilnya, membangunkannya, tapi ia tak menjawab. Ia tak juga bangun. Aku menepuk perlahan pipinya namun ia tak juga membuka matanya.
“Dea, bangun . . lo kenapa Dea”
“Dea bangun . . . “
“Dea ! ! !”
Aku baru saja selesai merapikan isi tasku. Acara demi acarapun sudah selesai dilaksanakan. Kini kami sedang ada acara bebas. Banyak yang mengabadikan momen ini dengan berfoto ria. Tapi aku biasa saja. Aku mencoba untuk mendatangi tenda Fatir. Waktu menunjukkan jam 5 sore. Saat aku sampai di tenda Fatir, ada Yuda yang sepertinya mencoba membangunkannya
“Dea . . ! ! Dea ! ! !” Fatir berteriak memanggilku
“Fatir . . . bangun . . . Fatir”
“Dea ! ! !” sambil duduk dan membuka matanya secara spontan
“Lo kenapa Fatir?” tanyaku khawatir
“Dea . . . lo . . . “ ucapnya terbata sambil memegang pipiku
“Gue bawain air dulu” kata Yuda
Aku menatap Fatir dan ia menatapku dengan tatapan menunjukkan bahwa ia sedang merasa cemas.
“Lo kenapa Fatir?” tanyaku sekali lagi
Fatir tak menjawab, namun tiba-tiba ia memelukku sambil mengusap rambutku. Perlahan aku menggerakan tanganku dan membalas pelukannya. Saat aku hendak melepaskan, ia mempererat pelukannya. Akupun kembali bertanya dalam pelukannya, dan kami sedikit bicara namun berbisik.
“Lo kenapa Fatir”
“Gue mimpi, lo ninggalin gue” ucapnya
“Ssst . . itu hanya mimpi, gue ga akan kemana-mana. Lo itu temen gue, sahabat gue”
“Gue takut”
“Lo takut apa?” tanyaku
“Gue gamau hal itu terulang lagi”
Aku melepas pelukannya. Ia menatapku dengan tajam. Untuk pertama kalinya. Namun tatapan tajam itu bukan menandakan sebuah amarah seperti pada umumnya. Dan untuk pertama kalinya aku melihat ketulusan di matanya. Jantungku berdebar, kemudian Yuda datang memberikan minum pada Fatir, kemudian ia pergi membiarkan kami berdua menyelesaikan apa yang menurutnya harus diselesaikan.
“Fatir” panggilku
“Ya, Dea” jawabnya
“Aku . . . “ ucapanku dipotongnya
“Jangan berkata apa-apa lagi, aku ga mau ada airmata jatuh dari matamu”
Untuk pertama kalinya aku mendengar ia memanggilku dengan sebutan aku/kamu. Ia seperti tahu, apa yang hatiku rasakan ketika aku khawatir tadi.
“Kita makan yuk” ajak Fatir
“Heem . . “ aku mengangguk
Malam hari, selesai shalat isya, kami semua membuat api unggun dan kami semua duduk mengelilinginya. Ada satu orang memainkan gitar dan beberapa dari kami bernyanyi mengikuti irama. Aku hanya berdiam diri sambil menggosok kedua tanganku agar tetap hangat. Fatir sedang berada di tendanya bersama Yuda. Entah apa yang sedang mereka lakukan. Teman setendaku Febi duduk disampingku dan ia memulai percakapan.
“Tadi siang temen lo itu kenapa?” tanyanya
“Emm . . . dia . . . “
Aku menceritakan kejadian tadi pada Febi. Ia merespon dengan senyuman-senyuman. Namun ia semakin penasaran dengan cerita Fatir.
“Lo suka Fatir?” tanyanya
“Sudah lama hehe”
“Lalu?”
“Dia sudah menjadi milik orang lain” jawabku tersenyum
“Lalu? Kok bisa sekarang dia sama lo? Ceweknya kemana?”
“Ceweknya . . . . “
Malam semakin larut, namun aku tak dapat tidur. Pikiranku terus terpaku pada mimpi tadi sore. Aku memutuskan untuk keluar tenda dan duduk diantara rerumputan sambil membuat api unggun kecil didepannya. Beberapa orang masih terjaga juga dan sepertinya mereka memang ditugaskan untuk jaga malam. Aku berusaha untuk menghilangkan pikiran tentang mimpi itu. Aku melepas jaketku dan menjadikannya alas, kemudian aku berbaring menatap langit.
“Fatir” panggil seseorang dari belakang
“Eh, Dea” ucapku sambil menoleh padanya
“Lo ga tidur?”
“Engga, gue belum ngantuk” jawabku
“Gue boleh temenin?” tanyanya
“Tentu saja”
“Fatir” panggilnya sayu
“Iya Dea”
“Gue . . . . “
“Ada apa Dea?” ucapku sambil merubah posisiku ke posisi duduk
“Gue sayang sama lo Fatir” ucapnya namun ia tertunduk
“Gue, gue juga sayang sama lo” ucapku sedikit gemetar
Selama ini, Dea selalu ada untukku. Dea selalu mendukungku, menyemangatiku, menemaniku. Ketika aku mencari Nada, mungkin ia rela mengorbankan perasaannya demi aku. Aku lelaki bodoh yang tak bisa mengerti perasaannya. Tetapi rasa sayangku pada Nada jauh lebih besar. Meski kini aku dan Nada dalam keadaan yang tidak memungkinkan untuk bertemu.
Dea menyandarkan kepalanya ke pundakku. Sama seperti dalam mimpiku. Namun kali ini aku memastikan bahwa ini nyata. Beberapa saat kami tak saling bicara, hanya hening. Tapi aku tak ingin momen ini cepat berakhir.
“Lo kuat nanti?” tanyaku
“Kuat dong, lo kayanya bakal mundur tengah jalan” kata Dea
“Engga lah . . . “
“Ko lo bisa tau acara gini?” tanyaku
“Iya, dari temen, tapi dia yang ngasih tau, dia malah ga bisa ikut” katanya
“Oh hehe . . kenapa lo ngajak gue? Kan banyak yang lain?”
“Yaa pengen aja Fat, lo keberatan ya?” tanyanya
“Engga kok . . gue butuh sedikit refreshing”
“Heem . . . lo terlalu keras bekerja, sampai lo ga bisa membagi waktu untuk diri lo sendiri” katanya
“Mungkin saja . . . “
“Jangan terlalu keras, nanti lo malah stres”
“Iya Dea . . . “
Sekitar 1 jam kemudian, kami mulai mendaki. Selama mendaki, kami saling membantu satu sama lain. Dan sepertinya yang mengajakku kemari yang tidak kuat berjalan. Terkadang Dea terjatuh atau terpeleset, namun ia bisa bangkit kembali. Sampai pada akhirnya, kami memutuskan untuk beristirahat sejenak.
“Cape iih . . “ kata Dea
“Lo katanya kuat haha”
“Iissh . . . tungguin . . “
“Iya iya . . gue tungguin . . nih minum dulu” sambil memberikan botol minum padanya
Ia mengambil ikat rambut yang ada di tangannya dan mengikat rambutnya menjadi kuncir kuda. Dak aku begitu menyukai ketika ia melakukan itu. Sampai akhirnya, ia melihat kearahku dan memergokiku
“Hayo . . liat apaa? Aku cantik yah?”
“Pede amat . . . udah yu ah . . “ ngeles
“Ciiee . . . ada yang terpesona . . “
“Apaan sih . . . udah ayo, atau gue tinggal nih . . “
“Iissh . . jahat . . “
“Yaudah ayo”
Kemudian ia mengulurkan kedua tangannya . . .
“Apa?” tanyaku
“Bantuin berdiri iih . . . “
“Manja banget siih . . “ ucapku sambil membantunya
“Biarin . . . “ sambil memeletkan lidahnya
Kami kembali mendaki menuju spot camping. Ada beberapa orang yang ikut beristirahat ketika kami istirahat, jadi kami tak sendiri. Sekitar 30 menit melanjutkan perjalanan, kami berhasil sampai di pos pertama. Disana, kami disuguhkan pemandangan kota yang spektakuler. Tapi katanya ini belum seberapa, karena masih agak terhalangi oleh pepohonan. Spot yang sebenarnya berada di puncak gunung yang memang sering dipakai untuk camping.
“Fatir” panggil Nada
“Iya?”
“Lo bawa makanan?” tanyanya
“Bawa, bentar ya”
Aku mengambil snack ringan dan aku berikan padanya. Dengan sedikit gemas ia membuka kemasan makanan ringan itu dan mulai memakannya sedikit demi sedikit. Aku duduk disampingnya sambil meneguk air yang ada dalam botol minumku
“Lo mau?” tawarnya
“Mau” Sambil mengambil makanan itu, namun ia tepis
“Tangan lo kotor, jorok . . gue suapin aja” kata Dea
Aku menurutinya saja ketika ia menyuapiku. Angin bertiup membuat daun pepohonan saling bergesekkan menghipnotisku untuk berbaring sejenak sambil menatap langit. Waktu menunjukkan jam 11 siang, kami tiba di puncak/spot camping pada jam setengah 12 siang. Di atas, kami langsung disuguhi pemandangan kota yang tak terhalangi apapun. Kami benar-benar berada di puncak gunung ini. Kami langsung mendirikan tenda disini dan saling membantu satu sama lain. Aku berpasangan dengan Yuda yang merupakan salah satu peserta camping juga. Masa iya sama Dea, nanti aja di kosan hehe . . .
“Asal lo dari mana Fat?” tanya Yuda
“Dulu gue pindah-pindah, tapi gue lahir di tanah Jawa. Lo sendiri?”
“Gue asli orang sini hehe”
“Ooh hehe kuliah?” tanyaku
“Iya hehe, lo kuliah?”
“Engga, gue berhenti” jawabku sambil tetap tersenyum
“Lah kenapa?”
“Yaah keadaan hehe . . “
“Maksudnya?”
“Kedua orang tua gue udah meninggal karena sakit. Sekarang gue harus hidupin adik gue yang asalnya satu kampus dengan gue” jawabku
“Eh, sorry, gue ga bermaksud”
“Gapapa . . . “
“Ade lo kuliah?”
“Iya, kita cuma beda dua tahun“ Kataku
“Ooh gitu . . . nanti juga usaha lo bakal terbayarkan”
“Aamiin . . “
“Yang tadi itu cewek lo?” tanyanya
“Oh, bukan, dia temen gue. Gue sama dia tetanggaan”
“Asiik . . . gebetan haha”
“Ada-ada aja lo haha”
Acara demi acara terus berlanjut. Aku duduk di depan tendaku sambil melihat orang lain yang sedang sibuk dengan aktivitas mereka seperti foto-foto. Saat itu, Dea datang menghampiriku dan duduk disampingku
“Lo ga gabung?” tanyaku
“Engga ah, gue disini aja”
Aku membaringkan tubuhku dengan menggunakan lengan sebagai bantal. Aku kembali menatap langit yang sebagian tertutupi oleh awan yang bergerak secara perlahan. Aku membayangkan Nada. Tatapanku kosong. Aku merindukannya. Sangat merindukannya. Pikiranku kembali ke masa lalu, seperti sebuah film yang berjalan mundur dengan cepat. Teringat ketika awal aku bertemu Nada. Saat dirumah aku tak sadar mengutarakan perasaanku yang awalnya aku pikir itu hanya sebuah mimpi.
“Fatir”
“Iya” jawabku sambil terus menatap kosong ke langit
“Udaranya mulai sejuk” katanya
“Iya, udah mulai terasa dingin” ucapku
Tiba-tiba Dea membaringkan kepalanya dibadanku sambil mengikutiku menatap langit. Tak ada penolakan dariku.
“Entah kenapa begitu menyenangkan menatap langit seperti ini” ucapnya
“Iya”
“Fatir” panggilnya
“Ya?”
“ . . . “
“Dea?” panggilku
Namun tidak ada jawaban dari Dea. Aku merubah posisiku menjadi duduk, sementara Dea masih terbaring di pangkuanku. Matanya tertutup rapat. Tanpa aku sadari, aku menatapnya dan mengusap rambut panjangnya. Kenapa wajahnya terlihat sangat pucat sekali? Aku menyentuh pipinya, dan terasa sangat dingin. Aku mencoba memanggilnya, membangunkannya, tapi ia tak menjawab. Ia tak juga bangun. Aku menepuk perlahan pipinya namun ia tak juga membuka matanya.
“Dea, bangun . . lo kenapa Dea”
“Dea bangun . . . “
“Dea ! ! !”
oooo
Aku baru saja selesai merapikan isi tasku. Acara demi acarapun sudah selesai dilaksanakan. Kini kami sedang ada acara bebas. Banyak yang mengabadikan momen ini dengan berfoto ria. Tapi aku biasa saja. Aku mencoba untuk mendatangi tenda Fatir. Waktu menunjukkan jam 5 sore. Saat aku sampai di tenda Fatir, ada Yuda yang sepertinya mencoba membangunkannya
“Dea . . ! ! Dea ! ! !” Fatir berteriak memanggilku
“Fatir . . . bangun . . . Fatir”
“Dea ! ! !” sambil duduk dan membuka matanya secara spontan
“Lo kenapa Fatir?” tanyaku khawatir
“Dea . . . lo . . . “ ucapnya terbata sambil memegang pipiku
“Gue bawain air dulu” kata Yuda
Aku menatap Fatir dan ia menatapku dengan tatapan menunjukkan bahwa ia sedang merasa cemas.
“Lo kenapa Fatir?” tanyaku sekali lagi
Fatir tak menjawab, namun tiba-tiba ia memelukku sambil mengusap rambutku. Perlahan aku menggerakan tanganku dan membalas pelukannya. Saat aku hendak melepaskan, ia mempererat pelukannya. Akupun kembali bertanya dalam pelukannya, dan kami sedikit bicara namun berbisik.
“Lo kenapa Fatir”
“Gue mimpi, lo ninggalin gue” ucapnya
“Ssst . . itu hanya mimpi, gue ga akan kemana-mana. Lo itu temen gue, sahabat gue”
“Gue takut”
“Lo takut apa?” tanyaku
“Gue gamau hal itu terulang lagi”
Aku melepas pelukannya. Ia menatapku dengan tajam. Untuk pertama kalinya. Namun tatapan tajam itu bukan menandakan sebuah amarah seperti pada umumnya. Dan untuk pertama kalinya aku melihat ketulusan di matanya. Jantungku berdebar, kemudian Yuda datang memberikan minum pada Fatir, kemudian ia pergi membiarkan kami berdua menyelesaikan apa yang menurutnya harus diselesaikan.
“Fatir” panggilku
“Ya, Dea” jawabnya
“Aku . . . “ ucapanku dipotongnya
“Jangan berkata apa-apa lagi, aku ga mau ada airmata jatuh dari matamu”
Untuk pertama kalinya aku mendengar ia memanggilku dengan sebutan aku/kamu. Ia seperti tahu, apa yang hatiku rasakan ketika aku khawatir tadi.
“Kita makan yuk” ajak Fatir
“Heem . . “ aku mengangguk
Malam hari, selesai shalat isya, kami semua membuat api unggun dan kami semua duduk mengelilinginya. Ada satu orang memainkan gitar dan beberapa dari kami bernyanyi mengikuti irama. Aku hanya berdiam diri sambil menggosok kedua tanganku agar tetap hangat. Fatir sedang berada di tendanya bersama Yuda. Entah apa yang sedang mereka lakukan. Teman setendaku Febi duduk disampingku dan ia memulai percakapan.
“Tadi siang temen lo itu kenapa?” tanyanya
“Emm . . . dia . . . “
Aku menceritakan kejadian tadi pada Febi. Ia merespon dengan senyuman-senyuman. Namun ia semakin penasaran dengan cerita Fatir.
“Lo suka Fatir?” tanyanya
“Sudah lama hehe”
“Lalu?”
“Dia sudah menjadi milik orang lain” jawabku tersenyum
“Lalu? Kok bisa sekarang dia sama lo? Ceweknya kemana?”
“Ceweknya . . . . “
oooo
Malam semakin larut, namun aku tak dapat tidur. Pikiranku terus terpaku pada mimpi tadi sore. Aku memutuskan untuk keluar tenda dan duduk diantara rerumputan sambil membuat api unggun kecil didepannya. Beberapa orang masih terjaga juga dan sepertinya mereka memang ditugaskan untuk jaga malam. Aku berusaha untuk menghilangkan pikiran tentang mimpi itu. Aku melepas jaketku dan menjadikannya alas, kemudian aku berbaring menatap langit.
“Fatir” panggil seseorang dari belakang
“Eh, Dea” ucapku sambil menoleh padanya
“Lo ga tidur?”
“Engga, gue belum ngantuk” jawabku
“Gue boleh temenin?” tanyanya
“Tentu saja”
“Fatir” panggilnya sayu
“Iya Dea”
“Gue . . . . “
“Ada apa Dea?” ucapku sambil merubah posisiku ke posisi duduk
“Gue sayang sama lo Fatir” ucapnya namun ia tertunduk
“Gue, gue juga sayang sama lo” ucapku sedikit gemetar
Selama ini, Dea selalu ada untukku. Dea selalu mendukungku, menyemangatiku, menemaniku. Ketika aku mencari Nada, mungkin ia rela mengorbankan perasaannya demi aku. Aku lelaki bodoh yang tak bisa mengerti perasaannya. Tetapi rasa sayangku pada Nada jauh lebih besar. Meski kini aku dan Nada dalam keadaan yang tidak memungkinkan untuk bertemu.
Dea menyandarkan kepalanya ke pundakku. Sama seperti dalam mimpiku. Namun kali ini aku memastikan bahwa ini nyata. Beberapa saat kami tak saling bicara, hanya hening. Tapi aku tak ingin momen ini cepat berakhir.
Diubah oleh nasihiber 31-03-2018 21:30
khodzimzz dan 4 lainnya memberi reputasi
5