Kaskus

Story

bakamonotongAvatar border
TS
bakamonotong
MEREKA YANG HIDUP DALAM GELAP -[Based On True Story]- SEASON 2 "KAMI SELALU ADA"
MEREKA YANG HIDUP DALAM GELAP -[Based On True Story]- SEASON 2 "KAMI SELALU ADA"

Mereka yang Hidup Dalam Gelap, merupakan suatu true stroy, real story atau semacam itu tentang Arda, ketika di season 1 Arda menyajikan pada anda bagaimana dia bertahan dan berhadapan serta bertemu dan mengenal mereka, maka di season 2 ini arda akan mengantarkan kalian menuju dalamnya cerita tahap lanjut, dimana dia harus berhadapan dengan mereka, menguji apa yang telah dia pelajari, dan menjadi seorang yang menjembatani antara 2 dunia.

90% horror dengan bumbu hiperbola dan cerita drama, cinta, dan cerita persahabatan, memberikan kepada pembaca kesan tentang apa yagn dialami penulis.

Quote:


Quote:


selamat menikmati season 2 dari cerita ini, semoga kalian menyukai, jangan lupa cendol, juga share and like nya

ig : @bakemonotong
twitter : @Ardahakimotong


Welcome to my Second Season of Story


INDEKS :

Quote:



NITIPSSSS :
Quote:

Diubah oleh bakamonotong 22-06-2018 09:53
Suminten.Avatar border
anasabilaAvatar border
meqibaAvatar border
meqiba dan 2 lainnya memberi reputasi
3
56.2K
212
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.6KAnggota
Tampilkan semua post
bakamonotongAvatar border
TS
bakamonotong
#112
Part XVII - Terjebak!

Malam itu teman- temanku tertidur nyenyak, sangat nyenyak, hingga mereka mendengkur karena kelelahan perjalanan jauh dilanjut langsung wisata. Tapi aku tertidur dalam kondisi yang benar- benar tidak nyaman, bukan karena kasurnya, tapi lebih karena malam itu kau bertemu dengan sosok wanita berbaju adat itu, dengan kepala yang terpenggal, dia datang ke mimpiku kali ini aku berada dalam kegelapan lagi, setelah hampir satu tahun aku tidak ada disini, kali ini aku berada disini lagi. tempat yang tidak ada apa- apa kecuali kegelapan. Kulihat wanita itu berdiri, memancarka nsebuah aura berwaran merah menyala seperti marah, dan tatapannya yang tidak bersahabat membuatku memasang kuda- kuda siap untuk berterung.


TIba- tiba suara dentuman keras berbunyi, muncul beberapa sosok disana, ular hitam besar yang hampir tidak terlihat kecuali mata kuningnya, dan beberapa makhluk seperti leak, dengan mulut berdarah dankuku tajamnya seperti siap mencabik- cabikku. "Kamu ! kami tidak suka kedatanganmu! Kami tidak suka kedatangan penjagamu! jin dari tanah jawa!" kata si kepala buntung tadi. Dendam dan rasis sekali dia "Ya maaf saya tidak bermaksud mengganggu lagipula mereka juga tidak keluar dari tubuh saya untuk mengganggu kalian kan", jawabku , "enak saja kau manusia! kami tidak suka dan ini wilayah kami! kamu membawa nya sama saja seperti kamu ngajak kami perang!", katanya. Seraya si ular bergerak cepat menuju aku melilitku, kulihat Sar meloncat dan menggigit kepala ular tadi, membuatnya mengendurkan lilitannya. kemudian Sar sesegera mungkin membanting ular tadi yang besarnya lebih dari dia, jauh lebih besar. Sar mengaum keras, membuat beberapa dari mereka seidkit gentar dan mundur.


Sesosok Leak berusaha maju cepat menyerangku, tapi leak tadi ditangkis Abah, ditendang dan membuat si Leak tersungkur, tiba- tiba abah menggunakan jubah sedikit keemasan, dan memancarkan auranya, membuat makhluk- makhluk disana semakin takut dan mencoba kabur. Tapi si kepala buntung masih disana, kemudian tertawa, melengking "dasar bodoh! hanya segitu kemampuanmu?" katanya, kemudian dia berjalan ke arahku, menghilang tiba- tiba dalam kegelapan, dan tiba- tiba saja dia muncul disampingku yang kebingungan "disini", katanya, kemudian dia melontarkan ku dengan mendorongku, mungkin ada lebih dari 10 meter aku terlempar. ak usegera berdiri kemudian aku berlari membaca doa dan menyerang si kepala buntung, tapi sekali lagi makhluk ini menghilang dan memukulku telak, membuatku terjengkang lagi. Sar dan Abah segera menuju ke arahku, tapi ditahan oleh beberapa makhluk seperti leak dan ular hitam. membuat mereka tidak bisa membantuku. Tak ada pilihan lain, aku memanggil para Naga untuk membantuku, setidaknya memudahkan untuk menghajar si kepala buntung.


Naga Geni muncul dengan cepat dan memutariku membuat semacam lingkaran api besar untuk melindungiku dari serangan mendadak makhluk itu. Namun si buntung tetap muncul mendekat, mencoba menyerangku, tapi satu hal yang perlu dia ketahui, Naga Ireng memiliki kemampuan yang sama dalam kegelapan, dan tanpa makhluk itu sadar, Naga Ireng menyerangnya menggigit lehernya yang buntung, dan melilitnya, kemudian melemparkannya ke udara. Saat itu Naga Bayu , Naga Watu dan Naga Amarta tidak datang, ya karena 2 Naga ini cukup untuk menghajar si kepala buntung. Si Kepala buntung kemudian berdiri, bersiap menyerangku lagi, kali ini Naga Geni tidak hanya membuatkan lingkaran untukku, tapi dia mulai menyerang Si Buntung, dan melilitnya kuat- kuat, membakarnya, membuat si Buntung mengerang keras, berteriak- teriak, memaki ku, kulihat para Leak dan Ular Hitam berpindah dari Abah dan Sar, dan mencoba membantu, tapi ternyata pilihan mereka salah. Naga Ireng dengan cepat memukulkan ekornya, mencambuk mereka hingga terpental.


Sar dan Abah sesegera mungkin bergerak cepat dan menuju ke arahku, merubah wujudnya menjadi tombak lagi, dan mempersenjatai aku, Abah kemudian memakaikan jubah emasnya kesekitarku. Aku sesegera mungkin berlari ke arah kerumunan makhluk- makhluk itu dan menyerang mereka bersama Abah dan Naga Ireng. Menghabisi mereka, membuat mereka mundur, memang tidak sampai terbunuh tapi setidaknya mereka semua terusir. Dan TIba- tiba kudengar Naga Geni mengerang keras, terpental dan tersungkur jatuh. Si Kepala Buntung terlpas, dan memancarkan aura yang benar- benar membunuh. cepat dia bergerak ke arahku, mementalkan Naga Ireng dan aku, membuat Sar kembali ke wujud Harimau, menyerangnya, tapi tidak berhasil, malah Sar terpental ke arahku lagi. Abah yang sigap menyernag pun hanya seperti anak kecil buatnya, tangan abah dicengkram, kemudian dilemparkannya Abah jauh- jauh. "Kamu akna terjebak disini selamanya, ahahahahahaaha!", kata- katanya membuatku bergidik ngeri, Segera Amarta, Bayu dan Watu maju, menyerang makhluk ini, Watu menabrakkan badannya membuat si Buntung terdorong jauh, lalu Bayu menyerangnya dari atas, tapi berhasil dia tahan, dan Amarta segera menabraknya dari samping, membuat si Buntung terpental. "AARRRGGHH SIALAN! MATI KALIAN!", erang si Buntung yang kemudian pergi menyerang Amarta, tapi berhasil dielakkan oleh Amarta, dan Watu sudah menunggu menggebukkan tanah dan membuat getaran besar di darat dan udara, kemudian Bayu secepat mungkin menggigit si Buntung dan membantingnya. terjengkang jatuh.


Si Buntung yang masih mengerang sesegera mungkin berdiri, kemudian memancarkan aura merahnya kini bercampur dengna cahaya yang kehitaman, membuat rasa takut makin besar. Kemudian dia mengangkat tangan kanannya, diarahkan ke aku, aku tiba- tiab terdorong, dan terperangkap dalam suatu kegelapan yang memiliki dinding tak kasat mata. AKu masih melihat para Naga, Sar dan Abah disana, tapi mereka tidak bisa mendengarku, aku pun tidak bisa lepas dari tempat ini. Kulihat para Naga kewalahan dan Abah juga Sar tersungkur disana, aura mereka melemah. Aku kebingungan, apa yang harus kulakukan. para Naga pun makin terpojok. aku tidak tahu bagaiamana caraku menolong mereka. Aku hanya bisa berdoa pada tuhan, membaca ayat kursi, aku beristirja, berdzikir, dan sebagainya, mencoba memfokuskan energiku, dan kulihat sedikit amalanku berefek, aku yakin kan diriku untuk bisa menghancurkan pernajra itu sebelum para Naga kalah.



Brak! pukulan pertama tak menghancurkan penjara ini, kedu dan ketiga, lelah, hingga akhir nya aku mulai lelah, dan tidak tahu harus apa lagi. Aku yang terpojok hanya berdoa lagi dalam kepasrahanku, berharap adanya pertolongan oleh Allah, dan bisa segera keluar dari tempat ini, sambil aku terus memukul penajra ini, kulihat Naga Geni tersungkur, tak mampu bergerak dan hanya terlihat seperti mengerang, Naga Ireng masih berusaha melilit si Buntung, Naga Bayu, Watu, dan Amarta masih berusaha menyerangnya, tapi gagal, dan aku yang terpojok hanya bisa mengutuk makhluk itu. dan kulihat sesosok makhluk berwujud kera merah disana, melirikku, memberikan senyuman, dan berkata sesuatu yang aku tidak mengerti, apa ini? apakah ada musuh baru, aku kebingungan, apa aku akan terjebak disini selamanya sedangkan para Naga kewalahan. Tapi aku salah, sang kera ini kemudian menyerang si Buntung memukulnya membuat terjangkang. Apa ini? siapa makhlkuk ini?



BLAR! sebuah ledakan membebaskanku, membuatku berlari segera menuju Abah, Sar dan lain- lainnya. kulihat Abah berusah bangun, Sar juga, aku membantu mereka. Bagaimana ini, dan siapa si Kera itu. "Dia adalah tuan tanah asli tempat ini, si Buntung adalah makhluk penglaris disini, dia ditaruh di salah satu kamar di belakang hotel ini, itu kata si Kera." kata abah "Dia akan membantu kita, si Buntung ini terlalu kuat, dan tidak bisa dibunuh, karena jika dibunuh bisa saja den Arda diserang oleh dukun yang memasangnya disini, jadi kami akan memukul dia mundur dan menyegel dalam tempatnya lagi, supaya tidak mengganggu" ,lanjut Abah. Kulihat si Kera berubah wujud menjadi raksasa, dan menangkap si Buntung, seperti membawa mainan. "Perjanjian kita adalah tidak mencelakai siapapun di tanahku! makanya kau kuijinkan pergi- pergi, tapi kau langgar!", kata sang kera, "TAPI DIA ADALAH ORANG YANG MEMBAWA JIN JAWA KESINI! PENGHINAAN BAGIKU!". timpal si Buntung. "Bodoh!, dia tidak mengganggumu! kau mengganggu dia dahulu", kata Sang Kera kemudian cepat meloncat dan melempar si Buntung ke dalam suatu gudang dipojokan, dan kulihat beberapa kera kecil mengelilingi tempat itu masuk ke dalam dan kudengar erangan dari si Buntung.


Tanpa aku sadar, kini sudah lepas aku dari kegelapan ini. dan kulihat aku kembali di ruangan, sang Kera pun menuju ke arahku, "maaf jika dia mengganggu mu, lebih baik para pengikutmu kau suruh pulang dahulu, mereka terlalu kelelahan dan sekarat, biarkan mereka pulih, pulangkan mereka ke tanah mereka, kau lebih aman tanpa mereka, banyak dari makhluk disini menolak keberadaan mereka", katanya, "baik, terima kasih sudah membantu", kemudian aku lihat Abah, Sar dan para Naga menunduk hormat kemudian menghilang bak asap. Sepertinya mereka kembali menuju tanah Jawa. dan aku segera kembali ke dalam tubuhku, sembari sang Kera pergi meninggalkanku. dan aku hanya melanjutkan tidur yang hanya bersisa sekitar 2 jam saja.
johny251976
kemintil98
regmekujo
regmekujo dan 4 lainnya memberi reputasi
5
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.