- Beranda
- Stories from the Heart
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)
...
TS
juraganpengki
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)

Cool Cover By Agan Linbara (Thanks, Bree)..
Prolog
Setelah bangun dari ‘Mati Suri’ karena memutuskan untuk mencoba membunuh diri sendiri untuk melindungi Kitab Langit dan melenyapkan Bayu Ambar, gw kembali ke dunia nyata.. Kehidupan gw sedikit jauh berbeda, karena pengalaman ‘Mati Suri’ itu berefek langsung pada kelebihan yang gw miliki.. Gw masih sama Anggie, meski ujian atas cinta kami masih saja mendera.. Ada musuh baru, tentu saja.. Tapi ada juga sahabat baru yang muncul.. Karena ini akhir dari cerita kami berempat..
Kembalinya Anak Ibu...
Pengorbanan Pedang Jagat Samudera...
Cintai Aku Sewajarnya, Yank...
Matinya Seorang Saudara (Versi Gw/Bimo)
Berkumpul Kembali...
Keanehan Yang Mulai Muncul...
Sambutan Ketiga Saudara Ke Reinata...
Sabar???
Cukup! Tinggalin Aku Sendiri!!!
Siapa Kau???
Aku Ikutin Kemauan Kamu...
Keputusan Sepihak Yang Pahit...
Semua Beban Menjadi satu
Semua Beban Menjadi Satu (2)...
Serangkum Rindu Untuk Ayah...
Munculnya Penguasa Laut Utara...
Bertemunya Dua Penguasa...
Sebuah Kesepakatan...
Ibu Kenapa Yah???
Lu Kenapa, Ka???
Wanted Dead Or Alive.. ANTON!!!
Mo 'Perabotan' Lu Hancur Apa Tanggung Jawab???
It's The End Of Us...
Di Kerjain Ibu...
Ridho!!!
Kelewatan!!!
Munculnya Dua Penjaga Gerbang Kerajaan Laut...
Dewi Arum Kesuma VS Dewi Ayu Anjani
Datangnya Sosok Seorang Pemisah Dan Shock Therapy Buat Gw...
Kerajaan Jin...
Terkuaknya Semua Jawaban...
Maafin Gw, Bree...
Pengakuan Suluh...
Akhirnya Boleh Gondrong...
Pernikahan Kak Silvi Yang Seharusnya Membuat Gw Bahagia...
Pernikahan Kak Silvi Yang seharusnya Membuat Gw Bahagia (2)...
Tunggu Pembalasan Gw!!!...
Ni Mas Linduri dan Banas Ireng...
Dua Sosok Penyelamat Misterius...
Ada Apa Sama Ridho?...
Kesalahan Fatal...
Kembalinya Jin Penjaga Ridho dan Suluh...
Akibat Terlalu Ikut Campur...
Setiap Perbuatan Akan Mendapat Balasan...
Munculnya Viny Dan Sebuah Tantangan Bertarung...
Manusia Cabul...
Suara Penolong Misterius...
Bertemunya Kembali Sepasang Kekasih...
Terkuaknya Kebenaran...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar (2)...
Jaket Dan Celana Jeans Robek Serta Sweater Hitam Kumal...
She's My True Love...
Dilema...
Pertengkaran Dengan Ibu...
Rambe Lantak...
Gendewa Panah Pramesti...
Akan Ku Balaskan Dendam Mu, Arum Kesuma!!!
Yang Hilang dan Yang Kembali...
Jawaban Ayu...
Mati Gw!!!
Aku Makin Sayang...
Nasihat Om Hendra...
Jera Mencuri...
Ajian Segoro Geni...
Pilihan Sulit...
Keputusasaan Anggie...
Kabar Baik dari Ridho dan Suluh...
Perjalanan Menuju Pembalasan Dendam...
Rawa Rontek...
Rawa Rontek 2 (Terbayarnya Dendam)...
Kedatangan Pak Sugi...
Orang Titipan...
Hukuman Paling Berat...
Tidurlah Di Pangkuan Ku...
Menjajal Kesaktian...
Menjajal Kesaktian (2)...
Pengakuan Mengejutkan Babeh Misar...
Pengajaran Ilmu Silat Betawi...
Di Kepret Babeh Misar Lagi...
Tasya...
Naga Caglak dan Bajing Item...
Misteri Sebuah Dendam...
Kekuatan Sejati Kitab Langit Bagian Matahari...
Perpisahan...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera (2)...
Kembalinya Ibu...
Empat Bayangan Hitam...
Siapa Ni Mas Laras Rangkuti???
Dendam Seorang Sahabat...
Ini Keputusan Yang Harus Gw Ambil...
Semua Pengorbanan Ini Demi Ibu...
Rapuh...
Kabar Mengejutkan Sekar dan Sebuah Restu...
Siasat Braja Krama...
Munculnya Kitab Langit...
Si Pembuka Kitab langit dan Sosok Asli Pak Sugi...
Rencana Yang Matang...
Lamaran Pribadi...
Keingintahuan Anggie...
Perubahan Rencana...
Hampir Terjebak...
Kekecewaan Sekar...
Dua Syarat Reinata...
Aku Harap Kamu dan Anggie Bahagia, Mam...
Rahasia Sepasang Suami Isteri...
Menitipkan Amanah...
Berkumpulnya Para Pembela Kitab Langit...
Siasat Ki Purwagalih...
Raja Jin Raja Muslihat (Nyesek, Bree)...
Pertukaran Tawanan...
Perang Gaib PunTak Terelakkan...
Sang Penyelamat Dari Utara...
Pertempuran Awal Dua Penguasa Kerajaan Gaib...
Bertekuk Lututnya Sekutu Braja Krama...
Pertarungan Dua Putera (Gugurnya Satu Sahabat Gaib)...
Krama Raja...
Braja Krama Versus Krama Raja...
Raja Licik...
Aku Lah Sang Pembuka...
Siasat Krama Raja dan Bayu Ambar...
Terbukanya Semua Ilmu Terlarang...
Sebuah Pengecualian...
Sri Baduga Maharaja...
Hilangnya Sebuah Pengecualian...
Hilangnya Sebuah Pengecualian (2)...
Sebuah Pengorbanan...
Pahlawan...
Sumpah...
Ilmu Pamungkas yang Terlarang...
Kabar Yang Mengejutkan...
Pulang...
Pulang (2)...
Sedikit Kisah Rio Sebelum Kisah Ini Tamat...
Terhalang Sumpah...
Bantuan Sahabat Baik...
Bachelor Party...
Keturunan Lain Sang Prabu...
Pembalasan Dendam Singgih...
Sepenggal Kisah Nyi Mas Roro Suwastri...
Tawaran Yang Mengejutkan...
Lawan Atau Kawan???
Terkuaknya Silsilah...
Sebuah Kebenaran...
Sebuah Kebenaran (2)...
Bertemunya Dua Keturunan Sang Prabu...
Pertempuran Dua Hati...
Cinta Pertama VS Cinta Terakhir Jagat Tirta...
Pengakuan Bayu Barata...
Ki Larang dan Nyi Mas Galuh Pandita???
Prana Kusuma...
Kau Benar Keturunan Kami, Ngger...
Our Big Day...
Insiden...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga (2)...
Dua Tamu Istimewa...
Semua Karena Cinta...
Keputusan Sekar Kencana...
Kena Gampar...
Bonyok!!!
RIBET!!!
Berdamai...
Keponakan Baru...
Malam Pertama dan Tiga Keanehan...
Ajian Warisan Para Leluhur (The Last Part/End Of All Chapters)
SIDE STORIES
Keturunan Yang Tersesat...
Keturunan Yang Tersesat (2)...

Cool Cover By Agan Linbara (Thanks, Bree)..
Prolog
Setelah bangun dari ‘Mati Suri’ karena memutuskan untuk mencoba membunuh diri sendiri untuk melindungi Kitab Langit dan melenyapkan Bayu Ambar, gw kembali ke dunia nyata.. Kehidupan gw sedikit jauh berbeda, karena pengalaman ‘Mati Suri’ itu berefek langsung pada kelebihan yang gw miliki.. Gw masih sama Anggie, meski ujian atas cinta kami masih saja mendera.. Ada musuh baru, tentu saja.. Tapi ada juga sahabat baru yang muncul.. Karena ini akhir dari cerita kami berempat..
Kembalinya Anak Ibu...
Pengorbanan Pedang Jagat Samudera...
Cintai Aku Sewajarnya, Yank...
Matinya Seorang Saudara (Versi Gw/Bimo)
Berkumpul Kembali...
Keanehan Yang Mulai Muncul...
Sambutan Ketiga Saudara Ke Reinata...
Sabar???
Cukup! Tinggalin Aku Sendiri!!!
Siapa Kau???
Aku Ikutin Kemauan Kamu...
Keputusan Sepihak Yang Pahit...
Semua Beban Menjadi satu
Semua Beban Menjadi Satu (2)...
Serangkum Rindu Untuk Ayah...
Munculnya Penguasa Laut Utara...
Bertemunya Dua Penguasa...
Sebuah Kesepakatan...
Ibu Kenapa Yah???
Lu Kenapa, Ka???
Wanted Dead Or Alive.. ANTON!!!
Mo 'Perabotan' Lu Hancur Apa Tanggung Jawab???
It's The End Of Us...
Di Kerjain Ibu...
Ridho!!!
Kelewatan!!!
Munculnya Dua Penjaga Gerbang Kerajaan Laut...
Dewi Arum Kesuma VS Dewi Ayu Anjani
Datangnya Sosok Seorang Pemisah Dan Shock Therapy Buat Gw...
Kerajaan Jin...
Terkuaknya Semua Jawaban...
Maafin Gw, Bree...
Pengakuan Suluh...
Akhirnya Boleh Gondrong...
Pernikahan Kak Silvi Yang Seharusnya Membuat Gw Bahagia...
Pernikahan Kak Silvi Yang seharusnya Membuat Gw Bahagia (2)...
Tunggu Pembalasan Gw!!!...
Ni Mas Linduri dan Banas Ireng...
Dua Sosok Penyelamat Misterius...
Ada Apa Sama Ridho?...
Kesalahan Fatal...
Kembalinya Jin Penjaga Ridho dan Suluh...
Akibat Terlalu Ikut Campur...
Setiap Perbuatan Akan Mendapat Balasan...
Munculnya Viny Dan Sebuah Tantangan Bertarung...
Manusia Cabul...
Suara Penolong Misterius...
Bertemunya Kembali Sepasang Kekasih...
Terkuaknya Kebenaran...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar (2)...
Jaket Dan Celana Jeans Robek Serta Sweater Hitam Kumal...
She's My True Love...
Dilema...
Pertengkaran Dengan Ibu...
Rambe Lantak...
Gendewa Panah Pramesti...
Akan Ku Balaskan Dendam Mu, Arum Kesuma!!!
Yang Hilang dan Yang Kembali...
Jawaban Ayu...
Mati Gw!!!
Aku Makin Sayang...
Nasihat Om Hendra...
Jera Mencuri...
Ajian Segoro Geni...
Pilihan Sulit...
Keputusasaan Anggie...
Kabar Baik dari Ridho dan Suluh...
Perjalanan Menuju Pembalasan Dendam...
Rawa Rontek...
Rawa Rontek 2 (Terbayarnya Dendam)...
Kedatangan Pak Sugi...
Orang Titipan...
Hukuman Paling Berat...
Tidurlah Di Pangkuan Ku...
Menjajal Kesaktian...
Menjajal Kesaktian (2)...
Pengakuan Mengejutkan Babeh Misar...
Pengajaran Ilmu Silat Betawi...
Di Kepret Babeh Misar Lagi...
Tasya...
Naga Caglak dan Bajing Item...
Misteri Sebuah Dendam...
Kekuatan Sejati Kitab Langit Bagian Matahari...
Perpisahan...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera (2)...
Kembalinya Ibu...
Empat Bayangan Hitam...
Siapa Ni Mas Laras Rangkuti???
Dendam Seorang Sahabat...
Ini Keputusan Yang Harus Gw Ambil...
Semua Pengorbanan Ini Demi Ibu...
Rapuh...
Kabar Mengejutkan Sekar dan Sebuah Restu...
Siasat Braja Krama...
Munculnya Kitab Langit...
Si Pembuka Kitab langit dan Sosok Asli Pak Sugi...
Rencana Yang Matang...
Lamaran Pribadi...
Keingintahuan Anggie...
Perubahan Rencana...
Hampir Terjebak...
Kekecewaan Sekar...
Dua Syarat Reinata...
Aku Harap Kamu dan Anggie Bahagia, Mam...
Rahasia Sepasang Suami Isteri...
Menitipkan Amanah...
Berkumpulnya Para Pembela Kitab Langit...
Siasat Ki Purwagalih...
Raja Jin Raja Muslihat (Nyesek, Bree)...
Pertukaran Tawanan...
Perang Gaib PunTak Terelakkan...
Sang Penyelamat Dari Utara...
Pertempuran Awal Dua Penguasa Kerajaan Gaib...
Bertekuk Lututnya Sekutu Braja Krama...
Pertarungan Dua Putera (Gugurnya Satu Sahabat Gaib)...
Krama Raja...
Braja Krama Versus Krama Raja...
Raja Licik...
Aku Lah Sang Pembuka...
Siasat Krama Raja dan Bayu Ambar...
Terbukanya Semua Ilmu Terlarang...
Sebuah Pengecualian...
Sri Baduga Maharaja...
Hilangnya Sebuah Pengecualian...
Hilangnya Sebuah Pengecualian (2)...
Sebuah Pengorbanan...
Pahlawan...
Sumpah...
Ilmu Pamungkas yang Terlarang...
Kabar Yang Mengejutkan...
Pulang...
Pulang (2)...
Sedikit Kisah Rio Sebelum Kisah Ini Tamat...
Terhalang Sumpah...
Bantuan Sahabat Baik...
Bachelor Party...
Keturunan Lain Sang Prabu...
Pembalasan Dendam Singgih...
Sepenggal Kisah Nyi Mas Roro Suwastri...
Tawaran Yang Mengejutkan...
Lawan Atau Kawan???
Terkuaknya Silsilah...
Sebuah Kebenaran...
Sebuah Kebenaran (2)...
Bertemunya Dua Keturunan Sang Prabu...
Pertempuran Dua Hati...
Cinta Pertama VS Cinta Terakhir Jagat Tirta...
Pengakuan Bayu Barata...
Ki Larang dan Nyi Mas Galuh Pandita???
Prana Kusuma...
Kau Benar Keturunan Kami, Ngger...
Our Big Day...
Insiden...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga (2)...
Dua Tamu Istimewa...
Semua Karena Cinta...
Keputusan Sekar Kencana...
Kena Gampar...
Bonyok!!!
RIBET!!!
Berdamai...
Keponakan Baru...
Malam Pertama dan Tiga Keanehan...
Ajian Warisan Para Leluhur (The Last Part/End Of All Chapters)
SIDE STORIES
Keturunan Yang Tersesat...
Keturunan Yang Tersesat (2)...
Diubah oleh juraganpengki 15-07-2018 20:23
iskrim dan 132 lainnya memberi reputasi
127
2.1M
8K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
juraganpengki
#4670
Menitipkan Amanah...
Gw cukup terkejut mendengar ucapan Ki Purwagalih, lalu melirik ke arah jam tangan yang baru menunjukkan pukul delapan malam lewat empat puluh menit..
“Tapi, Eyang.. Tengah malam masih beberapa jam lagi baru tiba.. Mengapa terburu-buru? Apakah Eyang merasakan firasat buruk?” Tanya gw penasaran, sambil berharap jawaban Ki Purwagalih nanti bukan lah sesuatu hal yang tidak gw inginkan..
“Tidak, Ngger.. Aku hanya ingin kita tiba lebih dulu dan mengatur pasukan.. Sekaligus menyiapkan strategi untuk melawan Braja Krama”
Gw tertegun mendengarkan ucapan Ki Purwagalih.. Lalu melirik diam-diam ke arah laptop.. Benak gw teringat akan jadwal rutin mempostkan apdetan terbaru untuk thread gw di Kaskus.. Gw memang sudah berjanji jika tidak ada kesibukan berarti di RL, tiap hari gw akan memposting apdetan paling sedikitnya satu.. Namun, sepertinya gw harus menunda kegiatan rutin tersebut dan mengecewakan para pembaca thread gw di Kaskus.. Mengingat rencana Ki Purwagalih juga terdengar sangat penting..
“Jika kau harus melakukan sesuatu yang jauh lebih penting, sebaiknya kau tunaikan saja dahulu niat mu, Ngger.. Lagipula, tidak baik mengecewakan orang banyak yang mengharapkan sesuatu dari mu”
Kedua mata gw membesar mendengar ucapan Ki Purwagalih.. Gw sempat lupa jika di hadapan gw saat ini sedang berdiri sesosok Jin dengan kekuatan cukup tinggi, yang bisa begitu mudah menelisik isi benak.. Dengan perasaan sedikit ragu, gw berniat mengutarakan sebuah permintaan ke Ki Purwagalih..
“Jika diperbolehkan, aku ingin meminta waktu untuk memenuhi janji ku, Eyang.. Saat aku sudah siap, aku akan memanggil nama mu guna membawa ku ke tempat yang dipilih Braja Krama.. Itu pun jika dirimu berkenan, Eyang” Pinta gw dengan sangat hati-hati, karena takut terkesan memerintah Beliau..
Ki Purwagalih tersenyum sambil mengusap-usap jenggotnya dan menganggukkan kepala.. Lalu, pandangannya melirik juga ke arah laptop yang sempat gw pandangi secara diam-diam..
“Baiklah.. Jika kau merasa sudah siap, cukup panggil saja nama asli ku, Ngger.. Akan tetapi, satu hal yang harus ku cam kan pada mu.. Jangan pernah menyebutkan nama asli kami dalam cerita yang kau buat.. Karena tidak menutup kemungkinan ada orang berilmu diluar sana, yang bisa membaca tulisan mu dan mencoba mencari tahu tentang kami”
Gw tertegun mendengar ucapan Ki Purwagalih yang mengandung ancaman didalamnya.. Untungnya, sesuai kesepakatan antara gw dan ketiga saudara serta permintaan Sekar, gw memang tidak pernah menyebutkan nama asli dari tiap tokoh gaib yang ada disini..
“Baik, Eyang.. Aku mengerti akan wejangan mu.. Terima kasih telah memahami keadaan ku.. Aku tidak akan pernah melanggar yang telah kau cam kan tadi” Ucap gw dengan wajah tertunduk..
Ki Purwagalih sendiri kembali mengulum senyuman bijaknya.. Lalu melayang menghilang menembus dinding kamar.. Gw segera mengambil laptop pembelian mendiang Ayah ke atas meja belajar.. Kemudian menyalakan benda itu sambil membakar sebatang rokok.. Sementara laptop masih loading, gw membuka dua daun jendela dan mematikan AC didalam kamar.. Agar udara malam yang masuk dari luar, bisa menetralisir asap beracun yang mulai berhembus keluar dari mulut gw..
Gw sempat termenung memikirkan langkah apa yang akan gw lakukan sebelum memposting sebuah apdetan terbaru di Kaskus.. Setelah berfikir dan menimbang dalam benak sendiri dengan cukup alot.. Akhirnya gw memutuskan untuk meminta bantuan ke seorang Reader.. Gw mengaktifkan hotspot di Hp dan membuka akun thread gw di situs Kaskus.. Kemudian, membuka sub menu New Private Message untuk mencari tahu siapa saja yang pernah mengirimkan pertanyaan konyol atau hanya sekedar berkenalan dan ngajak ngupi bareng..
Hampir lima belas menit gw membuka kembali satu persatu dari isi inbox Private Message, hingga akhirnya gw tergelitik akan permintaan nyeleneh satu akun atas nama Agan alikubro.. Dari isi PM nya yang panjang dansangat berbelit-belit, menandakan bahwa agan yang satu ini masalahnya cukup rumit dan membuat pusing gw sendiri.. Gw bahkan sempat tertawa saat melihat inti permintaannya yang cukup aneh namun kocak.. Entah mengapa, gw pun positif akan memilih si Agan alikubro..
Sebuah PM gw kirim kan ke akun itu.. Isinya untuk mengajak bertemu langsung dengan gw di salah satu Mall di dekat Pesantren Al Hamidi*ah Depok.. Lalu meminimize situs Kaskus dan membuka MS Word yang berisi kumpulan pengalaman pribadi gw dan ketiga saudara.. Gw membuang rokok keluar jendela dan mulai mengedit satu part cerita dari kelima bagian, yang salah satunya gw langsung posting sebagai apdetan terbaru.. Setelah itu, gw mangambil CD RW di atas meja belajar dan memburning empat cerita terakhir yang belum di edit dalam kepingan..
Sebuah postingan lain gw buat untuk mengabarkan ke para pembaca kisah.. Tentang perasaan gw yang ragu apakah akan bisa meneruskan cerita atau tidak.. Karena yang gw hadapi kali ini benar-benar akan menentukan kehidupan gw.. Baik itu sebagai anak yatim seorang Ibunda, sebagai salah satu bagian dari ketiga saudara, seorang abang dari gadis yang sedang beranjak remaja dan sebagai seorang pecinta yang sebentar lagi akan membuktikan seberapa besar pengorbanan yang harus gw pertaruhkan demi sang kekasih hati..
Gw sempat membuka kembali sub menu New Private Message dan mendapati satu pesan pribadi terbaru dari akun seorang reader yang gw pilih.. Dia menyetujui permintaan gw untuk bertemu.. Gw langsung membalas dengan kalimat ‘15 menit dari sekarang di MC*’ ke akun tersebut, yang membuat gw kembali tersenyum karena gaya bahasa nya lumayan berantakan..
Selepas itu, gw menyalin baju koko dengan kaus singlet bergambar tengkorak dan memakai sweater hitam kumal sebagai luarannya.. Gw membuka sarung, menggantinya dengan celana pendek hitam serta sepasang sepatu conver*e berwarna sama tanpa kaus kaki.. Lalu, menelpon Bimo untuk meminta bantuan Rampak Tantra.. Gw sempat pula mengirimkan pesan WA ke Ibu, untuk memberitahu bahwa malam ini gw akan menginap di rumah Bimo.. Meski dalam hati, gw merasa menyesal telah membohongi Beliau..
“Bantuan apa yang kau ingin kan dariku, titisan Jagat Tirta?” Tanya Rampak Tantra yang tiba-tiba muncul di belakang gw..
Gw tersenyum lega melihat kedatangan sosok tinggi besar dengan seluruh tubuh tertutupi bulu panjang nan kasar..
“Bantu aku untuk pergi ke sebuah tempat, Rampak Tantra” Pinta gw dengan penuh harap..
“Bayangkan saja tempat yang ingin kau datangi.. Aku akan membawa mu kesana, titisan Jagat Tirta”
Gw mengangguk faham.. Lalu mengantungi CD Rom berisi empat part cerita yang belum gw edit.. Kedua mata gw mulai terpejam begitu merasakan tangan berjari jemari besar dan berbulu panjang mulai memegangi bahu kanan.. Tak lama kemudian, telinga gw menangkap suara beberapa orang berbicara dan suara lagu yang cukup keras mengalun..
“Bukalah mata mu, titisan Jagat Tirta” Ucap Rampak Tantra yang langsung gw turuti..
Pandangan gw menangkap suasana sebuah kamar mandi cukup bersih yang nampak kosong.. Ternyata, Rampak Tantra telah memindahkan gw ke tempat yang gw bayangkan dalam benak.. Gw segera menutupi kepala dengan hoodie sweater hitam, untuk menyamarkan wajah agar tidak ada yang mengenali..
“Rampak Tantra, bisakah kau membuat aura ku menjadi lebih tegas hingga mampu menggetarkan hati seseorang saat aku berucap atau saat aku memandang?” Pinta gw yang dibalas dengan anggukan kepala Jin Penjaga nya Bimo..
Tanpa mengeluarkan suara apapun, Rampak Tantra langsung memegang kepala gw yang tertutupi hoodie sweater.. Bulu-bulu tangannya yang panjang nampak menjuntai persis di depan wajah gw.. Perlahan-lahan, hawa hangat mengalir dari telapak tangan Rampak Tantra dan merasuk ke dalam ubun-ubun.. Beberapa detik kemudian, Jin Penjaga nya Bimo itu menarik tangannya dari atas kepala gw, sebagai pertanda telah selesai meluluskan permintaan gw barusan..
“Terima Kasih, Rampak Tantra.. Jika berkenan, tolong temani aku sebentar untuk menemui seseorang ditempat ini”
Rampak Tantra menganggukkan kepalanya tanda setuju.. Lalu, gw mulai keluar dari dalam kamar mandi dan berjalan menuju sebuah restoran cepat saji.. Tidak banyak pengunjung yang ada di restoran 24 jam itu.. Hanya ada beberapa pasangan muda-mudi didalam restoran tersebut.. Pandangan gw menelisik ketiap penjuru restoran dan terhenti di sosok seorang laki-laki berambut sedikit panjang dengan sweater belang-belang.. Firasat gw mengatakan bahwa sosok tersebut adalah orang yang gw cari untuk dimintakan bantuan.. Dengan cepat, gw berjalan mendekat dan duduk di hadapannya..
“Bang, saya Imam” Ucap gw untuk membuka percakapan sambil menatap tajam ke arah laki-laki yang berusia sekitar 30 tahunan itu..
Sosok tersebut nampak kaget tertegun dan sempat menatap wajah gw.. Lalu, menundukan kepala dengan sendirinya setelah melihat gw menatap tajam.. Gw tersenyum kecil menyadari bantuan Rampak Tantra ternyata berhasil.. Cukup lama gw tidak menerima jawaban apapun dari lisan laki-laki itu.. Akhirnya, gw mengambil CD Rom dari kantung sweater dan menyodorkannya ke depan laki-laki tersebut..
“Di dalem CD ini ada empat part cerita saya.. Tolong di edit dan apdet di akun Kaskus saya.. Password akun nya nanti saya kirim lewat PM ke akun ente, bang.. Saya dan ketiga saudara akan melawan Jin kuat nanti malam, dan ga tau sampe kapan.. Mohon do’a nya ya, Bang”
Si laki-laki berkulit sawo matang itu mengangkat kepalanya lagi dan menatap gw cukup lama..
“Gan, soal pertanyaan ane waktu itu gimana?” Tanya nya dengan wajah penasaran..
Sebenarnya gw sempat merasa terusik mendengar ucapan laki-laki itu, yang terasa kurang tepat disaat seperti ini.. Sambil menatap nya kembali dengan tajam, gw mulai bangkit..
“Maaf, bang.. Saya ga ada waktu lagi.. Tolong jangan pernah ceritakan apapun tentang saya, atau Sekar bakal saya suruh gangguin abang” Ancam gw dengan nada suara pelan namun terdengar tegas..
Pandangan gw melirik ke arah Rampak Tantra yang masih melayang diluar restoran.. Dan menyuruh Jin Penjaga nya Ridho itu melayang mendekati laki-laki yang masih ada di hadapan gw.. Laki-laki tersebut nampak terkejut dengan wajah seketika pucat sambil memegangi tengkuk leher, saat Rampak Tantra sudah melayang persis di belakangnya.. Tanpa mengucapkan apapun, gw pergi meninggalkan laki-laki tersebut yang sempat mengangguk-anggukkan kepala beberapa kali dengan wajah masih menyiratkan ketakutan..
Dikamar, jam dinding sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh lewat, saat sosok Rampak Tantra sudah menghilang untuk kembali ke Bimo.. Gw mengambil Hp dan mengirimkan password akun Kaskus gw lewat PM ke akun laki-laki tadi, sambil menegaskan kembali permintaan gw, sekaligus memohon do’a.. Beberapa pesan WA dari Ibu juga telah diterima di Hp.. Isinya mengatakan bahwa acara lamaran berjalan lancar dan sekarang sedang dalam perjalanan pulang.. Satu pesan lagi dari Ibu yang membuat gw sedikit resah.. Beliau meminta gw untuk tidak menginap di rumah Bimo.. Dengan berat hati, gw membalas pesan Ibu bahwa ada sesuatu hal sangat penting yang harus gw lakukan dan memohon do’a pada beliau.. Kemudian, gw mematikan HP dan memanggil nama asli Ki Purwagalih..
Sosok bergamis putih dengan aura kesaktian cukup tinggi, seketika muncul di hadapan gw.. Lamat-lamat, gw menangkap suara mesin mobil dari arah luar rumah.. Kedua mata gw membesar karena merasa yakin bahwa rombongan yang telah melamar Anggie, telah tiba di rumah..
“Eyang, bawa diriku sekarang juga dari sini” Pinta gw yang dibalas dengan anggukan kepala Beliau..
Kedua mata gw terbuka dan mendapati diri telah berada di puncak sebuah gunung.. Kepulan asap kelabu berbau belerang, yang memenuhi udara disekitar terasa menusuk indera penciuman dan membuat dada menjadi sesak.. Meski sebagian besar asap itu memang membumbung tinggi keatas, tapi tetap saja abu vulkanik yang melayang terbawa asap memperpendek jarak pandang.. Tapi anehnya, tidak ada satu pun dari abu tersebut yang menempel di sweater yang gw kenakan..
“Kita telah memasuki sisi gaib gunung ini.. Semua benda kasar yang nampak nyata, tidak akan menyakiti meski kau masih menggunakan tubuh kasar mu, Ngger.. Hanya udara yang bisa masuk ke sisi gaib tempat yang kita pijak saat ini”
Pantas saja abu vulkanik berwarna kelabu yang terlihat jatuh dari langit itu terasa transparan.. Namun sayangnya, meskipun abu tidak menganggu, tapi asap berbau belerang masih menyesakkan jalan nafas.. Seperti ucapan Ki Purwagalih tadi, hanya udara yang bisa menembus sisi gaib gunung ini.. Gw segera menutup jalan nafas menggunakan lengan sweater dan mengedarkan pandangan ke segala penjuru..
Lapisan kabut asap cukup tebal memaksa gw untuk menggunakan Ajian Tembus Pandang guna menembus pekatnya asap putih bercampur bau belerang, meski masih menutup indera penciuman dengan lengan sweater .. Di sebelah timur, pandangan mata gw menangkap puncak runcing sebuah gunung.. Di barat laut, nampak samar sebuah danau indah.. Sementara, di selatan terlihat kepulauan dan pantai yang tak kalah indahnya.. Sementara, dihadapan gw terbentang tanah tandus dengan batu-batu berbagai ukuran, serta sebuah lubang kawah sangat besar yang mengeluarkan asap tebal..
Gw memang sempat menonton berita di Televisi tentang erupsi yang terjadi digunung ini sejak bulan September tahun lalu.. Bahkan puluhan ribu penduduk yang tinggal dalam radius tidak aman dari lereng kaki gunung, terpaksa diungsikan oleh Pemerintah Daerah setempat.. Gw sama sekali tidak membayangkan akan berada di puncak gunung tersebut, meski di dalam alam yang berbeda.. Pandangan gw sempat menoleh ke arah Ki Purwagalih yang sedang mengeluarkan sesuatu dari balik gamis putihnya..
“Telan biji ini tanpa menarik nafas.. Racun belerang itu tidak akan menganggu nafas mu lagi, Ngger.. Jangan lupa baca Basmallah” Ucap Ki Purwagalih sambil menyodorkan telapak tangan kanannya..
Sebutir biji buah berbentuk pipih seukuran kuku ibu jari berwarna coklat gelap ada di tengah-tengah telapak tangan kanan Ki Purwagalih.. Gw sempat menatapnya untuk sesaat.. Beliau pun tersenyum sambil menganggukkan kepala, seperti meyakinkan gw untuk segera mengambil biji itu.. Tanpa pikir panjang, gw mengambil sebutir biji buah yang baru pertama kali gw lihat.. Dengan membaca kalimat Basmallah dan menahan nafas, gw menelan biji buah tersebut.. Gw sempat bergidik dan menutup mata rapat-rapat, begitu merasakan sensasi rasa pahit teramat sangat di tenggorokan..
“Tingkat kepahitan biji buah itu memang sangat tinggi.. Tapi, khasiatnya berbanding sama dengan pahitnya, Ngger.. Coba lah salurkan tenaga dalam mu ke pusat, sekarang”
Gw menganggukkan kepala sambil menutupi hidung dengan lengan sweater.. Lalu melakukan apa yang disarankan Ki Purwagalih.. Tenaga dalam gw mulai tersalurkan ke pusat.. Secara perlahan, muncul hawa hangat dari dalam tubuh yang terus beredar ke tiap organ..
“Lepaskan lengan mu dari hidung dan coba lah bernafas seperti biasa, Ngger” Saran Ki Purwagalih lagi..
Perlahan, gw melepaskan lengan sweater yang menutupi hidung dan mencoba menarik nafas dalam-dalam.. Ajaib! Udara yang mengalir masuk kedalam rongga hidung dan terus beredar ke paru-paru terasa sangat segar khas nya udara pegunungan.. Sama sekali tidak ada aroma belerang yang menusuk dan membuat nafas sesak.. Dari samping, Ki Purwagalih nampak membuka sorbannya dan mengibaskan benda tersebut sambil berputar ke segala arah.. Gelombang udara aneh seketika muncul dari kibasan sorban Ki Purwagalih dan memudarkan tebalnya kabut asap, sehingga menjadikan pandangan mata bisa menatap jelas ke segala penjuru.. Dan aneh nya lagi, kepulan asap kelabu yang keluar dari dalam lubang kawah langsung membumbung tinggi ke atas, tanpa sempat menyebar ke samping seperti sebelumnya.. Seolah, ada kekuatan gaib yang meluruskan kepulan asap itu menuju angkasa raya..
Baru saja gw ingin menanyakan perihal sosok-sosok lain, tiba-tiba Ki Purwagalih memegang bahu kanan gw..
“AWW!!”
Suara pekikan gw terdengar bersamaan dengan mengelaknya tubuh gw dari pegangan telapak tangan Ki Purwagalih, yang terasa sangat panas dibahu kanan.. Padahal, bahu gw terlapisi kaus singlet dan sweater hitam.. Namun, rasa panas tadi seolah menembus dua pakaian yang melindungi tubuh dari hawa dingin pegunungan.. Kening gw berkerut menatap heran atas tindakan yang barusan dilakukan Ki Purwagalih.. Tapi, sosok berwajah tenang itu malah melemparkan senyumannya..
“Aku hanya memberi sedikit hawa murni ku ke Pedang Jagat Samudera yang ada di bahu kanan mu, Ngger”
Gw tertegun menatap Ki Purwagalih yang malah membalikkan tubuh sesudah berucap demikian.. Tatapan gw membesar begitu melihat Sekar dan sosok Kakek Tua bergamis putih dengan senjata andalannya yaitu sebilah tongkat berwarna sama, muncul lima tombak di belakang Ki Purwagalih.. Gw langsung berlari menyongsong kedatangan dua sosok yang sempat gw fikir tidak akan datang membantu..
“Sekar.. Ki ****” Sapa gw dengan kedua mata berbinar senang..
Sekar nampak mengulum senyuman getir, lalu melempar pandangan ke arah Ki Purwagalih sambil meanganggukkan kepala tanda memberi salam hormat.. Mungkin Sekar masih ngambek atas ucapan gw tempo hari yang telah menyinggung perasaannya.. Gw segera meraih tangan kanan Jin Penjaga nya Reinata yang tersenyum ramah, kemudian menciumnya penuh hormat..
“Alhamdulillah, kalian berdua akhirnya mau membantu ku” Ucap gw ke arah Sekar dan Jin Penjaga nya Reinata..
“Meski pun aku masih kesal dengan perkataan mu kemarin, tapi aku tidak akan meninggalkan pemuda sembrono seperti mu, Kang Mas” Jawab Sekar dengan wajah sedikit masam..
“Kalian selesaikan dahulu masalah pribadi.. Aku akan menyapa sahabat lama nan gagah di sebelah sana” Kata Jin Penjaga nya Reinata seraya melempar senyum ke arah Ki Purwagalih..
Sosok bergamis sama warna dengan Ki Purwagalih itu melayang cepar menghampiri sahabatnya.. Kemudian mereka berdua saling berpelukan hangat seperti dua karib yang baru bertemu setelah ratusan tahun terpisah.. Gw yang ditinggal berdua bersama Sekar, melirik ke arah Jin cantik itu..
“Sekar.. Maaf kan aku yang telah menyakiti hati mu dengan lidah ku.. Aku benar-benar menyesal telah mengatakan semua”
“Aku memang menunggu kau mengakui kesilapanmu, Kang Mas.. Tapi, aku juga meminta maaf karena telah meninggalkan mu.. Ada satu hal penting yang ingin ku katakan kepada mu tentang gadis bernama Reinata”
Kening gw berkerut mendengar kalimat Sekar yang membawa-bawa nama Reinata.. Apakah dia sempat menemui gadis itu atau mungkin tahu tentang apa yang telah di lakukan Reinata terhadap gw?
“Sebelum tiba disini, aku dipanggil Ki ****.. Beliau menceritakan apa yang telah dilakukan gadis yang ia jaga terhadap mu.. Amarah ku sempat terpancing, namun begitu mendengar pengakuan sekaligus permintaan maaf dari mulut gadis itu sendiri, aku pun terpaksa meredam kekesalan.. Aku juga sangat terkejut saat gadis itu meminta ku untuk menggunakan Ajian Puter Angen pada dirinya”
Kedua mata gw membesar karena kaget akan penuturan Sekar barusan.. Reinata, mengapa dia sampai nekat meminta Sekar untuk menggunakan Ajian Puter Angen pada dirinya sendiri? Apa keputusannya itu ada hubungannya dengan gw?
“Benar, Kang Mas.. Gadis itu terlalu mencintai mu, hingga beberapa kali berbuat nekat akibat dibutakan perasaannya kepada mu.. Dia meminta ku menggunakan Ajian Puter Angen guna menghapus semua bayangan dirimu dalam benaknya.. Jadi, sekarang kau hanya lah orang asing dimata Reinata.. Seiring dengan lenyap nya semua perasaan cinta dan kenangan dalam benak serta hati gadis itu terhadap dirimu”
Gw tertegun menatap wajah Sekar dengan pandangan tak berkedip.. Benak gw teringat akan ucapan Reinata sebelum gw pergi dari apartemen sepupunya siang tadi.. Jadi ini yang gadis itu maksud dengan kemantapan hati untuk mengambil keputusan sendiri.. Lalu, pelukan yang sempat ia minta pun merupakan pelukan terakhir nya, sebagai seorang gadis yang sangat mencintai gw..
“Kang Mas, lihat lah.. Bala bantuan untuk mengalahkan Braja Krama sudah mulai tiba” Ucap Sekar sambil tersenyum senang dengan tatapan mata berbinar..
Gw cukup terkejut mendengar ucapan Ki Purwagalih, lalu melirik ke arah jam tangan yang baru menunjukkan pukul delapan malam lewat empat puluh menit..
“Tapi, Eyang.. Tengah malam masih beberapa jam lagi baru tiba.. Mengapa terburu-buru? Apakah Eyang merasakan firasat buruk?” Tanya gw penasaran, sambil berharap jawaban Ki Purwagalih nanti bukan lah sesuatu hal yang tidak gw inginkan..
“Tidak, Ngger.. Aku hanya ingin kita tiba lebih dulu dan mengatur pasukan.. Sekaligus menyiapkan strategi untuk melawan Braja Krama”
Gw tertegun mendengarkan ucapan Ki Purwagalih.. Lalu melirik diam-diam ke arah laptop.. Benak gw teringat akan jadwal rutin mempostkan apdetan terbaru untuk thread gw di Kaskus.. Gw memang sudah berjanji jika tidak ada kesibukan berarti di RL, tiap hari gw akan memposting apdetan paling sedikitnya satu.. Namun, sepertinya gw harus menunda kegiatan rutin tersebut dan mengecewakan para pembaca thread gw di Kaskus.. Mengingat rencana Ki Purwagalih juga terdengar sangat penting..
“Jika kau harus melakukan sesuatu yang jauh lebih penting, sebaiknya kau tunaikan saja dahulu niat mu, Ngger.. Lagipula, tidak baik mengecewakan orang banyak yang mengharapkan sesuatu dari mu”
Kedua mata gw membesar mendengar ucapan Ki Purwagalih.. Gw sempat lupa jika di hadapan gw saat ini sedang berdiri sesosok Jin dengan kekuatan cukup tinggi, yang bisa begitu mudah menelisik isi benak.. Dengan perasaan sedikit ragu, gw berniat mengutarakan sebuah permintaan ke Ki Purwagalih..
“Jika diperbolehkan, aku ingin meminta waktu untuk memenuhi janji ku, Eyang.. Saat aku sudah siap, aku akan memanggil nama mu guna membawa ku ke tempat yang dipilih Braja Krama.. Itu pun jika dirimu berkenan, Eyang” Pinta gw dengan sangat hati-hati, karena takut terkesan memerintah Beliau..
Ki Purwagalih tersenyum sambil mengusap-usap jenggotnya dan menganggukkan kepala.. Lalu, pandangannya melirik juga ke arah laptop yang sempat gw pandangi secara diam-diam..
“Baiklah.. Jika kau merasa sudah siap, cukup panggil saja nama asli ku, Ngger.. Akan tetapi, satu hal yang harus ku cam kan pada mu.. Jangan pernah menyebutkan nama asli kami dalam cerita yang kau buat.. Karena tidak menutup kemungkinan ada orang berilmu diluar sana, yang bisa membaca tulisan mu dan mencoba mencari tahu tentang kami”
Gw tertegun mendengar ucapan Ki Purwagalih yang mengandung ancaman didalamnya.. Untungnya, sesuai kesepakatan antara gw dan ketiga saudara serta permintaan Sekar, gw memang tidak pernah menyebutkan nama asli dari tiap tokoh gaib yang ada disini..
“Baik, Eyang.. Aku mengerti akan wejangan mu.. Terima kasih telah memahami keadaan ku.. Aku tidak akan pernah melanggar yang telah kau cam kan tadi” Ucap gw dengan wajah tertunduk..
Ki Purwagalih sendiri kembali mengulum senyuman bijaknya.. Lalu melayang menghilang menembus dinding kamar.. Gw segera mengambil laptop pembelian mendiang Ayah ke atas meja belajar.. Kemudian menyalakan benda itu sambil membakar sebatang rokok.. Sementara laptop masih loading, gw membuka dua daun jendela dan mematikan AC didalam kamar.. Agar udara malam yang masuk dari luar, bisa menetralisir asap beracun yang mulai berhembus keluar dari mulut gw..
Gw sempat termenung memikirkan langkah apa yang akan gw lakukan sebelum memposting sebuah apdetan terbaru di Kaskus.. Setelah berfikir dan menimbang dalam benak sendiri dengan cukup alot.. Akhirnya gw memutuskan untuk meminta bantuan ke seorang Reader.. Gw mengaktifkan hotspot di Hp dan membuka akun thread gw di situs Kaskus.. Kemudian, membuka sub menu New Private Message untuk mencari tahu siapa saja yang pernah mengirimkan pertanyaan konyol atau hanya sekedar berkenalan dan ngajak ngupi bareng..
Hampir lima belas menit gw membuka kembali satu persatu dari isi inbox Private Message, hingga akhirnya gw tergelitik akan permintaan nyeleneh satu akun atas nama Agan alikubro.. Dari isi PM nya yang panjang dansangat berbelit-belit, menandakan bahwa agan yang satu ini masalahnya cukup rumit dan membuat pusing gw sendiri.. Gw bahkan sempat tertawa saat melihat inti permintaannya yang cukup aneh namun kocak.. Entah mengapa, gw pun positif akan memilih si Agan alikubro..
Sebuah PM gw kirim kan ke akun itu.. Isinya untuk mengajak bertemu langsung dengan gw di salah satu Mall di dekat Pesantren Al Hamidi*ah Depok.. Lalu meminimize situs Kaskus dan membuka MS Word yang berisi kumpulan pengalaman pribadi gw dan ketiga saudara.. Gw membuang rokok keluar jendela dan mulai mengedit satu part cerita dari kelima bagian, yang salah satunya gw langsung posting sebagai apdetan terbaru.. Setelah itu, gw mangambil CD RW di atas meja belajar dan memburning empat cerita terakhir yang belum di edit dalam kepingan..
Sebuah postingan lain gw buat untuk mengabarkan ke para pembaca kisah.. Tentang perasaan gw yang ragu apakah akan bisa meneruskan cerita atau tidak.. Karena yang gw hadapi kali ini benar-benar akan menentukan kehidupan gw.. Baik itu sebagai anak yatim seorang Ibunda, sebagai salah satu bagian dari ketiga saudara, seorang abang dari gadis yang sedang beranjak remaja dan sebagai seorang pecinta yang sebentar lagi akan membuktikan seberapa besar pengorbanan yang harus gw pertaruhkan demi sang kekasih hati..
Gw sempat membuka kembali sub menu New Private Message dan mendapati satu pesan pribadi terbaru dari akun seorang reader yang gw pilih.. Dia menyetujui permintaan gw untuk bertemu.. Gw langsung membalas dengan kalimat ‘15 menit dari sekarang di MC*’ ke akun tersebut, yang membuat gw kembali tersenyum karena gaya bahasa nya lumayan berantakan..
Selepas itu, gw menyalin baju koko dengan kaus singlet bergambar tengkorak dan memakai sweater hitam kumal sebagai luarannya.. Gw membuka sarung, menggantinya dengan celana pendek hitam serta sepasang sepatu conver*e berwarna sama tanpa kaus kaki.. Lalu, menelpon Bimo untuk meminta bantuan Rampak Tantra.. Gw sempat pula mengirimkan pesan WA ke Ibu, untuk memberitahu bahwa malam ini gw akan menginap di rumah Bimo.. Meski dalam hati, gw merasa menyesal telah membohongi Beliau..
“Bantuan apa yang kau ingin kan dariku, titisan Jagat Tirta?” Tanya Rampak Tantra yang tiba-tiba muncul di belakang gw..
Gw tersenyum lega melihat kedatangan sosok tinggi besar dengan seluruh tubuh tertutupi bulu panjang nan kasar..
“Bantu aku untuk pergi ke sebuah tempat, Rampak Tantra” Pinta gw dengan penuh harap..
“Bayangkan saja tempat yang ingin kau datangi.. Aku akan membawa mu kesana, titisan Jagat Tirta”
Gw mengangguk faham.. Lalu mengantungi CD Rom berisi empat part cerita yang belum gw edit.. Kedua mata gw mulai terpejam begitu merasakan tangan berjari jemari besar dan berbulu panjang mulai memegangi bahu kanan.. Tak lama kemudian, telinga gw menangkap suara beberapa orang berbicara dan suara lagu yang cukup keras mengalun..
“Bukalah mata mu, titisan Jagat Tirta” Ucap Rampak Tantra yang langsung gw turuti..
Pandangan gw menangkap suasana sebuah kamar mandi cukup bersih yang nampak kosong.. Ternyata, Rampak Tantra telah memindahkan gw ke tempat yang gw bayangkan dalam benak.. Gw segera menutupi kepala dengan hoodie sweater hitam, untuk menyamarkan wajah agar tidak ada yang mengenali..
“Rampak Tantra, bisakah kau membuat aura ku menjadi lebih tegas hingga mampu menggetarkan hati seseorang saat aku berucap atau saat aku memandang?” Pinta gw yang dibalas dengan anggukan kepala Jin Penjaga nya Bimo..
Tanpa mengeluarkan suara apapun, Rampak Tantra langsung memegang kepala gw yang tertutupi hoodie sweater.. Bulu-bulu tangannya yang panjang nampak menjuntai persis di depan wajah gw.. Perlahan-lahan, hawa hangat mengalir dari telapak tangan Rampak Tantra dan merasuk ke dalam ubun-ubun.. Beberapa detik kemudian, Jin Penjaga nya Bimo itu menarik tangannya dari atas kepala gw, sebagai pertanda telah selesai meluluskan permintaan gw barusan..
“Terima Kasih, Rampak Tantra.. Jika berkenan, tolong temani aku sebentar untuk menemui seseorang ditempat ini”
Rampak Tantra menganggukkan kepalanya tanda setuju.. Lalu, gw mulai keluar dari dalam kamar mandi dan berjalan menuju sebuah restoran cepat saji.. Tidak banyak pengunjung yang ada di restoran 24 jam itu.. Hanya ada beberapa pasangan muda-mudi didalam restoran tersebut.. Pandangan gw menelisik ketiap penjuru restoran dan terhenti di sosok seorang laki-laki berambut sedikit panjang dengan sweater belang-belang.. Firasat gw mengatakan bahwa sosok tersebut adalah orang yang gw cari untuk dimintakan bantuan.. Dengan cepat, gw berjalan mendekat dan duduk di hadapannya..
“Bang, saya Imam” Ucap gw untuk membuka percakapan sambil menatap tajam ke arah laki-laki yang berusia sekitar 30 tahunan itu..
Sosok tersebut nampak kaget tertegun dan sempat menatap wajah gw.. Lalu, menundukan kepala dengan sendirinya setelah melihat gw menatap tajam.. Gw tersenyum kecil menyadari bantuan Rampak Tantra ternyata berhasil.. Cukup lama gw tidak menerima jawaban apapun dari lisan laki-laki itu.. Akhirnya, gw mengambil CD Rom dari kantung sweater dan menyodorkannya ke depan laki-laki tersebut..
“Di dalem CD ini ada empat part cerita saya.. Tolong di edit dan apdet di akun Kaskus saya.. Password akun nya nanti saya kirim lewat PM ke akun ente, bang.. Saya dan ketiga saudara akan melawan Jin kuat nanti malam, dan ga tau sampe kapan.. Mohon do’a nya ya, Bang”
Si laki-laki berkulit sawo matang itu mengangkat kepalanya lagi dan menatap gw cukup lama..
“Gan, soal pertanyaan ane waktu itu gimana?” Tanya nya dengan wajah penasaran..
Sebenarnya gw sempat merasa terusik mendengar ucapan laki-laki itu, yang terasa kurang tepat disaat seperti ini.. Sambil menatap nya kembali dengan tajam, gw mulai bangkit..
“Maaf, bang.. Saya ga ada waktu lagi.. Tolong jangan pernah ceritakan apapun tentang saya, atau Sekar bakal saya suruh gangguin abang” Ancam gw dengan nada suara pelan namun terdengar tegas..
Pandangan gw melirik ke arah Rampak Tantra yang masih melayang diluar restoran.. Dan menyuruh Jin Penjaga nya Ridho itu melayang mendekati laki-laki yang masih ada di hadapan gw.. Laki-laki tersebut nampak terkejut dengan wajah seketika pucat sambil memegangi tengkuk leher, saat Rampak Tantra sudah melayang persis di belakangnya.. Tanpa mengucapkan apapun, gw pergi meninggalkan laki-laki tersebut yang sempat mengangguk-anggukkan kepala beberapa kali dengan wajah masih menyiratkan ketakutan..
Dikamar, jam dinding sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh lewat, saat sosok Rampak Tantra sudah menghilang untuk kembali ke Bimo.. Gw mengambil Hp dan mengirimkan password akun Kaskus gw lewat PM ke akun laki-laki tadi, sambil menegaskan kembali permintaan gw, sekaligus memohon do’a.. Beberapa pesan WA dari Ibu juga telah diterima di Hp.. Isinya mengatakan bahwa acara lamaran berjalan lancar dan sekarang sedang dalam perjalanan pulang.. Satu pesan lagi dari Ibu yang membuat gw sedikit resah.. Beliau meminta gw untuk tidak menginap di rumah Bimo.. Dengan berat hati, gw membalas pesan Ibu bahwa ada sesuatu hal sangat penting yang harus gw lakukan dan memohon do’a pada beliau.. Kemudian, gw mematikan HP dan memanggil nama asli Ki Purwagalih..
Sosok bergamis putih dengan aura kesaktian cukup tinggi, seketika muncul di hadapan gw.. Lamat-lamat, gw menangkap suara mesin mobil dari arah luar rumah.. Kedua mata gw membesar karena merasa yakin bahwa rombongan yang telah melamar Anggie, telah tiba di rumah..
“Eyang, bawa diriku sekarang juga dari sini” Pinta gw yang dibalas dengan anggukan kepala Beliau..
Kedua mata gw terbuka dan mendapati diri telah berada di puncak sebuah gunung.. Kepulan asap kelabu berbau belerang, yang memenuhi udara disekitar terasa menusuk indera penciuman dan membuat dada menjadi sesak.. Meski sebagian besar asap itu memang membumbung tinggi keatas, tapi tetap saja abu vulkanik yang melayang terbawa asap memperpendek jarak pandang.. Tapi anehnya, tidak ada satu pun dari abu tersebut yang menempel di sweater yang gw kenakan..
“Kita telah memasuki sisi gaib gunung ini.. Semua benda kasar yang nampak nyata, tidak akan menyakiti meski kau masih menggunakan tubuh kasar mu, Ngger.. Hanya udara yang bisa masuk ke sisi gaib tempat yang kita pijak saat ini”
Pantas saja abu vulkanik berwarna kelabu yang terlihat jatuh dari langit itu terasa transparan.. Namun sayangnya, meskipun abu tidak menganggu, tapi asap berbau belerang masih menyesakkan jalan nafas.. Seperti ucapan Ki Purwagalih tadi, hanya udara yang bisa menembus sisi gaib gunung ini.. Gw segera menutup jalan nafas menggunakan lengan sweater dan mengedarkan pandangan ke segala penjuru..
Lapisan kabut asap cukup tebal memaksa gw untuk menggunakan Ajian Tembus Pandang guna menembus pekatnya asap putih bercampur bau belerang, meski masih menutup indera penciuman dengan lengan sweater .. Di sebelah timur, pandangan mata gw menangkap puncak runcing sebuah gunung.. Di barat laut, nampak samar sebuah danau indah.. Sementara, di selatan terlihat kepulauan dan pantai yang tak kalah indahnya.. Sementara, dihadapan gw terbentang tanah tandus dengan batu-batu berbagai ukuran, serta sebuah lubang kawah sangat besar yang mengeluarkan asap tebal..
Gw memang sempat menonton berita di Televisi tentang erupsi yang terjadi digunung ini sejak bulan September tahun lalu.. Bahkan puluhan ribu penduduk yang tinggal dalam radius tidak aman dari lereng kaki gunung, terpaksa diungsikan oleh Pemerintah Daerah setempat.. Gw sama sekali tidak membayangkan akan berada di puncak gunung tersebut, meski di dalam alam yang berbeda.. Pandangan gw sempat menoleh ke arah Ki Purwagalih yang sedang mengeluarkan sesuatu dari balik gamis putihnya..
“Telan biji ini tanpa menarik nafas.. Racun belerang itu tidak akan menganggu nafas mu lagi, Ngger.. Jangan lupa baca Basmallah” Ucap Ki Purwagalih sambil menyodorkan telapak tangan kanannya..
Sebutir biji buah berbentuk pipih seukuran kuku ibu jari berwarna coklat gelap ada di tengah-tengah telapak tangan kanan Ki Purwagalih.. Gw sempat menatapnya untuk sesaat.. Beliau pun tersenyum sambil menganggukkan kepala, seperti meyakinkan gw untuk segera mengambil biji itu.. Tanpa pikir panjang, gw mengambil sebutir biji buah yang baru pertama kali gw lihat.. Dengan membaca kalimat Basmallah dan menahan nafas, gw menelan biji buah tersebut.. Gw sempat bergidik dan menutup mata rapat-rapat, begitu merasakan sensasi rasa pahit teramat sangat di tenggorokan..
“Tingkat kepahitan biji buah itu memang sangat tinggi.. Tapi, khasiatnya berbanding sama dengan pahitnya, Ngger.. Coba lah salurkan tenaga dalam mu ke pusat, sekarang”
Gw menganggukkan kepala sambil menutupi hidung dengan lengan sweater.. Lalu melakukan apa yang disarankan Ki Purwagalih.. Tenaga dalam gw mulai tersalurkan ke pusat.. Secara perlahan, muncul hawa hangat dari dalam tubuh yang terus beredar ke tiap organ..
“Lepaskan lengan mu dari hidung dan coba lah bernafas seperti biasa, Ngger” Saran Ki Purwagalih lagi..
Perlahan, gw melepaskan lengan sweater yang menutupi hidung dan mencoba menarik nafas dalam-dalam.. Ajaib! Udara yang mengalir masuk kedalam rongga hidung dan terus beredar ke paru-paru terasa sangat segar khas nya udara pegunungan.. Sama sekali tidak ada aroma belerang yang menusuk dan membuat nafas sesak.. Dari samping, Ki Purwagalih nampak membuka sorbannya dan mengibaskan benda tersebut sambil berputar ke segala arah.. Gelombang udara aneh seketika muncul dari kibasan sorban Ki Purwagalih dan memudarkan tebalnya kabut asap, sehingga menjadikan pandangan mata bisa menatap jelas ke segala penjuru.. Dan aneh nya lagi, kepulan asap kelabu yang keluar dari dalam lubang kawah langsung membumbung tinggi ke atas, tanpa sempat menyebar ke samping seperti sebelumnya.. Seolah, ada kekuatan gaib yang meluruskan kepulan asap itu menuju angkasa raya..
Baru saja gw ingin menanyakan perihal sosok-sosok lain, tiba-tiba Ki Purwagalih memegang bahu kanan gw..
“AWW!!”
Suara pekikan gw terdengar bersamaan dengan mengelaknya tubuh gw dari pegangan telapak tangan Ki Purwagalih, yang terasa sangat panas dibahu kanan.. Padahal, bahu gw terlapisi kaus singlet dan sweater hitam.. Namun, rasa panas tadi seolah menembus dua pakaian yang melindungi tubuh dari hawa dingin pegunungan.. Kening gw berkerut menatap heran atas tindakan yang barusan dilakukan Ki Purwagalih.. Tapi, sosok berwajah tenang itu malah melemparkan senyumannya..
“Aku hanya memberi sedikit hawa murni ku ke Pedang Jagat Samudera yang ada di bahu kanan mu, Ngger”
Gw tertegun menatap Ki Purwagalih yang malah membalikkan tubuh sesudah berucap demikian.. Tatapan gw membesar begitu melihat Sekar dan sosok Kakek Tua bergamis putih dengan senjata andalannya yaitu sebilah tongkat berwarna sama, muncul lima tombak di belakang Ki Purwagalih.. Gw langsung berlari menyongsong kedatangan dua sosok yang sempat gw fikir tidak akan datang membantu..
“Sekar.. Ki ****” Sapa gw dengan kedua mata berbinar senang..
Sekar nampak mengulum senyuman getir, lalu melempar pandangan ke arah Ki Purwagalih sambil meanganggukkan kepala tanda memberi salam hormat.. Mungkin Sekar masih ngambek atas ucapan gw tempo hari yang telah menyinggung perasaannya.. Gw segera meraih tangan kanan Jin Penjaga nya Reinata yang tersenyum ramah, kemudian menciumnya penuh hormat..
“Alhamdulillah, kalian berdua akhirnya mau membantu ku” Ucap gw ke arah Sekar dan Jin Penjaga nya Reinata..
“Meski pun aku masih kesal dengan perkataan mu kemarin, tapi aku tidak akan meninggalkan pemuda sembrono seperti mu, Kang Mas” Jawab Sekar dengan wajah sedikit masam..
“Kalian selesaikan dahulu masalah pribadi.. Aku akan menyapa sahabat lama nan gagah di sebelah sana” Kata Jin Penjaga nya Reinata seraya melempar senyum ke arah Ki Purwagalih..
Sosok bergamis sama warna dengan Ki Purwagalih itu melayang cepar menghampiri sahabatnya.. Kemudian mereka berdua saling berpelukan hangat seperti dua karib yang baru bertemu setelah ratusan tahun terpisah.. Gw yang ditinggal berdua bersama Sekar, melirik ke arah Jin cantik itu..
“Sekar.. Maaf kan aku yang telah menyakiti hati mu dengan lidah ku.. Aku benar-benar menyesal telah mengatakan semua”
“Aku memang menunggu kau mengakui kesilapanmu, Kang Mas.. Tapi, aku juga meminta maaf karena telah meninggalkan mu.. Ada satu hal penting yang ingin ku katakan kepada mu tentang gadis bernama Reinata”
Kening gw berkerut mendengar kalimat Sekar yang membawa-bawa nama Reinata.. Apakah dia sempat menemui gadis itu atau mungkin tahu tentang apa yang telah di lakukan Reinata terhadap gw?
“Sebelum tiba disini, aku dipanggil Ki ****.. Beliau menceritakan apa yang telah dilakukan gadis yang ia jaga terhadap mu.. Amarah ku sempat terpancing, namun begitu mendengar pengakuan sekaligus permintaan maaf dari mulut gadis itu sendiri, aku pun terpaksa meredam kekesalan.. Aku juga sangat terkejut saat gadis itu meminta ku untuk menggunakan Ajian Puter Angen pada dirinya”
Kedua mata gw membesar karena kaget akan penuturan Sekar barusan.. Reinata, mengapa dia sampai nekat meminta Sekar untuk menggunakan Ajian Puter Angen pada dirinya sendiri? Apa keputusannya itu ada hubungannya dengan gw?
“Benar, Kang Mas.. Gadis itu terlalu mencintai mu, hingga beberapa kali berbuat nekat akibat dibutakan perasaannya kepada mu.. Dia meminta ku menggunakan Ajian Puter Angen guna menghapus semua bayangan dirimu dalam benaknya.. Jadi, sekarang kau hanya lah orang asing dimata Reinata.. Seiring dengan lenyap nya semua perasaan cinta dan kenangan dalam benak serta hati gadis itu terhadap dirimu”
Gw tertegun menatap wajah Sekar dengan pandangan tak berkedip.. Benak gw teringat akan ucapan Reinata sebelum gw pergi dari apartemen sepupunya siang tadi.. Jadi ini yang gadis itu maksud dengan kemantapan hati untuk mengambil keputusan sendiri.. Lalu, pelukan yang sempat ia minta pun merupakan pelukan terakhir nya, sebagai seorang gadis yang sangat mencintai gw..
“Kang Mas, lihat lah.. Bala bantuan untuk mengalahkan Braja Krama sudah mulai tiba” Ucap Sekar sambil tersenyum senang dengan tatapan mata berbinar..
Diubah oleh juraganpengki 28-03-2018 22:56
dodolgarut134 dan 14 lainnya memberi reputasi
15