- Beranda
- Stories from the Heart
Diary Seorang Penjahat Kelamin
...
TS
masukcombera
Diary Seorang Penjahat Kelamin

Kenalan dulu.
Quote:
Lanjut disitu adalah kenangan saat saya sedang making lovedengan seorang wanita yang janjinya nggak bakal making love sebelum dia menikmati malam pertama dengan suami barunya, tapi kalau sudah soal kebutuhan seksual, siapa sihh yang bisa janji. Tepat sekali, siapa lagi kalau bukan Seira, partner in sex terbaik yang saya temukan di balik kelas dua keen saat masih berada di SMA. Dialah.., si seksi Seira Subrata, TTM saya yang paling juara.
Quote:
Note: Anggap aja ini kisah fiksi... biar nggak ribet mikirnya he-he-he

• $ • $ • $ •
INDEX
Kalo mampir kesini, sering² cek indeks aja kalo mau liat update...
Spoiler for Index:
Side Story
Spoiler for Side Story:
Kalau suka, SUBSCRIBE. SHARE. Cendol dan RATE 5 nya jangan lupa gansist...
Diubah oleh masukcombera 03-08-2021 17:58
c4punk1950... dan 8 lainnya memberi reputasi
9
85.5K
395
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
masukcombera
#169
Side Story — A Sacred Land to Live
Pagi ini saya terbangun, saya kembali bermimpi aneh, sudah beberapa kali sejak dua tahun yang lalu saya memiliki mimpi mimpi yang aneh ini, menganggu tidak, hanya saja membuat saya berpikir karena mengalaminya, saat menoleh, jam masih menunjukkan pukul tiga pagi.
Tinggal sendiri memanglah tidak mudah, terkadang saya selalu merenung, memikirkan mengapa keadaan saya sekarang adalah satuan yang berbeda dari keadaan dari sekian banyak orang di dunia ini, termasuk karakter setiap orang, hal unik yang mengundang senyum saya saat menikmati memperhatikan setiap orang dalam kehidupan ini.
Saya sekarang sudah menjadi seorang orphan, hidup sendiri tidaklah mudah, jauh dari kata gampang—karena selama ini yang saya tahu, saya dididik untuk selalu berkomunikasi secara kontinyu dengan kedua orang tua saya, Babap dan Inang, yang sesekali masih terselip kangen akan kehadiran mereka dalam hari hari saya.
Selain itu, saya nggak biasa masuk kedalam kehidupan seseorang untuk menetapkan sebuah tujuan, atau hanya tetap menjadi orang yang mereka kenal, kecuali dengan beberapa pengecualian, saya bisa mengenal orang tersebut bertahun tahun lamanya...
Dan saya memang membutuhkan hal seperti itu untuk benar benar memiliki hubungan dengan seseorang, entah itu teman, atau jenis hubungan berkualitas yang lainnya.
Sejak tadi, saya hanya memperhatikan lampu statis dari penghangat udara di ruangan ini, saya udah nggak bisa bayangin lagi gimana rasanya tinggal di Bandung bagian utara dengan temperatur udaranya yang juga sebenarnya, tidak terlalu bersahabat, disini cuacanya terlalu dingin.
Di jajaran Sersan Bajuri, Lembang dan daerah yang dekat dengan gunung Tangkuban Parahu—suhu disini bisa dibilang sangat ekstrim untuk ukuran suatu negara beriklim tropis. Suhu setelah tengah malam bisa mencapai lima belas derajat celcius dan masih agak sama hingga fajar menjelang tiba.
Saya tinggal disini, di sebuah desa yang jauh dari hiruk pikuk pusat kota Bandung. — Sudah sekitar dua tahun yang lalu saya pindah kesini, karena dari kecil saya selalu bercita cita tinggal di dataran Bandung yang lebih tinggi, yang ketika malam hari tiba, saya bisa melihat lelampuan kota dari patio dirumah saya.
Alasan kedua, karena saya adalah mahluk penyendiri, when it comes to personal escape, saya bisa seperti ikan yang berada di atas laut kalau saat ingin bernafas/beristirahat saja masih banyak kegaduhan yang menganggu.
Percaya sama saya, rumah babap dan Inang yang ada di perumahan² itu gaduhnya minta ampun, saya nggak bisa tahan dengan skejul party tetangga saya yang setiap malam bisa diadakan, dan gonggongan anjing² peliharaan mereka.
Skenario membangun rumah saya ini sebetulnya… sudah saya rencanakan dengan matang sejak bertahun tahun yang lalu, karena saya juga kembali mengatur ulang rencananya saat saya masuk ke jenjang pendidikan strata satu, sambil kerja, saya mengatur anggaran untuk mewujudkan rencana saya seorang diri.
Tentunya keinginan saya akan hal ini sudah saya komunikasikan dengan Babap dan Inang sejak saat itu pula, mereka bilang saya bisa ambil beberapa dari aset mereka, unfortunately saya menolak, karena kalau sudah punya, ngapain minta lagi.
Membeli tanah di daerah ini saat tahun dua ribu sepuluh itu ibarat membeli sebuah motor baru dengan kapasitas enam ratus CC.
Harganya berkisar 320 jutaan, tahun itu saya strike dengan tabungan saham saya di sekuritas yang sudah saya tabung sejak saya masih SMP, tabungan yang sudah menganggur terlalu lama—saya gunakan untuk membeli tanah disana.
Cuma anak bawang... gak banyak, apalagi jika dibandingkan dengan net worth milik kedua orang tua saya—tertotal. Saya cuma bisa beli kurang dari dua puluh tumbak, harga satu tumbak tanah pada saat itu masih berada di angka dua puluh juta per tumbaknya, satu tumbak (tumbak, istilah orang orang di jawa barat untuk ranah jual beli pertanahan) berjumlah empat belas meter persegi pas, jadi total luas tanah yang saya beli itu jumlahnya dua ratus delapan puluh meter persegi.
Sekedar mengingat, momen di hari saya membeli tanah, setelah dinyatakan lulus dari SMA, hari itu saya bergegas mencari tanah ditemani paman saya, mang Keiton, adik Babap yang paling bontot—pria uberseksual yang menularkan virus gentleman traits nya terhadap saya, hahah, si brengsek, bajingan metropolitan yang berdansa di era kehidupan modern ini.
Sore itu matahari nampak begitu jingga, semilir angin begitu terasa, aroma keharuman hijaunya pedesaan seperti menerima kehadiran saya dengan ramah, di atas tanah ini saya berdiri, menghirup kenikmatan sejati yang disediakan oleh bumi parahyangan..., untuk memulai kehidupan...
Di kejauhan, saya menyaksikan mang Keiton—saya melihatnya sedang melakukan negosiasi dengan sang tuan tanah yang juga adalah seorang juragan di wilayah ini, beliau adalah Bapak Kartasasmitha—nampaknya kesepakatan sudah dibuat, jam menunjukkan pukul setengah empat petang.
Ketika itu, ada perasaan yang sungguh menenangkan melihat murninya skenario alam pedesaan di sekitar sini…
Ditambah perasaan lega karena saya baru lulus SMA… Well, SMA, sebuah fase yang menjadi reward dan hadiah buat saya, masa masa dimana dedikasi saya untuk bersekolah dan menuntut ilmu didalemnya memang jatuhnya, nggak sia sia… mungkin karena suasana sekolah yang klasik, saya susah lupa akan kenangan kenangan di sekolah saya dulu.
Saya sekolah di SMA mawar, anak hitsBandung yang sering mondar mandir di daerah R.E martadinata udah pasti hafal sama sekolah ini.
Ah, sudah lama sejak saya dinyatakan lulus, rasanya saya tetap rindu semuanya bagian dari sekolah saya.
Temen temennya, gurunya, pak… guru sosiologi… bu guru… bahasa Indonesia, Bahasa Sunda, Bahasa Inggris, Jerman, Prancis, school lessons nya, anak² osisnya, momen momen salah satunya adalah momen panik kalo ujian bakal dilaksanakan! Juga tongkrongannya… yang dibelakang gedung sekolah kita itu, semuanya.
Terlebih lagi prom night party kami terakhir, it rocks! waktu itu saya inget Studio East masih megah berdiri di jalan Cihampelas, saham nya punya rekan dari orang tua saya yang cukup well known di daerah itu—sekarang, udah kemana itu tempat—juga ada Xanadu, di braga, salah satu sejarah yang terhapus, pasti bakal bikin senyum² sendiri buat readers yang pernah melancong ke tempat² itu.
Pagi ini dinginnya tak terelakkan, badan saya juga agak sedikit sakit karena habis melakukan beberapa pull up kemarin malam, akhirnya, saya beranjak dari kasur untuk menghidupkan perapian di halaman rumah. Di daerah ini, saya belum punya tetangga. Sebetulnya ada, tapi mungkin belum tepat menyebutnya tetangga, karena jarak rumahnya dengan jarak rumah saya terhitung beberapa meter jauhnya.
Setelah menghidupkan bara api, saya duduk dan menghangatkan tubuh di sampingnya, sembari melihat langit, saya nge beer seperti biasa, kemudian saya kembali termenung... terbang ke alam kontemplasi, sesekali terdengar suara jangkrik berbunyi.
Disana, saya mengingat beberapa kenakalan yang pernah saya lakukan bertahun tahun yang lalu, sambil tertawa kecil, saya kembali meneguk russian river yang bisa menghangatkan tubuh saya.
....
“Ahah, ahah, ayooo lanjut.”
“Aw! Maddie…..”
“Bzzh, lagi dong!”
Lanjut disitu adalah kenangan saat saya sedang making love dengan seorang wanita yang janjinya nggak bakal making love sebelum dia menikmati malam pertama dengan suami barunya, tapi kalau sudah soal kebutuhan seksual, siapa sihh yang bisa janji—tepat sekali, siapa lagi kalau bukan Seira, partner in sex terbaik yang saya temukan di balik kelas dua keen saat masih berada di SMA. Dialah.., si seksi Seira Subrata, TTM saya yang paling juara.
“Kotoran banteng suami suami, elu nggak perlu kehadiran status sosial yang bernama suami buat kebutuhan seksual, sini, gue triple D elu sekarang juga!"
"Whewww, Maddie!"
“Hhaahh, sst! Lanjut…”
“Ah… ah, ah.”
Buat yang biasa menuntaskan kewajiban seksual, Anda pasti paham apa itu triple d, uh… triple D itu adalah sex term untuk proses hubungan intim yang mencapai klimaks terbaiknya, triple D itu western term yang disingkat dari dirty dirty dallas, you shit, cum, and puke at once.
Bercanda, intinya Anda orgasme dalam tiga waktu sekaligus. Bagus, bukan? Well then come to my house, I’ll serve you in hell.
Bercanda, bercanda.
....
“Den Maddie, nuju naon den?” (lagi ngapain?) ucap seseorang.
“Who are you, grinch!?” respon saya terkejut.
“Eh, pa oyo, naha aya didieu? (Eh, pak oyo, kenapa ada disini?)” ucap saya lagi, setelah sadar kalau orang ini adalah pak oyo.
Tiba tiba pak oyo muncul dan mengagetkan saya. My lord...
PVJ, 2010
Tinggal sendiri memanglah tidak mudah, terkadang saya selalu merenung, memikirkan mengapa keadaan saya sekarang adalah satuan yang berbeda dari keadaan dari sekian banyak orang di dunia ini, termasuk karakter setiap orang, hal unik yang mengundang senyum saya saat menikmati memperhatikan setiap orang dalam kehidupan ini.
Saya sekarang sudah menjadi seorang orphan, hidup sendiri tidaklah mudah, jauh dari kata gampang—karena selama ini yang saya tahu, saya dididik untuk selalu berkomunikasi secara kontinyu dengan kedua orang tua saya, Babap dan Inang, yang sesekali masih terselip kangen akan kehadiran mereka dalam hari hari saya.
Selain itu, saya nggak biasa masuk kedalam kehidupan seseorang untuk menetapkan sebuah tujuan, atau hanya tetap menjadi orang yang mereka kenal, kecuali dengan beberapa pengecualian, saya bisa mengenal orang tersebut bertahun tahun lamanya...
Dan saya memang membutuhkan hal seperti itu untuk benar benar memiliki hubungan dengan seseorang, entah itu teman, atau jenis hubungan berkualitas yang lainnya.
Sejak tadi, saya hanya memperhatikan lampu statis dari penghangat udara di ruangan ini, saya udah nggak bisa bayangin lagi gimana rasanya tinggal di Bandung bagian utara dengan temperatur udaranya yang juga sebenarnya, tidak terlalu bersahabat, disini cuacanya terlalu dingin.
Di jajaran Sersan Bajuri, Lembang dan daerah yang dekat dengan gunung Tangkuban Parahu—suhu disini bisa dibilang sangat ekstrim untuk ukuran suatu negara beriklim tropis. Suhu setelah tengah malam bisa mencapai lima belas derajat celcius dan masih agak sama hingga fajar menjelang tiba.
Saya tinggal disini, di sebuah desa yang jauh dari hiruk pikuk pusat kota Bandung. — Sudah sekitar dua tahun yang lalu saya pindah kesini, karena dari kecil saya selalu bercita cita tinggal di dataran Bandung yang lebih tinggi, yang ketika malam hari tiba, saya bisa melihat lelampuan kota dari patio dirumah saya.
Alasan kedua, karena saya adalah mahluk penyendiri, when it comes to personal escape, saya bisa seperti ikan yang berada di atas laut kalau saat ingin bernafas/beristirahat saja masih banyak kegaduhan yang menganggu.
Percaya sama saya, rumah babap dan Inang yang ada di perumahan² itu gaduhnya minta ampun, saya nggak bisa tahan dengan skejul party tetangga saya yang setiap malam bisa diadakan, dan gonggongan anjing² peliharaan mereka.
Skenario membangun rumah saya ini sebetulnya… sudah saya rencanakan dengan matang sejak bertahun tahun yang lalu, karena saya juga kembali mengatur ulang rencananya saat saya masuk ke jenjang pendidikan strata satu, sambil kerja, saya mengatur anggaran untuk mewujudkan rencana saya seorang diri.
Tentunya keinginan saya akan hal ini sudah saya komunikasikan dengan Babap dan Inang sejak saat itu pula, mereka bilang saya bisa ambil beberapa dari aset mereka, unfortunately saya menolak, karena kalau sudah punya, ngapain minta lagi.
Membeli tanah di daerah ini saat tahun dua ribu sepuluh itu ibarat membeli sebuah motor baru dengan kapasitas enam ratus CC.
Harganya berkisar 320 jutaan, tahun itu saya strike dengan tabungan saham saya di sekuritas yang sudah saya tabung sejak saya masih SMP, tabungan yang sudah menganggur terlalu lama—saya gunakan untuk membeli tanah disana.
Cuma anak bawang... gak banyak, apalagi jika dibandingkan dengan net worth milik kedua orang tua saya—tertotal. Saya cuma bisa beli kurang dari dua puluh tumbak, harga satu tumbak tanah pada saat itu masih berada di angka dua puluh juta per tumbaknya, satu tumbak (tumbak, istilah orang orang di jawa barat untuk ranah jual beli pertanahan) berjumlah empat belas meter persegi pas, jadi total luas tanah yang saya beli itu jumlahnya dua ratus delapan puluh meter persegi.
Sekedar mengingat, momen di hari saya membeli tanah, setelah dinyatakan lulus dari SMA, hari itu saya bergegas mencari tanah ditemani paman saya, mang Keiton, adik Babap yang paling bontot—pria uberseksual yang menularkan virus gentleman traits nya terhadap saya, hahah, si brengsek, bajingan metropolitan yang berdansa di era kehidupan modern ini.
• $ • $ • $ •
Sore itu matahari nampak begitu jingga, semilir angin begitu terasa, aroma keharuman hijaunya pedesaan seperti menerima kehadiran saya dengan ramah, di atas tanah ini saya berdiri, menghirup kenikmatan sejati yang disediakan oleh bumi parahyangan..., untuk memulai kehidupan...
Di kejauhan, saya menyaksikan mang Keiton—saya melihatnya sedang melakukan negosiasi dengan sang tuan tanah yang juga adalah seorang juragan di wilayah ini, beliau adalah Bapak Kartasasmitha—nampaknya kesepakatan sudah dibuat, jam menunjukkan pukul setengah empat petang.
Ketika itu, ada perasaan yang sungguh menenangkan melihat murninya skenario alam pedesaan di sekitar sini…
Ditambah perasaan lega karena saya baru lulus SMA… Well, SMA, sebuah fase yang menjadi reward dan hadiah buat saya, masa masa dimana dedikasi saya untuk bersekolah dan menuntut ilmu didalemnya memang jatuhnya, nggak sia sia… mungkin karena suasana sekolah yang klasik, saya susah lupa akan kenangan kenangan di sekolah saya dulu.
Saya sekolah di SMA mawar, anak hitsBandung yang sering mondar mandir di daerah R.E martadinata udah pasti hafal sama sekolah ini.
Ah, sudah lama sejak saya dinyatakan lulus, rasanya saya tetap rindu semuanya bagian dari sekolah saya.
Temen temennya, gurunya, pak… guru sosiologi… bu guru… bahasa Indonesia, Bahasa Sunda, Bahasa Inggris, Jerman, Prancis, school lessons nya, anak² osisnya, momen momen salah satunya adalah momen panik kalo ujian bakal dilaksanakan! Juga tongkrongannya… yang dibelakang gedung sekolah kita itu, semuanya.
Terlebih lagi prom night party kami terakhir, it rocks! waktu itu saya inget Studio East masih megah berdiri di jalan Cihampelas, saham nya punya rekan dari orang tua saya yang cukup well known di daerah itu—sekarang, udah kemana itu tempat—juga ada Xanadu, di braga, salah satu sejarah yang terhapus, pasti bakal bikin senyum² sendiri buat readers yang pernah melancong ke tempat² itu.
• $ • $ • $ •
Pagi ini dinginnya tak terelakkan, badan saya juga agak sedikit sakit karena habis melakukan beberapa pull up kemarin malam, akhirnya, saya beranjak dari kasur untuk menghidupkan perapian di halaman rumah. Di daerah ini, saya belum punya tetangga. Sebetulnya ada, tapi mungkin belum tepat menyebutnya tetangga, karena jarak rumahnya dengan jarak rumah saya terhitung beberapa meter jauhnya.
Setelah menghidupkan bara api, saya duduk dan menghangatkan tubuh di sampingnya, sembari melihat langit, saya nge beer seperti biasa, kemudian saya kembali termenung... terbang ke alam kontemplasi, sesekali terdengar suara jangkrik berbunyi.
Disana, saya mengingat beberapa kenakalan yang pernah saya lakukan bertahun tahun yang lalu, sambil tertawa kecil, saya kembali meneguk russian river yang bisa menghangatkan tubuh saya.
....
“Ahah, ahah, ayooo lanjut.”
“Aw! Maddie…..”
“Bzzh, lagi dong!”
Lanjut disitu adalah kenangan saat saya sedang making love dengan seorang wanita yang janjinya nggak bakal making love sebelum dia menikmati malam pertama dengan suami barunya, tapi kalau sudah soal kebutuhan seksual, siapa sihh yang bisa janji—tepat sekali, siapa lagi kalau bukan Seira, partner in sex terbaik yang saya temukan di balik kelas dua keen saat masih berada di SMA. Dialah.., si seksi Seira Subrata, TTM saya yang paling juara.
“Kotoran banteng suami suami, elu nggak perlu kehadiran status sosial yang bernama suami buat kebutuhan seksual, sini, gue triple D elu sekarang juga!"
"Whewww, Maddie!"
“Hhaahh, sst! Lanjut…”
“Ah… ah, ah.”
Buat yang biasa menuntaskan kewajiban seksual, Anda pasti paham apa itu triple d, uh… triple D itu adalah sex term untuk proses hubungan intim yang mencapai klimaks terbaiknya, triple D itu western term yang disingkat dari dirty dirty dallas, you shit, cum, and puke at once.
Bercanda, intinya Anda orgasme dalam tiga waktu sekaligus. Bagus, bukan? Well then come to my house, I’ll serve you in hell.
Bercanda, bercanda.
....
“Den Maddie, nuju naon den?” (lagi ngapain?) ucap seseorang.
“Who are you, grinch!?” respon saya terkejut.
“Eh, pa oyo, naha aya didieu? (Eh, pak oyo, kenapa ada disini?)” ucap saya lagi, setelah sadar kalau orang ini adalah pak oyo.
Tiba tiba pak oyo muncul dan mengagetkan saya. My lord...
PVJ, 2010
Diubah oleh masukcombera 27-03-2018 20:55
1
