- Beranda
- Stories from the Heart
Burung Kertas Merah Muda
...
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
chrishana
#42
Chapter 14
Nasib sial menimpa Rendy. Saat ini, Rendy sedang menjalani sidang keduanya di ruang kesiswaan dengan kasus perkelahian dengan Mario, mantan pacar dari Rheva Rahmadhani.
Bel pulang sekolah sudah berbunyi, tetapi Rendy masih ada di ruang BP bersama Mario dan Rheva, selaku saksi perkelahian. Tampak pula ayah dari Mario di sana. Tak lama kemudian, papa dari Rendy pun tiba dengan menggunakan kemeja dan dasi yang rapih serta jas hitam.
Suasana berubah menjadi sedikit tenang. Rendy, Rheva dan Mario diminta untuk menjelaskan perkara yang terjadi. Tidak ada kebohongan di antara mereka bertiga. Rendy pun menceritakan apa yang dia lakukan terhadap Mario hingga babak belur.
Setelah berdiskusi panjang, akhirnya Rendy dan yang lain bisa keluar dari ruangan itu. Ruangan yang menakutkan bagi seluruh siswa di sini. Nampak ekspresi wajah yang kecewa terpancar dari raut muka Pak Bram dan Mario. Bu Tati sudah benar memberikan solusi yang tidak memihak.
Papa kembali masuk ke mobilnya dan berangkat menuju kantornya kembali. Sedangkan Rendy harus naik untuk mengambil peralatan sekolahnya yang masih tertinggal di dalam kelas. Sesampainya di dalam kelas, Rendy sedikit kaget karena mendapati murid perempuan berhijab putih masih duduk ditempatnya.
Rendy dan Anna keluar dari kelas bersama-sama. Mereka berdua berjalan dengan perlahan menuju tempat di mana motor kesayangan Rendy diparkirkan. Sambil berjalan, Rendy mencoba memulai percakapan hanya untuk sekedar berbasa-basi.
Tiba-tiba, jantung Rendy berdebar setelah mendengar kalimat yang diucapkan oleh Anna. Sama persis dengan isi kalimat yang ada di burung kertas berwarna merah muda.
Bel pulang sekolah sudah berbunyi, tetapi Rendy masih ada di ruang BP bersama Mario dan Rheva, selaku saksi perkelahian. Tampak pula ayah dari Mario di sana. Tak lama kemudian, papa dari Rendy pun tiba dengan menggunakan kemeja dan dasi yang rapih serta jas hitam.
“Ada masalah apa sih kamu, Ren?” tanya Papa.
“Begini, Pa. Aku...”
“Lihat perbuatan anak anda! Anak saya babak belur begini! Pokoknya saya mau anak ini dikeluarkan dari sekolah!” ayahnya Mario memotong pembicaraan dan berkata dengan nada keras sambil menunjuk Rendy.
“Iya saya tau, Pak. Tapi, saya ingin dengar penjelasan dari anak saya. Tolong tenang dulu, Pak.” ujar Papa Rendy. “Ayo, Ren. Jelasin ke Papa sekarang.”
“Aku cuma nolongin Rheva, Pa. Masa aku diem aja liat Rheva dikasarin. Mana HPnya Rheva rusak dibanting dia.” ujar Rendy.
“Rheva, tolong ceritakan gimana kamu saat itu.” ibu Tati selaku guru bimbingan kesiswaan meminta Rheva bercerita.
“Apa yang dibilang Rendy itu benar, Bu. Mario maksa saya pacaran sama dia tapi saya gak mau. Pada saat itu, aku hubungin Rendy. HP saya langsung dibanting sama Mario. Lagian, Mario duluan yang mukul Rendy tapi Rendy bisa menghindar.” Rheva menjelaskan dengan suara pelan dan bergetar.
“Ya, pokoknya saya mau anak ini dikeluarkan!” ayahnya Mario berdiri dan berkata dengan suara yang keras.
“Anak saya gak salah, Pak! Anak anda aja yang payah! Masa berantem sama anak saya aja kalah! Beraninya sama perempuan!” papanya Rendy pun tak mau kalah.
“Pak Win dan Pak Bram, tolong tenang dulu! Kita cari solusinya sama-sama.” ujar Bu Tati untuk meredam emosi papanya Rendy dan ayahnya Mario.
“Loh, saya kan sudah bilang! Keluarin aja anak ini dari sekolah!” ujar ayahnya Mario.
“Memang anda siapa disini main atur anak saya harus dikeluarkan?” papa Rendy bertanya.
“Saya yang punya yayasan disini!” ujar ayah Mario dengan sombongnya.
“Oh, gitu. Kalau anak saya dikeluarkan, saya beli yayasanmu! Kalau perlu, harga diri anakmu saya bayar! Berani kok sama perempuan.”
“Pak, tolong sabar. Kita selesaikan masalah ini baik-baik. Silahkan duduk kembali.” ujar Bu Tati yang terlihat kebingungan.
“Ini Pak Bram, ayah dari Mario yang punya yayasan disini.” Bu Tati memperkenalkan ayah Mario kepada papa Rendy. “Pak, Bram. Ini Pak Winarto Nugroho. Beliau ini founderdari Nugroho Groups, yang bergerak dibidang kontraktor dan pengembang itu loh, Pak.” ujar Bu Tati kepada Pak Bram.
“Begini, Pa. Aku...”
“Lihat perbuatan anak anda! Anak saya babak belur begini! Pokoknya saya mau anak ini dikeluarkan dari sekolah!” ayahnya Mario memotong pembicaraan dan berkata dengan nada keras sambil menunjuk Rendy.
“Iya saya tau, Pak. Tapi, saya ingin dengar penjelasan dari anak saya. Tolong tenang dulu, Pak.” ujar Papa Rendy. “Ayo, Ren. Jelasin ke Papa sekarang.”
“Aku cuma nolongin Rheva, Pa. Masa aku diem aja liat Rheva dikasarin. Mana HPnya Rheva rusak dibanting dia.” ujar Rendy.
“Rheva, tolong ceritakan gimana kamu saat itu.” ibu Tati selaku guru bimbingan kesiswaan meminta Rheva bercerita.
“Apa yang dibilang Rendy itu benar, Bu. Mario maksa saya pacaran sama dia tapi saya gak mau. Pada saat itu, aku hubungin Rendy. HP saya langsung dibanting sama Mario. Lagian, Mario duluan yang mukul Rendy tapi Rendy bisa menghindar.” Rheva menjelaskan dengan suara pelan dan bergetar.
“Ya, pokoknya saya mau anak ini dikeluarkan!” ayahnya Mario berdiri dan berkata dengan suara yang keras.
“Anak saya gak salah, Pak! Anak anda aja yang payah! Masa berantem sama anak saya aja kalah! Beraninya sama perempuan!” papanya Rendy pun tak mau kalah.
“Pak Win dan Pak Bram, tolong tenang dulu! Kita cari solusinya sama-sama.” ujar Bu Tati untuk meredam emosi papanya Rendy dan ayahnya Mario.
“Loh, saya kan sudah bilang! Keluarin aja anak ini dari sekolah!” ujar ayahnya Mario.
“Memang anda siapa disini main atur anak saya harus dikeluarkan?” papa Rendy bertanya.
“Saya yang punya yayasan disini!” ujar ayah Mario dengan sombongnya.
“Oh, gitu. Kalau anak saya dikeluarkan, saya beli yayasanmu! Kalau perlu, harga diri anakmu saya bayar! Berani kok sama perempuan.”
“Pak, tolong sabar. Kita selesaikan masalah ini baik-baik. Silahkan duduk kembali.” ujar Bu Tati yang terlihat kebingungan.
“Ini Pak Bram, ayah dari Mario yang punya yayasan disini.” Bu Tati memperkenalkan ayah Mario kepada papa Rendy. “Pak, Bram. Ini Pak Winarto Nugroho. Beliau ini founderdari Nugroho Groups, yang bergerak dibidang kontraktor dan pengembang itu loh, Pak.” ujar Bu Tati kepada Pak Bram.
Suasana berubah menjadi sedikit tenang. Rendy, Rheva dan Mario diminta untuk menjelaskan perkara yang terjadi. Tidak ada kebohongan di antara mereka bertiga. Rendy pun menceritakan apa yang dia lakukan terhadap Mario hingga babak belur.
“Jadi begini, dari keterangan yang saya tangkap, saya tidak bisa menyalahkan Rendy sepenuhnya. Karena memang apa yang dilakukan Mario terhadap Rheva memang keterlaluan. Rendy hanya membantu Rheva yang sedang diganggu Mario.”
“Jadi, gimana solusi dari Ibu sendiri?” papanya Rendy bertanya.
“Mario tetap saya skors selama satu minggu. Untuk Rendy, saya gak kasih hukuman apa-apa. Tapi Ren, kamu harus bisa menyelesaikan masalah dengan kepala dingin. Jangan dengan cara kekerasan.” ujar Bu Tati.
“Iya, Bu. Saya akan berusaha.” jawab Rendy.
“Jadi, gimana solusi dari Ibu sendiri?” papanya Rendy bertanya.
“Mario tetap saya skors selama satu minggu. Untuk Rendy, saya gak kasih hukuman apa-apa. Tapi Ren, kamu harus bisa menyelesaikan masalah dengan kepala dingin. Jangan dengan cara kekerasan.” ujar Bu Tati.
“Iya, Bu. Saya akan berusaha.” jawab Rendy.
Setelah berdiskusi panjang, akhirnya Rendy dan yang lain bisa keluar dari ruangan itu. Ruangan yang menakutkan bagi seluruh siswa di sini. Nampak ekspresi wajah yang kecewa terpancar dari raut muka Pak Bram dan Mario. Bu Tati sudah benar memberikan solusi yang tidak memihak.
“Ren, Papa balik ke kantor lagi ya.” ujar papa Rendy seraya menepuk bahu Rendy pelan.
“Iya, Pa.”
“Papa sedikit bangga sama kamu, Ren. Biasanya, orang yang kuat justru menindas yang lemah. Tapi, kamu udah buktiin kalau kamu pun bisa bantu yang lemah.” ujar Papa.
“Kan, Papa yang ngajarin.”
“Kamu hati-hati di jalan ya pulangnya. Papa balik ke kantor lagi.”
“Iya, Pa.”
“Papa sedikit bangga sama kamu, Ren. Biasanya, orang yang kuat justru menindas yang lemah. Tapi, kamu udah buktiin kalau kamu pun bisa bantu yang lemah.” ujar Papa.
“Kan, Papa yang ngajarin.”
“Kamu hati-hati di jalan ya pulangnya. Papa balik ke kantor lagi.”
Papa kembali masuk ke mobilnya dan berangkat menuju kantornya kembali. Sedangkan Rendy harus naik untuk mengambil peralatan sekolahnya yang masih tertinggal di dalam kelas. Sesampainya di dalam kelas, Rendy sedikit kaget karena mendapati murid perempuan berhijab putih masih duduk ditempatnya.
“Belum balik, Na?” tanya Rendy.
“Gue nungguin lo, Ren.”
“Kok nungguin gue?”
“Lo udah janji mau anterin gue pulang sama jemput gue, kan?”
“Oh, ya udah ayo.”
“Gue nungguin lo, Ren.”
“Kok nungguin gue?”
“Lo udah janji mau anterin gue pulang sama jemput gue, kan?”
“Oh, ya udah ayo.”
Rendy dan Anna keluar dari kelas bersama-sama. Mereka berdua berjalan dengan perlahan menuju tempat di mana motor kesayangan Rendy diparkirkan. Sambil berjalan, Rendy mencoba memulai percakapan hanya untuk sekedar berbasa-basi.
“Lo mulai berhijab kapan, Na?” tanya Rendy.
“Waktu selesai MOS. Pas hari pertama resmi pakai seragam putih abu-abu.” jawab Anna.
“Oh, pas insiden lo jatuh dari pagar dan niban gue? Hahahahaha.”
“Iih! Lo ngintip kan, Ren! Ngaku deh!” Anna memukul lengan Rendy dengan pelan.
“Nggak, Na. Sumpah. Gue gak ngeliat celana dalem lo yang belang-belang itu.”
“Belang-belang?” Anna berpikir sejenak mengingat-ingat apa yang ia kenakan saat kejadian. “Kalau lo gak ngintip, kenapa bisa tau motifnya, Rendy!” ujar Anna seraya memukuli Rendy.
“Hahahahaha. Dikit doang, Na.” Rendy menepis pukulan demi pukulan yang dilayangkan Anna.
Suara adzan telah berkumandang. Anna tiba-tiba menghentikan langkahnya dan menarik tangan Rendy. “Eh, udah adzan, Ren. Sholat dulu,yuk!”
“Eh, ya udah. Yuk!”
“Gue belum pernah liat lo sholat di masjid, Ren.” ujar Anna seraya melangkahkan kakinya ke masjid sekolah.
“Hehehehehe, iya. Gue jarang-jarang sholatnya.” Rendy menjawab dengan malu.
“Gak boleh gitu, Ren. Lo itu orang baik. Cowok baik-baik pasti dapat perempuan yang baik-baik juga.”
DEG!
“Sebagai cowok yang baik, lo harus kasih contoh ke calon makmum lo nanti.” tambah Anna.
“Waktu selesai MOS. Pas hari pertama resmi pakai seragam putih abu-abu.” jawab Anna.
“Oh, pas insiden lo jatuh dari pagar dan niban gue? Hahahahaha.”
“Iih! Lo ngintip kan, Ren! Ngaku deh!” Anna memukul lengan Rendy dengan pelan.
“Nggak, Na. Sumpah. Gue gak ngeliat celana dalem lo yang belang-belang itu.”
“Belang-belang?” Anna berpikir sejenak mengingat-ingat apa yang ia kenakan saat kejadian. “Kalau lo gak ngintip, kenapa bisa tau motifnya, Rendy!” ujar Anna seraya memukuli Rendy.
“Hahahahaha. Dikit doang, Na.” Rendy menepis pukulan demi pukulan yang dilayangkan Anna.
Suara adzan telah berkumandang. Anna tiba-tiba menghentikan langkahnya dan menarik tangan Rendy. “Eh, udah adzan, Ren. Sholat dulu,yuk!”
“Eh, ya udah. Yuk!”
“Gue belum pernah liat lo sholat di masjid, Ren.” ujar Anna seraya melangkahkan kakinya ke masjid sekolah.
“Hehehehehe, iya. Gue jarang-jarang sholatnya.” Rendy menjawab dengan malu.
“Gak boleh gitu, Ren. Lo itu orang baik. Cowok baik-baik pasti dapat perempuan yang baik-baik juga.”
DEG!
“Sebagai cowok yang baik, lo harus kasih contoh ke calon makmum lo nanti.” tambah Anna.
Tiba-tiba, jantung Rendy berdebar setelah mendengar kalimat yang diucapkan oleh Anna. Sama persis dengan isi kalimat yang ada di burung kertas berwarna merah muda.
Diubah oleh chrishana 31-03-2018 20:06
jenggalasunyi dan 14 lainnya memberi reputasi
15
Tutup
