Kaskus

Story

juraganpengkiAvatar border
TS
juraganpengki
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)

GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)
Cool Cover By Agan Linbara (Thanks, Bree)..

Prolog

Setelah bangun dari ‘Mati Suri’ karena memutuskan untuk mencoba membunuh diri sendiri untuk melindungi Kitab Langit dan melenyapkan Bayu Ambar, gw kembali ke dunia nyata.. Kehidupan gw sedikit jauh berbeda, karena pengalaman ‘Mati Suri’ itu berefek langsung pada kelebihan yang gw miliki.. Gw masih sama Anggie, meski ujian atas cinta kami masih saja mendera.. Ada musuh baru, tentu saja.. Tapi ada juga sahabat baru yang muncul.. Karena ini akhir dari cerita kami berempat..

Kembalinya Anak Ibu...
Pengorbanan Pedang Jagat Samudera...
Cintai Aku Sewajarnya, Yank...
Matinya Seorang Saudara (Versi Gw/Bimo)
Berkumpul Kembali...
Keanehan Yang Mulai Muncul...
Sambutan Ketiga Saudara Ke Reinata...
Sabar???
Cukup! Tinggalin Aku Sendiri!!!
Siapa Kau???
Aku Ikutin Kemauan Kamu...
Keputusan Sepihak Yang Pahit...
Semua Beban Menjadi satu
Semua Beban Menjadi Satu (2)...
Serangkum Rindu Untuk Ayah...
Munculnya Penguasa Laut Utara...
Bertemunya Dua Penguasa...
Sebuah Kesepakatan...
Ibu Kenapa Yah???
Lu Kenapa, Ka???
Wanted Dead Or Alive.. ANTON!!!
Mo 'Perabotan' Lu Hancur Apa Tanggung Jawab???
It's The End Of Us...
Di Kerjain Ibu...
Ridho!!!
Kelewatan!!!
Munculnya Dua Penjaga Gerbang Kerajaan Laut...
Dewi Arum Kesuma VS Dewi Ayu Anjani
Datangnya Sosok Seorang Pemisah Dan Shock Therapy Buat Gw...
Kerajaan Jin...
Terkuaknya Semua Jawaban...
Maafin Gw, Bree...
Pengakuan Suluh...
Akhirnya Boleh Gondrong...
Pernikahan Kak Silvi Yang Seharusnya Membuat Gw Bahagia...
Pernikahan Kak Silvi Yang seharusnya Membuat Gw Bahagia (2)...
Tunggu Pembalasan Gw!!!...
Ni Mas Linduri dan Banas Ireng...
Dua Sosok Penyelamat Misterius...
Ada Apa Sama Ridho?...
Kesalahan Fatal...
Kembalinya Jin Penjaga Ridho dan Suluh...
Akibat Terlalu Ikut Campur...
Setiap Perbuatan Akan Mendapat Balasan...
Munculnya Viny Dan Sebuah Tantangan Bertarung...
Manusia Cabul...
Suara Penolong Misterius...
Bertemunya Kembali Sepasang Kekasih...
Terkuaknya Kebenaran...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar (2)...
Jaket Dan Celana Jeans Robek Serta Sweater Hitam Kumal...
She's My True Love...
Dilema...
Pertengkaran Dengan Ibu...
Rambe Lantak...
Gendewa Panah Pramesti...
Akan Ku Balaskan Dendam Mu, Arum Kesuma!!!
Yang Hilang dan Yang Kembali...
Jawaban Ayu...
Mati Gw!!!
Aku Makin Sayang...
Nasihat Om Hendra...
Jera Mencuri...
Ajian Segoro Geni...
Pilihan Sulit...
Keputusasaan Anggie...
Kabar Baik dari Ridho dan Suluh...
Perjalanan Menuju Pembalasan Dendam...
Rawa Rontek...
Rawa Rontek 2 (Terbayarnya Dendam)...
Kedatangan Pak Sugi...
Orang Titipan...
Hukuman Paling Berat...
Tidurlah Di Pangkuan Ku...
Menjajal Kesaktian...
Menjajal Kesaktian (2)...
Pengakuan Mengejutkan Babeh Misar...
Pengajaran Ilmu Silat Betawi...
Di Kepret Babeh Misar Lagi...
Tasya...
Naga Caglak dan Bajing Item...
Misteri Sebuah Dendam...
Kekuatan Sejati Kitab Langit Bagian Matahari...
Perpisahan...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera (2)...
Kembalinya Ibu...
Empat Bayangan Hitam...
Siapa Ni Mas Laras Rangkuti???
Dendam Seorang Sahabat...
Ini Keputusan Yang Harus Gw Ambil...
Semua Pengorbanan Ini Demi Ibu...
Rapuh...
Kabar Mengejutkan Sekar dan Sebuah Restu...
Siasat Braja Krama...
Munculnya Kitab Langit...
Si Pembuka Kitab langit dan Sosok Asli Pak Sugi...
Rencana Yang Matang...
Lamaran Pribadi...
Keingintahuan Anggie...
Perubahan Rencana...
Hampir Terjebak...
Kekecewaan Sekar...
Dua Syarat Reinata...
Aku Harap Kamu dan Anggie Bahagia, Mam...
Rahasia Sepasang Suami Isteri...
Menitipkan Amanah...
Berkumpulnya Para Pembela Kitab Langit...
Siasat Ki Purwagalih...
Raja Jin Raja Muslihat (Nyesek, Bree)...
Pertukaran Tawanan...
Perang Gaib PunTak Terelakkan...
Sang Penyelamat Dari Utara...
Pertempuran Awal Dua Penguasa Kerajaan Gaib...
Bertekuk Lututnya Sekutu Braja Krama...
Pertarungan Dua Putera (Gugurnya Satu Sahabat Gaib)...
Krama Raja...
Braja Krama Versus Krama Raja...
Raja Licik...
Aku Lah Sang Pembuka...
Siasat Krama Raja dan Bayu Ambar...
Terbukanya Semua Ilmu Terlarang...
Sebuah Pengecualian...
Sri Baduga Maharaja...
Hilangnya Sebuah Pengecualian...
Hilangnya Sebuah Pengecualian (2)...
Sebuah Pengorbanan...
Pahlawan...
Sumpah...
Ilmu Pamungkas yang Terlarang...
Kabar Yang Mengejutkan...
Pulang...
Pulang (2)...
Sedikit Kisah Rio Sebelum Kisah Ini Tamat...
Terhalang Sumpah...
Bantuan Sahabat Baik...
Bachelor Party...
Keturunan Lain Sang Prabu...
Pembalasan Dendam Singgih...
Sepenggal Kisah Nyi Mas Roro Suwastri...
Tawaran Yang Mengejutkan...
Lawan Atau Kawan???
Terkuaknya Silsilah...
Sebuah Kebenaran...
Sebuah Kebenaran (2)...
Bertemunya Dua Keturunan Sang Prabu...
Pertempuran Dua Hati...
Cinta Pertama VS Cinta Terakhir Jagat Tirta...
Pengakuan Bayu Barata...
Ki Larang dan Nyi Mas Galuh Pandita???
Prana Kusuma...
Kau Benar Keturunan Kami, Ngger...
Our Big Day...
Insiden...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga (2)...
Dua Tamu Istimewa...
Semua Karena Cinta...
Keputusan Sekar Kencana...
Kena Gampar...
Bonyok!!!
RIBET!!!
Berdamai...
Keponakan Baru...
Malam Pertama dan Tiga Keanehan...
Ajian Warisan Para Leluhur (The Last Part/End Of All Chapters)

SIDE STORIES

Keturunan Yang Tersesat...
Keturunan Yang Tersesat (2)...

Diubah oleh juraganpengki 15-07-2018 20:23
uang500ratusAvatar border
devanpancaAvatar border
iskrimAvatar border
iskrim dan 132 lainnya memberi reputasi
127
2.1M
8K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.9KAnggota
Tampilkan semua post
juraganpengkiAvatar border
TS
juraganpengki
#4549

Kekecewaan Sekar...

Wajah Sekar seketika memerah mendengar bentakan gw.. Pandangannya nampak tajam menyorot, beradu dengan kedua mata gw yang melotot.. Pendaran sinar putih berselimut cahaya biru di Pedang Jagat Samudera terlihat semakin terang berpendar, seiring emosi gw yang semakin membuncah..

“Tenangkan dirimu, titisan Jagat Tirta.. Bukan saat nya berfikir dengan kepala dipanasi amarah.. Kau harus mendinginkan pikiran mu sebelum memutuskan sesuatu.. Jangan bertindak gegabah” Ucap Rampak Tantra, yang sama menatap tajam ke gw saat pandangan ini terlempar ke arahnya..

“Diam kau, Rampak Tantra! Aku sama sekali tidak meminta mu untuk ikut campur.. Ini urusan ku dengan Sekar” Bentak gw ke Jin Penjaga nya Bimo, sambil menghunus Pedang Jagat Samudera ke arahnya..

Bimo sendiri nampak langsung memegang lengan kiri Rampak Tantra yang berbulu panjang nan kasar, untuk mencegah Jin Penjaganya itu yang nampak tidak suka dibentak oleh gw..

“Sebagai Jin Penjaga yang bersumpah selalu menuruti perintah ku, seharusnya kau tidak perlu berpikir lama untuk segera membawa ku ke Istana Raja Jin, Sekar Kencana” Ucap gw masih dengan nada tinggi ke Sekar..

Namun, Sekar tetap membungkam mulutnya dan membalikkan tubuh tak mau memandang gw.. Melihat hal itu, gw menelan ludah kekecewaan karena merasa Sekar sama sekali tak mau membantu..

“Jadi benar dugaan ku selama ini terhadap mu, Sekar” Ucap gw lirih dan membuat Sekar kembali memutar tubuh menghadap gw..

“Apa maksud mu, Kang Mas?” Tanya Sekar dengan wajah menyiratkan ketidakfahaman..

Sebuah senyuman dingin tersungging diwajah gw yang menatap Sekar dengan kedua mata nanar.. Lalu menghunus ujung tajam Pedang Jagat Samudera ke arah Jin cantik itu..

“Kau memang tidak suka melihat ku atau pun ketiga saudara ku bahagia.. Kau benci melihat kami mencintai seseorang, iya kan?.. Kenapa? Apa karena kau iri dengan kisah cinta kami yang tidak semanis kisah mu dengan Jagat Tirta sampai kau tidak mau mem....

PLAKKKK!!!!

Tubuh gw seketika terhuyung-huyung kesamping hampir terjatuh, begitu terkena tamparan keras Sekar yang datangnya secepat kilat dan memotong kalimat.. Dengan cepat gw menguasai diri dan langsung melempar pandangan ke arah Sekar..

DEG..

Jantung gw terasa melambatkan detakannya, begitu melihat sosok Sekar.. Jin cantik itu nampak menatap nanar tak berkedip ke arah gw dengan kedua mata dibanjiri air mata.. Pandangannya yang menyiratkan kepiluan hati teramat sangat, terasa menusuk lubuk jiwa ini..

“Tutup mulut mu, anak muda.. Jangan buat aku menyesali keputusan untuk menjadi Jin Penjaga mu” Ucap Sekar dengan suara bergetar menahan emosi..

Gw yang mendengar Sekar berucap tanpa memanggil Kang Mas seperti biasa, hanya bisa terdiam.. Terlebih rasa sakit akibat tamparannya diwajah, seakan mengembalikan kesadaran gw yang beberapa saat lalu meracau hingga melukai perasaan Sekar.. Sempat gw melempar pandangan ke arah Bimo dan Rampak Tantra.. Pada masing-masing wajah kedua sosok lain alam itu, nampak masih menyisakan sisa raut keterkejutan..

“Kau tidak akan mampu melalui apa yang sudah aku lewati.. Rasa sakit yang mendera dirimu sangat tidak sebanding dengan rasa pedihku.. Aku memang merasa janggal melihat kau bermesraan dengan kekasihmu, karena selalu teringat akan sosok suamiku.. Tapi bukan berarti aku tidak menghendaki kalian bahagia.. Aku memang bersumpah untuk menjadi Jin Penjaga mu, namun aku tidak akan menuruti perintah mu yang dipengaruhi amarah.. Aku tanya padamu, kesaktian apa yang kau miliki hingga membuat mu yakin mampu melenyapkan Braja Krama? Apa kau pikir dengan Tapak Jagat dan Pedang sakti serta luapan amarah buta bisa membunuh angkara murka? Tidak!!! Itu sama artinya dengan kau menyerahkan nyawa”

Ucapan Sekar yang lebih cenderung ke arah bentakan itu, terasa lebih sakit menampar sekaligus meluluh lantakkan ego gw.. Terlebih, suaranya yang bergetar karena luapan emosi diiringi linangan airmata deras, membuat gw tertegun tak mampu mengucapkan apapun.. Tiap-tiap kalimat yang terlontar dari lisan Jin cantik itu juga langsung meresap menusuk kalbu..

Gw tertegun menatap Sekar yang tiba-tiba melesat pergi dengan sangat cepat meninggalkan kami semua.. Sepertinya ucapan gw tadi benar-benar melukai perasaan Sekar.. Rasa bersalah pun mulai terbit direlung hati.. Seiring semakin bertambahnya beban pikiran.. Bimo yang nampak diam berdiri bersebelahan dengan Rampak Tantra, terlihat mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah gw.. Lalu merangkulkan tangan nya diatas bahu gw dan mengajak untuk segera pulang dengan bantuan Rampak Tantra.. Sebelum pergi, gw sempat mengutarakan permintaan maaf ke Jin penjaganya Bimo yang membalas dengan anggukan kepala..

Pandangan gw menatap kosong ke arah foto Anggie di Hp yang ada dalam pegangan dua telapak tangan.. Benak terus dihantui rasa takut dan cemas akan keselamatan gadis itu.. Seharusnya gw bisa melindungi nya sebelum semua ini terjadi.. Karena keteledoran gw, Anggie sampai bisa ditawan oleh Braja Krama.. Entah dengan cara apa gw bisa menyelamatkan Anggie?

“ANGGIIIIEE!!!”

Suara teriakan gw yang tanpa sengaja mengandung tenaga dalam memanggil nama Anggie, menggema diseantero Gunung Gede.. Membuat hewan-hewan bersayap penghuni hutan terbang ketakutan.. Lalu dengan kedua mata yang sudah basah, gw jatuh berlutut menengadahkan wajah menatap langit.. Tatapan mata gw seakan mengadu pada angkasa tentang nasib kekasih hati yang saat ini sedang berada dalam cengkraman Angkara Murka.. Berharap langit menyampaikan linangan air mata seorang pecinta yang kehilangan kekasihnya pada semesta..

“Aku mohon, berikan petunjuk mu, Yaa Rabb” Pinta gw sepenuh hati, disusul kedua mata yang terpejam menitikkan airmata kembali..

Telinga gw mendengar suara langkah dua orang yang mendekat, yang ternyata adalah Bimo dan Ridho bersama Jin Penjaga mereka masing-masing.. Saat ini, kami memang sedang menemani Suluh yang menghadap Penguasa Gunung Gede untuk memohon bantuan Beliau.. Gw sengaja meminta ketiga saudara meninggalkan gw seorang diri di sebuah hutan dikaki Gunung ini.. Mereka awalnya sempat menolak, namun gw terus bersikeras memaksa mereka untuk melanjutkan tugas yang telah di jelaskan Sekar semalam.. Suara langkah kaki Ridho dan Bimo yang sepertinya baru kembali dari tugas masing-masing untuk menemui sosok-sosok gaib yang mau membantu kami menghadapi Braja Krama tengah malam nanti, terdengar semakin mendekat..

Gw segera berdiri, meski tubuh terasa lunglai karena kehilangan semangat hidup.. Ridho yang lebih dahulu tiba disamping, langsung merangkul bahu gw.. Sementara, Bimo mengusap-usap punggung ini..

“Kita duduk lagi di atas kayu sana yuk, Bree ” Ajak Ridho sambil menunjuk ke arah sebuah batang pohon besar yang telah lama tumbang, tempat kami bertiga duduk tadi, sebelum mereka bertiga meninggalkan gw seorang diri..

Gw menganggukkan kepala dan mulai melangkahkan kaki.. Lalu duduk kembali diatas batang pohon, dengan menatap kosong ke dua ekor tupai yang nampak sedang berkejaran memanjat sebuah pohon besar..

“Gw bener-bener ngerasa sendiri, Bree.. Ini semua emang salah gw.. Gara-gara gw, Anggie diculik Braja Krama.. Gara-gara gw, Sekar juga pergi.. Harusnya gw bisa lindungin Anggie.. Seharusnya, gw ga bikin hatinya Sekar terluka.. Helpless banget gw, Bree” Ucap gw lirih sambil terus menatap kosong ke depan..

Ridho terdengar menghela nafasnya panjang.. Lalu, menendang lutut gw menggunakan tumit kaki kirinya..

“Lu anggap kita apaan Bree, kalo masih ngerasa sendiri.. Meski gw, bini gw sama Bimo bukan kakak atau ade kandung lu, tapi hubungan kita jauh lebih deket lebih dari sodara kandung..”

Gw menoleh ke arah Ridho.. Lalu melemparkan senyuman getir atas omongannya yang kali ini terdengar enak di dua telinga, tanpa diselingi canda..

“Ridho bener, Mam.. Kita semua bisa ngerasain gimana cemasnya lu mikirin nasib Anggie.. Yang dibilang Sekar semalem juga bener.. Kalo lu sampe nekat nemuin Braja Krama di Istana Raja Jin tanpa adanya bantuan, itu sama aja lu bunuh diri” Timpal Bimo, yang membuat gw kembali tertegun menyesali segala tuduhan menyakitkan yang membuat Sekar pergi..

“Soal Anggie, kita tunggu nanti malem.. Dan gw yakin, Sekar juga bakal kembali ke lu, Bree.. Oh iya, Dewi Ayu Anjani bersedia bantu kita.. Dia bakal bawa tiga ratus pasukan Kerajaan Laut Selatan” Sambung Ridho yang mengabarkan hasil pertemuannya dengan Pejaga Gerbang Kerajaan Laut Selatan..

“Kalo gw, meski Penguasa Merapi ga turun tangan, tapi tetep ngasih pasukan kek waktu lawan Bayu Ambar” Tambah Bimo..

Gw mengulum senyuman lega mendengar tugas yang telah dijalani Bimo serta Ridho membuahkan hasil.. Tinggal Suluh yang sampai saat ini belum muncul dari puncak Gunung Gede.. Gw harap kabar yang akan dibawa Suluh juga positif.. Semakin banyak sosok gaib yang membantu kami, maka akan lebih siap kami menghadapi Raja Licik Braja Krama..

“Oh iya, Bree.. Soal lamaran lu ke rumah Anggie tetep jadi?” Tanya Ridho yang membuat gw kembali teringat akan rencana itu..

“Abis Sholat Subuh tadi, gw sempet nanya Ibu.. Beliau bilang sih jadi.. Makanya semalem gw minta Bimo bilangin lu, supaya nyuruh Nyai Lingga nyamar jadi Anggie buat sementara.. Gw ga mau ada yang tau kalo saat ini Anggie diculik.. Gw ga mau acara lamaran keluarga gw nanti malam tertunda..Cukup kita aja yang tahu kalo Anggie yang di rumah adalah Nyai Lingga”

Belum lama gw selesai berbicara, Suluh tiba-tiba muncul bersama Nyi Laras Abang.. Ridho yang sedang duduk, segera bangkit dan menyongsong kedatangan isterinya itu..

“Gimana, Yank?” Tanya Ridho sambil menggandeng Suluh yang kemudian duduk di sebelah Bimo..

“Penguasa Gunung Gede tetap ga mau turun tangan langsung.. Beliau cuma ngasih pasukan gaib buat bantuin kita nanti malem” Jawab Suluh yang membuat kami semua sempat saling memandang satu sama lain..

“Alhamdulillah, nambah lagi pasukan yang bakal bantu kita” Kata Ridho yang membuat gw dan Bimo menganggukkan kepala..

“Mam.. Lu juga jangan lupa nemuin Reinata buat minta bantuan Jin Penjaga nya”

Mendengar ucapan Suluh, gw kembali teringat akan kalimat Sekar.. Menurut Kakek Tua Jin Penjaga nya Reinata, gw memang harus meminta izin ke gadis itu meski pun beliau sudah bersedia untuk membantu..

“Ya udah, minta Naga Saksana buat anterin gw balik ke rumah, Bree” Pinta gw yang disambut acungan jempol oleh Ridho..

Sesampainya di kamar bersama, Naga Saksana segera memohon diri untuk kembali ke Ridho.. Gw pun membuka pintu kamar dari dalam dan berjalan menuju dapur.. Disana, Ibu terlihat masih membereskan beberapa parcel yang akan dibawa sebagai buah tangan untuk acara lamaran malam nanti..

“Udah pulang kamu, Bang?” Tanya Ibu sambil menyeka dahi beliau dengan ujung jilbab hitam..

Gw tidak menjawab, namun malah duduk diatas bangku makan dan membuka tudung saji.. Alhamdulillah, masih ada tiga potong roti bakar buatan Ibu yang dibuatnya sebagai menu sarapan hari ini.. Tanpa pikir panjang, langsung gw lahap makanan itu satu persatu..

“Bu, kalo abang ga ikut nanti malam ke rumah Anggie ga apa-apa kan yah?” Tanya gw setelah meneguk segelas air putih..

Ibu yang sedang mengangkat segelas air putih dalam gelas, melirik gw dengan tatapan menyelidik.. Lalu meneguk air yang ada dalam gelas itu untuk menghilangkan dahaga..

“Ga apa-apa sih.. Tapi, kamu mau kemana emang, bang?”

“Abang mo nonton acara musik di kampus, Bu” Jawab gw dengan sebuah alasan yang kedengarannya mungkin masuk akal..

“Ya udah.. Tapi, pulang nya jangan malam-malam.. Oh iya, kamu bilangin Anggie yang datang ke rumahnya nanti malam cuma lima orang.. Ibu takut Mamahnya nyiapin jamuan yang banyak”

Mendengar ucapan Ibu, gw malah tertegun karena kembali teringat akan Anggie.. Gw segera berjalan lagi ke kamar dan mengambil HP.. Seingat gw, ada nomer HP Mamahnya yang tersimpan sebagai kontak di Hp gw.. Sebuah senyuman tersimpul dari wajah gw saat menemukan nama kontak dengan tulisan ‘Mamah Camer’.. Segera gw duduk di atas bangku belajar dan menyentuh gambar gagang telpon di layar Hp untuk melakukan panggilan.. Dua nada panggil terdengar sampai berganti suara seorang wanita memberi salam..

“Waalaikumsalam, ini Imam Tante”

“Alhamdulillah akhirnya kamu telpon Tante juga.. Ada yang mo Tante tanyain ke kamu, Mam” Ucap Mamahnya Anggie..

“Iya, ada apa, Tan?”

“Ini soal Anggie.. Dari bangun tidur dia kelihatannya sedikit aneh.. Kamu masih berantem sama dia?”

Gw terdiam mendengar ucapan Mamahnya Anggie, sampai beliau memanggil nama gw untuk yang kedua kalinya..

“Iya, Tan.. Biar Imam temuin Anggie deh nanti sore.. Oh iya.. Ibu titip salam, kata nya Tante ga usah siapin jamuan banyak buat acara lamaran nanti malam.. Yang mau datang dari keluarga Imam cuma lima orang”

“Ya sudah.. Tante tunggu keluarga kamu nanti malam yah” Ucap Mamahnya Anggie yang ditutup dengan salam untuk mengakhiri pembicaraan..

Gw masih memegang Hp dalam genggaman tangan dan menatap kosong ke arah foto gw dan Anggie di atas meja belajar.. Benak gw sempat dibayangi rasa cemas akan ucapan Mamahnya Anggie tadi, soal sikap anaknya yang nampak aneh..

Sudah pasti Nyai Lingga merasa kesulitan untuk menjelma menjadi Anggie, karena dia hanya menggunakan Ilmu berubah wujud saja tanpa bisa meniru sikap gadis itu.. Bukan Ajian Malih Sukma Raga seperti yang Ni Mas Linduri lakukan.. Ajian yang ternyata telah diajarkan Braja Krama ke beberapa pengikutnya itu, tidak hanya menyerupai raga kasar namun juga meniru sikap orang yang dituju.. Belum lagi kelebihan penyamarannya yang tidak bisa ditembus oleh Ajian apapun kecuali Kitab Langit..

Sebuah pesan gw kirimkan ke Ridho untuk memanggil Nyai Lingga nanti sore.. Tanpa menunggu lama, dua tanda centang berubah biru.. Lalu satu jawaban OK gw terima dari suami nya Suluh itu.. Jujur, gw mencoba menenangkan diri dengan melakukan aktifitas lain di dalam kamar seperti mendengarkan musik atau membuat post baru di kaskus.. Tapi, benak gw benar-benar tidak mau lepas dari bayangan Anggie.. Beberapa kali gw memaki diri sendiri untuk sekedar mengungkapkan ketidakberdayaan gw.. Hingga akhirnya, gw memutuskan untuk menemui Reinata..

Gw segera mengambil Hp dan mengirimkan pesan ke Reinata untuk menanyakan dimana keberadaannya saat ini.. Gw bilang ingin bertemu karena ada suatu hal penting yang mau gw bicarakan.. Hanya satu pesan yang gw terima dari Reinata.. Pesan itu berisi sebuah nama restoran di sebuah Mall yang ada di kawasan Bintaro, dan waktu bertemu nya empat puluh lima menit dari sekarang..

Dengan jaket jeans berhoodie dan celana sejenis berwarna sama, gw menaiki motor CB* menggunakan helm full face untuk menemui Reinata di tempat yang ia sebutkan tadi.. Sebelum berangkat, Ibu sempat komplain ke gw karena sudah berencana lagi untuk pergi keluar.. Kata beliau, pamali untuk seseorang yang akan segera menikah sering-sering keluar rumah.. Dengan sopan, gw meminta izin ke Ibu yang akhirnya mengizinkan meski raut wajah sedikit masam..

Jalan yang padat, membuat gw terpaksa tiba dua puluh menit terlambat di tempat tujuan.. Tak mau Reinata sampai kesal karena memang gw sangat membutuhkan bantuannya kali ini, gw segera menelpon gadis itu untuk menunjukkan dimana restoran yang ia sebutkan tadi berada.. Sedikit berjalan cepat dari parkiran menuju lift, gw pun akhirnya bisa tiba di sebuah restoran jepang yang ada dilantai dua.. Sempat mengacuhkan dua gadis yang menyambut dengan bahasa Jepang di depan pintu masuk restoran, pandangan gw langsung beredar mencari sosok Reinata diantara beberapa pengunjung yang sedang menikmati hidangan..

Disana, di sebuah meja yang terletak disudut ruangan, seorang gadis cantik berkaus putih lengan pendek terlihat sedang memainkan Hp.. Disebelahnya, nampak sesosok Kakek Tua bergamis putih yang memegangi tongkat berwarna sama sedang melayang sambil melempar senyuman ke arah gw..
jenggalasunyi
sampeuk
dodolgarut134
dodolgarut134 dan 15 lainnya memberi reputasi
16
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.