- Beranda
- Stories from the Heart
Yaudah 3: Kuliah Kerja Nyata?
...
TS
dasadharma10
Yaudah 3: Kuliah Kerja Nyata?
Selamat datang di thread ketiga yang merupakan lanjutan dari Yaudah Gue Mati Ajadan Yaudah 2: Challenge Accepted.
Sebelumnya, ijinkan gue buat memperkenalkan diri. Bagi pembaca setia kisah gue, pastinya kalian udah enggak asing dengan nama Muhdawi. Tapi bagi pembaca yang baru masuk ke thread ini, pastinya kalian asing dengan nama yang enggak biasa itu. Perkenalkan, nama lengkap gue Muhammad Danang Wijaya. Biasanya orang-orang manggil gue Dawi yang diambil dari singkatan nama gue Muhdawi. Kalian bisa panggil gue Dawi, atau kalo mau ikut-ikutan manggil gue Sawi juga enggak masalah. Gue orangnya idem, apa yang lo mau, kalo gue bisa, pasti gue usahakan. Anyway, langsung aja masuk lebih dalam ke thread ini. Sekali lagi gue ucapkan, selamat datang di thread ini.
Sebelumnya, ijinkan gue buat memperkenalkan diri. Bagi pembaca setia kisah gue, pastinya kalian udah enggak asing dengan nama Muhdawi. Tapi bagi pembaca yang baru masuk ke thread ini, pastinya kalian asing dengan nama yang enggak biasa itu. Perkenalkan, nama lengkap gue Muhammad Danang Wijaya. Biasanya orang-orang manggil gue Dawi yang diambil dari singkatan nama gue Muhdawi. Kalian bisa panggil gue Dawi, atau kalo mau ikut-ikutan manggil gue Sawi juga enggak masalah. Gue orangnya idem, apa yang lo mau, kalo gue bisa, pasti gue usahakan. Anyway, langsung aja masuk lebih dalam ke thread ini. Sekali lagi gue ucapkan, selamat datang di thread ini.
Quote:
Quote:
Spoiler for Sinopsis:
Spoiler for Index:
Diubah oleh dasadharma10 16-10-2018 23:34
andybtg dan 14 lainnya memberi reputasi
11
359.9K
1.3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
dasadharma10
#862
PART 67
“Maafin Cassie, Mbak,” ucapnya menarik Melly ke duduknya semula. “Maafin Cassie.”
“M-maaf kenapa?” tanya Melly menyeka air mata Cassie yang kembali mengalir. “Kenapa, Cass?”
“Maafin Cassie udah ambil abang dari mbak Melly.”
“Eh?!” gumam gue dan Melly bersamaan.
“Cassie enggak bermaksud buat kayak gitu,” lanjutnya yang kini tertunduk dalam duduk. “Cassie enggak bermaksud buat suka sama abang.”
“Cassie,” panggil Melly pelan. “Lo enggak ambil siapapun dari siapa-siapa, Cass.”
“I-iya, Cass,” tambah gue. “Ya emang sih Melly tadi–”
“Dawi!” potong Melly memukul paha gue.
Terang aja itu salah gue. Gue akuin.
“Dari kemarin gue pengin baikan sama lo, Mbak,” terang Cassie. “Cuma karena gue takut harus ngejauh dari abang pas nanti gue baikan sama lo jadi enggak berani.”
“Eh?” gumam gue. “E-emang kalian marahan?”
“Cass,” ucap Melly mengusap-usap lengan Cassie. “Enggak ada yang bakalan jauhin lo.”
“Tapi kenyataannya kayak gitu!” seru Cassie menyingkirkan tangan Melly. “Mbak marahin abang tiap kali dia deket sama gue! Mbak kesel kalo abang perhatian sama gue! Sampai akhirnya! Sampai akhirnya abang ikut-ikutan kesel sama gue gara-gara mbak!”
“Cassie kayaknya lo salah paham, deh,” tanggap gue. “Melly marah sama gue bukan karena lo. Lagipula marahnya wajar juga, enggak berlebihan.”
“Iya,” sambung Melly. “Kalo lo pengin deket sama Dawi, mbak enggak masalah, kok.”
Astaga! Gue enggak tahan sama momen canggung kayak gini! Pengakuan seorang cewek di depan temennya kalo dia sebenernya punya perasaan sama cowok yang temennya itu suka. Ya emang si Melly enggak terang-terangan atau seenggaknya nunjukkin secara diem-diem kalo dia suka sama gue, tapi obrolan ini tetep aja canggung.
Ini bener-bener bukan apa yang sebenernya terjadi. Ini bener-bener beda dari apa yang dia pikir, ini bukan apa yang selama ini Cassie pikir. Kalo pun iya Melly ada rasa sama gue, itu mungkin bakalan canggung dalam situasi kayak gini. Masalahnya kejadiannya enggak kayak gitu, dan itu yang sebenarnya bikin tambah canggung.
“Cassie…,” panggil Melly. “Mbak enggak ada apa-apa sama Dawi–”
“Berarti mbak enggak marah kalo gue deket sama abang?”
“Ah… Cass, kayaknya kejauhan deh kalo dibilang deket–”
“Enggak!” potong Melly. “Mbak sama sekali enggak marah ataupun keberatan kalo lo deket-deket sama Dawi!”
“Mell,” bisik gue pelan. “Lo apa-apaan, sih!”
“Udah….” Melly menatap gue, “Lo nurut aja sama gue.”
“Jadi…,” ucap Cassie mengusap air matanya sendiri. “Gue bolehkan kalo deket sama abang?”
“Boleh–”
“Enggak,” geleng gue memotong seketika. “Cass, gue udah punya cewek.”
“Eh?”
“Gue deket sama lo karena gue peduli sama lo, bukan karena gue ada rasa sama lo.”
“Dawi!”
Melly mencoba membungkam gue, tapi gue tepis tangannya.
“Lo udah kelewatan, Mell,” terang gue. “Kalo lo maksain apa yang lo mau lagi, apa bedanya sama kejadian yang udah-udah?”
“Kalo lo peduli, lo enggak bakalan keberatan sama apa yang gue mau!” ucap Melly mulai ngotot. “Itu kalo lo peduli!”
“Lo paham enggak sih kalo cara lo tuh salah?” tanya gue. “Gue paham kalo lo peduli sama Cassie, tapi bukan berarti lo boleh maksain apa yang ada di kepala lo ke Cassie terus mikir kalo dia bakalan baik-baik aja.”
“Terus mau lo gimana?!” seru Melly. “Gue udah ngikutin mau lo! Gue udah iyain kalo Cassie trauma dan sebagainya! Sekarang lo dong ngikutin apa yang ada di kepala gue!”
“Cassie?!” sapa suara familiar mengalihkan pandangan gue dan Melly. “Cassie?”
Echa menghampiri Cassie dan kemudian memeluknya. Tanpa gue sadari ternyata suara tangisan Cassie mulai terdengar lagi.
“Cass,” panggil Echa. “Ayo sama gue aja, kita cari angin.”
“Mau lo aja kemana, Cha?” tanya gue. “Lo enggak lihat ini udah jam berapa?”
“Minggir!” bentak Echa mendorong gue. “Kemana aja asal dia suka.”
“Gausah keluar,” kata gue berdiri. “Kalian di sini aja, biar gue sama Melly yang keluar.”
“Enggak,” tolak Melly. “Lo aja yang keluar, gue peduli sama Cassie, gue mau di sini–”
“Keluar,” ucap gue menarik Melly berdiri. “Biar mereka berdua aja.”
“Maafin Cassie, Mbak,” ucapnya menarik Melly ke duduknya semula. “Maafin Cassie.”
“M-maaf kenapa?” tanya Melly menyeka air mata Cassie yang kembali mengalir. “Kenapa, Cass?”
“Maafin Cassie udah ambil abang dari mbak Melly.”
“Eh?!” gumam gue dan Melly bersamaan.
“Cassie enggak bermaksud buat kayak gitu,” lanjutnya yang kini tertunduk dalam duduk. “Cassie enggak bermaksud buat suka sama abang.”
“Cassie,” panggil Melly pelan. “Lo enggak ambil siapapun dari siapa-siapa, Cass.”
“I-iya, Cass,” tambah gue. “Ya emang sih Melly tadi–”
“Dawi!” potong Melly memukul paha gue.
Terang aja itu salah gue. Gue akuin.
“Dari kemarin gue pengin baikan sama lo, Mbak,” terang Cassie. “Cuma karena gue takut harus ngejauh dari abang pas nanti gue baikan sama lo jadi enggak berani.”
“Eh?” gumam gue. “E-emang kalian marahan?”
“Cass,” ucap Melly mengusap-usap lengan Cassie. “Enggak ada yang bakalan jauhin lo.”
“Tapi kenyataannya kayak gitu!” seru Cassie menyingkirkan tangan Melly. “Mbak marahin abang tiap kali dia deket sama gue! Mbak kesel kalo abang perhatian sama gue! Sampai akhirnya! Sampai akhirnya abang ikut-ikutan kesel sama gue gara-gara mbak!”
“Cassie kayaknya lo salah paham, deh,” tanggap gue. “Melly marah sama gue bukan karena lo. Lagipula marahnya wajar juga, enggak berlebihan.”
“Iya,” sambung Melly. “Kalo lo pengin deket sama Dawi, mbak enggak masalah, kok.”
Astaga! Gue enggak tahan sama momen canggung kayak gini! Pengakuan seorang cewek di depan temennya kalo dia sebenernya punya perasaan sama cowok yang temennya itu suka. Ya emang si Melly enggak terang-terangan atau seenggaknya nunjukkin secara diem-diem kalo dia suka sama gue, tapi obrolan ini tetep aja canggung.
Ini bener-bener bukan apa yang sebenernya terjadi. Ini bener-bener beda dari apa yang dia pikir, ini bukan apa yang selama ini Cassie pikir. Kalo pun iya Melly ada rasa sama gue, itu mungkin bakalan canggung dalam situasi kayak gini. Masalahnya kejadiannya enggak kayak gitu, dan itu yang sebenarnya bikin tambah canggung.
“Cassie…,” panggil Melly. “Mbak enggak ada apa-apa sama Dawi–”
“Berarti mbak enggak marah kalo gue deket sama abang?”
“Ah… Cass, kayaknya kejauhan deh kalo dibilang deket–”
“Enggak!” potong Melly. “Mbak sama sekali enggak marah ataupun keberatan kalo lo deket-deket sama Dawi!”
“Mell,” bisik gue pelan. “Lo apa-apaan, sih!”
“Udah….” Melly menatap gue, “Lo nurut aja sama gue.”
“Jadi…,” ucap Cassie mengusap air matanya sendiri. “Gue bolehkan kalo deket sama abang?”
“Boleh–”
“Enggak,” geleng gue memotong seketika. “Cass, gue udah punya cewek.”
“Eh?”
“Gue deket sama lo karena gue peduli sama lo, bukan karena gue ada rasa sama lo.”
“Dawi!”
Melly mencoba membungkam gue, tapi gue tepis tangannya.
“Lo udah kelewatan, Mell,” terang gue. “Kalo lo maksain apa yang lo mau lagi, apa bedanya sama kejadian yang udah-udah?”
“Kalo lo peduli, lo enggak bakalan keberatan sama apa yang gue mau!” ucap Melly mulai ngotot. “Itu kalo lo peduli!”
“Lo paham enggak sih kalo cara lo tuh salah?” tanya gue. “Gue paham kalo lo peduli sama Cassie, tapi bukan berarti lo boleh maksain apa yang ada di kepala lo ke Cassie terus mikir kalo dia bakalan baik-baik aja.”
“Terus mau lo gimana?!” seru Melly. “Gue udah ngikutin mau lo! Gue udah iyain kalo Cassie trauma dan sebagainya! Sekarang lo dong ngikutin apa yang ada di kepala gue!”
“Cassie?!” sapa suara familiar mengalihkan pandangan gue dan Melly. “Cassie?”
Echa menghampiri Cassie dan kemudian memeluknya. Tanpa gue sadari ternyata suara tangisan Cassie mulai terdengar lagi.
“Cass,” panggil Echa. “Ayo sama gue aja, kita cari angin.”
“Mau lo aja kemana, Cha?” tanya gue. “Lo enggak lihat ini udah jam berapa?”
“Minggir!” bentak Echa mendorong gue. “Kemana aja asal dia suka.”
“Gausah keluar,” kata gue berdiri. “Kalian di sini aja, biar gue sama Melly yang keluar.”
“Enggak,” tolak Melly. “Lo aja yang keluar, gue peduli sama Cassie, gue mau di sini–”
“Keluar,” ucap gue menarik Melly berdiri. “Biar mereka berdua aja.”
JabLai cOY dan pulaukapok memberi reputasi
2
