Kaskus

Story

dasadharma10Avatar border
TS
dasadharma10
Yaudah 3: Kuliah Kerja Nyata?
Selamat datang di thread ketiga yang merupakan lanjutan dari Yaudah Gue Mati Ajadan Yaudah 2: Challenge Accepted.

Sebelumnya, ijinkan gue buat memperkenalkan diri. Bagi pembaca setia kisah gue, pastinya kalian udah enggak asing dengan nama Muhdawi. Tapi bagi pembaca yang baru masuk ke thread ini, pastinya kalian asing dengan nama yang enggak biasa itu. Perkenalkan, nama lengkap gue Muhammad Danang Wijaya. Biasanya orang-orang manggil gue Dawi yang diambil dari singkatan nama gue Muhdawi. Kalian bisa panggil gue Dawi, atau kalo mau ikut-ikutan manggil gue Sawi juga enggak masalah. Gue orangnya idem, apa yang lo mau, kalo gue bisa, pasti gue usahakan. Anyway, langsung aja masuk lebih dalam ke thread ini. Sekali lagi gue ucapkan, selamat datang di thread ini.

Quote:


Quote:


Spoiler for Sinopsis:


Spoiler for Index:
Diubah oleh dasadharma10 16-10-2018 23:34
pulaukapokAvatar border
genji32Avatar border
andybtgAvatar border
andybtg dan 14 lainnya memberi reputasi
11
359.5K
1.3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.9KAnggota
Tampilkan semua post
dasadharma10Avatar border
TS
dasadharma10
#861
PART 66

“Cass?” panggil gue mengtuk pintu kamar cewek. “Cass? Gue masuk, ya?”

Gue masuk ke kamar cewek dan menemukan Cassie duduk memeluk kaki di sudut kamar. Dia masih pake baju lengkap, begitu juga jaket dan juga kaos kakinya. Kepalanya tertunduk tapi sudut matanya masih bisa terlihat sama gue.

“Cass?” ucap gue pelan. “Lo kenapa?”

Matanya yang kemerahan melirik ke arah gue sewaktu kaki gue melangkah mendekat. Semakin gue mendekat, matanya bergerak ke arah lain. Kayaknya apa yang gue pikirkan selama ini bener, dia masih belum bisa lupain kejadian sore itu. Lebih jeleknya, dia mungkin trauma sama kejadian itu.

Gue duduk di sebelahnya dan ikut-ikutan memeluk kaki seperti Cassie. Sedikit canggung, tapi gue khawatir juga sama dia.

“Cassie? Kenapa nangis?”
“Gapapa,” jawabnya singkat sambil menyeka air mata.
“Keluar aja, yuk?” ajak gue. “Main werewolf sama yang lain.”
“Enggak.”
“Nanti kita gantung Luther, deh,” rayu gue. “Kalo nanti gue jadi werewolf, sampai akhir Cassie enggak dimakan, deh. Kalo pun sebaliknya, gue rela kalo di hari pertama lo makan.”

Sambil masih memeluk kakinya, Cassie mulai menatap gue. Pemandangan yang sebenarnya bikin gue bete. Kenapa bisa cewek secakep dia nangis kayak gini?

“Mau kan main werewolf rame-rame?” ajak gue lagi.

Dia jawab? Enggak. Dia emang enggak memberikan respon positif soal ajakan gue, tapi gue bisa ngerasain kalo dia mulai membuka diri buat gue. Sama, iya sama. Sama kayak pertama kali gue nemuin Cassie yang nangis waktu itu. Cukup bikin kaki gue lemas dan pengin rasanya bikin dia nyaman yang entah gimanapun caranya, meski gue sadar apa yang gue lakuin itu salah.

“Dah, yuk,” ucap gue pelan. “Keluar–”

Cassie memeluk gue secara tiba-tiba. Tanpa mengucap atau menggumam satu kata pun, dia memeluk gue kuat-kuat. Bener-bener kayak anak kecil yang sadar kalo dibohongin orang tuanya bakalan pergi sebentar, dia sama sekali enggak mengendurkan pelukannya. Meski sebenarnya gue kepikiran kalo anak-anak sampai lihat kita, di dada gue sedikit lega. Bukan karena pelukan Cassie, tapi karena tangisan Cassie yang berhenti.

“Wi?” panggil suara Melly dari arah pintu. “Kenapa?”
“Gapapa, Mell,” sahut gue.

Cassie melepaskan pelukannya dari gue dan kembali memeluk kakinya begitu sadar Melly masuk ke dalam kamar. Bener-bener kayak dia sama sekali enggak pengin ketemu Melly.

“Cass?” panggil Melly duduk di depannya. “Lo kenapa?”

Cassie hanya melirik sesaat kemudian menggelengkan kepalanya. Mungkin bukan rasa enggak suka karena kehadiran Melly, tapi lebih ke takut. Ya, takut karena kehadiran Melly.

“Cass?” ucap gue mengusap kepala Cassie. “Kalo ada apa-apa cerita aja, gapapa.”

Sambil menatap Melly perlahan, Cassie menggumam pelan. Satu kata yang hampir enggak terdengar tapi terlihat diucapkan.

“Mungkin dia lagi pengin sama lo,” kata Melly mengalihkan pandangannya ke gue. “Lo temenin aja dulu.”
“Iya,” ucap gue setuju. “Lo main sama yang lain dulu aja, biar gue yang temenin dia.”
“Jangan bikin dia baper, lho,” canda Melly beranjak dari duduknya.
“Iya ah.” Gue lempar bantal tepat ke arah punggung Melly, “Jangan deket-deket lagi, jauh-jauh sana–”
“ENGGAK!” teriak Cassie memotong. “Mbak Melly! Enggak!”
“Eh?”

Gue tertegun. Gue bener-bener kaget sama teriakan Cassie. Sama sekali enggak nyangka karena sebelumnya gue kira ... enggak ... Melly juga. Ya, kita berdua sama sekali enggak menyangka dia bakalan teriak karena kita kira Cassie udah tenang begitu sama gue.

“Mbak Melly! Gue enggak baper!” Cassie beranjak dari duduknya lalu menghampiri Melly yang udah di depan pintu, “Gue enggak baper! Sama sekali enggak, Mbak!”
“I-iya,” tanggap Melly sedikit terbata sewaktu Cassie menghampiri. “M-mbak tau, kok.”
“Enggak, Mbak,” ucap Cassie memeluk Melly. “Mbak enggak tau!”
Diubah oleh dasadharma10 25-03-2018 15:18
pulaukapok
JabLai cOY
JabLai cOY dan pulaukapok memberi reputasi
2
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.