- Beranda
- Stories from the Heart
Mata Batin They Among Us Chapter 1 [End]
...
TS
roni.riyanto
Mata Batin They Among Us Chapter 1 [End]
SELAMAT DATANG DI THREAD HORROR ANE YANG SEDERHANA
![Mata Batin They Among Us Chapter 1 [End]](https://dl.kaskus.id/i.pinimg.com/736x/ac/9e/c8/ac9ec8d17096742f52ebfbdcc70fa7e7--dark-art-photography-creepy-photography.jpg)
Assalamualaikum wr.wb
Spoiler for Pembukaan:
![Mata Batin They Among Us Chapter 1 [End]](https://dl.kaskus.id/3.bp.blogspot.com/-ne_rDQngRD8/Vk1ychXHIHI/AAAAAAAAJFs/GTFL1J3f6Mw/s1600/hantu%2Bpocong%2Bmenyeramkan.jpg)
Quote:
imut ya gan 

Quote:
PROLOG
Quote:
Kamu percaya hantu?
Atau kamu pernah Bertemu dengan mereka ?
ini adalah Kisahku.
Namaku Roni seorang berusia dua puluh satu tahun yang berprofesi sebagai penulis.
berawal dari rasa penasaranku melihat dunia lain untuk bahan tulisan dibuku baruku.
aku nekat membuka mata batinku sendiri dengan mencoba banyak ritual.
hingga suatu hari mendapati diriku mulai dapat melihat keberadaan MEREKA.
Siapa sangka ternyata setelah aku membuka mata batinku masalah demi masalah muncul,
dan ternyata masalah tersebut mengancam keselamatanku dan adikku Sheril . .
Atau kamu pernah Bertemu dengan mereka ?
ini adalah Kisahku.
Namaku Roni seorang berusia dua puluh satu tahun yang berprofesi sebagai penulis.
berawal dari rasa penasaranku melihat dunia lain untuk bahan tulisan dibuku baruku.
aku nekat membuka mata batinku sendiri dengan mencoba banyak ritual.
hingga suatu hari mendapati diriku mulai dapat melihat keberadaan MEREKA.
Siapa sangka ternyata setelah aku membuka mata batinku masalah demi masalah muncul,
dan ternyata masalah tersebut mengancam keselamatanku dan adikku Sheril . .
Quote:
FAQ:
Q: cerita dan karakter disini nyata gan ?
A: alur dan karakter disini fiksi, namun semua kejadian mistisnya diangkat dari pengalaman nyata TS dan kawan2 TS.
Q: TS pernah bibuka mata batin ?
A: pernah
, namun sekarang sudah ditutup karena alasan risih, bukan takut 
Q: risih kenapa gan ?
A: risih karena dikit2 kaget,dikit2 mual dan risih pas mandi ditongrongin neng kunti.
Q: jadi ini cuma karangan gan ?
A: cerita utama memang dikarang, namun kejadian mistis yang dialami oleh karakter sepenuhnya nyata pernah dialami TS dan kerabat TS
tapi untuk keseimbangan cerita ane tambahin unsur Fiksi biar ceritanya lebih dapet
Q: kapan update nya gan ?
A: biasanya saya update jam 20.00-24.00 Karena TS sedang sekolah bahasa updatenya cuma bisa seminggu sekali gansis. Update tiap malam minggu
Q: cerita dan karakter disini nyata gan ?
A: alur dan karakter disini fiksi, namun semua kejadian mistisnya diangkat dari pengalaman nyata TS dan kawan2 TS.
Q: TS pernah bibuka mata batin ?
A: pernah
, namun sekarang sudah ditutup karena alasan risih, bukan takut 
Q: risih kenapa gan ?
A: risih karena dikit2 kaget,dikit2 mual dan risih pas mandi ditongrongin neng kunti.
Q: jadi ini cuma karangan gan ?
A: cerita utama memang dikarang, namun kejadian mistis yang dialami oleh karakter sepenuhnya nyata pernah dialami TS dan kerabat TS
tapi untuk keseimbangan cerita ane tambahin unsur Fiksi biar ceritanya lebih dapetQ: kapan update nya gan ?
A: biasanya saya update jam 20.00-24.00 Karena TS sedang sekolah bahasa updatenya cuma bisa seminggu sekali gansis. Update tiap malam minggu
Quote:
Kalau agan dimari suka cerita saya, mohon untuk
share gan dan juga komengnya 
yang udah iso boleh timpuk ane pake
share gan dan juga komengnya 
yang udah iso boleh timpuk ane pake

Selamat Membaca
Quote:
PENTING
Just Info untuk Thread ini ane akan buat tamat di chapter 1, untuk lanjutan ceritanya bisa dibaca nanti di chapter 2 yang akan di posting di thread baru segera.
Terima Kasih
INDEX PART
Kesan Pertama (pengenalan bagi Roni )
1. Dunia lain
2. Buka Mata Batin
3. Penghuni Rumah
4. Hantu Penglaris
5. Hantu Anak Kecil
Sisipan sekilas Linda
POPI
6. Hantu Siswi
7. Hantu Penunggu Sekolah
8. Dijilat Hantu /
9. Hantu Toilet
SHERIL
10. Hantu Toilet 2
Biografi Karakter
11. Jurig Kincir 1..
12. Jurig Kincir 2 ..
Sisipan Real Story si Bray
13. Jurig Kincir (Sheril)
LINDA
14. Uyut Catam
15. Rumah Linda
16. Saingan Linda (Sheril)
17. Kematian Linda
GALIH
18. Kemah di Curug 18 Januari 2018
19. Sesajen 19 Januari 2018
20. Sesajen part Dua 20 Januari 2018
21. Sesajen part Tiga 21 Januari 2018
22. Buntelan kecil 27 Januari 2018
Cerpen Cheesecake
23. buntelan kecil dua 7 Februari 2018
24. Wanita ? 11 Februari 2018
25. Wanita Dua 24 Februari 2018
AYU
26. Kemah lagi 10 Maret 2018
27. Sareupna 17 Maret 2018
28. Bingung 24 Maret 2018
SHERIL (2)
29.Mimpi (Sheril) 26 Maret 2018
30. Rumah Anggi (Sheril) 31 Maret 2018
31. Siapa? (Sheril) 15 April 2018
RONI1. Dunia lain
2. Buka Mata Batin
3. Penghuni Rumah
4. Hantu Penglaris
5. Hantu Anak Kecil
Sisipan sekilas Linda
POPI
6. Hantu Siswi
7. Hantu Penunggu Sekolah
8. Dijilat Hantu /
9. Hantu Toilet
SHERIL
10. Hantu Toilet 2
Biografi Karakter
11. Jurig Kincir 1..
12. Jurig Kincir 2 ..
Sisipan Real Story si Bray
13. Jurig Kincir (Sheril)
LINDA
14. Uyut Catam
15. Rumah Linda
16. Saingan Linda (Sheril)
17. Kematian Linda
GALIH
18. Kemah di Curug 18 Januari 2018
19. Sesajen 19 Januari 2018
20. Sesajen part Dua 20 Januari 2018
21. Sesajen part Tiga 21 Januari 2018
22. Buntelan kecil 27 Januari 2018
Cerpen Cheesecake
23. buntelan kecil dua 7 Februari 2018
24. Wanita ? 11 Februari 2018
25. Wanita Dua 24 Februari 2018
AYU
26. Kemah lagi 10 Maret 2018
27. Sareupna 17 Maret 2018
28. Bingung 24 Maret 2018
SHERIL (2)
29.Mimpi (Sheril) 26 Maret 2018
30. Rumah Anggi (Sheril) 31 Maret 2018
31. Siapa? (Sheril) 15 April 2018
32. Ikan? 22 April 2018
33. Bayangan 29 April 2018
34. Masa Lalu 7 mei 2018
35. HATI 16 Mei 2018 ( Late Post)
36. Kakak 7 Juli 2018(Sheril)
37. Kakak-2 14 Agustus 2018(Sheril)
38. Perjalanan 3 Oktober 2018(Sheril)
BEGINNING
39. Permulaan 27 Oktober 2018(Sheril)
Teaser Chapter 2
Selamat pagi/siang/malam gansis yang suka mampir ke Thread ini, ane cuma mau bilang maaf karena ane baka vacum di dunia perinternetan untuk waktu yang bakalan lama. sebenernya udah ada lanjutan chapter 2 cuma ane ngerasa sangsi buat postingnya karena belum selesai 100%. jadi buat agan dan sista yang nunggu kelanjutannya harus berlapang dada karena ane mau vacum karena suatu alasan.
Terimakasih
Salam Kentang
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 80 suara
Gimana Ceritanya Gan ?
Bagus Ceritanya Serem.
65%
Lumayan Seram,
28%
Boring Gan .
8%
Diubah oleh roni.riyanto 10-01-2019 16:41
sulkhan1981 dan 9 lainnya memberi reputasi
8
307.2K
Kutip
1.7K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
roni.riyanto
#1193
Quote:
“Kyaaaaa”
Tiba-tiba saja Ayu berteriak histeris dan berlari kearah sungai tempatku mencuci ikan tadi, dikala aku ingin mengejarnya aku merasa tubuhku tidak dapat digerakkan begitupun dengan tubuh teman yang lain terlihat dari expresi wajah mereka.
Part 28
Bersamaan dengan larinya Ayu kearah sungai tadi, tercium pula bau bangkai yang cukup menyengat. Bahkan teman-temanpun sepertinya mencium bau yang sama, karena jelas terlihat hidung mereka seperti mencium bau yang sangat mengganggu.
“Apaan nih? Kok rasanya gue pernah ngalamain hal kaya gini sebelumnya, rasanya dejavu banget. Kalo gue pikir-pikir hari ini cukup banyak hal yang terasa dejavu. Apa jangan-jangan ini Cuma mimpi” gumamku dalam hati.
Kuingat-ingat rasanya pernah aku mengalami hal serupa, dan kenanganpun terlintas bahwa benar aku pernah mengalami hal serupa saat acara jerit malam, saat itu Popi yang meninggalkanku dengan berlari karena kebelet ke WC.
Tak lama kemudian terdengar suara orang berlari dari arah sungai, ternyata Ayu. Bersamaan dengan datangnya dia, badanku dan teman-teman langsung bisa digerakkan, aneh sekali rasanya kenapa bisa pas sekali bisa bergerak saat Ayu sudah kembali.
“Kamu habis darimana Yu?” Tanya Galih setengah teriak, nampaknya dia khawatir.
“Emm nganu bang abis itu” jawabnya sambil kembali duduk.
Karena Ayu memberikan jawaban yang sangat ambigu menurutku, Galih dan para Pria menatap Ayu dengan tatapan curiga hingga membuat Ayu tertunduk.
“Eh udah pah jangan diperpanjang, mama pikir alesan Ayu cukup jelas kok” ujar Ratna sambil tersenyum.
“Maksudnya gimana mah kok mama yakin gitu?” Tanya Galih.
Sedetik kemudian Ratna mendekatkan mulutnya ketelinga Galih dan mulai berbisik, tak lama setelahnya Galih mengangguk-nganggukkan kepalanya sambil memegangdagunya.
“Oh gitu ya, iya papa paham kalo cewek emang pemalu” ujar Galih pelan.
Setelah Galih berkata demikian para lelaki lainpun memegangi dagu mereka dengan tangan kanan dan menganggukkan kepala dengan kopak sepertinya mereka mengerti, hanya tinggal aku saja yang belum begitu yakin dengan apa yang dilakukan Ayu tadi.
“Ayu kamu cepirit?” tanyaku dengan polos dengan WATADOS.
“Hush Roni kamu gak boleh gitu” Ratna berkata dengan pelan.
Ayu semakin menunduk dan tidak menjawab apapun, untuk beberapa saat suasana menjadi hening. Ayu kemudian berdiri dengan wajah tertunduk, tangannya mengepal dan matanya tertutup sementara bibirnya terlihat ingin mengucapkan sesuatu.
“Aku gak cepirit kok, Cuma kentut aja” jawab Ayu dengan setengah teriak dengan mata masih terpejam.
Tak lama setelah Ayu berkata demikian semua mata tertuju padaku, pandangan mereka sangatlah dingin dan sangat menganggu, terutama Popi.
“Ken….kenapa kok pada gitu ngeliatin aku? Aku cuma penasaran aja kenapa ampe teriak histeris cuma gara-gara pengen kentut” tanyaku.
Mereka tidak menjawab dan hanya menghela nafas, dan terdengar samar-samar Ipin dan Yana berkata “gak peka banget”. Ayu masih berdiri sambil memejamkan matanya, wajahnya masih tertunduk mungkin dia merasa malu. Akupun jadi merasa bersalah karena sudah tidak peka dengan urusan wanita.
“Yu maafin aku deh ya, maaf aku tadi ngomong gak dicerna” ujarku.
Ayu melirik kearahku, wajahnya samar-samar terlihat memerah dan semakin membuatku merasa bersalah.
“Gak apa-apa kok, udah lupain salah aku juga pergi ga pamit, habisnya udah gak ketahan” jawab Ayu.
Setelah berkata demikian Ayupun kembali duduk, tak butuh waktu lama baginya untuk tersenyum kembali. Malam itu rencana kemah berjalan lancer, kami mengobrol dan bernyanyi bersama hingga larut.
Malam itu sama sekali aku tidak melihat atau diganggu oleh yang namanya makhluk halus, kami benar-benar menikmati waktu berkemah kami. Pada pukul 23.00 kami semua sepakat untuk segera tidur ditenda masing-masing, dan karena jumlah kami ganjil akupun harus tidur didalam tenda sendirian.
----------------------------------00------------------------------------00---------------------------
“Roni…Roni..!!”
Samar-samar aku mendengar suara lelaki memanggil namaku, kulihat sekelilingku yang ada hanyalah kabut tebal. Aku tidak dapat melihat begitu jelas karena keadaan disini agak gelap, kondisinya mirip dengan terang bulan namun saat aku menatap keangkasa tidak nampak bulan.
Perlahan kabut tebal yang menghalangi pandangan menjadi tipis, aku bisa melihat untuk jarak beberapa meter kedepan. Kulihat sekeliling rupanya aku ada disebuah jalan yang sepertinya adalah jalan setepak, dipinggirnya terdapat pohon yang tidak begitu tinggi.
“Roni…!”
Suara itu kembali terdengar, terdengar dengan nada pelan bahkan lebih mirip seperti bisikan namun datangnya dari arah depanku. Tanpa sadar aku berjalan kearah depan mengikuti jalan setapak, aku tidak dapat melihat dengan jelas aku sedang berada dimana karena hanya ada jalan setapak lurus yang diapit oleh pepohonan.
Aku terus berjalan menyusuri jalan setapak ini karena penasaran dengan suara yang memanggil namaku, langkahku terhenti ketika aku melihat siluet dua sosok laki-laki yang sedang berdiri membelakangiku.
“Kang? Mau Tanya ini dimana ya?” aku bertanya tanpa menaruh curiga.
Sosok itu tidak menjawab pertanyaanku, akupun berjalan mendekati mereka. Ada hal yang aneh menurutku karena aku merasa tidak bisa mendekati sosok mereka, meskipun aku terus berjalan kearah mereka, mereka tetap berada pada jarak yang tetap sama.
“Woy ini dimana? Kalo orang nanya itu jawab!!”
Emosiku tersulut karena mereka tidak menjawab tanpa menyadari mungkin mereka bukanlah manusia, aku merasa kesal. Namun kekesalan itu tidak berlangsung lama ketika kedua sosok itu membalikkan badan mereka.
“Ka….Kalian?” ujarku tanpa sadar.
Dihadapanku sekarang berdiri dua sosok yang pernah kulihat sebelumnya, mereka berdua adalah sosok yang tempo hari duduk di kursi belakang mobil Ayu, seorang adalah bule dan seorang lagi nampaknya orang Indo.
“Hati-hati !”
Terdengar suata pelan, aku merasa aneh sekali bisa terdengar suara karena jelas sekali mulut mereka tidak bergerak sama sekali.
Kuperhatikan dengan seksama kondisi mereka biarpun agak sulit karena tidak begitu terang, kondisinya masih sama seperti saat dimobil dengan luka dibagian leher.
“Maksudnya hati-hati gimana?” tanyaku dengan wajah heran setengah teriak.
“Hati-hati…!”
“Hati-hati sama apa, gua gak ngerti sama omongan kalian!”
“Hati-hati…!”
“Iya hati-hati sama apa gua, gua gak ngerti kalo Cuma kata hati-hati doang” ujarku setengah kesal.
Kali ini sosok si Indo membuka mulut dan menggerakkan bibirnya mengucapkan satu kata namun tidak terdengar suara, namun aku membaca gerakan bibirnya. Aku bisa membaca gerakan bibir dan aku merasa bingung karena kata yang yang diucapkan sosok itu adalah MATI.
“Triiiing,,,,,,Triiiiing!!!!”
Suara alarm diHpku berbunyi, segera kumatikan alarm dan kucek ternyata sudah pukul 04.15 pagi. Aku biasa menyetel alarm untuk shalat subuh, biasanya suara adzan berkumandang pada pukul 04.30.
“Mimpi apa gue barusan? Kok rasanya nyata banget kaya bukan mimpi. Apa yang coba mereka sampein sama gue ya? Petunjuk kah?” gumamku dalam hati.
Kupikir sepertinya adzan subuh belum berkumandang, karena jika sudah pasti terdengar karena lokasi perkampungan dekat dengan tenda kami. Aku memutuskan untuk keluar dari tenda dan bersiap-siap berwudhu, suhu ditempat ini sungguh dingin disaat subuh dan terasa lebih dingin daripada saat malam.
Aku keluar dari tenda, suasana diluar sungguh sepi hanya terdengar suara burung hantu dan jangkrik. Kulihat sepertinya ditenda lain belum ada orang yang bangun, aku mencoba meluaskan pandangan kesekitar lokasi perkemahan karena kami menggunakan lampu yang berasal dari senter besar sehingga cukup terang.
“Astagfirullah”
Alangkah kagetnya diriku ketika melihat kearah sungai dan sekelilingnya, karena aku melihat pemandangan yang baru pertama kulihat dan membuatku sedikit merinding. Aku melihat sosok pocong dan kuntilanak dalam jumlah yang sangat banyak, dan pandangan mereka semua terarah kepadaku.
Jumlah total dari mereka mungkin lebih dari 20, itupun aku tidak yakin karena aku merasakan jantungku berpacu kencang disusul tubuhku yang mulai kaku tidak dapat digerakkan. Suasana terasa cukup tenang sebenarnya karena meraka semua hanya menampakkan diri dan menatap kearaku, mereka tidak terlihat bergerak ataupun mendekatiku, mungkin mereka hanya ingin menunjukkan eksistensi mereka.
“Allahu akbar..Allahu akbar !”
Terdengar suara adzan berkumandang dari arah perkampungan, bersamaan dengan terdengarnya suara adzan mereka perlahan mulai menghilang dari pandangan. Beberapa saat kemudian tubuhkupun dapat digerakkan, aku merasa badanku basah oleh keringat dan nafasku terengah-engah karena jantungku yang berdetak sangat kencang (mirip-mirip sensasi nembak cewek).
“Roni kamu kenapa?”
Aku mendengar suara wanita yang sangat kukenal, suara Popi. Kutoleh kearah suara rupanya Popi sedang menatapku dari pintu tenda, tak lama kemudian Galih dkk juga mulai keluar dari dalam tenda.
“Ron lu napa ampe keringetan gitu? Padahal kan dingin begini” Tanya Galih dengan heran.
“Eh tadi abis senam bentar lih, mumpung udaranya lagi seger” jawabku.
Sepertinya Popi dan Galih percaya dengan omonganku karena kebetulan nafasku yang ngos-ngosan mendukung alasan yang kuutarakan, hanya Ipin saja yang menatapku dengan tatapan curiga.
Setelah pembicaraan beres, kami berempat menuju kearah perkampungan untuk menunaikan shalat subuh dimushala dan juga sekalian mandi dikamar mushala, para wanita tidak keberatan kami tinggal karena menurut mereka pagi sudah hampir menjelang, dan kondisi saat itupun sudah tidak begitu gelap.
Diperjalanan menuju perkampungan aku masih terbayang dengan penampakan pocong dan kunti tadi, baru pertama kali aku melihat mereka bergerombol seperti itu. Karena biasanya saat sosok mereka menampakkan diri kepada manusia, mereka hanya muncul 1 dan tidak pernah muncul sebanyak itu dalam satu waktu.
“Bang Ron, Mbak Ayu udah punya pacar belom ya sapa tau abang punya info” ujar Yana dengan nada sedikit malu.
“Emang kenapa gitu Yan?” Tanyaku.
“Ya nggak apa-apa sih bang, penasaran aja. masa cewek secakep mbak Ayu belom punya pacar”
“Kayanya sih dia gak punya Yan kalo dari gelagatnya” jawabku.
“Mau ngapain emangnya Yan? Lagian biar Ayu jomblo gak bakalan mau sama kamu, inget-inget dah dia kan lagi ngedeketin cowok gak peka
yang olahraga sebelum shalat subuh” Ujar Galih dengan nada meledek.
“Hmmm iya juga sih bang, pupus sudah. Hahaha” jawab Yana tertawa.
“Apaan sih lih elah lu mah” aku berkata dengan nada mengeluh.
Usai mendengar pertanyaan dari Yana aku teringat dengan mimpi yang kualami tadi, mimpi tentang dua sosok yang berkata hati-hati kepadaku dan diujung mimpi salah seorang dari mereka berkata MATI kepadaku. Sepanjang jalan menuju kampung kami semua mengobrol ringan tentang asrinya tempat ini, hanya Ipin saja yang terlihat diam dan sedikit murung.
Usai menunaikan shalat subuh dan juga mandi kami langsung bergegas kembali ketenda, karena kami harus menyiapkan api dan bahan lain untuk memasak. Kami menggunakan kayu sebagai pengapian dan tidak menggunakan kompor gas portable, sehingga kami para lelaki harus menyiapkan api untuk para ladies.
Sekitar pukul 5.30 kami berjalan kembali kearah tenda, dikampung kami melihat para warga bersiap berangkat kekebun mereka. Mayoritas pekerjaan penduduk disini adalah petani sayuran dan pemetik daun teh, kebun sayuran menurut Galih letaknya lumayan jauh dari perkampungan sehingga kami tidak bisa melihatnya dari tempat kami berkemah.
Sekitar pukul 05.45 kami sampai ditenda, para ladies tidak ada yang terlihat diluar tenda. Kucoba membuka pintu tenda Popi dan Ayu, mereka rupanya masih tidur dengan posisi badan saling membelakangi.
“Popi…Ayu..bangun..udah siang” aku mencoba membangunkan mereka.
Tak butuh waktu lama, mereka berdua bangun dan keluar dari tenda, akupun segera menyuruh mereka untuk segera keperkampungan untuk mandi. Aku Berjalan kearah tenda Ratna untuk membangunkannya, rupanya didalam tenda sudah ada Galih yang duduk sementara Ratna terbaring dengan kain basah di dahinya.
“Lih, Ratna kenapa?” tanyaku.
“Gak tau, pas gue masuk dia udah kaya gini. Dia kaya demam Ron, padahal pas subuh dia baik-baik aja” jawab Galih.
“Mbak Ratna kenapa?”
Popi bertanya dengan nada khawatir, sementara Ayu terlihat cuek bebek melihat keadaan Ratna yang terbaring demam.
“Lho kamu gak tau Ratna kena demam Pop?” Tanya Galih.
“Aku gak tau bang, tadi pas abang sama yang lain turun aku langsung tidur lagi” jawab Popi.
“Berarti Ratna tadi ngompres sendiri gak nyuruh siapa-siapa” ujar Galih.
“Coba Tanya Lih sekarang kerasanya gimana?” ujarku cemas.
“Tadi gue coba nanya, tapi kayanya sekarang dia lagi tidur. Biarin ntar nunggu dia bangun aja” ujar Galih.
Setelah Galih berkata demikian kami meninggalkan Galih dan Ratna ditenda mereka, sementara Popi dan Ayu menuju perkampungan untuk mandi. Kulihat mereka berjalan terpisah, Ayu berada didepan sementara Popi berjalan dibelakangnya.
“Itu mereka berdua kenapa ya? Kemaren pas pagi gak akur, terus sorenya akur, terus sekarang kek gak akur lagi.. hmmm cewek emang susah ditebak” gumamnku dalam hati.
Dikarenakan sang Koki utama Ratna sedang terbaring sakit dan Koki kedua Popi sedang berada diperkampungan, kami para lelaki memutuskan untuk memasak. Sekitar satu jam kemudian masakanpun siap disantap dan para ladies sudah kembali ketenda, dan kali ini Popi dan Ayu masih menjaga jarak.
Kami langsung mulai memakan nasi liwet yang baru saja matang, kami begitu menikmati nasi liwet yang hangat ditengah cuaca pegunungan yang sejuk. Hanya saja terasa kurang karena Ratna terbaring didalam tenda, begitupun Galih yang setia mendampinginya.
Setelah beres sarapan kami membereskan peralatan, sebenarnya agenda kami hari ini adalah berkeliling dikebun sayur warga dan menjelajahi sungai dengan Galih sebagai pemimpinnya. Namun karena Galih harus menjaga Ratna yang sedang demam, kami semua merasa tidak enak jika harus bersenang-senang sementara Galih dan Ratna tidak berpartisipasi.
“Udah kalian semua jalan-jalan aja sesuai agenda, gak apa-apa aku gak ikut juga” Ujar Galih mencairkan suasana.
“Tapi bang, kita gak enak kalo harus ninggalin abang sama mbak Ratna, lagian abang yang tau Rutenya” Popi berucap dengan nada pelan.
“Udah nikmati aja waktunya, kalian Tanya aja sama warga kebun sayur mereka dimana. Aku udah bilang sama warga disana kalo hari ini mu ngeliat-liat kebun sambil nyusuri sungai. Nanti juga dikasih tau” jawab Galih.
Akhirnya dengan setengah hati kami berlima meninggalkan Galih dan Ratna ditenda, Popi bersiap dengan kamera sakunya sementara Ayu bersiap dengan kamera Single Lens nya. Aku merasa seperti ada aura persaingan disini, tapi biarlah.
Kamipun pergi dengan para Gadis yang bersiap memburu foto untuk di update dimedsos, sementara kami para lelaki membawa pancingan kecil. Karena menurut Galih ada sungai dekat tenda kami menuju kesebuah Danau, dan di Danau tersebut terdapat ikan karena hawa disana agak hangat sehingga ikan bisa hidup, dan yang paling menarik adalah boleh dipancing Gratis.
Kami berpamitan kepada Galih dan mulai berjalan meninggalkan tenda, sekitar 20 meter dari tenda entah ada dorongan apa tiba-tiba aku ingin menoleh kearah tenda tempat Galih dan Ratna berada. Ketika aku berbalik kearah tenda berada, aku melihat gerombolan pocong dan kuntilanak yang kulihat tadi subuh sedang mengerumuni tenda tempat Ratna terbaring.
BERSAMBUNG
Tiba-tiba saja Ayu berteriak histeris dan berlari kearah sungai tempatku mencuci ikan tadi, dikala aku ingin mengejarnya aku merasa tubuhku tidak dapat digerakkan begitupun dengan tubuh teman yang lain terlihat dari expresi wajah mereka.
Part 28
Bersamaan dengan larinya Ayu kearah sungai tadi, tercium pula bau bangkai yang cukup menyengat. Bahkan teman-temanpun sepertinya mencium bau yang sama, karena jelas terlihat hidung mereka seperti mencium bau yang sangat mengganggu.
“Apaan nih? Kok rasanya gue pernah ngalamain hal kaya gini sebelumnya, rasanya dejavu banget. Kalo gue pikir-pikir hari ini cukup banyak hal yang terasa dejavu. Apa jangan-jangan ini Cuma mimpi” gumamku dalam hati.
Kuingat-ingat rasanya pernah aku mengalami hal serupa, dan kenanganpun terlintas bahwa benar aku pernah mengalami hal serupa saat acara jerit malam, saat itu Popi yang meninggalkanku dengan berlari karena kebelet ke WC.
Tak lama kemudian terdengar suara orang berlari dari arah sungai, ternyata Ayu. Bersamaan dengan datangnya dia, badanku dan teman-teman langsung bisa digerakkan, aneh sekali rasanya kenapa bisa pas sekali bisa bergerak saat Ayu sudah kembali.
“Kamu habis darimana Yu?” Tanya Galih setengah teriak, nampaknya dia khawatir.
“Emm nganu bang abis itu” jawabnya sambil kembali duduk.
Karena Ayu memberikan jawaban yang sangat ambigu menurutku, Galih dan para Pria menatap Ayu dengan tatapan curiga hingga membuat Ayu tertunduk.
“Eh udah pah jangan diperpanjang, mama pikir alesan Ayu cukup jelas kok” ujar Ratna sambil tersenyum.
“Maksudnya gimana mah kok mama yakin gitu?” Tanya Galih.
Sedetik kemudian Ratna mendekatkan mulutnya ketelinga Galih dan mulai berbisik, tak lama setelahnya Galih mengangguk-nganggukkan kepalanya sambil memegangdagunya.
“Oh gitu ya, iya papa paham kalo cewek emang pemalu” ujar Galih pelan.
Setelah Galih berkata demikian para lelaki lainpun memegangi dagu mereka dengan tangan kanan dan menganggukkan kepala dengan kopak sepertinya mereka mengerti, hanya tinggal aku saja yang belum begitu yakin dengan apa yang dilakukan Ayu tadi.
“Ayu kamu cepirit?” tanyaku dengan polos dengan WATADOS.
“Hush Roni kamu gak boleh gitu” Ratna berkata dengan pelan.
Ayu semakin menunduk dan tidak menjawab apapun, untuk beberapa saat suasana menjadi hening. Ayu kemudian berdiri dengan wajah tertunduk, tangannya mengepal dan matanya tertutup sementara bibirnya terlihat ingin mengucapkan sesuatu.
“Aku gak cepirit kok, Cuma kentut aja” jawab Ayu dengan setengah teriak dengan mata masih terpejam.
Tak lama setelah Ayu berkata demikian semua mata tertuju padaku, pandangan mereka sangatlah dingin dan sangat menganggu, terutama Popi.
“Ken….kenapa kok pada gitu ngeliatin aku? Aku cuma penasaran aja kenapa ampe teriak histeris cuma gara-gara pengen kentut” tanyaku.
Mereka tidak menjawab dan hanya menghela nafas, dan terdengar samar-samar Ipin dan Yana berkata “gak peka banget”. Ayu masih berdiri sambil memejamkan matanya, wajahnya masih tertunduk mungkin dia merasa malu. Akupun jadi merasa bersalah karena sudah tidak peka dengan urusan wanita.
“Yu maafin aku deh ya, maaf aku tadi ngomong gak dicerna” ujarku.
Ayu melirik kearahku, wajahnya samar-samar terlihat memerah dan semakin membuatku merasa bersalah.
“Gak apa-apa kok, udah lupain salah aku juga pergi ga pamit, habisnya udah gak ketahan” jawab Ayu.
Setelah berkata demikian Ayupun kembali duduk, tak butuh waktu lama baginya untuk tersenyum kembali. Malam itu rencana kemah berjalan lancer, kami mengobrol dan bernyanyi bersama hingga larut.
Malam itu sama sekali aku tidak melihat atau diganggu oleh yang namanya makhluk halus, kami benar-benar menikmati waktu berkemah kami. Pada pukul 23.00 kami semua sepakat untuk segera tidur ditenda masing-masing, dan karena jumlah kami ganjil akupun harus tidur didalam tenda sendirian.
----------------------------------00------------------------------------00---------------------------
“Roni…Roni..!!”
Samar-samar aku mendengar suara lelaki memanggil namaku, kulihat sekelilingku yang ada hanyalah kabut tebal. Aku tidak dapat melihat begitu jelas karena keadaan disini agak gelap, kondisinya mirip dengan terang bulan namun saat aku menatap keangkasa tidak nampak bulan.
Perlahan kabut tebal yang menghalangi pandangan menjadi tipis, aku bisa melihat untuk jarak beberapa meter kedepan. Kulihat sekeliling rupanya aku ada disebuah jalan yang sepertinya adalah jalan setepak, dipinggirnya terdapat pohon yang tidak begitu tinggi.
“Roni…!”
Suara itu kembali terdengar, terdengar dengan nada pelan bahkan lebih mirip seperti bisikan namun datangnya dari arah depanku. Tanpa sadar aku berjalan kearah depan mengikuti jalan setapak, aku tidak dapat melihat dengan jelas aku sedang berada dimana karena hanya ada jalan setapak lurus yang diapit oleh pepohonan.
Aku terus berjalan menyusuri jalan setapak ini karena penasaran dengan suara yang memanggil namaku, langkahku terhenti ketika aku melihat siluet dua sosok laki-laki yang sedang berdiri membelakangiku.
“Kang? Mau Tanya ini dimana ya?” aku bertanya tanpa menaruh curiga.
Sosok itu tidak menjawab pertanyaanku, akupun berjalan mendekati mereka. Ada hal yang aneh menurutku karena aku merasa tidak bisa mendekati sosok mereka, meskipun aku terus berjalan kearah mereka, mereka tetap berada pada jarak yang tetap sama.
“Woy ini dimana? Kalo orang nanya itu jawab!!”
Emosiku tersulut karena mereka tidak menjawab tanpa menyadari mungkin mereka bukanlah manusia, aku merasa kesal. Namun kekesalan itu tidak berlangsung lama ketika kedua sosok itu membalikkan badan mereka.
“Ka….Kalian?” ujarku tanpa sadar.
Dihadapanku sekarang berdiri dua sosok yang pernah kulihat sebelumnya, mereka berdua adalah sosok yang tempo hari duduk di kursi belakang mobil Ayu, seorang adalah bule dan seorang lagi nampaknya orang Indo.
“Hati-hati !”
Terdengar suata pelan, aku merasa aneh sekali bisa terdengar suara karena jelas sekali mulut mereka tidak bergerak sama sekali.
Kuperhatikan dengan seksama kondisi mereka biarpun agak sulit karena tidak begitu terang, kondisinya masih sama seperti saat dimobil dengan luka dibagian leher.
“Maksudnya hati-hati gimana?” tanyaku dengan wajah heran setengah teriak.
“Hati-hati…!”
“Hati-hati sama apa, gua gak ngerti sama omongan kalian!”
“Hati-hati…!”
“Iya hati-hati sama apa gua, gua gak ngerti kalo Cuma kata hati-hati doang” ujarku setengah kesal.
Kali ini sosok si Indo membuka mulut dan menggerakkan bibirnya mengucapkan satu kata namun tidak terdengar suara, namun aku membaca gerakan bibirnya. Aku bisa membaca gerakan bibir dan aku merasa bingung karena kata yang yang diucapkan sosok itu adalah MATI.
“Triiiing,,,,,,Triiiiing!!!!”
Suara alarm diHpku berbunyi, segera kumatikan alarm dan kucek ternyata sudah pukul 04.15 pagi. Aku biasa menyetel alarm untuk shalat subuh, biasanya suara adzan berkumandang pada pukul 04.30.
“Mimpi apa gue barusan? Kok rasanya nyata banget kaya bukan mimpi. Apa yang coba mereka sampein sama gue ya? Petunjuk kah?” gumamku dalam hati.
Kupikir sepertinya adzan subuh belum berkumandang, karena jika sudah pasti terdengar karena lokasi perkampungan dekat dengan tenda kami. Aku memutuskan untuk keluar dari tenda dan bersiap-siap berwudhu, suhu ditempat ini sungguh dingin disaat subuh dan terasa lebih dingin daripada saat malam.
Aku keluar dari tenda, suasana diluar sungguh sepi hanya terdengar suara burung hantu dan jangkrik. Kulihat sepertinya ditenda lain belum ada orang yang bangun, aku mencoba meluaskan pandangan kesekitar lokasi perkemahan karena kami menggunakan lampu yang berasal dari senter besar sehingga cukup terang.
“Astagfirullah”
Alangkah kagetnya diriku ketika melihat kearah sungai dan sekelilingnya, karena aku melihat pemandangan yang baru pertama kulihat dan membuatku sedikit merinding. Aku melihat sosok pocong dan kuntilanak dalam jumlah yang sangat banyak, dan pandangan mereka semua terarah kepadaku.
Jumlah total dari mereka mungkin lebih dari 20, itupun aku tidak yakin karena aku merasakan jantungku berpacu kencang disusul tubuhku yang mulai kaku tidak dapat digerakkan. Suasana terasa cukup tenang sebenarnya karena meraka semua hanya menampakkan diri dan menatap kearaku, mereka tidak terlihat bergerak ataupun mendekatiku, mungkin mereka hanya ingin menunjukkan eksistensi mereka.
“Allahu akbar..Allahu akbar !”
Terdengar suara adzan berkumandang dari arah perkampungan, bersamaan dengan terdengarnya suara adzan mereka perlahan mulai menghilang dari pandangan. Beberapa saat kemudian tubuhkupun dapat digerakkan, aku merasa badanku basah oleh keringat dan nafasku terengah-engah karena jantungku yang berdetak sangat kencang (mirip-mirip sensasi nembak cewek).
“Roni kamu kenapa?”
Aku mendengar suara wanita yang sangat kukenal, suara Popi. Kutoleh kearah suara rupanya Popi sedang menatapku dari pintu tenda, tak lama kemudian Galih dkk juga mulai keluar dari dalam tenda.
“Ron lu napa ampe keringetan gitu? Padahal kan dingin begini” Tanya Galih dengan heran.
“Eh tadi abis senam bentar lih, mumpung udaranya lagi seger” jawabku.
Sepertinya Popi dan Galih percaya dengan omonganku karena kebetulan nafasku yang ngos-ngosan mendukung alasan yang kuutarakan, hanya Ipin saja yang menatapku dengan tatapan curiga.
Setelah pembicaraan beres, kami berempat menuju kearah perkampungan untuk menunaikan shalat subuh dimushala dan juga sekalian mandi dikamar mushala, para wanita tidak keberatan kami tinggal karena menurut mereka pagi sudah hampir menjelang, dan kondisi saat itupun sudah tidak begitu gelap.
Diperjalanan menuju perkampungan aku masih terbayang dengan penampakan pocong dan kunti tadi, baru pertama kali aku melihat mereka bergerombol seperti itu. Karena biasanya saat sosok mereka menampakkan diri kepada manusia, mereka hanya muncul 1 dan tidak pernah muncul sebanyak itu dalam satu waktu.
“Bang Ron, Mbak Ayu udah punya pacar belom ya sapa tau abang punya info” ujar Yana dengan nada sedikit malu.
“Emang kenapa gitu Yan?” Tanyaku.
“Ya nggak apa-apa sih bang, penasaran aja. masa cewek secakep mbak Ayu belom punya pacar”
“Kayanya sih dia gak punya Yan kalo dari gelagatnya” jawabku.
“Mau ngapain emangnya Yan? Lagian biar Ayu jomblo gak bakalan mau sama kamu, inget-inget dah dia kan lagi ngedeketin cowok gak peka
yang olahraga sebelum shalat subuh” Ujar Galih dengan nada meledek.
“Hmmm iya juga sih bang, pupus sudah. Hahaha” jawab Yana tertawa.
“Apaan sih lih elah lu mah” aku berkata dengan nada mengeluh.
Usai mendengar pertanyaan dari Yana aku teringat dengan mimpi yang kualami tadi, mimpi tentang dua sosok yang berkata hati-hati kepadaku dan diujung mimpi salah seorang dari mereka berkata MATI kepadaku. Sepanjang jalan menuju kampung kami semua mengobrol ringan tentang asrinya tempat ini, hanya Ipin saja yang terlihat diam dan sedikit murung.
Usai menunaikan shalat subuh dan juga mandi kami langsung bergegas kembali ketenda, karena kami harus menyiapkan api dan bahan lain untuk memasak. Kami menggunakan kayu sebagai pengapian dan tidak menggunakan kompor gas portable, sehingga kami para lelaki harus menyiapkan api untuk para ladies.
Sekitar pukul 5.30 kami berjalan kembali kearah tenda, dikampung kami melihat para warga bersiap berangkat kekebun mereka. Mayoritas pekerjaan penduduk disini adalah petani sayuran dan pemetik daun teh, kebun sayuran menurut Galih letaknya lumayan jauh dari perkampungan sehingga kami tidak bisa melihatnya dari tempat kami berkemah.
Sekitar pukul 05.45 kami sampai ditenda, para ladies tidak ada yang terlihat diluar tenda. Kucoba membuka pintu tenda Popi dan Ayu, mereka rupanya masih tidur dengan posisi badan saling membelakangi.
“Popi…Ayu..bangun..udah siang” aku mencoba membangunkan mereka.
Tak butuh waktu lama, mereka berdua bangun dan keluar dari tenda, akupun segera menyuruh mereka untuk segera keperkampungan untuk mandi. Aku Berjalan kearah tenda Ratna untuk membangunkannya, rupanya didalam tenda sudah ada Galih yang duduk sementara Ratna terbaring dengan kain basah di dahinya.
“Lih, Ratna kenapa?” tanyaku.
“Gak tau, pas gue masuk dia udah kaya gini. Dia kaya demam Ron, padahal pas subuh dia baik-baik aja” jawab Galih.
“Mbak Ratna kenapa?”
Popi bertanya dengan nada khawatir, sementara Ayu terlihat cuek bebek melihat keadaan Ratna yang terbaring demam.
“Lho kamu gak tau Ratna kena demam Pop?” Tanya Galih.
“Aku gak tau bang, tadi pas abang sama yang lain turun aku langsung tidur lagi” jawab Popi.
“Berarti Ratna tadi ngompres sendiri gak nyuruh siapa-siapa” ujar Galih.
“Coba Tanya Lih sekarang kerasanya gimana?” ujarku cemas.
“Tadi gue coba nanya, tapi kayanya sekarang dia lagi tidur. Biarin ntar nunggu dia bangun aja” ujar Galih.
Setelah Galih berkata demikian kami meninggalkan Galih dan Ratna ditenda mereka, sementara Popi dan Ayu menuju perkampungan untuk mandi. Kulihat mereka berjalan terpisah, Ayu berada didepan sementara Popi berjalan dibelakangnya.
“Itu mereka berdua kenapa ya? Kemaren pas pagi gak akur, terus sorenya akur, terus sekarang kek gak akur lagi.. hmmm cewek emang susah ditebak” gumamnku dalam hati.
Dikarenakan sang Koki utama Ratna sedang terbaring sakit dan Koki kedua Popi sedang berada diperkampungan, kami para lelaki memutuskan untuk memasak. Sekitar satu jam kemudian masakanpun siap disantap dan para ladies sudah kembali ketenda, dan kali ini Popi dan Ayu masih menjaga jarak.
Kami langsung mulai memakan nasi liwet yang baru saja matang, kami begitu menikmati nasi liwet yang hangat ditengah cuaca pegunungan yang sejuk. Hanya saja terasa kurang karena Ratna terbaring didalam tenda, begitupun Galih yang setia mendampinginya.
Setelah beres sarapan kami membereskan peralatan, sebenarnya agenda kami hari ini adalah berkeliling dikebun sayur warga dan menjelajahi sungai dengan Galih sebagai pemimpinnya. Namun karena Galih harus menjaga Ratna yang sedang demam, kami semua merasa tidak enak jika harus bersenang-senang sementara Galih dan Ratna tidak berpartisipasi.
“Udah kalian semua jalan-jalan aja sesuai agenda, gak apa-apa aku gak ikut juga” Ujar Galih mencairkan suasana.
“Tapi bang, kita gak enak kalo harus ninggalin abang sama mbak Ratna, lagian abang yang tau Rutenya” Popi berucap dengan nada pelan.
“Udah nikmati aja waktunya, kalian Tanya aja sama warga kebun sayur mereka dimana. Aku udah bilang sama warga disana kalo hari ini mu ngeliat-liat kebun sambil nyusuri sungai. Nanti juga dikasih tau” jawab Galih.
Akhirnya dengan setengah hati kami berlima meninggalkan Galih dan Ratna ditenda, Popi bersiap dengan kamera sakunya sementara Ayu bersiap dengan kamera Single Lens nya. Aku merasa seperti ada aura persaingan disini, tapi biarlah.
Kamipun pergi dengan para Gadis yang bersiap memburu foto untuk di update dimedsos, sementara kami para lelaki membawa pancingan kecil. Karena menurut Galih ada sungai dekat tenda kami menuju kesebuah Danau, dan di Danau tersebut terdapat ikan karena hawa disana agak hangat sehingga ikan bisa hidup, dan yang paling menarik adalah boleh dipancing Gratis.
Kami berpamitan kepada Galih dan mulai berjalan meninggalkan tenda, sekitar 20 meter dari tenda entah ada dorongan apa tiba-tiba aku ingin menoleh kearah tenda tempat Galih dan Ratna berada. Ketika aku berbalik kearah tenda berada, aku melihat gerombolan pocong dan kuntilanak yang kulihat tadi subuh sedang mengerumuni tenda tempat Ratna terbaring.
BERSAMBUNG
selamat menikmati updatenya, maaf kalo alur cerita ane lambat

Diubah oleh roni.riyanto 25-03-2018 00:15
sulkhan1981 memberi reputasi
2
Kutip
Balas