- Beranda
- Stories from the Heart
Jurnal Langit : Malam Terakhir Sebelum Kematian (KUMPULAN CERPEN)
...
TS
raganagori
Jurnal Langit : Malam Terakhir Sebelum Kematian (KUMPULAN CERPEN)
Selamat malam, agan-agan.
Cuma mau menyampaikan, STAY SAFE AND MAINTAIN YOUR HEALTH.
Dunia sedang dilanda musibah epidemi yang mematikan, Namun percayalah ini bukanlah yang pertama bagi manusia. Tetap berkepala dingin, bergerak, dan jaga diri serta orang-orang yang disayangi.
Sedikit tambahan, ada cerita baru, karena ane entah lagi kesambet inspirasi dari mana. Selamat menikmati.
NEW STORY :
Catatan Keempat Belas : Satu Hari dalam Hidup Elang
CATATAN JURNAL LANGIT :
Catatan Pertama : Penghibur Bagi Yang Kesepian
Catatan Kedua : Belajar Untuk Mencintaimu
Catatan Ketiga : Rasa Yang Dibawa Oleh hujan
Catatan Keempat : Tangan Kurus Ibu
Catatan Kelima : Lucid Dream
Catatan Keenam : Tidak Ada Makam Di Kotaku
Catatan 7.1 : Translucent (part 1)
Catatan 7.2 : Translucent (part 2)
Catatan Kedelapan : Garis Batas
Catatan 9.1 : Benang-Benang Kusut Di Kepalaku (Part 1)
Catatan 9.2 : Benang-Benang Kusut Di Kepalaku (Part 2)
Catatan Kesepuluh : Dua Denyut
Catatan Kesebelas : Punggung Ibu
Catatan 12.1 : Kisah Kisah Bulan Oktober (Part I)
Catatan 12.2 : Kisah Klise Bulan Oktober (Part II)
Catatan Ketiga belas : Separuh dan Kau
Cuma mau menyampaikan, STAY SAFE AND MAINTAIN YOUR HEALTH.
Dunia sedang dilanda musibah epidemi yang mematikan, Namun percayalah ini bukanlah yang pertama bagi manusia. Tetap berkepala dingin, bergerak, dan jaga diri serta orang-orang yang disayangi.
Sedikit tambahan, ada cerita baru, karena ane entah lagi kesambet inspirasi dari mana. Selamat menikmati.
NEW STORY :
Catatan Keempat Belas : Satu Hari dalam Hidup Elang
CATATAN JURNAL LANGIT :
Catatan Pertama : Penghibur Bagi Yang Kesepian
Catatan Kedua : Belajar Untuk Mencintaimu
Catatan Ketiga : Rasa Yang Dibawa Oleh hujan
Catatan Keempat : Tangan Kurus Ibu
Catatan Kelima : Lucid Dream
Catatan Keenam : Tidak Ada Makam Di Kotaku
Catatan 7.1 : Translucent (part 1)
Catatan 7.2 : Translucent (part 2)
Catatan Kedelapan : Garis Batas
Catatan 9.1 : Benang-Benang Kusut Di Kepalaku (Part 1)
Catatan 9.2 : Benang-Benang Kusut Di Kepalaku (Part 2)
Catatan Kesepuluh : Dua Denyut
Catatan Kesebelas : Punggung Ibu
Catatan 12.1 : Kisah Kisah Bulan Oktober (Part I)
Catatan 12.2 : Kisah Klise Bulan Oktober (Part II)
Catatan Ketiga belas : Separuh dan Kau
Diubah oleh raganagori 09-05-2020 02:46
tien212700 dan 56 lainnya memberi reputasi
57
11.1K
Kutip
35
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.1KAnggota
Tampilkan semua post
TS
raganagori
#20
Catatan 9.1 : Benang-Benang Kusut Di Kepalaku (Part 1)
Sebagai tali penyambung silahturahim yang sempat mengendor, ijinkan ane persembahkan satu cerita terbaru ane.
Aku adalah belitan benang kusut yang rumit. Setidaknya, begitulah caraku menilai diri sendiri. Belitan yang sangat rumit, belibet, dan membuat jengah. Aku menyadarinya saat terbangun di Hari Kamis, 17 Maret, hari di mana menurut administrasi negara aku telah resmi memasuki usia 20 tahun. Aku membuka mataku yang panas dan berat, mencoba duduk di atas kasur kumal yang tak pernah kucuci seprainya. Dapat kurasakan punggungku seperti terganjal oleh sesuatu di tiap sendinya, dan dapat kurasakan pula sensasi aneh dari bagian bawah tubuhku. Rasanya seperti sesuatu telah diacak-acak dan tercerabut kasar, hingga hanya menyisakan kehampaan di sana. Sambil memijit tulang hidung, aku mencoba menghitung berapa kali aku melakukannya semalam.
Setelah berhasil bangun dengan susah payah, aku diam sebentar untuk memberi waktu pada kedua lututku mengumpulkan keteguhannya, lalu berjalan sempoyongan ke kamar mandi. Aku mencuci muka sekedarnya, dan memandang pantulan wajahku di cermin yang terpasang di dinding keramik biru langit. Sepasang lengkungan hitam terasir di bawah mata, sisa permainan semalam. Air mukaku juga tampak kusam. Sambil menelusuri rahang bawah dan mengelus janggut yang semakin lebat, aku menyikat gigi untuk menyegarkan mulut yang terasa asam.
Impianku adalah menyumbangkan seluruh organku. Maaf jika tiba-tiba bicara ngelantur, namun aku selalu terbayang dan menggaungkan impian itu tiap kali bangun pagi seperti ini.
Ya. Bukan hanya satu, atau dua, namun seluruh organku. Mulai dari kornea, jantung, ginjal, paru-paru, bahkan otak sekalipun akan kudonorkan dengan sukarela. Impian ini mulai bergema di pikiranku setelah menamatkan sebuah anime series berjudul Angel Beats. Ada yang tahu? Tidak? Tak apa. Berarti kita tidak akan bisa bicara banyak setelah ini. Bukan karena aku arogan dan masuk dalam kategori otaku atau wibu (istilah menjengkelkan yang disematkan netizen akhir-akhir ini), namun itu lebih dikarenakan aku tidak tahu banyak hal lain di luar sana selain anime dan manga. Aku tidak banyak menaruh minat pada politik, sepak bola, otomotif, atau hal apapun yang tengah menjadi tren dalam pergaulan masa kini. Benar-benar tidak ada minat, bahkan hanya dengan menonton pertandingan sepak bola, membaca berita hasil pertandingan semalam, event-event otomotif yang bergensi, atau nama-nama anggota dewan yang berseliweran mengenakan rompi orange tanpa lengan, aku pasti sudah tak betah ingin pergi atau menahan kantuk.
Ah, kembali ke soal impianku soal mendonorkan organ. Setelah menonton ending menyentuh di mana Sang Heroin ( tokoh utama perempuan) ternyata merupakan perwujudan dari gadis penerima donor jantung dari Si Protagonis, aku langsung berimajinasi untuk memberikan tubuhku pada orang lain, agar mereka bisa melanjutkan kehidupannya yang menyenangkan dan berbahagia. Membayangkan itu, aku tidak bisa tidak tersenyum sendiri sambil berjalan lunglai menuju kamar.
Aku melirik jam dinding. Masih setengah tujuh, pikirku. Aku merapikan semua kekacauan semalam. Novel, laptop yang masih terbuka, dan smartphone yang tergelat di samping bantal. Untunglah kabel chargernya masih terpasang. Aku mengetuk layarnya dua kali untuk mengecek adanya email yang masuk. Tapi tampilan yang pertama kali muncul adalah video hentai yang menjadi lapangan tempurku semalam. Adegannya berhenti di bagian credit. Itu adalah film tentang netorare, atau dalam bahasa mudahnya tentang perselingkuhan. Lebih spesifik, filmnya menceritakan tentang seorang istri muda nan cantik dengan tubuh luar biasa montok yang jatuh dalam rayuan pria lain setelah sebelumnya dirudapaksa dan justru kecanduan dengan kegagahan Sang Pria. Secara pribadi, aku lumayan suka dengan ceritanya, atau bisa dikatakan, aku menyukai genre semacam itu.
Setelah semua beres dan menyiapkan tas, aku mandi, berganti pakaian, dan tanpa sarapan segera berangkat kerja. Satu dari sedikit hal yang bisa kusyukuri dari diriku adalah mampu berbohong, bahkan kepada diri sendiri. Di balik seluruh kemesuman yang merusak jiwa raga, aku masih mampu memasang topeng sebagai manusia utuh di depan publik. Aku lulus kuliah dengan peringkat yang cukup baik, dan berhasil diterima bekerja di sebuah perusahaan keuangan yang cukup bonafid dengan jabatan yang cukup baik juga. Sebagai pria single di perantauan Ibu Kota, aku belum punya banyak tanggungan, dan kebetulan aku tidak terlalu boros selain untuk paket internet, kopi, dan rokok; alhasil secara finansial pun aku tidak terlalu punya banyak masalah. Sebagai manusia yang mengenakan topeng untuk menutupi kebejatannya, aku cukup puas dengan kehidupanku sekarang.
“Apa mas bahagia dengan pekerjaan itu?”
Dalam deru letih manusia-manusia yang merindukan bantal dan kasur, suara itu menyelinap dalam kesadaranku. Ia menatapku lurus, dan bertanya dengan lugas, sederhana, tanpa penekanan yang dramatis. Semuanya tampak murni dari rasa penasarannya.
Gadis itu mengenakan kaos lengan panjang berbahan katun dengan potongan sederhana, berwarna abu-abu kusam dan jingga pada lengannya. Rambutnya terurai hingga bahu, dan mengenakan celana jins serta sepatu kets. Awalnya dia mencegatku di atas JPO (Jembatan Penyeberangan Orang) sambil menyodorkan sebuah pamflet berisi empat buah foto yang seluruhnya menunjukkan kenelangsaan sekolah dan murid di daerah marginal. Di tiap foto tertempel belasan stiker mini dengan berbentuk rumah yang digambar dari garis merah tebal.
“Kita dari YAPI, Yayasan Anak dan Pendidikan Indonesia, Mas. Nah di sini, kita mau minta waktu Mas Irvan sebentaaarr aja buat berpartisipasi dalam survey opini publik. Ada empat isu mas di sini, jadi nanti mana yang menurut mas merupakan isu yang paling penting, silahkan temper stiker ini d foto masing-masing…” Jelasnya ramah, setelah menanyakan namaku.
Dia kemudian menjelaskan empat isu tersebut : pertama, tentang buruknya tingkat gizi buruk pelajar di Indonesia; kedua, tentang masih banyaknya fasilitas pendidikan dan pengajaran yang berkualitas rendah di berbagai pelosok; ketiga, masih terbatasnya akses anak usia sekolah pada informasi dan teknologi; dan keempat, tentang inklusifitas pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus.
Gadis itu menjelaskan secara singkat dan padat. Bahasanya begitu tertata dipadukan dengan intonasi yang tepat serta provokatif, menunjukkan betapa sering dia mengulang seluruh kalimat tersebut. Sambil mendengarkannya bicara, mataku mau tak mau ikut memperhatikan rupa Si Gadis. Dia tidak begitu cantik, namun juga tidak bisa dibilang buruk. Wajahnya tirus, dengan kulit coklat, hidungnya pun kecil, dan alis matanya tak sindah bulan sabit. Namun, matanya berbeda. Sepasang genangan jernih itu begitu bercahaya dan penuh kehidupan. Begitu berbeda denganku. Ia juga tidak memiliki arsir garis hitam di bawah matanya. Semuanya terlihat begitu bening dan menangkan.
“ Silahkan, mas!” ujar gadis itu sambil menyodorkan selembar kecil stiker berbentuk rumah itu. Aku menerimannya dengan canggung, dan malu, karena tidak mendengarkan dengan serius berbaris-baris penjelasan yang sudah susah payah ia lakukan. Sejenak aku berpura-pura berpikir, mengingat-ingat makna empat seksi foto di pamflet tersebut. Lalu kemudian, menempelnya secara sembarangan, sambil berharap ia tidak bertanya alasan kenapa aku memilih gambar tersebut.
“ Ngomong-ngomong, Mas Irvan, kelihatan masih muda, umur berapa mas?” Ah… syukurlah… dia tidak menanyakan alasanku memilih.
“Um… dua puluh dua…”
“Wah… berarti bener-bener masih fresh graduate ya, mas?” Aku mengangguk.
“Sejak dulu kuliah di Jakarta, mas?”
“Enggak… dulu kuliah di Surabaya….”
“Ah… berarti temennya banyak di sana ya mas?” Kali ini aku menatapnya sambil mengernyitkan dahi.
“Sebenarnya gini, mas. Kita dari YAPI lagi buka lowongan kerja, sebagai Management Trainee. Jadi siapa tahu mas bisa bantu sharing info ke temen-temen.”
Aku mengangguk-angguk. “Hanya di Jakarta, ya?”
“Iya, mass…” Ujarnya seakan menyesal.
Organisasi non-profit, terlihat jelas masih baru, dan hanya ada di Jakarta. Siapa gerangan ingin bergabung dalam organisasi yang tidak menawarkan apapun selain pahala ini?, pikirku. Namun, kupikir di jaman sekarang, pasti ada beberapa orang muda dengan idealisme serta keadilan tinggi yang bersemangat, seperti gadis di depanku sekarang. Namun, aku bukan salah satu diantara mereka. Lagian, kenapa mesti pakai embel-embel Management Trainee, sih? Frasa promosi macam itu sudah terlalu memuakkan dipakai oleh perusahaan-perusahaan, dan itu tak akan berhasil dengan kelompok seperti kalian, pikirku lagi sembari mengingat masa-masa menyebalkan saat masih job hunting.
“Baik, sebelumnya terima kasih banyak mas atas waktunya!” Gadis itu pamit undur diri dan berjalan menuju seorang laki-laki muda dengan pakaian seragam – pasti rekannya. Saat itu, sesuatu mengganggu pikiranku, ada sebuah dorongan aneh dalam dadaku, dan kemudian meluber tanpa terkendali dari mulutku.
“Anu..hmm…” Gadis itu berbalik padaku, “Ya, mas…?”
“Aku tidak berniat jadi tenaga tetap, tapi mungkinkah ada lowongan untuk volunteer di akhir pekan?”
Gadis itu saling pandang dengan rekannya sejenak. Terlihat bahwa mereka mencoba mencerna pertanyaanku. Setelah berunding sebentar, kemudian ia kembali dengan senyum merekah dan berujar penuh semangat, “Ada, mas!!”
Begitulah, dengan dorongan irasional nan misterius yang meluber seenaknya dari mulutku, kini aku resmi kehilangan akhir pekanku yang damai. Sabtu dan Minggu,dari jam 10 pagi hingga 3 sore, aku naik busway, transit dua kali, berjalan 10 menit melalui sebuah gang, dan akhirnya tiba di sebuah kantor di wilayah rukan yang berseberangan dengan Sungai. Kantor itu sendiri sudah lumayan lama, namun papan penanda bertuliskan “YAPI” masih bersih dan baru. Terdiri dari tiga lantai dengan balkon-balkon sempit tiap lantainya.
Sebagai tenaga sukarela di akhir pekan, aku lebih banyak diajak tugas lapangan ke berbagai sekolah terpencil di daerah-daerah pelosok sekitar Jakarta dan sekitarnya. Bahkan pada suatu waktu kami pernah pergi menjelajah lumayan jauh hingga ke daerah Bandung, menemui langsung realita menyedihkan tentang masih buruknya infrastruktur pendidikan Indonesia. Di tiap kunjungan, kami melakukan korespodensi dengan pejabat lokal, murid-murid, dan seringkali bersamaan dengan event bakti sosial untuk pengumpulan dana.
Vani, nama gadis yang menyegatku di JPO dengan mata penuh kehidupan itu, selalu ikut kemanapun ada event lapangan. Dan seperti biasa, dia bener-bener tampak antusias dengan seluruh kegiatan, yang bagiku, tak ada bedanya dengan acara amal tiap ramadan ini. Setelah sembilan kali ikut bersama merekapun, aku masih tak tahu kenapa aku mesti mengorbankan tidur akhir pekanku bersama mereka. Ah, tidak… setelah kupikir, aku tahu; ajakan dan obrolan dengan Vani yang penuh semangat itu yang terus menarik langkahku naik busway dan betah berjalan kaki di sepanjang gang tiap minggu. Saat di lapanganpun, dia dan semua orang yang bertugas memperlakukanku dengan ramah. Mungkin semua ini masuk dalam upaya untuk meyakinkanku mengubah status tenaga sukarelaku.
“Kamu punya mimpi, Van?” lagi-lagi suara itu menyegatku, kali ini saat pikiranku tengah mengambang tak tentu arah. Aku mengadah, dan mendapati Vani tengah berjongkok di depanku. Ia menyanggah kepalanya di atas lipatan kedua tangan yang memeluk lututnya. Matanya menunjukkan sinar yang sama seperti saat ia menanyakan pertanyaan itu.
“Ada. Tentu saja ada. Aku ingin lulus menjadi MT terbaik di angkatanku, dan bekerja di kantor pusat, dan…”
Dan…apa? Aku berhenti bicara. Mata Vani masih memandangku lekat. “Dan suatu hari bisa mendonorkan seluruh organku…” lanjutku.
“Hah?” ya, itu reaksi umum yang bisa diduga. Vina menelengkan kepalanya. “Kok gitu?”
“Biar bisa berguna untuk orang lain saat aku mati nanti.”
“Di sini kamu bisa berguna untuk banyak orang meski masih hidup…”
“Aku tetep gak bisa gabung lo, ya…”
“Hehehe iya iyaa.. aku cuma mau bilang, wajahmu beda banget sama waktu kita ketemu dulu.”
“Gantengan mana?” ujarku usil sambil tertawa kecil. Vani melemparku dengan kerikil.
“Lebih…. Gimana ya bilangnya…lebih hidup?”
Aku hanya bergumam ‘hmm…’. Aku mencabuti rumput-rumput kering di sampingku, dan mengalihkan pandang pada bunga sepatu berwarna merah yang tumbuh di taman kecil. Aku tidak begitu menikmati semua kegiatan ini. Namun harus kuakui tiap kali berada di tempat baru, di daerah yang hanya terjamah saat kampanye politik, langkahku tak ingin berhenti menjelajah. Setiap kali mendengarkan percakapan para pejabat, anak-anak dengan hidung beringus, dan ibu-ibu yang mengeluh, sesuatu seperti mengalir masuk dalam otakku, dan melepaskan semacam kelegaan di sana. Apakah ini yang bisa dinamakan ‘hidup’?
Sepulang dari tugas itu. Aku melemparkan tubuh ke atas kasur. Memandang langit-langit kamar yang kosong, bersarang laba-laba. Aku membayangkan wajah-wajah baru, percakapan-percakapan baru, dan kehidupan-kehidupan baru di daerah terpencil itu. Mendadak aku rindu. Sebuah sensasi ngilu dan menekan mencengkram ulu hatiku. Di ujung mataku, sesuatu mendesak dan mengakibatkan panas. Angin malam menyelinap masuk, dan membekukan kamar. Dan sepi merajamku. Di saat seperti ini, untuk pertama kalinya, aku ingin melakukan sesuatu selain bercinta dengan gadis-gadis 2D. Aku bangkit duduk, mengambil laptop dari laci, menyalakannya, dan meletakkan jemariku di atas keyboard.
Semenit, lima menit, dan akhirnya setengah jam berlalu. Layar putih itu masih putih. Namun kepalaku penuh, ribet, belibet, dan jengah seperti benang kusut membelit ruwet. Kenapa aku membuka laptop ini sejak awal? Aku bahkan tak tahu bagaimana cara meluruskan benang itu, apalagi menjahitkannya dengan kata. Namun entah kenapa, aku masih bertahan membuka laptop. Menatap layar putih dengan kursor berkerlap-kerlip seakan memanggil-manggil tidak sabar.
Sejam, dua jam, hingga akhirnya tengah malam terlewati, dan masih tidak ada perubahan satu huruf pun. Benang-benang itu semakin membelit, ruwet, dan menjengahkan. Aku tidak tahu apapun lagi. Belitan-belitan itu memenuhi kepalaku, berbagai hal berputar, berpencar, dan tak berdaya ku menyatukannya. Semua, pada akhirnya menjadi gelap. Kepalaku semakin berat.
BRAK!
Aku memukul meja, dan perasaan rindu itu malah semakin kuat. Begitupun dengan panas di ujung mataku yang tak terus mendesak. Beratnya beban yang menimpa kepalaku tak tertahankan, dan aku memasrahkannya jatuh ke atas keyboard. Akhirnya, layar itu berisi adukan huruf acak yang diikat benang-benang ruwet.
Dalam gelap, aku melihat seberkas cahaya. Bukan cahaya yang terang, tapi lebih serupa dengan cahaya yang memancar dari sorot proyektor lama. Dari cahaya itu, aku melihat Ibu membuka kancing dasternya, dan memelorotkan tali daster dari bahu hingga menampakkan buah dadanya yang besar. Lalu laki-laki yang bukan ayahku itu menjilat dan menghisap puting susu ibu; Ia juga mencaploknya, hingga mulut lelaki itu penuh dengan buah dada ibuku. Aku melihat adegan itu dari balik triplek atap yang berlubang, dan aku bisa melihat wajah ibu. Aku mendengar suaranya, suara mendesah yang menusuk dan membuat telingaku berdarah.
Bersambung ke catatan 9.2
Spoiler for Catatan 9.1 : Benang-Benang Kusut Di Kepalaku:
Aku adalah belitan benang kusut yang rumit. Setidaknya, begitulah caraku menilai diri sendiri. Belitan yang sangat rumit, belibet, dan membuat jengah. Aku menyadarinya saat terbangun di Hari Kamis, 17 Maret, hari di mana menurut administrasi negara aku telah resmi memasuki usia 20 tahun. Aku membuka mataku yang panas dan berat, mencoba duduk di atas kasur kumal yang tak pernah kucuci seprainya. Dapat kurasakan punggungku seperti terganjal oleh sesuatu di tiap sendinya, dan dapat kurasakan pula sensasi aneh dari bagian bawah tubuhku. Rasanya seperti sesuatu telah diacak-acak dan tercerabut kasar, hingga hanya menyisakan kehampaan di sana. Sambil memijit tulang hidung, aku mencoba menghitung berapa kali aku melakukannya semalam.
Setelah berhasil bangun dengan susah payah, aku diam sebentar untuk memberi waktu pada kedua lututku mengumpulkan keteguhannya, lalu berjalan sempoyongan ke kamar mandi. Aku mencuci muka sekedarnya, dan memandang pantulan wajahku di cermin yang terpasang di dinding keramik biru langit. Sepasang lengkungan hitam terasir di bawah mata, sisa permainan semalam. Air mukaku juga tampak kusam. Sambil menelusuri rahang bawah dan mengelus janggut yang semakin lebat, aku menyikat gigi untuk menyegarkan mulut yang terasa asam.
Impianku adalah menyumbangkan seluruh organku. Maaf jika tiba-tiba bicara ngelantur, namun aku selalu terbayang dan menggaungkan impian itu tiap kali bangun pagi seperti ini.
Ya. Bukan hanya satu, atau dua, namun seluruh organku. Mulai dari kornea, jantung, ginjal, paru-paru, bahkan otak sekalipun akan kudonorkan dengan sukarela. Impian ini mulai bergema di pikiranku setelah menamatkan sebuah anime series berjudul Angel Beats. Ada yang tahu? Tidak? Tak apa. Berarti kita tidak akan bisa bicara banyak setelah ini. Bukan karena aku arogan dan masuk dalam kategori otaku atau wibu (istilah menjengkelkan yang disematkan netizen akhir-akhir ini), namun itu lebih dikarenakan aku tidak tahu banyak hal lain di luar sana selain anime dan manga. Aku tidak banyak menaruh minat pada politik, sepak bola, otomotif, atau hal apapun yang tengah menjadi tren dalam pergaulan masa kini. Benar-benar tidak ada minat, bahkan hanya dengan menonton pertandingan sepak bola, membaca berita hasil pertandingan semalam, event-event otomotif yang bergensi, atau nama-nama anggota dewan yang berseliweran mengenakan rompi orange tanpa lengan, aku pasti sudah tak betah ingin pergi atau menahan kantuk.
Ah, kembali ke soal impianku soal mendonorkan organ. Setelah menonton ending menyentuh di mana Sang Heroin ( tokoh utama perempuan) ternyata merupakan perwujudan dari gadis penerima donor jantung dari Si Protagonis, aku langsung berimajinasi untuk memberikan tubuhku pada orang lain, agar mereka bisa melanjutkan kehidupannya yang menyenangkan dan berbahagia. Membayangkan itu, aku tidak bisa tidak tersenyum sendiri sambil berjalan lunglai menuju kamar.
Aku melirik jam dinding. Masih setengah tujuh, pikirku. Aku merapikan semua kekacauan semalam. Novel, laptop yang masih terbuka, dan smartphone yang tergelat di samping bantal. Untunglah kabel chargernya masih terpasang. Aku mengetuk layarnya dua kali untuk mengecek adanya email yang masuk. Tapi tampilan yang pertama kali muncul adalah video hentai yang menjadi lapangan tempurku semalam. Adegannya berhenti di bagian credit. Itu adalah film tentang netorare, atau dalam bahasa mudahnya tentang perselingkuhan. Lebih spesifik, filmnya menceritakan tentang seorang istri muda nan cantik dengan tubuh luar biasa montok yang jatuh dalam rayuan pria lain setelah sebelumnya dirudapaksa dan justru kecanduan dengan kegagahan Sang Pria. Secara pribadi, aku lumayan suka dengan ceritanya, atau bisa dikatakan, aku menyukai genre semacam itu.
Setelah semua beres dan menyiapkan tas, aku mandi, berganti pakaian, dan tanpa sarapan segera berangkat kerja. Satu dari sedikit hal yang bisa kusyukuri dari diriku adalah mampu berbohong, bahkan kepada diri sendiri. Di balik seluruh kemesuman yang merusak jiwa raga, aku masih mampu memasang topeng sebagai manusia utuh di depan publik. Aku lulus kuliah dengan peringkat yang cukup baik, dan berhasil diterima bekerja di sebuah perusahaan keuangan yang cukup bonafid dengan jabatan yang cukup baik juga. Sebagai pria single di perantauan Ibu Kota, aku belum punya banyak tanggungan, dan kebetulan aku tidak terlalu boros selain untuk paket internet, kopi, dan rokok; alhasil secara finansial pun aku tidak terlalu punya banyak masalah. Sebagai manusia yang mengenakan topeng untuk menutupi kebejatannya, aku cukup puas dengan kehidupanku sekarang.
“Apa mas bahagia dengan pekerjaan itu?”
Dalam deru letih manusia-manusia yang merindukan bantal dan kasur, suara itu menyelinap dalam kesadaranku. Ia menatapku lurus, dan bertanya dengan lugas, sederhana, tanpa penekanan yang dramatis. Semuanya tampak murni dari rasa penasarannya.
Gadis itu mengenakan kaos lengan panjang berbahan katun dengan potongan sederhana, berwarna abu-abu kusam dan jingga pada lengannya. Rambutnya terurai hingga bahu, dan mengenakan celana jins serta sepatu kets. Awalnya dia mencegatku di atas JPO (Jembatan Penyeberangan Orang) sambil menyodorkan sebuah pamflet berisi empat buah foto yang seluruhnya menunjukkan kenelangsaan sekolah dan murid di daerah marginal. Di tiap foto tertempel belasan stiker mini dengan berbentuk rumah yang digambar dari garis merah tebal.
“Kita dari YAPI, Yayasan Anak dan Pendidikan Indonesia, Mas. Nah di sini, kita mau minta waktu Mas Irvan sebentaaarr aja buat berpartisipasi dalam survey opini publik. Ada empat isu mas di sini, jadi nanti mana yang menurut mas merupakan isu yang paling penting, silahkan temper stiker ini d foto masing-masing…” Jelasnya ramah, setelah menanyakan namaku.
Dia kemudian menjelaskan empat isu tersebut : pertama, tentang buruknya tingkat gizi buruk pelajar di Indonesia; kedua, tentang masih banyaknya fasilitas pendidikan dan pengajaran yang berkualitas rendah di berbagai pelosok; ketiga, masih terbatasnya akses anak usia sekolah pada informasi dan teknologi; dan keempat, tentang inklusifitas pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus.
Gadis itu menjelaskan secara singkat dan padat. Bahasanya begitu tertata dipadukan dengan intonasi yang tepat serta provokatif, menunjukkan betapa sering dia mengulang seluruh kalimat tersebut. Sambil mendengarkannya bicara, mataku mau tak mau ikut memperhatikan rupa Si Gadis. Dia tidak begitu cantik, namun juga tidak bisa dibilang buruk. Wajahnya tirus, dengan kulit coklat, hidungnya pun kecil, dan alis matanya tak sindah bulan sabit. Namun, matanya berbeda. Sepasang genangan jernih itu begitu bercahaya dan penuh kehidupan. Begitu berbeda denganku. Ia juga tidak memiliki arsir garis hitam di bawah matanya. Semuanya terlihat begitu bening dan menangkan.
“ Silahkan, mas!” ujar gadis itu sambil menyodorkan selembar kecil stiker berbentuk rumah itu. Aku menerimannya dengan canggung, dan malu, karena tidak mendengarkan dengan serius berbaris-baris penjelasan yang sudah susah payah ia lakukan. Sejenak aku berpura-pura berpikir, mengingat-ingat makna empat seksi foto di pamflet tersebut. Lalu kemudian, menempelnya secara sembarangan, sambil berharap ia tidak bertanya alasan kenapa aku memilih gambar tersebut.
“ Ngomong-ngomong, Mas Irvan, kelihatan masih muda, umur berapa mas?” Ah… syukurlah… dia tidak menanyakan alasanku memilih.
“Um… dua puluh dua…”
“Wah… berarti bener-bener masih fresh graduate ya, mas?” Aku mengangguk.
“Sejak dulu kuliah di Jakarta, mas?”
“Enggak… dulu kuliah di Surabaya….”
“Ah… berarti temennya banyak di sana ya mas?” Kali ini aku menatapnya sambil mengernyitkan dahi.
“Sebenarnya gini, mas. Kita dari YAPI lagi buka lowongan kerja, sebagai Management Trainee. Jadi siapa tahu mas bisa bantu sharing info ke temen-temen.”
Aku mengangguk-angguk. “Hanya di Jakarta, ya?”
“Iya, mass…” Ujarnya seakan menyesal.
Organisasi non-profit, terlihat jelas masih baru, dan hanya ada di Jakarta. Siapa gerangan ingin bergabung dalam organisasi yang tidak menawarkan apapun selain pahala ini?, pikirku. Namun, kupikir di jaman sekarang, pasti ada beberapa orang muda dengan idealisme serta keadilan tinggi yang bersemangat, seperti gadis di depanku sekarang. Namun, aku bukan salah satu diantara mereka. Lagian, kenapa mesti pakai embel-embel Management Trainee, sih? Frasa promosi macam itu sudah terlalu memuakkan dipakai oleh perusahaan-perusahaan, dan itu tak akan berhasil dengan kelompok seperti kalian, pikirku lagi sembari mengingat masa-masa menyebalkan saat masih job hunting.
“Baik, sebelumnya terima kasih banyak mas atas waktunya!” Gadis itu pamit undur diri dan berjalan menuju seorang laki-laki muda dengan pakaian seragam – pasti rekannya. Saat itu, sesuatu mengganggu pikiranku, ada sebuah dorongan aneh dalam dadaku, dan kemudian meluber tanpa terkendali dari mulutku.
“Anu..hmm…” Gadis itu berbalik padaku, “Ya, mas…?”
“Aku tidak berniat jadi tenaga tetap, tapi mungkinkah ada lowongan untuk volunteer di akhir pekan?”
Gadis itu saling pandang dengan rekannya sejenak. Terlihat bahwa mereka mencoba mencerna pertanyaanku. Setelah berunding sebentar, kemudian ia kembali dengan senyum merekah dan berujar penuh semangat, “Ada, mas!!”
Begitulah, dengan dorongan irasional nan misterius yang meluber seenaknya dari mulutku, kini aku resmi kehilangan akhir pekanku yang damai. Sabtu dan Minggu,dari jam 10 pagi hingga 3 sore, aku naik busway, transit dua kali, berjalan 10 menit melalui sebuah gang, dan akhirnya tiba di sebuah kantor di wilayah rukan yang berseberangan dengan Sungai. Kantor itu sendiri sudah lumayan lama, namun papan penanda bertuliskan “YAPI” masih bersih dan baru. Terdiri dari tiga lantai dengan balkon-balkon sempit tiap lantainya.
Sebagai tenaga sukarela di akhir pekan, aku lebih banyak diajak tugas lapangan ke berbagai sekolah terpencil di daerah-daerah pelosok sekitar Jakarta dan sekitarnya. Bahkan pada suatu waktu kami pernah pergi menjelajah lumayan jauh hingga ke daerah Bandung, menemui langsung realita menyedihkan tentang masih buruknya infrastruktur pendidikan Indonesia. Di tiap kunjungan, kami melakukan korespodensi dengan pejabat lokal, murid-murid, dan seringkali bersamaan dengan event bakti sosial untuk pengumpulan dana.
Vani, nama gadis yang menyegatku di JPO dengan mata penuh kehidupan itu, selalu ikut kemanapun ada event lapangan. Dan seperti biasa, dia bener-bener tampak antusias dengan seluruh kegiatan, yang bagiku, tak ada bedanya dengan acara amal tiap ramadan ini. Setelah sembilan kali ikut bersama merekapun, aku masih tak tahu kenapa aku mesti mengorbankan tidur akhir pekanku bersama mereka. Ah, tidak… setelah kupikir, aku tahu; ajakan dan obrolan dengan Vani yang penuh semangat itu yang terus menarik langkahku naik busway dan betah berjalan kaki di sepanjang gang tiap minggu. Saat di lapanganpun, dia dan semua orang yang bertugas memperlakukanku dengan ramah. Mungkin semua ini masuk dalam upaya untuk meyakinkanku mengubah status tenaga sukarelaku.
“Kamu punya mimpi, Van?” lagi-lagi suara itu menyegatku, kali ini saat pikiranku tengah mengambang tak tentu arah. Aku mengadah, dan mendapati Vani tengah berjongkok di depanku. Ia menyanggah kepalanya di atas lipatan kedua tangan yang memeluk lututnya. Matanya menunjukkan sinar yang sama seperti saat ia menanyakan pertanyaan itu.
“Ada. Tentu saja ada. Aku ingin lulus menjadi MT terbaik di angkatanku, dan bekerja di kantor pusat, dan…”
Dan…apa? Aku berhenti bicara. Mata Vani masih memandangku lekat. “Dan suatu hari bisa mendonorkan seluruh organku…” lanjutku.
“Hah?” ya, itu reaksi umum yang bisa diduga. Vina menelengkan kepalanya. “Kok gitu?”
“Biar bisa berguna untuk orang lain saat aku mati nanti.”
“Di sini kamu bisa berguna untuk banyak orang meski masih hidup…”
“Aku tetep gak bisa gabung lo, ya…”
“Hehehe iya iyaa.. aku cuma mau bilang, wajahmu beda banget sama waktu kita ketemu dulu.”
“Gantengan mana?” ujarku usil sambil tertawa kecil. Vani melemparku dengan kerikil.
“Lebih…. Gimana ya bilangnya…lebih hidup?”
Aku hanya bergumam ‘hmm…’. Aku mencabuti rumput-rumput kering di sampingku, dan mengalihkan pandang pada bunga sepatu berwarna merah yang tumbuh di taman kecil. Aku tidak begitu menikmati semua kegiatan ini. Namun harus kuakui tiap kali berada di tempat baru, di daerah yang hanya terjamah saat kampanye politik, langkahku tak ingin berhenti menjelajah. Setiap kali mendengarkan percakapan para pejabat, anak-anak dengan hidung beringus, dan ibu-ibu yang mengeluh, sesuatu seperti mengalir masuk dalam otakku, dan melepaskan semacam kelegaan di sana. Apakah ini yang bisa dinamakan ‘hidup’?
Sepulang dari tugas itu. Aku melemparkan tubuh ke atas kasur. Memandang langit-langit kamar yang kosong, bersarang laba-laba. Aku membayangkan wajah-wajah baru, percakapan-percakapan baru, dan kehidupan-kehidupan baru di daerah terpencil itu. Mendadak aku rindu. Sebuah sensasi ngilu dan menekan mencengkram ulu hatiku. Di ujung mataku, sesuatu mendesak dan mengakibatkan panas. Angin malam menyelinap masuk, dan membekukan kamar. Dan sepi merajamku. Di saat seperti ini, untuk pertama kalinya, aku ingin melakukan sesuatu selain bercinta dengan gadis-gadis 2D. Aku bangkit duduk, mengambil laptop dari laci, menyalakannya, dan meletakkan jemariku di atas keyboard.
Semenit, lima menit, dan akhirnya setengah jam berlalu. Layar putih itu masih putih. Namun kepalaku penuh, ribet, belibet, dan jengah seperti benang kusut membelit ruwet. Kenapa aku membuka laptop ini sejak awal? Aku bahkan tak tahu bagaimana cara meluruskan benang itu, apalagi menjahitkannya dengan kata. Namun entah kenapa, aku masih bertahan membuka laptop. Menatap layar putih dengan kursor berkerlap-kerlip seakan memanggil-manggil tidak sabar.
Sejam, dua jam, hingga akhirnya tengah malam terlewati, dan masih tidak ada perubahan satu huruf pun. Benang-benang itu semakin membelit, ruwet, dan menjengahkan. Aku tidak tahu apapun lagi. Belitan-belitan itu memenuhi kepalaku, berbagai hal berputar, berpencar, dan tak berdaya ku menyatukannya. Semua, pada akhirnya menjadi gelap. Kepalaku semakin berat.
BRAK!
Aku memukul meja, dan perasaan rindu itu malah semakin kuat. Begitupun dengan panas di ujung mataku yang tak terus mendesak. Beratnya beban yang menimpa kepalaku tak tertahankan, dan aku memasrahkannya jatuh ke atas keyboard. Akhirnya, layar itu berisi adukan huruf acak yang diikat benang-benang ruwet.
Dalam gelap, aku melihat seberkas cahaya. Bukan cahaya yang terang, tapi lebih serupa dengan cahaya yang memancar dari sorot proyektor lama. Dari cahaya itu, aku melihat Ibu membuka kancing dasternya, dan memelorotkan tali daster dari bahu hingga menampakkan buah dadanya yang besar. Lalu laki-laki yang bukan ayahku itu menjilat dan menghisap puting susu ibu; Ia juga mencaploknya, hingga mulut lelaki itu penuh dengan buah dada ibuku. Aku melihat adegan itu dari balik triplek atap yang berlubang, dan aku bisa melihat wajah ibu. Aku mendengar suaranya, suara mendesah yang menusuk dan membuat telingaku berdarah.
Bersambung ke catatan 9.2
Diubah oleh raganagori 24-03-2018 11:39
0
Kutip
Balas