- Beranda
- Stories from the Heart
Sonne Mond und Stern
...
TS
glitch.7
Sonne Mond und Stern
die SONNE der MOND und der STERN
Cerita ini tak lagi sama
Meski hatimu selalu di sini
Mengertilah bahwa ku tak berubah
Lihat aku dari sisi yang lain
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Waktu yang telah kita lalui
Buatmu jadi lebih berarti
Luluhkan kerasnya dinding hati
Engkaulah satu yang aku cari
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu menemaniku
Kau menenangkanku,Kau melegakan aku.
Cerita ini tak lagi sama
Meski hatimu selalu di sini
Mengertilah bahwa ku tak berubah
Lihat aku dari sisi yang lain
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Waktu yang telah kita lalui
Buatmu jadi lebih berarti
Luluhkan kerasnya dinding hati
Engkaulah satu yang aku cari
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu menemaniku
Kau menenangkanku,Kau melegakan aku.
Tak Lagi Sama - Noah
Spoiler for Cover Stories:
JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 95% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA
Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahdan lanjutan dari sebuah cerita Love in Elegy yang pernah Gua tulis di Forum ini.
Quote:
Catatan:
1. Mengacu pada aturan main forum H2H dan SFTH
2. 95% Semua tokoh/karakter di cerita ini sudah memberikan izin
3. Sikapi dengan bijak apa yang tertuang disini
4. Jangan meminta lebih dari apa yang sudah diberikan
5. Sopanlah dalam berkomentar
6. Saling menghargai TS, penulis dan sesama kaskuser disini
1. Mengacu pada aturan main forum H2H dan SFTH
2. 95% Semua tokoh/karakter di cerita ini sudah memberikan izin
3. Sikapi dengan bijak apa yang tertuang disini
4. Jangan meminta lebih dari apa yang sudah diberikan
5. Sopanlah dalam berkomentar
6. Saling menghargai TS, penulis dan sesama kaskuser disini
Versi PDF Dua Thread Sebelumnya :

*mulustrasi karakter dalam cerita ini
Quote:
BAB I & BAB II
BAB III & BAB IV
***
Tralala_Trilili
PROLOG
BAB V
PART 1
PART 2
PART 3
PART 4
PART 5
PART 6
PART 7
PART 8
PART 9
PART 10
PART 11
PART 12
PART 13
PART 14
PART 15- continues
PART 16
PART 17
PART 18
PART 19
PART 20
***
SEBELUM CAHAYA
PART I
PART II
PART III - The Ghost of You
PART IV
PART V
PART VI
PART VII
PART VIII
Cooling Down
PART IX
PART X - continues
PART XI
PART XII
PART XIII
PART XIV
PART XV
PART XVI
PART XVII A
PART XVII B
PART XVIII
PART XIX - continues
PART XX
PART XXI
PART XXII
PART XXIII
PART XXIV
PART XXV
PART XXVI
PART XXVII
PART XXVIII
PART XXIX
PART XXX
PART XXXI
PART XXXII
PART XXXIII
PART XXXIV
PART XXXV
PART XXXVI - continues
PART XXXVII
PART XXXVIII
PART XXXIX
Vor dem Licht XL - Das Ende
***
BAB V
PART 21
PART 22
Tentang Rasa
PART 23
PART 24
PART 25
PART 26
PART 27
Von Hier Wegfliegen
Teils Eins - Vorstellen
Teils Zwei - Anfang
Teils Drei - Der Erbarmer
Teils Vier - Von Hier Wegfliegen
Lembayung Senja
Bagian Satu
Bagian Dua
Bagian Tiga
Bagian Empat
Bagian Lima - continues
Bagian Enam
Bagian Tujuh
Bagian Delapan
Bagian Sembilan
Bagian Sepuluh - continues
Breaking Dawn
One Step Closer
Ascension
Throwback Stories
Life is Not Always Fair
Dusk till Dawn
Awal Semula
Untuk Masa Depan
Terimakasih
Omong Kosong
Kepingan Cerita
Menyerah
Restoe
Rasanya - Rasain
Pengorbanan
Menuju Senja
Kenyataan
Wiedersehen
Cobalah untuk Mengerti
Pengorbanan
Tentang Kita
SIDE STORY
VFA
Daily Life I
Daily Life II
Maaf NEWS
Tentang MyPI
*thanks to my brother in law yang bantu index dan update selama gua mudik
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 239 suara
Siapakah pendamping Eza sebenarnya ?
Sherlin Putri Levanya
55%
Franziska Luna Katrina
17%
Giovanna Almira
28%
Diubah oleh glitch.7 08-01-2022 09:16
ezzasuke dan 126 lainnya memberi reputasi
123
1.9M
Kutip
8.8K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.3KAnggota
Tampilkan semua post
bunbun.orenz
#5875
Von Hier Wegfliegen
Teils Eins - Vorstellen
Quote:
Setengah jam aku berada di Bürgerbüro Unterbach hanya untuk sekedar menghirup udara segar. Walaupun sekarang masih winter, yang membuat suhu diluar sangat dingin, aku tetap lebih memilih untuk keluar rumah agar pikiranku bisa sedikit tenang.
Lindsey menelusupkan kedua tangannya kedalam saku winter coat yang ia kenakan. "Wir gehen jetzt ?", tanyanya setelah berdiri.
"Wohin ?".
Lindsey tersenyum, "Ich möchte einen freund vorstellen".
Ga' ada salahnya menurutku untuk mengikutinya kali ini dan berkenalan dengan teman baru.
Lindsey merupakan seorang perempuan keturunan Israel & Inggris. Perempuan yang memiliki rambut panjang dengan warna yang mencolok. Merah menyala.
Kami berdua menjadi dekat pada saat disatukan dalam sebuah kelompok untuk mengerjakan tugas kuliah saat semester lima lalu. Dan akhirnya kami berteman dengan sangat baik, mungkin juga karena pandangan kami yang sama-sama Agnostik.
Tidak ada yang spesial dari sosok Lindsey, selain rasa sosialnya yang cukup tinggi terhadap teman satu kelasnya.
Saat aku kembali kesini, dialah yang menjemputku di bandara. Dan dari situlah entah kenapa aku merasakan kalau Lindsey bisa menjadi pendengar yang baik atas apa yang aku alami satu bulan lalu di Indonesia.
Kami berdua akhirnya meninggalkan salah satu City Hall yang berada di Dusseldorf ini dan berkendara menuju Unterbach See dibagian lain kota.
Berharap dengan apa yang aku lihat dari pemandangan danau disana bisa membuat pikiran ku lebih tenang, dan hati ini pun bisa terasa damai.
Ga' semudah yang ku bayangkan ternyata, melupakan cerita saat masih bersama dengan dia sama halnya seperti merelakan sesuatu yang memang milikku diambil oleh orang lain, walaupun aku tahu itu adalah keputusannya sendiri. Mungkin terdengar egois. Tapi aku sendiri ga' ngerti, kenapa juga orang seperti dia yang sangat biasa saja bisa-bisanya membuat hati dan pikiranku selalu dipenuhi oleh namanya. Padahal secara rupa, Andrew jauh lebih tampan darinya.
Kami berdua turun dari mobil. Aku mengikuti Lindsey yang sedang mencari temannya.
"Hi, Lindsey".
Seorang perempuan menyapa Lindsey dari sisi kanan kami. Lindsey tersenyum dan mengajakku untuk berjalan sedikit cepat.
"Hi, Melis, lange nicht gesehen". Lindsey terlihat senang bertemu dengan temannya itu.
Seorang perempuan yang cukup tinggi dengan wajah yang cantik. Busananya sangat rapih dan tertutup, terlepas dari suhu yang memang sangat dingin.
"Wie geht es dir ?".
"Sehr gut, danke", jawab temannya Lindsey dengan senyum yang nampak riang.
Aku rasa mereka memang sudah lama kenal dan sangat akrab. Aku tidak pernah bertemu dengan teman Lindsey itu sebelumnya. Tapi sepertinya ia adalah orang yang cukup menyenangkan. Aku yakin akan hal itu.
"Wer ist das ?". Ia menengok kepada ku yang masih berdiri sedikit dibelakang Lindsey.
"Ah, sie ist Katrin", Lindsey ikut menengok kepadaku sambil tersenyum dan memintaku untuk berkenalan dengan temannya.
"Hallo, ich heisse Helena Katrina, Mein rufname ist Katrin. Wie heisst du ?", jawabku sekaligus menanyakan namanya.
"Mein name ist Melis Evcen. Und du kannst mich Melis. Wie geht est dir, Katrin ?".
Aku sedikit memaksakan senyum saat ia bertanya mengenai kabarku. "Nicht so gut".
"Er hat in den letzten monaten einige schlimme dinge erlebt, Melis". Lindsey mengusap pundakku dan memberitahukan kepada Melis kalau aku telah mengalami hal yang buruk beberapa bulan lalu.
Biasanya aku selalu melihat tanggapan orang dengan menunjukkan wajah yang murung dan ikut merasa sedih saat mendengar orang yang ia kenal, terlebih baru berkenalan, dan mengetahui kalau orang tersebut sedang mengalami suatu hal buruk. Tapi apa yang ditunjukkan Melis berbeda dengan orang kebanyakan.
Dia tetap tersenyum. Aku sedikit heran dengan tanggapannya tersebut. Apakah dia seorang yang tidak peduli kepada orang lain atau semacamnya pikirku.
"Katrin, manchmal entspricht das Leben nicht immer dem, was wir erwarten". Melis tetap tersenyum kepadaku, dan dia akan selalu seperti itu di waktu yang akan datang.
Aku tahu apa yang ia katakan benar. Ya memang terkadang hidup ini memang tidak selalu seperti apa yang kita harapkan. Bukan memaksakan, aku hanya ingin tahu kenapa harus berjalan seperti ini ?.
Dulu saat masih berpacaran dengan seorang Jerman, aku pikir semuanya sudah cukup sempurna. Andrew adalah orang yang baik awalnya. Dia menyanyangiku seperti dia menyanyangi Ibunya. Tidak ada alasan untukku berpaling darinya. Apa yang dia berikan selama itu sudah cukup membuatku bahagia.
Dan ucapan Melis barusan membuatku sadar. Pengalaman saat bersama Andrew adalah salah satu contoh bahwa hidup ini terkadang tidak sesuai dengan harapan kita.
Tapi harapan baik itu kembali muncul saat aku mengenal seorang pria lain. Seorang pria yang tidak memiliki keturunan bangsa Arya sama sekali. Seorang pria yang tidak memiliki idealisme sama sepertiku yang Agnostik.
"Katrin, komm mit mir".
Aku tidak tahu Melis ingin mengajakku kemana. Tapi Lindsey langsung tersenyum kepadaku, memberikan isyarat kalau ajakan Melis itu akan menjadi suatu hal yang baik untukku.
Minggu-minggu terakhir musim dingin yang terasa panjang. Pada malam hari, suhunya sampai membuat tubuhku sedikit menggigil. Aku menjalani hari-hari dengan keterpaksaan, andai tahun ini bukanlah semester terakhir perkuliahan mungkin aku tidak akan berada disini dan masih bersamanya. Tapi itu hanyalah sebuah angan yang pada kenyataannya kini aku merasakan kebekuan. Kebekuan di dalam hati atas apa yang sudah ku alami beberapa bulan lalu.
Aku tidak sedang melarikan diri. Ujarku pada diri sendiri. Aku hanya berusaha menghadapi hari demi hari setelah melihat sebuah foto pernikahan yang dikirimkan Mamah lewat email.
Ada hal lain kini yang inginku lakukan, berjalan dengan semestinya, merubah semua pandangan hidup, dan mencoba membuka mata hatiku untuk menerima keyakinan yang dapat membuatku merasa damai.
Melis Evcen merupakan sosok perempuan cantik dengan tinggi rata-rata orang Eropa. Sosok perempuan yang ku kenal lewat Lindsey dua bulan lalu. Melis sedikit membuat pikiranku bertanya-tanya. Apakah dia memiliki keturunan dari bangsa Arab atau bangsa timur lainnya ?.
Dan nyatanya benar, dia memiliki garis keturunan bangsa Arab dan juga Eropa. Sama halnya seperti Lindsey, seorang perempuan yang baik hati. Namun Melis ternyata berasal dari benua Asia. Tapi menurutku tempat asalnya berada diantara dua benua.
Melis Evcen atau yang biasa kupanggil dengan Melis itu adalah seorang Turkish.
"Hayırlı cumalar, Katrin".
"Was ?". Aku tidak mengerti bahasa Turki.
Melis tersenyum dan mendekatiku. Dia memegang kedua bahuku dan kembali berucap. "Schönen Freitag". Senyuman itu tidak pernah hilang dari sosok seorang Melis.
"Oh, have a nice friday too, Melis", balasku dan ikut tersenyum.
Itulah pertama kalinya dia mengatakan 'selamat hari jum'at' kepadaku, sampai ucapan itu seperti menjadi sebuah ritual bagi kami berdua dalam dua bulan terakhir. Setiap hari jum'at jika kami bertemu, entah dia atau aku duluan yang akan mengatakan hayırlı cumalar.
Selama dua bulan ini aku sering pergi bersama Melis dan Lindsey. Entah hanya sekedar berjalan-jalan melepas penat dan menikmati suasana kota tua yang disebut Altstadt, lalu menikmati udara pada tepian sungai yang menyegarkan paru-paru di Rheinuferpromonade, dan akhirnya 'cukup' menghabiskan uang di Königsalle untuk memenuhi hasrat shopping seorang perempuan seperti aku dan Lindsey.
Melis berbeda dengan kami berdua. Dia tidak begitu suka berbelanja tas, perhiasaan, atau busana terbaru di Königsalle. Selain katanya harga yang mahal, barang-barang pribadinya belum perlu diganti. Lindsey sempat menggoda Melis dengan mengatakan kalau Melis sedang menabung untuk membuka sebuah usaha setelah lulus nanti. Aku pikir apa yang dikatakan Lindsey sungguh-sungguh saat itu. Sampai akhirnya nanti dikemudian hari aku dan Lindsey harus menguatkan Melis.
"Katrin, kamu dan Lindsey setali tiga uang", itulah yang selalu ia katakan kepadaku dan Lindsey setiap habis belanja.
Aku tidak menyangkalnya, ia mengatakan hal yang benar. Aku dan Lindsey memang sering 'gelap mata' ketika berada di sebuah outlet barang wanita. Melis sering mengingatkan aku dan Lindsey agar menghemat uang, karena ia tahu kalau apa yang kami beli, entah itu tas, pakaian, dan barang lainnya, sebenarnya tidak terlalu kami butuhkan. Tapi apalah dayaku dan Lindsey jika sudah berada di tengah-tengah barang berkualitas dan branded.
Pada awal musim semi di bulan maret. Aku dan Melis sedang membicarakan masa lalu kami berdua.
Di awali dengan Melis yang bercerita tentang kedua orangtuanya. Ia lahir dari keluarga sederhana, kedua orang tuanya sudah meninggal dunia. Pertama adalah Ibunya yang meninggalkan mereka akibat menderita sakit kanker payudara dua tahun lalu. Kemudian disusul oleh Ayah tercinta satu tahun kemudian. Sang Ayah meninggal dikarenakan mengalami pendarahan pada otak akibat terjatuh saat sedang membetulkan bagian atap rumah mereka.
"Maaf. Aku turut berduka, Melis". Mendengar awal ceritanya yang langsung ditinggal oleh kedua orang yang paling berharga dalam waktu dekat membuatku merasa bersalah karena sudah ingin tahu tentang masa lalunya itu. Tapi seperti yang sudah aku bilang sebelumnya, Melis tetaplah Melis, seorang perempuan yang akan selalu tersenyum disetiap harinya.
Seolah kejadian tersebut bukanlah hal yang patut ditangisi sepanjang waktu, dan memang seharusnya seperti itu. Melis tersenyum. "Tidak apa-apa, Katrin. Kejadian itu sudah lama berlalu, aku sudah merelakan mereka berdua. Lagipula kita semua akan meninggalkan dunia ini pada akhirnya kan ?".
Setelah itu aku baru mengetahui kalau dia masih memiliki saudara. Seorang Kakak laki-laki yang bernama Salih. Kakaknya sudah bekerja dan terpaut tiga tahun dengan Melis.
"Dia bekerja disini ?", tanyaku. Melis mengambil sebuah bantal sofa dan meletakkannya diatas kedua pahanya. "Engga'. Dia kerja di kota kelahiran kami".
Melis mengatakan kalau Kakaknya belum berkeluarga. Entah apa maksudnya tapi mungkin hanya aku saja yang merasa sedikit sensitif saat itu.
"Oh ya Katrin, apa kamu tahu Konya ?", tanya Melis tiba-tiba.
Tentu saja aku tidak tahu dan baru mendengar kata tersebut. Lalu dia kembali bercerita.
"Konya adalah sebuah kota yang banyak diperbincangkan oleh orang-orang dari luar Turki. Karena disanalah seorang punjangga muslim, seorang sastrawan muslim, seorang filsuf muslim banyak menghabiskan hari-harinya", terang Melis dengan antusias.
"Siapa orang tersebut, Melis ?". Aku memang tidak begitu mengetahui tokoh-tokoh sastrawan dunia, apalagi dari kalangan muslim.
"Kamu pernah mendengar nama Jalal ad-Din Muhammad Rumi ?", tanyanya sekali lagi.
"Maksudmu Jalaluddin Rumi ?". Hanya itulah nama yang pernah kudengar.
Ya sudah pasti Melis mengangguk dengan cepat dan tersenyum puas karena akhirnya aku mengetahui apa yang sedang ia terangkan. Jujur saja aku benar-benar tidak terlalu mengetahui tokoh dunia tersebut. Aku hanya pernah mendengar sedikit ceritanya dari Kak Luna yang memiliki ketertarikan akan dunia sastra muslim selain psikologi yang menjadi candu baginya.
"Dan kamu tahu, Katrin. Seorang penyair yang termasyhur disini (Jerman-red), Goethe sampai terinspirasi oleh terjemahan puisi-puisi Rumi dalam bahasa Jerman untuk menulis salah satu karyanya. Dan Mahatma Gandhi pun pengagum berat sang Mevlana".
Mevlana yang dalam bahasa Indonesia Maulana adalah julukan/sebutan untuk sang Sufi. Aku tersenyum mendengarnya. Sejujurnya, apa yang sedang ia ceritakan secara antusias kepadaku itu membuatku bernostalgia. Mengingatkanku ke masa-masa saat Kak Luna bercerita tentang sang Sufi. Bedanya saat itu aku tidak begitu antusias. Entah kenapa ketika Melis yang bercerita aku bisa ikut larut untuk mendengarkan setiap kisahnya.
Setengah jam aku mendengarkan setiap kisah Jalaluddin Rumi dari sahabat Turkish ku itu. Sampai akhirnya mungkin ia sudah letih bercerita. "Katrin, maaf. Aku terlalu antusias menceritakan Rumi padamu. Sekarang aku ingin mendengarkan langsung apa yang telah Lindsey katakan padaku soal hal buruk yang kamu alami".
Seharusnya aku bisa menunjukkan kepada Melis bahwa aku telah melupakannya dan terbiasa dengan keadaan sekarang. Tapi kenyataannya airmata yang sudah membasahi sebagian wajahku ini membuatku lebih terlihat seperti orang pesakitan karena kisah cinta yang bodoh itu.
"Ini memalukan. Maaf, Melis". Aku ga' mampu menutupi rasa sedihku lagi. Melis sudah tahu semuanya. Dia mengetahui kebodohanku yang berharap pada pria yang sudah melupakanku, terlebih sekarang dia sudah berisitri.
Dia memelukku dan mengusap punggung ini. "Tidak ada yang salah dengan cinta, Katrin. Tuhan telah memberikan perasaan itu kepada setiap manusia untuk dapat merasakan sesuatu yang indah di dalam hati kita".
"Tapi kenapa aku harus merasakan sakit di dalam sana, Melis ?! Bahkan setelah sebelumnya aku merasakan terkhianati oleh Andrew! Dan itu artinya aku telah merasakan sakit untuk kedua kali, Melis!". Aku memundurkan tubuh dan dengan penuh emosi menumpahkan rasa sakit ini lewat ucapan kepada sahabatku itu. "Aku tidak tahu makna Tuhan! Eksistensinya sekalipun dipertanyakan oleh orang-orang di dunia ini!".
Dia adalah Melis yang selalu tersenyum. Dengan sebuah senyumannya itu aku mendengarkan setiap kalimat yang indah darinya. Sekalipun apa yang ia ucapkan belum bisa aku pahami.
"Katrin. Ubahlah cintamu", ucap Melis tanpa menyurutkan senyumannya.
"Maksudmu ?".
"Aku yakin kamu mencintai dirimu sendiri. Maka yang sekarang harus kamu lakukan untuk keluar dari rasa sakit itu adalah mengubah cintamu". Melis menggenggam cukup erat kedua tanganku. "Cintailah Dia yang yang menciptakan rasa sakitmu, yang menciptakan rasa bahagiamu, dan insya Allah, Dia akan membuat semua yang kamu cintai akan ikut berbalik mencintaimu juga, Katrin".
Lindsey menelusupkan kedua tangannya kedalam saku winter coat yang ia kenakan. "Wir gehen jetzt ?", tanyanya setelah berdiri.
"Wohin ?".
Lindsey tersenyum, "Ich möchte einen freund vorstellen".
Ga' ada salahnya menurutku untuk mengikutinya kali ini dan berkenalan dengan teman baru.
Lindsey merupakan seorang perempuan keturunan Israel & Inggris. Perempuan yang memiliki rambut panjang dengan warna yang mencolok. Merah menyala.
Kami berdua menjadi dekat pada saat disatukan dalam sebuah kelompok untuk mengerjakan tugas kuliah saat semester lima lalu. Dan akhirnya kami berteman dengan sangat baik, mungkin juga karena pandangan kami yang sama-sama Agnostik.
Tidak ada yang spesial dari sosok Lindsey, selain rasa sosialnya yang cukup tinggi terhadap teman satu kelasnya.
Saat aku kembali kesini, dialah yang menjemputku di bandara. Dan dari situlah entah kenapa aku merasakan kalau Lindsey bisa menjadi pendengar yang baik atas apa yang aku alami satu bulan lalu di Indonesia.
Kami berdua akhirnya meninggalkan salah satu City Hall yang berada di Dusseldorf ini dan berkendara menuju Unterbach See dibagian lain kota.
Berharap dengan apa yang aku lihat dari pemandangan danau disana bisa membuat pikiran ku lebih tenang, dan hati ini pun bisa terasa damai.
Ga' semudah yang ku bayangkan ternyata, melupakan cerita saat masih bersama dengan dia sama halnya seperti merelakan sesuatu yang memang milikku diambil oleh orang lain, walaupun aku tahu itu adalah keputusannya sendiri. Mungkin terdengar egois. Tapi aku sendiri ga' ngerti, kenapa juga orang seperti dia yang sangat biasa saja bisa-bisanya membuat hati dan pikiranku selalu dipenuhi oleh namanya. Padahal secara rupa, Andrew jauh lebih tampan darinya.
Kami berdua turun dari mobil. Aku mengikuti Lindsey yang sedang mencari temannya.
"Hi, Lindsey".
Seorang perempuan menyapa Lindsey dari sisi kanan kami. Lindsey tersenyum dan mengajakku untuk berjalan sedikit cepat.
"Hi, Melis, lange nicht gesehen". Lindsey terlihat senang bertemu dengan temannya itu.
Seorang perempuan yang cukup tinggi dengan wajah yang cantik. Busananya sangat rapih dan tertutup, terlepas dari suhu yang memang sangat dingin.
"Wie geht es dir ?".
"Sehr gut, danke", jawab temannya Lindsey dengan senyum yang nampak riang.
Aku rasa mereka memang sudah lama kenal dan sangat akrab. Aku tidak pernah bertemu dengan teman Lindsey itu sebelumnya. Tapi sepertinya ia adalah orang yang cukup menyenangkan. Aku yakin akan hal itu.
"Wer ist das ?". Ia menengok kepada ku yang masih berdiri sedikit dibelakang Lindsey.
"Ah, sie ist Katrin", Lindsey ikut menengok kepadaku sambil tersenyum dan memintaku untuk berkenalan dengan temannya.
"Hallo, ich heisse Helena Katrina, Mein rufname ist Katrin. Wie heisst du ?", jawabku sekaligus menanyakan namanya.
"Mein name ist Melis Evcen. Und du kannst mich Melis. Wie geht est dir, Katrin ?".
Aku sedikit memaksakan senyum saat ia bertanya mengenai kabarku. "Nicht so gut".
"Er hat in den letzten monaten einige schlimme dinge erlebt, Melis". Lindsey mengusap pundakku dan memberitahukan kepada Melis kalau aku telah mengalami hal yang buruk beberapa bulan lalu.
Biasanya aku selalu melihat tanggapan orang dengan menunjukkan wajah yang murung dan ikut merasa sedih saat mendengar orang yang ia kenal, terlebih baru berkenalan, dan mengetahui kalau orang tersebut sedang mengalami suatu hal buruk. Tapi apa yang ditunjukkan Melis berbeda dengan orang kebanyakan.
Dia tetap tersenyum. Aku sedikit heran dengan tanggapannya tersebut. Apakah dia seorang yang tidak peduli kepada orang lain atau semacamnya pikirku.
"Katrin, manchmal entspricht das Leben nicht immer dem, was wir erwarten". Melis tetap tersenyum kepadaku, dan dia akan selalu seperti itu di waktu yang akan datang.
Aku tahu apa yang ia katakan benar. Ya memang terkadang hidup ini memang tidak selalu seperti apa yang kita harapkan. Bukan memaksakan, aku hanya ingin tahu kenapa harus berjalan seperti ini ?.
Dulu saat masih berpacaran dengan seorang Jerman, aku pikir semuanya sudah cukup sempurna. Andrew adalah orang yang baik awalnya. Dia menyanyangiku seperti dia menyanyangi Ibunya. Tidak ada alasan untukku berpaling darinya. Apa yang dia berikan selama itu sudah cukup membuatku bahagia.
Dan ucapan Melis barusan membuatku sadar. Pengalaman saat bersama Andrew adalah salah satu contoh bahwa hidup ini terkadang tidak sesuai dengan harapan kita.
Tapi harapan baik itu kembali muncul saat aku mengenal seorang pria lain. Seorang pria yang tidak memiliki keturunan bangsa Arya sama sekali. Seorang pria yang tidak memiliki idealisme sama sepertiku yang Agnostik.
"Katrin, komm mit mir".
Aku tidak tahu Melis ingin mengajakku kemana. Tapi Lindsey langsung tersenyum kepadaku, memberikan isyarat kalau ajakan Melis itu akan menjadi suatu hal yang baik untukku.
°°°
Minggu-minggu terakhir musim dingin yang terasa panjang. Pada malam hari, suhunya sampai membuat tubuhku sedikit menggigil. Aku menjalani hari-hari dengan keterpaksaan, andai tahun ini bukanlah semester terakhir perkuliahan mungkin aku tidak akan berada disini dan masih bersamanya. Tapi itu hanyalah sebuah angan yang pada kenyataannya kini aku merasakan kebekuan. Kebekuan di dalam hati atas apa yang sudah ku alami beberapa bulan lalu.
Aku tidak sedang melarikan diri. Ujarku pada diri sendiri. Aku hanya berusaha menghadapi hari demi hari setelah melihat sebuah foto pernikahan yang dikirimkan Mamah lewat email.
Ada hal lain kini yang inginku lakukan, berjalan dengan semestinya, merubah semua pandangan hidup, dan mencoba membuka mata hatiku untuk menerima keyakinan yang dapat membuatku merasa damai.
Melis Evcen merupakan sosok perempuan cantik dengan tinggi rata-rata orang Eropa. Sosok perempuan yang ku kenal lewat Lindsey dua bulan lalu. Melis sedikit membuat pikiranku bertanya-tanya. Apakah dia memiliki keturunan dari bangsa Arab atau bangsa timur lainnya ?.
Dan nyatanya benar, dia memiliki garis keturunan bangsa Arab dan juga Eropa. Sama halnya seperti Lindsey, seorang perempuan yang baik hati. Namun Melis ternyata berasal dari benua Asia. Tapi menurutku tempat asalnya berada diantara dua benua.
Melis Evcen atau yang biasa kupanggil dengan Melis itu adalah seorang Turkish.
"Hayırlı cumalar, Katrin".
"Was ?". Aku tidak mengerti bahasa Turki.
Melis tersenyum dan mendekatiku. Dia memegang kedua bahuku dan kembali berucap. "Schönen Freitag". Senyuman itu tidak pernah hilang dari sosok seorang Melis.
"Oh, have a nice friday too, Melis", balasku dan ikut tersenyum.
Itulah pertama kalinya dia mengatakan 'selamat hari jum'at' kepadaku, sampai ucapan itu seperti menjadi sebuah ritual bagi kami berdua dalam dua bulan terakhir. Setiap hari jum'at jika kami bertemu, entah dia atau aku duluan yang akan mengatakan hayırlı cumalar.
Selama dua bulan ini aku sering pergi bersama Melis dan Lindsey. Entah hanya sekedar berjalan-jalan melepas penat dan menikmati suasana kota tua yang disebut Altstadt, lalu menikmati udara pada tepian sungai yang menyegarkan paru-paru di Rheinuferpromonade, dan akhirnya 'cukup' menghabiskan uang di Königsalle untuk memenuhi hasrat shopping seorang perempuan seperti aku dan Lindsey.
Melis berbeda dengan kami berdua. Dia tidak begitu suka berbelanja tas, perhiasaan, atau busana terbaru di Königsalle. Selain katanya harga yang mahal, barang-barang pribadinya belum perlu diganti. Lindsey sempat menggoda Melis dengan mengatakan kalau Melis sedang menabung untuk membuka sebuah usaha setelah lulus nanti. Aku pikir apa yang dikatakan Lindsey sungguh-sungguh saat itu. Sampai akhirnya nanti dikemudian hari aku dan Lindsey harus menguatkan Melis.
"Katrin, kamu dan Lindsey setali tiga uang", itulah yang selalu ia katakan kepadaku dan Lindsey setiap habis belanja.
Aku tidak menyangkalnya, ia mengatakan hal yang benar. Aku dan Lindsey memang sering 'gelap mata' ketika berada di sebuah outlet barang wanita. Melis sering mengingatkan aku dan Lindsey agar menghemat uang, karena ia tahu kalau apa yang kami beli, entah itu tas, pakaian, dan barang lainnya, sebenarnya tidak terlalu kami butuhkan. Tapi apalah dayaku dan Lindsey jika sudah berada di tengah-tengah barang berkualitas dan branded.
Pada awal musim semi di bulan maret. Aku dan Melis sedang membicarakan masa lalu kami berdua.
Di awali dengan Melis yang bercerita tentang kedua orangtuanya. Ia lahir dari keluarga sederhana, kedua orang tuanya sudah meninggal dunia. Pertama adalah Ibunya yang meninggalkan mereka akibat menderita sakit kanker payudara dua tahun lalu. Kemudian disusul oleh Ayah tercinta satu tahun kemudian. Sang Ayah meninggal dikarenakan mengalami pendarahan pada otak akibat terjatuh saat sedang membetulkan bagian atap rumah mereka.
"Maaf. Aku turut berduka, Melis". Mendengar awal ceritanya yang langsung ditinggal oleh kedua orang yang paling berharga dalam waktu dekat membuatku merasa bersalah karena sudah ingin tahu tentang masa lalunya itu. Tapi seperti yang sudah aku bilang sebelumnya, Melis tetaplah Melis, seorang perempuan yang akan selalu tersenyum disetiap harinya.
Seolah kejadian tersebut bukanlah hal yang patut ditangisi sepanjang waktu, dan memang seharusnya seperti itu. Melis tersenyum. "Tidak apa-apa, Katrin. Kejadian itu sudah lama berlalu, aku sudah merelakan mereka berdua. Lagipula kita semua akan meninggalkan dunia ini pada akhirnya kan ?".
Setelah itu aku baru mengetahui kalau dia masih memiliki saudara. Seorang Kakak laki-laki yang bernama Salih. Kakaknya sudah bekerja dan terpaut tiga tahun dengan Melis.
"Dia bekerja disini ?", tanyaku. Melis mengambil sebuah bantal sofa dan meletakkannya diatas kedua pahanya. "Engga'. Dia kerja di kota kelahiran kami".
Melis mengatakan kalau Kakaknya belum berkeluarga. Entah apa maksudnya tapi mungkin hanya aku saja yang merasa sedikit sensitif saat itu.
"Oh ya Katrin, apa kamu tahu Konya ?", tanya Melis tiba-tiba.
Tentu saja aku tidak tahu dan baru mendengar kata tersebut. Lalu dia kembali bercerita.
"Konya adalah sebuah kota yang banyak diperbincangkan oleh orang-orang dari luar Turki. Karena disanalah seorang punjangga muslim, seorang sastrawan muslim, seorang filsuf muslim banyak menghabiskan hari-harinya", terang Melis dengan antusias.
"Siapa orang tersebut, Melis ?". Aku memang tidak begitu mengetahui tokoh-tokoh sastrawan dunia, apalagi dari kalangan muslim.
"Kamu pernah mendengar nama Jalal ad-Din Muhammad Rumi ?", tanyanya sekali lagi.
"Maksudmu Jalaluddin Rumi ?". Hanya itulah nama yang pernah kudengar.
Ya sudah pasti Melis mengangguk dengan cepat dan tersenyum puas karena akhirnya aku mengetahui apa yang sedang ia terangkan. Jujur saja aku benar-benar tidak terlalu mengetahui tokoh dunia tersebut. Aku hanya pernah mendengar sedikit ceritanya dari Kak Luna yang memiliki ketertarikan akan dunia sastra muslim selain psikologi yang menjadi candu baginya.
"Dan kamu tahu, Katrin. Seorang penyair yang termasyhur disini (Jerman-red), Goethe sampai terinspirasi oleh terjemahan puisi-puisi Rumi dalam bahasa Jerman untuk menulis salah satu karyanya. Dan Mahatma Gandhi pun pengagum berat sang Mevlana".
Mevlana yang dalam bahasa Indonesia Maulana adalah julukan/sebutan untuk sang Sufi. Aku tersenyum mendengarnya. Sejujurnya, apa yang sedang ia ceritakan secara antusias kepadaku itu membuatku bernostalgia. Mengingatkanku ke masa-masa saat Kak Luna bercerita tentang sang Sufi. Bedanya saat itu aku tidak begitu antusias. Entah kenapa ketika Melis yang bercerita aku bisa ikut larut untuk mendengarkan setiap kisahnya.
Setengah jam aku mendengarkan setiap kisah Jalaluddin Rumi dari sahabat Turkish ku itu. Sampai akhirnya mungkin ia sudah letih bercerita. "Katrin, maaf. Aku terlalu antusias menceritakan Rumi padamu. Sekarang aku ingin mendengarkan langsung apa yang telah Lindsey katakan padaku soal hal buruk yang kamu alami".
Seharusnya aku bisa menunjukkan kepada Melis bahwa aku telah melupakannya dan terbiasa dengan keadaan sekarang. Tapi kenyataannya airmata yang sudah membasahi sebagian wajahku ini membuatku lebih terlihat seperti orang pesakitan karena kisah cinta yang bodoh itu.
"Ini memalukan. Maaf, Melis". Aku ga' mampu menutupi rasa sedihku lagi. Melis sudah tahu semuanya. Dia mengetahui kebodohanku yang berharap pada pria yang sudah melupakanku, terlebih sekarang dia sudah berisitri.
Dia memelukku dan mengusap punggung ini. "Tidak ada yang salah dengan cinta, Katrin. Tuhan telah memberikan perasaan itu kepada setiap manusia untuk dapat merasakan sesuatu yang indah di dalam hati kita".
"Tapi kenapa aku harus merasakan sakit di dalam sana, Melis ?! Bahkan setelah sebelumnya aku merasakan terkhianati oleh Andrew! Dan itu artinya aku telah merasakan sakit untuk kedua kali, Melis!". Aku memundurkan tubuh dan dengan penuh emosi menumpahkan rasa sakit ini lewat ucapan kepada sahabatku itu. "Aku tidak tahu makna Tuhan! Eksistensinya sekalipun dipertanyakan oleh orang-orang di dunia ini!".
Dia adalah Melis yang selalu tersenyum. Dengan sebuah senyumannya itu aku mendengarkan setiap kalimat yang indah darinya. Sekalipun apa yang ia ucapkan belum bisa aku pahami.
"Katrin. Ubahlah cintamu", ucap Melis tanpa menyurutkan senyumannya.
"Maksudmu ?".
"Aku yakin kamu mencintai dirimu sendiri. Maka yang sekarang harus kamu lakukan untuk keluar dari rasa sakit itu adalah mengubah cintamu". Melis menggenggam cukup erat kedua tanganku. "Cintailah Dia yang yang menciptakan rasa sakitmu, yang menciptakan rasa bahagiamu, dan insya Allah, Dia akan membuat semua yang kamu cintai akan ikut berbalik mencintaimu juga, Katrin".
*
*
*
Ketuklah, dan Dia akan bukakan pintu itu.
Lenyaplah, dan Dia akan membuatmu bersinar bagai matahari.
Jatuhlah, dan Dia akan menaikkanmu ke beberapa langit.
Jadilah bukan apapun, dan Dia akan mengembalikanmu ke dalam segala sesuatu!
*
*
Ketuklah, dan Dia akan bukakan pintu itu.
Lenyaplah, dan Dia akan membuatmu bersinar bagai matahari.
Jatuhlah, dan Dia akan menaikkanmu ke beberapa langit.
Jadilah bukan apapun, dan Dia akan mengembalikanmu ke dalam segala sesuatu!
- Jalaluddin Rumi.
Diubah oleh bunbun.orenz 23-03-2018 21:24
oktavp dan glitch.7 memberi reputasi
2
Kutip
Balas

